Minggu, 30 September 2012

Kehendak untuk Bebas


Kamu tahu, betapa lama aku kucel sendiri. Kecil hati adalah penyakit yang kejam menikam-nikam. Terlebih menjangkiti orang seperti aku ini, orang yang punya keinginan-keinginan besar dan yang selalu berambisi untuk menjadi yang terbaik. Tapi apalah daya, banyak keinginan dan harapan begitu saja hangus lantaran hati yang kecil, tak mampu menghadapi rintangan yang kecil sekali pun. Ibarat jembut jagung aku adalah jembut yang kering lantaran jagung terlalu tua. Helai-perhelai berontokan di tanah terkulai.

Aku sebagai orang yang tidak menerima apa adanya selalu berusaha untuk mengobati penyakit kronis itu. Buku-buku biografi tokoh-tokoh besar, buku tentang peperangan, pembunuhan, bahkan cerita-cerita paling sadis, sudah aku baca hingga tak tersisa selembar pun. Namun semua itu tak menyisakan sedikit pun kecuali hafalan tentang teori-teori dan tambahan pengetahuan belaka. Buat apa berpengetahuan kalau hati tetap kucel begini!

Kekecilan hati, kata orang, disebabkan karena minimnya pengetahuan dan pendidikan. Aku banyak tahu, bahkan lebih banyak dari pada orang-orang yang berhati besar yang ada di sekitarku. Menurutku pengetahuan saja tidak cukup, bahkan di beberapa kesempatan pengetahuan menjadi pemicu ketakutan dan kecil hati. Seorang yang tau tentang penyakitnya, misalnya, akan lebih takut untuk memakan makanan tertentu yang dianggapnya sebagai pemicu kekambuhan. Apakah masih kita percayai bahwa ketidaktahuan menyebabkan ketakutan. Mungkin ada benarnya dalam beberapa kasus, tapi tidak selalu seperti itu.

Aku bahkan sempat berpikiran, jangan-jangan ketahuanku akan penyakit kecil hati itu yang membuatku semakin terpuruk di pojok keterasingan. Sebagai orang yang dikarunia akal, aku menggunakannya dengan sebaik-baiknya, untuk mencari obat atas penyakit itu. Minimal, ketika pengetahuan akan penyakit itu membuatku semakin kecil, pengetahuan jugalah yang akan mengobatinya.

Konsultasi dengan pakar-pakar psikologis juga sudah saya lakukan. Saran merka selalu sama, yaitu supaya aku tidak membenci diri sendiri dan berpikiran positif atas semua hal, semua yang terjadi.

“Saya sudah menyayangi diri saya, dok”. Ucapku saat berkonsultasi. “Saya membelikan pakaian sesuai dengan apa yang saya sukai. Saya memandikannya dua kali sehari. Saya melindunginya dengan jaket saat dingin, dan dengan deodoran saat kepanasan.”

“Ya, itu baik. Tapi tidak hanya secara fisik, melainkan secara kualitas dan kemampuan yang ada di dalam diri Anda.” Dokter itu berucap dengan nada rendah.

“Saya pun mencintai kemampuan-kemampuan yang ada di dalam diri saya, dok. Saya juga mencitai kualitas saya. Bahkan saking cintanya saya selalu berusaha untuk keluar dari penyakit pelik ini. Saya selalu berusaha untuk menjadi yang lebih baik, dok.”

“Karena kamu selalu menginginkan yang lebih baik, dan belum tercapi, maka kamu membenci dirimu sendiri.” Dokter mengatakan itu.

Saya menjadi bingung. Bukankah orang yang benci dengan dirinya adalah orang-orang yang berputus asa. Aku tidak pernah berputus asa. Bahkan sesalu mencari jalan terbaik untuk menyelesaikan segala persoalan yang menimpaku.

“Berpositif thinking juga membantu memperbesar hati”. Kata dokter itu.

“Berprasangka baik maksudnya?”

“Ya.” Kata dokter meyakinkan.

“Tapi, dok. Saya hidup di lingkungan yang hancur dari semua segi, dok. Para pedagang di lingkungan saya suka mengibuli pembelinya. Para pemerintah suka mengutil uang rakyatnya. Para pendidik menjadikan sekolah sebagai ajang perampasan. Militer yang seharusnya memberikan rasa aman, sekarang banyak menghasut dan menciptakan permusuhan antar warga, bahkan para pemuka dan tokoh agama tidak segan untuk berbuat serong dari Tuhannya.” Dalam hati aku mengucapkan para dokter suka menarik tarif tinggi pada pasiennya. Dalam hati. “Apa saya juga harus berbaik sangka dengan mereka?”

“Ya, itu baik untuk memperbesar hati kamu.”

“Tapi dok, dimana letak benang merah antara berprasangka baik dengan besar hati?”

“Kalau Anda berprasangka baik itu artinya Anda berpikiran positif. Memandang setiap sesuatu dengan kebahagiaan dan keceriaan. Setelah hati Anda terbiasa bahagia, hati Anda akan membesar.”

Aku seperti menjadi gila saat mendengar kalimat itu. Bagaimana mungkin kita berbaik sangka dengan para bajing dan para rampok. Bagaimana bisa kita berbahagia dan berceria dengan kondisi lingkungan seperti itu. Ditaruh mana logikanya, ditaruh mana otaknya. Mulai saat itu aku tidak datang lagi ke psikiater. Menurutku dia tidak bisa memahami persoalanku. Kalaupun bisa memahami, dia tidak tahu bagaimana pemecahannya.
Aku lalu mencari obat kecil hatiku dengan caraku sendiri. Membaca, mencermati orang-orang yang berhati besar, bertukar pikiran, diskusi dan banyak lainnya. Hati besar akan tercapai saat kamu terbebas dari belenggu, ada seorang yang bilang begitu. Ketika jiwamu bebas kamu akan menjadi pemberani dan dengan keberanian hatimu akan besar. Kebebasan, apa itu kebebasan, apa kaitannya dengan berhati besar.

Aku amati perilaku para pemilik rumah-rumah mewah di perumahan elit. Saat jogging pagi-pagi diam-diam aku perhatikan tingkah laku mereka. Barangkali kebebasan himpitan ekonomi akan bisa menjadikan hati besar. Namun jarang sekali aku melihat aktifitas mereka. Yang ada hanyalah para pembantu yang menyirami tanaman, memotong rumput, dan belanja di penjual sayur keliling. Sesekali pemilik rumah tampak menghidupkan mobil, lalu pergi dengannya. Seperti itu setiap dua minggu sekali saat aku jogging aku mengamatinya. Artinya aku tidak bisa mengambil pelajaran dari pengamatan itu.

Maka aku harus mengamati orang-orang yang masih dalam perjuangan, dan mereka adalah para pedagang kaki lima di pasar. Apakah orang yang terhimpit ekonomi benar-benar tidak berjiwa besar. Aku pun pergi ke pasar, berjalan kaki mengamati perilaku mereka. Mereka hanya duduk-duduk menunggu pembeli, ada yang berjuang dengan kata-kata untuk menarik pembeli. Aku pun jadi bertanya-tanya, apakah hati mereka kucel dan kecil. Apa tantangan terbesar yang mereka hadapi. Ingatanku kembali pada para pemilik rumah mewah. Apakah hati mereka besar. Apa tantangan-tantangan yang sudah mereka hadapi. Aku teringat juga saat perjalanan ke pasar yang melewati sebuah jembatan yang di bawahnya ada tenda-tenda dengan penghuni manusia. Apakah mereka juga berhati besar. Tantangan apa yang sedang mereka hadapi. Aku hampir menemukan titik persamaan. Berhati besar. Siapa sebenarnya orang yang berhati besar itu. Seberapa besar tantangan yang mereka hadapi sehingga bisa dikatakan berhati besar.

Pikiranku terus bergelayut. Sampai aku hampir terperosok lubang selokan yang menganga di sepanjang tepi jalan pasar. Aku kembali pada ingatan-ingatan dari buku biografi para tokoh-tokoh yang berhati besar. Apa yang mereka hadapi sehingga orang-orang menyebutnya berhati besar. Apa karena mereka berani melawan yang lebih besar. Atau mereka berani melakukan hal-hal yang diluar kemampuan orang pada umumnya. Apakah kebebasan benar-benar menjadikan orang berhati besar.

Hingga aku melihat orang gila di tengah-tengah pasar. Dia seorang laki-laki yang bertubuh kekar. Dengan bertelanjang dada menari-nari dan menyanyi-nyanyi lantang tanpa menghiraukan sekitar. Sesekali kaki kanannya diangkat dan kaki kirinya meloncat kecil. Diikuti kedua tanggnya meliuk-liuk di menyamping kanan dan kiri sehingga menjadikan badannya kadang mendoyong ke kanan dan kiri mengimbangi liukan tangannya.

Tentu itu sebuah kebebasan sebebas bebasnya, pikirku. Aku lihat wajahnya tak ada tekanan sedikit pun. Kebebasannya dalam melakukan apa saja yang menjadi keinginannya. Apakah kebebasan yang seperti itu bisa memicu kebesaran hati, ketakutan yang membelengguku selama ini. Apakah kebebasan akan tercapai dengan melepas segala kemaluan. Karena rasa malu sungguh membuat kita tidak leluasa berbuat sesuatu, sesuatu yang kecil dan remeh pun. Ya, pikirku.

Aku pun segera mencari pusat keramaian di pasar itu, hingga aku menemukan titik temu antara dua jalan pintu keluar pasar. Di situ ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang atau pun berbelanja. Dengan keyakinan dan kebebasan yang baru aku dapatkan, aku melepas satu persatu kancing di bajuku. Setelah telanjang dada, aku masih belum terima, maka aku lepas celana hingga hanya celana dalam yang melekat di tubuhku. Aku mulai mengangkat tangan dan kaki untuk menari. Lalu berteriak dan meracau apa pun yang ingin kukatakan. Tak terima hanya dengan itu, aku meloncat bergerak abstrak meliuk, membungkuk melemparkan tubuhku ke tiang listrik, ke gundukan sampah di depan kios. Aku pun merasakan kebebasan yang sepenuhnya. Kurasakan hatiku menjadi besar dan kian membesar.

Aku pun semakin hilang kendali. Aku melonjak-lonjak, berteriak mengomel dengan keras. Tanganku bergerak tak beraturan sekuat aku menjangkaunya. Aku memegang udara, melemparkannya dan menendangnya. Aku semakin merasakan kebebasan tak terhingga.

Orang-orang yang berlalu lalang semakin banyak yang berhenti dan melihat kebebasanku. Semakin lama semakin banyak, membentuk setengah lingkaran mengitariku. Aku tak peduli, aku menikmati kebebasanku. Hingga akhirnya aku kelelahan, kebebasanku seperti menguap. Tubuhku terasa berat. Kakiku tak mampu menyangga beban, aku pun roboh tersimpuh. Lalu aku bangkit, mencoba merasakan kebebasan yang tersisa. Tanganku kulentangkan, kuambil nafas dalam-dalam lalu kuhembuskan. Kupandangi orang-orang yang melihatku. Mereka bertepuk tangan dan tersenyum. Lalu satu persatu melemparkan uang di kardus bekas di sampingku yang kebetulan tergeletak terbuka. Lalu mereka membubarkan diri meninggalkanku sendiri. Dan aku masih merasakan kebebasan itu, meski hatiku belum tentu masih besar.

Sabtu, 11 Agustus 2012

Hanya Ingin Bercerita


Aku hanya bisa memandangimu dari kaca cendela rumahku. Di saat bintik-bintik hujan menguyur halaman rumahmu, kau tetap duduk di tepi sungai kecil, yang menjadi batas antara jalan dan halaman. Matamu terus mengikuti lalu-lalang kendaraan. Sesekali kau sapa orang-orang yang kebetulan lewat. Dengan tatapan kosong.

Tidak ada tanda-tanda itu sewaktu kecil. Kau salah satu anak yang ceria, dan boleh dibilang sering unggul dalam permainan.  Apa kamu masih ingat, saat kita berjalan bersama lainnya di lorong-lorong sampah; berburu bungkus rokok untuk kita lipatjadikan jirak. Lalu dengan jirak itu kita bertaruh tentang kelihaian membidik dengan lempengan pecahan genteng atau tegel.

Saat gunung sampah masih mengeluarkan asap putih, kau berlalu saja di atasnya dengan telanjang kaki. Mengorek permukaan ke dalam dan dengan seperti itu kau bisa mendapatkan lebih banyak bungkus rokok ketimbang aku yang hanya di tepian karena takut tertusuk pecahan kaca atau menginjak bara api yang masih berasap. Dan kau selalu berbagi barang satu atau dua bungkus rokok.

Di saat musim ikan Berta, kau adalah yang pertama kali membuat kolam kecil dari plastik. Ikan-ikan itu hidup di dalamnya dan berkembang biak. Aku dan teman-teman pun mengikuti keasyikan itu, meski hasilnya tidak sebaik kolammu. Begitu pula anak-anak gemar beternak burung merpati, siapa lagi kalau bukan karena kamu.

Apakah ingatan itu tak sedikit pun membesit di pikiranmu. Sewaktu kau bilang cincin yang kau kenakan sudah diisi rajah oleh seorang ulama, lalu dengan amarah kau berusaha memukulnya dan akhirnya kau terbanting ke tanah, seolah-olah cincin itu memiliki kekuatan ghaib. Dan saat itu, saat aku mencobanya dengan amarah yang aku bangun dalam pikiran, ingin memukul cincin itu tapi tak kurasakan tekanan apa pun. Meski seperti itu aku berpura-pura terpental, supaya kau tidak dipermalukan teman-teman kita. Ya, saat aku terguling-guling di tanah itu hanyalah pura-pura belaka.

Kita sudah dewasa sekarang, dan masih aku merindukan masa-masa kecil kita. Setidaknya aku masih ingin berkali-kali menceritakan persahabatan kita saat itu. Terakhir kita bermain adalah lima belas tahun lalu, yaitu menerbangkan layang-layang di sawah belakang rumah. Waktu itu matamu masih memancar, lakumu masih berjiwa seorang anak yang tangkas.

Namun keinginan bercerita kupaksa untuk tenggelam saja dalam kenangan di hati. Kita dekat sekali, bahkan hanya berbatas kaca cendela yang buram lantaran debu dan hujan. Namun hanya bisa kulihat dirimu duduk di teras rumah, kadang-kadang di tepi sungai yang dulu sering kita bermain perahu kertas di permukaan airnya. Setelah lama kita tak bersapa aku ingin sekali mendekatimu, sekedar menyapa atau bertanya kabar, tapi aku masih ragu.

Orang-orang mengatakan, apa yang kamu alami sekarang adalah keturunan. Menurut mereka, ibumu yang entah sejak kapan memiliki kelainan jiwa menurunkan kelainan itu pada dirimu. Namun aku tak akan pernah percaya akan hal itu. Bukankah sewaktu kita masih bersama, sama sekali tak tampak ciri-ciri itu. Kau bahkan lebih cerdas dari yang lainnya. Hingga aku menelusuri, mencari jejakmu selama kita berpisah. Kepada teman-teman aku tanyakan tentang dirimu. Akhirnya aku mendapatkan kabar yang kurang lebih seperti ini;

Saat sekolah di SMA, kau menaruh hati pada seseorang. Kau melakukan pendekatan hingga suatu hari jadian sama seorang itu. Anaknya cantik memang, ia anak pengusaha tempe kripik yang cukup terpandang lantaran keberhasilannya. Homeindustri keluarganya bisa dibilang paling besar diantara lainnya. Namun apa arti semua itu, cinta remaja adalah cinta yang memicingkan mata. Ia hanya melihat apa yang dicintainya. Keluarga, harta, dan apa pun yang di luar dari yang dicintai bukan menjadi hal yang utama, bahkan selalu diacuhkan.

Dengan semangat waktu, hubungan kalian semakin matang. Setelah merampungkan studi di SMA kalian berniat mengencangkan hubungan dengan membangun pelaminan. Pertama-tama kau bersilaturrahmi ke rumahnya, berbicara kepada orang tuanya tentang hal yang tidak ada kaitannya dengan pernikahan. Ya, hanya kau bilang kau teman sekolahnya. Tapi di malam harinya, kekasihmu itu berbicara serius kepada bapaknya; bahwa kau adalah pacarnya.

Mendengar curhatan hati anak gadisnya, si bapak biasa-biasa saja. Ia tidak begitu menanggapi. Ya barangkali menurutnya suatu yang wajar seusia anaknya mulai menjalin kekasih. Lalu kekasihmu mengabarkan padamu bahwa itu adalah kabar baik, “kita direstui” katanya dengan wajah berbinar. Dan dipastikan hatimu saat itu tak terkira bahagianya.

“Rani, sepertinya sudah saatnya kita benar-benar menaiki bahtera keluarga. Penghasilanku dari kerja sablon dan percetakan sudah cukup untuk hidup sederhana.” Kau ucapkan kata itu pada kekasihmu di suatu malam. Kekasihmu tersenyum, lalu mengeratkan genggaman tanganmu atas tangannya. Begitu kau bercerita pada teman-teman.

Sejak setelah itulah kekasihmu tak bisa dihubungi. Telfonnya selalu dinonaktifkan. Begitu juga tak kau temukan dia di tempat-tempat yang sering dikunjunginya. Hingga suatu saat kau mendapatkan sepucuk surat yang dititipkan temannya, surat itu dari Rani. Surat itu kau buka, kalimatnya kacau dan tidak teratur dan yang lebih menggiriskan; Rani mengajak putus. Kau tidak percaya kalau itu benar dari Rani, meski kamu sudah sangat hafal kalau surat itu memang ditulisnya.

Di satu kesempatan kau bisa menemui Rani dan memang benar, ia meminta kau melupakannya. Ia meminta kau menghapusnya dari segala ingatanmu. Saat itu pikiranmu pasti tak menentu, sesingkat itu ia menginginkan berakhirnya hubungan kalian berdua. Dan yang lebih membingungkan saat kau tanyakan kenapa harus putus, ia hanya menjawabnya dengan airmata.

Lalu kau terus berusaha mencari tahu tetang Rani. Dari temenmu yang lainnya kau mendapat kabar bahwa Rani pernah mengatakan padanya tentang persoalan yang dilandanya. Bapaknya tidak setuju jika ia menikah denganmu, lantaran rumahmu yang reyot, pekerjaanmu yang cuma buruh sablon, dan pekerjaan orang tuamu yang buruh serabutan, terlebih lagi kondisi ibumu.

Sejak saat itu kau sering berada di halaman rumah, memandangi rumahmu. Rumah tak begitu besar dengan jendela papan kayu. Dan di bawah tritis terdapat bagupon dengan beberapa ekor merpati. Kau mulai meninggalkan pekerjaanmu menyablon, dan yang kau lakukan hanya memandangi rumahmu dari halaman. Hingga sampai saat ini, sebelum mentari bersinar kau sudah berdiri di halaman dan kembali masuk rumah tatakala matahari benar-benar tertimbun pegunungan di barat sana.

Aku bisa merasakan kesedihan itu, sahabatku. Rani adalah cinta pertama dan terakhirmu. Tapi seharusnya kau tidak menjadi seperti ini. Harus kau ketahui bahwa cinta tidak harus jatuh pada satu orang. Cintamu seharusnya masih bisa untuk mencintai orang lain yang barangkali lebih baik dari Rani kekasihmu. Pandanganmu harus luas, tidak sempit seperti itu. Hidup ini penuh dengan kemungkinan-kemungkinan, sahabatku. Seharusnya kau mengetahuinya sejak dulu.

Ada rasa bersalah pada diriku. Kenapa aku melupakanmu, tidak pernah menyapamu dari kejauhan. Seandainya kita masih menyambung komunikasi, aku yakin kau akan mengatakan persoalan asmaramu padaku. Cinta pertamaku juga gagal, tapi aku sudah tahu, bahwa kegagalan bukan akhir dari semuanya. Seharusnya kita bisa saling berbicara meski aku di perantauan yang jauh darimu. Aku hanya ingin mengatakan bahwa kegagalan bukan akhir segalanya.

Kamu harus tahu, sahabatku. Saat dia memutuskanmu lanataran kondisimu yang kekurangan menurut mereka, bukan berarti kamu tidak mampu mencintai. Namun kau mampu mencintai melebihi kemampuan cinta orang-orang yang berlimpah. Kebanyakan orang-orang yang berlimpah berambisi meraih kesuksesan, berambisi pada kekayaan dan kekuasaan. Tapi mereka sama sekali tak mampu mencintai, karena semua yang mereka lakukan itu adalah agar mereka dicintai. Sedangkan kamu mencintai dengan seutuh jiwa ragamu. Kamu tidak membawa-bawa rumah dan kekuasaan dalam mencintai, tapi kau membawa semangat dalam dirimu. Kau membawa harapan dan cita-cita yang paling puncak; membahagiakan Rani, semangat untuk mencintai.

Seandainya kau mengetahui hal itu sejak dulu, tentu kau tidak akan berputus asa. Bahkan kau akan lebih giat mengembangkan kemampuanmu untuk mencintai gadis lain. Ah, andai saja kau tahu sejak dulu, atau seandainya kita masih bisa saling mengobrol tentu akan lain dengan yang sekarang ini.

***

Lama-lama kakiku tergerak untuk mendekatinya. Maka kulangkahkan menuju halaman rumahnya. Ifan masih duduk di tepi sungai. Bintik-bintik hujan menjadi bintik-bintik embun di rambutnya. Rambut yang gondrong dan lama tak disisir. Raut mukanya masih sama dengan lima belas tahun lalu, hanya sedikit kusam. Setelah jarak kami tinggal beberapa meter, aku mencoba menyapanya, “Fan!”. Dia menoleh. Pandangannya kosong.

Selasa, 24 Juli 2012

Solilokui

Mengenal dirimu
Kutatap jauh-jauh
Ada ranting yang jatuh
Kau renda menjadi kata-kata
Yang menyeka segenap luka

Aku ingin kau tumbuhkan ranting lagi
Dari gerigi masa
Yang suka berkelana
Menginap di rumah tanpa jendela

Dari rantingmu
Aku ingin menyeduh
Biji kopi yang telah jatuh
Untuk kita santap di pagi buta
Bersama anak-anak di sekelilingnya

Jumat, 06 Juli 2012

Jalan dan Kenangan yang Tercecer


Dalam kehidupan manusia, jalan adalah sebuah kewajiban. Pergerakan dari kandungan hingga lahir ke dunia merupakan keharusan setiap makhluk hidup untuk mengakui bahwa perjalanannya adalah kehidupannya. Tidak cukup di situ, dalam perubahan dari fase ke fase kehidupan manusia, perjalanan menjadi sebuah syarat utama untuk bisa dikatakan sebagai hidup. Karena inti dari perjalanan adalah gerak sebagaimana inti dari hidup.

Jalan sebagai perlintasan atas gerak mempunyai karakteristik dan keunikan yang beragam. Jalan menuju derajat makrifat dalam ilmu tasawuf misalnya, berbeda dengan jalan menuju sukses berwirausaha. Di dalam tasawuf ada beberapa jalan yang harus ditempuh oleh sang suluk, yaitu syareat, thariqot, hakekat dan makrifat, yang mana keempat jalan itu memiliki karakteristik masing-masing. Sedangkan dalam dunia usaha terdapat langkah-langkah antara lain merencanakan, melakukan, mengontrol, dan mengevaluasi. Dari jalan-jalan yang harus ditempuh oleh dua tujuan yang berbeda tersebut juga memiliki kekhasan tersendiri.

Keberagaman jalan mengikuti arah kemana seorang akan mencapai sesuatu. Dan dalam setiap individu yang hidup menyimpan perjalanannya yang tidak akan pernah sama satu dengan lainnya. Ketidaksamaan perjalanan antar orang karena setiap orang memiliki keinginan yang berbeda. Meskipun ada kesamaan keinginan, satu keinginan yang sama dapat dicapai dengan jalan yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut diperkuat dengan perbedaan setiap pribadi seseorang. Seribu jalan menuju Roma, begitu pepatah mengatakan.

Jalan sebagai fisik yang dilalui juga mempunyai karakteristiknya tersendiri. Jalan-jalan di desa tidak sama dengan jalan-jalan di kota. Dengan segala keunikannya, jalan menjadi bagian dari orang-orang yang melaluinya. Seorang yang melewati jalan pegunungan akan menjadikan pohon, atau tanda-tanda alam sebagai pengertian bahwa perjalanan sudah sejauh mana dan ke arah mana. Dan seorang yang melintasi jalan kota tanda-tanda itu sudah berupa papan-papan petunjuk arah lengkap dengan panah ke arah mana harus dituju.

Sebelum kita melalui jalan yang belum pernah kita lalui, kita melalukan riset sederhana tentang jalan tersebut. Seperti bagaimana kondisi jalan itu, sejauh mana, dan tak jarang kita perlu mengetahui karakter orang-orang di sepanjang jalan tersebut. Hal itulah yang menjadikan seorang petualang dan backpacker lebih banyak wawasan kebudayaan daerah-daerah yang pernah dilewati dalam perjalannya.

Sepanjang perjalanan, kejadian-kejadian serta peristiwa-peristiwa yang tanpa direncanakan terjadi begitu saja. Perjalanan selalu memunculkan kejutan-kejutan bagi siapa yang melakukannya. Berjumpa dengan kenalan lama, memperoleh kenalan baru, dan akan lebih banyak kejutan jika kita melakukannya dengan sarana prasarana umum di mana interaksi antar manusia lebih banyak dan beragam.

Seperti yang dialami tetangga saya, saat perjalanan pulang kerja dia menabrak sepeda motor yang berlawanan arah. Perjalanannya pun berubah arah lantaran seorang perempuan yang ditabrak harus menginap beberapa hari di rumah sakit. Dia pun harus merelakan sedikit waktunya sepulang kerja untuk menjenguk orang itu. Dari setitik peristiwa itu ia mengenal perempuan tersebut lalu dari perkenalan itu tumbuhlah rasa cinta hingga ke pelaminan.

Jalan dapat juga menjadi awal persaudaraan. Seperti ketika kita bepergian lalu di salah satu ruas jalan roda kendaraan yang kita naiki bocor. Lalu kita bertanya kepada warga setempat tentang keberadaan tambal ban terdekat, maka yang terjadi adalah interaksi baru antar manusia yang berpotensi memunculkan persaudaraan baru.

Dari keragaman jalan-jalan, setiap manusia yang pernah melewatinya seperti meninggalkan kenangan-kenangan yang mana kenangan itu akan muncul kembali saat orang tersebut melalui jalan di kemudian hari. Dari interaksi kita dengan orang-orang baru, maupun peristiwa yang terjadi di salah satu sisi jalan saat melakukan perjalanan, kita akan menjadi ada dengan segala eksistensi manusia seutuhnya. Manusia akan menjadi ada dengan berkomunikasi dan memecahkan masalah, karena dari dua hal itu manusia akan berpikir.

Dengan berjalannya waktu, saat di kemudian kita melalui  titik-titik jalan dimana kita pernah menjadi ada, maka keberadaan kita yang sudah terlupakan pasti akan tampak kembali. Yaitu dengan rangsangan simbol-simbol yang ada saat kita menjadi ada. Seperti di tukang tambal ban ini setahun yang lalu saya pernah menambalkan ban yang bocor, atau di rumah yang depannya ada pohon mangga besar ini saya pernah bertanya ke penghuninya, kemana arah jalan, atau di perempatan ini saya pernah hampir ditabrak truk tronton, dan sebagainya.

Selain menghadirkan peristiwa yang sudah terjadi, kenangan dalam perjalanan juga menyatakan imajinasi seseorang. Seperti ketika saya melakukan perjalanan dengan Vespa dari Malang ke Jakarta, saat saya melalui daerah antara Karawang-Bekasi, ingatan saya akan tulang belulang yang berjajar antara Karawang-Bekasi dalam sajak Chaiaril Anwar terasa sekali. Seakan-akan saya pernah hidup di jaman perjuangan kemerdekaan Indonesia dan saat melewati jalan tersebut ingatan-ingatan itu muncul. Hal sama juga terjadi saat saya melakukan perjalanan ke Blora Jawa Tengah mengunjungi seorang sahabat, maka imaji saya dari cerita teman tentang tandusnya tanah Blora, saat itu menambah keyakinan dalam diri saya bahwa Blora memang daerah dengan tanah padas.

Setiap yang bergerak tidak akan bisa memungkiri bahwa jalan adalah pijakannya. Jalan sebagai poros transportasi berada pada posisi yang penting dalam keberlangsungan kehidupan. Setiap pengguna jalan harus mawas diri, bisa memahami antar sesama, mengerti batasan-batasan dan bisa mengontrol geraknya. Fenomena kemacetan dan kecelakaan merupakan gambaran kehidupan yang tidak bisa memosisikan diri seseorang sebagai makhluk sosial, bahwa hidup haruslah bersama-sama dengan segala rasa karsanya.

Manusia memang tak pernah bisa lepas dari jalan. Jalan dan kenangan-kenangan yang tersimpan dan jalan dengan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi oleh orang-orang yang melewatinya tetap menjadi misteri. Misteri setiap manusia yang melakukan perjalanan dalam mencapai keinginan dan cita-citanya. Dan misteri itu akan terungkap tatkala seseorang benar-benar melewati jalan itu.

Senin, 21 Mei 2012

Sesaji Gombal


Kata “gombal” tak sing lagi di telinga kita. Secara bahasa gombal berarti kain tua yang sobek-sobek. Sisa baju atau celana yang sudah lusuh, biasa dibuat lap atau pel lantai, itulah gombal. Lantas kenapa gombal diidentikkan dengan laki-laki? Apa karena kebanyakan laki-laki pekerja kasar dengan keringat berkucuran yang kadang-kadang saat bekerja penampilannya compang-camping. Tentu bukan, karena yang suka menyebut laki-laki itu menggombal hanya perempuan. Dan yang dimaksud menggombal di sini adalah kata-kata atau ucapan yang keluar dari laki-laki untuk menarik hati perempuan.

Dalam banyak kasus, saat mengirim puisi lewat pesan pendek kepada beberapa perempuan, mereka mengatakan menggombal. Padahal puisi itu kan kata-kata yang padat dengan majas dan metafora. Lantas saya jadi berpikir, apa sebenarnya makna gombal itu sendiri, untuk mengetahui ketika seseorang berpuisi apakah bisa dikatakan sedang menggombal.

Menurut kamus Tesaurus, di sana gombal juga berarti tipu. Dengan kata lain menggombal berarti menipu. Saya mengaitkan pada konteks saat laki-laki merayu perempuan dengan kata-kata tanpa bukti, rupanya pergeseran makna terjadi dalam konteks ini. Yaitu kata-kata yang hampa, tak berdasarkan fakta, yang mana kata-kata tersebut menjadi sia-sia seperti gombal. Gombal pada arti sebenarnya memang kain yang sudah tak terpakai semestinya. Seumpama baju, adalah baju yang tak ada artinya karena dipakai pun sudah tidak layak dan cenderung untuk dibuang. Di sinilah pusat perkara kenapa ketika laki-laki berujar tanpa bukti pada wanita mereka menyebutnya menggombal. Lalu, apakah puisi juga seperti gombal?

Puisi adalah ungkapan yang ringkas padat dengan metafora. Kalau puisi dikatakan gombal, maka menggunakan kata gombal untuk makna menipu juga salah satu metafora. Fakta dari puisi adalah peristiwa dan imajinasi. Puisi mengambil peristiwa, diolah dalam imajinasi, lalu diungkapkan melalui kata dan kalimat untuk menyuguhkan dunia yang baru. Kemudian dalam puisi terdapat unsur-unsur pembentuknya, seperti nada, ritma, diksi, sajak dan pesan, yang menjadikan puisi sebagai bahasa tingkat kedua. Tentu berbeda dengan kata-kata gombal, yang hanya mengungkapkan sesuatu yang tidak ada untuk menuju kekosongan juga.

Kembali ke makna gombal, lebih dari itu, gombal jika diperpanjang tidak hanya berkutat pada kata-kata, namun  juga tindakan. Hal itu jika didasarkan pada pergeseran makna dari perbuatan menggombal menjadi perbuatan penipuan. Ketika karakter maskulin yang menjadi ciri khas laki-laki lemah karena secara emosional ia masih kekanak-kanakan, maka laki-laki tersebut akan menutupi kekurangan itu dengan bersanding dengan sesuatu di luar dirinya.

Sebagai contoh, seorang laki-laki yang mengatakan cinta sejati dengan latar belakang harta beserta kemewahannya,  dengan niat supaya si perempuan tertarik padanya, maka ia sudah menggombal sempurna, meski harta benda itu benar-benar dimilikinya. Karena cinta sejati tidak memerlukan serangkaian property di luar eksistensinya. Ketika saya mengucapkan kata cinta dengan sepenuh jiwa, dengan saya mengucapkannya dengan mobil mewah umpamanya, tentu yang kedua lebih dipertimbangkan oleh perempuan daripada yang pertama. Padahal yang kedua penuh gombalan.

Yang demikian itu, harta dan kemewahannya hanya akan percuma. Karena cinta sejadi adalah pemberian jiwa sepenuhnya, meski dalam pemberian jiwa sepenuhnya nanti mempunyai indikasi memenuhi kebutuhan material. Namun, ketika seorang laki-laki mengedepankan benda-benda yang diluar dirinya untuk mencintai,  ia tetap menggombal. Jika pengertian ini dibalik, maka perempuan yang suka jika seorang laki-laki mempersembahkan cintanya dengan harta dan kemewahannya maka perempuan itu hanya berpikir gombal. Dan yang seperti ini yang tetap disukai perempuan.