Selasa, 05 Mei 2020

Penelitian Stilistika Drama Belati di Bawah Bantal


Belati di Bawah Bantal

Oleh: Achmad Eswa

Sebuah ruang interior bersayap dua. Di sayap kanan terdapat ruang rias ibu Nalibrata yang memiliki kursi dan meja kayu dengan rak sebagai tempat alas rias. Di atas meja itu terdapat kaca berbentuk oval dengan bingkai kayu berukir klasik melekat di dinding.

Di samping ruang rias terdapat tempat tidur berkelambu transparan perak. Hingga, bantal, guling, dan kasur berseprai dengan motif batik kuning kunir Nampak sangat mengesankan suasana romantik.

Di sayap kiri terdapat tempat tidur karna yang tidak berkelambu berkasur dengan sprei dan sarung bantal berwarna apel darah. Di sebelah kiri depan tempat tidur itu terlihat meja kayu tua berkaki tiga yang bagian atasnya berbentuk bundar. Sebotol martini yang sebaian isinya sudah tertuang di dalam piala terletak di atas meja itu.

Sedangkan, di sebelah kanan depan tempat tidur itu terdapat rak kayu besar penuh botol-botol kosong minuman bermerek ekspor. Rak yang melekat di dinding itu berada di samping almari kayu tua berukir coklat kopi.

Karna: (mengenakan piama bermotif lorek hijau telur. Duduk di ranjang. Menghadap martininya. Pandangannya menerawang kosong ke depan. Mengambil piala yang berisi martini). Apakah kamu sudah tidur, pak tua? He, apakah kamu sudah tidur, Pak Ya’? Apakah kamu sudah tuli? Sekali lagi pak pikun, apakah kamu tidak mendengarkan panggilanku? Apakah aku harus kembali membanting pialaku ini agar kamu bangun dan datang padaku?

Pak Ya': (Dari dalam) jangan den! Bapak akan segera datang menghadap ndara Karna. (memasuki panggung. Mengenakan udeng hitam, surjan lurik wulung, celana komprang hitam dan berkalungan sarung kotak-kotak. Duduk di lantai di hadapan karna). Ada apa gus memangil-manggil bapak? (bicara sendiri). Suara anak ini serupa guntur musim kemarau saja!

Karna: He, kamu bicara apa? (setengah memukul ganggang piala di atas bangku hingga martinimya muncrat di wajah pak ya’). Telingaku belum sebudek milikmu, pak pikun. Dasar jongos tak tau diri!

Pak Ya’: Seribu ampun den! Ampun! (bicara sendiri sambil mengusap wajahnya yang basah dengan sarungnya). Dasar mulut orang tua! Tidak bisa diatur. (menampar-nampar mulutnya sendiri).

Karna: Malam ini saya maafkan, asal…

Pak Ya’: Asal apa, den?

Karna: Apakah bapak sudah lupa kewajibanmu setiap saya akan tidur?

Pak Ya’: Menuang martini di piala aden? Dengan sepenuh cinta seorang ayah kepada putranya, bukan?

Karna: Ya

Pak Ya’: Memijit aden?

Karna: Ya

Pak Ya’: Ngidung, bukan?

Karna: Ya

Pak Ya’: (Beranjak dari duduknya. Menuang penuh martini dan memberikan piala itu kepada Karna. Duduk di atas ranjang di samping pemuda itu. Memijit-mijit kakinya. Sambil melantunkan tembang Asmaradana Semarangan). Aja turu sore kaki, ana dewa ngangklang jagad. Nyangking bokor kancanane….

Karna: Tembang ini tidak akan pernah saya lupakan, pak. (Menegak martini, lalu meletakan piala yang sudah kosong itu di atas meja). Karena rangkaian kata-katanya yang selalu mengingatkan masa kecilku. Malam-malam menjelang tidur digendongan pak Ya’ kamu ingat itu?

Pak Ya’: Tentu saja tidak, den! (Menitikan air mata. Mengusap dengan pucuk udengnya). Akh, lupakan itu den! Oh ya, tembangnya diteruskan tidak?

Karna: Tentu, pak! Sampai selesai! Tapi, Tuangkan lagi martini itu sepenuh penuhnya kepialaku!

Pak Ya’: Baiklah, den! (Ngidung sambil menuang martini ke dalam piala. Memberikan piala itu pada Karna). Isine dunga petulak. Sandang klawan pangan. Yaiku bagianipun. Wong melek saben nerimo (Beranjak menuju almari kayu).

Karna: Mau ke mana pak?

Pak Ya’: Ambil selimut buat aden.

Karna: Saya belum ngantuk, pak.

Pak Ya’: Malam hampir larut malam, den.

Karna: Baiklah, saya akan segera tidur….

Pak Ya’: Bagus, den (tersenyum lega).

Karna: Ya saya pasti tidur. Asal bapak sekarang bersedia menjawab ribuan pertanyanku dari ribuan malam sunyiku. Sesungguhnya siapakah ayahku?

Pak Ya’: Belum saatnya, den!

Karna: Kapan saat itu datang, apakah sesudah kulitku berkeriput? Apakah sesudah rambutku beruban? Apakah sesudah tubuhku kaku berbalut kafan di dalam makam yang paling sunyi Dan, hanya berkawankan cacing dan belatung? (Menenggak martini meletakkan kembali piala itu di atas meja). Ini kematian tertunda yang sangat mengerikan!(Mengambil gelati bersarung kulit harimau dari balik bantalnya). Tekadku sudah bulat, pak. Lebih baik saya mati sekarang saja. (Tegas). Dengan benda ini!

Pak Ya’: Jangan den

Karna: Kenapa

Pak Ya’: Kematian aden akan sia-sia

Karna: Sia sia mana, ketika kematianku nanti juga tidak mampu menjawab pertanyaan malaikat bermuka bopeng dan bersayap gagak raksasa? (Berlagak sebagai malaikat). He anak sia-sia, siapakah nama ayahmu? (Diam sejenak) Pak, bagaimana saya harus menjawabnya?

Ibu Nalibrata: (Memasuki panggung dengan langkah terburu. Menuju ruang tidur Karna. Perempuan itu mengenakan rok hitam, baju putih dan jas warna krem. Bersepatu coklat. Mebawa tas kantor warna hitam). Jawab saja saya tidak tau!. (Secepat kilat, ia merampas belati yang dipegang pemuda itu). Pak Ya’, kamu harus tidur! Besok pagi, kamu harus masak, cuci mobil dan mensetrika pakaian dinasku. Karna, saya harus ke kantor pagi-pagi sekali. Ada rapat penting sampai larut malam! (memberikan tas kantor kepada Pak Ya’).

Pak Ya’: Sendiko dawuh, den ayu! (Menuju ruang rias. Meletakkan tas kantor itu di atas meja rias. Keluar dari panggung).

Ibu Nalibrata: Kamu juga harus tidur Karna! Jangan kamu habiskan malam-malammu dengan mabuk! (Membuka lemari mengambil selimut dek).

Karna: Tapi bu?

Ibu Nalibrata: Tidak ada kata…, tetapi! (Melemparkan selimut dek itu, kemuka Karna)

Karna : (Memandang ibu Nalibrata dengan mata nanar. Memungut selimut yang jatuh di pangkuannya itu. Lalu, menyelimutkannya keseluruh tubuhnya yang sudah direbahkan di atas ranjang).

Ibu Nalibrata: (Duduk di kursi ruang rias. Memandangi wajahnya yang kuyu. Gundah dan gelisah. Meletakan belati di atas meja. Di samping tas kantornya. Mengambil bungkusan rokok dan geretan dari dalam tas itu. Memungut sebatang. Mengerling Karna yang tampak sudah tertidur. Karena, pengarus racun martini). Surya, apakah kamu sudah tidur?

Pak Ya’: Belum, Nali? (Dari dalam).

Ibu Nalibrata: Ya. Kamu pasti tahu bahasa perempuanku, bukan? Datanglah kemari! Bawakan saya asbak dari ruang tamu depan? Oh ya…, jangan lupa ambilkan dasterku di tempat biasanya!

Pak Ya’: Akan segera saya ambilkan. Tunggu sebentar! (Dari dalam).

Ibu Nalibrata: Cepat sedikit, Surya!

Pak Ya’: (Memasuki panggung). Daster ini, bukan?

Ibu Nalibrata: Iya. Letakkan di ranjangku

Pak Ya’: Baik! (Menuju ruang tidur bu Nalibrata. Menyimbakkan kelambu. Meletakkan daster itu di samping guling). Asbak ini, bukan?

Ibu Nalibrata: Ya !

Pak Ya’: (Menuju ruang rias, meletakan asbak itu di meja. Tepat di depan ibu Nalibrata).
Ibu Nalibrata: terimakasih! (Berbicara dingin) Surya, apakah kamu maih sudi menyalakan geretan ini untuk rokokku?

Pak Ya’: Ya. Selalu!

Ibu Nalibrata: Apakah kamu masih bergairah memainkan sandiwara kita ini?

Pak Ya’: Ya. Selalu! (Menyalakan api dengan geretan di ujung rokok ibu Nalibrata).

Ibu Nalibrata: (Menghisap rokok. Menghembuskan asapnya kepermukaan cermin oval. Mendesah panjang). Surya apakah kamu masih sudi mengampuni dosaku. Manusia munafik demi harga diri sebagai anggota keluarga istana. Meskipun, dengan menempuh jalan yang telah ditentukan bahwa kita harus menyembunyikan rahasia hubungan cinta ini di mata orang-orang. Di mata anak kita sendiri.

Pak Ya’: Ya. Selalu!

Ibu Nalibrata: Apakah kamu masih mencintaiku? Perempuan yang selalu menghabiskan waktu untuk perusahaan, uang dan kekayaan yang sesungguhnya bianglala. Pengusaha yang selalu memperlancar bisnisnya dari kamar ke kamar hotel?

Pak Ya’: Apapun kamu Nali, saya tetap mencintaimu!

Ibu Nalibrata: Sekalipun, saya pelacur?

Pak Ya’: Bahkan lebih dari itu! Sebab, cintaku bukan lagi ingin mengambil sebagian atau seluruh milikmu, Nali. Cintaku adalah menyerahkan seluruh apa yang saya miliki!

Ibu Nalibrata: Sekalipun dengan sepenuh luka itu?

Pak Ya’: Tidak hanya sepenuh luka. Melainkan, kematian!

Ibu Nalibrata: Benarkah?

Pakai Ya’: (Menganggukan kepala).

Ibu Nalibrata: (Mencecek rokok di asbak. Berdiri. Mendekap tubuh Surya). Surya, saya akan mengobati lukamu malam ini, ya malam ini.

Pak Ya’: Dengan cintamu bukan?

Ibu Nalibrata: Ya. Sebagaimana cinta yang pernah saya tumpahkan sehabis-habis padamu dua puluh lima tahun silam. Di sebuah ruang rahasia di dalam taman sari. Kamu masih ingat itu?

Pak Ya’: Saya selalu mengingatnya. Sebagaimana saya mengingat sewaktu pertamakali kamu mencuri pandangan padaku, yang sedang membersihkan rumputan di sekitar tamanan bunga panca warna kesukaanmu!

Ibu Nalibtara: Lantas?

Pak Ya’: Dengan perasaan tidak karuan, saya bernyali mendekatimu yang sedang mandi di tengah kolam dengan kain jarit sebatas dada. Hingga sepasang susu gadingmu di balik kain basah itu membakar cintaku yang lama terpendam di lubuk jiwa.

Ibu Nalibrata: Lantas?

Pak Ya’: Saya bimbing tubuh yang bergairah itu ke dalam ruang rahasia. Saya baringkan kamu di sana. Dan…

Ibu Nalibrata: Kamu mau membopong tubuhku lagi malam ini untuk kamu baringkan di atas ranjang itu?

Pak Ya’: Tentu! (Membopong tubuh Nalibrata, membaringkan di atas ranjang perempuan itu, perlahan lahan kepalanya merunduk ingin mencium kening perempuan itu).

Ibu Nalibrata: Tunggu!

Pak Ya’: Kenapa, Nali?

Ibu Nalibrata: Surya, kamu sudah lupa ya? Bukankah ruang rahasia di mana kita pertamakali bercinta tanpa sepercik cahaya. Hingga orang-orang tidak melihat rahasia kita?

Pak Ya’: Ya saya tahu maksudmu. (Menuju ruang rias, memencet saklar di dinding. Ruang tidur Nalibrata gelap gulita. Tetapi cahaya di luar kamar tidur itu masih remang-remang). Lekas kamu tinggalkan seluruh yang membalut tubuhmu! Lalu kenakan daster transparan itu! Agar gairah lelakiku terbakar oleh kompor cintamu.

Ibu Nalibrata: Daster kesayanganmu itu telah ku kenakan Surya! Ia telah menjadi sayap sembrani! Cepatlah datang kemari, sayang!

Pak Ya’: Bersabarlah sebentar, pujaanku! (Melepas udeng surjan dan sarung. Melemparkan di sembarang tempat. Berserakan di lantai. Pak Ya’ menuju kamar itu dengan haya mengenakan celana komprangnya. Menaiki ranjang). Penunggang kuda segera bertahta dipelana, Nali!

Ibu Naribrta: Sembrani pun sudah membentang sayapnya lebar-lebar, Surya. Siap terbang menuju puncak paling surga!
(lampu panggung perlahan-lahan padam. Sejenak kemudian lampu yang melukiskan suasan fajar itu kembali menyala. Ibu Nalibrata memasuki panggung. Mengenakan baju dinas biru langit. Rambut panjang itu basah bergerai. Duduk di kursi ruang rias, menyisir rambut dan merias wajahnya di depan cermin).

Pak Ya’:(Mengenakan surjan lurik coklat tua dan celan komprang. Memasuki panggung dengan langkah terburu-buru) Celakan den ayu! Celaka!

Ibu Nalibrata: (Melipstiki bibir, berlagak cuek). Ada apa pak Ya’?

Pak Ya’: (Ragu-ragu). Em.. em… mobil.

Ibu Nalibrata: Ya, mobilku sudah kamu cucikan?

Pak Ya’: (Dengan perasan takut). Em.. em.. be…lum…
Ibu Nalibrata: (Marah). Apa? Apa yang kamu kerjakan pagi ini, pak Ya’? (Melihat jam di tangan). He pak, kamu senang kalau saya terlambat bekerja? Dasar orang tua tidak tau diuntung!
Pak Ya’: Bagaimana saya bisa mencuci mobil itu den ayu? Kalau, mobilnya sendiri tidak ada di garasi..
Ibu Nalibrata: mobilku dicuri orang? Kalau ngomong yang bener saja, pak?
Benar saja, pak!

Pak Ya’: Tidak dicuri, den!

Ibu Nalibrata: Lantas?

Pak Ya’: Kata pak Sarawita, tetangga sebelah yang semalam meronda. Bahwa yang membawa mobil den ayu adalah den Karna sendiri. Ia menuruni puncak bukit pengasingan ini jauh menjelang subuh tadi!

Ibu Nalibrata: Kemana perginya?

Pak Ya’: Pak Sarawita tidak tahu, den ayu!

Ibu Nalibrata: Kamu harus mencarinya!

Pak Ya’: Kemana saya mencarinya?

Ibu Nalibrata: Mana saya tahu?

Pak Ya’: Apalagi saya...

Ibu Nalibrata: (Diam sejenak). Kalau Pak Ya’ masih ingin tinggal di sini, kamu harus menemukan anak itu. Kamu harus membawanya pulang, bersama mobil itu...

Pak Ya’: Sekarang, den ayu?

Ibu Nalibrata: Apakah harus menunggu kiamat itu tiba?

Pak Ya’: Baik, den ayu!

Ibu Nalibrata: Lekas!

Pak Ya’: Ya! Saya akan segera berangkat. Mencarinya! (keluar dari panggung dengan langkah terburu-buru).

Ibu Nalibrata: Cepat!

Pak Ya’: Ya! (menjawab lantang dari dalam)

Ibu Naibrata: (berjalan mondar-mandir di panggung. Wajahnya semakin tegang ketika menyaksikan belati itu tidak terlihat berada di atas meja riasnya. Berbicara sendiri dengan suara tertahan). Bencana...

Karna: (Memasuki panggung). Lebih dari bencana, ibu! Barangkali ini yang namanya kiamat itu. Ya, kiamat sudah tiba!
Ibu Nalibrata: (Marah). Dasar anak kurangajar! (Menuding wajah Karna). He, dari mana saja kamu? Mana kunci mobil itu?
Karna: Mobil. Mobil apa, bu?
Ibu Nalibrata: Ya, mobil itu!

Karna: (Berlagak masa bodoh). Mobil itu sudah kupaketkan ke dalam jurang kematian. Bersama bangkai penguasa Mandura yang berhasil kurampok nyawanya semalam... dengan... (Memungut belati berdarah yang diselipkan di pinggangnya. Di balik piyamanya). Benda yang senilai pisau dapur ini! (menunjukkan belati itu di hadapan Ibu Nalibrata)

Ibu Nalibrata: (Semakin berang). Terkutuklah kamu, Karna!

Karna: (Tertawa dingin). Terkutuk, ibu? (Menghela nafas panjang). Hanya orang-orang yang tolol yang mengutuk Karna!

Ibu Nalibrata: Karna! (menangis). Tersesatlah kamu!
Karna: Tersesat? Ya, tersesat! Karna memang anak tersesat. Tetapi, dari anakmu ini, awal di langit bukit pengasingan dapat tersapu bersih. Lihatlah ibu, langit di luar tampak cerah. Kuning keemasan! Indah sekali, bukan? (Mendekati Ibu Nalibrata). Seharusnya ibu bangga punya anak seperti saya ini! Karena, tangan saya mampu menjatuhkan hukuman setimpal kepada paman Basu yang telah berdosa besar terhadap keluarga kita ini. (Menimang-nimang belati). Ibu..., (Membersihkan darah yang berlepotan di tubuh belati itu dengan ujung bawah piyamanya). Bukanlah mendiang yang darahnya seanyir bau bangkai srigala ini telah membius ibu dengan buaian selendang bianglala? Hingga, ibu tidak tau bahwa pemberian kepercayaan paman Basu kepada ibu untuk mengelola salah satu perusahaannya hanyalah siasat belaka. Agar ibu  tetap menyimpan aib keluarga Mandura. Aib tentang cinta ibu kepada seorang juru taman, seperti Pak Ya’! Aib tentang kelahiranku yang di luar restu keluarga istana serta pengesahan seorang penghulu! Aib yang menelantarkan saya ke dalam pertanyaan berkepanjangan tentang siapa sebenarnya ayah anakmu ini, yang sesungguhnya pak Ya’ sendiri! Bukankah ini bencana yang sesungguh-sungguhnya bencana itu, ibu?
Ibu Nalibrata: Diam, Karna!
Karna: Tidak! Sebab, mata hati dan jiwaku sudah mampu membaca bahwa hidup ini adalah kenyataan. Bukan kemabukan arak yang telah menelantarkan saya, ibu dan ayah ke dalam panggung sandiwara ini! Aku muak dengan permainan sandiwara yang merupakan kemunafikan paling brengsek!
Ibu Nalibrata: Karna! Hukuman apa yang akan diganjar negara kepadamu!? (Menghapus air mata dengan sapu tangan yang dipungut dari saku baju pakaian dinasnya. Berbicara tegas). Sebaiknya, kamu segera tinggalkan rumah ini! Selamatkanlah dirimu dari bencana ini!
Karna: Saya bukan pecundang, bu!
Kapten polisi: (Dari dalam). Bagus! Kamu benar-benar anak Surya yang jantan melampaui matahari. (lelaki tegap yang mengenakan seragam polisi itu memasuki panggung. Diikuti polisi berpangkat kopral yang kemudian menodongkan pistol pada Karna). Kopral, tangkap dia!
Kopral: Siap, pak! (Menghampiri Karna. Meminta belati dari tangan pemuda itu dengan hati-hati. Memasukkan pistol ke dalam sarungnya yang berada di pinggang sebelah kanan. Lalu, mengambil borgol yang menggantungkan di pinggangnya sebelah kiri. Memborgol tangan Karna). Tugas telah selesai kami laksanakan, kapten!
Kapten: Bagus! (Kepada ibu Nalibrata). Nyonya, kami sekedar menjalankan tugas negara!
Ibu Nalibrata: (Membisu, sementara matanya yang nampak kosong menghantarkan kepergian kapten polisi, kopral dan Karna. Air matanya mulai meleleh di pipi)
Pak Ya’: (Berteriak dari dalam). Bencana! Bencana! (Memasuki panggung). Ini benar-benar bencana, den ayu! (Ragu-ragu). Den Karna...
Ibu Nalibrata: Cukup! Tidak perlu kamu lanjutkan kata-katamu itu! (Melangkah gontai menuju ruang rias. Duduk di kursi. Menatap wajahnya. Dalam-dalam. Suaranya merendah). Surya, sandiwara ini sudah berakhir! (Menatap wajah Surya penuh makna. Lampu padam. Perlahan-lahan!!!)
Tamat
Sanggar Gunung Gamping, 08122003


Tidak ada komentar:

Posting Komentar