Thursday, December 29, 2011

Penelitian Poskolonial Sastra

Suara Subaltern dalam Cerpen Perjalanan Seekor Semut Karya Abdullah bin Ali Said

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.
    Pada tahun 1985, Gayatri Chakravorty Spivak mengancam kebutaan ras dan klas yang terjadi di dunia akademia Barat, dengan mengajukan pertanyaan “Dapatkah subaltern berbicara?” (Spivak 1985). Yang dimaksud dengan subaltern adalah subyek yang tertekan, para anggota “klas-klas subaltern”-nya Antonio Gramsci (lihat Gramsci 1978), atau secara lebih umum mereka yang berada di tingkat “inferior”, dan pertanyaan Spivak ini mengikuti karya yang dimulai pada awal 1980-an oleh sekelompok intelektual yang sekarang dikenal sebagai kelompok Subaltern studies.

    Cerpen Abdullah bin Ali Said yang berjudul Rihalatun Namlah, dalam Bahasa Indonesia “Perjalanan Seekor Semut”, selanjutnya disingkat PSS ini juga berusaha mengkritik klas-klas dalam dunia semut sebagaimana Gayatri Spivak. Dalam dunia persemutan kita kenal dengan dua macam warna semut yaitu semut merah dan semut hitam. Abdullah dalam cerpennya mengungkapkan startifikasi ras yang ada pada dua macam semut tersebut.

    Cerpen tersebut bercerita tentang perjalanan seekor semut hitam yang bernama Rabi', Ketika dalam perjalanan mencari makanan, tanpa ia sadari ia telah mendekati jalan raya, dimana kendaraan manusia berlalu lalang dengan cepat. Rabi' sering mendengar, siapapun yang mendekati jalan tersebut akan hilang tak kembali. Namun semut tidaklah mempersoalkan hal itu, sudah menjadi biasa mereka pergi secara bergerombol kemudian saat pulang jumlah mereka berkurang. Semut-semut baru akan menggantikan mereka.

    Tiba-tiba ia mencium aroma makanan yang cukup jauh darinya. Baginya tidak ada yang mustahil (tudak mungkin) di dunia ini. Ia akan pergi dengan cepat dan akan sampai pada tempat itu sebelum kendaraan datang. Kemudian ia akan kembali dengan cepat pula. Ia mulai berlari dan memotong jalan, tiba-tiba tanah berguncang menandakan kendaraan semakin dekat dengannya. Di sisi lain, jarak makanan tersebut cukup jauh. Ia pun seperti terbang berputar-putar tatkala sebuah roda kendaraan melindasnya. Hingga kendaraan itu berbelok dan ia terpelanting ke tanah yang jauh yang belum dikenalnya.

    Rabi'pun pingsan, dan tersadar tatkala sebuah tamparan dari semut merah jatuh di wajahnya. Rabi' diinterogasi dan disangka menjadi mata-mata bagi semut merah. Dibawalah Rabi; oleh para prajurit tersebut pada pimpinan mereka. Sampailah ia di sebuah tempat, dimana Rabi’ menyaksikan sebuah pemandangan yang sangat aneh, dan baru dijumpainya saat itu. Semut-semut merah layaknya para tentara, yang memperbudak semut-semut hitam. Di tempat itu, semut-semut hitam dicambuk dan dianiaya untuk bekerja mencari makanan diperuntukkan semut-semut merah. Ia juga menjumpai Samiir, seekor semut hitam sahabatnya yang hilang beberaa waktu lalu. Raut Samiir begitu pucat dan lusuh. Tubuhnya penuh luka cambukan, begitu juga semut hitam lainnya.

    Suara cambuk berkilatan di telinga. Gumam derita dan sengsara seperti angin yang berlalu begitu saja. Melihat pemandangan seperti itu Rabi’ protes kepada semut merah yang membawanya, ia mengatakan bahwa semut itu seharusnya saling menghormati dan bergotong royong. Sesama semut harus menjalani pahit getirnya dunia dengan  kebersamaan, tidak ada berbedaan diantara mereka. Semua sama, bekerja bersama untuk kepentingan bersama. Namun, si panglima semut menolaknya. Menurutnya semut hitam itu kecil dan lemah. Semut hitam harus bekerja untuk semut merah, karena semut merah lebih kuat dan berkuasa. Menurutnya Semut hitam memang ditakdirkan untuk menjadi budak semut merah.

     Kemudian panglima semut tersebut menyuruh Rabi’ untuk lekas bekerja sebagaimana semut hitam lainnya. Rabi’ menolak. Terjadi berdebatan sengit antara keduanya. Kalimat-kalimat perlawanan yang keluar dari mulut Rabi' tak ada artinya. Sang panglimapun geram, ia cambuk Rabi’ beberapa kali. Rabi’ tetap menolak bekerja dan mempertahankan pendapatnya. Rabi’ dicambuk hingga maut menjemputnya. Sebelum ia meninggalkan dunia, ia masih berharap setelah ia mati nanti tubuhnya di gotong oleh semut-semut lainnya untuk persediaan makanan di kemudian hari.

    Penelitian cerpen ini akan mencari kebenaran apakah hipotesa yang diajukan oleh tokoh subaltern studies Gayatri Spivak atas penelitian yang dilakukannya dalam kehidupan, bahwa “Subaltern tidak dapat bicara” dapat diferivikasi pada fakta dalam cerpen PSS. Hal tersebut berpijak atas anggapan bahwa struktur dalam sebuah karya sastra tercipta dari sebuah realita sosial yang ada (sosiologi sastra), maka sebuah karya cukup relevan untuk menilik kembali sebuah hipotesa.

Dengan penelitian ini diharapkan dapat mengetahui relevansi sebuah hipotesa dari fakta nyata dengan fakta di dalam sebuah karya sastra, selain itu juga diharapkan mampu memperkaya pengetahuan tentang teori dan aplikasi sosiologi sastra.

B. Rumusan masalah
1.    Apakah hipotesa Gayatri Spivak “subaltern tak dapat bicara” dapat diferivikasi dengan fakta yang ada di dalam cerpen PSS karya Abdullah bin Ali said?

C. Tujuan penelitian
1.    Mengetahui sejauh mana kebenaran hipotesa “subaltern tidak dapat bicara” Gayatri Spivak dalam cerpen PSS karya Abdullah bin Ali Said

D. Manfaat Penelitian
1.  Untuk mengetahui relasi antara hipotesa Gayatri Spivak dengan cerpen PSS karya Abdullah bin Ali Said

E. Metodologi penelitian
1.    Obyek penelitian
Obyek yang digunakan pada penelitian sastra ini adalah cerpen yang berjudul Perjalanan Seekor Semut karya Abdullah bin Ali Said.
2.    Batasan penelitian
Dalam penelitian sastra terdapat dua wilayah yang dapat diteliti. Wilayah tersebut adalah segi ekstrinsik dan intrinsik sastra. Pada dasarnya sosiologi sastra dapat dilakukan dari segi ekstrinsik, yaitu wilayah sosiologi pengarang dan pembaca serta wilayah intrinsik sastra yang meneliti tentang sosiologi dalam cerita. Penelitan kali ini akan bergulir sekitar sosiologi dalam karya sastra yang merupakan segi intrinsik sastra.
3.    Metode pengumpulan data.
Untuk pengumpulan data peneliti menggunakan data-data dalam cerpen PSS yang berhubungan dan diperlukan sebagai data-data penelitian.
4.    Metode penelitian
Penelitian cerpen PSS ini menggunakan penelitian perpustakaan (library research) yaitu penelitian yang dilakukan di kamar kerja peneliti atau di ruang perepustakaan dimana peneliti memperoleh data dan inforamasi tentang obyek penelitiannya lewat buku-buku atau alat-alat audio visual lainya. Adapun metode kerja pada penelitian ini menggunakan  metode kualitatif yaitu mengutamakan kedalaman penghayatan terhadap interaksi antar konsep yang dikaji secara empiris.



BAB II
LANDASAN TEORI

Sosiologi sastra oleh Wellek & Warren (1990) diklasifikasikan menjadi tiga macam yaitu, sosiologi pengarang, sosiologi karya sastra dan sosiologi pembaca dan dampak sosial karya sastra. Dalam sosiologi pengarang ditelaah latar belakang sosial, status pengarang, dan ideologi pengarang yang terlihat dari berbagai kegiatan pengarang di luar karya sastra. Dalam sosiologi karya ditelaah isi karya sastra, tujuan, serta hal-hal yang tersirat dalam karya sastra itu sendiri yang berkaitan dengan masalah sosial. Dalam sosiologi pembaca dan dampak sosial karya sastra ditelaah sejauh mana sastra ditentukan atau tergantung dari latar sosial, perubahan dan perkembangan sosial.

Dalam penelitian ini peneliti akan menganalisa fakta sosial dalam karya sastra khususnya tentang hubungan subaltern atau pihak yang ada pada tingkat inferior dengan pihak superior, yaitu meliputi hubungan komunikasi, sikap, perbuatan, dan pemikiran. Selanjutnya hasil dari penelitian tersebut nantinya sebagai peferivikasi hipotesa Gayatri Spivak yang mengatakan “Subaltern tidak dapat bicara” atas penjajahan yang dilakukan pihak superior, dalam hal ini diasumsikan sebagai praktik kolonial.

Istilah "Subaltern" merupakan istilah dari pemikir Italia, Antonio Gramsci. Istilah tersebut digunakan untuk menyebut kelompok sosial subordinat, yaitu kelompok yang dalam masyarakat menjadi subjek hegemoni kelas-kelas yang berkuasa. Kelompok tersebut ditindas dan dieksploitasi oleh kelas-kelas elit. Menurut Gayatri, kelompok subaltern cenderung mendapatkan pendiskriminasian dan mereka tidak mampu menyuarakan aspirasinya pada kaum superior. Sehingga mereka perlu wakil intelektual untuk menyuarakan suara mereka.

Subaltern studies, penganut teori ini menggambarkan proyek mereka sebagai upaya untuk mengakaji atribut umum penyelewengan dalam masyarakat Asia Selatan yang diekspresikan dalam bentuk kelas, kasta, umur, gender. Subaltern studies merupakan sebuah upaya yang memungkinkan masyarakat untuk berbicara tentang kaum elite dan penguasa atau penjajah untuk menyuarakan suara-suara bungkam dari mereka yang benar-benar tertindas. Hal tersebut merupakan reaksi dari pengalaman sejarah bahwa setiap 

Gagasan yang kompleks mengenai subalternitas sangat erat hubungannya dengan banyak upaya akademik yang secara historis mengonsenkan dirinya pada hubungan antara dominasi dan subordinasi yang telah ditentukan. Bahkan ia merupakan kajian poskolonial sebagai respon terhadap antusiasme Spivak mengenai “dapatkah subaltern berbicara?”….. Sementara beberapa kritikus mengunakannya untuk membatasi bidang penelitian mereka, yang lain menggunakannya untuk member lisensi terhadap berbagai invesgasi mereka. Dan lebih dari semuanya ranah pembicaraan subaltern yang ambivalen telah memunculkan banyak persaingan dan bertentangan antisubalternitas dan subalternitas poskolonial. Dalam kajian poskolonial terdapat kesepakatan kecil tentang korban-korban terburuk penindasan kolonial atau tentang pemberontakan anti kolonial yang signifikan. Kaum pascastrukturalis metropolitan Asia Selatan, Afrika dan India Barat menentang kaum marxis di tanah air mereka sendiri, kaum intelektual mainstream di koloni-koloni tetap berjuang melawan klaim-klaim para intelektual pribumu dan dewan perwakilan, kritikus feminis menentang penolakan maskulinis terhadap histografi kaum nasionalis. Oleh karena itu sementara Spivak menyimpulkan esai provokatifnya dengan secara kategoris menegaskan bahwa “Subaltern tidak dapat berbicara” (Spivak 1988 (1985), hlm. 308).



BAB III
PEMBAHASAN

Proses kembali ke masa kolonial menyingkapkan suatu hubungan antagonisme dan hasrat resiprokal antara penjajah dan yang dijajah. Dan ia ada dalam rangka membuka hubungan bermasalah sehingga mungkin kita akan mulai melihat prasejarah ambivalen dari kondisi poskolonial. Jika poskolonialitas harus diingatkan asal-usulnya dalam penindasan kolonial, secara teoritis ia juga harus didorong untuk mengingat kembali godaan-godaan yang memaksa kuasa kolonial.

Cerpen PSS tersebut merupakan cerpen jenis fabel. Pada cerpen PSS diceritakan sebuah penjajahan semut hitam oleh semut merah. Pada pertemuan antara Rabi’ dengan sang panglima semut merah, nuansa kontra antara penjajah dan yang terjajah langsung tampak, sebagaimana kata panglima kepada Rabi’:

“Hai tawanan, dengarkan! Siapa namamu?”
“Namaku Rabi’".
Kemudian kecurigaan penjajah langsung muncul ketika Rabi’ menceritakan semua kejadian hingga ia sampai pada para penjajah tersebut.
“Ya aku percaya padamu. Tapi, aku tau, kau datang ke sini untuk memata-matai kami”
“Tidak. Tidak. Peristiwa itu membawaku jauh aku dari kaumku”
“Aku tidak menolak dengan keberatanmu. Kau tawanan kami sekarang”
Rabi’ akan menolaknya, tapi tidak diberi kesempatan oleh panglima itu.

Percakapan tersebut menampakkan bahwa Rabi' sebagai pihal inferior, pihak yang termarjinalkan, meskipun sudah menyampaikan suaranya, pendapatnya, namun sang semut merah yang dalam kelompok superior tidak mempedulikan dan tidak menganggap ada suara Rabi' tersebut.

Begitu juga saat Panglima semut menjelaskan apa yang harus dikerjakan Rabi’, ia hanya bisa menutup mulut dan menggeleng-geleng kepala. Para koloni seakan selalu menekan mereka untuk meminimalisir pembangkangan-pembangkangan yang terjadi. Para koloni secara tidak langsung juga berusaha melemahkan daya kritis kaum terjajah. Hal ini dialami Rabi’ setelah ia keluar dari tempat panglima menuju para semut-semut hitam yang sedang bekerja. Kita dapat mengetahui itu dari deskripsi:

Rabi’ keluar dengan pengawal dan letih menimpanya. Ia tak berkata sepatah pun. Karena ia merasa, berbicara dengan semut-semut merah itu sama saja. Tidak akan membuahkan hasil.

Terlebih lagi setelah ia menjumpai seorang temannya Samiir yang banyak berubah. Ia lebih lusuh. Dengan algojo bercambuk di belakangnya, samiir sempoyongan mengangkat makanan-makanan untuk dipersembahkan para koloni. Melihat hal itu Rabi’ merasa lebih ditekan oleh koloni-koloni tersebut. Tapi ia hanya diam, bergumam dalam ketakutan. Dengan cepat Rabi’ berubah. Rabi’ hanya diam dalam kebingungan. Kesedihan yang menjalar padanya mengubah raut wajahnya seperti seekor semut tua. Tekanan-tekanan mulai dilimpahkan dengan tujuan ketertundukan para terjajah oleh penjajah.

    Setelah Rabi’ tak tahan dengan kondisi yang ada, ia memberontak dengan tidak mau bekerja. Ia tetap merasa bahwa seharusnya tata kehidupan itu serasi dan harmoni. Tak ada pengklasifikasian tingkatan-tingkatan kelas sosial hingga ada yang tertindas dan ditindas. Karena baginya seluruh semut akan bekerja bersama dan menikmati hasilnya berama-sama pula. Berikut kutipan perdebatan Rabi’ dengan pengawal tersebut:

“Aku ini semut seperti kamu. Kenapa kamu menyiksaku?” Rabi’ menjawabnya dengan tenang.
“Kamu tidak seperti aku. Kamu lemah, tak berdaya. Sedangkan aku kuat dan besar”
“Kita ini sama-sama semut pekerja keras, tuan. Apa bedanya aku dengan kamu?”
“Bedanya adalah kamu tawanan.”
“Siapa yang menawanku! Saudaraku sendiri! Dari kulitku sendiri!”
“Kamu bukan saudaraku! Kamu musuhku! Kau datang ke sini sebagai mata-mata.”
“Tidak, cobalah tingalkan pikiran itu. Aku sampai sini karena peristiwa yang panjang. Dan aku ingin hidup tenang.”
“Tidak ada tempat untukmu kecuali sebagai budak.”
“Semut tidak pernah mengenal istilah itu. Kita diajari untuk hidup bersama, saling memiliki. Tidak ada perbedaan.”
“Itu hanya falsafah saja!” pengawal itu mulai marah. Matanya memerah.
“Bukan. Ini kebenaran. Mungkin sekali kita hidup bersama dengan bahagia. Saling melengkapi antar sesama kita.”
“Kamu tak sama sekali melengkapiku. Dengarkanlah, aku peringatkan kamu! Kalau kamu banyak membangkang, akan kubunuh kamu!”
“Kamu saudaraku.”
“Bukan! Bukan saudaramu!”

Dalam percakapan di atas Rabi’ mencoba “berbicara” mengenai hak-haknya juga kehidupan yang lebih arif bijaksana. Rabi’ berusaha menyuarakan jeritan semut-semut hitam lainnya yang benar-benar tertidas. Namun, sikapnya yang kontra tersebut tambah menyulut tindakan represi serampangan oleh pihak koloni. Panglima tersebut akhirnya mengintruksikan kepada para pengawal untuk memkuli Rabi’ hingga mati.

Hal tersebut sesuai dengan dua karakteristik Subaltern yang disampaikan Gayarti Spivak, yaitu penekanan, dimana pihak superior dengan kekuatan dan kekuasaannya menekan pihak inferior, dan kemudian  dengan mudah pihak superior mendeskriminasikan pihak inferior. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh beragam faktor, yang dalam cerpen PPS ini lebih condong pada persoalan rasisme antara semut merah dan semut hitam.

Demikian kondisi kolonial, yang oleh Albert Memmi, katanya “Membelenggu penjajah yang dijajah dalam suatu ketergantungan yang tak bisa dihilangkan, membentuk karakter mereka masing-masing dan menentukan perilaku mereka (Memmi 1986, hal. 45). Prediksi Memmi tentang mutualitas pertentangan antara penindas dan yang ditindas sebenarnya merupakan upaya untuk memahami sirkulasi hasrat membingungkan di sekitar peristiwa penindasan yang traumatik. Hasrat dari penjajah atas suatu koloni memang cukup jelas tetapi yang jauh lebih sulit adalah mempertimbangkan kerinduan yang sebaliknya dari yang dijajah.

Penjajah memang sengaja mengadakan tekanan-tekanan kepada pihak terjajah unutuk menimbulkan rasa cemas dan takut. Dari kecemasan dan ketakutan itu diharapkan akan timbul ketertundukan yang kemudian dengan mudah mereka perlakukan sehingga tercipta ketergantungan yang tinggi dari para terjajah pada para penjajah. Dan ketika pihak yang dijajah mencoba memberontak dengan keadaan yang ada, meskipun mereka dapat “berbicara”, namun “bicara” tersebut hanya sebagai cubitan-cubitan kecil bagi para kolonial dan dengan mudah ia musnahkan.



BAB IV
KESIMPULAN

Dari analisis cerpen Perjalanan Seekor Semut karya Abdullah bin Ali Saud yang peneliti lakukan dapat diambil kesimpulan sementara sebagai berikut:

1. Fakta dalam cerpen Perjalanan Seekor Semut membenarkan hipotesa sementara tokoh subaltern studies, Gayatri Spivak yaitu, “subaltern tidak dapat bicara” dalam konteks kolonial. Hal ini kami simpulkan dari usaha-usaha Rabi’ untuk menyuarakan semut-semut yang tertindas, namun suara-suara tersebut tidak mendapatkan tempat selayaknya.



Daftar Pustaka

Abdullah bin Ali Said, Rihlatu Namlah, Majalah al-Usroh, edisi Jumadil Awal, 1425 Hijriyah
Atar Semi, Metode penelitian Sastra, cet. 10, (Bandung: ANGKASA, 1990)
Leela Gandhi, Teori poskolonial, cet 3, (Jakarta; PENERBIT QALAM, 2007)
Wijayatmi, Pengantar Kajian Sastra, (Pustaka, Yogyakarta, 2006)