Sunday, August 10, 2014

Catatan Perjalanan Menuju Candi Dadi Tulungagung

Tulisan ini akan menceritakan tentang perjalanan kami bertujuh menuju Candi Dadi yang berada di dusun Mojo, desa Wajak Kidul, kecamatan Boyolangu, kabupaten Tulungagung. Perjalanan kali ini dilakukan tujuh orang, diantaranya dengan mas Siwi Sang dari dewan kesenian kota Tulungagung beserta istri, Misbahus Surur dari dewan kesenian Trenggalek, serta empat teman lainnya. Perjalanan kami mulai dari parkiran sepeda motor yang berada di rumah masyarakat di dusun Mojo, sekitar jam delapan. Berbekal kamera Nikon D70 dan lensa Sigma Asperichal 28-80mm, saya mencoba menyusun kronologi perjalanan kami.

Di depan parkiran sepeda motor kami sempatkan untuk mengambil gambar dengan background petunjuk arah menuju candi. Setelah itu kami berjalan di gang kecil di sela-sela rumah warga. Saya yang baru kali itu berkunjung penasaran dengan sambutan jalan yang sangat kecil dan terjepit rumah warga. Lalu jalan kecil itu menyebrang sungai dengan jembatan bambu dan memasuki kawasan papringan. Saya pun masih berjalan santai sambil mengamati apa-apa yang menarik untuk difoto.

Foto dengan backgruond petunjuk arah menuju candi.

Awal perjalanan melewati jalan kecil di sela-sela rumah warga.

Melewati sungai dengan jembatan dari bambu.

Setelah keluar dari kawasan papringan kami disambut dengan jalan yang meninggi dengan latar rumput liar dan bebatuan besar berserakan tidak beraturan. Dingin pagi masih mewarnai perjalanan kami saat itu. Suara kicauan burung-burung sedikit mencairkan suasana jalan yang sepi. Selangkah demi selangkah kami terus saja menyusuri jalan setapak yang terus meninggi. Tak jarang jalan setapak itu menelisik di antara batu besar di kanan kirinya, dan kadang juga berkelok. Terus melangkah menikmati pagi, tanpa kami sadari kami sudah berada lebih tinggi di atas kawasan papringan yang telah kami lewati. Kalau menengok ke belakang, maka tampaklah segerombolan pohon bambu (Orang-orang desa menyebutnya papringan).

Jalan berkelok di antara bebatuan.

Jalan setapak terus naik sepanjang lereng bukit. Jalan setapak yang kami lewati selanjutnya merambat di lereng bukit, diapit oleh dinding bukit di sisi kiri dan jurang sungai di sisi kanan. Kami harus berhati-hati dalam memijakkan kaki. Karena jika pijakan terlalu ke kanan, kaki bisa terpeleset, atau kemungkinan kedua jalan akan ambrol dan tentu tubuh ini berguling-guling hingga dasar sungai. Pada saat itu jika kami arahkan mata ini ke kanan, maka tampak hamparan luas area persawahan dan pemukiman warga di kecamatan Boyolangu.

Jalan setapak di lereng perbukitan Walikukun.

Bukit yang kami lewati ini tak lain adalah perbukitan Walikukun. Karena di sini memang ada banyak pohon Walikukunnya. Setelah cukup lelah berjalan, kami beristirahat sejenak sambil menikmati kecamatan Boyolangu dari ketinggian. Saya sempatkan memotret moment tersebut. Setelah dirasa cukup beristirahat kami lanjutkan perjalanan. Perjalanan kami berikutnya memasuki pepohonan dan rerumbukan. Daerah pesawahan dan pemukiman penduduk tak lagi terlihat. Yang ada hanya pohon-pohon dan tumbuhan liar di kanan kiri membatasi pandangan kami. Pada saat itu kami harus berhati-hati, karena sebagian rerumbukan terdapat pohon berduri.

Dari setepak lereng bukit menuju pepohonan.

Setapak pepohonan diselingi dengan rerumbukan dan bebatuan.

Setelah melewati rerumbukan, jalan terang lagi karena berada di lereng bukit. Kami sempatkan beristirahat sejenak dan menikmati pemandangan dari ketinggian. Lalu perjalanan kami lanjutkan dan tak lama kemudian kami dikejutkan dengan padang ilalang yang indah di punggungan bukit yang cukup luas. Kamipun mengangkat tangan dan merenggangkannya seakan ingin terbang. Angin yang semilir pun kami rasai sebagai suasana baru. Setelah melewati lereng dan hutan, akhirnya kami bisa sedikit mengeringkan keringat di tubuh. Di atas punggungan itu kalau kita arahkan pandangan ke kiri, di sana tampak tebing curam di bawahnya pepohonan dan perkampungan warga. Dan ketika kita arahkan ke kanan, tampak bukit lagi yang tak kalah tinggi. Jika kita melihat ke depan, maka yang tampak hanya jalan setapak yang semakin kecil menghilang tak berujung.

Dari pepohonan dan rerumbukan, kembali menyusuri lereng bukit.

Kami dikejutkan dengan adanya padang ilalang yang indah.

Tim Perjalanan seraca lengkap berfoto dengan latar Padang Ilalang yang indah.

Kami teruskan perjalanan melewati lereng bukit diteruskan dengan tanjakan yang cukup panjang. Tanjakan tersebut seakan meruntuhkan kebulatan tekad kami untuk sampai candi. Sepanjang tanjakan beberapa kali kami berhenti untuk menghimpun tenaga lagi. Kondisi yang semakin siang menjadikan tenaga terkuras. Air minum dalam botol keluar masuk tas untuk membasahi tenggorakan kami.

Kamipun segera bangkit dan meneruskan perjalanan. Mata berkunang-kunang dan nafas yang tersengal seakan kami lupakan untuk segera sampai pada yang kami tuju. Tanjakan yang cukup menjulang kami taklukkan dengan usaha keras. Dan jalan semakin kering dan gersang. Mentari yang tadinya hangat menjadi semakin menyengat. Kamipun dengan tergopoh-gopoh mempercepat langkah kaki. Dan tatkala mata melihat sebuah susunan batu di puncak bukit, mulut kami tak mampu berkata-kata lagi. Kami sudah sampai di candi Dadi.

Kami melangkah gontai, merasai pegal kaki dengan kebahagiaan menatap candi. Kami perlambat langkah untuk tidak segera melupakan usaha keras mencapai candi tersebut. Kami potret candi itu dari kejauhan, sebagai tanda bahwa kami diujung kemenangan atas sebuah perjalanan. Perjalanan selama 70 menit yang cukup melelahkan.

Saking bahagiannya, dengan menantang sinar matahari, saya potret candi Dadi.

Setelah kami mendekati candi, kami mendengar suara serak sapu lidi. Ternyata itu adalah pak Andi, satu-satunya orang yang merawat candi tersebut. Ia sedang membersihkan kawasan candi dari dedaunan yang gugur ditempa angin. Kami pun segera bersalaman dengan beliau sebelum menggelar tikar dan menikmati bekal.

Seketika sampai di candi kami langsung membeber tikar lalu mengeluarkan singkong rebus dan langsung menggigitnya, bersama dengan menunggu pak Andi yang sedang menyelesaikan menyapu. Menunggunya untuk diinterogasi perihal candi. Rasa lelah masih menguntit di sendi-sendi lutut dan pergelangan kaki. Namun saya sendiri segera bangkit untuk memotret beberapa sisi candi, sebelum matahari menyulitkan pemotretan.

Menggelar tikar, menanggalkan lelah, dan menikmati singkong.

Menggigit singkong rebus berlatar candi Dadi.

Setelah pak Andi selesai menyapu, ia kami ajak bergabung dan bercengkrama mengobrol seputar candi Dadi. Oh iya, pak Andi sendiri adalah seorang yang dilimpahi untuk menjaga candi tersebut. Selain itu ia juga salah satu petugas musium Wajakensis yang berada di Tulungagung. Candi Dadi terbuat dari susunan batu andesit. Menurutnya, nama candi Dadi berasal dari penamaan masyarakat sekitar secara turun temurun, dan bukan nama dari istilah Arkeologi. Kata “Dadi” adalah dari bahasa jawa yang artinya jadi. Nama candi Dadi sendiri dilatarbelakangi dari bentuk candinya yang paling sempurna diantara keempat candi lain yang mempunyai hubungan rangkaian cerita asal mula candi Dadi itu sendiri. Keempat candi itu adalah candi Dadi, candi Gemali, candi Buto, dan candi Urung.

Konon, cerita dari masyarakat tentang asal mula candi tersebut, yaitu bermula ketika salah seorang pangeran melamar seorang putri dusun Kedungjalin. Lalu putri tersebut mau menerima lamaran dengan syarat dibuatkan empat candi dalam satu malam. Pengeran pun menyetujui persyaratan tersebut dan dimulailah pembuatannya. Maka ketika keempat candi hampir jadi, dan waktu masih cukup, maka putri yang sejatinya ingin menolak lamaran pangeran tersebut mencari akal untuk menggagalkan pembuatan candi yaitu dengan menyuruh beberapa ibu desa membunyikan suara lesung. Maka candi yang keempat pun belum selesai dibuat karena pangeran mengira waktu sudah pagi. Candi yang keempat ini selanjutnya oleh masyarakat dinamakan candi Urung, karena bentuknya yang tidak sempurna. Kata “Urung” sendiri berasal dari bahasa jawa yang artinya Belum. Setelah pangeran tau tipu muslihat itu, maka ia marah dan mengutuk para perempuan di desa itu, mereka tidak akan mendapatkan jodoh melainkan setelah usianya menginjak tua. Menurut pak Andi, memang benar bahwa sampai sekarang, mayoritas perempuan dusun Kedungjalin bisa mendapatkan jodohnya di usia mulai tua.

Sedang penamaan candi Buto, karena menurut masyarakat, dulu di atas candi tersebut terdapat sebuah arca besar yang sekarang tidak kelihatan karena disembunyikan makhluk halus. Sedangkan nama candi Gemali atau Lingga Gemali sendiri karena di sana terdapat lingga yang mempunyai makna kesuburan lelaki. Hal itu memungkinkan karena perempuan-perempuan dusun Kedungjalin menikah di usia tua.

Menurut pak Andi, banyak pendapat mengenai fungsi candi Dadi pada masanya. Ada yang mengatakan untuk pendermaan, ada yang mengatakan untuk pertapaan, ada juga yang mengatakan untuk pengabuan (pembakaran mayat). Namun menurutnya, pendapat yang terakhir yang besar kemungkinan kebenarannya. Karena upacara pengabuan pada masa lalu dilakukan dengan melemparkan mayat dari menara yang dibangun tidak permanen. Biasanya menara tersebut menggunakan rakitan bambu. Oleh sebab itulah candi Dadi tidak mempunyai jalan masuk bahkan tak berpintu.

Mengenai fungsi candi pada saat ini, menurut pak Andi, masih difungsikan untuk ritual oleh orang-orang. Orang-orang yang ritual itu mayoritas berumur 40 lebih dan biasanya datang di malam hari. Sedangkan pada saat-saat liburan, banyak juga dari kalangan remaja dan dewasa yang berkunjung ke candi Dadi guna berwisata dan kunjungan situs sejarah. Candi Dadi juga sering dijadikan wilayah penjelajahan pramuka, karena keelokan alam sekitarnya.

Kami berdiskusi dengan Pak Andi (duduk paling kiri) perihal candi.

Pak Andi membuat peta buta mengenai posisi keempat candi.

Setelah kami mengobrol, lalu kami menaiki candi tersebut dengan tangga bambu. Candi Dadi memang candi tunggal yang tidak ada askes jalan maupun pintu untuk masuk. Setelah kami sampai di atas candi, angin langsung menyambut dengan riang. Dari atas kita bisa melihat, bahwa candi Dadi bagian bawah berbentuk persegi, lalu bagian atas segi delapan dan di tengahnya terdapat sumuran. Menurut informasi, sisi candi sepanjang 14 meter, tinggi 6,5 meter, dan diameter sumuran 3,35 meter, serta kedalaman sumuran sekitar 3,5 meter.

Dan yang aneh mengenai sumuran itu, ketika hujan turun sederas apapun, di dalam sumuran tidak pernah menggenang air. Air yang turun langsung meresap ke dalam. Sebagian masyarakat mempercayai bahwa sumuran tersebut tersambung dengan pantai selatan. Sehingga air yang jatuh langsung mengalir ke sana. Kalau saya lihat memang di dinding sumuran tidak ada bekas genangan air. Jadi memang benar bahwa sumuran tersebut tidak pernah menggenangkan air.

Menaiki candi dengan tangga bambu.

Mengenai wangsa atau waktu dibuatnya candi Dadi masih menjadi misteri. Hal itu karena tidak ada penanggal pada candi, dan belum ada serat maupun prasasti yang menyinggung keberadaan candi tersebut. Ada yang mengatakan candi tersebut dibangun pada masa sebelum Majapahit, yaitu pada masa kerajaan Kediri. Ada juga yang mengatakan dibangun pada masa Majapahit.

Di atas candi kami sempatkan mencabuti rumput yang tumbuh di sela-sela batu. Dan tanpa sadar saking asiknya menikmati indahnya candi dan indahnya pemandangan daerah boyolangu dari ketinggian, perut kami kemeletuk meminta isi. Lalu kami turun, dan membuka bekal inti yaitu nasi mie dan telor ceplok masakan mbak Zakyzahra pengampu Pena Ananda Tulungagung.

Di atas candi kami sempatkan mencabuti rumput yang tumbuh di sela-sela batu.

Kami berfoto di atas candi.

Setelah perut terisi, matahari tepat berada di atas kepala. Waktu menunjukkan pukul setengah satu. Mau tidak mau, dengan berat hati, kami harus turun meninggalkan candi yang menakjubkan tersebut. Karena dalam rencana awal, selain mengunjungi candi Dadi, kami juga akan mengunjungi situs Goa Pasir, goa Selomangleng, dan candi Sanggrahan. Pada akhirnya kami pun turun di saat terik itu.

Saat pulang, setelah sampai pada padang ilalang, kami belok ke kanan.

Jalan menuruni padas bebatuan.

Pada saat turun kami tidak lagi mengikuti jalan setapak yang kami lewati pada saat berangkat, namun ketika sampai di padang ilalang punggungan bukit, kami berganti belok ke kanan, lalu menyusuri jalan yang menurun hingga melewati sebuah makam. Di makam tercatat nama Hyang Agung Cokro Kusumo. Mengenai nama tersebut, saya sendiri tidak tau siapa dan apa perannya terkait dengan candi.

Bangunan makam Hyang Agung Cokro Kusumo.

Makam Hyang Agung Cokro Kusumo.


Setelah melewati makam tersebut, jalanan menjadi mulus, karena sudah dicor dengan semen. Langkah kamipun semakin nyaman dan lancar hingga perkampungan penduduk. Kami sampai di bawah dengan rasa puas. Rasa pegal dan payah kami terbayarkan dengan keindahan candi Dadi beserta keelokan alam sepanjang perjalanannya.

Berikut ini gambar yang saya ambil mengenai bentuk fisik candi dadi:
Candi Dadi dari depan.

Candi Dadi dari arah barat daya.

Candi Dadi dari arah timur laut.

Bebatuan kaki candi.

Kontur tubuh candi.

Sumuran candi. Di sana tampak bahwa bagian atas/atap candi berbentuk segi delapan.

Sumuran candi diameter 3,35 meter dengan kedalaman sekitar 3,5 meter.

Pojok atas atau tingkat atap candi.

Tingkat atap candi Dadi.

Pojok tingkat atap candi Dadi.

Salah satu sudut candi Dadi dari atas.

Titik temu antara tingkat atap candi yang berbentuk persegi dengan puncak atap candi yang bersisi segi delapan.

Puncak atap candi yang bersisi segi delapan.