Kamis, 17 Agustus 2017

Membaca dan Gangguan Keluarga

Pengetahuan seseorang mengenai segala sesuatu tidak terlepas dari pengamatan dan penyerapannya terhadap sesuatu yang lain. Fakta dalam dunia direkam oleh otak manusia kemudian dianalisa hingga terjadi dialektika antara pengetahuan yang sudah ada dengan pengetahuan baru yang diterimanya. Dari dialektika tersebut akan muncul ide-ide baru yang mendorong perkembangan peradaban manusia.

Demikian halnya terjadi pada proses pemerolehan pengetahuan seseorang dari buku. Saat seseorang membaca buku akan terjadi dialektika pengetahuan antara yang sudah ada dalam pikiran dengan pengetahuan baru dalam buku. Benturan dua pengetahuan tersebut akan melahirkan ide-ide baru yang hampir sama atau bahkan berbeda sama sekali. Semakin banyak buku yang dibaca akan semakin beragam pengetahuan yang didapatkan, semakin besar juga intensitas pikiran dalam menyerap dan mengolah pengetahuan baru.

Masih teringat saat kuliah dahulu, untuk membuat sebuah puisi saya harus terlebih dahulu membaca puisi-puisi sastrawan lain. Rekam jejak dari pembacaan puisi tersebut saya ramu dengan pengalaman pribadi kemudian kutuliskan ke atas lembaran kertas hingga menjadi sebuah puisi baru. Puisi baru dari serapan pembacaan tersebut kadang memiliki struktur bahasa yang hampir sama kadang juga sama sekali berbeda. Semakin banyak puisi yang saya baca semakin banyak juga puisi yang saya tulis. Begitu juga dengan semakin beragam pusi yang saya baca semakin beragam juga puisi yang saya tulis.

Berbeda keadaannya setelah menyelesaikan studi di perguruan tinggi. Pada saat itu saya mengabdikan diri pada sebuah lembaga pendidikan. Dengan kesibukan tersebut waktu membaca bergeser sedikit. Masih saya sempatkan membaca buku di sela-sela kegiatan pendidikan. Meskipun intensitas membaca berkurang namun tetap berusaha untuk menulis. Pada saat itulah kesulitan dalam menulis melanda dengan dahsyatnya. Berbagai macam upaya saya lakukan demi menyelamatkan kebiasan menulis yang sudah berjalan sejak di tingkat sekolah menengah atas. Jalan keluar pertama yang diharapkan dapat mengembalikan kebiasaan tersebut adalah meningkatkan intensitas membaca.

Setelah menambah intensitas membaca saya rasakan tidak banyak merubah keadaan. Dari analisa singkat kemungkinan terdapat faktor lain yang menghalangi setiap ide yang akan muncul. Faktor tersebut adalah kualitas pembacaan. Bahkan faktor ini lebih penting daripada kuantitas dalam membaca. Kita tentu pernah mengalami hal dimana setelah membaca beberapa halaman, namun tak tersisa satupun ingatan mengenai apa yang kita baca sesaat setelahnya. Hal ini disebabkan kualitas baca kita yang kurang baik. Kualitas baca itu sendiri juga dipengaruhi oleh beberapa hal yang berbeda-beda pada setiap orang.

Lalu saya berusaha menyendiri ketika membaca dengan harapan akan memperoleh kualitas yang lebih baik. Setelah berjalan beberapa minggu tetap saja tidak banyak merubah keadaan. Setelah berpikir beberapa kali saya menyimpulkan bahwa meskipun secara fisik terlepas dari aktifitas pendidikan, namun secara psikologi beban tanggung jawab pada peserta didik tetap terbayang dalam kepala, sehingga sulit untuk berkonsentrasi dengan baik.

Berbeda lagi ketika saya berkeluarga baru. Hadirnya orang-orang baru dalam hidup menjadikan perubahan ekstrem pada pembacaan buku. Selain intensitas membaca turun drastis, kebiasaan menulis juga meredup. Saya gelisah sekaligus gundah. Di saat genting tersebut masih berusaha menyempatkan membaca, meskipun dengan rasa yang getir. Juga tetap berusaha untuk menulis sesuatu meskipun tidak pernah selesai.

Setahun kemudian lahir bayi mungil. Di saat itu membaca dan menulis seperti terlupakan. Ada hal baru yang lebih berharga untuk dilakukan ketimbang dua perkara tersebut. Lambat laun, ada kerinduan pada kebiasaan yang lama terlupakan. Menikmati membaca buku. Lalu saya berpikir, menganalisa perjalanan panjang meredupnya kualitas baca dan tulis yang sempat menjadi kebiasaan di masa kuliah dahulu. Di mana huruf-huruf saling berjejal tak sabar untuk tumpah ruah ke dalam karangan.

Saya putuskan untuk belajar membaca lagi diselingi dengan menulis. Tapi ada saja kendala datang silih berganti. Kadang juga tumpang tindih antara kendala satu dengan lainnya. Lalu terlintas sesaat, apakah memang keluarga sebagai salah satu sebab utamanya. Hipotesa tersebut didukung oleh salah satu cerita pendek karya Utuy Tatang Sontani dalam buku kumpulan cerpennya Menuju Kamar Durhaka. Cerita itu mengisahkan seorang pengarang ketika dalam kondisi mengembalikan tenaganya setelah sakit, mencoba mengarang pengalaman menulisnya. Tulisan tersebut harus ia kerjakan lantaran kebutuhan ekonomi. Kemudian ia mulai menulis dan datanglah gangguan;

"Wa-wa-wa-wa-wa," Bunyi suara anakku lagi kian kelas. Sekali ini mendenging di telingaku, menggores hatiku.

"Diam! Diam! Aku sedang mengarang!" dan entah perkataan apalagi kepada anak dan istriku ketika itu.

Kutipan di atas telah melegetimasi bahwa keluarga merupakan faktor utama pembunuh aktifitas yang membutuhkan kontemplasi tinggi. Namun setelah cerpen tersebut saya baca kedua dan ketiga kalinya, kutemukan pemahaman yang lebih detail. Anak menangis dalam cerpen tersebut hanyalah sebagai masalah permukaan yang tampak secara kasat mata. Di balik itu ada hal yang lebih besar yang mendorong ketergangguan pengarang dalam menulis.

Di lihat dari konteks peristiwa kondisi pengarang pada saat itu; pertama, sedang dalam pemulihan kesehatan, setelah oleh dokter disuruh istirihat barang dua atau tiga hari. Kedua, kebutuhan ekonomi yang mendesak. Hal tersebut tampak pada keraguan pengarang apakah dia menulis atau tidak. Pengarang seharusnya beristirahat, di sisi lain ia harus menulis demi honorarium yang akan didapatkannya dari sebuah majalah. Kemudian ketika ia menentukan untuk menulis, mendapati gangguan tangisan anak hingga persoalan menggelembung dan meledak.

Jika kita perhatikan kronologis peristiwa dalam cerpen tersebut secara menyeluruh, kita dapati pengarang dalam dua tekanan yang datang bersamaan. Kondisi tubuh kurang sehat dan kondisi pikiran yang sesak dengan beban kebutuhan ekonomi keluarga. Selanjutnya kondisi ini menjadikan psikologi pengarang terjerat sehingga tidak dapat melahirkan gagasan-gagasan dalam pikirannya. Pada cerita, akhirnya pengarang memilih menuliskan hal yang ringan dan menyenangkan yaitu menuliskan pengalamannya malam itu menjadi sebuah cerpen.

Lantas saya menyimpulkan, sebenarnya mengalirnya ide dan gagasan sebagai bahan utama tulisan berangkat dari kebebasan diri dari segala bentuk kekangan. Bagaimana dengan penulis-penulis hebat yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di penjara seperti Promoedya yang melahirkan tetralogi Pulau Buru, Ir Sukarno yang melahirkan Indonesia Menggugat, Tan Malaka yang melahirkan Madilog, Ibnu Taimiyah, Sayid Qutb dan lain sebagainya? Mereka para penulis dunia tersebut hanya mampu dipenjara secara raga. Dalam dirinya, dalam jiwanya, tetap berkobar kebebasan dan keluasan sehingga ide dalam pikirannya hatinya tetap rindang dan berkembang.

Di sinilah persoalan utama gangguan menulis yang terjadi. Rupanya, adaptasi dari dunia akademik mahasiswa ke dunia keluarga dan kerja memakan waktu lima tahun lamanya. Dan sekarang barulah sadar bahwa semua itu bukanlah segmen kehidupan yang membelenggu, menekan, atau membunuh. Yang diperlukan hanyalah kemerdekaan, kebebasan, dan keluasan dalam diri, dalam pikiran dan hati. Sebagaimana Pramoedya berkata, "Masa terbaik dalam hidup seseorang adalah masa ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri".

2 komentar:

  1. Wah dalem ya materinya. Terima kasih sudah mengingatkan lewat tulisannya

    BalasHapus
  2. Sama-sama mbak, terimakasih sudah dibaca. Membiasakan membaca bagi yang sudah berkeluarga memang berat dan butuh perjuangan..

    BalasHapus