Sunday, September 30, 2012

Kehendak untuk Bebas


Kamu tahu, betapa lama aku kucel sendiri. Kecil hati adalah penyakit yang kejam menikam-nikam. Terlebih menjangkiti orang seperti aku ini, orang yang punya keinginan-keinginan besar dan yang selalu berambisi untuk menjadi yang terbaik. Tapi apalah daya, banyak keinginan dan harapan begitu saja hangus lantaran hati yang kecil, tak mampu menghadapi rintangan yang kecil sekali pun. Ibarat jembut jagung aku adalah jembut yang kering lantaran jagung terlalu tua. Helai-perhelai berontokan di tanah terkulai.

Aku sebagai orang yang tidak menerima apa adanya selalu berusaha untuk mengobati penyakit kronis itu. Buku-buku biografi tokoh-tokoh besar, buku tentang peperangan, pembunuhan, bahkan cerita-cerita paling sadis, sudah aku baca hingga tak tersisa selembar pun. Namun semua itu tak menyisakan sedikit pun kecuali hafalan tentang teori-teori dan tambahan pengetahuan belaka. Buat apa berpengetahuan kalau hati tetap kucel begini!

Kekecilan hati, kata orang, disebabkan karena minimnya pengetahuan dan pendidikan. Aku banyak tahu, bahkan lebih banyak dari pada orang-orang yang berhati besar yang ada di sekitarku. Menurutku pengetahuan saja tidak cukup, bahkan di beberapa kesempatan pengetahuan menjadi pemicu ketakutan dan kecil hati. Seorang yang tau tentang penyakitnya, misalnya, akan lebih takut untuk memakan makanan tertentu yang dianggapnya sebagai pemicu kekambuhan. Apakah masih kita percayai bahwa ketidaktahuan menyebabkan ketakutan. Mungkin ada benarnya dalam beberapa kasus, tapi tidak selalu seperti itu.

Aku bahkan sempat berpikiran, jangan-jangan ketahuanku akan penyakit kecil hati itu yang membuatku semakin terpuruk di pojok keterasingan. Sebagai orang yang dikarunia akal, aku menggunakannya dengan sebaik-baiknya, untuk mencari obat atas penyakit itu. Minimal, ketika pengetahuan akan penyakit itu membuatku semakin kecil, pengetahuan jugalah yang akan mengobatinya.

Konsultasi dengan pakar-pakar psikologis juga sudah saya lakukan. Saran merka selalu sama, yaitu supaya aku tidak membenci diri sendiri dan berpikiran positif atas semua hal, semua yang terjadi.

“Saya sudah menyayangi diri saya, dok”. Ucapku saat berkonsultasi. “Saya membelikan pakaian sesuai dengan apa yang saya sukai. Saya memandikannya dua kali sehari. Saya melindunginya dengan jaket saat dingin, dan dengan deodoran saat kepanasan.”

“Ya, itu baik. Tapi tidak hanya secara fisik, melainkan secara kualitas dan kemampuan yang ada di dalam diri Anda.” Dokter itu berucap dengan nada rendah.

“Saya pun mencintai kemampuan-kemampuan yang ada di dalam diri saya, dok. Saya juga mencitai kualitas saya. Bahkan saking cintanya saya selalu berusaha untuk keluar dari penyakit pelik ini. Saya selalu berusaha untuk menjadi yang lebih baik, dok.”

“Karena kamu selalu menginginkan yang lebih baik, dan belum tercapi, maka kamu membenci dirimu sendiri.” Dokter mengatakan itu.

Saya menjadi bingung. Bukankah orang yang benci dengan dirinya adalah orang-orang yang berputus asa. Aku tidak pernah berputus asa. Bahkan sesalu mencari jalan terbaik untuk menyelesaikan segala persoalan yang menimpaku.

“Berpositif thinking juga membantu memperbesar hati”. Kata dokter itu.

“Berprasangka baik maksudnya?”

“Ya.” Kata dokter meyakinkan.

“Tapi, dok. Saya hidup di lingkungan yang hancur dari semua segi, dok. Para pedagang di lingkungan saya suka mengibuli pembelinya. Para pemerintah suka mengutil uang rakyatnya. Para pendidik menjadikan sekolah sebagai ajang perampasan. Militer yang seharusnya memberikan rasa aman, sekarang banyak menghasut dan menciptakan permusuhan antar warga, bahkan para pemuka dan tokoh agama tidak segan untuk berbuat serong dari Tuhannya.” Dalam hati aku mengucapkan para dokter suka menarik tarif tinggi pada pasiennya. Dalam hati. “Apa saya juga harus berbaik sangka dengan mereka?”

“Ya, itu baik untuk memperbesar hati kamu.”

“Tapi dok, dimana letak benang merah antara berprasangka baik dengan besar hati?”

“Kalau Anda berprasangka baik itu artinya Anda berpikiran positif. Memandang setiap sesuatu dengan kebahagiaan dan keceriaan. Setelah hati Anda terbiasa bahagia, hati Anda akan membesar.”

Aku seperti menjadi gila saat mendengar kalimat itu. Bagaimana mungkin kita berbaik sangka dengan para bajing dan para rampok. Bagaimana bisa kita berbahagia dan berceria dengan kondisi lingkungan seperti itu. Ditaruh mana logikanya, ditaruh mana otaknya. Mulai saat itu aku tidak datang lagi ke psikiater. Menurutku dia tidak bisa memahami persoalanku. Kalaupun bisa memahami, dia tidak tahu bagaimana pemecahannya.
Aku lalu mencari obat kecil hatiku dengan caraku sendiri. Membaca, mencermati orang-orang yang berhati besar, bertukar pikiran, diskusi dan banyak lainnya. Hati besar akan tercapai saat kamu terbebas dari belenggu, ada seorang yang bilang begitu. Ketika jiwamu bebas kamu akan menjadi pemberani dan dengan keberanian hatimu akan besar. Kebebasan, apa itu kebebasan, apa kaitannya dengan berhati besar.

Aku amati perilaku para pemilik rumah-rumah mewah di perumahan elit. Saat jogging pagi-pagi diam-diam aku perhatikan tingkah laku mereka. Barangkali kebebasan himpitan ekonomi akan bisa menjadikan hati besar. Namun jarang sekali aku melihat aktifitas mereka. Yang ada hanyalah para pembantu yang menyirami tanaman, memotong rumput, dan belanja di penjual sayur keliling. Sesekali pemilik rumah tampak menghidupkan mobil, lalu pergi dengannya. Seperti itu setiap dua minggu sekali saat aku jogging aku mengamatinya. Artinya aku tidak bisa mengambil pelajaran dari pengamatan itu.

Maka aku harus mengamati orang-orang yang masih dalam perjuangan, dan mereka adalah para pedagang kaki lima di pasar. Apakah orang yang terhimpit ekonomi benar-benar tidak berjiwa besar. Aku pun pergi ke pasar, berjalan kaki mengamati perilaku mereka. Mereka hanya duduk-duduk menunggu pembeli, ada yang berjuang dengan kata-kata untuk menarik pembeli. Aku pun jadi bertanya-tanya, apakah hati mereka kucel dan kecil. Apa tantangan terbesar yang mereka hadapi. Ingatanku kembali pada para pemilik rumah mewah. Apakah hati mereka besar. Apa tantangan-tantangan yang sudah mereka hadapi. Aku teringat juga saat perjalanan ke pasar yang melewati sebuah jembatan yang di bawahnya ada tenda-tenda dengan penghuni manusia. Apakah mereka juga berhati besar. Tantangan apa yang sedang mereka hadapi. Aku hampir menemukan titik persamaan. Berhati besar. Siapa sebenarnya orang yang berhati besar itu. Seberapa besar tantangan yang mereka hadapi sehingga bisa dikatakan berhati besar.

Pikiranku terus bergelayut. Sampai aku hampir terperosok lubang selokan yang menganga di sepanjang tepi jalan pasar. Aku kembali pada ingatan-ingatan dari buku biografi para tokoh-tokoh yang berhati besar. Apa yang mereka hadapi sehingga orang-orang menyebutnya berhati besar. Apa karena mereka berani melawan yang lebih besar. Atau mereka berani melakukan hal-hal yang diluar kemampuan orang pada umumnya. Apakah kebebasan benar-benar menjadikan orang berhati besar.

Hingga aku melihat orang gila di tengah-tengah pasar. Dia seorang laki-laki yang bertubuh kekar. Dengan bertelanjang dada menari-nari dan menyanyi-nyanyi lantang tanpa menghiraukan sekitar. Sesekali kaki kanannya diangkat dan kaki kirinya meloncat kecil. Diikuti kedua tanggnya meliuk-liuk di menyamping kanan dan kiri sehingga menjadikan badannya kadang mendoyong ke kanan dan kiri mengimbangi liukan tangannya.

Tentu itu sebuah kebebasan sebebas bebasnya, pikirku. Aku lihat wajahnya tak ada tekanan sedikit pun. Kebebasannya dalam melakukan apa saja yang menjadi keinginannya. Apakah kebebasan yang seperti itu bisa memicu kebesaran hati, ketakutan yang membelengguku selama ini. Apakah kebebasan akan tercapai dengan melepas segala kemaluan. Karena rasa malu sungguh membuat kita tidak leluasa berbuat sesuatu, sesuatu yang kecil dan remeh pun. Ya, pikirku.

Aku pun segera mencari pusat keramaian di pasar itu, hingga aku menemukan titik temu antara dua jalan pintu keluar pasar. Di situ ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang atau pun berbelanja. Dengan keyakinan dan kebebasan yang baru aku dapatkan, aku melepas satu persatu kancing di bajuku. Setelah telanjang dada, aku masih belum terima, maka aku lepas celana hingga hanya celana dalam yang melekat di tubuhku. Aku mulai mengangkat tangan dan kaki untuk menari. Lalu berteriak dan meracau apa pun yang ingin kukatakan. Tak terima hanya dengan itu, aku meloncat bergerak abstrak meliuk, membungkuk melemparkan tubuhku ke tiang listrik, ke gundukan sampah di depan kios. Aku pun merasakan kebebasan yang sepenuhnya. Kurasakan hatiku menjadi besar dan kian membesar.

Aku pun semakin hilang kendali. Aku melonjak-lonjak, berteriak mengomel dengan keras. Tanganku bergerak tak beraturan sekuat aku menjangkaunya. Aku memegang udara, melemparkannya dan menendangnya. Aku semakin merasakan kebebasan tak terhingga.

Orang-orang yang berlalu lalang semakin banyak yang berhenti dan melihat kebebasanku. Semakin lama semakin banyak, membentuk setengah lingkaran mengitariku. Aku tak peduli, aku menikmati kebebasanku. Hingga akhirnya aku kelelahan, kebebasanku seperti menguap. Tubuhku terasa berat. Kakiku tak mampu menyangga beban, aku pun roboh tersimpuh. Lalu aku bangkit, mencoba merasakan kebebasan yang tersisa. Tanganku kulentangkan, kuambil nafas dalam-dalam lalu kuhembuskan. Kupandangi orang-orang yang melihatku. Mereka bertepuk tangan dan tersenyum. Lalu satu persatu melemparkan uang di kardus bekas di sampingku yang kebetulan tergeletak terbuka. Lalu mereka membubarkan diri meninggalkanku sendiri. Dan aku masih merasakan kebebasan itu, meski hatiku belum tentu masih besar.