Kamis, 29 Desember 2011

Mencari Teman

Toga-toga kami lempar ke atas. Berputar-putar melayang di angkasa. Kami teriakkan bersama, ”Horeee...”. Usai sudah empat tahun kami jejaki sudut-sudut kampus ini. Mulai terbit pagi hingga petang datang. Mulai diskusi, kencan, dan demo berhari-hari. Semua bahagia.

”Bit, kapan mudik?”. seorang teman menggepak pundakku. Aku tersentak.

”Oh, aku, mungkin beberapa hari lagi”.

”Mengapa tergesa pulang? Mau ngapain di rumah?“.

”Yah, sambil menunggu rencana, aku pulang saja“. Aku berpura-pura. Sebenarnya rencana besar sudah mendarah daging di tubuhku.

”Trus, bagaimana denganmu?“.

”Aku mau bergabung di restoran bulekku. Kebetulan di sini bulek punya tiga restoran. Nah, salah satunya aku pegang nanti. Sarjana sastra kan bisa ngapain aja. Jadi sastrawan, kritikusnya, konglomerat, sampai tukang parkir, sah-sah saja. Hahaha....”. kita tertawa riang.

Percakapan siang itu masih terbayang dalam benakku. Bagaimana seorang itu setelah dewasa mencari jalan hidupnya. Seperti ada kanal-kanal lajur kehidupan yang memang tak dapat kita memilih lagi. Dan Ririn, kemarin ia sudah didampingi calon suaminya, habis kuliah langsung nikah. Mungkin itulah yang sering digunjing orang-orang tua, ”Buat apa anak putri kuliah, paling-paling setelah kuliah juga nikah, ngurus keluarga! Habis sudah.”, sehingga sepanjang sejarah tak pernah ada gadis desaku yang kuliah.

Aku sendiri memahami, kampungku membutuhkan sarjana seperti aku ini. Kampungku memang kampungan. Kualitas dan kuantitasnya sungguh terbelakang. Coba bayangkan, sepanjang sejarah, hanya aku yang sampai di ruang perkuliahan. Itupun karena beasiswa orang tidak mampu, bukan biaya sendiri. Anak-anak gadis paling tinggi lulus SMP, setelah itu dikawinkan.  Dan juga anak laki-laki sampai SMA, itupun setelah tamat kembali ke sawah atau mengembangbiakkan ternak. Hanya di situlah ujung-ujung mimpi mereka.

Aku sekarang ini bisa, bagaimana mengelola pemuda dengan potensi besar mereka. Pemuda. Ya, pemuda. Teman-teman seusiaku dan pemuda-pemuda kampungku akan kugerakkan mereka. Akan aku bakar semangat mereka. Akan aku tularkan semua yang kudapat selama kuliah. Beberapa buku yang mudah dibaca sudah aku siapkan dengan menyisihkan sebagian uang saku. Tentang tata desa, motifasi, pengembangan diri, dan ketrampilan home indurstri lainnya. Aku tinggal mengumpulkan teman-temanku dengan membentuk kelompok kreatif.

Aku tak habis membayangkan, betapa gembiranya mereka nanti. Aku akan membawa angin sejuk dunia intelektual untuk perubahan mereka, perubahan kampung kami. Terlebih lagi Hadi, Rukani, Romadhon dan Robi'an yang dulu semangatnya terpangkas kemelaratannya, pasti akan bisa tumbuh kembali. Selain itu ada juga bapak Bimo, guru sejarah yang dulu selalu membangkitkan semangat kami untuk belajar dan terus belajar. Bisa saja nanti pak Bimo sebagai pembimbing kita.

Rem kereta berderit-derit. Kereta berhenti. Peluit petugas stasiun melengking ke setiap celah cendela kereta. Hanya lima orang terhuyung-huyung menuruni kereta itu. Salah satunya aku.

Suasana begitu sepi, tidak seperti hingar bingar kota. Di sana ada dua petugas kereta dan satu tukang ojek yang sedang mangkal dengan joki yang terkantuk-kantuk. Akupun segera tawar menawar harga dengannya.

Perkampungan sudah terlihat. Tak banyak berubah. Rumah-rumah sama seperti empat tahun yang lalu. Tetap bergedong anyaman bambu. Dinding-dinding reyot tetap berdiri condong. Hanya beberapa rumah yang terlihat ditembok. Saat melewati jalan satu-satunya kampung ini, semua orang melihatku. Melambaikan tangan. Anak-anak yang dulu masih menetek, hanya bengong terheran-heran mengapa bapak ibunya melambaikan tangannnya kepada orang asing, pikirnya.

“Sabit! Sabit pulang!” beberapa orang berteriak dan beberapa lagi melambaikan tangannya sebagai sambutan sederhana.

Aku tengok kanan kiri, tak satupun kulihat batang hidung teman-teman. Yang kujumpai hanya anak-anak kecil bermain di halaman rumah dan orang-orang lanjut usia memamah daun suruh di lincak teras rumah. Aku heran.

Sampai di rumah, aku disambut tangis kedua orang tuaku dan kedua adikku yang terlalu dini mengerti tangisan mereka. Aku keluarkan dua mainan untuk adik tersayangku itu. Senang sekali.

Setelah beberapa menit, setelah haru biru pertemuanku dengan keluarga, aku bergegas keluar untuk menemui teman-teman dan segera menjelaskan rencana-rencana yang akan kami lakukan. Rumah teman-teman tidak jauh, karena kampungku hanya sepanjang 600M jalan membentang menghubungakan antara petak sawah dengan petak sawah lainnya.

“Pak, Robi’an dimana?”

“Oh, nak Sabit sudah pulang! Robi’an setahun yang lalu ke Malaysia”.

“Ke Malaysia? Kerja apa pak? Dengan siapa?”.

“Saya juga kurang tau pasti. Kata orang-orang bekerja di proyek bangunan” Bapak Robi’an berkata dengan ragu. “Ia bersama Nak Romadhon”.

“Bersama Romadhon?”

“Ya”

Aku cemas. Aku langsung berlari menuju rumah Hadi. Tak ada orang sama sekali. Hanya kedua adiknya bermain Dakon di pelataran rumah.

“Adik, mas Hadinya lagi ke sawah?”

Kedua bocah itu bengong sebentar. Bertanya-tanya siapa yang dihadapinya.

“Saya Sabit, teman mas Hadi”

“Mas Hadi bekerja di Surabaya” Salah satu dari mereka menjawab dengan sorot kejujuran.

Aku segera berlari ke rumah Rukani. Namun, sebelum sampai di rumahnya, aku bertemu dengan Rurun, teman sekelasku juga. Ia menggendong seorang bayi, dan menenteng anak kecil di tangan kanannya.

“Sabit! Baru datang?”

“Ya. Ini semua anakkmu, Run? Oh ya, temen-temen kita pada kemana?”. Aku menjawab sekaligus bertanya penuh penasaran.

“Iya Bit, ini anakku. Teman-teman kita banyak yang melancong ke kota. Bahkan ke luar negeri seperti si Robi’an dan Romadhon. Juga adik-adik kelas kita sudah banyak yang meninggalkan kampung ini”.

Aku semakin cemas. Hatiku berdetak-detak.

“Trus, siapa yang masih di sini?”

“Hanya aku, Ulfa dan Rukmini. Kita sudah punya momongan semua. Endang dan Safitri bekerja menjadi pembantu rumah tangga di Surabaya”

“Terimakasih ya, aku ke rumah pak Bimo dulu” Aku cepat berlari. Kakiku bergetar. Hatiku tertumbuk-tumbuk.

Aku lihat rumah pak Bimo masih seperti dulu. Cuma agak kusam. Pintunya setengah terbuka. Lincak panjang yang sering kita pakai bermain masih berdiri tegak di teras sebelah kanan. Kusam. Pasti sudah tidak digunakan duduk-duduk lagi.

“Assalamu’alaikum!” Tak ada yang menjawab. Aku langsung masuk saja. Karena saat sekolah dulu rumah ini seperti rumahku dan juga rumah teman-teman.

Sepi sekali. Sarang laba-laba tumbuh dimana-mana. Sempat mengira rumah ini tak berpenghuni lagi. Ketika aku akan berbalik, aku lihat pak Bimo berbaring di atas ranjang bambu sebelah ruang tamu. Beliau hanya menggerak-gerakkan tangannya. Aku mendekat. Pak Bimo terlihat pucat. Tatapan matanya lurus ke depan, sayu. Aku jabat tangannya. Lemah tak bertenaga. Hangat tangannya masih seperti dulu-dulu. Air mata mengucur di kedua pipi beliau. Sepertinya beliau akan bangun dan berucap sesuatu kepadaku. Perut yang berbelit kaus tipis itu memompa udara begitu berat. Air mataku pun meleleh menyaksikan sisa-sisa semangat pak Bimo. Aku tak tahan. Aku segera berlari keluar. Menghirup pekak udara panas berlari menuju gubuk di tengah sawah yang biasa kita jadikan tempat mangkal bolos sekolah beberapa tahun lalu. Air mataku tetap mengucur, dan semakin deras. Aku percepat lariku, seperti mengejar teman-teman waktu sekolah dulu. Aku terantuk batu, berguling-guling di tanah kering. Aku berteriak panjang, “Teman-temaaaaaaaan…..”.

Suamiku, Suami Guruku

Aku bahagia sekali. Dua bulan yang lalu aku menikah. Bukan dengan teman atau kakak kelasku, tapi dengan suami guruku. Hebat bukan.

Sore itu, saat aku menyapu daun-daun kering yang rutuh dari pohon Mahoni di depan rumahku, sebuah mobil Mercy masuk ke halaman rumahku. Aku sedikit terheran. Baru kali ini batik roda mobil mewah mengukir halaman rumaku yang masih berupa tanah ini. Siapa gerangan! Aku bertanya dalam hati.

“Assalamu’alaikum!” seorang tua berkopyah, tinggi besar keluar dari mobil itu.

“Wa’alaikum salam”. Ayahku menyahutnya dari dalam rumah dengan berjalan menuju ke teras rumah.

Mereka bersalaman. Sepertinya sudah lama akrab. Kemudian seorang ibu-ibu keluar dari mobil. Oh, aku seperti sudah kenal. Ya, itu bu Isti’adah guru agama di sekolah. Aku meninggalkan sapu lidi itu dan bergegas menyalami bu Isti’adah dan mencium tangannya seperti di sekolah. Dan yang salaman dengan bapakku, Kyai Abdul, istri bu Isti’adah. Mereka pun masuk, dan aku melanjutkan pekerjaanku.
***

Malam harinya, aku dipanggil bapak. Bapak duduk di kursi ruang tamu dengan kopinya dan ibu di kursi depannya. Sedangkan aku sendiri duduk di kursi samping bapak dan ibu, di batasi dengan sebuah meja yang membujur di tengah-tengah kami.

“Ulfa!”.

“Ya, pak”.

 “Tadi, kamu sudah tau sendiri Kyai Abdul datang kemari”.

“Ya, pak”.

“Beliau menginginkan kamu”.

“Maksudnya, apa pak?”

“Beliau ingin kamu menjadi istrinya”. Aku kaget. Bingung.

“Tapi itupun juga terserah kamu, nduk”. Ibuku menyambungnya.

Aku kaget. Binggung. Harus bagaimana menjawabnya. Aku hanya diam. Suasana pun hening beberapa detik.

“Menikah itu enak, nduk. Apalagi dengan kyai Abdul. Ia seorang Kyai besar di kampung ini. Juga terhormat”.

Aku masih diam. Aku pandangi langit-langit rumah yang penuh sarang laba-laba. Apa maksudnya kata-kata ibuku tadi.

“Apalagi dengan Kyai Abdul, kalau kamu kesulitan tentang pelajaran sekolah atau mengerjakan tugas rumah dari sekolah tingal tanya sama beliau. Beliau kan pintar”.

Memang benar, kyai Abdul itu orang yang pintar. Dan selama ini kalau aku kesulitan mengerjakan tugas sekolah pasti bapak ibuku tidak bisa membantu Dan aku harus ke rumah temanku yang cukup jauh dari rumah untuk bertanya.

“Dan juga, kalau kamu pengen beli-beli buku tinggal minta tinggal ke suami. Kan suami yang menanggung semua kebutuhan istri”. Ibu meneruskan.

Memang, kalau aku ingin membeli buku-buku sekolah aku harus menunggu sampai bapak punya cukup uang. Tak jarang, satu sampai dua minggu. Apalagi saat awal tahun ajaran sekolah sekarang ini, pasti lebih banyak harus beli buku.

“Menjadi istri itu bagaimana sih, bu?”.

“Menjadi istri itu ya seperti ibumu itu. Menyapu, memasak, dan belanja ke pasar. Bukankah kamu senang sekali kalau disuruh memasak! Apalagi belanja ke pasar!”.

Aku mengangguk-angguk. Aku lihat ibu, ia tersenyum mendengar jawaban ayahku tadi.

“Tapi aku kan masih sekolah. Bagaimana memasak untuk sarapan pagi? Aku tidak mau berhenti sekolah”.

“Haha… Ulfa, Ulfa. Ya jelas enggak. Kamu jelas tetep sekolah. Sarapan kan bisa dibeli!”. Ayah melegakan kecemasanku.

“Tadi lho, nduk, Kyai Abdul bilang kalau kamu sudah mampu nanti akan dijadikan direkrut perusahaannya itu”.

“Direktur!” ayah memotong kata-kata ibu.

“Ya, pokoknya pemimpin perusahaannya itu. Itu kan membuktikan kalau Kyai Abdul akan menyekolahkanmu sampai tinggi, biar pinter dan nantinya memimpin pabriknya”.

Memang, Kyai Abdul punya pabrik olah tembaga untuk kaligrafi hiasan dinding. Pabrik itu besar sekali. Memimpin pabrik! Bagaimana, ya! Ah, yang penting aku akan sekolah sampai tinggi.

“Oh ya, bu. Kyai Abdul kan sudah punya istri. Bu Isti’adah, guruku di sekolah?”.

“Hahaha…” Bapak dan ibu tertawa bersama. Aku jadi heran.

“Itu malah akan meringankanmu to, nduk. Satu pekerjaan kalau dikerjakan dengan dua orang kan lebih ringan. Umpamanya kalau waktu memasak kamu dan bu Isti’adah yang memasak. Kan lebih ringan”. Ibuku berkata dengan sisa-sisa tertawanya.

“Itu bukan masalah, Ulfa. Pokoknya bu Isti’adah membolehkan suaminya menikah lagi itu sudah bukan masalah. Agama Islam membolehkan umatnya beristri paling banyak empat”.

“Kalau dengan bu Isti’adah, bagaimana?”.

“Ya enggak bagaimana-bagaimana. Kamu dan bu Isti’adah akan semakin akrab”.

"Bagaimana ini sih, bu?"

"Ya tetep terserah kamu to nduk. Yang melakukan juga kamu. Tapi yang pasti kamu nanti ada yang membimbing, Ada yang melindungi dan kamu menjadi tanggung jawab suamimu".

“Nanti kalau aku malu bagaimana?”

“Kenapa to nduk, kok malu. Wong gak nyuri saja kok malu. Kalau menikah itu kan sah. Sesuai adat juga agama. Jadi gak perlu malu”. Ibuku menyahut.

“Tapi, Kyai Abdul kan juga kyaiku. Dan juga putri beliau adik kelasku di sekolah?”.

Dulu, waktu masih Sekolah Dasar, Silvi, putri bu Isti’adah adik kelasku pas. Sedangkan sekarang aku baru saja masuk di kelas satu Sekolah Menengah Pertama.

“Umur itu bukan masalah, nduk. Lebih baik itu orang kalau menikah suaminya lebih tua, karena suami dalam keluarga itu pembimbing istri. Lebih tua lebih baik”. Ibuku menjawab.

Aku mengangguk-angguk.

“Lagian, menikah sekarang atau besok juga sama saja. Hanya berbeda waktu. Kamu besok pasti ingin menikah juga, kan! Besok menikah, atau sekarang, itu sama saja. Nantinya kamu juga pasti menikah seperti orang-orang pada umumnya”.

“Tapi, bapak. Apakah kalau aku jadi istri masih bisa bermain dengan teman-teman?”.

“Ya jelas bisa. Bisa. Asalkan pekerjaan di rumah sudah beres semua”.

Aku jadi teringat, pada hari minggu seperti biasanya sekolahku libur dan aku di rumah atau kadang bermain di rumah teman-teman. Saat aku di rumah diam-diam aku mengamati kegiatan ibu di rumah. Setelah menyiapkan sarapan pagi dan mencuci pakaian, apabila ada cucian, ibu hanya duduk-duduk di kursi ruang tamu sambil menyulam kristik untuk hiasan dinding atau kalau tidak begitu ibu hanya duduk-duduk menonton telenovela di TV. Nah, sangat mungkin pada saat itu aku bermain ke rumah teman-teman, atau juga baca-baca novel dan cerpen kesukaanku. Hmmm… aku tersenyum kecil.

“Ya, pak, bu. Aku mau”.

Bapak dan ibu saling memandang. Mereka tersenyum.
***
           
Pesta pernikahanku dilaksanakan dengan meriah sekali. Mukaku dimake-up cantik sekali. Kedua bibirku memakai lipstik merah muda. Rambutku yang biasa tergerai panjang, kini disanggul dan ditambahi dengan rambut palsu hingga terasa sedikit aneh. Tapi tambah indah. Di atas kepalaku diletakkannya sebuah mahkota berwarna keemas-emasan dengan hiasan mutiara-mutiara yang gemerlap indah sekali. Ketika aku bercermin, aku hampir tak merasa bahwa itu aku. Aku cantik sekali. Seperti para putri ratu yang sering kujumpai dalam komik-komik yang pernah aku baca. Apalagi dengan gaun pengantin yang bermotif batik, aku semakin imut saja. Seperti aku berdandan waktu karnaval memperingati 17 Agustus tahun lalu. Indah.

Rumahku ramai sekali. Tembok-tembok dicat putih bersih dan pita-pita berwarna-warni saling menyambung di atap, tembok, dan beberapa helai membentuk bunga di atas gawang pintu. Rumahku ramai sekali. Baru kali ini rumahku seramai ini. Saudara-saudaraku berkumpul, teman-teman juga datang, dan guru-guru tak ketinggalan. Seluruh tenda yang menjulur sepanjang halaman rumahku penuh dengan para tamu. Meriah sekali. Semuanya tersenyum melihat aku dan Kyai Abdul duduk di atas singgasana pengantin yang penuh ukiran itu. Semuanya tersenyum. Merestui.
***
           
Pertama-tama aku agak kikuk dan kaku dengan Kyai Abdul, eh, suamiku itu. Apalagi dengan bu Isti’adah. Tapi, mereka sangat baik dan sayang kepadaku. Lama-lama aku biasa bergaul dengan mereka. Kita tinggal di satu rumah. Rumah Kyai Abdul besar sekali. Lantainya porselin mengkilap. Selalu bersih. Aku punya kamar sendiri, bercat putih bersih dan cukup lebar. Begitu juga dengan bu Isti’adah, kamarnya tepat di depan kamarku, meski dipisahkan dengan ruang kosong yang cukup luas. Cukup untuk bermain gobaksodor. Hanya ada sebuah pot besar dengan bunga gelombang cinta di tengah-tengahnya. Kamarku dengan kamar bu Isti’adah persis sekali. Hiasan kaligrafi yang tergantung di dinding, bentuk tolet, ranjang, juga warna dan motif selimutnya. Persis sekali. Kyai Abdul punya kamar sendiri, begitu juga dengan Silvi.

Dan benar, apa yang dikatakan bapak ibuku. Aku tetap sekolah, bahkan buku-buku pelajaran sudah aku punyai semua. Aku juga beli buku-buku cerpen dan novel yang sudah aku idam-idamkan dari dulu. Untuk belanja, ternyata tidak sepayah dulu, aku harus mengayuh sepeda lumayan jauh. Kita belanja naik mobil Mercy, atau juga bisa yang lain. Mobil Kyai Abdul ada lima. Kyai Abdul menyetir di depan, aku dan bu Isti’adah duduk di jok belakang. Dan juga tidak belanja di pasar lagi. Sekarang kita belanjanya di mal besar, tidak perlu berjubel dan tawar menawar harga. Untuk urusan masak, ternyata aku tidak perlu masak. Sudah ada beberapa abdi dalem yang membereskannya. Tidak hanya pagi dan sore saja makanan tersedia, tapi selalu ada. Dua puluh empat jam. Begitu juga dengan urusan cuci-mencuci, semua dibereskan abdi dalem.

Pekerjaanku hanya sekolah, mengaji, membaca dan membaca. Membaca terus, aku ingin pintar. Satu novel bisa aku habiskan dalam waktu dua hari. Aku juga jadi jarang keluar rumah. Segala keperluan dibelikan abdi dalem. Aku juga jarang bermain ke rumah teman-teman. Di rumah ini sudah ada segalanya.

Yang masih aku bingungkan adalah memanggil Kyai Adbul ini bagaimana. Juga memanggil bu Isti’adah serta Silvi. Mereka sangat menyayangiku seperti bapak dan ibuku sendiri. Untuk masalah ini aku sungguh tidak bisa memutuskan. Selama ini aku memanggil Kyai Abdul dengan Pak Kyai, begitu juga dengan bu Isti’adah dengan Ibu seperti biasanya di sekolah. Untuk Silvi aku memanggilnya adek, karena aku masih bingung. Ah, nanti saja kalau aku pulang ke rumah, akan ku tanyakan masalah ini kepada bapak ibu di rumah. Yang pasti, saat ini aku senang sekali.

Advokasi Pendidikan Untuk Masyarakat Miskin dan Termarginalkan

Pendidikan memiliki peranan sangat penting dan strategis dalam membangun masa depan bangsa. Kemajuan sebuah bangsa dapat dinilai dari seberapa besar tingkat pendidikan masyarakat di sebuah negara. Pendidikan adalah kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi dan menjadi tanggung jawab negara.

Beasiswa dan Pertanggungjawaban Sosial

            Selama menempuh pendidikan saya tidak pernah mendapatkan beasiswa, dan hanya satu kali mengajukan beasiswa pada semester V saat kuliah di UIN Malang. Itupun saya lakukan tidak dengan keikhlasan yang total, karena dalam pengajuan banyak persyaratan yang seharusnya dilampirkan namun dengan sengaja saya tidak melampirkannya. Diantaranya adalah surat keterangan masih studi dan surat keterangan tidak sedang menerima beasiswa lain. Padahal dua surat itu mudah sekali mendapatkannya, tinggal ke Bag. Akademik dan langsung bisa dibuatkan. Sudah dapat dipastikan, pengajuan itu akhirnya tidak masuk dalam daftar penerima beasiswa.
            Saat itu saya tidak sempat berpikir mengapa tidak begitu bergairah saat mendapat info besiswa atau ketika mengetahui ada kesempatan untuk mengajukan beasiswa. Hanya baru akhir-akhir ini saja saya merenung-renung, ada apa sebenarnya dengan ketidakadanya gairah pada saya untuk mendapatkan beasiswa. Saya sendiri merasa aneh, karena pada umumnya orang selalu berlomba-lomba untuk mendapatkan beasiswa atau bantuan studi.
            Setelah saya telusuri ternyata bagi saya beasiswa adalah memberatkan. Keberatan saya terletak pada pertanggungjawaban setelah menerima beasiswa. Keberatan saya adalah timbal balik dari saya pada pihak-pihak yang memberi beasiswa. Keberatan saya adalah saya belum tentu mampu membalasan budi kepada pihak-pihak pemberi beasiswa.
            Selama ini ada dua instansi selaku pemberi beasiswa, yaitu pemerintah dan perusahaan. Beasiswa tersebut dapat berupa uang tunai, biaya studi, biaya hidup selama proses studi, dan biaya pengadaan peralatan untuk bantuan proposal pengadaan produk penemuan ilmiah. Kalau yang terakhir sudah jelas bahwa secara langsung penerima beasiswa dapat bermanfaat kepada perusahaan atau pemerintah karena ia menciptakan suatu penemuan karya baru yang akhirnya kembali bermanfaat bagi pihak pemberi.
            Sedangkan penerima besiswa dengan uang tunai dan biaya studi tidak dapat dipastikan ia akan kembali bermanfaat pada masyarakat. Hal ini tentu menjadi berbanding berbalik dari tujuan diadakan beasiswa yaitu bagi para penerima beasiswa diharapkan akan bermanfaat bagi kepentingan bersama, karena pada hakikatnya dana beasiswa adalah dari masyarakat bersama.
            Semua orang pasti sudah tahu, bahwa uang negara berasal dari masyarakat, yaitu dari uang pajak yang dibebankan pada masyarakat. Pajak bangunan, pajak penghasilan, pajak kendaraan bermotor, dan lain sebagainya adalah murni dari masyarakat. Sekian banyak uang tersebut digunakan untuk belanja negara, menggaji pegawai dan lain sebagainya, termasuk untuk beasiswa.
Uang pajak dari perusahaan pada hakikatnya dari rakyat juga. Kita contohkan perusahaan rokok yang notabennya perusahaan paling berjasa bagi pemasukan uang negara. Perusahaan rokok bisa menjadi besar karena produknya laku dikonsumsi masyarakat. Semakin banyak penghisap rokok, semakin besar pemasukan perusahaan. Semakin besar pemasukan perusahaan semakin besar pajaknya pada pemerintah. Adalah masyarakat miskin yang paling banyak mengkonsumsi rokok. Setiap sebatang rokok yang dihisap para tukang becak, para gelandangan, para kuli menyumbang Rp. 50 untuk negara. Karena tiap satu batang rokok terbebani PPN sebanyak Rp. 50.
            Jika kita hitung berapa batang rokok yang dihisap oleh kaum miskin tiap harinya, tiap bulannya, tiap tahunnya, kita tentu tak dapat membayangkan betapa besar sumbangsih para kaum miskin terhadap kemajuan bangsa dan negara. Satu contoh ini hanya bagian kecil dari banyak contoh-contoh yang lain. Tak heran jika setiap perusahaan wajib menganggarkan sekian persen dari labanya untuk kepentingan sosial. Anggaran dana tersebut dikenal dengan CSR kependekan dari Corporate Social Responbility.
            Dana CSR dimaksudkan untuk membantu kesejahteraan sosial. Penggunaan dana tersebut dapat diwujudkan dengan pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan-pelatihan, Bhakti Sosial, pembangunan fasilitas bersama, dan kegiatan lain yang berkepentingan untuk kesejahteraan masyarakat. Apabila kita mengadakan acara bersama dan membuat proposal kepada perusahaan tertentu akan diambilkan dari dana CSR tersebut.
            Beasiswa adalah salah satu program perusahaan yang menggunakan dana CSR tersebut, yang pada dasarnya adalah dana diperuntukkan kesejahteraan bersama. Beasiswa dari pemerintah juga demikian. Ia dianggarkan untuk kemajuan masyarakat dalam bidang pendidikan. Pelajar dan mahasiswa yang tidak mampu, pelajar dan mahasiswa yang berprestasi disubsidi dengan uang negara yang dari rakyat guna hari kemudian ia kembali memberikan manfaat bagi kepentingan bersama.
            Dengan kata lain para penerima beasiswa pada hakikatnya adalah dibiayai oleh para tukang becak, para gelandangan, para kuli buruh, petani, pengusaha kecil, pengusaha besar, semua lapisan masyarakat.
            Saya hanya takut, setelah berhasil dengan bantuan beasiswa saya tidak mampu mengabdi pada masyarakat dan pada negara. Kalaupun saya sempat mengabdi, saya tidak yakin hal itu sebanding dengan harapan besar masyarakat akan anak didik yang dibiayai oleh mereka melalui besiswa. Dan saya juga tidak yakin meski saya bisa mengabdi pada masyarakat, namun pengabdian saya dapat melebihi pengabdian kepada sanak famili dan keluarga. Dan lebih takut lagi saya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Pangkal Segala Beasiswa, Allah SWT di akhirat kelak. Saya sangat bersyukur karena selama ini saya tidak pernah mendapat beasiswa, meski dalam diri saya menggebu-gebu untuk mengabdi pada masyarakat.

            Beasiswa bukanlah untuk berfoya-foya, bukan untuk diberikan secara cuma-cuma. Karena di balik beasiswa terdapat harapan besar semua masyarakat untuk membantu mereka kepada kehidupan yang lebih baik. Berani menerima beasiswa berarti berani menerima tanggung jawab berat untuk kemajuan masyarakat. Dan jangan pernah terlupakan -masyarakat miskin- mereka juga turut membiayai beasiswa.

Naskah Drama Anak Judul Raja Angin


Ditulis oleh Mohammad Faizun
dengan harapan memberikan pesan pentingnya gotong royong, digarap untuk pementasan anak-anak dengan penonton dari berbagai kalangan

Seorang anak perempuan duduk sendiri. Ia memikirkan sesuatu, kemudian berkata dengan dirinya sendiri.

Maharani:
Merapikan tempat tidur sudah. Bantu ibu memasak sudah. Menyapu halaman sudah. Mmm, enaknya ngapain ya!
(Tampak memikirkan betul tentang apa yang hendak ia kerjakan)

Maharani:
Enaknya bermain apa ya! Liburan dua minggu lagi! Duuuh, panjang banget liburannya. Tapi, mau ngapain ya! Si Ratih ke rumah neneknya. Si Rukmini, ke rumah pamannya yang di kota. Dan Siska, selalu momong adeknya yang kecil itu. Pasti ia dimarahi ibunya kalau aku ajak main. Enaknya, bermain apa ya!

(Segerombolan anak laki-laki datang bernyanyi dengan membawa layang-layang. Maharani langsung mengumpat di balik semak.. Mereka tampak riang sekali)

Kuambil buluh sebatang
Ku potong sama panjang
Kuraut dan ku timbang dengan benang
Kujadikan layang-layang

Bermain…..
Berlari…….
Bermain layang-layang
Bermain kubawa ke tanah lapang
Hati gembira dan riang

Anak 1:
Waaah, sore ini cerah sekali.

Anak 2:
Benar. Lihat langit itu! Huuu, biru sekali. Betapa indah layang-layang kita nanti di atas sana.

Anak 3:
Ya, layang-layang baruku nanti pasti yang paling indah.

Anak 1:
Memang, layang-layangmu baru?

Anak 3:
Ya iyalah, masak ya iya dong!

Anak 2:
Benar! Coba, aku lihat!

Anak 3:
Ini! (menyodorkan layang-layangnya)

Anak 2:
Hebat. Bagus banget. Warna-warni. Yang membuat kamu sendiri?

Anak 3:
Tau nggak! Ini layang-layang dari Jakarta. hadiah ulang tahunku dari paman.

Anak 2:
Hebat banget dari Jakarta.

Anak 1:
Heh, meskipun layang-layangmu warna-warni, kita lihat saja nanti, layang-layang siapa yang terbang paling tinggi.


Anak 2:
Ah, nggak usah ribut. Sama saja layang-layang itu, yang warna-warni maupun yang tidak. Yang penting kita bisa bermain bersama. Tak ada yang lebih indah dari itu. Kebersamaan.

Anak 3:
Ya, betul. Apa artinya punya layang-layang bagus tapi tidak bisa bermain bersama. Kan nggak bisa rame-rame!

Anak 1:
Setuju! Ayok, kita ke tanah lapang. Langit sudah menunggu layang-layang kita.

Anak-anak:
Tarrrik layang-layaaaang! Bermain…. Berlariii…. (nyanyi)
(mereka hendak pergi bersama. tapi dihentikan oleh maharani yang sejak tadi mengetahui pembicaraan mereka)

Maharani:
Tunggu… tunggu…!

Anak-anak:
(menghentikan langkahnya dan melengok)
Oooo Maharani!

Maharani:
Tunggu teman-teman… aku ikut.

Anak-anak:
Ikut kemana?

Maharani:
Ya menerbangkan layang-layang dong!

Anak-anak:
Hahahaha….


Anak 3:
ya enggak boleh lah… ini kan cowok gitu lhoh! (menirukan gayanya banci)

Maharani:
Uuuh... (sambil cemberut)

Anak 1:
Eh Maharani, kalau anak cewek itu ya main dapur-dapuran sana. Gedrik, apa gobak sodor, engklek, atau yang lainnya gitu. Masak maen layang-layang!

Anak 3:
Hahaha… bisa-bisa tersandung batu, menangis ntar! Owekkk… owekkk…. (mengejek dengan suara tangis bayi)

Anak 2:
Iya Maharani, lebih baik kamu bermain-main sama temanmu yang cewek. Terlalu payah bermain layang-layang itu.

Maharani:
Enggak! Aku mau bermain layang-layang. Bersama kalian!

Anak 1:
Maharani, kamu terlalu lemah untuk bermain layang-layang.

Maharani:
Enggak! Aku mau bermain layang-layang bersama kalian. Aku kuat. Titik!

Anak 1:
Aduuuh… Maharani....

Anak 2:
Sebenarnya kita ini mau bermain sama kamu, tapi permainan yang lain saja ya! Besok pagi kita bermain gobaksodor bersama. Gimana?

Maharani:
Ya, besok pagi kita bermain bersama.

(anak-anak laki-laki tersenyum gembira)

Maharani:
Tapi, sekarang aku tetap mau bermain layang-layang bersama kalian.

(senyumnya langsung terhenti)

Anak 1:
Aduuuuh…

Anak 3:
ya.. ya.. ya.. main layang-layang. Terus kalau kamu nanti kepanasan, gimana dong! Jadi iteeeem wajahmu, hiiiii…. Apa tidak takuut!

Maharani:
Enggak, Enggak, Enggaaaak. Aku tidak takut hitam. Pokoknya aku mau bermain layang-layang bersama kalian.

Anak 1:
Maharaniiii, jangan merepotkan kita dong. Nanti kalau kamu kena marah sama nenekmu, bisa-bisa kita juga kena marah.

Anak 2:
Benar Maharani, lagian apa kamu sudah minta izin nenekmu untuk bermain layang-layang?

(maharani berpikir sejenak)

Anak 3:
Oh ya! eh, tau nggak, Maharani, kalau bermain layang-layang itu harus punya layang-layang dan benangnya juga. Emangnya kamu sekarang punya! (sambil menunjukkan layang-layangnya)

Maharani:
Belum. Benang dan layang-layang kalian cuma satu? (cemas, berjalan mondar-mandir)

Anak-anak:
ya iya dong, maunya berapa?

Maharani:
Aduuuh, gimana ya... (lebih cemas, ia berjalan modar-mandir lagi)

anak 2:
Ya sudah, gini aja, setiap sore kita selalu bemain layang-layang bersama. Kamu minta izin nenekmu dulu, nanti baru bermain layang-layang bersama kita.

Anak 1:
Benar. Lagian liburan kan masih panjaaaang…

Anak 3:
Dan, jangan lupa bawa layang-layang!

(maharani hanya mengangguk-angguk)

Anak 2:
Hari semakin sore. Kita tunggu layang-layangmu. Sampai jumpa besok!

Anak 3:
Ayo teman-temaaaan… tarrrik layang-layaaang…

Anal-anak:
yoooook…..

Bermain…
Berlari…
Bermain layang-layang…
(sambil keluar panggung meninggalkan maharani sendiri)
Maharani:
Ah, sekarang aku bilang nenek saja, kalau aku mau main layang-layang bersama teman-teman. (keluar dengan bernyanyi juga)


Bag 2

Di sebuah dapur setengah reyot ada seorang nenek sedang memasak dengan tungku dan kayu bakar

Apinya sudah menyala...
Apinya sudah menyala...
Ambil tungkunya...
Sekarang juga...
Sekarang juga...

Maharani:
Assalamu’alaikum, nek! (langsung menuju nenek dan bersalaman dengan mencium tangannya)

Nenek:
Wa’alaikum salam. weleh weleh…. Darimana saja nduk?

Maharani:
Dari bermain dengan teman-teman, nek.

Nenek:
He.. he.. he.. jadi teringat waktu nenek muda dulu. Paling suka main cublek suweng.

Cublek cublek suweng
Suwenge teng gelender
Aku kedundung gudel
Tak jengkluk lera-lero
Sopo wonge deleake
Sir-sir pong dele kopong
Sir-sir pong dele kopong

(maharani tidak begitu memperhatikan neneknya yang sedang melucu. tampak murung. pikirannya tetap pada layang-layang)

Nenek:
Uhugh.. uhugh… ada apa to nduk, kok kelihatan sedih?

Maharani:
Aku mau bermin layang-layang, nek.

Nenek:
Weleh.. weleh.. cucuku ini aneh-aneh saja.

Maharani:
Apanya yang aneh, nek?

Nenek:
Ya aneh. Perempun kok main layang-layang!

Maharani:
Memang tidak boleh, nek!

Nenek:
(Ragu-ragu) Ya… boleh-boleh saja. Tapi…

Maharani:
Asyiiiiiiiik….

Nenek:
Tapi.. tapi… (belum sempat berkata maharani terlajur memeluk neneknya itu dengan hati gembira. maharani menari-nari ceria. akhirnya neneknya hanya senyum-senyum saja dengan geleng-geleng kepala melihat cucunya)

Maharani:
Mmmm… layang-layang dan benangnya belum punya, nek. (berkata manja)


Nenek:
Aduuh, kebetulan nenek juga tidak punya uang untuk beli layang-layang. (wajah nenek mendadak bersedih)


Maharani:
(maharani berpikir sejenak)
Ya sudah, nek. Untuk layang-layang Maharani akan membuatnya sendiri. Hanya perlu beli kertas dan benangnya saja. Dan itu akan aku ambilkan sebagian uang tabunganku.

Nenek:
Memang, kamu bisa, nduk?

Maharani:
Mmm…. Kecil.
Kuambil buluh sebatang
kupotong sama panjang
kuraut dan kutimbang dengan benang
kujadikan layang-layang...

Nenek:
Cucu nenek memang pinter sekali.

Maharani:
Horeeee… (langsung pergi ke kamar dan segera kembali dengan membawa sebuah celengan. celengan itu dibuka dan diambil sebagian uangnya)

Maharani:
Maharani langsung beli kertas dan benangnya ya nek, sebelum petang.(ia berlari keluar dengan bernyanyi riang… kuraut dan kutimbang dengan benang)

Nenek:
Hmmmm.. anak perempuan jaman sekarang semakin tangkas saja. Ada yang jadi dokter, hakim, sopir, guru, dan lainnya. (memebetulkan letak tunggku kemudian keluar)
Bag 3


(anak-anak bernyanyi bersama dangan menenteng layang-layang masing-masing)
Anak 3:
Wuiiih…. Udaranya mendesir-desir.

Anak 1:
Tak sabar lagi tanganku. Tarik ulur- tarik ulur (memeragakan memainkan benang layang-layang). Ayo, berangkat sekarang!

Anak 2:
Jangan! Kita tunggu Maharani dulu.

Anak 1:
Alaaah, gak mungkin datang dia. Paling-paling tidak boleh sama neneknya.

Anak 3:
Iya.. iya.. ayuk kita berangkat saja!

Anak2:
Kita unggu dulu, 2 atau 5 menit lagi. Siapa tau Maharani sebentar lagi datang.

(tak lama kemudian maharani muncul dengan layang-layang dan segulung benang di tangannya)

Maharani:
Berlari… Bermain… (bernyanyi)
Hay teman-teman….! Bagaimana dengan layang-layangku?

(anak-anak pada bengong melihat maharani yang super tomboy. dia pakai celana. tampak lain sekali)

Maharani:
Kok pada bengong! Ini layang-layangku, bagaimana menurut kalian?

Anak 2:
Wah, bagus banget. Dimana membelinya? (mengambil layang-layang itu dan yang lain ikut mengamatinya)

Maharani:
Sorri lah yau, buat sendiri dong!

(anak-anak terkejut)

Anak 1:
Kamu membuatnya sendiri?

Anak 3:
Hebat banget!

Maharani:
Ya iyalah! Mau apa lagi!

Anak 2:
Maharani, sebelum kita berangkat, apakah kamu sudah bisa caranya menerbangkan layang-layang?

(maharani menggelengkan kepala)

Anak 1 dan 3:
Itu penting.

Maharani:
Ajarin dooong! (manja)

Anak 2:
Siap temen-temaaaan!


Anak 1 dan 3:
Oke! (anak 1, 2, 3 membentuk barisan)

Anak 2:
Ngin, angin ayo datang!

Anak 1 dan 3:
Tariiik… uluuuur… (ketiganya berekspresi menarik dan mengulur benang. bisa juga dengan pantomin)

Anak 2:
Yang, layang cepat terbang!

Anak 1 dan 3:
Tariiik… uluuur…
(diulangi beberapa kali)

Anak 2:
Nah, gitu!

Maharani:
Oke, aku sudah bisa.

Anak 3:
Yok, kita berangkat!

Semua:
Tarrrik layang-layang….

Berlari…
Bermain… (nyanyi dan keluar panggung)


Bag 4

Suasana sunyi. Mereka bertiga masuk dengan menenteng layang-layang masing-masing kecuali Maharani

Anak 2:
Kita turut bersedih Maharani!

Anak 3:
Iya.

Anak 1:
Tapi, bagaimana lagi, semua sudah terjadi.

(maharani hanya diam. cemberut)

Anak 3:
Padahal, layang-layang kamu paling tinggi terbangnya di antara layang-layang kita. Aduuh, sayang sekali ya.

Anak 2:
Rupanya angin sedang iri. Ya, iri Maharani. Karena layang-layangmu terbang tinggi sekali hampir menyentuh langit.

Anak 1:
Maka dari itu angin tiba-tiba berhembus kencang hingga memutuskan layang-layangmu.

Anak 3:
Uh, jahat banget.

Anak 2:
Tapi, bagaimanapun angin, ia sudah banyak menerbangkan layang-layang kita. Kita harus tetap mengahargainya. Mungkin juga angin tidak sengaja berhembus terlalu kencang hingga memutuskan layang-layang mu, Maharani.

Anak 1:
Kita pulang aja dulu. Hari sudah petang.
Anak 3:
Benar.

Anak 2:
Kita tetap menantimu Maharani. Ternyata kamu perempuan yang hebat. Kami menyesal dulu telah meremehkanmu. Ternyata kamu lebih hebat dari kami.

(Maharani mengangguk tanpa berkata apa-apa. kemudian semuanya berpisah, pulang kerumah masing-masing)


BAGIAN 5
(Di dapur, nenek sedang memarut kelapa. Lalu Maharani masuk dengan wajah bersedih)
Maharani:
Nek, maafkan Maharani, nek!

Nenek:
Ada apa, cucuku Maharani?

Maharani:
Maafkan Maharani, nek. Layang-layang maharani diputuskan angin.

Nenek:
(Meletakkan parut dan berjalan menuju Maharani lalu memeluknya)
Sudahlah, nduk. Ikhlaskan saja layang-layangmu. Ikhlas itu akan menentramkan hati. Besok kita bisa beli layang-layang yang baru.

Maharani:
Aku sayang nenek. (Maharani memeluk neneknya)

Nenek:
Oh ya, cucuku. Nenek baru ingat kalau kita punya biji-biji jagung yang bisa dijual ke pasar untuk membeli layang-layang.

Maharani:
Oh, benar, nek!

Nenek:
Benar, sayangku. Tapi kita harus menunggu biji jagung itu kering. Mari kita tengok, siapa tau bioji-biji jagung itu sudah kering, biar besok bisa kita jual ke pasar.

Maharani:
Nenek baik. Aku sayang nenek. (Maharani mencium nenek)

 (Maharani dan nenek keluar. Tak lama kemudian dari dalam panggung terdengar jeritan)

Maharani:
Angin benar-benar jahat. Ia menumpahkan biji-biji Jagung yang dijemur di atas atap rumah. Lalu ayam-ayam datang dan memakannya.

Nenek:
Sabarlah, nak. Ikhlaskan saja. Karena ikhlas akan melapangkan dada.

Maharani:
Tapi, nek. Maharani ingin bermain layang-layang bersama teman-teman. (Maharani masih cemberut)

Nenek:
Oh iya, di kebun nenek masih punya satu pohon pisang yang hampir matang. Kalau sudah matang, dan nanti kita jual ke pasar untuk membeli layang-layang.

Maharani:
Benar, nek. Aku sayang nenek. (Maharani memeluk nenek, meski wajahnya masih cemberut)

BAGIAN 7
(Suara hujan disertai angin kencang lalu berhenti)

Maharani:
(Maharani keluan membawa sebuah tongkat. Kepalanya diikat dengan kain)

Angiiiiin... kau telah merobohkan pohon pisang nenek. Kau telah menumpahkan biji-biji Jagung. Kau telah memutuskan layang-layangku. Kau nakal. Kau tidak bisa dibiarkan. Aku akan mencarimu ke hutan. Aku tidak akan menyerah.

(Maharani berjalan mondar-mandir di panggung seakan ia menelusuri hutan lebat, menyebrang sungai, dan bernyanyi bersama burung-burung) panggung gelap.

BAGIAN 8
(Raja Angin tampak. Ia seekor ular besar. Kalau memadai, ular bisa berupa rentetan anak-anak)

Raja Angin:
Sssss.. Sssss.. Sssss.. (Raja Angin sedang tidur)

Maharani:
Ngin angin cepat bangun. Aku datang menyapamu...
Ngin angin lekas bangun.. Aku datang menantangmu...
(Bernyanyi dengan nada Unyil Usrok)

Raja Angin:
Huuuaaaah.. (menguap)

Hutanku rindang hatiku riang
Burung bernyanyi di pagi hari
Wahai anak tanpa diundang
Perlu apa datang kemari?

Maharani:
Pagi hari tampak mentari
Sinari bunga berseri-seri
Raja Angin yang baik hati
Aku datang menuntut rugi

Raja Angin:
Hahaha... siapa namamu, anak kecil?

Maharani:
Namaku Maharani. Aku datang kemari mau minta ganti rugi.

Raja Angin:
Hahaha.. Ganti rugi! Hahaha..

Maharani:
Raja Angin, kau telah memutuskan layang-layangku. Menumpahkan biji Jagung, dan merobohkan pohon pisangku.

Raja Angin:
Hahaha....

Aku angin hanya berhembus
Meniup awan di atas sana
Kalo soal layangan putus
Bukan aku penyebabnya

Maharani:
Pergi ke ladang menanam kacang
Kacang tanah membuat kenyang
Kau berhembus terlalu kencang
Robohlah juga pohonku pisang

Raja Angin:
Tidak.. aku tidak mau menggantinya..
Hahaha...

Maharani:
Kalau kau tak menggantinya, aku akan memaksamu.

Raja Angin:
Hahaha... seorang anak kecil.. memaksa Raja Angin..
Hahaha... Akan kumakan kamu..

(Lalu Raja Angin bergerak berputar mengitari Maharani sehingga ia terkepung oleh tubuh Raja Angin)

Maharani:
Tolooong.. tolooong...

(Teman-teman Maharani datang. Membentuk formasi mengeluarkan Maharani dari cengkraman Raja Angin lalu berkelahi bersama Maharani melawan Raja Angin. Akhirnya Raja Angin kualahan tak kuat menahan geli ujung tongkat yang menggelitik di perutnya)

Raja Angin:
Huahuahua.... Ampuuun.. ampuuuun...

Maharani:
Hentikan teman-temaaaaan!
(Mereka langsung berhenti menggelitik Raja Angin)

Raja Angin:
Ampuuun... Kalian memang anak-anak hebat. Baiklah, akan aku ganti semua barang yang aku rusak. Ambillah bungkusan di ekorku ini. Bawalah pulang dan gunakan dengan baik.

Maharani dan teman-teman:
Horeeeee....

Raja Angin:
Sudah. Sudah selesai persoalan kita. Aku akan meneruskan tidurku.

Maharani dan teman-teman:
Terimakasih Raja Angin..

(Raja Angin meliuk-liuk keluar)

Maharani:
Wah, terimakasih banyak ya, teman-teman. Kalau tidak ada kalian aku bisa termakan Raja Angin.

Anak 1:
Ya, inilah persahabat sejati. Kita saling menyayangi, saling membantu, dan saling bersama-sama dalam kebaikan.

Anak 2:
Ya, aku setuju. Kalau sendiri saja akan lemah, tapi kalau kita bersatu akan kuat.

Anak 3:
Ya, itulah indahnya kebersamaan. Indahnya persahabatan.

Maharani:
Ayo, teman-teman, kita bermain layang-layang lagi!

Anak 1, 2, dan 3:
Tarrrik layang-layang...

(Bermaiiin.. Bermaiiiin.. bermain layang-layang... dst. Keluar. Panggung gelap)


SELESAI