Senin, 17 Oktober 2011

Pondok

"Kawan, ayo ke sini?” pintaku seraya menggelandang tangannya untuk menunjukkan sesuatu. Setelah kami berada dalam kamar. Ia belum merasa bersalah atas kata-katanya yang hampir membuatku malu di depan teman-teman. Ia melihat kamar kami yang bersih dan rapi, meski ada beberapa potong celana kolor yang menggantung di atas pintu. Namun, untuk ukuran cowok kamar kami sudah dalam kategori bersih dan rapi. Ia juga tau kalau kami bisa menata dan meletakkan sesuatu dengan pas. Almari pribadi melekat selebar tembok sebelah kanan dengan almari gantung di tepinya khusus untuk pakaian yang suci. Di bawah almari itu terdapat cantolan yang memanjang sebagai tempat tas. Rak buku bertingkat tiga melekat juga di tembok sebelah kiri tepat berhadapan dengan almari pribadi. Kemudian cantolan kopyah berada di balik pintu, sehingga saat pintu terbuka tidak terlihat. Selain itu, aquarium dengan ikan-ikan cantik, kotak baju kotor, dan galon air minum kami tata hingga menjadi aksesoris pelengkap yang indah.

Sekarang ia kutarik ke dapur. Ia melongo melihat suasana di dapur kami. ”Sudah pakai elpiji!” katanya. Ia kira kami ini terbelakang, pakai kayu dan arang. Namun dengan mata sendiri ia meihatnya. Kompor elpiji berjajar rapi di meja beton. Tempat mencuci piring terletak terpisah dengan kompor-kompor itu, sehingga tidak menimbulkan kesan becek. Juga almari khusus perkakas alat masak sudah tersedia di ruang sebelahnya. Tak ada panci yang terlantar di lantai.

Tak menungu lama, ia kugiring menuju kamar mandi dan WC. ”Kalau mau cari ide kreatif, nih, tempatnya!” kumenunjuk salah satu WC dengan sedikit pamer. Ia hanya mengangguk-anggukkan kepala. ”Bener-bener gila, ini hotel, man!” kata-kata itu meletup dari mulutnya setelah ia masuk WC kami. ”Eh, jadi pengen beol nih, tunggu bentar ya!” Sialan. Ia kebelet juga. Itu pun tidak keluar sebelum pintu aku gedor-gedor setelah hampir 20 menit aku menungunya. Ia keluar dengan cengengesan. ”Maap. Lama nunggu ya! Terlalu menikmati. Habis WC-nya mewah sih”. Sambil bersungut-sungut aku cepat tarik tangannya menuju perpustakaan.

Sesampai di perpus ia gigit jari. ”Hari-hati, ntar jarimu patah lho” aku meledeknya. Betapa rak perpus kami membentang sepanjang dinding dari dasar lantai hingga menyentuh atap. Rak-rak tu seluruhnya disesaki dengan berbagai macam buku mulai dari yang paling salaf hingga yang paling posmodern. Juga maktabah syamilah yang menghimpun ribuan buku dalam satu PC tersedia di sana. Tinggal menggoyangkan sedikit jarimu persoalanmu akan terjawab dalam kitab-kitab itu. Tak ketinggalan, koran nasional yang selalu up to date siap membuka cakrawala informasi pada kita tanpa susah payah. Setelah puas melihatnya, kemudian ia kugiring lagi menuju kantor.

Saking melongonya air liurnya hampir menetes ke lantai kalau tidak aku bentak. ”hey, mingkem!”. ”Oh, maaf”. Sambil diserotnya lagi ilernya itu. Ia hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkali-kali acungkan dua jempol ketika mengetahui layanan kantor kami seluruhnya memakai sisitm on-line. Semua serba digital. Mulai perizinan sampai pembayaran sahriyah. Juga tak perlu bertumpuk kertas untuk mengarsipkan data para santri dan asatidz, karena database mampu menyimpannya dengan sekali ”klik”. Dengan layanan itu jangan sekali-kali kamu mencoba menipu keamanan tentang total pelanggaranmu. Karena secara otomatis, mesin canggih itu akan mem-blacklis-mu

Ia lemas. Sempat aku sedikit takut ia akan pingsan. Mungkin karena sudah terlalu meyesal atas perkataannya pada teman-teman kalau pondok salaf itu katrok, kolot, kumuh, ndeso, kampungan, terbelakang dan ucapan tradisional lainnya. Ia segera kuajak menuju puncak segala puncak. Tandon air. Di atas tandon air setara dengan lantai empat itu ia meminta maaf padaku atas ucapannya yang sangat ngawur tak berdasar. Tak ada yang bijak selain memaafkannya. Lalu dari ketinggian itu tampak hiruk pikuk kota yang berebut kemewahan. Dengan menatap senja di barat kota, beberapa kali ia memuji kemegahan pondokku. ”Ia, memang megah. Tapi, semangat santrinya tak semegah pondok dan keteladanan Masyayikhnya”. Kataku dalam hati. Tak lama kemudian, aku merasa juga. Merasa bersalah.

Upacara Kemerdekaan di Aliansi Masyarakat Miskin Malang (AMMM)

Setiap instansi negara, sekolah, dan masyarakat umumnya pada hari Rabu 17 Agustus 2011 kemarin melaksanakan upacara bendera dengan khitmad. Mereka melakukan upacara tersebut dengan atribut lengkap, berseragam, bersepatu, serta menghayati setiap sesi upacara dengan tegap seakan mengingat-ingat kebesaran bangsa Indonesia ini.

Kami, segenap warga Aliansi Masyarakat Miskin Malang belum bisa seperti itu. Pertanyaan-pertanyaan tentang hakikat kemerdekaan masih selalu menggelayut dalam sanubari kami. Apakah substansi dari kemerdekaan itu? Apa sebatas bebas dari koloni? Apakah ketika rakyat miskin ditelantarkan negara itu merdeka? Apakah kasus-kasus korupsi yang masih mencubiti tengkuk ini juga bisa dikatakan merdeka? Rakyat jauh dari kesejahteraan? Rakyat miskin enggak bisa sekolah lantaran biaya?

Agustus tahun lalu kami melaksanakan upacara bendera dengan bendera ukuran mini, sekitar 5X10 cm dengan baju seadanya tanpa sepatu, tanpa membaca UUD 45 dan pancasila yang kami rasa masih jauh tercapainya. Berbeda dengan Agustus tahun lalu, Agustus tahun ini kami melaksanakannya dengan tiduran (jawa: gletakan).

Upacara yang diikuti sekitar 50 orang yang terdiri dari anak-anak, mahasiswa UIN, UNMER, Univ Kanjuruhan, UM, serta pengurus AMMM berjalan sederhana sekali. Hanya dengan pengibaran merah-putih disertai menyanyikan Indonesia Raya, kami hormat kepada bendera sambil tidur-tiduran.

Hormat pada bendera sambil tiduran bagi kami merupakan cerminan hilangnya nasionalisme mayarakat terhadap bangsa Indonesia. Maraknya kasus suap dan korupsi yang terjadi hampir di setiap instansi negara maupun swasta menandakan bahwa nasionalisme kita sudah habis kikis. Memori anak-anak kita yang berisi lagu-lagu cinta cabul menggeser lagu-lagu perjuangan bangsa, juga salah satu indikasi merosotnya nasionalisme pada bangsa ini.

Nasionalisme berarti sifat dan sikap kebangsaan. Penyelewengan kekuasaan para pemimpin kita di pemerintahan dengan tindak korupsi, maka kesejahteraan masyarakat tidak akan terwujud. Ketika masyarakat tidak sejahtera maka yang terjadi adalah ketidakcintaan pada bangsanya. Menurut Nurani Soyomukti, “Kesadaran akan pentingnya tanah dan air baru muncul ketika mereka menyadari saat tanah dan air Indonesia (nusantara) begitu penting untuk bertahan hidup dan mengembangkan hidupnya”. Bagaimana nasionalisme akan tumbuh saat bangsa tidak bisa menjadi tempat bernaung yang baik namun yang terjadi sebaliknya, membuat rakyatnya menderita!

Yang wajib kita lakukan sekarang adalah menepis fenomena tersebut dengan gerakan penyadaran. Yang menjadi guru, tepislah dengan menanamkan nasionalisme pada anak-anak didik. Yang menjadi aktifis pergerakan, tepislah dengan menanamkan nasionalisme pada rekrutmen anggota baru. Yang menjadi guru agama, tepislah dengan menyisipkan nasionalisme dalam dakwah. Yang menjadi penyanyi, tepislah dengan lirik lagu. Yang menjadi sastrawan, tepislah dengan kekuatan kata-kata. Yang menjadi desainer busana, tepislah dengan karya busana. Karena menepis katiadaannasionalisme pada yang sedang berkuasa di panggung pemerintahan terasa semakin sukar keberhasilannya.

Pancasila dalam Bingkai Islam

Dalam sejarahnya, Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara dirumuskan secara matang oleh tokoh negara serta tokoh agama. Yaitu ketika dibentuknya Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tanggal 28 Mei 1945 hingga 17 Agustus 1945 sore hari setelah proklamasi kemerdekaan. Dalam rentang waktu yang cukup panjang tersebut ideologi dan dasar negara yang nantinya disebut Pancasila diolah melalui pertimbangan-pertimbangan yang sesuai dengan kondisi negara Indonesia.

Lima sila dalam Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara ditinjau dari agama Islam sangat sejalan dengan Al-Quran dan Hadis sebagai dua sumber utama hukum Islam. Kelima sila tersebut berbunyi; (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (2) Kemanusiaan yang adil dan beradab (3) Persatuan Indonesia (4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanan dalam permusyawaratan perwakilan (5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kesejalan Pancasila dan Qur’an Hadist akan diuraikan secara singkat sebagai berikut:

(1)Ketuhanan Yang Maha Esa. Kata “Esa” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti satu, tunggal. Ke-esa-an Tuhan, dalam al-Qur’an disebutkan diantaranya dalam surat Al-Ikhlas (قُلْ هٌوَ اللَّهُ اَحَدْ: الاخلاص:1 ) artinya; Katakanlah (Muhammad), “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa”. Ayat tersebut sudah dengan tegas mengatakan bahwa Tuhan Allah itu Esa (satu).

(2)Kemanusiaan yang adil dan beradab. Islam sangat menghargai kemanusiaan. Menurut KBBI kemanusiaan adalah secara manusia. Itu artinya Pancasila juga menjunjung tinggi sifat-sifat yang layak bagi manusia sebagaimana dalam Islam. Seperti dalam surat al-Baqarah 177 yang artinya: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, Malaikat-malaikat, kitab-kitab, Nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Al-Baqarah [2]; 177). Ayat tersebut sungguh mengutamakan sisi kemanusiaan dari pada ibadah ritual semata.

Kedilan dalam Islam dapat kita ketahui dari surat Mumtahanah ayat 8 yang artinya; “.... Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil”. Sedang tentang adab, ada sebuah hadist قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((أدبني ربي فأحسن تأديبي)) artinya: Rasulullah SAW bersabda; Allah telah menjadikan aku beradab maka baiklah adabku. Kesempurnaan adab Rasulullah menjadikan ia sebagai pedoman setiap tinggah laku ummat Islam, karena adab beliau adalah al-Qur’an. Dengan dimikian kemanusian yang adil dan beradab adalah konsep kemanusiaan dalam Islam.

(3)Persatuan Indonesia. Menurut Dr. M. Qurash Shihab untuk mengetahui paham kebangsaan dalam al-Qur’an kita harus terlebih dahului mengetahui kata apa saja yang digunakan al-Qur’an dalam mengungkapkan paham kebangsaan. Beliau mengemukakan ada tiga kata yang dipakai al-Qur’an untuk menyatakan arti bangsa, yaitu; sya'b, qaum, dan ummah. Seperti dalam al-Qur’an: يايها الناس إنا خلقناكم من ذكر وأنثى وجعلكم شعوبا وقبائل لتعارفوا إن اكرمكم عند الله اتقكم إن الله عليم خبير (الحجورة: 13) artinya: Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Kami telahi menciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang perempuan, dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (Qs. Al-Hujurat:13).

Menurut beliau kata ummat-lah yang paling sesuai dengan kebangsan, karena kata umat dalam Al-Quran sangat lentur, dan mudah menyesuaikan diri. Tidak ada batas minimal atau maksimal untuk suatu persatuan. Sebagaimana al-Qur’an menyebut orang-orang yang tidak beriman juga dengan kata umat. Begitu juga Nabi disebut dengan kata umat seperti pada surat An-Nahl ayat 120: إن إبراهيم كان أمة قانتا لله حنيفا ولم يكن من المشركين artinya: Sesungguhnya Ibrahim adalah umat (tokoh yang dapat dijadikan teladan) lagi patuh kepada Allah, hanif dan tidak pernah termasuk orang yang mempersekutukan (Tuhan) (QS An-Nahl : 120).

Beliau juga menuturkan, “di sisi lain dalam Al-Quran ternyata ditemukan sembilan kali kata ummat yang digandengkan dengan kata wahidah, sebagai sifat umat. Tidak sekali pun Al-Quran menggunakan istilah Wahdat Al-Ummah atau Tauhid Al-Ummah (Kesatuan/ penyatuan umat). .... Hal tersebut ditafsirkan oleh Mahmud Hamdi Zaqzuq, mantan Dekan Fakultas Ushuluddin Al-Azhar Mesir, yang disampaikan pada pertemuan Cendekiawan Muslim di Aljazair 1409 H/ 1988 M, bahwa Al-Quran menekankan sifat umat yang satu, dan bukan pada penyatuan umat, ini juga berarti bahwa yang pokok adalah persatuan, bukan penyatuan.”

Hingga tentang persatuan umat Islam beliau menyimpulkan “Kesatuan umat Islam tidak berarti dileburnya segala perbedaan, atau ditolaknya segala ciri/sifat yang dimiliki oleh perorangan, kelompok, asal keturunan, atau bangsa. Kelenturan kandungan makna ummat seperti yang dikemukakan terdahulu mendukung pandangan ini. Sekaligus membuktikan bahwa dalam banyak hal Al-Quran hanya mengamanatkan nilai-nilai umum dan menyerahkan kepada masyarakat manusia untuk menyesuaikan diri dengan nilai-nilai umum itu. Ini merupakan salah satu keistimewaan Al-Quran dan salah satu faktor kesesuaiannya dengan setiap waktu dan tempat. Dengan demikian, Al-Quran tidak mengharuskan penyatuan seluruh umat Islam ke dalam satu wadah kenegaraan. Sistem kekhalifahan --yang dikenal sampai masa kekhalifahan Utsmaniyah-- hanya merupakan salah satu bentuk yang dapat dibenarkan, tetapi bukan satu-satunya bentuk baku yang ditetapkan. Oleh sebab itu, jika perkembangan pemikiran manusia atau kebutuhan masyarakat menuntut bentuk lain, hal itu dibenarkan pula oleh Islam, selama nilai-nilai yang diamanatkan maupun unsur-unsur perekatnya tidak bertentangan dengan Islam.”

(4)Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanan dalam permusyawaratan perwakilan. Tentang musyawarah dalam al-Qur’an hanya terdapat tiga ayat. Itu artinya musyawarah tidak diterangkan secara terperinci hingga pernik-perniknya. Hal tersebut menurut -Dr. M. Quraish Shihab- permuysawaratan diserahkan kepada manusia, konsepsi dan tekniknya. Hanya saja yang perlu ditegaskan, bahwa musyawarah dalam hal ini adalah musyawarah dalam kebaikan.

Salah satu ayat tentang musyawarah yaitu: والذين يستجابوا لربهم وأقاموا الصلاة وامرهم شورى بينهم ومما رزقناهم ينفقون (الشورى: 38) artinya; (Orang-orang mukmin yaitu) Orang-orang yang mematuhi seruan Tuhan mereka, melaksanakan shalat (dengan sempurna), serta urusan mereka diputuskan dengan musyawarah antar mereka, dan mereka menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

(5)Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Al-Qur’an sangat menjunjung tinggi keadilan. يآيها الذين آمنو كونو قوامين لله شهدآء بلقسط ولا يجرمنكم شنآن قوم على ألا تعدلوا اعدلو هو أقرب للتقوى واتقوا الله إن الله خبير بما تعملون (المائدة: 8) artinya; “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Begitu pula dengan diturunkannya para Nabi di dunia adalah untuk menegakkan keadilan. Seperti yang tertuang dalam surat al-Hadid yang artinya: Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul, dengan membawa bukti-bukti nyata, dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat melaksanakan keadilan (QS Al-Hadid [57]: 25)

Nyata sudah bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan Islam. Substansi Pancasila pada hakekatnya adalah muatan-muatan yang terkandung dalam Islam. Untuk membangun peradaban yang qur’ani kita tidak perlu merombak dasar dan ideologi negara dengan khilafah islamiyah, mengingat beragamnya suku dan budaya nusantara, yang mana al-Qur’an juga sangat menghargai perbedaan tersebut.

Jumat, 14 Oktober 2011

Pasang Bendera

“Pak, hari ini pak Presiden akan lewat di depan rumah kita. Perkiraan jam sebelas siang nanti”

“Trus, ngapain!”

“Bukankah kita harus pasang bendera!”

“Harus! Kenapa?”

“Tadi pak Bayan Desa ke sini, menyuruh setiap rumah yang berada di tepi jalan raya supaya memasang bendera merah putih”

“Kenapa hanya yang tepi jalan? Bagaimana dengan tetangga-tetangga kita di belakang rumah?”

Aku terdiam. Mencoba menafsirkan pertanyaan-pertanyaan bapak.

”Ya karena rumah mereka di belakang”

”Apa beda di belakang dan di depan?”

”Kalau di depan kan kelihatan, nanti waktu pak Presiden lewat”

”Kenapa harus merah putih?”

”Aduh, paaak.. masak Presiden mau diajak gaul dengan sambutan bendera warna-warni. Ini bukan hari raya, pak, ini Presiden; orang nomor satu di Indonesia. Kita harus menghormati beliau dengan nasionalisme. Kita harus menunjukkan bahwa rakyat Trenggalek ini benar sebagai bangsa Indonesia seutuhnya”

“Seutuhnya! Dengan bendera!”

“Iya, bendera itu kan simbol. Simbol nasionalisme”

”Trus, bagaimana dengan rumah-rumah yg tidak di tepi jalan! Mereka enggak utuh dong, keindonesiaannya. Sebab mereka enggak memasang bendera”

Aku semakin terjepit dengan pertanyaan yg bertubi-tubi itu.

”Aku kira rumah-rumah di tepi jalan mewakili keindonesiaannya”

”Oo.. berarti nasionalisme bisa diwakilkan, ya. Ya sudah, kita wakilkan nasionalisme pada rumah sebelah yang memasang bendera saja”

Gimana sih bapak ini.

“Aduuuh, pak aku malu sama si Mamat dan si Udin yang sudah pasang bendera dari kemrin. Bendera mereka besar, dengan tiang bambu pilihan”

“Ngapain malu!”

“Ya malu lah, nanti dikira aku enggak nasionalisme”

“Hahaha” Bapak tertawa. “kalau memang benar kamu gak nasionalis, mau apa?”

“Aku ini nasionalis. Aku hafal pancasila beserta butir-butirnya. Hafal pembukaan UUD 45. Hafal lagu-lagu nasional. Aku juga heran, pak. Si Mamat dan Udin itu sukanya kan lagu dangdut. Bahkan perilakunya tidak menunjukkan kenasionalismean. Ia suka pakai jeans, bajubaju impor, sepatu impor, dan yang lebih parah enggak punya sehelai baju batik-pun”

”Haha.. memang perilakumu sudah nasionalis!”

”Ya sudah lah”

”Heh, tak bilangin, nak. Nasionalisme pada bangsa ini terlalu berat buat kita. Terlalu berat.”

”Lhoh, kok bisa”

”Dengarkan dulu, jangan memotong! Sesuatu yang besar itu terjadi pasti dengan hal-hal kecil sebelumnya”

”Sepakat!”

”Dengarkan dulu! Lihat kembali tingkahlakumu tiap hari! Apa kamu rajin membantu bapak ke sawah? Apa kamu rajin membantu ibumu memasak!”

”Lhoh, apa hubungannya!”

”Sesuatu yang besar itu pasti meliputi sesuatu yang kecil juga. Maksudnya, kalau nasionalisme kamu pada keluarga saja setengah-setengah, gimana mau bernasionalis pada bangsa yang besar ini!”

Aku hanya diam

”Lalu” bapak melanjutkan ”bukan berarti kamu hafal segala ragam undang-undang, hafal teori-teori kemausiaan itu berarti sudah bernasionalisasi. Nasionalisme itu pengabdian, nak. Selama kamu hanya diam di tengah kecarutmarutan negeri ini, nasionalis kamu hanya nol besar. Selama kamu bisa menelan nasi di tengah kemelaratan sebagian besar rakyat negeri ini, nasionalisme kamu nol besar”

Suasana hening. Pagi ini seperti sarapan ceramah.

“Iya, pak. Tapi aku pingin memasang bendera”

”Ngapain pake bilangbilang saya!”

”Benderanya mana?”

”Bukannya kamu tancapkan di Vespamu itu?”

”Oh iya, aku lupa”

Aku segera berlari menuju motorku. Di sana tertancap bendera merahputih lusuh. Bendera yang sudah berkelana di berbagai kota.

“Lho.. lho.. lho.. mau di pasang di mana?”

Bapak menghentikan langkahku saat bendera akan ku pasang.

“Di halaman rumah”

“Sebagai simbol nasionalisme?” bapak bertanya lagi.

“Bukan. Tapi sebagai penghormatan”

“Kita sebagai rakyat Indonesia harus kompak!”

”Sepakat, pak!”

”Kalau di berbagai kota banyak mahasiswa dan masyarakat mendemo presiden, kita juga harus kompak. Bukankah berdemo dan menghormati itu bertolak belakang! Gak kompak dong!”

Aku urungkan langkahku.

”Sudah, tetap di pasang di Vespamu saja” perintah bapak.


Trenggalek, 31 Maret 2010

Rabu, 07 September 2011

Mencintai Tidak Akan Pernah Sia-sia

Siang-siang, saat saya berteduh dari sengatan surya, hape berbunyi dua kali dengan pesan dari Riza Multazam Luthfi seorang penyair, seperti ini;

Bujang Lapuk
(buat paijun)

Haruskah hidupku sendiri
Tanpa belaian kata-kata
dan puisi?
25/07/2011
11:37

Sang Pencundang
(buat paijun)

Andai kutahu isi hatimu
Pasti tak akan
Kubisikkan cinta itu
25/07/2011
14:12

Sajak yang perjudul Bujang Lapuk sepertinya sebuah teguran bagi saya yang memang selama satu tahun terakhir ini jarang sekali menulis puisi atau karya sastra lainnya. Saya akui memang. Meskipun pada tahun sebelumnya juga enggak produktif amat.

Sedang sajak Sang Pecundang pertama membaca (via hape) terasa geli. Sesaat setelah hape saya saku, terasa ada yang janggal. Maka hape aku buka lagi, aku baca puisi kedua kalinya. Kening ini memicing-micing mengingat-ingat saat kuliah dulu. Kami (aku dan Reza) adalah sahabat dekat, saya lupa bagaimana pertama ketemu kok sampai menjadi sahabat. Yang pasti kita pada awal semester di kelas yang sama. Celakanya, pada tahun 2006 (awal semester tiga) kami menyukai cewek yang sama. Waduh... jian dekne ki.

Akhirnya kami putuskan untuk menjalani persaingan secara seportif, bahkan kalau bisa (dalam hal ini) bermitra-pun jadi. Saya lebih awal mendapatkan nomor tilpun cewek itu. Saya merasa lebih pede satu langkah. Namun sayang sekali, karena penyakit kronis bawaan dari kecil, sindrom gemeteran bicara di depan cewek, ketemuan pertama-pun aku ajak si Reza itu. Wal hasil, kencan bertiga itu menjadi kencan terkacau saya sepanjang sejarah. Nggak usah saya bicarakan, malu-maluin.

Persaingan secara sportif itu tidak semulus yang kita canangkan. Setelah si Riza tau karakter cewek itu dia mundur perlahan. Saya tetap bertahan. Tapi, penyakit saya itu membuat saya mengalami kemunduran juga. Setiap bertemu dan mengobrol sama si cewek saya mendadak seperti robot. Menoleh saja susah. Bicara tidak teratur dan tidak dengan kerangka pikir yang beruntun. Keringat dingin mengucur. Kadang terlalu over dengan raut wajah dan mimik berlebihan (Saya tau macam-macam kesalahan itu dari membaca buku setelahnya).

Waktu itu saya belum sadar dan saya terus mengejar dengan sikap yang sama. Setelah sekian waktu, saya mulai menyadari kalau dia kurang tertarik denganku. Dari sini lalu aku menyesuaikan diri (menjadi teman maksudnya, hehehe).

Setelah itu saya sempat suka kepada beberapa orang. Sedang Riza, selama kuliah pacaran sekali. Lalu di akhir saya menulis catatan ini dia sudah berganti pasangan lagi. Saya masih terjatuh pada lubang yang sama.

Bersama bergulirnya waktu, saya selalu mencoba mengatasi yang namanya demam perempuan dengan banyak membaca buku. Saya percaya kalau semua yang saya alami tak lepas dari motif-motif psikologi dan budaya. Lambat laun saya semakin bisa mengendalikan diri, bahkan lebih dari itu mengetahui titik-titik sentuh emosi wanita yang bisa membuat dia tergila-gila sama kita (lelaki). Saya mengetahui dasar-dasar proses seorang wanita alam mengambil keputusan. Pokoknya serba wanita dah. Dan lagi (tak kalah pentingnya) mengetahui bagaimana meraih hati camer alisan calon mertua. Saya tau, apakah saya bisa!

Ringkas kata, cinta yang saya tumpahkan kepada wanita-wanita yang saya sukai tidak-lah berakhir sia-sia, sehingga saya harus berkata “Andai kutahu isi hatimu/Pasti tak akan/Kubisikkan cinta itu” sebagaimana sajak Riza yang dibuat untukku di atas yang terkesan menyesali karena mengungkapkan cinta. Meskipun saya belum berhasil mendapatkan wanita, mencintai mendorong saya untuk tampil lebih sempurna. Saya berusaha menjadi yang terbaik untuk menarik perhatian seseorang yang saya sukai. Hal itu tentu mendorong perkembangan saya di bidang keilmuan maupun ketrampilan. Saya semakin percaya ketika bapak Mario Teguh mengatakan “orang yang ingin dicintai apa adanya (yang ada dalam dirinya), dia tidak akan pernah berubah (menjadi lebih baik)”. Sehingga mencintai dengan sepenuh hati, tidak akan pernah sia-sia. Percayalah!