Minggu, 08 November 2026

Belajar Ekoteologi dari Baduy

Pada hari sabtu 17 Oktober 2026 lalu saya berkesempatan mengunjungi komunitas masyarakat adat Baduy di desa Kanekes Lewidamar Lebak Banten. Kunjungan tersebut bukan serta merta kami dari Tulungagung Jawa Timur ke sana, namun kami ke Banten dalam rangka menghadiri Seminar Nasional dan Rapat Kerja Ittihad al-Aqsam al-Lughah Al-Arabiyyah wa Adabiha (IQLAB) yang diselenggarakan di Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Baten.

Salah satu rangkaian dari kegiatan tersebut adalah pengenalan budaya Banten. Pengenalan budaya dilaksanakan pada hari ketiga yaitu hari sabtu. Pukul 06.30 WIB kami para peserta seminar dan rapat kerja dari berbagai daerah dan provinsi sudah berkumpul di depan gedung PPG UIN SMH Banten. Di sana bis sudah stanby dan siap perangkat. Pada pukul 07.30 kami berangkat dari kampus 2 UIN SMH Banten menuju komunitas adat Baduy.

Setelah melalui perjalanan yang cukup melelahkan, kami sampai di terminal terakhir, yaitu patung Tani Terminal Ciboleger, Kabupaten Lebak, Banten pada sekitar pukul 10.20 WIB. Bus kami berhenti sekitar 200 meter dari terminal karena pada saat itu terminal penuh dengan kendaraan-kendaraan pengunjung lain. Terminal ini merupakan titik akhir sekaligus sebagai pintu gerbang menuju komunitas adat Baduy.

Patung Tani, ikon terminal Ciboleger
Setelah turun dari bis, kami berjalan sekitar 200 meter untuk sampai pada terminal Ciboleger yang terdapat patung pak Tani sebagai ikon terminal tersebut. Setelah itu kami memasuki semacam gerbang pintu masuk ke komunitas adat Baduy dengan jalan setepak agak menanjak. Suasana pada saat itu cukup ramai karena bertepatan dengan akhir pekan. Tak lama kemudian kami berkumpul di pos sekretariat sebelum benar-benar memasuki kawasan adat Baduy. Di sana pemimpin rombongan melakukan registrasi atau meminta ijin untuk masuk ke Baduy. Pada saat itu saya sempatkan mengambil gambar dengan latar jalan awal memasuki komunitas adat Baduy.

Foto tepat di sebelah kantor sekretariatan sebelum memasuki komunitas adat Baduy.

Setelah registrasi di posko pintu masuk, kami belok kiri untuk menuju rumah Jaro, yaitu semacam lurah di komunitas Baduy. Sambil memandang ke kanan kiri, begitu masuk pemukiman Baduy kami seperti masuk ke dunia lain yang penuh artistik dan eksotik. Sesampai kami di rumah Jaro, beliau masih di sawah sedang dalam perjalanan pulang. Kami disambut istri Jaro dan mendapatkan suguhan air putih asli Baduy dan kopi/teh bagi yang mau menyeduh. Air putih masyarakat Baduy tidak bersal dari sumber tanah melalui sumur tradisional atau sumur bor, namun mereka memanfaatkan selang dari bambu yang mengalirkan sumber air alami berupa pancuran dan sungai ke rumah-rumah. Sebagian ibu-ibu mengobrol dengan istri Jaro, sedangkan para bapak-bapak menunggu beliau dengan duduk-duduk di teras rumahnya, sebagian lagi melihat serta belanja syal dan tas buatan Baduy yang dipajang di teras rumah sekitar Jaro. Setelah kami menunggu 20 menitan, Jaro tampak berjalan dari ujung jalan menuju rumah.
Jaro pulang dari ladang
Setelah sampai rumah, Jaro mencuci kaki lalu masuk rumah untuk bersiap menyambut kami. Setelah beberapa menit Jaro keluar dan menyalami kami lalu duduk di samping pintu samping rumah, lalu kami mengikutinya duduk melingkar untuk menyimak setiap kata dan kalimat. Diawali oleh penyampaian maksud kami datang yang disampaikan oleh pemandu wisata, pak Manta, lalu dilanjutkan perkenalan oleh Jaro. Dari perkenalan itu kami mengetahui bahwa nama Jaro adalah Oom, sehingga kami dapat menyapa beliau dengan Jaro Oom. Beliau merupakan salah satu Jaro yang bertugas untuk berkomunikasi dengan dunia luar terutama dengan pemerintah. Usai perkenalan dari Jaro, dilanjutkan dengan perkenalan dari rombongan yang disampaikan oleh ketua IQLAB Dr. Uki Sukiman, M.Ag dari UIN Sunan Kalijaga Jogja. Setelah perkenalan dari kedua pihak dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.

Jaro Oom dilingkari rombongan pada tanya sesi jawab tentang komunitas Baduy
Diskusi diawali dengan penjelasan singkat tentang komunitas adat Baduy. Komunitas adat Baduy terbagi menjadi dua, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Baduy dalam terdiri dari tiga kampung, secara tradisi lebih orisinil dan tertutup daripada Baduy Luar. Sedangkan Baduy Luar terdiri dari 57 kampung. Beberapa perbedaannya, Baduy Dalam tidak memakai listrik, alas kaki, dan cenderung jarang berinteraksi dengan orang luar. Sedangkan Baduy Luar boleh memakai alas kaki, dan cenderung sering berinteraksi dengan orang luar khusus pada perdagangan atau jual beli kebutuhan sehari-hari. Khusus Jaro Oom diperbolehkan memiliki HP, karena berurusan dengan kepemerintahan. Suku Baduy dalam tidak memperbolehkan menggunakan sabun dan pasta gigi, sedangkan Baduy Luar masih boleh menggunakannya.

Suku Baduy yang sudah berkeluarga wajib bertani. Lahan pertanian diwariskan secara turun temurun dari kakek nenek moyangnya. Menariknya, di adat Baduy tidak ada sekolahan, sehingga pelajaran-pelajaran hidup mereka sampaikan kepada anak-anak melalui lisan. Mereka hanya menyampaikan ajaran-ajaran leluhur dengan lisan, dan tidak boleh ditulis. Salah satu pelajara hidup yang menjadi pembahasan adalah terkait dengan tradisi adat Baduy yaitu, “Panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung, besar tidak boleh dikurangi, dan kecil tidak boleh ditambah”. Adagium tersebut sebagai pedoman bagi masyarakat Baduy bahwa tradisi yang diturunkan dari kakek nenek moyang mereka tidak boleh diubah.

Dalam aturan adat masyarakat Baduy hanya boleh mengenakan tiga warna, yaitu putih, hitam, dan biru. Warna putih sering dipakai masyarakat adat Baduy Dalam, sedangkan biru dan hitam sering dipakai oleh Baduy Luar. Kemudian muncul bagaimana dengan hasil tenunan kain dan kerajinan tangan yang memiliki warna selain tiga tersebut, kain-kain tenun tersebut hanya untuk dijual kepada wisatawan yang berkunjung, bukan untuk dipakai oleh masyarakat adat Baduy.

Untuk mengatasi konflik, meski jarang terjadi, adat Baduy memiliki tata cara sendiri yang diputuskan oleh Puun yaitu pemimpin adat tertinggi sekaligus tokoh spiritual Baduy Dalam. Menurut Jaro Oom selama ini belum pernah ada pembunuhan dalam suku Baduy, karena bagi pereka seorang pembunuh tidak akan diterima oleh bumi. Begitu juga dengan ketika ada kasus pencurian, namun hal ini hampir tidak pernah terjadi, kalaupun terjadi tetap akan diselesaikan atau disanksi oleh Puun.

Tentang pernikahan, orang-orang Baduy menikah juga dengan sesama Baduy. Jika mereka menikah dengan orang luar maka orang tersebut harus keluar dulu dari masyarakat adat Baduy dengan upacara adat tertentu dan selamanya akan menjadi orang luar. Namun demikian kekerabatan dan silsilah keluarga tetap sambung dengan keluarga yang masih ada di Baduy. Mereka yang sudah tidak menjadi bagian dari komunitas adat Baduy tetap dapat berkunjung kapan saja ke masyarakat Baduy untuk menemui keluarganya. 

Kemudian salah satu dari kami bertanya, bagaimana jika ada orang luar ingin menjadi atau bergabung dengan masyarakat Baduy. Jaro Oom menjawabnya mungkin tidak kuat, dan selama ini belum pernah ada. Hal yang dimaksud dengan "tidak kuat" adalah di antaranya mereka harus bertani dengan cara manual, tanpa menggunakan pupuk kimiawi dan obat hama, serta banyak hukum adat termasuk larangan dan keharusan yang sulit dilakukan oleh orang luar Baduy. Setelah berdiskusi kami minta pamit dan melanjutkan kegiatan dengan turun langsung meyusuri gang-gang untuk melihat langsung bagaimana komunitas adat Baduy.
Salah satu jalan bertingkat berbentuk tangga yang menghubungkan rumah-rumah adat Baduy
Saat bertemu gang-gang di antara rumah-rumah komunitas Baduy, kami mengamati dan mengamati setiap sudut lingkungan mereka. Bagaimana mereka menyimpan kayu bakar untuk memasak, bagaimana mereka menjemur daun kelapa yang dianyam untuk atap rumah, dan lain sebagainya. Hampir setiap rumah menyimpan kayu bakar di bagian belakang rumah, dengan cara disusun secara rami meninggi hingga hampir sampai ke atap. Selain itu, kami juga menjumpai bangunan tersendiri yang khusus untuk menyimpan kayu bakar. Mungkin ada kayu-kayu yang tersimpan di dalamnya milik beberapa kepala keluarga yang masih memiliki kekerabatan.
Penyimpanan bahan bakar kayu untuk memasak.
Satu bangunan khusus menyimpanan bahan bakar kayu
Rumah adat Baduy Luar berbentuk panggung, dengan dinding anyaman bambu dan atap anyaman daun kelapa. Untuk pembagian dalam rumah biasanya terdiri dari tiga ruangan, yaitu Sosoro (Bagian Depan) yang berfungsi sebagai teras untuk menerima tamu, bersantai, atau tempat kaum perempuan menenun. Tepas (Bagian Tengah) yaitu ruang keluarga yang digunakan untuk berkumpul, tidur anak-anak, atau musyawarah, dan Imah (Bagian Belakang) yang berfungsi sebagai dapur untuk memasak serta tempat tidur kepala keluarga dan penyimpanan hasil ladang/beras. Pada rumah Baduy Luar masih didapati cendela, adapun pada Baduy Dalam tanpa cendela. Hal lain yang menarik dari rumah adat Baduy adalah tiang-tiang rumah memiliki panjang yang berbeda-beda menyesuaikan dengan kontur tanah.
Salah satu bentuk rumah adat Baduy
Terlihat tempat untuk menjemur anyaman daun kelapa yang akan digunakan untuk atap rumah
Oleh pemandu, kami diajak melihat lebih dekat dengan Leuit atau lumbung padi masyarakat Baduy. Berbentuk rumah banggung dengan pintu di atas, menurut menuturan mas Manta, lumbung ini tidak bisa dimasuki tikus. padi-padi yang dimasukkan ke dalam Leuit ini masih bergantung pada tangkainya, seperti ketika orang ingin menyimpan bawang merah dalam waktu lama. Orang-orang Baduy setelah memanen padi tidak langsung dijemur, namun dikeringkan dengan cara di angin-anginkan. Setelah kering baru dimasukkan ke dalam Leuit. Konon padi yang disimpan dalam leuit ini mampu bertahan hingga 8 tahun. Penempatan Leuit memang sengaja dijauhkan dari pemukiman dengan maksud jika di pemukiman terjadi kebakaran Leuit akan lebih aman. Hal tersebut merupakan salah satu prinsip adat Baduy yang memprioritaskan ketahanan pangan dalam jangka panjang.
Leuit tempat menyimpan padi
Leuit atau lumbung padi adat Baduy terpisah dari pemukiman

Jembatan dari bambu di atas sungai kecil.

Pembuatan atap rumah adat Baduy

Karajinan adat Baduy yang diperjualbelikan kepada para pengunjung.

Bendera merah putih berkibar di slah satu rumah Baduy.

Awal masuk wilayah komunitas adat Baduy kita disuguhi dengan kerajinan tangan khas mereka

Halaman luas untuk anak-anak utama Baduy
Anak-anak komunitas adat Baduy sedang bermain.

Orang-orang Baduy sedang bersantai di teras rumah mereka.
Setelah waktu menunjukkan pukul 12.00 kami kembali ke terminal terakhir untuk makan siang dan melanjutkan perjalanan ke area keraton kesultanan Banten. Dari masyarakat adat Baduy kami belajar bahwa alam secara alami benar-benar dapat menjadi tumpuan hidup. Hal itu dilakukan dengan hidup berdampingan dengan alam secara harmonis. Sebagaimana prinsip mereka, "gunung ulah dilebur, lebak ulah dirusak” (gunung tidak boleh dihancurkan, lembah tidak boleh dirusak), mereka memperlakukan alam sebagai sahabat dan sumber kehidupan, bukan untuk dieksploitasi dan dihancurkan.

Selain keharmonisan dengan alam, masyarakat Baduy juga mengajarkan kepada kami bahwa kebahagiaan bisa digapai meski dengan kesederhanaan. Di tengah hingar bingar kemajuan teknologi ini, mayoritas masyarakat menyandarkan kebahagiannya pada ptalform media yang pada akhirnya mereka mengejar standar hidup yang tidak realistis, bergantung pada validasi digital, dan terjebak pada budaya perbandingan. Pada masyarakat Baduy, meski mereka mengisolasi diri dari kemajuan teknologi, tetap dapat menikmati hidup dengan bahagia, bahkan lebih arif dan bijaksana.