Jumat, 26 April 2013

Lirik dan Makna Lagu Anyam Anyaman Nyaman Karya Sujiwo Tedjo

Dulu, jauh-jauh hari saya merencanakan akan menyematkan lirik lagu Anyam-anyaman karya Sujiwo Tedjo di undangan pernikahan. Sebab lagu itu bagi saya bagus sekali dalam mendeskripsikan indahnya pernikahan, terutama liriknya yang berkelindan saling sahut menyahut antara satu kata dengan lainnya membentuk sebuah irama yang harmonis dan meriah penuh kebahagiaan.

Pada umumnya, sebagai muslim biasanya menyematkan hadist maupun ayat Al-Qur'an yang berisi tentang pernikahan. Hadist maupun ayat al-Qur'an yang menjelaskan pernikahan masih bersifat umum. Atau barangkali secara tekstual sangat legal formal. Misalnya hadis yang biasa disematkan dalam undangan adalah yang diriwayatkan oleh Abu Said, yaitu: “Sesungguhnya, apabila seorang suami memandang isterinya (dengan kasih & sayang) dan isterinya juga memandang suaminya (dengan kasih & sayang), maka Allah akan memandang keduanya dengan pandangan kasih & sayang. Dan apabila seorang suami memegangi jemari isterinya (dengan kasih & sayang) maka berjatuhanlah dosa-dosa dari segala jemari keduanya” (HR. Abu Sa’id)

Atau semisal dari ayat al-Qur'an, “Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (Ar-Ruum 21)

Hadist dan Ayat al-Qur'an tersebut perlu dijelaskan lagi untuk sampai pada wujud kebersamaan antara suami dan istri. Misalnya dalam memahami kata "kasih sayang" antar keduanya, kita tentu memerlukan kajian lebih jauh, sehingga akan tampak dalam perwujudan perilaku maupun sikap. Nah, bagi saya lagu Anyam-anyaman tersebut bisa menjadi penjelas yang lebih mengerucut dari ayat-ayat al-Qur'an maupun hadist Nabi yang biasa dikutip pada kertas undangan pernikahan.

Secara umum lagu Anyam-anyaman berisi tentang riuh ramainya pesta pernikahan sekaligus filosofi pernikahan dari simbol rangkaian bunga melati putih yang pasti ada di dalam acara Walimatul Ursy. Untuk lebih jelasnya mari kita kupas, kita preteli kalimat, frasa, dan kata demi kata dari liriknya. Pertama kita simak dulu liriknya secara total:

Anyam-anyaman
(Oleh Sujiwo Tedjo)

Anut runtut tansah reruntungan
Munggah mudhun gunung anjog samudra
Gandheng rendhengan jejering rendheng
Reroncening kembang
Kembang temanten

Mantene wus dandan dadi dewa dewi
Dewaning asmara gya mudhun bumi

Ela mendhung, bubar mawur, mlipir-mlipir, gya sumingkir
Mahargya dalan temanten
Dalanipun dewa dewi

Swara trompet, ting celeret, arak-arak, sigra-sigrak,
Datan kendat, anut runtut, gya mudhun bumi...

Kata kunci dari setiap hubungan suami dan istri yang harmonis adalah "anut runtut tansah reruntungan". Kalimat itu berarti selalu ikut-mengikuti dan selalu bersama-sama. Kata reruntungan bisa diartikan selalu bersama. Dalam bahasa jawa; Ngglibet. Kemana pun dan bagaimana pun selalu berdua. Kebersamaan tersebut bukan secara fiskal, namun dijelaskan pada baris berikutnya, "munggah mudhun gunung anjog samodra", yaitu naik turun gunung hingga ke samodra. Naik gunung berarti pada saat-saat dimana kesulitan datang menerpa, dan turun gunung bisa dimaknai ketika sepasang suami istri tersebut dimanjakan oleh rasa bahagia, hingga ke samudra. Samudra berarti keluasan dunia. Artinya suami dan istri harus bersama-sama di saat duka maupun suka selama hidupnya.

Untuk dapat mewujudkan kebersamaan dalam menjalin hubungan, Erich Fromm merumuskan empat elemen cinta. keempat elemen tersebut dilakukan secara bertahap mulai dari mengetahui, memahami, menghormati, dan bertanggung jawab. Mengetahui pasangan merupakan awal dari sebuah kebersamaan. Mengetahui di sini dalam artian mengetahui secara detail, semisal mengenai kesukaannya dan yang tidak disukainya, mengenai karakternya, dan sebagainya. Dengan pengetahuan mengenai pasangan, seseorang bisa melangkah ke tahap berikutnya, yaitu dapat memahami. Misalkan pasangan kita tidak suka dengan hal tertentu, kita bisa menghindarkannya dari hal tersebut. Begitu pula sebaliknya dengan sesuatu yang disukainya.

Setelah kita bisa memahami lantaran kita mengetahui pasangan kita, maka tahap selanjutnya adalah kita dapat lebih mudah untuk menghormatinya. Kita bisa menghormati pasangan sebagai manusia yang memiliki karakter yang unik dan berbeda dengan lainnya. Manusia dengan kecenderungan-kecenderungan yang tidak sama dengan lainnya. Dengan demikian toleransi antara pasangan akan terbangun dengan baik. Setelah kita bisa menghormati pasangan, akan tumbuh rasa tanggung jawab terhadapnya. Bertanggung jawab mengemban tugas sebagai suami bagi laki-laki, dan sebagai istri bagi perempuan. Ketika empat elemen itu diterapkan dalam keluarga, maka suami istri dapat reruntungan, selalu bersama-sama dalam keadaan sedih maupun suka.

Kebersamaan itu oleh Sujiwo Tedjo diumpamakan sebagai mana karangan bunga pengantin. "Gandeng rendengan jejering rendeng", yang artinya bergandeng-gandeng saling berjajar bergandengan, "Reroncening kembang, kembang temanten", bagai jalinan bunga pengantin, yaitu jalinan atau rangkaian melati putih yang digunangan untuk kalung pada mempelai laki-laki maupun perempuan. Di situlah sebenarnya makna dari jalinan bunga yang dipakai setiap mempelai pengantin. Melati melambangkan kebahagiaan, dan kebahagiaan itu harus dijalin dan digandengkan  menjadi satu rangkaian yang menghiasi mempelai berdua, menghiasi kehidupan keduanya.

"Mantene wis dandan dadi dewa-dewi/dewane asmara gya mudhun bumi", pengantinnya sudah berias menjadi dewa-dewi. Dewa-dewi merupakan simbol keagungan, kemuliaan, dan kehormatan. Dengan seperti itu "Dewane asmara gya mudhun bumi", dewa asmara telah turun kebumi. Asmara dua mempelai yang sudah terjalin pada saat itu turun ke bumi. Keagungan asmara menghampiri dua mempelai dan orang-orang yang datang padanya, maka saat itu keberkahan turun ke bumi.

"Ela mendhung, bubar mawur, mlipir-mlipir, gya sumingkir/mahargya dalan temanten/dalanipun dewa-dewi", ini adalah deskripsi dari keagungan sebuah pernikahan. Mendung saling bertebaran, saling menyingkir karena terbentangnya jalan pengantin, yaitu jalannya dewa-dewi. Semua kesulitan dan rintangan yang menghadang akan tersingkirkan dengan kebersamaan suami istri. Semuanya akan diselesaikan berdua, saling gotong royong, dan saling melengkapi setiap kekurangan masing-masing.

Gegap gempitanya kebahagiaan pernikahan juga terdeskripsikan dengan lirik, "Swara trompet, ting celeret, arak-arak, sigra-sigrak/Datan kendat, anut runtut, gya mudhun bumi...", Suara terompet saling sahut menyahut di udara, pawai pengikut pengantin saling berbahagia. Terompet merupakan simbol kemeriahan dari kebahagiaan. Semuanya bahagia, saling ikut mengikuti turun ke bumi. Pada hari itu curahan rahmat Allah Subhanahu wataala digelontorkan kepada setiap yang hadir dalam acara agung Walimatul Ursy. Oleh karena keagungan resepsi pernikahan, Islam mewajibkan mendatangi undangan Walimatul Ursy, sebagaimana disunnahkannya memakan hidangan makanan dan minuman di dalamnya.

Begitulah keindahan pernikahan dalam lirik lagu Anyam-anyaman. Sesuai dengan judul lagu, "Anyam-anyaman" berarti jalinan atau pilinan. Sepasang suami istri harus saling memilin antara keduanya. Dalam kondisi bagaimanapun mereka harus bersatu merasakan beban kehidupan dan kebahagiaan kehidupan dengan bersama-sama. Namun sayang sekali, lirik tersebut gagal saya sematkan di kertas undangan, lantaran bentuk undangan yang sesuai dengan lirik itu habis, dan saya harus menggantinya dengan yang lain.

Catatan tambahan:
Pada kamis malam 27/07/2018 saya menghadiri acara Mengaji Indonesia  di IAIN Tulungagung. Dalam acara tersebut salah satu pembicara adalah Sujiwo Tedjo. Pada sebuah sesi setelah menyayikan Anyam-anyaman, dia menjelaskan banyak orang yang salah paham dengan makna lagu tersebut yang mengartikannya sebagai deskripi pernikahan. Menurutnya, lagu itu mengungkapkan kemesraannya bersama Tuhan.

Pada malam harinya saya angan-angan lagi, saya baca lagi lirik Anyam-anyaman. Saya gali kata mana yang menjadi kata kunci adanya Tuhan dari sekian baris lirik. Secara fiskal memang tidak ada nama yang menyatakan adanya Tuhan dalam lirik tersebut, begitu juga ketika kata-kata tersebut saya rinci kemungkinan-kemungkinan konotasinya. Namun setelah berulang-ulang saya berkesimpulan, bahwa kemesraan Tuhan dengan mbah Tejo dalam lirik itu rupanya berupa penyatuan sang pelantun lagu dengan Tuhannya. Yang dimaksud dengan kemesraan adalah penyatuan. Penyatuan tersebut disimbolkan sebagai sepasang mempelai yang dalam prosesi pernikahan selalu berdamping dan bergandeng tangan.

Akankah kemesraan sepasang pengantin (mbah Tejo dan Tuhannya) akan langgeng abadi hingga akhir hayat. Semoga saja mbah Tedjo tetap istiqomah dalam melakukan dan menebar kebaikan. Amin

Kamis, 14 Maret 2013

Ideologi Vespa Ekstrem

Vespa ini saya beli dua tahun yang lalu, atau sekitar akhir tahun 2011. Meski sebenarnya sudah lama sekali berkeinginan untuk mempunyai Vespa Ekstrem, tapi pada saat itu baru terealisasikan. Vespa Ekstrem merupakan salah satu aliran modifikasi Vespa dengan berciri khas mengalami perubahan sedemikian rupa pada bentuk bodi hingga tampilan ke-Vespaan-nya hampir tidak terlihat.

Modifikasi Vespa di Indonesia sangat banyak dan beragam. Dari ragam modifikasi tersebut yang masuk dalam kategori ekstrem adalah Vespa Sampah (Gembel), Vespa Rosok, Vespa Cooper, Vespa Trikel, Vespa modif mobil, Vespa Ceper, Vespa Panjang, dan lain-lain.

Aliran gembel mengangkat tema kumuh, di setiap sudut bodinya terdapat sampah sehingga jika berjalan layaknya bak sampah berjalan. Aliran Rosok adalah aliran yang mengangkat tema bernuansa tak terpakai. Bisanya Vespa Rosok mempunyai kesan karatan, keropos, penuh debu, seperti motor tua yang lama tidak terpakai. Ada pun Aliran Cooper cenderung pada mode gost rider. Sedangkan aliran trikel adalah aliran Vespa beroda tiga.

Pada dasarnya, aliran-aliran modifikasi ektrem tersebut merupakan wujud dari terapan ideologi perlawanan ideologi kapitalisme dan budaya pop pada ranah otomotif. Menurutnya, untuk tampil necis itu tidak harus mewah dan baru. Tampil keren itu bisa dibangun dengan kreatifitas sendiri dengan memanfaatkan barang-barang bekas tanpa membeli baru. Maka tak heran jika modifikasi Vespa dengan aliran-aliran tersebut menggunakan barang-barang bekas sebagai assesoris untuk bahan modifikasi. Dengan kreatifitas diri, maka para scoteris ektrim, rosok dan gembel, tidak bergantung pada produk kapitalis.

Selain tidak membeli produk kapitalis, juga menerapkan kepribadian yang mandiri, melepas ketergantungan dengan pihak lain, dan menggunakan daya akalnya untuk mengatur serta membentuk Vespa sehingga tampil unik. Menciptakan kreatifitas sendiri untuk kepuasan sendiri. Menciptakan hiburan sendiri merupakan tradisi yang menganut budaya leluhur nenek moyang kita, dimana dulu mereka tanpa bergantung dengan orang lain mampu membuat dirinya dan orang-orang di sekitarnya terhibur. Seperti pada tembang dolanan, tebak-tebakan, dan permainan tradisional yang kesemuanya itu diolah dan dihasilkan dari pemikiran jenius dan kreatifitas tingkat tinggi sebagai hiburan dan pendidikan yang arif.

Maka sekuteris sejati penganut aliran tersebut bukanlah orang-orang yang mudah tersirap, mudah kaget dan gagap dengan hal-hal baru. Tidak mudah termakan slogan-slogan kapitalis yang dikemas dalam iklan-iklan produk. Mereka selalu menimbang, apakah hal baru tersebut benar-benar membawa perubahan kepada kebaikan, ataukah hanya sebagai luapan-luapan emosi hampa keikut-ikut sertaan dalam gegap gempita dunia yang diciptakan oleh iklim kapitalis.

Berangkat dari paradigma tersebut saya membeli Vespa Ekstrem. Vespa tersebut sudah menghantarkan saya ke perbagai pelosok kota di Jawa. Malang, Mojokerto, Nganjuk, bahkan sampai Jogja. Keliling kota ke kota dengan tanpa surat-surat. Adapun surat-suratnya yang tidak taat pajak memang disengaja, karena pajak hanya akan menggendutkan para pejabat negara dan semakin menggilakan mereka untuk menginjak-injak rakyat.

Vespa tersebut dipangkas dari bentuk standarnya, lalu panjang lantai ditambah sekitar 30 cm. Stang setir dari pipa-pipa air, ditambah tangki yang dirancang khusus, dan shok depan bekas punya honda CB. Plat-plat tambahan dari barang-barang yang sudah tidak terpakai, diolah, diramu, digabungkan menjadi sebuah sepeda motor nyentrik. Dikerjakan oleh kaum ploletar, para tukang las dan tukang rosok. Berikut foto dari masa ke masa:

Di KM Nol Jogjakarta

Di depan markas home shcooling Aliansi Masyarakat Miskin Malang.

Di depan gapura Ponpes Tebu Ireng Jombang, dimana Gus Dur disemayamkan.

Di perjalanan Ngantang Malang

Ditunggangi sastrawan dan penulis Riza Multazam Luthfi

Di tepian Malioboro.

Jumat, 08 Februari 2013

Pengakuan

Berdiri di depan pintu aku masih ragu. Pertanyaan yang aku peram beberapa tahun ini masih saja bergelayut dalam alam pikir. “Apakah permintaan maaf atas suatu kesalahan itu harus dijelaskan tentang kesalahannya?”. Akan tetapi, pada setiap hari raya hanya bersalaman kemudian meminta maaf atas segala kesalahan yang kita lakukan tanpa menjelaskan satu-satu apa saja kesalahan itu. Memang sulit untuk mengingat-ingat setiap kesalahan kita, tentu karena kesalahan kita pada orang lain tak terbilang banyaknya. Namun, untuk kesalahan yang cukup besar apakah semudah itu kita meminta maaf, sebagaimana semudah bersalaman ia mau memaafkan kita. Sedang di hari yang fitri ini aku sudah berdiri di depan pintu rumahnya.

Bertahun-tahun, setiap akan menjelaskan kesalahan itu selalu aku urungkan. Aku selalu yakin kalau dengan meminta maaf padanya saat Idul Fitri tiba dengan mengucapkan permohonan maaf atas segala salah itu bisa menghapus semua dosa kesalahan yang pernah aku lakukan. Pada suatu saat kemudian aku jadi ragu bahwa kesalahanku itu benar-benar sudah dimaafkannya, mengingat begitu jengkel dan kecewa ia pada kesalahanku beberapa tahun lalu. Lalu aku jadi berpikir kembali untuk mengatakan sejujurnya dan sejelasnya tentang kesalahan itu di hari raya berikutnya. Aku harus bersabar. Namun setahun kemudian pada saat Idul Fitri tiba, kejelasan dan kejujuran yang ingin aku utarakan itu belum kesampaian juga karena keyakinanku meminta maaf di hari yang fitri akan menghapus segala dosa. Hal itu berulang beberapa kali hingga hari ini, di mana aku sudah berdiri di depan pintu rumahnya.

Kesalahan itu bagiku cukup besar. Pada saat musim layang-layang, aku bersama teman-teman menerbangkan layang-layang tak jauh dari rumah. Seperti biasa, sepulang sekolah madrasah kami saling menghampiri untuk berangkat bersama menuju arena penerbangan layang-layang; sawah.

Masih tergambar sekali dalam ingatanku, layang-layangku waktu itu orang-orang menamakannya kapal-kapalan. Dimana layang-layang itu berbentuk kapal terbang, dengan baling-baling di moncongnya dan baling-baling itu menghubung ke sebuah kaleng bekas yang diikat di tubuh layang-layang yang berbentuk balok dengan rongga di tengahnya sehingga jika berputar berbunyi “tok.. tok.. tok”.

Layang-layang yang cukup besar untuk usia kelas 5 SD itu untuk memulai menerbangkannya tidak cukup dengan angin yang berhembus, tapi perlu ditarik sambil berlari untuk bisa mengangkat layang-layang itu ke angkasa. Hal itu itu tidaklah sulit bagi kami yang sudah tertanam sikap gotong-royong. Dengan satu teman yang merelakan tenaga dan waktunya untuk memegangi layang-layang lalu kita menariknya dengan benang yang sudah terolor berpuluh meter itu kapal-kapalan bisa langsung mengangkasa.

Dan itulah yang aku lakukan pada sore itu. Dengan layang-layangku dipegangi seorang teman, saat angin datang berhembus, aku-pun berlari menarik benang layang-layang itu. Namun, “brak!” aku terjatuh bergelimpungan di pematang sawah. Kapal-kapalanku mendarat darurat. Belum aku bangkit dengan sempurna, seorang kakek tua datang dan mengumpat.

“Heh, anak! Mata kamu taruh mana?” ia berkata sambil menunjuk seember obat tanaman yang berhamburan di sekitarku.

“Maaf, pak. Saya tidak melihatnya”

“Tidak melihat, tidak melihat! Mata kamu taruh mana, ha?”

Aku gemetaran berlumuran rasa takut yang hebat.

“Maaf, pak. Saya tidak tahu”

“Tidak tahu, tidak tahu! Ayo cepat, beresin! Dodol!”

Dengan jari-jariku yang masih kecil saat itu, aku memunguti obat tanaman yang berserakan di tanah dimasukkan ke ember yang aku tabrak itu.

Teman-teman hanya bisa melihat. Mereka takut untuk membantu, takut terkena caci maki. Dengan hati gusar akhirnya selesai juga aku menghimpun yang tercecer dalam satu ember. Tentu di tanah masih ada butiran-butiran putih itu yang tidak bisa dipungut lantaran sudah bercampur dengan lumpur.

Sore itu bermainku jadi kacau. Panas dadaku masih saja menekan hingga merah senja menyala di balik gunung. Untuk mendinginkan, aku sumpal saja aliran parit yang mengaliri petak sawahnya. Tentu setelah si kakek yang masih tetanggaku itu sudah pulang. “Biar tau rasa”, aku berkata dalam hati.

Dikeesokan harinya, di sore yang sama, layang-layangku sudah mengangkasa. Bunyi “tok.. tok.. tok..” itu terdengan cukup nyaring dari bumi. Terlihat si kakek berjalan terhuyung menuju sawahnya. Tak lama kemudian, ia tahu kalau parit kecil yang mengaliri sawahnya terbendung dengan tembok lumpur. Seraya ia memaki-maki tanpa tujuan lantaran sawahnya cukup kering untuk tidak diairi semalam sehari. Aku tersenyum puas saat itu.

Tidak hanya itu, sakit hatiku belum berhenti di situ. Aku sering mencuri ketela di kebunnya untuk aku bakar bersama teman-teman. Bagi kami ketela curian lebih nikmat rasanya, karena dari mencabut hingga menghilangkan jejak arang serba mengendap-endap.

Sekarang, sudah beberapa tahun, aku ingin mengungkapkan hal itu dengan sejujurnya. Namun di depan pintu aku sudah ragu. Atau lebih tepatnya merasa malu. Sekarang aku sudah dewasa bagaimana jadinya dengan mengungkapkan sikap pecundang masa kecil itu. Ah, aku bertamu saja dulu.

Ia menjawab salamku dengan suara retak. Pandangannya penuh beban. Kerut wajahnya lebih tampak dari beberapa tahun lalu, saat aku membendung sawahnya. Dadanya mengembang-mengempis dengan desis lirih. Dan rambutnya semakin berguguran.

Ia bertanya kabarku, tentang kuliahku. Ia senang mendengar aku belajar tentang agama di perkuliahan. Baginya agama adalah satu-satunya kebaikan di dunia. Aku bertanya tentang sawahnya tentang kebunnya. Ia sudah tidak kuat lagi ke sawah, pandangnya sudah kabur, katanya.

Saat ini aku sudah memasuki tema yang pas buat mengutarakan apa yang seharusnya aku utarakan. Namun lagi-lagi ragu datang membelenggu. Bagaimana jadinya seorang yang sudah sempoyongan ini mencaciku yang kedua kalinya. Jangan-jangan karena emosi terlalu tinggi lalu ia shok dan pingsan. Ah, segera aku tepis perasaan konyol itu.

Dengan setengah kaku, aku ungkapkan pengakuan segala kesalahan yang menyangkut masa kecilku itu. Berawal dari caci makinya di sawah, hingga dendamku yang bertubi-tubi. Aku bercerita panjang lebar hingga detailnya. Sehabis semua terungkap aku seperti berhasil menerbangkan layang-layang waktu itu, lega sekali.

Ia mendengarkan dengan seksama, seperti mengingat-ingat seperti apa peristiwanya. Aku-pun masih sangsi apakah ia masih teringat dengan kejadian itu. Aku sudah siap sedia menerima segala caci maki. Itu tidak seberapa dengan kesalahan yang aku lakukan. Ibarat pencak silat, aku sudah siap kuda-kuda.

“Anggap saja itu tidak pernah terjadi. Aku sudah memaafkanmu dari dulu”. Kakek itu berkata dengan lapang dada.

“Maksud kakek?” Aku keheranan bercampur deg-deg-an.

“Ya, aku sudah memaafkanmu dari dulu.” Kakek berhenti sebentar. “Dari ukuran bekas jari-jari yang tergambar di lumpur yang membendung aliran air itu tampak pelakunya adalah anak-anak. Dan anak-anak yang bermain di sawah siapa lagi kalau tidak kamu, agus, dan lutfi.”

Keteganganku akan kesiapan untuk menampung segala caci maki pudar seketika. Aku mengendor, jadi lemas terharu sama kakek itu.

“Kalian dulu memang anak-anak, tidak secermat sekarang. Pada saat terlihat asap membubung dari tengah ladang singkong, pasti kamu dan teman-teman sedang membakarnya. Singkong itu memang siapa saja boleh mengambilnya. Bahkan kalau mau, kamu bisa meminta sekeranjang buat diolah jadi gatot, getuk, atau kolak.”

Aku semakin terharu. Bahkan sampai sekarang aku tidak menyadari kecerobohan hingga kakek itu sebenarnya sudah tau siapa pelakunya. Aku malu sekali, bukan lantaran kesalahan itu lagi, namun karena aku tidak mengakuinya sejak dari dulu. Sekarang kakek sudah renta sekali, tidak kuat ia pergi ke sawah.

Dalam perjalanan pulang, aku menyesal sekali telah memendam kesalahan bertahun-tahun. Kadangkala aku merasa membenarkan memendam kesalahan itu dengan alasan bersabar menunggu waktu yang tepat. Bersabar, ya bersabar, setiap hatiku ragu atau takut untuk mengakui kesalahan pasti alasan itu mencuat menguasai diri. Dan aku baru tahu sekarang, bahwa bersabarku untuk meminta maaf atas kesalahan, bersabarku untuk mengakui dosa guna menghapusnya itu merupakan bersabar yang keliru. Karena bersabar bukan berarti menunda waktu.

Kamis, 10 Januari 2013

Rahasia Terbesar Laki-laki


Hidup di dunia ini sekali saja. Sungguh merugi kalau tidak bahagia. Dan kebahagiaan itu ada di dalam diri kita. “Lho, lantas di mana posisi Tuhan? Bukankah Tuhan itu yang membawa dan memberi kebahagiaan bagi manusia?,” suatu ketika temanku bertanya. Ya, itu benar. Bahkan Tuhan menyiapkan kesedihan dan kebahagian secara bersama-sama. Kebahagian dan kesedihan ada di setiap hati manusia. Kalau kamu memilih bahagia, tentu kamu harus memilih jalan yang benar.

Aku pun memilih jalan yang benar tentang cinta. Semenjak suka pada wanita, aku selalu berusaha untuk tidak menyakitinya. Berucap dengan ucapan apa adanya, tidak pernah menggunakan perumpamaan-perumpamaan yang membubung ke langit tinggi. Atau kalimat-kalimat manis yang dimaksudkan supaya seorang wanita tertarik padaku. Karena menurutku itu semua adalah kemunafikan. Kenapa, saat di depan yang kita sayangi, suara kita lantas berubah menjadi lirih. Dimerdu-merdukan, seakan kita wibawa, sedang saat berbicara dengan orang di luar kepentingan kita, suara hanya biasa-biasa saja. Bahkan terkesan acuh dan apatis.

Aku lebih suka mengubah isi daripada bungkus. Ketika aku berbicara dengan seorang petani, aku pun membawa tema-tema tentang bercocok tanam dan irigasi. Ketika aku berhadapan dengan polisi, aku berbicara tentang keamanan, kriminal, dan sekitar itu. Begitu pula saat aku berada di sisi orang yang aku sayangi, aku akan berbicara tentang harapan-harapan ke depan, keinginan yang ingin dicapai, dan model keluarga yang didambakan. Pembicaraan-pembicaraan itu dengan nada yang sama, tidak lebih halus antara satu sama lainnya.

Di sisi lain, aku lebih suka melakukan sesuatu ketimbang membicarakan sesuatu. Memberi kekasih bunga, mengantar kuliah, mentraktir, bagiku itu lebih jujur ketimbang ucapan sayang, rindu, madu, manis, cantik dan lainnya. Bukan berarti tak pernah berucap, hanya saja dominasi perbuatan lebih banyak ketimbang ucapan.

Agak aneh memang ketika ada gagasan bahwa bicara dapat mengubah hidup seseorang. Begitu juga ada teori kesantunan berbahasa, yang mana lebih dititikberatkan pada perubahan nada dan intonasi dalam percakapan saat kita menghadapi perubahan objek pembicara yang berbeda. Bagaimana harus bicara dengan orang tua, bagaimana bicara dengan istri, bagaimana bicara dengan tetangga, teman dan lain sebagainya dengan intonasi yang berbeda-beda. Saya berbicara di manapun, dengan siapa pun, kapan pun, dengan nada sama. Tidak halus juga tidak kasar, tapi perpaduan antara keduanya.

Kejujuran akan cintaku itu ternyata membuahkan hasil yang luar biasa. Saya sekarang sudah punya seorang istri cantik dan tiga anak. Anak pertama laki-laki, saya beri nama Sabit. Anak kedua perempuan saya beri nama Putri. Dan anak ketiga laki-laki, saya beri nama Rimbun. Pekerjaan saya juga mapan, menjadi dosen di sebuah universitas dan mempunyai usaha kedai Sop Buah. Dua sumber rejeki itu lebih dari cukup untuk sekadar menghidupi lima anggota keluarga kami. Bahkan masih bisa menyisihkan untuk mendirikan pusat belajar masyarakat sekaligus pusat bermain anak-anak di kampung kami.

Saya juga masih bisa menyempatkan untuk mengunjungi tempat-tempat wisata pada akhir bulan. Bulan kali ini saya dan keluarga mengunjungi Pantai Karanggongso di daerah Trenggalek. Pantai yang saya anggap paling aman untuk bermain anak-anak. Karena tepi pantainya terdapat perairan dangkal sekitar tiga ratus meter ke tengah laut. Pasirnya putih, dan karang-karang tajam sangat jarang sekali. Ketiga anak kami bermain air, dan yang paling besar, Sabit, selain bermain juga bertanggungjawab menjaga adik-adiknya. Sedang saya dengan istri mengamati mereka dari kejauhan sambil duduk-duduk santai di atas pasir dibayangi nyiur daun kelapa.
“Pa, lihatlah anak-anak kita yang lucu-lucu itu, apa perlu ditambah lagi?” Istri saya tiba-tiba bertanya sembari membelah buah semangka di atas tikar. Bayangan daun kelapa bergerak-gerak di atasnya.

“Emm, mengalir saja. Seandainya dikaruniai lagi, baik juga.” Saya menjawab diplomatif.

“Pa, apa anak-anak itu termasuk kebahagiaan yang paling besar?”

“Ya, tentu donk.” Kami diam sejenak dan memandang anak-anak kami yang sedang bermain air laut. Sesekali teriakan-teriakan kecil meloncat-loncat di antara riak ombak.

“Kalau istri seperti aku ini?” Tiba-tiba istriku mengarahkan pertanyaan tentangnya. Seperti anak-anak yang tak mau kalah saja. Saya terhenyak sebentar. Aku pandang istriku, ia juga memandangku dan tersenyum.

“Istri yang baik, dan anak-anak yang baik adalah kebahagiaan yang besar.” Aku pun menjawabnya dengan tulus. Memang karena keduanya merupakan anugerah yang tiada tandingannya.

Ia tertawa kacil, lalu mendekatiku dan menyodorkan irisan-irisan semangka di atas piring. Warnanya merah sekali, dengan biji-biji putih sebagai ciri khas semangka tanpa biji. Aku mengambil dan mulai mengunyahnya. Mencecapnya dalam-dalam, merasakannya, apakah ada pahit di tengah rasa manisnya. Karena, kalau ada pahitnya, itu kemungkinan besar rasa manis buatan yang disuntikkan oleh petani buah, yang bisa memicu kangker.

“Pa, bagi papa apa yang menjadi kebahagiaan terbesar dalam hidup ini?” istriku bertanya sambil mengunyah semangka juga. Semangka yang ada di mulutku segera kutelan dan segera kulupakan tentang pemanis buatan yang banyak disuntikkan petani.

“Istri yang cantik dan baik, dan anak-anak yang lucu-lucu dan baik.”

Istriku tertawa seakan ini hanya lelucon saja. Aku melanjutkan mengunyah semangka. Pandangan kami tertuju pada anak-anak yang riang bermain ombak.

“Pa, laki-laki itu pandai menyimpan rahasia.”

“Mmm, apa iya?” Aku menjawab sekenanya.

“Dan setiap lelaki pasti punya rahasia dalam hidupnya.” Ia melanjutkan kalimatnya. Aku terus mengunyah semangka.

“Kalau rahasia terbesar dalam hidup papa, apa?”

Aku berhenti mengunyah semangka. Kurasakan pertanyaan itu tidak sekadar iseng belaka. Suasana menjadi kaku, istriku diam begitu juga dengan aku.

“Ah, masa iya setiap lelaki mempunyai rahasia. Terlebih laki-laki seperti aku ini. Semua sudah aku ceritakan padamu saat kita kenal dulu. Tentang apa pun.” Aku menjawabnya dengan sedikit membuat pertanyaannya seakan tidak penting untuk ditanyakan.

“Hatiku mengatakan bahwa papa mempunyai rahasia yang besar, yang masih tersimpan saat ini. Sebagai lelaki pada umumnya.” Ia meyakinkan bahwa memang aku harus menyampaikan sesuatu untuknya.

Aku mencoba untuk tetap tenang. Menikmati hijau air laut yang berdasar pasir putih di bagian paling tepi daratan. Lalu berwarna kebiruan di bagian dalam. Sesekali kupandangi jauh titik hilang lautan, dan kurasakan keluasan ciptaan Tuhan.

“Ayolah pa, apa rahasia terbesar papa?” Ia berkata sembari merangkul pundakku. Memintanya dengan manja.

“Yang namanya rahasia itu, kan tidak seharusnya untuk dibocorkan.” Aku menjawab sekenanya.

“Nah, itu ’kan, punya rahasia ’kan. Ayolah, pa!” Jawabanku seperti menyudutkanku sendiri. Seperti senjata makan tuan, aku pun tak bisa mengelak lagi.

“Biar tersimpan sajalah.” Aku kehabisan kata-kata. Kalimatku itu telah mendakwa bahwa aku memang punya rahasia yang hingga sekarang belum diketahuinya.

“Ayolah, pa!” Ia terus memaksa. Ya seperti itulah istriku. Kemauannya tidak bisa ditangguhkan.

“Tapi mama harus janji tidak boleh marah.” Aku mulai membuat kesepakatan.

“Ya, siap,” kalimatnya begitu mantap.

Aku pun meraba-raba kembali masa lalu, di mana aku masih muda dan perkasa. Pertama kali aku jatuh hati pada seorang gadis di SMA. Namun pada cinta pertama itu aku menuai kegagalan. Dua kali aku menyatakan cinta, dua kali juga aku ditolak. Nilai saat itu terjun bebas. Dari peringkat lima besar menjadi peringkat dua puluh besar sekelas.

Cinta kedua tumbuh saat kuliah, di mana aku sangat mengagumi seorang gadis kota. Wajahnya enerjik, tubuhnya sintal, dan tangkas. Berbagai upaya aku berusaha mendekatinya, tapi lagi-lagi aku belum berhasil menyentuh hatinya. Aku mundur dengan pelan, dan memulai membangun cinta lagi begitu seterusnya.

Cintaku meloncat dari hati ke hati, dari peristiwa ke peristiwa. Namun selalu gagal. Tak terhitung berapa banyaknya gadis yang aku sukai. Dan tak terhitung pula berapa kali aku dicampakkan. Dan setiap kegagalan aku mencari penyebabnya. Hingga berjilid-jilid buku tentang cinta aku khatamkan, dan bermalam-malam aku berdiskusi dengan orang yang sudah berpengalaman tentang itu. Namun aku tetap gagal juga.

Teman-teman selalu mengejekku. Jomblo seumur hiduplah, jodoh sudah matilah, dan banyak lainnya. Namun ada ejekan yang selalu membuatku bahagia, menurutnya aku ini dijaga oleh Tuhan, dijaga dari perbuatan yang kurang baik sekali pun, seperti berpacaran. Tapi ejekan itu pun diakhiri dengan hal yang tidak mengenakkan, yaitu dijaga Tuhan sampai mati. Artinya aku pun tak bakal mendapatkan gadis mana pun sampai ajal menjemputku.

Hingga suatu pagi yang basah, aku terlalu menikmati bau tanah sisa hujan malam hari. Hening sekali, barangkali burung-burung belum mengoceh lantaran masih menggigil kedinginan. Kuhirup udara dalam-dalam. Kunikmati setiap lekuk pepohonan dari keremangan kabut pagi. Jalan yang berupa tanah bercampur air membuat laju vespaku tidak stabil. Hingga aku terpeleset dan menyenggol seorang gadis yang berjalan dari arah berlawanan. Dari peristiwa itu aku mengenalnya. Ia adalah istriku yang sekarang ini, dan dengannya aku dikaruniai 3 orang anak.

“Itu hanya masa lalu, ma. Dan saya yakin setiap orang memiliki perjalanan asmara yang serupa,” aku menyudahi sebuah rahasia pada istriku.

“Ooo... rahasia terbesar papa ternyata aku bukan yang terutama.” Istriku berkata dengan nada kecewa. Raut wajahnya juga tak bersahabat.

“Ma, tadi ’kan mama sudah janji.....,” kata-kataku terhenti. Percuma, ia sudah ngeloyor pergi menuju anak-anak dengan membawa irisan-irisan semangka di atas piring.

Aku pun kembali menghirup dalam-dalam angin pantai Karanggongso. Kulihat lagi lautan yang luas, dengan ombak kecil yang melempar sebuah batok kelapa ke tepi. Kemudian menariknya kembali ke lautan, sambil kuingat-ingat lagi rahasia yang lebih besar yang belum pernah kuceritakan kepada istriku maupun orang lain. Barangkali memang laki-laki itu penyimpan rahasia sejati.***

Minggu, 06 Januari 2013

Dongeng Sebagai Pembentuk Karakter


Saya teringat bagaimana nenek saya setiap sebelum tidur mendongeng tentang Panji Laras, si Kancil, dan Burung But-but. Cerita itu diulang-ulang, tapi saya tetap menikmatinya lantaran gaya cerita dan pertanyaan-pertanyaan di tengah maupun diakhir cerita yang memancing ingatan sekaligus memancing daya imajinasi, karena pertanyaan itu membuat saya mengingat-ingat sekaligus membuat gambaran kronologi cerita dalam imajinasi saya.

Setelah saya raba dan saya hayati pengaruh dongeng-dongeng tersebut dalam diri saya, saya merasakan bahwa dengan dongeng tersebut diri saya secara perlahan mencintai alam semesta dengan segala keindahannya. Hal itu karena gaya mendongeng nenek yang kuat sekali dalam mendeskripsikan suasana. Dongeng Panji Laras misalnya, dalam gaya penyampaian nenek yang paling saya ingat adalah deskripsi yang detail sekali tentang rumah Panji Laras yang hidup bersama neneknya di gubuk reot, berdinding anyaman bambu, beratap daun ijuk, dan terletak di tepi hutan yang lebat sekali.

Begitu juga dengan perjalanan Panji Laras saat ingin menetaskan telor temuannya ke tengah hutan. Nenek saya selalu menceritakan indahnya pepohonan, bunga-bunga dengan  kupu-kupu di kelopaknya, gemericik sungai dan hewan-hewan kecil di sepanjang perjalanan yang seakan turut menyemangati Panji Laras dalam perjalanannya.

Sejak kecil saya sudah ada kecenderungan menyukai hal-hal yang alami. Saya begitu suka melihat pohon dengan cabang yang landai, sehingga bisa untuk dinaiki dan berteduh sambil bersantai di atas dahan itu. Atau saya juga menyukai liku-liku aliran parit di sawah. Dengan parit itu saya membuat perahu dari pelepah pohon pisang, menghanyutkan perahu itu dan membuntutinya dari belakang seakan-akan saya mengarungi sungai dengan pelepah itu dan menjumpai banyak tempat-tempat yang indah.

Bagi saya semua itu merupakan pengaruh dongeng-dongeng yang disampaikan nenek hampir setiap sebelum tidur malam. Rasa-rasanya sangat nikmat sekali menjelang memejamkan mata sambil membayangkan cerita yang sudah usai. Membayangkan wajah tokoh-tokoh dalam cerita tersebut dan lingkungannya yang indah.

Pengalaman selanjutnya tentang pengaruh dongeng pada pendengarnya adalah saat asmara saya diambang kehancuran, karena kekasih saya akan dijalinkan dengan laki-laki pilihan ibunya. Kita semua tahu bagaimana budaya nenek moyang kita yang kental dengan patriarkatisme. Yaitu sistem tata keluarga yang mana kekuasaan atas semua hal yang menyangkut keluarga ada di tangan orang tua, terutama ayah. Orang tua menjadi penentu segalanya atas apa yang dilakukan anak, termasuk pasangan hidup dan pekerjaan. Nah, kekasih saya adalah salah satu korban dari budaya tersebut.

Dia adalah gadis manis yang sangat taat kepada orang tuanya. Tatakala senyumnya mekar, daun-daun yang kering seakan hijau kembali. Karena kepatuhannya kepada orang tua, pada awalnya dia tidak berani menolak permintaan orang tuanya untuk dijalinkan dengan orang lain. Dia hanya mampu mengutarakan keinginannya bersamaku secara halus kepada orang tuanya. Dan ketika orang tuanya tetap pada keinginan menjalinkan dia dengan orang lain, dia hanya bisa pasrah dan mengiyakan.

Saat itu saya sudah tak bisa berbuat apa lagi. Saya segera mengemasi kenangan-kenangan saat aku bersama dia. Selanjutnya saya segera bersiap-siap membangun cinta yang baru, meski dengan susah payah tentunya. Saya sudah berpamitan dengan dia, dan saya mulai itu tidak akan lagi menghubunginya melainkan dengan jeda waktu yang lama. Mungkin setelah kami sama-sama berkeluarga nanti. Hanya untuk sekedar bertegur sapa dan menanyakan kabar.

Namun beberapa hari kemudian ia menghubungiku, mengeluh padaku tidak tahan dengan paksaan ibunya tersebut. Ia ingin melawan kehendak orang tuanya, namun ia tidak mampu. Di tengah keterpurukan asmaraku, aku melipurnya dan menguatkan hatinya. Ya, yang bisa saya lakukan hanyalah dua hal itu.

Hingga pada suatu saat, ia mengatakan bahwa keponakannya yang seusia 3 tahun mencari saya. Katanya ia rindu kepada saya karena lama tidak berkunjung ke rumahnya dan menagih janji saya untuk mendongenginya tentang kisah Raja Angin. Saya memang beberapa kali berkunjung ke rumah kekasih saya dan kebetulan kakaknya yang mempunyai dua anak masih serumah dengan ibu. Jadi setiap kali saya ke sana saya selalu bermain dengan keponakannya tersebut. Dan saya pernah menjanjikan akan menceritakan dongeng “Raja Angin” kepadanya.

Saya tidak bisa bermain ke rumahnya karena hanya tinggal beberapa hari keluarga laki-laki pilihan ibunya akan melamar kekasih saya. Akhirnya melalui telepon, saya menceritakan kisah Raja Angin kepada kekasih saya, untuk diceritakan lagi pada keponakannya di rumah. Dengan seperti itu saya bisa menepati janji saya kepada keponakannya yang masih 3 tahun.

Setelah saya bercerita tentang Raja Angin tersebut, kekasih saya sering mengatakan bahwa ia tidak bisa seperti Maharani, tokoh utama dalam cerita Raja Angin tersebut. Maharani adalah tokoh utama yang tegar dengan pendiriannya, tegar dengan pilihannya, dan ia tidak takut dengan  hal-hal yang ditakuti perempuan pada umumnya. Rupanya tokoh Maharani menjadi pusat cermin bagi kekasih saya.

Selama beberapa hari tersebut kami sering mengobrol melalui telepon. Dalam obrolan kami tokoh Maharani selalu muncul sebagai simbol kekuatan untuk memperkokoh pendirian. Dan dengan itu secara konsisten tokoh Maharani sebagai sumber kekuatan kekasih saya untuk berusaha terus mempertahankan keinginannya untuk bersamaku, dengan mengutarakan apa yang diinginkannya kepada orang tuanya.

Pengaruh dongeng Raja Angin luar biasa. Dia mampu melawan kehendak orang tuanya tersebut dengan frontal. Dia terang-terangan kepada ibunya dengan menjelaskan bahwa hidup dengan orang yang tidak dicintainya adalah penyiksaan. Dan tindakan yang paling berani adalah sebagai penentu kisah kami selanjutnya, yaitu dia terang-terangan kepada laki-laki pilihan ibunya, bahwa sebenarnya dia mengiyakan dengan laki-laki tersebut karena dipaksa.

Itulah akhir dari segala tekanan yang membuatnya sangat tersiksa. Laki-laki pilihan ibunya mengundurkan diri dengan baik-baik, dan kekasih saya kembali pada saya. Kami pun bersama lagi dengan gelora cinta yang semakin menggebu dan berkobar membakari segala rintangan yang menghadang.

Dua hal tersebut yang bagi saya adalah pengalaman langsung bagaimana cerita bisa sangat berpengaruh bagi pembaca dan pendengarnya. Melalui deskrpisi nenek saya yang detail tentang keindahan alam membuat saya mencintai alam, hingga saya masuk ke organisasi pecinta alam MAPALA TURSINA saat saya penempuh pendidikan di perguran tinggi. Dan tokoh Maharani mampu membakar semangat kekasih saya untuk mempertahankan harapan-harapan hidupnya bersama saya.

Cerita memang salah satu cara yang efektif untuk menjelaskan kehidupan. Kitab suci al-Quran banyak mengajarkan kehidupan kepada manusia melalui cerita-cerita Nabi-nabi terdahulu, sebelum nabi Muhammad SAW. Kisah Ashabul Kahfi, kisah Nabi Ibrahim, Kisah Nabi Musa dan Fir’aun, dan masih banyak lagi. Kisah-kisah tersebut membuka pengetahuan manusia tentang kebaikan dan keburukan. Juga menjadi inspirasi manusia untuk bersikap dan berbuat.

“Jas Merah = Jangan melupakan sejarah” kata Soekarno. Karena sejarah merupakan cerita tentang rentetan kejadian manusia-manusia terdahulu, yang bisa kita ambil hikmah dan pelajarannya. Maka berceritalah, mendongenglah tentang kehidupan. Karena mendongeng adalah mengajar dengan cara yang rapi. Kumpulkanlah anak-anak, kawan-kawan, serta saudara-saudara, dan mulailah bercerita tentang apa saja.