Selasa, 08 Oktober 2013

Tenggelam

Kami berhamburan ke lautan setelah di depan kami terhampar pasir hitam bercampur buih ombak pantai. Angin yang bertiup bebas membias daun-daun pohon kelapa di tepian pasir. Jika ditatapkan mata lurus ke selatan, maka yang ada hanyalah paduan biru tua laut dan biru muda langit. Dan hanya sesekali tampak layar perahu para nelayan di titik temu keduanya.

Kalau pandangan diarahkan ke timur, maka tampak ratusan kapal berlabuh di dermaga. Kapal-kapal tersebut seperti tertidur nyenyak. Karena memang kapal-kapal itu akan terbangun dan menembus gelap di malam harinya, bersama nelayan merayuk isi lautan. Lalu pulang di saat fajar menggores bintang-bintang.

Di pagi harinya hiruk pikuk pelelangan ikan di sebelah dermaga menyambut setiap kapal yang datang. Dan barangkali sangat sedikit yang menyambut kepulangan para nelayan. Karena pada saat itu ialah ikan yang menjadi tema setiap berpincangan. Di pelelangan itulah keberuntungan orang-orang ditentukan. Nasib mereka dirayakan, meski kadang dihujat ketidakpuasan. Yaitu pelelangan ikan pantai Prigi.

Namun sore itu kami hanyalah beberapa gelintir orang yang menikmati senja di sepanjang pantainya. Ombak yang tidak begitu tinggi memecah kesunyian. Melempar dan menarik cangkang buah kelapa dengan lidah buihnya. Kami menceburkan diri, berguling-guling bersama pecahan ombak di tepi, berlemparan pasir hitam, dan berkejaran melepas kepenatan.

Rudi dan Herman yang jago berenang, mereka mulai menjauh ke tengah lautan. Di kedalaman sedada mereka mengambang mengikuti goyangan gelombang. Sambil melambaikan tangan ke kami yang bermain di tepi, kemudian mengacungkan dua jempolnya menandakan kenikmatan yang mereka lakukan. Lalu mereka berdua bergandengan tangan, menikmati alunan gelombang yang datang silih berganti.

Di tengah kancak keceriaan, tiba-tiba suara teriakan minta pertolongan terlontar dari arah tengah lautan. Rudi dan Herman, oh ya Tuhan, mereka melambai-lambaikan tangannya dengan jeritan memekik meminta pertolongan. Aku yang tidak mampu berenang langsung panik, lalu berteriak memanggil teman-teman yang masih asyik dengan keceriaan mereka.

Ramadani berlari ke tengah lautan. Namun apa daya, berkali-kali gelombang menghempaskannya ke tepi. Teman-teman perempuan yang ada hanyalah menambah kepanikan di saat itu. Mereka menjerit-jerit, histeris, dan hanya memanggil-manggil nama Herman dan Rudi. Ramadhani berusaha keras berenang menuju mereka berdua. Sedang aku hanyalah seonggok cangkang kelapa yang ragu-ragu untuk menuruni lautan. Di saat itu aku mencaci maki diriku sendiri yang tak becus berenang.

Aku hanya menjadi penonton dari semua itu. Aku pandangi sekitar pantai, tak ada seorang pun. Aku ingin sekali menonjok ombak lautan di depanku. Namun apalah daya. Di depanku seorang sahabatku berjuang menyelamatkan sahabatku yang lainnya dengan mati-matian. Namun aku hanya mengutuki diri sendiri yang tak bisa berbuat apa-apa.

Setelah Ramadani sampai kepada mereka berdua, ia pegangi tangan mereka. Namun sayang sekali ombak yang tak mau mengerti terus menggempur mereka bertiga. Teriakan, jeritan, terus mengambang di sekitaran pantai. Tak lama kemudian sebuah perahu kecil mendekat, dengan uluran tangan seorang nelayan di atasnya, Rudi menaiki perahu itu dan langsung tergelepar di atasnya.

Aku gemetaran, kemana Ramadani dan Herman. Kemana mereka berdua. Apakah di telan lautan. Tak lama kemudian Ramadani muncul dan ke atas perahu yang belum juga bergegas. Lalu perahu tersebut menepi menurunkan Rudi. Dia menggigil gemetaran tak mampu berkata sepatah pun. Kami melarikannya ke puskesmas terdekat. Sedang Ramadani kembali ke lautan, mencari Herman yang terlepas dari pegangan.

Setelah itu aku kembali lagi ke pantai, Ramadani menyusuri laut itu menggunakan perahu nelayan. Sedang kami yang berada di tepi pantai, menyisir setiap bibir pantai, barangkali Herman terbawa ombak ke tepi. Kami memanggil-manggil nama Herman. Tapi hanya suara gelombang lautan yang menyahutnya.

Senja sudah turun, warna laut keemasan. Berkilauan mengejek mata. Namun keberadaan Herman masih menjadi misteri. Pencarian menggunakan perahu terpaksa dihentikan, karena hari sudah petang. Ramadani turun dari perahu dengan wajah lesu.

“Maaf, saya tidak mampu menahan gelombang, hingga genggaman Herman terlepas”. Katanya.

“Sudahlah. Kamu sudah berhasil menyelamatkan Rudi. Itu sudah baik. Dan juga Herman barangkali terdampar di sepanjang pantai ini, setelah sholat Magrib kita menyisir pantai lagi”. Aku berkata dengan kecut, karena aku tidak dapat melakukan apa-apa.

Beberapa nelayan mendatangi kami, menanyakan keadaan kami dan kronologi tenggelamnya Herman. Namun mereka menanggapinya dengan santai, seakan tidak ada hal besar yang sedang terjadi. Dan yang paling membuat resah hati tatkala salah satu dari mereka mengatakan, bahwa jasad Herman akan muncul ke permukaan laut tiga hari ke depan. Dari mana mereka tahu Herman sudah mati. Sejak kapan mereka menjadi Tuhan yang bisa menentukan apa yang akan terjadi. Bulsit.

Kami masih optimis dengan keberadaan Herman. Setelah sholat Magrib, kami menyisir pantai lagi. Dengan berbekal senter kami memecah debur ombak. Dari satu langkah ke langkah lainnya kami hanya menjumbai buih yang menjulur-julur di atas pasir. Dan sama sekali tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Herman.

Kawan-kawan dari rumah berdatangan, termasuk keluarga Herman. Dan petugas SAR yang kami hubungi sejak sore tadi belum juga nampak batang hidungnya.

“Tolong ini disebarkan ke laut dengan membaca fatihah 77 kali” seorang kawan menyodorkan bungkusan kecil kepadaku. “Lalu ini, sebarkan di empat arah dari tenggelamnya Herman. Setiap arah dibacakan alfatihah 77 kali.” Ia berucap lagi sambil menyodorkan bungkusan yang lain.

“Apa ini” aku bertanya penasaran.

“Itu garam dan bunga tujuh warna. Tadi saya bertanya ke orang yang dituakan, bahwa Herman sebenarnyalah tidak tenggelam. Namun ia dibawa oleh penguasa lautan.”

“Oh ya, artinya Herman masih hidup?”

“Iya, bisa jadi” ia menjawab dengan yakin. Aku pun menjadi sedikit berharap hal itu benar.

Lalu aku dan kawan lainnya menyebar bunga-bunga itu ke lautan, dan menaburkan garam ke empat arah dengan membaca Fatihah seperti yang dikatakan. Setelah selesai kami mendapatkan saran lagi untuk mencari Herman ke semak-semak dan rawa-rawa di kawasan pantai. Menurutnya, Herman dibawa oleh makhluk jin atau dedemit yang menguasai kawasan pantai. Kami pun melakukannya. Kawasan pantai yang penuh dengan pepohonan dan rawa itu kami geledah dengan memukul-mukul benda yang terdengar nyaring. Dengan seperti itu bisa jadi makhluk yang menyembunyikan Herman akan melepasnya.

Usaha demi usaha kami lakukan. Setiap perkataan orang mengenai pantai itu kami laksanakan. Namun hasilnya tetap kosong. Tak satu pun kami dapatkan tanda keberadaan Herman.

Tak lama kemudian SAR datang dengan dua mobil. Lalu mereka bergegas sibuk menyiapkan sesuatu. Aku berharap perahu karet sudah bisa dioperasikan malam ini. Dan aku akan ikut menyisir lautan, ikut mengamati isi laut dengan perahu itu. Tapi kelompok SAR hanya memberi penerangan kami, bahkan mereka hanya menanya kronolgi kejadian, setelah itu tidak ada aksi. Hanya mirip semacam pendataan saja.

Tatkala pagi hari, ombak masih bergemuruh. Beberapa rekan perempuan masih sembab matanya. Dan famili Herman masih sejadinya manangis memandangi lautan. Beberapa diantaranya melakukan ritual-ritual tradisional. Seperti menyebar garam di sepanjang bibir pantai, melarungkan sesajian ke laut, dan pencarian menggunakan kentongan di rawa-rawa dan hutan sekitar. Namun hasilnya tetap kosong.

***
Tangis memecah kesunyian, tatkala seorang nelayan menemukan sesosok manusia terdampar di pantai Cengkarong tiga hari kemudian. Kami pun bergegas ke pantai yang tak jauh dari Prigi tersebut. Bergegas dengan harapan yang tidak menentu.

Herman masih mengenakan celana levis, dan baju hem merah, dan ikat pinggang, serta seutas tali gelang di lengan kirinya. Ya, seperti Herman tiga hari yang lalu. Hanya saja sekarang kedua matanya tertutup, dan tampak agak gemuk. Lalu kami masukkan ia ke dalam tas mayat yang disediakan oleh SAR. Barangkali itulah tatap muka terakhir antara aku dengan Herman, sahabat lamaku.

“Penguasa laut benar-benar mengambil ruhnya. Hanya jasadnya kini dikembalikan” celetuk seorang nelayan.

Menurut mereka, selama tiga hari itu Herman masih dalam penyeleksian perekrutan prajurit oleh kerajaan pantai. Jika dia lolos dan disukai penguasa lautan, maka hanya jasadnyalah yang dikembalikan, sedang jika tidak, maka ia akan dikembalikan jasad berserta ruhnya. Itu artinya ia selamat.

***
Itu cerita beberapa tahun lalu. Herman sudah tiada, namun ketika aku melihat fotonya, canda dan cara tertawanya masih seperti terdengar di telinga. Seakan ia masih ada, dan tidak pergi kemana-mana. Hanya doaku seusai sholatlah sebagai obat rinduku padanya. Berdoa kepada Tuhan, supaya diberikan ampunan dan kemudahan baginya.

Tak sengaja aku menata almari buku usang masa SMA. Salah satu buku terjatuh dari almari karena tekanan dari buku-buku yang lain. Aku mengambilnya, lalu membukanya. Di sana kudapati tulisan yang mengingatkan pada suatu kejadian. Hukum arcimedes, yaitu benda akan terapung jika massa jenis benda lebih kecil daripada masa jenis zat cair.

Hal itu mengingatkanku pada Herman yang tiga hari baru mengambang setelah tenggelam. Yang mana menurut para nelayan tiga hari tersebut dalam genggaman penguasa lautan, dan hal itu sempat membuatku pervaya. Namun semua itu hanyalah rekaan. Karena sebenarnya jasad Herman yang membesar menyebabkan volume tubuhnya menjadi lebih besar. Untuk menggembungkan tubuhnya membutuhkan waktu selama tiga hari. Hal itu membuat masa jenis tubuhnya menjadi lebih kecil dari masa jenis air. Lalu akan muncullah tubuh Herman terapung di lautan.

Aku teringat respon beberapa nelayan dan Petugas SAR yang biasa-biasa saja dengan kejadian itu. Barangkali mereka meyakini mitos tentang penguasa laut dan dedemit di sekitaran pantai itu. Lalu kami melakukan pencarian dengan hal-hal yang tidak berguna, jauh dari kenyataan. Kami menyebar bunga dan garam, membaca ayat-ayat Al-Quran untuk membujuk penguasa lautan. Yang yang lebih mengherankan, kami mencari sesuatu yang hilang di dalam lautan dengan mencarinya di antara pepohonan hutan. Kami yang panik tidak bisa berpikir sehat. Oh ya Tuhan.

Maka yang terjadi hanyalah berpasrah dan menunggu keputusan, apakah dikembalikan jasad beserta ruhnya atau hanya jasad semata. Saya membayangkan, jika petugas SAR atau pun nelayan memahami teori fisika itu, maka bisa jadi mereka akan berupaya melakukan pencarian, dan meskipun Herman tak bisa terselamatkan namun kami dari pihak kerabat dan keluarga tidak harus menunggu selama tiga hari dalam ketidakpastian. Menunggu Herman muncul di permukaan air. Ya, hanya menunggu. Dalam ketidakpastian.