Kamis, 23 Februari 2012

Optimis


Ribuan kali diantarnya ibu-ibu ke pasar. Membawa kehidupan dari gang ke gang, dari toko ke toko. Merambati waktu, dan kini jaman terus melaju, ia semakin ditinggalkan. 
"Biarlah mereka meninggalkanku. Aku tetap akan menatap ke depan", katanya. Barangkali suatu saat nanti aorang-orang yang pernah diantarkannya dulu, padanya diam-diam menaruh rindu.

Senin, 06 Februari 2012

Alih Kode dan Campur Kode, Gap Komunikasi, dan Kesantunan Berbahasa dalam Pementasan Semar Gugat oleh Teater Komedi Kontemporer UIN Malang

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Dalam kehidupan di masyarakat, manusia selalu melakukan interaksi atau hubungan dengan sesamanya melalui bahasa. Bahasa dan manusia merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, dalam arti keduanya berhubungan erat. Bahasa merupakan alat komunikasi yang paling penting bagi manusia karena dengan bahasa manusia dapat mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran atau gagasannya. Agar komunikasi dapat berlangsung dengan baik, manusia harus menguasai keterampilan berbahasa. Tarigan (1986 : 2) menyatakan bahwa keterampilan berbahasa meliputi empat macam, yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Setiap keterampilan bahasa mempunyai hubungan yang erat dan konsep berpikir yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikiran, semakin terampil seseorang berbahasa semakin cerah dan jelas pula pikirannya.

Kridalaksana (1984 : 28) berpendapat bahwa bahasa adalah sistem lambang arbiter yang digunakan untuk bekerja sama, berinteraksi, atau mengidentifikasikan diri. Meningkatkan bahasa sebagai lambang makna dalam bahasa lisan lambang itu diwujudkan dalam bentuk tindak ujar dan dalam bahasa tulis wujud simbol tulisan dan keduanya memiliki tempat masing–masing. Baik bahasa lisan maupun tulisan digunakan manusia untuk berkomunikasi.

Dalam penelitian ini penulis akan meneliti perbincangan antara Semar, Bagong, Gareng, dan Petruk (Punokawan) pada  Pementasan Teater Semar Gugat oleh Teater Komedi Kontemporer UIN Malang yang diselenggarakan di Teater Arena Taman Budaya, Solo Jawa Tengah pada 3 Maret 2008 dengan menggunakan tiga macam analisis, yaitu Alih kode dan campur kode (Codeswiching and codemixing), Gap Komunikasi (Gap communication), dan kesantunan berbahasa (Pollitenes).

Adapun Tujuan penelitian ini adalah mengetahui Bagaimana alih kode, gap komunikasi, dan kesantunan bahasa yang terdapat pada  Pementasan Teater Semar Gugat oleh Teater Komedi Kontemporer UIN Malang.

Dalam penelitian ini, peneliti hanya akan meneliti percakapan pada babak pertama pada Pementasan Teater Semar Gugat oleh Teater Komedi Kontemporer UIN Malang. Untuk pengumpulan data peneliti menggunakan data-data dalam percakapan pada Pementasan Teater Semar Gugat oleh Teater Komedi Kontemporer UIN Malang.

Penelitian ini menggunakan penelitian perpustakaan (library research) yaitu penelitian yang dilakukan di kamar kerja peneliti atau di ruang perepustakaan dimana peneliti memperoleh data dan inforamasi tentang obyek penelitiannya lewat buku-buku atau alat-alat audio visual lainya.[1]

Adapun metode kerja pada penelitian ini menggunakan  metode kualitatif yaitu mengutamakan kedalaman penghayatan terhadap interaksi antar konsep yang dikaji secara empiris.




BAB II
LANDASAN TEORI

Alih Kode dan Campur Kode.
Appel (1976:79) mendifinisikan Alih kode itu sebagai, “Gejala peralihan bahasa karena berubahnya situasi. Adapun alih kode dan campur kode hampir sama. Perbedaan keduanya jika alih kode peralihan bahasa tersebut terjadi antar kalimat, sedangkan campur kode peralihan tersebut terjadi dalam satu kalimat.

Menurut Poedjosoedarmo via Kuncara Rahardi (2001; 36) ada tiga belas komponen yang berpengaruh dalam tuturan. (1) Pribadi si penutur, (2) anggapan penutur terhadap kedudukan social dan relasi orang yang diajak bicara, (3) kehadiran orang ketiga, (4) maksud dan kehendak si penutur, (5) warna emosi si penutur, (6) nada suasana bicara, (7) pokok pembicaraan, (8) urutan bicara, (9) bentuk wacana, (10) sarana tutur, (11) adegan tutur, (12) lingkungan tutur, (13) norma kebahasaan lainnya. Tiga belas komponen ini menjadi faktor alih kode.

Gap komunikasi
Gap komunikasi adalah kesenjangan antara lokusi dan ilokusi. Tindak lokusi untuk menyatakan sesuatu adalah tindak lokusi (Wijana 1996: 17). Pernyataan tersebut sama dengan Rustono (1999: 35) bahwa lokusi atau lengkapnya tindak lokusi merupakan tindak tutur yang dimaksudkan untuk menyatakan sesuatu. Tindak tutur ilokusi  adalah tindak tutur yang mengandung maksud dan fungsi atau daya ujar. Tindak tutur ilokusi dapat diidentifikasi sebagai tindak  tutur yang berfungsi untuk menginformasikan sesuatu dan melakukan sesuatu (Wijana 1996: 18). Atau bisa disederhanakan bahwa lokusi adalah ucapan sesuai dengan apa yahng dimaksud oleh penutur, sedangkan ilokusi adalah ucapan sebagaimana yang dipahami pendengar.

Faktor yang menyebabkan gap komunikasi (1) menggunakan pemaknaan ekspresi, (2) pendengar tidak faham pesan yang disampaiakan penutur karena perbedaan latar belakang, meliputi pendidikan, pengalaman, gaya hidup, dan status sosial, (3) cacat kejiwaan, (4) perbedaan psikologi.
 
Kesantunan Berbahasa
Kesantunan (politiness), kesopansantunan, atau etiket adalah tatacara, adat, atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Kesantunan merupakan aturan perilaku yang ditetapkan dan disepakati bersama oleh suatu masyarakat tertentu sehingga kesantunan sekaligus menjadi prasyarat yang disepakati oleh perilaku sosial. Oleh karena itu, kesantunan ini biasa disebut "tatakrama".

Menurut Brown dan Levinson kesantunan berbahasa dibagi menjadi 4 macam, (1) cuek dengan pendengar, (2) menyenangkan pendengar, (3) untuk menjaga jarak/formalitas, (4) menyembunyikan sesuatu karena takut dengan seseorang.



BAB III
PEMBAHASAN

Teknis kajian ini akan meneliti satu percakapan dengan ketiga pisau analaisis yang sudah dijelaskan pada landasan teori di depan. Yaitu tentang alih kode, gap komunikasi, dan kesantunan berbahasa yang ada dalam percakapan pada babak pertama pementasan teater Semar Gugat olek TK2 UIN Malang.

Sebelum kajian dilakukan, Latar belakang atau background percakapan yang akan ditelili, Bagong, Semar, Gareng, Petruk adalah punokawan bagi para ksatria. Punokawan artinya sebagai sahabat atau teman yang selalu menemani para ksatria. Semar adalah yang paling disegani dan bijaksana diantara punokawan lainnya.

Perbincangan pada babak pertama lakon Semar Gugat ini terjadi pada pagi hari, dimana punokawan akan menghadiri pesta pernikahan Arjuna dengan Dewi Woro Srikandi.

Pada tuturan pertama oleh Semar dapat dianalisa sebagai berikut:
Semar:
Bagong.. Gareng.. Petruk… ayo bangun! Hari sudah siang, jangan sampai didahului burung-burung. Jangan sampai ditinggal matahari. Jangan sampai dijauhi rejeki. Hari ini adalah hari bahagia junjungan kita raden Arjuna. Ayo bangun, dan kita ke istana sekarang.

Pada tindak tutur di atas terdapat unsur kesantunan berbahasa, yaitu menyenangkan pendengar. Dengan memberikan gambaran keindahan pagi yang tercermin pada kata “burung-burung, matahari, dan rezeki, hal itu sebagai motivasi dan penyemangat untuk segera bangun.

Pada ujaran kedua, yaitu oleh Bagong, dapat dianalisa sebagai berikut:
Bagong:
Ooo.. yang bahagia itu kan deden kita. Lawong beliau yang akan kawin, bangun pagi atau bangun siang, Bagong sih akan tetap begini saja, rejeki sama.

Pada ujaran di atas terdapat campur kode (codemixing) yaitu kata “Lawong”. Kata “lawong” berasal dari bahasa Jawa. Lawong adalah kata ekspresi. Meskipun kata “lawong” tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia, namun hal itu tetap menjadi campur kode.

Jika ditinjau dari kesantunan berbahasa, kalimat ujaran tersebut mengandung unsur kecuekan dengan apa yang dikatakan oleh Semar. Padahal, dalam konteks ini semar sebagai orang yang disegani diantara lainnya.

Pada ujaran berikutnya:
Semar:
Ee..ee..e.. kamu jangan berpikir begitu, bagong.. Kalau junjungan bahagia, kita semua harus ikut bahagia. Dan bangun pagi itu wajib hukumnya. Ayo bangun.. bangun he.. ayo bangun. Gareng, ayo bangun.. bangun bagi itu bukan hanya karena ingin ikut bahagia lantaran junjungan kita bahagia, tapi juga karena syukur kita pada alam raya yang selama ini telah memelihara kita dengan sangat baiknya. Jadi ayo bangun.. ayo bangun.. jangan tidur terus…

Pada ujaran di atas, terdapat unsur kesopanan bertutur, yaitu tercermin pada penggunaan kalimat pujian pada alam dan pujian pada junjungan dimaksudkan bahwa Semar sedang dalam keadaan bahagia, begitu pula seharusnya dialami oleh punokawan lainnya. Mengajak bangun tidur dengan suasana seperti itu menjadikan ajakan bangun tidur tidak hanya sebagai egoisme Semar, tapi sebagai kewajiban semua manusia.

Pada ujaran berikutnya:
Bagong:
Aahhh bapakne, lagi enak-enak ketiduran kok dibangunan.

Terdapat unsur kesantunan bahasa, yaitu cuek dengan pendengar. Hal itu terjadi karena Bagong merasa ajakan Semar hanya akan menyusahkan dia. Karena Bagong merasa terganggu.

Pada ujaran berikutnya oleh Gareng yang baru saja bangun, dan rupanya sudah menyimak pembicaraan Semar dan Bagong mengatakan:
Gareng:
Ooalah mo.. mo.. lawong kita di sini saja cari makan sudah ngos-ngosan. E, lha kok disuruh mikir ngasih hadiah sama junjungan yang sudah sangat kecukupan.

Pada ujaran di atas terdapat campur kode, yatiu kata “lawong” dan “ngos-ngosan” kedua kata tersebut berasal dari bahasa Jawa. Sebab dari campur kode adalah emosi penutur. Emosi kekecewaan memunculkan kata-kata tersebut.

Juga pada ujaran tersebut terdapat gap komunikasi tentang hadiah. Menurut Gareng hadiah itu harus mengeluarkan biaya, padahal dirinya untuk makan saja masih ngos-ngosan atau kesulitan. Pemahaman akan wajud hadian yang ditangkap Gareng tidak seperti makna apa yang diinginkan oleh Semar, hal itu tercermin dalam kalimat berikut:
Semar:
Kamu juga jangan berpikir begitu. Hadiah itu banyak macemnya. Mendoakan supaya mereka berdua bahagia itu juga sudah merupakan hadiah,  jadi tidak usah menunggu pakai uang.

Bahwa sebenarnya hadiah tidak hanya berupa materi, namun senyuman juga bisa menjadi sebuah hadiah. Dari kalimat tersebut kita ketahui bahwa Gap komunikasi tentang Hadiah berbeda makna antara penutur dan pemahaman pendengar.

Kemudian pada percakapan berikutnya, ketika Petruk bangun:
Petruk: So.. we must to follow the leader  baby…
Semar: Hahaha… ngaten, sampean leres Petruk.
Petruk: Where ever he go, we go. He happy, we happy, dady yes?
Semar: Ngaten nggeh leres Petruk, yes.
Petruk: Where ever yang dia bikin, we juga harus ikut dunk. Yes dady?
Semar: Sebagai abdi yang baik, kita seharusnya memang berbuat yang demikian.
Petruk: Nah, kalau begitu kita juga harus ikut kawin dong.
Petruk, Gareng, Bagong: Kawin.. kawin.. kawin.. kawin…
Semar: Dengarkan dulu! Kawin.. kawin! Tak kawinkan sama kuda kamu! Kita ini punakawan abdi kekasih ksatriawan.

Sebagaimana kita ketahui bahwa alih kode adalah gejala perubahan atau peralihan bahasa karena berubahnya situasi. Apa yang dikatakan Petruk dengan menggunakan bahasa Inggris menurut peneliti disebabkan karena luapan kegembiraan. Karena menurut dia apa yang dilakukan pemimpin juga harus dilakukan abdinya.

Kemudian Semar menjawab dengan alih kode juga, yaitu peralihan dari bahasa indonesia pada percakapan sebelumnya menuju pada bahasa jawa Krama, yaitu pada kalimat “ngaten, sampean leres Petruk” alih kode tersebut disebabkan karena kesetujuan dan gembiraanya Semar dengan apa yang dikatakan Petruk.

Hal itu berlanjut pada percakapan berikutnya, hingga terjadi gap komunikasi pada ujaran Petruk, “Nah, kalau begitu kita juga harus ikut kawin dong.Bagi Petruk ungkapan“so we must to follow the liader” dipahami seorang abdi harus mengikuti apa pun yang dilakukan junjungannya. Hal ini berbeda dengan pemahaman Semar, yang dimaksud dengan mengikuti pemimpin bukanlah seluruhnya, namun ada hal-hal yang bersifat privasi yang tidak boleh diikuti seperti kawin.

Pemahaman Semar bisa kita simak pada kalimat berikut:Dengarkan dulu! Kawin.. kawin! Tak kawinkan sama kuda kamu! Kita ini punakawan abdi kekasih ksatriawan.” Menurut Semar mengikuti pemimpin tidak untuk bersenang-senang saja, melainkan karena mereka sebagai punokawan abdi kekasih ksatriawan.

Jika diteliti dengan teori kesantunan  berbahasa, jawaban-jawaban yang diucapkan Semar pada Bagong mengandung nilai kesopanan. Hal itu terjadi karena Semar berusaha menyenangkan Petruk yang sepakat dengan pendapat Semar. Dalam bahasa jawa, terdapat beberapa tingkatan bahasa, meliputi Bahasa Ngoko, Krama andap, dan krama inggil. Adapun penggunaan bahasa krama andap, seperti yang digunakan pada ujaran Semar pada Petruk, yaitu untuk menghormati pendengar yang tingkat statusnya berada di bawah penutur.

Kemudian pada percakapan berikutnya:
Semar: Sekarang katakan, siapa yang sanggup membuat semangat di saat para ksatria dihajar putus asa.
Petruk, Gareng, Bagong: Punokawan!
Semar: Kalau begitu, sekarang juga kita berangkat ke istana menghadiri pernikahan Raden Arjuna dan Dewi Woro Srikandi.
Gareng: Waduh, tunggu sebentar mo, saya ijin mau mandi.
Semar: E.. ee..
Petruk: Its me, my dady. I want to pipis.
Semar: Petruk, Gareng, kalau urusan mandi, pipis, kita bisa mampir ke sungai. Di jalan juga banyak rumput, banyak embunnya. Kita bisa memanfaatkan itu. Sekarang juga pokoknya kita berangkat.
Petruk: Yes.
Gareng: Ya mo.
Bagong: Pak…!
Semar: Apa Gong?
Bagong: Saya masih ngantuk pak.
Semar: Apa Gong?
Bagong: Saya masih ngantuk
Semar: Pokonya aku nggak mau tau. Sekarang juga kita harus berangkat.
Semar, Bagong, Petruk, Gareng: Punokawan.. yo ayo Punaokawan. Punokawan.. yo ayo Punaokawan.

Ujaran Petruk diatas mengandung unsur campur kode, yaitu pada ujaran, “Its me, my dady. I want to pipis” Pipis adalah bahasa Indonesia, sedangkan kalimat tersebut menggunakan bahasa Inggris. Alih kode tersebut peralihan dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris.

Ketika semua sudah siap berangkat, dan Bagong berkata:
Bagong: Pak…!
Semar: Apa Gong?
Bagong: Saya masih ngantuk pak.
Semar: Apa Gong?
Bagong: Saya masih ngantuk
Semar: Pokonya aku nggak mau tau. Sekarang juga kita harus berangkat

Dalam ujaran Semar dalam menanggapi kengantukan Bagong mengandung kesan memaksa dengan pendengar yaitu tercermin pada kaliamat “Pokonya aku nggak mau tau. Sekarang juga kita harus berangkat”. Kalimat memaksa tersebut ada kemungkinan dikarenakan Semar sebagai orang yang paling disegani, sehingga ia lebih leluasa untuk memaksa pada punokawan lainnya.


KESIMPULAN

Dari analisis Alih kode dan campur kode (Codeswiching and codemixing), Gap Komunikasi (Gap communication), dan kesantunan berbahasa (Pollitenes) pada babak pertama pada Pementasan Teater Semar Gugat oleh Teater Komedi Kontemporer UIN Malang di Teater Arena Taman Budaya, Solo Jawa Tengah pada 3 Maret 2008 dapat diambil kesimpulan sementara sebagai berikut:

Alih kode dan campur kode yang terdapat di percakapan tersebut disebabkan karena emosi penutur. Kegembiraan dan kekecewaan menjadi faktor utama alih kode dan campur kode.

Gap komunikasi yang terdapat pada percakapan tersaebut disebabkan karena perbedaan pengalaman antara si penutur dan si pendengar. Semar sebagai orang tertua dapat memaknai beberapa unjaran dengan bijaksana. Seperti Hadiah dan makna mengabdi pada sang junjungan.

Kesantunan berbahasa yang terdapat dalam percakapan tersebut disebabkan karena cuek dengan pendengar, menyenangkan pendengar, dan untuk menjaga jarak/formalitas.

Daftar pustaka

 Chaer, Abdul. Leonie Agustina, Sosiolinguistik perkenalan awal, edisi revisi, cet. 2 (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004)
http://re-searchengines.com/1006masnur2.html diakses pada 10 Januari 2011.
Rahardi, Kuncara. Sosiolingustik, Kode dan Alih Kode, (Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR, 2001)
Semi, Atar. Metode penelitian Sastra, cet. 10 (Bandung: ANGKASA, 1990)
Video Dokumentasi Pementasan Teater Komedi Kontemporer UIN Malang, dengan judul "Semar Gugat". Naskah oleh Nano Riantiarno, sutradara Afif Makmun, dipentaskan di Teater Arena Taman Budaya Solo Jawa Tengah, pada hari Senin, 3 Maret 2008.



[1] Atar Semi, Metode penelitian Sastra, cet. 10 (Bandung: ANGKASA, 1990), hal. 8

Senin, 23 Januari 2012

KUNCI


Langkahku tak mau berhenti. Sekarang waktunya senja dan aku terus menuju ke barat. Mengharuskan sampai ke ruko pak Kirman sebelum mentari benar-benar menyisipkan tubuhnya ke balik gunung. Dengan seperti itu aku tidak mengingkari janji untuk menemuinya sore hari, bukan malam hari. Malam hari bagi kami adalah malam yang gelap, suram. Tidak baik untuk meminta maaf, apalagi tentang keterlambatan membayar hutang.
            Kuning senja melumat muka tubuhku, kulihat dua lenganku yang legam menyesap kilaunya. Dari arah berlawanan kulihat secercah bayangan di atas tanah, lalu meluncur sepeda motor dengan kecang dan... “tidaaaaaaak! Wusssy...” Secara reflek mulutku berteriak. Nafasku tersengal. Oh, terlindas, oh, tidak. Tubuhku lemas seketika, tapi aku tetap berlari menujunya.
Tokek. Di sampingnya selincir ekor dengan enam baris bintil belang-belang bergerak-gerak terlepas dari tubuhnya. Sungguh lega hati merasakannya. Warnanya abu-abu kebiruan dengan bintil-bintil besar seluruh tubuhnya. Aku segera membungkuk guna memungut si pemilik ekor. Tapi sungguh sial, tokek yang hampir modar itu malah berlari menjauhiku. Kakiku tak rela lebih jauh darinya, kakiku mengikuti dan berusaha mendahului tanpa menginjakknya. Tokek semakin gesit, ia menghindar di setiap tikamanku. Aku pun semakin semangat dengan kelincahannya. Itu artinya sepeda motor yang melesat tadi sama sekali tidak melukainya, atau tidak membuatnya keder sedikit pun. Ia sungguh lincah.
Aku hadang dari utara lalu aku tikam, ah sial, ia kabur ke arah barat. Aku segera berlari mendahuluinya dan menghadangnya dari arah berlawanan, tapi saat aku tikam si tokek selalu kabur dengan kecepatan jari-jarinya. Tubuh gendutnya yang lenggak-lenggok seperti mengejekku saja. Ia sungguh tokek yang indah. Kali ini aku dan dia sama-sama payah. Kembang kembis perutku dan perutnya ingin saling mendahului. Kami berhadapan dan saling marasai kesialan yang sedang menimpa. Kesialanku tidak juga menangkapnya, kesialannya tidak bisa membebaskan dirinya. Mata kami saling memandang, menghayati keheningan, mencari celah untuk lebih cepat melangkah.
Kutikam ia kesekian kalinya, namun tetap kecepatan kakinya membuat ia lolos dari genggamanku. Tokek itu malah berlari kencang sekali menuju teras rumah. Aku terus memburunya. Ia menyelinap di bawah pot bunga. Aku pun mengintai, kemana kepala tokek mengarah. Dalam hitungan ke tiga, aku angkat pot yang tidak terlalu besar itu dengan tangan kiri dan tangan kanan siap mencengkeram tokek. Ketika satu sisi pot terangkat, tampak benda berkilauan di bawahnya. Aku sedikit tercengang. Tokek lari tunggang langgang memanjat tembok rumah pak Dibya. Hilang sudah harapan akan tokek. Hilang sudah bayangan meminangnya di atas timbangan pasar hewan. Hilang sudah angan-angan membeli beberapa kebutuhan dengan menjual tokek itu.
Kunci. Benda berkilau yang melenakan itu adalah kunci. Kulihat sekitar tak ada orang. Kunci itu aku pungut tampak tulisan SES dan aku lihat handle pintu rumah pak Dibya juga bermerk SES. Apakah ini kunci rumah pak Dibya! Aku semakin yakin kalau itu kunci rumahnya. Niat buruk menyusupi jiwaku. Bukankah pak Dibya dalam minggu-minggu ini pergi ke luar kota mengurusi bisnisya! Bukankah dengan kunci ini setidaknya aku bisa mengambil beberapa barang di rumahnya! Ah, segera kutampik pikiran-pikiran itu, meski kunci akhirnya kubawa juga. Sampai di ruko pak Kirman mentari tak menyisakan sinarnya sedikitpun.
***
Kunci itu kusimpan dalam laci. Namun bayangannya menyibukkanku. Aku gelimpangan di kamar tidur. Istriku mendekur saja, memang aku sengaja tidak menceritakan tentang kunci itu. Bisa jadi ia marah-marah karena kunci itu mengancam jiwaku. Jika jiwaku terancam mau tak mau jiwanya ikut terancam juga. Tapi kalau aku ceritakan bagaimana jika aku masuk rumah pak Dibya dengan kunci itu lalu mengambil beberapa barang untuk diuangkan, ia pasti berbalik pikiran lalu merengek-rengek supaya aku segera melakukan hal bodoh itu. Yah, memang sifat perempuan.
Lantas aku bertanya-tanya, kenapa pak Dibya meninggalkan kuncinya di bawah pot! Apa untuk mengelabuhi pencuri! Atau jangan-jangan ia berjaga jika dalam perjalanannya ke luar kota ditodong rampok, kunci rumah itu tidak akan jatuh di tangan mereka. Kalau itu alasannya berarti di rumah itu ada sesuatu yang sangat berharga. Uang! Emas! Ah, sungguh kacau pikiranku malam ini.
Atau aku kembalikan saja kunci itu ke tempat semula. Dari pada persoalan semakin rumit. Bisa jadi suatu saat nanti aku ceroboh dengan kunci itu, lalu ada orang yang tau kalau aku membawa kunci rumah pak Dibya bisa mati kesekian kali aku. Urusannya bisa panjang. Apa mengembalikan ke bawah pot juga perkara yang gampang! Bisa jadi saat aku mengembalikannya ada orang melihat aku mengendap-endap membawa kunci itu, lalu dia berteriak maling dan aku digebukin seluruh warga. Atau bisa jadi jika orang yang melihat gerak-gerikku di teras pak Dibya ia mengintip saja lalu saat aku pergi, dengan diam-diam ia membuka pot itu lalu mengambil kunci dan menguras habis isi rumah pak Dibya. Yang berhak menguras itu kan aku. Ah, tokek gendut itu membuat aku galau saja. Atau aku sendiri yang salah! Kenapa tadi sore aku tidak terus mengejar tokek saja tanpa menghiraukan benda berkilau di bawah pot itu. Seandainya aku tadi menangkapnya tentu sekarang sudah mendapatkan rupiah meski tak seberapa. Ah.
Kalau urusan menguntit dompet dari saku sesorang aku jagonya. Tapi, membobol rumah, lebih-lebih membuka rumah tanpa penghuni yang di dalamnya penuh barang berharga dengan kunci di tangan sudah mengedonkan mentalku. Aku jadi ingat saat diajak Rukani mencuri sepeda motor, aku menolak dengan tegas. Dibayar berapa pun aku tidak akan mau, meskipun aku hanya menjadi lintas kedua yang bertugas membawa kabur motor setelah kunci stirnya dirusak. Bahkan  untuk memprotoli saja aku tidak mau. Mencopet di keramaian lebih ringan bagiku. Dompet yang tipis bisa saja langsung aku selipkan ke celana dalam. Atau kalau kepepet aku lempar saja ke mana saja. Sedang mencuri barang yang berukuran besar, bagaimana bisa bersilat tangan. Itu jelas bukan keahlianku.
Gambar kunci muncul lagi, mengambalikan pikiranku pada isi rumah pak Dibya. Apa aku kembalikan saja secara baik-baik menunggu pak Dibya pulang. Tapi kapan! Bisa jadi saat pak Dipya samapi rumah mendapati kuncinya di bawah pot telah raib, ia langsung lapor polisi. Lalu polisi tentu membuat kecuriga-kecurigaan pada warga sekitar termasuk aku. Atau lebih parah lagi polisi mengintrogasi semua warga untuk mengetahui siapa yang mencuri kuncinya. Ah, payah. Ide ini akan membuatku menunggu berhari-hari di depan rumah pak Dibya. Menunggu kedatangannya. Kalau memang seperti itu, trus bagaimana aku harus mengatakan kepadanya! Aku harus mengatakan kunci ini kudapat dari mana! Jatuh! Mana mungkin! Pak Dibya sengaja meletakknnya di bawah pot. Duh. Lamat-lamat aku tertidur juga.
***
Gelap.. benar-benar masih gelap. Dingin pagi menyusupi kulit. Tak ada suara tokek atau apa.. sepi sekali. Seharusnya nyaliku lebih lebar, tapi dingin menyempitkannya. Kerikil di tepi aspal belum terlihat sepenuhnya. Sesekali mulutku nyengir jika kakiku menginjak kerikil itu. Aku sengaja tak memakai alas kaki, teman-teman bilang gesekan telapak kaki dengan tanah lebih halus ketimbang sandal atau sepatu.
Rumah pak Dibya sudah tampak. Lampu teras dibiarkan berpijar sepanjang ditinggal penghuninya. Pot yang menyimpan kunci ini masih tergeletak seperti terakhir aku meninggalkannya. Aku paksakan perasaanku untuk tenang, namun tubuh tetap menggigil bercampur rasa was-was. Niatku sudah bulat, aku tidak akan macam-macam di dalam rumah pak Dibya. Tempat yang aku tuju pertama adalah kamar, lalu laci, dan lemari. Siapa tau ada simpanan di bawah baju atau di dalam lemari, barang sejuta atau dua juta. Aku hanya akan mengambil itu dan langsung pergi. Aku tentu bisa menikmati nasi Soto Ayam pagi ini dan jugs kegirangan istriku ketika aku pulang dengan beberapa uang nanti sore.
Kulangkahkan kaki pada anak tangga pertama sebelum memasuki teras. Kutengok jalan tak ada yang lewat kecuali mobil-mobil yang datang dari jauh menuju ke pasar. Mana mungkin mereka mengetahui kalau ini rumah pak Dibya dan aku adalah tetangganya yang masuk tanpa izin! Mereka tentu menganggap aku adalah pemilik rumah ini. Tapi, tapi pot yang tergeletak itu seperti menatapku. Ah, itu hanya benda mati.
Aku ambil kunci di dalam saku. Menggerenjal dingin sekali seperti es batu. Aku lihat sejenak berkilau memantulkan lampu teras berwarna kuning. Ia seperti tersenyum padaku, seperti ia bahagia akan kupertemukan dengan kekasihnya slot pintu itu. Seakan dia kangen dengan slot pintu karena berhari-hari terpuruk di bawah pot bunga. Langsung saja aku masukkan lubang kunci pelan-pelan. Pot pun tidak boleh mendengarnya. Hanya aku dan kunci.
Belum sempat kunci aku putar menggeser gigi-gigi dalam slot, sebuah petir melemparkan kesadaranku sejenak. Petir itu berwarna kuning, dari buah lampu mobil yang masuk ke halaman rumah pak Dibya. Pak Dibya... pak Dibya... mulutku menyebut nama itu, tapi tanpa suara. Benar-benar tanpa suara. Mungkin jika direkam aku sepertu tuna wicara yang berusaha memahamkan orang. Pak Dibya datang pagi itu. Debar jantungku tak dapat lagi kurasa, aku hanya merasakan tusukan petir itu.
“Lho, pak Ridwan. Ada perlu apa, pak?” ucap pak Dibya setelah keluar dari mobilnya. Istrinya masih mengemasi barang-barang di dalam mobil.
Aku bicara, tapi tak ada suara yang keluar. Hanya mulutku bergoyang-goyang dengan raut wajah kecemasan.
“Bapak kok diam saja, maksudnya apa?”
Aku berteriak. Tak ada suara yang keluar dari mulutku. Aku lalu menggeleng-geleng sebagai isyarat tidak ada apa-apa, semua baik-baik saja. Aku hanya lewat dan kebetulan mampir saja.
“Bapak sakit ya?” Ucap pak Dibya sambil mendekatiku. Istrinya keluar dari mobil mendekatinya dengan tangan penuh tas belanja.
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Suaraku seperti ditelan udara. pak Dibya lebih mendekat. Aku berkata tidak. Tanpa suara. Kuangkat tanganku, aku isyaratkan tidak ada apa-apa. Semua baik-baik saja.
Pak Dibya melihat kunci yang masih di genggamanku. Dia memungutnya. Ingin aku merebutnya, tapi tanganku lemah, sungguh lemah. Lalu kunci itu pun beralih digenggaman pak Dibya. Hatiku seperti pecah berkeping-keping.
“Lho. Ma, kunci rumah kita ma. Yang kita cari-cari ternyata ditemukan pak Ridwan, ma.” Pak Dibya mengungkapkan kunci itu kepada istrinya. Istrinya tampak tertawa terbahak-bahak. Tas-tas belanja yang nggrembol di tangannya berguncangan.
“Pak Ridwan menemukannya dimana? Kunci ini sudah beberapa hari kami cari-cari.” Pak Dibya menanyaiku.
Aku ingin mengungkapkan sesuatu, tapi suara tetap tak ada.
Lalu pak Dibya berbincang sebentar dengan istrinya, waktu semakin terasa pelan. Seperti slow motion. Lalu ia mengambil tas-tas yang ada di tangan istrinya, dan memberikannya kepadaku seluruhnya. Ia tertawa-tawa dan seperti mengungkapkan senuah kebahagianaan kepadaku. Namun tak ada suara juga. Mulutnya hanya tampak komat-kamit. Mungkin saja ucapan terimakasih karena kuncinya telah aku kembalikan. Dengan pelan sekali aku menerima tas-tas itu. Tiba-tiba ada suara tokek di atap teras pak Dibya.
“Mas.. mas.. sudah pukul sepuluh!” Seperti ada tangan kasar menggoyang-goyang pundakku.
Benda berkilauan diapit jari jempol dan telunjuk yang tampak pertama saat kubuka mata, lalu disusul suara yang setiap sore bertanya berapa duit yang kudapat. Tapi pertanyaan kali ini berbeda, “Mas, ini kunci apa?”

Minggu, 08 Januari 2012

Kado Tahun Baru 2012

Liburan tahun baru 2012 lalu saya pulang kampung. Sepanjang perjalanan pikiranku selalu bergelayut nggak sabar pingin melihat keponakanku yang masih berumur 3 tahun. Namanya Ummu Hasna Aura dipanggilnya Aura. Anaknya cerdas, umur 3 tahun sudah mempunyai perbendaharaan kata yang banyak. Dalam berkomunikasi ia juga bisa berdialog secara logis tentang hal-hal kecil, ada pun saat mendengar kata baru ia selalu bertanya. Ya, itu seklumit kalimat tentang Aura.

"Iwak peyek.. iwak peyek sego tiwul, Aura elek koyok telek, sampek matek Aura mentul" Badanku tersentak saat mendengar lirik lagu Sagita itu meluncur begitu lancarnya dari mulut kecil Aura. Oh my god, seorang anak imut yang bersih sudah bisa mengatakan perkataan yang saya pun nggak bisa berimajinasi secara sempurna dengan liriknya. Meski keluar dari mulut kecil dengan karakter suara jenaka, lirik sagita assololey tetap terasa pedas di dua telinga saya.

Usut punya usut, dia memperoleh perbendaharaan kalimat itu dari suara musik sagita yang sering diputar tetangga. Saat itu juga pikiranku berputar mencari jalan keluar untuk mengimbangi secercah noda di dunia kata-kata Aura.

Aku jadi teringat kaset VCD yang saya beli secara kebetulan saat jalan-jalan di Pasar Minggu di stadion Gajayana Malang. Kaset itu berisi sekumpulan tembang dolanan diiringi dengan tari kreasi anak-anak yang dibawakan oleh Sanggar Greget Semarang. Aura langsung aku gendong, aku hadapkan ke laptop dan kuputarkan video itu. “Mentok.. mentok.. tak kandani mung lakumu angisin-ngisini lha mbok ojo ngetok ono kandang wae enak-enak ngorok ora nyambut gawe.. mentok-mentok mung lakumu megal-megol gawe guyuuu”. Awalnya Aura nggak begitu respon dengan lagu itu, tapi ia tetap melihat lantaran gambar mentok di topi kostum penari. Itu dua bulan lalu, dan menjelang tahun baru aku pulang dengan segenap harap untuk mendengar Aura menyanyikan lagu mentok.

Sesampai di rumah aku tak sabar lagi untuk memperlihatkan tari-tarian baru yang sudah aku persiapkan di leptop yang aku copy dari salah satu teman jurusan Seni Tari Universitas Negeri Malang. Nah, itu dia si Aura kecil berjalan melanggak-lenggok manja. Langsung saja aku sambar, lalu aku dudukkan di depan leptop dan aku putarkan video Lomba Seri Tari kreasi anak-anak sanggar tari Kembang Sore Tulungagung. Oh, benar sekali apa kata ibu, Aura menyimaknya dengan seksama dan tentu dengan tangannya yang kecil hendak mengikuti gerak pada tarian itu.

Selama tiga hari di rumah tak jarang aku dengar sriwing-sriwing lagu tembang dolanan yang dinyanyikan Aura secara sadar. Dan yang lebih membuatku gemas dengan dia, secara kebetulan diam-diam saya amati Aura sedang menyanyi dengan gerakan tangan dan badan di depan cermin. Hehehe... Ia juga memutar-mutar tubuhnya yg kecil diiringi tembang dolanan yang keluar dari mulutnya yang kecil juga. “Aku duwe pitik, wulune blirik. Cucuk kuning jengger abang tarung mesti menang. Sopo wani karo aku musuh pitikku”. Hahaha

Budaya yang seharusnya diperuntukkan orang dewasa, saat ini bisa dikonsumsi anak-anak secara bebas. Seperti lagu-lagu dengan lirik jorok, tentang cinta-cintaan dan video dangdut yang menampilkan bagian besar anggota tubuh menjadi tontonan dan dengaran anak-anak sehari-hari. Di kota maupun di desa lagu dangdut koplo dengan lirik keras menjadi hiburan masyarakat di sela-sela aktifitas mereka. Kita sadar akan hal itu namun kita tidak sadar bagaimana pengaruhnya pada anak-anak di sekitar yang mau tidak mau ikut mendengarkannya.

Dalam perkembangan psikologis anak, anak usia 3 tahun berada di usia simbolis. Dimana mereka mulai mengenal sesuatu sebagai simbol yang bisa direpresentasikan. Anak sudah bisa mengenali suatu bunyi atau bau yang khas dengan arti yang khas. Simbol pada usia ini melebihi dari yang sesungguhnya, misalnya ketika anak memegang sebatang kayu, yang tercermin adalah sebuah pedang. Dari segi kata-kata sedemikian rupa. Saat mendengar kata-kata yang terucap akan tercipta arti dari kata-kata tersebut lalu akan menimbulkan kesan-kesan dan kejadian-kejadian dalam diri anak, menemukan hubungan-hubungan relasi sebab akibat. Dengan bertambah banyaknya cara berpikir, anak akan mengambil kesimpulan secara umum. Seperti halnya anak-anak terbiasa mendengarkan lagu-lagu jorok atau menonton tontonan orang dewasa hal itu akan menjadikannya biasa dengan hal itu, dan kebiasaan bagi mereka adalah pembenaran.

Menghentikan lagu-lagu berlirik keras di sekitar kita sepertinya tidak mungkin kita lakukan. Namun demikian kita bisa meminimalisir pengaruh itu dengan mengembalikan anak-anak pada dunianya. Upaya-upaya yang bisa kita lakukan diantaranya menyuapi jiwa mereka dengan kearifan dongeng-dongeng, memperdengarkan telinga mereka dengan lagu anak-anak atau tembang dolanan, membelikan mainan edukatif (permainan yang bersifat mendidik), dan lain sebagainya.

Dan kegemaran Aura akan lagu-lagu dolanan serta tari-tarian tradisional di pergantian tahun ini, menjadi Kado Tahun Baru paling istimewa bagi saya.

Ini dia Si Aura.

Rabu, 04 Januari 2012

Tahun Baru

menjelang tahun baru
kueja lagi, berapa cita sudah terbuahi
kutatap balik zaman
pohon-pohon sudah tumbuh
masa depan berdiri angkuh
di antara dua zaman, kuraba kenyataan
kita masih saja bertahan