Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Maret 2026

Amplop Lebaran, Membumikan Tradisi Suap

Hari raya Idul Fitri telah tiba. Semua berbahagia, dari anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua. Setiap fase usia merasakan kebahagiaan yang berbeda. Orang tua misalnya mereka bahagia karena anak-anak mereka akan berkumpul jadi satu, yang jauh mendekat dan yang dekat akan lebih erat. Bagi remaja kebahagiaan utama pada mengenakan pakaian baru, bertemu teman-teman, dan menikmati jajanan lebaran.

Adapun anak-anak selain kebahagiaan mengenakan pakaian baru, di sana juga ada kebahagiaan lain yaitu mendapatkan uang lebaran dari paman, bibi, dan saudara lainnya. Pada beberapa tahun terakhir, pemberian uang lebaran tersebut dimasukkan ke dalam amplop. Namun, di balik penggunaan amplop tersebut, muncul pertanyaan kritis: apakah kebiasaan ini secara tidak sadar menanamkan benih budaya transaksional atau bahkan “tradisi suap” sejak dini?

Bagi banyak keluarga, memberi uang lebaran dengan kemasan amplop kepada anak-anak adalah simbol kasih sayang dan bentuk sedekah. Anak-anak pun belajar tentang kegembiraan berbagi dan menerima. Akan tetapi, jika tidak disertai pemahaman yang tepat, praktik ini berpotensi membentuk pola pikir bahwa setiap interaksi sosial selalu berkaitan dengan imbalan materi.

Fenomena ini terlihat ketika anak-anak mulai “mengharapkan” amplop setiap kali bersilaturahmi. Bahkan, dalam beberapa kasus, mereka menjadi enggan berkunjung ke rumah kerabat yang tidak memberikan uang. Di sinilah nilai silaturahmi yang seharusnya tulus mulai bergeser menjadi hubungan yang bersifat transaksional.

Kebiasaan ini bisa membentuk cara pandang jangka panjang. Anak-anak yang terbiasa menerima imbalan atas kehadiran atau tindakan tertentu dapat tumbuh dengan asumsi bahwa setiap kebaikan atau kewajiban layak mendapatkan balasan materi. Jika pola ini terus berlanjut tanpa koreksi, bukan tidak mungkin mereka membawa nilai tersebut ke dalam kehidupan dewasa, termasuk dalam dunia kerja dan sosial.

Lebih jauh lagi, penggunaan amplop memiliki konotasi suap. Secara harfiah, amplop hanyalah tempat untuk menyimpan surat atau uang. Tapi dalam praktiknya, terutama di banyak negara termasuk Indonesia, amplop sering digunakan untuk memberikan uang secara diam-diam dan tertutup. Bisanya untuk transaksi yang sifatnya tertutup dan tidak transparan karena kepentingan tertentu yang negatif. Meski penggunaan amplop tersebut semata-mata hanya supaya lebih menarik bagi anak, namun hal tersebut dapat dengan mudah menjadikan praktik transaksi yang tertutup tersebut familiar bagi anak. 

Pemberian uang saat lebaran memiliki sisi positif jika dimaknai dengan benar. Ini bisa menjadi sarana pendidikan finansial sederhana bagi anak-anak, seperti belajar menabung, berbagi dengan sesama, atau memahami nilai uang. Namun penggunaan amplop sebagai wadah uang lebaran akan memberikan dampak yang kurang baik.

Sebagai orang tua, paling tidak yang dapat dilakukan adalah menghindari penggunaan amplop untuk mengemas uang lebaran anak. Selain itu, anak-anak perlu diajarkan bahwa uang lebaran bukanlah “imbalan” atas kunjungan mereka, melainkan bentuk hadiah atau sedekah yang tidak selalu harus ada. Orang tua juga bisa menanamkan nilai bahwa silaturahmi adalah tentang hubungan, bukan transaksi.

Selain itu, pendekatan alternatif bisa dilakukan, seperti memberikan hadiah dalam bentuk pengalaman, cerita, atau kegiatan bersama yang mempererat hubungan keluarga. Dengan demikian, makna kebersamaan tetap terjaga tanpa bergantung pada pemberian materi.

Pada akhirnya, tradisi amplop lebaran adalah bagian dari apa yang kita tanamkan hari ini kepada generasi berikutnya. Tradisi ini dapat menjadi budaya yang bisa menumbuhkan mentalitas transaksional. Jika diabaikan, ia berpotensi menjadi pintu masuk bagi normalisasi praktik yang tidak sehat dalam kehidupan sosial.

Minggu, 20 Juli 2025

Menyusuri Jejak Waktu di Pasar Antik Triwindu Solo

Pada 24 Januari 2025 lalu menjadi hari yang berkesan karena untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Pasar Antik Triwindu, Solo. Kunjungan saya ke sana bersama dua teman, keduanya juga untuk pertama kalinya menjejakkan kaki di Pasar Triwindu. Pasar ini sudah lama saya dengar sebagai surga bagi para pencinta barang antik, dan kunjungan kali ini benar-benar menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

Halaman pasar Triwindu

Begitu tiba di Pasar, suasana khas masa lampau langsung menyergap. Bangunan pasar dua lantai itu dipenuhi lapak-lapak kecil yang berjajar rapat, menawarkan ragam barang antik dari berbagai zaman. Setiap sudut seakan membawa saya menelusuri lorong waktu — dari peninggalan era kerajaan hingga memorabilia era kolonial. Ada topeng-topeng kayu tua, radio kuno, kamera analog, cangkir keramik, hingga perabot perunggu yang mulai berkarat namun tetap mempesona.
Klinting kebo dan beberapa kriya kayu sebagai koleksi salah satu lapak pasar Triwindu

Saya melangkah pelan, mencoba menikmati setiap detail benda yang saya lihat. Ada aroma khas dari barang-barang lama — campuran debu, kayu tua, dan logam — yang justru membentuk atmosfer masa lalu. Masing-masing barang seakan memiliki kisahnya sendiri. Sebuah gilingan kopi misalnya, tentu menyiratkan sebuah keluarga di masa lalu yang untuk menyeduh secangkir kopi harus melalui proses panjang dan jeli. Seperti nenek saya sendiri, saat saya masih kecil, ia selalu membeli biji kopi dari pasar, lalu menggilingnya sendiri di rumah. Kadang setelah kakek menyeruput kopi berkelakar, "kopinya kaya kerikil", lalu nenek segera mengencangkan setelah gilingan kopi supaya hasilnya lebih lembut. Gilingan kopi di depan saya langsung memunculkan aroma kopi di rumah nenek waktu itu.

Lampu gantung dan keramik kuno

Sebagai penggemar mesin ketik, saya juga tak melewatkan kesempatan untuk menelisik keberadaan benda favorit itu di pasar ini. Namun, pencarian yang saya lakukan tak sepenuhnya membuahkan hasil menggembirakan. Hanya beberapa mesin ketik yang saya temukan, itupun dalam kondisi mengenaskan — tuts yang copot, cat yang mengelupas, dan debu yang menutupi bodinya. Meski begitu, keberadaannya tetap menyiratkan kisah masa lalu yang menggugah rasa penasaran.

Lapak yang sesak dengan barang mana judu

Setelah puas berkeliling dari satu lapak ke lapak lain, kami menyempatkan diri singgah di sebuah warung kopi di belakang pasar. Tempatnya sederhana, tapi justru di situlah letak pesonanya. Bangunan dan furnitur bergaya jadul membuat pengalaman ngopi seolah membawa kami benar-benar mundur ke beberapa dekade lalu. Sambil menyeruput kopi panas dan menikmati suasana, saya merasa hari itu menjadi momen kontemplatif yang hangat.

Menikmati kopi sambil kembali ke masa lalu

Perjalanan singkat itu memberikan kesan mendalam. Pasar Triwindu bukan sekadar tempat jual beli barang antik, tetapi juga ruang hidup bagi kenangan dan nilai-nilai sejarah. Saya pulang dengan hati puas dan harapan, semoga suatu hari nanti bisa kembali menyusuri jejak-jejak waktu di pasar penuh cerita ini.

Senter dan aneka lampu kuno

Salah satu sudut di lantai dua

Petunjuk arah toilet

Pedagang dan pengujung

Salah satu sisi lantai dua

Awas ketiduran

Rabu, 21 Mei 2025

Asyiknya Kuliah di Jurusan Sejarah

Melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi merupakan salah satu privilege bagi sebagian kecil remaja di Indonesia. Menurut data BPS, pada Maret 2023 hanya 10,15% dari penduduk Indonesia yang menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Sudah selayaknya untuk bersyukur bagi kita yang diberikan kesempatan untuk melanjutkan studi ke jenjang tersebut.

Melakukan pembelajaran di depan Gerbang situs Ratu Boko

Namun, kesempatan belajar di perguruan tinggi dapat menjadi bumerang bagi kita ketika kita salah menentukan disiplin ilmu yang bakal kita tekuni. Kesalah pilih jurusan atau program studi tersebut sering dialami oleh mahasiswa disebabkan oleh tidak adanya tujuan ke depan saat menentukan pilihan Prodi. Dapat juga terjadi karena minimnya pengetahuan tentang Prodi-Prodi di perguruan tinggi.

Ketika mahasiswa mengalami "salah jurusan", ia akan kehilangan kenikmatan dalam proses belajar. Hal itu akan menyebabkan tidak adanya semangat juang untuk belajar dengan baik. Untuk menghindari hal tersebut, calon mahasiswa hendaknya mencermati Prodi yang akan dipilihnya. Hal itu dapat dilakukan dengan survey atau berkunjung langsung ke kampus, mencari informasi melalui laman resminya, atau dapat juga bertanya kepada teman yang sedang studi di perguruan tinggi.

Proses Pembelajaran di Museum Trowulan

Tulisan ini akan menjelaskan salah satu alternatif pilihan Prodi di perguruan tinggi, yaitu Prodi Sejarah. Kuliah di prodi sejarah menawarkan kesenangan yang unik, yaitu kesempatan untuk menyelami berbagai peristiwa sejarah dan memahami konteksnya. Kita akan belajar tentang peradaban, budaya, ekonomi, politik, dan berbagai aspek kehidupan manusia di masa lalu. Berikut beberapa keasyikan yang dapat dirasakan saat kuliah di prodi sejarah:

Menjelajahi Masa Lalu:

Di Prodi sejarah, kita akan belajar tentang berbagai peristiwa sejarah, mulai dari zaman kuno hingga zaman modern, dan bagaimana peristiwa-peristiwa tersebut membentuk dunia kita saat ini. Saat membaca buku-buku sejarah, jiwa kita seakan berjalan-jalan ke masa lalu, merasakan bagaimana kehidupan orang-orangnya, keadaan alamnya, dan budaya-budaya yang mungkin sudah tidak dapat kita jumpai pada saat ini.

Di depan candi Sanggrahan

Memperluas Pemahaman:

Di Prodi sejarah kita akan belajar untuk menganalisis peristiwa sejarah, memahami penyebab dan akibatnya, dan menarik pelajaran dari masa lalu. Saat kita melihat suatu kejadian dalam sejarah secara mendalam, kita mencoba memahami bagaimana peristiwa itu terjadi, siapa yang terlibat, latar belakang sosial, politik, ekonomi, atau budaya pada masa itu, dan bagaimana peristiwa tersebut berkembang.

Dosen sedang menjelaskan arti dan makna setiap sudut Candi

Perkembangan peristiwa tersebut pasti memiliki faktor-faktor pendorong yang memunculkan dampak tertentu baik dalam jangka pendek atau panjang. Dengan mengetahui sebab akibat tersebut kita dapat mengambil pelajaran untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, dan bisa mengambil nilai-nilai positif dari pengalaman masa lalu. Sejarah memberikan cermin bagi kehidupan masa kini dan masa depan

Menemukan Keterkaitan antar Peristiwa:

Kita akan melihat bagaimana peristiwa sejarah saling berkaitan dan membentuk sejarah yang lebih luas. Peristiwa-peristiwa sejarah tidak berdiri sendiri atau terjadi secara terpisah. Sering kali, satu peristiwa berkaitan erat dengan peristiwa lain, baik sebagai penyebab, lanjutan, atau konsekuensi. Dengan memahami keterkaitan antar peristiwa, kita dapat melihat gambaran besar alur sejarah secara menyeluruh. Kita dapat mengetahui bagaimana dunia bekerja.

Mahasiswa belajar langsung di pelataran Candi Plaosan

Menghargai Keberagaman:

Kita akan mempelajari berbagai budaya, tradisi, dan sistem nilai dari berbagai masyarakat di seluruh dunia. Peribahasa mengatakan, "lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya", setiap tempat memiliki ciri khas budayanya dan begitu juga dengan setiap jaman memiliki keunikan dan kekhasan dalam budaya, ekonomi, dan politiknya.

Proses pembelajaran di area situs Goa Pasir

Dengan belajar sejarah berbagai negara dengan berbagai jaman yang berbeda kita dapat mengumpulkan pengetahuan dan pemahaman akan budaya yang sangat beragam. Budaya-budaya tersebut terbentuk dari pengaruh situasi dan lingkungan saat itu. Pengetahuan-pengatahuan ini dapat membuka cakrawala pengetahuan kita, sehingga dapat membentuk kepribadian yang lebih toleran dan mudah menghargai perbedaan.

Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis:

Sumber utama sejarah dapat berupa dokumen tertulis, artefak, prasasti, dan sumber lisan. Dari sekian bentuk sumber-sumber ini tidak dapat secara langsung bercerita membentuk sejarah yang sempurna, akan tetapi pasti terdapat celah-celah dan lubang-lubang yang harus kita analisis dan tafsirkan sehingga dapat menggambarkan masa lalu dengan lebih akurat.

Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam UIN SATU belajar arkeologi di teras Candi Kalasan

Proses tersebut mebutuhkan kejelian dan kecermatan, menggabungkan data, logika, dan imajinasi sehingga mempertajam pemikiran. Hal tersebut dapat melatih dan menigkatkan kemampuan berpikir kritis, yaitu kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan menilai informasi atau argumen secara logis, objektif, dan mendalam sebelum mengambil kesimpulan atau keputusan. Kita akan belajar untuk berpikir analitis, mengkritik informasi, dan membuat kesimpulan yang didukung oleh bukti.

Melatih Kemampuan Komunikasi:

Hasil riset-riset sejarah tidak hanya sebagai pengisi rak-rak perpustakaan, akan tetapi harus didesiminasikan dan disebarluaskan untuk dapat dibaca masyarakat luas. Hal tersebut menuntut kita untuk belajar bagaimana menyampaikan informasi sejarah secara jelas dan menarik, baik secara tertulis maupun lisan. Penyampaian sejarah dalam bentuk tulis maupun lisan dapat meningkatkan kemampuan komunikasi kita.

Dosen sejarah mengisi liburan dengan melakukan pendakian ke Candi Dadi

Memperluas Prospek Karir:

Lulusan sejarah memiliki berbagai pilihan karir, mulai dari menjadi guru, peneliti, jurnalis, hingga bekerja di museum, lembaga pemerintah, dan berbagai bidang lainnya. Untuk menjadi guru, meskipun dari Prodi sejarah dapat berprofesi sebagai guru. Hal itu dapat didukung dengan mengikuti Program Profesi Guru (PPG). Untuk menjadi jurnalis juga sangat mumpuni, karena mahasiswa sejarah sudah terlatih untuk menyampaikan gagasan secara verbal melalui lisan maupun tulis. 

Pembelajaran di halaman Candi Bajang Ratu

Lulusan sejarah juga sangat berkompeten dengan profesi jual beli barang antik, karena juga akan mendapatkan wawasan sejarah micro yang mempelajari hal-hal peristiwa atau kisah-kisah kecil dalam sejarah yang di dalamnya mencakup benda-benda dan peralatan yang digunakan pada masa lalu. Dengan wawasan tersebut lulusan sejarah dapat bercerita lebih banyak tentang benda-benda antik sehingga menambah nilai historisnya yang juga dapat menambah nilai jualnya.

Memperoleh Pengetahuan yang Bermanfaat:

Pengetahuan sejarah dapat membantu kita memahami dunia di sekitar, membuat keputusan yang lebih baik, dan menjadi warga negara yang lebih bertanggung jawab. Pengetahuan yang kita dapatkan dari setiap jaman memberikan kita lebih banyak pengalaman hidup, dengan mengambil setiap hikmah dari setiap peristiwa yang kita pelajari dalam sejarah.

Belajar di area pertapaan Goa Selomangleng Tulungagung

Menikmati Suasana Akademis:

Belajar sejarah, kita tidak cukup hanya belajar di dalam kelas, akan tetapi kita harus turun ke lapangan untuk mencari data sebagai sumber sejarah. Kita akan berhadapan langsung dengan situs-situs cagar budaya, seperti candi, prasasti, dan lain sebagainya. Kita akan belajar lebih detail mengenai bentuk, fungsi, dan makna dari setiap cagar budaya yang kita pelajari. Kesenangan dan keasyikan belajar langsung ke sumber sejarah cagar budaya tidak hanya pada saat kita sampai pada tempanya, namun  juga pada perjalanannya menuju ke sana.

Dosen sedang memaparkan denah area Situs Goa Pasir

Kalian juga akan menemui tokoh-tokoh sepuh (yang dituakan) dari sebuah masyarakat yang dianggap memiliki pengetahuan sejarah di setiap wilayah untuk melakukan wawancara ketika melalukan riset.  Kita akan mendapatkan suasana yang berbeda dari perbincangan dengan tokoh-tokoh tersebut.

Senin, 22 Juli 2024

Proses Pemugaran Candi

Catatan kali ini dari perjalanan saya, beberapa dosen, dan mahasiswa program studi Sejarah Peradaban Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungung mengunjungi candi Plaosan Yogyakarta pada Agustus 2023 lalu. Hal yang menarik dari kunjungan kami ke Candi Plaosan (Lor) adalah ketika kami sampai di sana, terlihat beberapa pekerja dari PBCB (Pusata Balai Pelestari Cagar Budaya) yang sedang melakukan proses pemugaran candi perwara. Saya mendekati, lalu berbincang-bincang dengan Tim Pemugaran sembari mereka tetap melakukan aktifitasnya.
Mahasiswa menyimak paparan, Pak Dwi Cahyono sebagai narasumber dalam kegiatan History Tour.

Perbincangan tersebut membuka wawasan saya, betapa berat melakukan pemugaran sebuah candi. Dari wawasan tersebut rasa penasaran saya muncul, lalu membaca-baca tentang proses pemugaran Candi. Di sini akan saya uraikan dengan singkat disertai beberapa jepret dari kunjungan saya ke candi Plaosan. Berikut tahapan-tahapan dalam proses pemugaran candi;

1. Penelitian Arkeologi

Penelitian arkeologi dilakukan sejak sebelum proses pemugaran dimulai. Hal tersebut dilakukan karena memiliki beberapa manfaat di antaranya; pertama, Untuk pemahaman sejarah dan budaya. Penelitian arkeologi membantu mengungkap informasi sejarah dan budaya yang terkait dengan candi tersebut, termasuk informasi tentang periode pembangunannya, masyarakat yang membangunnya, serta fungsi dan simbolisme candi dalam konteks sosial dan religius. 

Kedua, untuk mengidentifikasi struktur asli. Penelitian arkeologi memungkinkan identifikasi dan dokumentasi struktur asli candi, termasuk bahan bangunan, teknik konstruksi, dan tata letak aslinya. Hal ini penting untuk memastikan bahwa pemugaran dilakukan sesuai dengan bentuk dan struktur asli candi. Ketiga, untuk pelestarian artefak. Sebelum pemugaran, penggalian arkeologi dapat menemukan artefak penting seperti patung, relief, inskripsi, dan benda-benda ritual. Artefak-artefak ini dapat memberikan wawasan berharga tentang kehidupan religius dan budaya di masa lalu.

Keempat, untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Penelitian arkeologi dapat mengidentifikasi area candi yang rentan terhadap kerusakan atau keruntuhan. Dengan informasi ini, tindakan pencegahan dapat diambil untuk melindungi struktur yang rapuh selama proses pemugaran. Kelima, untuk mengetahui metode pemugaran yang tepat. Informasi yang diperoleh dari penelitian arkeologi membantu tim pemugaran dalam memilih metode dan bahan yang tepat untuk pemugaran, serta memastikan bahwa proses tersebut tidak merusak atau mengubah karakter asli candi.

Keenam, untuk memperoleh dokumentasi ilmiah. Penelitian arkeologi menghasilkan dokumentasi ilmiah yang komprehensif tentang candi sebelum dan sesudah pemugaran. Dokumentasi ini penting untuk kepentingan akademis dan dapat digunakan sebagai referensi di masa depan.

2. Pekerjaan Persiapan Pemugaran

Tugas persiapan pemugaran mencakup pembersihan area sekitar candi dari sampah dan batu-batu yang berserakan serta penyediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk pemugaran (bahan dan alat pemugaran).
Terlihat petugas sedang memindahkan batu Candi menggunakan Forklift

3. Penggambaran dan Pengukuran

Kegiatan penggambaran dalam kaitan pemugaran candi adalah membuat sket gambar candi akan akan dipugar, misalnya sket gambar candi induk dan sket gambar candi perwara, serta sket gambar perancah yang menyesuaikan dengan bentuk candi.

4. Pemasangan Perancah

Perancah (scafolding) digunakan untuk mempermudah pekerjaan dalam reposisi batu ke bagian komponen candi. Bahan untuk pembuatan perancah adalah bambu petung, kayu balok dan papan kayu. Adapun volume perancah menyesuaikan dengan ukuran dan bentuk candi.
Pemasangan perancah (semacam scafolding) untuk menata ulang candi

5. Pembongkaran dan Susunan Percobaan

Proses pemugaran dimulai dengan menurunkan batu-batu candi untuk disusun kembali dengan lebih sempurna. Sebelum disusun kembali di tempat semula, dilakukan susunan percobaan yaitu penyusunan sementara candi di tempat baru untuk mengetahui kekurangan bagian batu untuk dibuatkan batu baru yang sesuai sehingga didapatkan bentuk lengkapnya. Metode pembongkaran susunan percobaan pertama kali dilakukan registrasi terlebih dahulu dengan tanda nomor dan gambar supaya memudahkan dalam pemasangan kembali. Selanjutnya batu dibongkar per lapis dan dibersihkan dari kotoran tanah, lumut, jamur dan lichen (lumut kerak).
Pembentukan batu candi yang hilang (kurang) oleh tim BPCB

6. Tahap Penyusunan Kembali

Kegiatan ini meliputi pemadatan dasar pondasi, penyusunan kembali batu candi, pengutan dengan pembetonan di dalam struktur bangunan, pemasangan angkur pada bagian yang berkonstruksi lemah, pemasangan batu baru, pemasangan lapisan kedap air. Penyusunan kembali bangunan candi menggunakan sistem anastilosis yaitu batu asli yang sudah runtuh dan berserakan dicari, dikumpulkan, diseleksi dan dilakukan penyusunan percobaan.
Pekerja akan menyusun kembali salah satu fragmen batu candi yang diambil dari susunan percobaan (sebelah kanannya)

7. Konservasi Batu

Konservasi dapat didefinisikan sebagai usaha untuk menghambat atau melindungi bangunan dari pengaruh penyebab kerusakan lebih lanjut sehingga dapat memperpanjang usia bangunan. Bidang konservasi mempunyai tugas yang penting dalam pemugaran bangunan cagar budaya yaitu sejak sebelum pemugaran, pelaksanaan pemugaran dan setelah pemugaran selesai. Kegiatan kerja konservasi selama pemugaran Candi meliputi pembersihan batu (cleaning), penambalan batu (kamuflase) dan penyambungan batu. Pembersihan batu (cleaning) dilakukan secara manual dan kimiawi.

8. Finishing

Finishing dilakukan untuk pahatan batu kulit baru yang terpasang pada bagian komponen bangunan Candi.

9. Penataan Lingkungan

Kegiatan meliputi pembersihan kotoran dan sisa-sisa bongkaran candi dan pembuatan sistem drainase.
Foto dengan background Candi Plaosan Lor

Kamis, 25 Januari 2024

Memilih Velg Retro untuk Corolla DX


Awal Januari 2023 lalu saya membawa pulang mobil pertama, yaitu Corolla DX tahun 1982. Mobil tersebut dua tahun pasca restorasi dikembalikan seperti standartnya. Namun ada yang sedikit membuat saya kurang cocok, yaitu dipasang velg R15 lebar belang 8/9 dengan ukuran ban 185/55. Hal ini membuat tampilan DX lebih gagah, namun dengan konsekuensi lebih keras dalam kabin dan berat disetir. Ukuran standart Corolla DX sendiri adalah R13 dengan lebar 6. Maka pertama kali yang saya pikirkan adalah mengganti velg dan ban. Mungkin pengalaman saya ini dapat membantu pembaca ketika ingin mengganti velg dan ban Corolla DX, karena ukuran velg dan ban akan sangat berpengaruh bagi tampilan.

Setelah saya telusuri dari berbagai sumber, sebelum memilih velg, kita harus menentukan model modifikasi yang kita inginkan. Jika melihat dari hal itu terdapat setidaknya tiga bentuk modifikasi Corolla DX yang ditunjang oleh ukuran velg dan ban. Tiga model tersebut adalah standart, rally, dan ceper.

Untuk standart kita bisa memilih velg ukuran R13 dengan lebar 5,5 atau 6 dengan ukuran ban 175/70, sebagaimana bawaan dari pabriknya. Untuk rally kita bisa memilih ukuran velg R14 atau R15 dengan lebar 6. Sedangkan untuk model semi ceper kita bisa memilih ukuran R13 dengan lebar 7 hingga 9. Menentukan ukuran velg dengan berdasarkan bentuk modifikasi yang dinginkan merupakan langkah pertama dalam memilih velg Corolla DX. Adapun jenis-jenis velg, berikut ini yang dapat menjadi pilihan:

1. Rally
Enkei Rally R 14 lebar 6
Bridgestone Vector R 14 lebar 6
Compotive R15 lebar 6
Las Vegas R14 lebar 6
Enkei Rally R14 lebar 6
Bridgestone R14 lebar 6


2. Retro

Enkei Compe R13 lebar 8

Delta Mesh R13 lebar 8

TRD Tosco R13 lebar 8


Enkei Colin R13 lebar 7

Delta Aust R13 Lebar 6




Senin, 12 Desember 2022

Makna Filosofi Ricikan Keris

Pada 25 November 2005 lalu secara resmi UNESCO yaitu sebuah organisasi pendidikan, keilmuwan, dan kebudayaan PBB mengakui keris sebagai salah satu warisan dunia tidak benda atau Intangible Culturan Heritage. Maksudnya adalah bahwa yang diakui Unesco bukanlah bendanya, namun nilai-nilai luhur yang terkandung secara tersirat (intangible) dapat diajarkan secara lisan kepada siapa saja.

Keris adalah senjata tradisional yang menyimpan ajaran kebajikan hidup. Ajaran-ajaran tersebut disisipkan mulai dari bahan yang digunakan (kombinasi besi, baja, dan meteorit atau nikel), dapur keris (bentuk keseluruhan), ricikan keris (unsur-unsur yang membentuk dapur kesir), dan pamor keris (motif meteorit atau nikel pada besi dan baja dalam bilah keris). 

Selain dalam keris, budaya masyarakat Jawa juga menyisipkan ajaran-ajaran tentang kehidupan pada benda-benda yang dipakainya, seperti setiap detail desain rumah dan pakaian yang digunakan. Ajaran-ajaran tersebut ditulis dalam bentuk simbol-simbol yang estetis. Kita sebagai generasi penerus peradaban luhur ini sudah selayaknya membaca ajaran-ajaran mulia tersebut untuk pegangan dalam menjalani kehidupan.

Dari segi bahan yang digunakan, keris memiliki ajaran hidup tentang penciptaan. Bahan batu meteor sebagai pembentuk utama pamor mencerminkan sosok ibu, sedangkan bahan besi sebagai bahan utama bilah mencerminkan sosok ayah. Menyatunya besi dan pamor dalam bilah mencerminkan titik awal munculnya makhluk hidup.

Selain pada bahan yang digunakan, filosofi penciptaan juga terkandung dalam dua bagian utama keris yaitu bilah dan gonjo. Bilah melambangkan lingga yang memiliki makna maskulinitas (laki-laki), sedangkan gonjo melambangkan yoni yang memiliki makna feminitas (perempuan). Bersatunya laki-laki dan perempuan adalah awal sebuah penciptaan.

Selain dari segi bahan yang digunakan, ajaran-ajaran kebajikan hidup juga diajarakan dalam pamor keris, dapur keris, dan ricikan sebagai unsur pembangun  dapur itu sendiri. Dalam kesempatan ini akan dijelaskan secara detail makna-makna filosofis pada ricikan keris.

Ricikan bagian atas keris. Sumber: https://sites.google.com/site/seputartosanaji/

Ricikan bagian bawah keris. Sumber: https://sites.google.com/site/seputartosanaji/

Adapun makna ricikan keris berdasarkan Poerwadarminta, WJS. 1939. Baoesastra Djawa. Batavia: JB Wolters Uitgevers Maatschappij. diantaranya sebagai berikut :

1. Sirah Cecak

Sirah Cecak melambangkan kepala manusia yang disebut Betal Jemur (rumah kemakmuran) adalah simbol dari segala asal muasal segala kesenangan dan kebahagiaan manusia. Dari sini dapat kita pahami bahwa kebahagiaan sebenarnya dapat kita kontrol melalui pikiran. Meski letak kebahagiaan adalah rasa yang berada dalam hati, namun tetap kendali utama oleh pikiran.

2. Tikel Alis

Tikel Alis memiliki arti bertemunya alis. Ketika seorang dalam keadaan awas dan waspada maka pandangannya bertumpu pada titik di tengah kedua alis. Makna yang terkandung di dalamnya adalah bahwa dalam hidup harus selalu waspada. Kita tidak boleh lengah sedikitpun mulai dari hal yang kecil, seperti lengah dalam pemanfaatan waktu.

3. Sekar Kacang

Sekar Kacang memiliki karakter melingkar menunduk ke bawah memiliki makna kerendahan hati. Seseorang dalam hidupnya selayaknya rendah hati, karena sesungguhnya apa yang dimilikinya, kelebihan-kelebihan yang melekat padanya, kesemua itu adalah titipan ilahi. Semua akan musnah bersama masuknya jasad ke dalam liang lahat.

4. Lambe Gajah

Lambe Gajah menggambarkan mulut atau lisan manusia merupakan simbol dari ajaran untuk selalu hati-hati dalam berucap. Ucapan yang keluar dari sesuatu yang lembek dan lentur, namun jika tidak tepat dapat berakibat fatal. Ucapan yang berupa suara keluar dari mulut akan didengar oleh telinga kemudian diteruskan ke dalam pikiran. Di dalam pikiran ini makna dari suara tersebut dioleh dan memunculkan respon yang dapat melebihi dari makna itu sendiri.

5. Greneng

Greneng adalah ricikan bentuk aksara 'dha' dua kali, sehingga akan terucap dhadha. Dhadha bahasa Jawa artinya adalah dada dalam bahasa Indonesia. Dada melambangkan kejujuran, karena sejatinya kejujuran bersumber dari hati yang letaknya di dalam dada.

6. Gandhik

Gandhik secara bahasa berarti batu silinder untuk menggerus atau menumbuk sesuatu. Gandik dalam keris seperti bersandar pada bilah, bahkan terdapat gandhik yang mboto rubuh atau bersandar bilah dengan kecondongan tertentu, hal sebagai simbol kepasrahan seorang hamba pada pencipta.

7. Sogokan

Sogokan bermakna selalu ingin mengetahui tentang kebenaran sejati sampai sedalam dalamnya , jadi manusia harus mengungkapkan tentang kebenaran bukan hanya tahu sebatas kulit luarnya saja..

8. Bungkul

Bungkal adalah ricikan keris yang berada di atas gonjo bagian tengah yang menguncup ke atas sebagai perlambangan tekad yang bulat. Di saat seseorang telah memiliki cita-cita, maka sudah seharusnya mendayagunakan usahanya untuk mencapainya.

9. Sraweyan

Sraweyan secara bahasa berarti bergerak-gerak melambai merupakan lambang bagi watak manusia yang selalu ingin mencari kesalahan orang lain. Hal ini harus dihindari, dan diarahkan untuk mencari kesalahan sendiri sebagai bahan untuk intropeksi diri.

10. Kruwingan

Kruwingan merupakan simbol dari tubuh fisik manusia yang harus dijaga dengan baik karena merupakan titipan dari Tuhan.

11. Pijetan/blumbangan

Pijetan atau Blumbangan adalah simbol dari ibu jari yang menggambarkan kekokohan semangat yang menjadi penyangga kehidupan. Blumbangan juga memiliki makna bahwa manusia harus bisa legowo, dapat menampung dan menerima segala persoalan kemudian dicarikan jalan keluarnya.

12. Wadidang

Wadidang adalah bagian ricikan keris yang berada di atas greneng. Secara filosifi bermakna patuh terhadap guru. Manusia dalam hidup harus memiliki seorang guru yang menunjukkan pada jalan kebaikan. Guru harus dipatuhi karena semua apa yang disampaikannya pasti untuk kebaikan muridnya.

13. Tungkakan

Tungkakan menggambarkan semangat pantang menyerah yang selalu menuju ke atas kepada kebaikan. Menyangkut ricikan keris yang lebih detil, sebenarnya juga dibuat dengan landasan kepasrahan kepada Dzat Pencipta yang Maha Agung. Mengabdi dan menyembah kepada Sang Pencipta. Seperti yang sudah dipahami selama ini bahwa pesi merupakan simbol lelaki.

14. Gonjo 

Gonjo adalah simbol perempuan, maka wilah atau bilah keris merupakan lambang panembah jati kepada Tuhan.

15. Wilah 

Wilah yang meruncing ke atas, menyiratkan bahwa manusia harus selalu mengerucut ke atas, menyiratkan bahwa manusia harus selalu mengerucut olah batin-nya menuju kepada cahaya Allah yang terang benderang. Sementara sisi tajam di samping kanan-kiri bilah menyiratkan bahwa dalam menyembah harus menggunakan tatanan lahir dan batin atau syariat dan ma’rifat.

16. Ada-ada

Ada-ada adalah ricikan yang membentuk garis tengah dari atas sogokan menuju ke ujung keris adalah peringatan agar manusia dalam bertindak harus selalu berhati-hati. Ini artinya perilaku manusia menjadi hal yang utama.

17. Lis atau Gusen

Lis atau Gusen merupakan pengambaran hawa nafsu.

18. Bungkul

Bungkul adalah lambang tekad yang sudah bulat. Tekad untuk menyelesaikan semua pekerjaan dengan baik atau tekad untuk mencari ilmu yang bermanfaat. Dalam kebulatan tekad itu, manusia juga harus memiliki landasan batin yang luas yaitu kesediaan untuk memaafkan kesalahan orang lain dan dirinya sendiri. Landasan ini dilambangkan dalam atau yang Blumbangan Pejetan berarti kesabaran.

19. Janur

Janur adalah ricikan yang terletak di antara sogokan merupakan nasehat agar manusia mesti bersifat luwes dan tidak kaku. Sebagai makhluk yang selalu menyembah kepada Allah SWT, manusia harus bersikap toleran kepada sesamanya-termasuk dalam perbedaan beragama. Selain itu sifat luwes akan memudahkan seseorang untuk menghadapi berbagai rintangan dalam hidupnya.

20. Greneng

Greneng berbentuk huruf Jawa "dha" dua kali sehingga dapat dibaca "dhadha" bisa diartikan kejujuran. Seperti ada ungkapan lama : iki dadaku, endi dadamu? (ini dadaku, mana dadamu?), maka greneng melambangkan orang yang bicaranya selalu jujur dan terus terang. 

21. Thingil

Thingil memberi gambaran agar manusia itu mesti rendah hati dan tak suka pamer. Bila memiliki kelebihan ilmu, seharusnya tak perlu ditonjol-tonjolkan, karena kalau memang berilmu, nantinya juga akan dikenal orang lain.

22. Sogokan

Sogokan mencerminkan tetang seseorang yang selalu ingin mengetahui tentang kebenaran sejati. Jadi manusia diharuskan untuk mengungkapkan tentang kebenaran, bukan hanya sekadar tahu sebatas kulit luarnya saja. Namun dalam mencari dan mencoba mengungkapkan kebenaran itu, manusia harus selalu waspada-berhati-hati agar tak merugikan manusia lain yang tak bersalah.

23. Panetes

Panetes merupakan bagian ujung keris yang lancip adalah simbol dari penyembahan kepada Tuhan yang maha kuasa.

Selasa, 01 Desember 2020

Mitos Menabrak Kucing

Pengemudi memiliki tanggung jawab besar atas apa yang dikemudikannya. Maka seseorang harus memiliki lisensi untuk dapat mengemudikan kendaraan yang biasanya disebut SIM (Surat Ijin Mengemudi). Untuk mendapatkan SIM harus melalui beberapa tahap tes teori maupun praktik. Lisensi tersebut bertujuan untuk menjamin keamanan pengendara dan masyarakat yang berada di sekitar jalan.

Namun, meski pengemudi memiliki SIM, kecelakaan masih sering terjadi. Kecelakan tersebut didominasi oleh kecerobohan pengguna jalan. Kecerobohan pengemudi selain merugikan diri sendiri juga akan merugikan orang lain. Jika sampai terjadi kecalakaan, selain pengemudi, kerugian juga akan dialami orang lain. Kecelakaan dapat menyebabkan seseorang menjadi cacat sehingga tidak dapat melakukan aktivitasnya secara sempurna. Dari sini dapat kita ketahui bahwa pengemudi sejatinya mengemban tanggung jawab yang besar.

Salah satu kecerobohan dalam berkendara adalah mengantuk. Memang, mengantuk seperti sebuah sesuatu yang tidak disengaja, ia datang tanpa kita kehendaki. Namun, kecelakaan karena mengantuk tetap dianggap sebagai kecerobohan dan kelalaian pengemudi yang dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain, sehingga terdapat pasal yang menjeratnya.

Dalam sebuah wawancara, Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubu mengatakan, berkendara dalam keadaan mengantuk dan kelelahan sama bahayanya dengan berkendara dalam kondisi mabuk. "Sebab, otak terlambat memberikan tanggapan akan tangkapan indera kita. Ketika dalam kondisi berkendara, tidak fokus selama beberapa detik saja bisa berakibat fatal".

Hal itulah yang saya alami pada 10 November 2020 lalu. Yaitu ketika melakukan perjalanan ke Nganjuk mengantar keluarga dan pada saat perjalanan pulang, mobil yang saya kendarai menabrak pohon karena mengantuk. Syukur alhamdulillah saya sebagai pengemudi hanya luka ringan di bibir, janggut, lidah, dan dahi.

Kami berangkat dari rumah setelah Maghrib dan sampai nganjuk pukul 20.30 WIB. Lalu pada pukul 22.00 WIB saya kembali pulang ke Tulungagung sendirian. Sudah memahami diri saya sendiri, jika mengantuk sulit dikendalikan. Maka ketika sampai daerah Ngadiluwih mata saya terasa mulai pedas kemudian saya berhenti untuk tidur sejenak. Setelah menepi dan tidur, saya terbangun kemudian melanjutkan perjalanan. Ketika masuk Kabupaten Tulungagung, saya merasa ngantuk lagi dan langsung menepi. Ada warung kopi di sebelah jalan, dalam hati kecil ada keinginan untuk mampir ngopi, namun saya memilih menidurkan fisik ini.

Tak lama kemudian saya terbangun karena mendengar suara truk yang mendekat dari arah belakang. Setelah saya amati ternyata truk tersebut akan parkir di depan mobil untuk mengontrol ban. Merasa pandangan sudah terang saya lanjutkan perjalanan. Namun naas, sampai depan GOR Rejoangung mobil saya hilang kendali dan menabrak pohon. Saya tersadar ketika dibangungkan oleh pengendara truk tronton yang berhenti. Ketika saya sadar saya langsung saja starter mobil, dan ketika melihat ke depan saya melihat kap mesin mobil menjulang ke atas, lalu baru mengerti kalau sedang mengalami laka.

Saya turun dengan kesadaran penuh. Memeriksa kondisi mobil yang rusak parah di bagian pojok depan, tepat depan kabin kemudi. Lalu dalam kondisi dikerubungi orang, saya minta tethering ke salah satu penolong untuk menelfon rumah. Tak lama kemudian polisi datang dan turut mengevakuasi. Tak lama berselang mobil derek dari Unit Laka datang, disusul dengan paman dan adik yang datang dari rumah.

Dari kejadian tersebut kita bisa mengambil kesimpulan bahwa ketika konfisi fisik mengantuk dan sudah mengistirahatkan, bukan jaminan rasa kantuk tersebut benar-benar pergi. Bisa jadi sesaat kemudian akan kembali menghinggapi. Berdasarkan diskusi dari beberapa pembesuk, terdapat beberapa tips untuk mengusir rasa kantuk, terutama saat dalam perjalanan. Yaitu; pertama kita harus berhenti, turun, dan melakukan senam kecil. Kedua, mampir ke warung kopi dan minum kopi. Ketiga, makan makanan ringan atau ngemil. Kalau memang sudah tidak kuat, keempat, berhenti dan tidur sampai pulas. Kalau malam hari, bila perlu sampai pagi.

Tidur satu detik saat mengemudi tetap berbahaya. Sekali lagi, bahaya tersebut tidak hanya mengancam jiwa kita sendiri, namun juga jiwa pengguna jalan lainnya. Setiap orang memiliki tanggung jawab di rumah masing-masing, barangkali mereka memiliki tanggungan anak, orang tua, atau pembiayaan lainnya. Dengan kecerobohan yang dilakukan pengemudi, akan berefek panjang pada kehidupan banyak orang.

Yang menarik dari peristiwa ini adalah ketika dalam perjalanan berangkat ke Nganjuk saya menabrak kucing. Saya berhenti lalu turun untuk memeriksa. Kucing tersebut sudah ditepikan pengendara lain, kondisinya mati. Lalu orang tersebut menawarkan apakah akan saya bawa untuk dikubur di rumah atau dikuburkan olehnya. Setelah saya tanyakan bahwa rumah pengendara tersebut tidak jauh dari tempat kejadian, saya meminta tolong untuk menguburkannya, dengan memberikan uang sebagai imbalan.

Perjalanan berangkat berjalan dengan lancar dan aman, meski diliputi rasa was-was dan kehati-hatian. Lalu sebelum berangkat pulang, doa-doa sebelum perjalanan sudah saya baca, namun kecelakaan tidak bisa dihindarkan.

Menabrak kucing menjadi mitos yang penuh misteri. Bagi orang Jawa, kucing adalah salah satu hewan yang paling keramat. Sebagian orang Jawa meyakini menabrak kucing dalam perjalanan sebagai tanda akan terjadinya kesialan. Sebelumnya saya tidak begitu percaya, karena bagaimanapun setiap yang terjadi sudah menjadi kehendak Illahi. Tapi setelah peristiwa tersebut, keyakinan-keyakinan nenek moyang perlu diperhatikan.

Menurut orang-orang yang menggenggam teguh keyakinan orang terdahulu, ketika mereka menabrak kucing yang dilakukannya adalah mencopot baju yang dipakai saat itu sebagai kain kafan kucing. Pengemudi harus menguburkannya sendiri dengan kain kafan dari baju yang dia kenakan. Untuk kebenaran tentu masih dapat diragukan. Namun perlu diketahui juga bahwa ilmu orang Jawa dulu adalah ilmu titen, yaitu hasil dari penyimpulan atas peristiwa yang terjadi berulang dalam jangka panjang.

Saya sangat beruntung dalam kecelakaan tersebut tidak menyebabkan celaka orang lain. Keberuntungan berikutnya saya hanya luka ringan. Semoga peristiwa ini dapat menjadi pelajaran bagi saya pribadi dan bagi para pembaca sekalian.