Jumat, 08 Februari 2013

Pengakuan

Berdiri di depan pintu aku masih ragu. Pertanyaan yang aku peram beberapa tahun ini masih saja bergelayut dalam alam pikir. “Apakah permintaan maaf atas suatu kesalahan itu harus dijelaskan tentang kesalahannya?”. Akan tetapi, pada setiap hari raya hanya bersalaman kemudian meminta maaf atas segala kesalahan yang kita lakukan tanpa menjelaskan satu-satu apa saja kesalahan itu. Memang sulit untuk mengingat-ingat setiap kesalahan kita, tentu karena kesalahan kita pada orang lain tak terbilang banyaknya. Namun, untuk kesalahan yang cukup besar apakah semudah itu kita meminta maaf, sebagaimana semudah bersalaman ia mau memaafkan kita. Sedang di hari yang fitri ini aku sudah berdiri di depan pintu rumahnya.

Bertahun-tahun, setiap akan menjelaskan kesalahan itu selalu aku urungkan. Aku selalu yakin kalau dengan meminta maaf padanya saat Idul Fitri tiba dengan mengucapkan permohonan maaf atas segala salah itu bisa menghapus semua dosa kesalahan yang pernah aku lakukan. Pada suatu saat kemudian aku jadi ragu bahwa kesalahanku itu benar-benar sudah dimaafkannya, mengingat begitu jengkel dan kecewa ia pada kesalahanku beberapa tahun lalu. Lalu aku jadi berpikir kembali untuk mengatakan sejujurnya dan sejelasnya tentang kesalahan itu di hari raya berikutnya. Aku harus bersabar. Namun setahun kemudian pada saat Idul Fitri tiba, kejelasan dan kejujuran yang ingin aku utarakan itu belum kesampaian juga karena keyakinanku meminta maaf di hari yang fitri akan menghapus segala dosa. Hal itu berulang beberapa kali hingga hari ini, di mana aku sudah berdiri di depan pintu rumahnya.

Kesalahan itu bagiku cukup besar. Pada saat musim layang-layang, aku bersama teman-teman menerbangkan layang-layang tak jauh dari rumah. Seperti biasa, sepulang sekolah madrasah kami saling menghampiri untuk berangkat bersama menuju arena penerbangan layang-layang; sawah.

Masih tergambar sekali dalam ingatanku, layang-layangku waktu itu orang-orang menamakannya kapal-kapalan. Dimana layang-layang itu berbentuk kapal terbang, dengan baling-baling di moncongnya dan baling-baling itu menghubung ke sebuah kaleng bekas yang diikat di tubuh layang-layang yang berbentuk balok dengan rongga di tengahnya sehingga jika berputar berbunyi “tok.. tok.. tok”.

Layang-layang yang cukup besar untuk usia kelas 5 SD itu untuk memulai menerbangkannya tidak cukup dengan angin yang berhembus, tapi perlu ditarik sambil berlari untuk bisa mengangkat layang-layang itu ke angkasa. Hal itu itu tidaklah sulit bagi kami yang sudah tertanam sikap gotong-royong. Dengan satu teman yang merelakan tenaga dan waktunya untuk memegangi layang-layang lalu kita menariknya dengan benang yang sudah terolor berpuluh meter itu kapal-kapalan bisa langsung mengangkasa.

Dan itulah yang aku lakukan pada sore itu. Dengan layang-layangku dipegangi seorang teman, saat angin datang berhembus, aku-pun berlari menarik benang layang-layang itu. Namun, “brak!” aku terjatuh bergelimpungan di pematang sawah. Kapal-kapalanku mendarat darurat. Belum aku bangkit dengan sempurna, seorang kakek tua datang dan mengumpat.

“Heh, anak! Mata kamu taruh mana?” ia berkata sambil menunjuk seember obat tanaman yang berhamburan di sekitarku.

“Maaf, pak. Saya tidak melihatnya”

“Tidak melihat, tidak melihat! Mata kamu taruh mana, ha?”

Aku gemetaran berlumuran rasa takut yang hebat.

“Maaf, pak. Saya tidak tahu”

“Tidak tahu, tidak tahu! Ayo cepat, beresin! Dodol!”

Dengan jari-jariku yang masih kecil saat itu, aku memunguti obat tanaman yang berserakan di tanah dimasukkan ke ember yang aku tabrak itu.

Teman-teman hanya bisa melihat. Mereka takut untuk membantu, takut terkena caci maki. Dengan hati gusar akhirnya selesai juga aku menghimpun yang tercecer dalam satu ember. Tentu di tanah masih ada butiran-butiran putih itu yang tidak bisa dipungut lantaran sudah bercampur dengan lumpur.

Sore itu bermainku jadi kacau. Panas dadaku masih saja menekan hingga merah senja menyala di balik gunung. Untuk mendinginkan, aku sumpal saja aliran parit yang mengaliri petak sawahnya. Tentu setelah si kakek yang masih tetanggaku itu sudah pulang. “Biar tau rasa”, aku berkata dalam hati.

Dikeesokan harinya, di sore yang sama, layang-layangku sudah mengangkasa. Bunyi “tok.. tok.. tok..” itu terdengan cukup nyaring dari bumi. Terlihat si kakek berjalan terhuyung menuju sawahnya. Tak lama kemudian, ia tahu kalau parit kecil yang mengaliri sawahnya terbendung dengan tembok lumpur. Seraya ia memaki-maki tanpa tujuan lantaran sawahnya cukup kering untuk tidak diairi semalam sehari. Aku tersenyum puas saat itu.

Tidak hanya itu, sakit hatiku belum berhenti di situ. Aku sering mencuri ketela di kebunnya untuk aku bakar bersama teman-teman. Bagi kami ketela curian lebih nikmat rasanya, karena dari mencabut hingga menghilangkan jejak arang serba mengendap-endap.

Sekarang, sudah beberapa tahun, aku ingin mengungkapkan hal itu dengan sejujurnya. Namun di depan pintu aku sudah ragu. Atau lebih tepatnya merasa malu. Sekarang aku sudah dewasa bagaimana jadinya dengan mengungkapkan sikap pecundang masa kecil itu. Ah, aku bertamu saja dulu.

Ia menjawab salamku dengan suara retak. Pandangannya penuh beban. Kerut wajahnya lebih tampak dari beberapa tahun lalu, saat aku membendung sawahnya. Dadanya mengembang-mengempis dengan desis lirih. Dan rambutnya semakin berguguran.

Ia bertanya kabarku, tentang kuliahku. Ia senang mendengar aku belajar tentang agama di perkuliahan. Baginya agama adalah satu-satunya kebaikan di dunia. Aku bertanya tentang sawahnya tentang kebunnya. Ia sudah tidak kuat lagi ke sawah, pandangnya sudah kabur, katanya.

Saat ini aku sudah memasuki tema yang pas buat mengutarakan apa yang seharusnya aku utarakan. Namun lagi-lagi ragu datang membelenggu. Bagaimana jadinya seorang yang sudah sempoyongan ini mencaciku yang kedua kalinya. Jangan-jangan karena emosi terlalu tinggi lalu ia shok dan pingsan. Ah, segera aku tepis perasaan konyol itu.

Dengan setengah kaku, aku ungkapkan pengakuan segala kesalahan yang menyangkut masa kecilku itu. Berawal dari caci makinya di sawah, hingga dendamku yang bertubi-tubi. Aku bercerita panjang lebar hingga detailnya. Sehabis semua terungkap aku seperti berhasil menerbangkan layang-layang waktu itu, lega sekali.

Ia mendengarkan dengan seksama, seperti mengingat-ingat seperti apa peristiwanya. Aku-pun masih sangsi apakah ia masih teringat dengan kejadian itu. Aku sudah siap sedia menerima segala caci maki. Itu tidak seberapa dengan kesalahan yang aku lakukan. Ibarat pencak silat, aku sudah siap kuda-kuda.

“Anggap saja itu tidak pernah terjadi. Aku sudah memaafkanmu dari dulu”. Kakek itu berkata dengan lapang dada.

“Maksud kakek?” Aku keheranan bercampur deg-deg-an.

“Ya, aku sudah memaafkanmu dari dulu.” Kakek berhenti sebentar. “Dari ukuran bekas jari-jari yang tergambar di lumpur yang membendung aliran air itu tampak pelakunya adalah anak-anak. Dan anak-anak yang bermain di sawah siapa lagi kalau tidak kamu, agus, dan lutfi.”

Keteganganku akan kesiapan untuk menampung segala caci maki pudar seketika. Aku mengendor, jadi lemas terharu sama kakek itu.

“Kalian dulu memang anak-anak, tidak secermat sekarang. Pada saat terlihat asap membubung dari tengah ladang singkong, pasti kamu dan teman-teman sedang membakarnya. Singkong itu memang siapa saja boleh mengambilnya. Bahkan kalau mau, kamu bisa meminta sekeranjang buat diolah jadi gatot, getuk, atau kolak.”

Aku semakin terharu. Bahkan sampai sekarang aku tidak menyadari kecerobohan hingga kakek itu sebenarnya sudah tau siapa pelakunya. Aku malu sekali, bukan lantaran kesalahan itu lagi, namun karena aku tidak mengakuinya sejak dari dulu. Sekarang kakek sudah renta sekali, tidak kuat ia pergi ke sawah.

Dalam perjalanan pulang, aku menyesal sekali telah memendam kesalahan bertahun-tahun. Kadangkala aku merasa membenarkan memendam kesalahan itu dengan alasan bersabar menunggu waktu yang tepat. Bersabar, ya bersabar, setiap hatiku ragu atau takut untuk mengakui kesalahan pasti alasan itu mencuat menguasai diri. Dan aku baru tahu sekarang, bahwa bersabarku untuk meminta maaf atas kesalahan, bersabarku untuk mengakui dosa guna menghapusnya itu merupakan bersabar yang keliru. Karena bersabar bukan berarti menunda waktu.

Kamis, 10 Januari 2013

Rahasia Terbesar Laki-laki


Hidup di dunia ini sekali saja. Sungguh merugi kalau tidak bahagia. Dan kebahagiaan itu ada di dalam diri kita. “Lho, lantas di mana posisi Tuhan? Bukankah Tuhan itu yang membawa dan memberi kebahagiaan bagi manusia?,” suatu ketika temanku bertanya. Ya, itu benar. Bahkan Tuhan menyiapkan kesedihan dan kebahagian secara bersama-sama. Kebahagian dan kesedihan ada di setiap hati manusia. Kalau kamu memilih bahagia, tentu kamu harus memilih jalan yang benar.

Aku pun memilih jalan yang benar tentang cinta. Semenjak suka pada wanita, aku selalu berusaha untuk tidak menyakitinya. Berucap dengan ucapan apa adanya, tidak pernah menggunakan perumpamaan-perumpamaan yang membubung ke langit tinggi. Atau kalimat-kalimat manis yang dimaksudkan supaya seorang wanita tertarik padaku. Karena menurutku itu semua adalah kemunafikan. Kenapa, saat di depan yang kita sayangi, suara kita lantas berubah menjadi lirih. Dimerdu-merdukan, seakan kita wibawa, sedang saat berbicara dengan orang di luar kepentingan kita, suara hanya biasa-biasa saja. Bahkan terkesan acuh dan apatis.

Aku lebih suka mengubah isi daripada bungkus. Ketika aku berbicara dengan seorang petani, aku pun membawa tema-tema tentang bercocok tanam dan irigasi. Ketika aku berhadapan dengan polisi, aku berbicara tentang keamanan, kriminal, dan sekitar itu. Begitu pula saat aku berada di sisi orang yang aku sayangi, aku akan berbicara tentang harapan-harapan ke depan, keinginan yang ingin dicapai, dan model keluarga yang didambakan. Pembicaraan-pembicaraan itu dengan nada yang sama, tidak lebih halus antara satu sama lainnya.

Di sisi lain, aku lebih suka melakukan sesuatu ketimbang membicarakan sesuatu. Memberi kekasih bunga, mengantar kuliah, mentraktir, bagiku itu lebih jujur ketimbang ucapan sayang, rindu, madu, manis, cantik dan lainnya. Bukan berarti tak pernah berucap, hanya saja dominasi perbuatan lebih banyak ketimbang ucapan.

Agak aneh memang ketika ada gagasan bahwa bicara dapat mengubah hidup seseorang. Begitu juga ada teori kesantunan berbahasa, yang mana lebih dititikberatkan pada perubahan nada dan intonasi dalam percakapan saat kita menghadapi perubahan objek pembicara yang berbeda. Bagaimana harus bicara dengan orang tua, bagaimana bicara dengan istri, bagaimana bicara dengan tetangga, teman dan lain sebagainya dengan intonasi yang berbeda-beda. Saya berbicara di manapun, dengan siapa pun, kapan pun, dengan nada sama. Tidak halus juga tidak kasar, tapi perpaduan antara keduanya.

Kejujuran akan cintaku itu ternyata membuahkan hasil yang luar biasa. Saya sekarang sudah punya seorang istri cantik dan tiga anak. Anak pertama laki-laki, saya beri nama Sabit. Anak kedua perempuan saya beri nama Putri. Dan anak ketiga laki-laki, saya beri nama Rimbun. Pekerjaan saya juga mapan, menjadi dosen di sebuah universitas dan mempunyai usaha kedai Sop Buah. Dua sumber rejeki itu lebih dari cukup untuk sekadar menghidupi lima anggota keluarga kami. Bahkan masih bisa menyisihkan untuk mendirikan pusat belajar masyarakat sekaligus pusat bermain anak-anak di kampung kami.

Saya juga masih bisa menyempatkan untuk mengunjungi tempat-tempat wisata pada akhir bulan. Bulan kali ini saya dan keluarga mengunjungi Pantai Karanggongso di daerah Trenggalek. Pantai yang saya anggap paling aman untuk bermain anak-anak. Karena tepi pantainya terdapat perairan dangkal sekitar tiga ratus meter ke tengah laut. Pasirnya putih, dan karang-karang tajam sangat jarang sekali. Ketiga anak kami bermain air, dan yang paling besar, Sabit, selain bermain juga bertanggungjawab menjaga adik-adiknya. Sedang saya dengan istri mengamati mereka dari kejauhan sambil duduk-duduk santai di atas pasir dibayangi nyiur daun kelapa.
“Pa, lihatlah anak-anak kita yang lucu-lucu itu, apa perlu ditambah lagi?” Istri saya tiba-tiba bertanya sembari membelah buah semangka di atas tikar. Bayangan daun kelapa bergerak-gerak di atasnya.

“Emm, mengalir saja. Seandainya dikaruniai lagi, baik juga.” Saya menjawab diplomatif.

“Pa, apa anak-anak itu termasuk kebahagiaan yang paling besar?”

“Ya, tentu donk.” Kami diam sejenak dan memandang anak-anak kami yang sedang bermain air laut. Sesekali teriakan-teriakan kecil meloncat-loncat di antara riak ombak.

“Kalau istri seperti aku ini?” Tiba-tiba istriku mengarahkan pertanyaan tentangnya. Seperti anak-anak yang tak mau kalah saja. Saya terhenyak sebentar. Aku pandang istriku, ia juga memandangku dan tersenyum.

“Istri yang baik, dan anak-anak yang baik adalah kebahagiaan yang besar.” Aku pun menjawabnya dengan tulus. Memang karena keduanya merupakan anugerah yang tiada tandingannya.

Ia tertawa kacil, lalu mendekatiku dan menyodorkan irisan-irisan semangka di atas piring. Warnanya merah sekali, dengan biji-biji putih sebagai ciri khas semangka tanpa biji. Aku mengambil dan mulai mengunyahnya. Mencecapnya dalam-dalam, merasakannya, apakah ada pahit di tengah rasa manisnya. Karena, kalau ada pahitnya, itu kemungkinan besar rasa manis buatan yang disuntikkan oleh petani buah, yang bisa memicu kangker.

“Pa, bagi papa apa yang menjadi kebahagiaan terbesar dalam hidup ini?” istriku bertanya sambil mengunyah semangka juga. Semangka yang ada di mulutku segera kutelan dan segera kulupakan tentang pemanis buatan yang banyak disuntikkan petani.

“Istri yang cantik dan baik, dan anak-anak yang lucu-lucu dan baik.”

Istriku tertawa seakan ini hanya lelucon saja. Aku melanjutkan mengunyah semangka. Pandangan kami tertuju pada anak-anak yang riang bermain ombak.

“Pa, laki-laki itu pandai menyimpan rahasia.”

“Mmm, apa iya?” Aku menjawab sekenanya.

“Dan setiap lelaki pasti punya rahasia dalam hidupnya.” Ia melanjutkan kalimatnya. Aku terus mengunyah semangka.

“Kalau rahasia terbesar dalam hidup papa, apa?”

Aku berhenti mengunyah semangka. Kurasakan pertanyaan itu tidak sekadar iseng belaka. Suasana menjadi kaku, istriku diam begitu juga dengan aku.

“Ah, masa iya setiap lelaki mempunyai rahasia. Terlebih laki-laki seperti aku ini. Semua sudah aku ceritakan padamu saat kita kenal dulu. Tentang apa pun.” Aku menjawabnya dengan sedikit membuat pertanyaannya seakan tidak penting untuk ditanyakan.

“Hatiku mengatakan bahwa papa mempunyai rahasia yang besar, yang masih tersimpan saat ini. Sebagai lelaki pada umumnya.” Ia meyakinkan bahwa memang aku harus menyampaikan sesuatu untuknya.

Aku mencoba untuk tetap tenang. Menikmati hijau air laut yang berdasar pasir putih di bagian paling tepi daratan. Lalu berwarna kebiruan di bagian dalam. Sesekali kupandangi jauh titik hilang lautan, dan kurasakan keluasan ciptaan Tuhan.

“Ayolah pa, apa rahasia terbesar papa?” Ia berkata sembari merangkul pundakku. Memintanya dengan manja.

“Yang namanya rahasia itu, kan tidak seharusnya untuk dibocorkan.” Aku menjawab sekenanya.

“Nah, itu ’kan, punya rahasia ’kan. Ayolah, pa!” Jawabanku seperti menyudutkanku sendiri. Seperti senjata makan tuan, aku pun tak bisa mengelak lagi.

“Biar tersimpan sajalah.” Aku kehabisan kata-kata. Kalimatku itu telah mendakwa bahwa aku memang punya rahasia yang hingga sekarang belum diketahuinya.

“Ayolah, pa!” Ia terus memaksa. Ya seperti itulah istriku. Kemauannya tidak bisa ditangguhkan.

“Tapi mama harus janji tidak boleh marah.” Aku mulai membuat kesepakatan.

“Ya, siap,” kalimatnya begitu mantap.

Aku pun meraba-raba kembali masa lalu, di mana aku masih muda dan perkasa. Pertama kali aku jatuh hati pada seorang gadis di SMA. Namun pada cinta pertama itu aku menuai kegagalan. Dua kali aku menyatakan cinta, dua kali juga aku ditolak. Nilai saat itu terjun bebas. Dari peringkat lima besar menjadi peringkat dua puluh besar sekelas.

Cinta kedua tumbuh saat kuliah, di mana aku sangat mengagumi seorang gadis kota. Wajahnya enerjik, tubuhnya sintal, dan tangkas. Berbagai upaya aku berusaha mendekatinya, tapi lagi-lagi aku belum berhasil menyentuh hatinya. Aku mundur dengan pelan, dan memulai membangun cinta lagi begitu seterusnya.

Cintaku meloncat dari hati ke hati, dari peristiwa ke peristiwa. Namun selalu gagal. Tak terhitung berapa banyaknya gadis yang aku sukai. Dan tak terhitung pula berapa kali aku dicampakkan. Dan setiap kegagalan aku mencari penyebabnya. Hingga berjilid-jilid buku tentang cinta aku khatamkan, dan bermalam-malam aku berdiskusi dengan orang yang sudah berpengalaman tentang itu. Namun aku tetap gagal juga.

Teman-teman selalu mengejekku. Jomblo seumur hiduplah, jodoh sudah matilah, dan banyak lainnya. Namun ada ejekan yang selalu membuatku bahagia, menurutnya aku ini dijaga oleh Tuhan, dijaga dari perbuatan yang kurang baik sekali pun, seperti berpacaran. Tapi ejekan itu pun diakhiri dengan hal yang tidak mengenakkan, yaitu dijaga Tuhan sampai mati. Artinya aku pun tak bakal mendapatkan gadis mana pun sampai ajal menjemputku.

Hingga suatu pagi yang basah, aku terlalu menikmati bau tanah sisa hujan malam hari. Hening sekali, barangkali burung-burung belum mengoceh lantaran masih menggigil kedinginan. Kuhirup udara dalam-dalam. Kunikmati setiap lekuk pepohonan dari keremangan kabut pagi. Jalan yang berupa tanah bercampur air membuat laju vespaku tidak stabil. Hingga aku terpeleset dan menyenggol seorang gadis yang berjalan dari arah berlawanan. Dari peristiwa itu aku mengenalnya. Ia adalah istriku yang sekarang ini, dan dengannya aku dikaruniai 3 orang anak.

“Itu hanya masa lalu, ma. Dan saya yakin setiap orang memiliki perjalanan asmara yang serupa,” aku menyudahi sebuah rahasia pada istriku.

“Ooo... rahasia terbesar papa ternyata aku bukan yang terutama.” Istriku berkata dengan nada kecewa. Raut wajahnya juga tak bersahabat.

“Ma, tadi ’kan mama sudah janji.....,” kata-kataku terhenti. Percuma, ia sudah ngeloyor pergi menuju anak-anak dengan membawa irisan-irisan semangka di atas piring.

Aku pun kembali menghirup dalam-dalam angin pantai Karanggongso. Kulihat lagi lautan yang luas, dengan ombak kecil yang melempar sebuah batok kelapa ke tepi. Kemudian menariknya kembali ke lautan, sambil kuingat-ingat lagi rahasia yang lebih besar yang belum pernah kuceritakan kepada istriku maupun orang lain. Barangkali memang laki-laki itu penyimpan rahasia sejati.***

Minggu, 06 Januari 2013

Dongeng Sebagai Pembentuk Karakter


Saya teringat bagaimana nenek saya setiap sebelum tidur mendongeng tentang Panji Laras, si Kancil, dan Burung But-but. Cerita itu diulang-ulang, tapi saya tetap menikmatinya lantaran gaya cerita dan pertanyaan-pertanyaan di tengah maupun diakhir cerita yang memancing ingatan sekaligus memancing daya imajinasi, karena pertanyaan itu membuat saya mengingat-ingat sekaligus membuat gambaran kronologi cerita dalam imajinasi saya.

Setelah saya raba dan saya hayati pengaruh dongeng-dongeng tersebut dalam diri saya, saya merasakan bahwa dengan dongeng tersebut diri saya secara perlahan mencintai alam semesta dengan segala keindahannya. Hal itu karena gaya mendongeng nenek yang kuat sekali dalam mendeskripsikan suasana. Dongeng Panji Laras misalnya, dalam gaya penyampaian nenek yang paling saya ingat adalah deskripsi yang detail sekali tentang rumah Panji Laras yang hidup bersama neneknya di gubuk reot, berdinding anyaman bambu, beratap daun ijuk, dan terletak di tepi hutan yang lebat sekali.

Begitu juga dengan perjalanan Panji Laras saat ingin menetaskan telor temuannya ke tengah hutan. Nenek saya selalu menceritakan indahnya pepohonan, bunga-bunga dengan  kupu-kupu di kelopaknya, gemericik sungai dan hewan-hewan kecil di sepanjang perjalanan yang seakan turut menyemangati Panji Laras dalam perjalanannya.

Sejak kecil saya sudah ada kecenderungan menyukai hal-hal yang alami. Saya begitu suka melihat pohon dengan cabang yang landai, sehingga bisa untuk dinaiki dan berteduh sambil bersantai di atas dahan itu. Atau saya juga menyukai liku-liku aliran parit di sawah. Dengan parit itu saya membuat perahu dari pelepah pohon pisang, menghanyutkan perahu itu dan membuntutinya dari belakang seakan-akan saya mengarungi sungai dengan pelepah itu dan menjumpai banyak tempat-tempat yang indah.

Bagi saya semua itu merupakan pengaruh dongeng-dongeng yang disampaikan nenek hampir setiap sebelum tidur malam. Rasa-rasanya sangat nikmat sekali menjelang memejamkan mata sambil membayangkan cerita yang sudah usai. Membayangkan wajah tokoh-tokoh dalam cerita tersebut dan lingkungannya yang indah.

Pengalaman selanjutnya tentang pengaruh dongeng pada pendengarnya adalah saat asmara saya diambang kehancuran, karena kekasih saya akan dijalinkan dengan laki-laki pilihan ibunya. Kita semua tahu bagaimana budaya nenek moyang kita yang kental dengan patriarkatisme. Yaitu sistem tata keluarga yang mana kekuasaan atas semua hal yang menyangkut keluarga ada di tangan orang tua, terutama ayah. Orang tua menjadi penentu segalanya atas apa yang dilakukan anak, termasuk pasangan hidup dan pekerjaan. Nah, kekasih saya adalah salah satu korban dari budaya tersebut.

Dia adalah gadis manis yang sangat taat kepada orang tuanya. Tatakala senyumnya mekar, daun-daun yang kering seakan hijau kembali. Karena kepatuhannya kepada orang tua, pada awalnya dia tidak berani menolak permintaan orang tuanya untuk dijalinkan dengan orang lain. Dia hanya mampu mengutarakan keinginannya bersamaku secara halus kepada orang tuanya. Dan ketika orang tuanya tetap pada keinginan menjalinkan dia dengan orang lain, dia hanya bisa pasrah dan mengiyakan.

Saat itu saya sudah tak bisa berbuat apa lagi. Saya segera mengemasi kenangan-kenangan saat aku bersama dia. Selanjutnya saya segera bersiap-siap membangun cinta yang baru, meski dengan susah payah tentunya. Saya sudah berpamitan dengan dia, dan saya mulai itu tidak akan lagi menghubunginya melainkan dengan jeda waktu yang lama. Mungkin setelah kami sama-sama berkeluarga nanti. Hanya untuk sekedar bertegur sapa dan menanyakan kabar.

Namun beberapa hari kemudian ia menghubungiku, mengeluh padaku tidak tahan dengan paksaan ibunya tersebut. Ia ingin melawan kehendak orang tuanya, namun ia tidak mampu. Di tengah keterpurukan asmaraku, aku melipurnya dan menguatkan hatinya. Ya, yang bisa saya lakukan hanyalah dua hal itu.

Hingga pada suatu saat, ia mengatakan bahwa keponakannya yang seusia 3 tahun mencari saya. Katanya ia rindu kepada saya karena lama tidak berkunjung ke rumahnya dan menagih janji saya untuk mendongenginya tentang kisah Raja Angin. Saya memang beberapa kali berkunjung ke rumah kekasih saya dan kebetulan kakaknya yang mempunyai dua anak masih serumah dengan ibu. Jadi setiap kali saya ke sana saya selalu bermain dengan keponakannya tersebut. Dan saya pernah menjanjikan akan menceritakan dongeng “Raja Angin” kepadanya.

Saya tidak bisa bermain ke rumahnya karena hanya tinggal beberapa hari keluarga laki-laki pilihan ibunya akan melamar kekasih saya. Akhirnya melalui telepon, saya menceritakan kisah Raja Angin kepada kekasih saya, untuk diceritakan lagi pada keponakannya di rumah. Dengan seperti itu saya bisa menepati janji saya kepada keponakannya yang masih 3 tahun.

Setelah saya bercerita tentang Raja Angin tersebut, kekasih saya sering mengatakan bahwa ia tidak bisa seperti Maharani, tokoh utama dalam cerita Raja Angin tersebut. Maharani adalah tokoh utama yang tegar dengan pendiriannya, tegar dengan pilihannya, dan ia tidak takut dengan  hal-hal yang ditakuti perempuan pada umumnya. Rupanya tokoh Maharani menjadi pusat cermin bagi kekasih saya.

Selama beberapa hari tersebut kami sering mengobrol melalui telepon. Dalam obrolan kami tokoh Maharani selalu muncul sebagai simbol kekuatan untuk memperkokoh pendirian. Dan dengan itu secara konsisten tokoh Maharani sebagai sumber kekuatan kekasih saya untuk berusaha terus mempertahankan keinginannya untuk bersamaku, dengan mengutarakan apa yang diinginkannya kepada orang tuanya.

Pengaruh dongeng Raja Angin luar biasa. Dia mampu melawan kehendak orang tuanya tersebut dengan frontal. Dia terang-terangan kepada ibunya dengan menjelaskan bahwa hidup dengan orang yang tidak dicintainya adalah penyiksaan. Dan tindakan yang paling berani adalah sebagai penentu kisah kami selanjutnya, yaitu dia terang-terangan kepada laki-laki pilihan ibunya, bahwa sebenarnya dia mengiyakan dengan laki-laki tersebut karena dipaksa.

Itulah akhir dari segala tekanan yang membuatnya sangat tersiksa. Laki-laki pilihan ibunya mengundurkan diri dengan baik-baik, dan kekasih saya kembali pada saya. Kami pun bersama lagi dengan gelora cinta yang semakin menggebu dan berkobar membakari segala rintangan yang menghadang.

Dua hal tersebut yang bagi saya adalah pengalaman langsung bagaimana cerita bisa sangat berpengaruh bagi pembaca dan pendengarnya. Melalui deskrpisi nenek saya yang detail tentang keindahan alam membuat saya mencintai alam, hingga saya masuk ke organisasi pecinta alam MAPALA TURSINA saat saya penempuh pendidikan di perguran tinggi. Dan tokoh Maharani mampu membakar semangat kekasih saya untuk mempertahankan harapan-harapan hidupnya bersama saya.

Cerita memang salah satu cara yang efektif untuk menjelaskan kehidupan. Kitab suci al-Quran banyak mengajarkan kehidupan kepada manusia melalui cerita-cerita Nabi-nabi terdahulu, sebelum nabi Muhammad SAW. Kisah Ashabul Kahfi, kisah Nabi Ibrahim, Kisah Nabi Musa dan Fir’aun, dan masih banyak lagi. Kisah-kisah tersebut membuka pengetahuan manusia tentang kebaikan dan keburukan. Juga menjadi inspirasi manusia untuk bersikap dan berbuat.

“Jas Merah = Jangan melupakan sejarah” kata Soekarno. Karena sejarah merupakan cerita tentang rentetan kejadian manusia-manusia terdahulu, yang bisa kita ambil hikmah dan pelajarannya. Maka berceritalah, mendongenglah tentang kehidupan. Karena mendongeng adalah mengajar dengan cara yang rapi. Kumpulkanlah anak-anak, kawan-kawan, serta saudara-saudara, dan mulailah bercerita tentang apa saja.

Sabtu, 15 Desember 2012

Penggalan Kisah


Seharusnya aku sudah meninggalkannya. Meninggalkannya memang karena segala yang terjalin kini sudah terurai. Lalu aku menyembuhkan lukaku sendiri, dan dia menyembuhkan lukanya. Karena kami tidak lagi di jalan yang sama.

Setiap perjumpaan diakhiri dengan perpisahan. Sekitar sebulan lalu kami berjumpa dan kini waktunya berpisah. Masa selama di dalam kebersamaan mulai saya kemasi, untuk disimpan di dalam kotak kenangan. Suka duka di masa singkat itu tak berarti lagi, melainkan sebagai pelajaran di kelak hari.

Seharusnya kami sudah mulai jauh-menjauhi. Aku mencari jalan hidupku sendiri, dan ia mencari jalan hidupnya. Ibarat sebatang pohon, kami adalah pohon yang ditumbangkan oleh tukang kayu menjadi dua bagian. Lalu aku bisa saja menjadi almari dan ia menjadi meja atau kursi. Dan tentu kami tidak bisa bersama lagi, kalau pun suatu saat nanti bertemu mungkin hanya mampu bertegur sapa.

Mendung yang menjadi saksi kebersamaan kami pun sudah mencair dan turun ke selokan dan sungai menuju ke lautan. Rumput-rumput kuning yang menjadi saksi kebersamaan kami sudah musnah, tergeser oleh rerumputan hijau yang tumbuh dengan angkuh. Debu-debu yang menjadi saksi kebersamaan kami, sudah terseret arus hujan dan hanya menyisakan genangan. Seharusnya lengkap sudah untuk sebuah akhiran.

Di saat seperti ini, dia menghubungiku lagi. Ia mengatakan bahwa apa yang menjadi keputusan minggu lalu adalah hasil dari keputusan sebelah pihak. Dia di posisi sangat tertekan. Di satu sisi ia sebagai anak yang harus patuh pada orang tua, dan di sisi lain ia sebagai seorang remaja mempunyai keinginan dan cita-cita, serta harapan-harapan yang disukainya menurut kecenderungan hatinya sendiri.

Ia mengeluh dan mengaduh kepadaku. Air matanya mengucur, senyumnya terkubur. Bagaimana mungkin bisa hidup dalam keluarga sebagai suami istri dengan orang yang tidak dicintainya. Ia ingin mengungkapkan isi hatinya kepada orang tua. Dia meminta pertimbangan-pertimbangan dariku, dan aku mulai berpikir.

Semenjak ia mengatakan bahwa ibunya pernah bilang, “Kamu bertemu dia (aku) sudah dewasa, dia tidak tau bagaimana kamu saat kecil. Sedang aku, aku tau bagaimana saat kamu kecil, maka ikutilah nasehatku”. Sejak ia menyampaikan kata itu, harapanku untuk bersama dia sudah pupus. Ibunya menyetujui laki-laki lain yang sudah sukses dari segi ekonomi. Bagiku itu adalah ungkapan paling puncak sebagai permohonan orang tua kepada anaknya.

Ridho Tuhan terdapat di dalam ridho orang tua, dan kemurkaan Tuhan ada di dalam kemurkaan orang tua. Sebagai pengasuh utama setiap anak, orang tua mempunyai posisi penting dalam kehidupan anak. Menentang orang tua hampir sama dengan menentang Tuhan. Hal inilah yang membuat setiap kata yang diucapkan orang tua kepada anaknya menjadi kata-kata yang mujarab. Kutukan maupun do’anya seakan selalu membayangi anak dalam kehidupannya. Maka mengungkapkan isi hati yang bertentangan dengan kehendak orang tua haruslah berhati-hati. Karena jika orang tua marah, marahlah Tuhan.

Pertama-tama yang saya lakukan adalah mendinginkan dan melipurnya. Dari pernyataan-pernyataan sebelumnya saya bisa tau kalau dia adalah seorang yang keras dengan pendiriannya, keras dengan keinginan-keinginannya. Maka jika tidak diredakan terlebih dahulu, pertentangannya dengan ibu bisa meledak menjadi sebuah pertempuran, dan hal ini bisa membahayakan bagi kehidupannya kelak.

Saya memberikannya terlebih dahulu pengertian bahwa hidup bersama siapa saja sama. Sama saya baik, sama laki-laki pilihan ibu juga baik. Semua kebaikan itu sama. Sama-sama membahagiakan. Hanya saja perlu kebiasaan dan pembiasaan. Cinta itu adalah anak kebudayaan, kata Pramoedya Ananta Toer, ia bukan batu yang jatuh dari langit. Artinya bahwa cinta itu bisa tumbuh karena kebiasaan dan interaksi budaya yang intens. Jika ia pun nantinya harus hidup dengan pilihan ibu, maka mungkin sekali akan tumbuh cinta meski untuk sekarang ini tidak ada rasa cinta sama sekali.

Di samping memberikan pengertian itu aku merintih teriris-iris oleh kata-kataku sendiri. Bukannya aku juga dalam gelora cinta padanya. Siapa yang tidak menginginkan memiliki apa yang dicintainya dan yang disayanginya. Aku berpura-pura tegar dihadapannya. Aku tersenyum bahkan tak jarang tertawa terbahak, namun itu semua sebagai tangisan yang aku paksakan menjadi tawa. Aku menertawakan kengerian akan keterpisahan dengan kekasihku, di depan kekasihku sendiri.

Setelah memberikan pengertian itu aku berusaha mendorong dia untuk mengungkapkan isi hatinya kepada ibunya. Dan dengan samar menolak keinginan ibunya. Melawan dengan sehalus-halusnya perlawanan. Menolak dengan halus pewujudannya adalah dia mengungkapkan isi hatinya dengan  menolak apa yang dikehendaki ibunya. Di saat-saat seperti itu pasti akan terjadi perdebatan hebat. Maka tatkala ibunya mulai marah dan mengomel, saya anjurkan untuk segera meninggalkannya tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Dari ceritanya aku bisa menangkap bahwa ibunya memilih lelaki itu tidak hanya karena kemapanannya secara ekonomi, akan tetapi ada hal lain yang lebih besar. Apakah hal itu. Hal itu membuat saya berpikir seribu kali. Mencermati setiap yang terjadi mulai aku mengenalnya hingga saat ini.

Saya jadi merasa bersalah ketika pertama kali kami bertemu di taman kota hingga larut malam. Jalan bareng yang kami rencanakan berakhir sampai jam setengah sembilan, kenyataannya kami pulang hingga jam setengah sepuluh malam. Sudah saya ingatkan sebenarnya saat jarum jam menujukkan pukul setengah sembilan. Namun ia masih ingin menikmati malam denganku, jam Sembilan juga aku ingatkan, namun lagi-lagi ia menolak untuk segera kembali. Jam setengah sepuluh kami baru bisa sampai ke rumah dia.

Karena saya merasa bertanggungjawab mengajaknya keluar, maka saya pun malam itu memperkenalkan diri dengan ibunya untuk pertama kalinya. Sebuah perkenalan di waktu yang tidak tepat. Jam setengah sepuluh malam, dan dengan kondisi baru pulang dari taman kota. Saya benar-benar tidak berpikir sampai di situ. Saya terlalu terlena oleh gelora cinta yang bersinar terang hingga menyilaukan segalanya.

Kesalahan kedua adalah ketika saya mengajaknya keluar untuk berbelanja buku. Meski dengan izin ibunya, saya tetap merasa bersalah. Saya terlalu berani dan sembrono. Membawa pergi dia begitu saja, lalu mengembalikannya ke rumah, bukankah itu hal yang tidak etis. Terlebih saat orang tuanya berada di rumah.

Adalah dua kesalahan itu yang menurutku membuat ibunya mungkin tidak suka denganku dan memilih laki-laki lain untuk dia. Saya sudah meminta maaf, tapi sepertinya sudah terlambat. Saya sudah tidak mungkin silaturrahmi ke rumahnya, lantaran saat-saat ini sedang masa rundingan antara keluarga dia dengan keluarga lelaki pilihan ibunya. Saya hanya bisa meminta maaf dengan perantara dia, untuk menyampaikannya kepada ibunya. Namun tetap tidak efisien karena suasana antara mereka sedang memanas. Bahkan saya belum yakin dia benar-benar sudah menyampaikan permintamaafan saya itu.

Semua sudah terjadi, dan kecerobohan saya membawa segalanya berantakan. Saya terlalu tersilaukan oleh gelora cinta, maka saya tidak lagi mengikuti hukum adat yang masih berlaku dalam masyarakat yaitu papan empan. Saya seharusnya sadar diri bahwa dengan posisi saya. Saya berada di keluarga yang baru saya kenal. Seharusnya saya tidak berbuat melampaui batas. Seharusnya saya tahu dulu bagaimana karakter keluarganya, untuk bisa bersikap dan berbuat sesuai yang berlaku di dalam keluarga itu. Lagi-lagi etika dan norma.

Sebenarnya aku dilahirkan di iklim keluarga yang normatif. Lalu aku disekolahkan juga di kawasan normatif yang kental dengan etika dan norma. Hingga saat meneruskan ke perguruan tinggipun saya tinggal di kawasan kental dengan norma. Tapi interaksiku dan norma dengan waktu yang berpuluh tahun itu tidak memberikan pengaruh yang besar tentang norma dalam diri saya. Norma membuat saya selalu tidak nyaman. Norma selalu membuat saya menjadi pembohong. Tidak alami dan terkesan dibuat-buat.

Karena saya terlalu mengacuhkan norma, dan mengikuti kata hati saja, saya pun menjadi mengerti bahwa norma dan etika sangat mempengaruhi hidup kita, terutama citra kita dalam keluarga, terlebih dalam kehidupan masyarakat. Saya menyesal sekali berbuat yang demikian. Menjadikan apa yang saya impikan dan hampir mendapatkannya, tapi kini menuai kendala yang tidak bisa diremehkan. Ini adalah pengalaman yang berharga, dan yang bisa kulakukan hanyalah berdo’a agar segala keputusan menjadi yang terbaik bagi semua pihak.

Rabu, 05 Desember 2012

Ketika Orang Tua Memaksakan Kehendak Anaknya


Berani mencintai berarti juga berani menanggung segala resiko yang diakibatkan darinya, termasuk patah hati. Itu adalah hukum alam. Kita tidak bisa terhindar darinya. Kita mengambil sesuatu dengan segala resikonya, atau tidak mengambil sama sekali. Dan hanya orang-orang yang berani menerima akibat dari yang ia lakukan, ialah orang-orang yang kuat.

Setiap manusia pasti pernah merasakan cinta. Merasakan geloranya. Bagaimana setiap sesuatu menjadi indah, bahkan hal-hal yang sebelumnya dibenci, tatkala di masa gelora cinta yang dibenci pun tiba-tiba disukainya tanpa suatu alasan yang jelas. Itulah gelora cinta, dimana keindahan menjadi pangkal dari segala sudut pandang.

Gelora cinta adalah gelombang yang memberi kekuatan jiwa. Yang menumbuhkan gairah kehidupan, dan yang memberikan kekuatan raga untuk melakukan hal-hal besar sekalipun. Cinta membangkitkan harapan-harapan dan cita-cita, melenyapkan semua bentuk dendam, dan kesemuanya itu membangkitkan kualitas hidup seseorang.

Ketika seorang berada di puncak gelora cinta lalu rintangan mulai menghadang, semangat untuk menyingkirkan segala rintangan menyala-nyala seperti api yang bangkit untuk membakar kayu. Namun semua itu hanyalah akan menjadi kebohongan ketika dihadapkan dengan kekuatan budaya balas budi. Dimana orang tua sebagai orang yang paling berjasa dalam hidup setiap orang, menjadi kuasa atas segala pilihan seorang tersebut, dan celakanya mencampuri urusan cinta, sedangkan urusan cinta adalah urusan rasa. Rasa yang murni dari kedalaman hati yang dimulai dari ketertarikan antara dua individu yang berbeda yang ingin bersatu.

Budaya balas budi adalah monster yang siap menerkam siapa saja, sebuah jurang api yang siap meleburkan apa saja, hujan belati yang siap mencincang siapa saja yang terperangkap di dalamnya. Balas budi menjadi jebakan paling sukses sepanjang sejarah manusia. Ia melemahkan dengan menyenangkan, menjerumuskan dengan mengangkat martabat, dan menusuk tanpa menghunus. Sebuah cara paling kejam untuk mematikan apa saja yang dijadikan sasarannya.

Orang tua sebagai orang paling berjasa dalam tumbuh kembangnya anak adalah salah satu orang yang memiliki senjata paling mematikan ini. Orang tua mendidik setiap anak, merawat, menimang, memberikan kasih sayangnya, secara langsung ia mengasah senjata balas budi yang bisa digunakan untuk menikam anaknya kelak dewasa nanti.

Adalah anak yang paling malang, yang orang tuanya tega mengeluarkan senjata terampuh untuk melemahkannya. Demi keinginan dan ambisi orang tua kepada anaknya, ia menggunakan senjata itu. Senjata balas budi. Senjata terlaknat di dunia, mengungkit-ungkit jasanya untuk mengendalikan anaknya yang sebatang kara tanpa dukungannya. Maka orang tua yang dulu dianggap sebagai penyayang utama dalam kehidupan anak, anak mulai berpikir, bahwa orang tuanya kini menjadi kanibal paling kejam di dunia.

Orang tua yang egois, mementingkan dirinya sendiri, mementingkan kehormatannya di atas apa pun, akan memasung anak, mencarikan jalur hidupnya, meski anak tidak suka dan tidak menemukan kecenderungan-kecenderungan dengan jalur itu. Maka yang terjadi adalah pertentangan harapan dan cita-cita. Anak mencoba mengutarakan keinginannya, mencoba menyuarakan pilihannya, dan orang tua akan mengeluarkan gaman paling tajam yaitu balas budi. Orang tua mulai mengungkit-ungkit jasanya pada anak, ia mengungkapkan bagaimana susahnya mendidik anak waktu kecil, mengganti popok, memandikan, menyuapi, dan dengan seperti itu orang tua menjadi pembunuh karakter paling kejam, sedangkan anak menjadi tak berdaya, menjadi mati rasa.

Hal itu akan lebih menyengsarakan tatkala berada di kawasan cinta. Dimana cinta bermula dari kecenderungan rasa. Pekerjaan dan profesi bisa saja disiasati jika orang yang melakukan tidak ada kecocokan dengannya. Tapi dalam ranah cinta, siapa yang bisa menyiasatinya. Dalam urusan pekerjaan ketidakcocokan akan reda begitu kita keluar kantor atau keluar dari jam kerja. Namun cinta, cinta adalah jalinan rasa yang membelit antara dua manusia. Dimana pun berada, kapan pun waktunya, cinta selalu mengiringi hidup manusia. Cinta bermukim dalam jiwa hingga akhir hayat manusia. Siapa yang bisa menyiasati cinta.

Maka orang tua yang mengeluarkan aji-aji paling bangsat itu untuk maksakan kehendak cinta seorang anak, ia telah merubah kepercayaan, keteladanan, dan kebersamaan anak menjadi kebencian yang dalam saat itu juga. Saat itu juga. Kepercayaan, keteladanan, dan kebersamaan anak dengan orang tua akan musnah seketika berganti dengan rasa benci yang tiada duanya. Sedangkan anak hanya akan menerima begitu saja, atau jika melawan dia akan menjadi seorang anak yang terkutuk karena menentang kehendak orang tua. Merupakan sebuah mitos yang sempurna untuk membodohkan dan melemahkan.

Maka mari kita ucapkan bela sungkawa atas yang terjadi pada setiap manusia yang dipaksakan cintanya oleh orang tua. Semoga mereka bisa menyesuaikan diri, bisa membangun cinta meski dengan susah payah. Semoga mereka diberi kekuatan untuk menerima segala kekejaman orang tua yang menggunakan sejata balas budi yang mengerikkan. Dan semoga kekalahan anak dalam bersuara buka semata karena ketertundukannya pada orang tua, namun ia sudah benar-benar berusaha berjuang untuk mendapatkan apa yang mereka harapkan, dengan sekeras-keras usaha.

Dan sebagai calon orang tua, mari kira renungkan hakikat dari kebebasan, kebebasan memilih jalan hidup, kebebasan untuk mencintai, dengan batasan-batasan kebaikan. Anak-anak kita nanti mempunyai kecenderungan sendiri-sendiri, dan beruntung sekali mereka jika kita mempunyai orang tua dengan pengetahuan yang mumpuni dalam mengarahkan jalan hidup mereka. Mengarahkan, dan bukan memaksakan. Sekali lagi, hanya mengarahkan.