Sunday, October 3, 2010

Tebak-tebakan II

Bagi para perantau, pulang kampung adalah hal yang paling berharga. Setelah berpisah bertahun-tahun, berjumpa dengan kerabat, sanak famili, dan tetangga, tak bisa ditawar lagi. Namun apa daya dengan Sinyo dan teman-temannya yang sudah bertahun-tahun tidak pulang kampung. Bagi mereka lebaran Idul Fitri adalah hal yang paling menguntungkan. Bukan karena pulang kampung, melainkan di Jakarta yang biasanya seperti padang tandus yang gersang, saat lebaran tiba menjadi mata air yang tak akan habis diteguk siapa saja.

Bagaimana tidak, bermacam-macam pekerjaan bertumpuk-tumpuk dan berbondong-bondong menghampiri mereka, dengan tips berlipat-lipat tentunya. Mulai dari pekerjaan babu hingga pekerjaan konglomerat. Sampai-sampai Sinyo beserta teman-temannya sering mengatakan, kerja satu minggu dengan gaji satu semester. Hmmm… benar-benar Jakarta terasa surga.

Di saat malam menjelang gerimis, maka seluruh ingatan hanya tergambar akan kampung halaman. Lagi-lagi warung kopilah sebagai penawar semua itu. Mereka bertiga, Sinyo, si wajah legam, dan si pipi lesung sedang bertengger di angkrik warkop bu Mesem. Ngomong-ngomong soal famili di desa, ketiganya kembali teringat pada tebakan-tebakan yang dulu dilontarkan eyang Kakung, seorang tua yang tak henti-henti bercerita tentang apa saja pada anak-anak, diantaranya adalah soal tebakan.

”Tuma ngguyu?” eyang kakung melontarkan satu tebakan setelah usai menceritakan kisah ande-ande lumut yang lebih tertarik dengan putri jelek dengan akhlak mulia ketimbang putri lainnya yang hanya cantik parasnya. Pada saat itu anak-anak hanya bengong, karena dipikir-pikirpun enggak sampai juga.

”Watu lima ditunggu cuyu” seperti biasa akhirnya eyang kakung sendirilah yang menjawabnya, lalu anak-anak tergelak tawa mereka sendiri.

”Wiwawite, lesmbodhonge, karwolase?”

Lagi-lagi anak-anak hanya terheran-heran dengan tebakan itu. Ditunggunya eyang Kakung untuk memberikan jawabannya.

”Uwi dawa wite, Tales ombo godhone, cikar dowo tilase.”

Kemudian si wajah legam yang masih bau kencur saat itu meraba-raba logika yang baru dijawab oleh eyang Kakung, Uwi panajang pohonnya, Tales lebar daunnya, dan gerobak sapi panjang jejaknya. Hmmm... lalu si wajah legam mengangguk-angguk mengerti.

”Nah, ini yang terakhir; Nyidhangtan tanberukbilma linaklitulitelinga?” Ucap eyang dengan bibirnya yang maju mundur saat mengucap Linaklitulitelinga.

”Waduh, susah banget sih, yang!” pipi lesung protes karena tebakan terlalu panjang.

”Nyai adhang ketan, ketan seberuk kambile lima, lali anak lali putu, silite mili lenga” eyang langsung menjawab saja.

”Ha! Apa maksudnya, eyang?” Sinyo bertanya penasaran.

”Hehehe... maksudnya, Nyai memasak ketan, ketan seciduk kok kelapanya lima, ya pasti kebanyakan dong. Dan semua ketan itu dimakan si Nyai karena dia lupa sama anak dan cucu. Nah, karena kebanyakan makan ketan dengan lima kelapa, makanya duburnya mengalir minyak. Hahahaha...”

Anak-anak masih diam saja meski eyang tertawa-tawa. ”Apa sih maksud eyang Kakung, nih”, mereka hanya berkata dalam hati. Dan suatu saat nanti, anak-anak itu dengan sendirinya akan mengerti juga, Sebagaimana malam ini Sinyo, wajah legam, dan si pipi lesung hanya tertawa kecil saja, sambil menikmati kopi hangatnya.

Monday, September 13, 2010

Tebak-tebakan

Catatan M. Faizun


Di tengah gemuruh orasi calon bupati yang seakan menjungkirbalikkan bumi, Sinyo merasa kalimat-kalimat yang mengepul bagai asap itu sudah sering kali didengarnya. Namun, toh keadaan tetap saja dan tak ada perubahan. Maka Sinyo menyeret beberapa temannya untuk menepi sekedar menikmati kopi.

“Udahlah, percuma saja kamu mendengarnya. Tak didengar pun kalau yang dikatakannya benar pasti akan ia lakukan.” Sinyo mencoba mencari teman menikmati kopi hangat di warung tak jauh dari situ.

Akhirnya dia berhasil membawa dua temannya, yang seorang berwajah legam. Tubuhnya tegap dan sigap. Matanya tajam menatap. Ia seorang buruh tani. Kedua agak ceking, kedua pipinya berlesung ketika tertawa. Ia seorang pengecer telur ayam. Mengambil dari para peternak lalu menyetorkan ke toko-toko kecil.

Kini tiga kopi hangat sudah berada di hadapan tiga pemuda desa yang punya latar belakang berbeda. Sebungkus rokok seperti meluncur begitu saja dari saku Sinyo. Lalu ketiganya segera menyulut dengan korek api dan memainkan kepulan asapnya. Seperti para orator memainkan kepulan kata-katanya.

Pekerjaan menjadi hal yang tidak menarik untuk dibicarakan di saat seperti ini. Lalu mereka beranjak ke soal perempuan, tak bertahan lama bosan juga. Apalagi bicara soal politik, duh, bagai mengunyah duri.

”Nah, aku punya tebakan. Pirtut litandahi, apa artinya?” Sinyo membuka percakapan setelah beberapa saat ketiganya diam dalam kegentingan.

”Duh, apa ya..” seorang temannya garuk-garuk kepala memikirkan kalimat yang diambil bagian suku katanya tersebut.

”Pir kecut...&^%$#” seorang mencoba menjawab.

”Salah.. jauh banget” Sinyo mengklarifikasi

”Nyerah deh” kedua temannya berkata hampir bersamaan

”Supir ngentut, kuli dalan sing nadahi. Hahaha” Sinyo mengurai tebakannya dengan bangga.

”Ipaktusek icipturi, apa hayooooo?” kali ini si wajah legam melontarkan tebakan yang tak kalah serunya. Kedua temannya cuma meraba-raba jawaban dan akhirnya menyerah.

”Tai papak metu disek, tai lincip metu keri.”

” Kwakakaka.” ketiganya tertawa terpingkal-pinggal sambil membayangkan tai-nya saat buang air besar alias be’ol.

”Kalo ini, Rukdul watditul ngancut?” si pipi lesung tak mau kalah melontar tebakan. Wah, yang ini tambah panjang, pasti lebih sulit. Nyerah deeeh.

”Jeruk gumandul disrawat gendhi putul dipangan kecut.”

”Hwahahahahaha” ketiganya terbahak-bahak.

”Kalo Suru blekitu?” Sinyo melontar tebakan yang ke dua kali.

”Asu turu dibleki watu” kedua temannya menjawab hampir bersamaan. Yang ini mah, udah seringkali diungkapkan sama orang-orang, pikir mereka.

Tak terasa beberapa pengunjung yang kebetulan mendengar gelagat mereka ikut juga tertawa terpingkal-pingkal. Begitulah gambaran saat ini. Pembicaraan tentang hiburan lebih menarik dari pada membicarakan keseriusan yang menjelma hiburan, yaitu POLITIK.

Thursday, September 9, 2010

Tiga puisi dalam antologi G 30 S (Gempa 30 September) Padang

Lagu Para Tani

Tanahku, air mata yang jatuh
Secuil kekecewaan. Padamu saja
Sebab Tuhan Maha Kuasa segala

Tanahku, langkah kita beriringan
Akankah sampai di sini. Karena
Kau menguburku. Maka rinduku
Jadi abu. Berserak di reruntuhan

Tanahku, apalah arti pengabdian
Berabad kau Tuan hamba petani
Meski kemarau membakar hati
Gagal mengetam datang bertubi

Atau kau telah lupa. Bajak siapa
Setia menyisir gerai kulitmu. Pada
Kaki yang tak segan bercanda
Dengan becek hitam lumpurmu

Apa kau sudah buta. Bedakan
Keculasan dan kebenaran. Hingga
menumpuk setumpuk. Para
Abdimu dengan mucikari dunia

Pada langit yang menguning
Pada desir angin di tepi tebing
Sebentar jerit mengangkasa
Sudah hancur lebur semua

Tanahku, masih tersisa niat
Mengabdi. Tapi kini kita bersatu
Karena aku adalah debumu

Kediri, 0ktober 2009


Di antara Duka

Matahari. Kau berkhianat
Melayang indah
Di atas rumah-rumah
Rebah ke tanah

Angin. Kau berkhianat
Menari gemulai
Di antara sanak famili
Mati terkulai

Awan. Kau berkhianat
Biarkan cerah cakrawala
Mengejek duka
Tak kunjung reda

Hanya rembulan
Bisa mengerti

Mengendap-endap
Di tengah malam

Dengan sipit mata
Seperti keluar airnya.

Kediri, Oktober 2009


Lara Anak-Anak

Tidurlah...
Tidurlah ular besar
Dalam perut bumi
Jangan kau batuk
Hingga bumiku terantuk
Dan lelaplah isi dunia
Dengan tangis para tetangga

Pelanlah...
Pelanlah batu sahabatku
Menyangga bumi
Jangan kau bergerak
Hingga halaman rumah retak
Dan aku tak bisa lagi
Di punggungmu menari gemulai

Pulanglah...
Pulanglah kakak
Sebelum gelap hari
Jangan kau berpangkuan
Dengan abang di tepi sungai
Kata guruku; itu
Membuat marah bumi

Ular besar, batu-batu, kakakku
Rumah-rumah bertabrakan
Genting-genting berjatuhan
Orang-orang berlarian
Orang-orang menangis
Dan bapak ibu, kata orang;
Pergi lama kembali

Kediri, Oktober 2009

Heorisme Kyai Yahya


Setelah kemerdekaan diberikan
Tergambarlah kebebasan
Dan tinggal sketsa fana
Saat belanda kembali
Pijakkan kaki
Di tanah ini

Tawa menjadi hampa
Gembira menjelma duka
Kota ini tergenang tuba

Geram pun meledak
Menjadi desingdesing tembak
Merobek udara pekak
Di setiap gerak

Namun apa daya
Garuda tanpa cakar
menyala

Geram diurungkan
Dendam-dendam
dipadamkan

Di tengah pecah
pertempuran mengancam
Dengan berpuluh santri
Kyai Yahya tetap mengaji
di Pondok Gading permai
Dan selongsong rudal
Kembali terpental
Dari cerobong-cerobong
meriam
membentur pojok masjid

Haha...
hanya tergores rupa
Menara masjid
Tetap mencakar langit
Selongsong rudal
Tak kuasa memberai dirinya

Kepala ‘Garuda Merah’
Mayor Sullam Syamsun
Melihat sinar berpendar
Memancar dari Pondok Gading
Dikepakkanlah sayapnya
Untuk bertemu Kyiai Yahya

Dua tali tersimpul
Hizib Nashar para santri
menjelma bala tentara
Dan pasukan ‘Garuda Merah’
memanggul senjata

Dua daya melebur Satu
Daya raga
Daya sukma
Menggelegar di langit liar
Berkilauan halilintar
Menjelma hujan api
Hanguslah kota ini

Genangan tuba menguap
Bagai asap sampah
Dari api-api suci

Malang kembali!
Malang kembali!
Lantang suara awal hari.

Malang Januari 2009

Kyai Yahya adalah ulama' kharismatik pengasuh Pondok Gading Malang. Beberapa saksi mengatakan, beliau bersama santrinya berjuang angkat senjata dalam pengusiran penjajah di beberapa daerah pasca kemerdekaan Indonesia. Padahal, beliau hanya di Pondok Gading membaca Hizib Nashar bersama para santri. Puisi ini serapan dari buku biografi beliau, "Heroisme Kyai Yahya dalam Perang Gerilya"

- Sudah dimuat di Malang Post 1 Februari 2009