Tuesday, September 22, 2015

Dongeng Pangeran dan Elang

Dahulu kala hiduplah seorang pangeran di sebuah kerajaan. Pangeran itu sangat tegas dan disiplin. Ia tidak takut untuk menghukum penjahat yang merugikan orang lain. Namun meskipun ia tegas dan disiplin, ia juga senang untuk memberi pujian dan hadiah kepada orang yang berbuat kebaikan. Sikapnya itulah yang membuat pangeran itu disegani seluruh keluarga istana dan rakyatnya.

Dikisahkan, sang pangeran mempunyai sahabat yang selalu mengikutinya kemanapun ia pergi. Sahabat pangeran itu adalah seekor elang. Elang itu selalu setia menemaninya. Saat dalam peperangan, elang itu membantu pangeran memandu perjalanan pasukan dan mengintai musuh-musuhnya. Hingga setiap peperangan, pangeran itu selalu mendapatkan kemenangan. Salah satu sebab kemenangannya tak lain karena jasa elang sahabatnya itu.

Pada suatu hari, pangeran tersebut melakukan sebuah perjalanan yang jauh. Jalan yang dilalui pangeran begitu sulit, sehingga ia harus berjalan kaki. Ia harus melewati gunung yang tinggi, hutan yang lebat, dan tebing-tebing yang curam. Dan seperti biasanya, elang pangeran ikut serta bersamanya.

Sepanjang perjalanan, elang pangeran terbang berputar-putar di angkasa, memandu perjalanan pangeran dan mengawasi jika akan terjadi bahaya. Sesekali elang itu turun dan bertengger di pundak kanan sang pangeran.

Dalam perjalanannya, setelah berjalan lama, pangeran pun merasa lelah. Ia berhenti sejenak untuk beristirahat. Lalu ia mengeluarkan tempat air minumnya. Namun sayang sekali air minumnya telah habis, bahkan tidak tersisa setetespun. Meskipun dalam keadaan telih dan haus, pangeran tetap menampakkan kegagahannya. Ia tidak mengaduh dan mengeluh. Lalu ia segera melanjutkan perjalanannya sambil mencari sumber air untuk diminum.

Berbukit-bukit dilewati, namun pangeran belum juga menemukan air. Ia terus berjalan menyusuri hutan hingga ketika ia tiba di bawah tebing, ia mendapati tetesan air dari resapan tanah dan bebatuan tebing itu. Maka ia segera mengelurakan sebuah cawan kecil dari sakunya, yang biasa digunakannya untuk minum. Lalu cawan tersebut ditadahkan pada tetesan air tersebut supaya air tertampung di dalamnya.

“Tik, tik, tik..”. Tetesan air itu sangat lamban, sehingga pangeran membutuhkan waktu lama untuk memenuhi cawannya. Dengan sabar dan tekun pangeran menunggu cawannya hingga penuh. Setelah cawan tersebut penuh dengan air, maka diangkatnya cawan tersebut, hendak diminum airnya.

Elang yang sebelumnya terbang berputar diangkasa tiba-tiba terbang menukik dan cakarnya yang kuat menampik cawan sang pangeran hingga terjatuh dan seluruh air dalam cawan itu tumpah ke tanah. Pangeran pun marah dan geram pada elang. Matanya memerah.

“Wahai elang, aku kumpulkan tetes-tetes air ini dengan susah payah. Namun, ketika aku ingin menikmatinya, kenapa engkau menampiknya hingga tumpah di atas tanah?” Ucap pangeran dengan suara garang kepada elang itu. Elang yang sudah terbang lagi ke angkasa hanya mencuit. Ia terbang perputar-putar lagi di udara.

Pangeran pun mengambil cawan yang terjatuh di atas tanah tersebut, dan mulai menadahkan kembali di bawah tetes-tetes air itu. Dengan sabar dan tekun, pangeran menunggu tetes-tetes air hingga memenuhi cawan. Dan setelah cawan itu penuh ia pun mengangkat cawan didekatkan ke mulutnya untuk meminum air di dalamnya. Pada saat itu juga elang terbang menukik dan menampik cawan itu hingga terjatuh ke tanah. Suluruh air dalam cawan itu pun tumpah di atas tanah.

“Wahai elang, dengan suyah payah aku mengumpulkan air ini, dan kau masih menampiknya. Kenapa kau menghalangi orang lain menikmati apa yang diperolehnya dengan usahanya sendiri? Kau sudah membuat kesalahan besar. Ini adalah peringatan terakhir bagimu. Jika kau masih menampiknya, aku penggal kepalamu saat itu juga”. Pangeran berkata dengan keras. Mata pangeran memerah. Ia sangat marah dengan apa yang dilakukan elang. Sedangkan elang hanya mencuit panjang di udara.

 Pangeran mengambil lagi cawannya di atas tanah. Ia mulai dari awal lagi mengumpulkan air tetes demi tetes. Dengan sabar dan tekun akhirnya cawannya terisi penuh dengan air. Maka diangkatnya cawan itu untuk didekatkan dengan mulutnya. Bersama dengan itu tangan kiri pangeran mencabut pedang di pinggangnya dan diacungkan ke udara bersiap mencabik elang jika ia tetap menampik cawan itu.

Dan benar, elang itu menukik lagi dari angkasa menuju sang pangeran. Dan dengan cakarnya yang kuat ia menampik cawan pangeran. Bahkan tampikannya kini lebih keras hingga cawan itu terlempar jauh dari pangeran. Maka pedang di tangan kiri pangeran pun langsung mengayun menyambar leher elang. Saat itu juga kepala elang terpisah dari tubuhnya. Ia mati terkapar di atas tanah.

Pangeran itu benar-benar membunuh elang sahabatnya. Ia marah dan geram dengan apa yang dilakukan elang kepadanya. Rasa hausnya semakin bertambah. Ia hendak mengambil cawan itu namun tidak menemukannya. Kuatnya cakar elang, membuat cawan itu terlempar jauh darinya.

Karena pangeran tidak menemukan cawannya, akhirnya ia memutuskan untuk menaiki tebing itu mencari sumber mata air yang meresap di bawahnya. “Jika di bawah tebing ini terdapat resapan air, pasti di atas sana ada sumber mata airnya”. Ucap pangeran dalam hati.

Maka dengan rasa letih dan haus bercampur dengan kemarahan, pangeran itu menaiki tebing dengan melewati jalan yang sulit sekali. diruntutnya resapan air itu untuk sampai pada sumber mata airnya. Setelah berusaha dengan keras akhirnya sang pangeran sampai di atas tebing, dan benar, ia menemukan sebuah danau kecil di sana. Ia pun tak sabar untuk mendekat dan meminum airnya yang segar.

Setelah sampai di danau itu, pengeran sangat terkejut ketika ia mendapati bangkai luar yang besar sekali di danau itu. Baunya busuknya sangat menyengat hidung. Hal itu menandakan bahwa ular tersebut belum lama mati. Dan yang lebih mengejutkan yaitu bahwa ular itu adalah ular yang sangat berbisa. Racun dalam bisanya dapat membunuh manusia dengan cepat.

“Air di danau ini tentu tercemari dengan racun ular ini”. Sang pangeran berkata dalam hati. Air matanya meleleh membasahi kedua pipinya. Ia teringat sahabatnya yang telah menyelamatkan nyawanya. Yaitu seekor elang yang selalu menemaninya dalam setiap perjalanannya. Yang selalu bersamanya di kala suka dan duka.

“Wahai elang sahabatku yang malang, karena kemarahanku, aku berbuat tanpa berpikir dengan teliti. Seharusnya aku mencari tahu terlebih dahulu kenapa engkau selalu menampik air dalam cawan ketika aku akan meminumnya. Ternyata air itu mengandung racun yang bisa membunuhku. Maafkanlah aku. Maafkan aku sahabatku...”. Pangeran itu menyesali perbuatannya. Air matanya terus mengalir bercucuran. Dan air mata itu adalah satu-satunya air mata yang mengalir selama ia menjadi seorang pangeran. Karena selama menjadi pangeran, ia belum pernah menangis. Sekali pun.


TAMAT

Tuesday, September 1, 2015

Dongeng Anak Elang

Di sebuah hutan yang lebat hidup sepasang elang. Kedua elang itu bebas hidup di alam. Mereka terbang mengitari hutan, mengepakkan sayapnya di atas tebing, dan jika sudah lelah mereka bertengger di pucuk-pucuk pohon yang tinggi.

Di pagi hari mereka terbang tinggi. Lalu berputar-putar di udara. Di atas udara yang tinggi itu matanya selalu mengawasi daratan. Mereka mencari ular, tikus, dan ayam untuk dijadikan makanan. Cakarnya yang kekar siap mencengkram, dan paruhnya yang runcing siap mengoyak daging hewan-hewan kecil tersebut. Ketika melihat mangsanya di daratan, sayap elang itu menekuk dan terbang menukik menghampirinya.

Kedua elang itu sejatinya adalah suami istri. Mereka saling berbagi dan saling menyayangi. Mereka hidup berpindah-pindah dari satu pohon ke pohon lain. Hingga pada saat elang betina akan bertelur, maka mereka mencari pohon yang paling tinggi di antara pohon-pohon di hutan itu. Di pucuk pohon itu mereka membuat sarang untuk bertelur elang betina. Mereka berdua mencari serpihan-serpihan batang dedaunan dan merajutnya menjadi sebuah sarang yang bagus.

Setelah sarang yang dibuat sudah sempurna, elang betina bertelur di atasnya dua butir. Semenjak itu mereka berdua bergantian menjaga telurnya. Ketika elang jantan berburu, maka elang betina mengerami telurnya. Begitu juga ketika elang betina berburu, elang jantan berganti mengerami dan menjaga telur elang betina. Mereka berdua begitu menyayangi telurnya. Kelak telur-telur itu akan menjadi generasi penerusnya.

Waktu terus berjalan. Hari berganti hari. Hingga setelah sampai pada 40 hari tiba waktunya yang ditunggu-tunggu. Pada saat itu telur-telur elang akan menetas menjadi anak elang. Dan benar sekali, setelah 40 hari menetaslah kedua telur itu. Dua bayi elang lahir di dunia. Satu elang jantan dan satu elang betina. Mereka membuka matanya melihat ayah ibunya. Mereka bahagia sekali.

Semenjak adanya dua bayi elang itu, ayah ibu elang selalu menyisihkan hasil pencarian makanan untuk mereka. Pada mulanya induk elang menyuapi bayi elang itu dengan makanan yang ada di paruhnya. Kemudian setelah beberapa lama, induk elang mulai membawakan buruan untuk dimakan anak elang dengan paruhnya sendiri.

Dengan berjalannya waktu, anak elang tumbuh besar. Sayapnya mulai dikepakkan bulu-bulunya sudah lebat. Pada saat itu ia mulai berlatih untuk terbang. Dari dahan ke dahan ia terbang, lalu kembali ke sarang. Terbang jarak pendek itu dilakukan dengan pengawasan orang tuanya.

Di pagi hari yang cerah, ibu elang berkata pada kedua anaknya: “Anak-anaku, ayah dan ibu hari ini akan pergi berburu. Kalian kami tinggalkan sementara waktu”.

“Iya, bu”. Mereka menjawabnya.

“Meskipun kalian sudah mulai bisa terbang, tapi selama ayah ibu pergi, jangan mencoba terbang sendiri, karena sayap-sayap kalian masih lemah. Belum mampu terbang terlalu lama. Kalian harus sabar dulu menunggu otot-otot sayap kalian kuat”. Ucap ayah elang berpesan, sebelum meninggalkan mereka.

“Iya ayah. Kami akan tetap di sarang ini selama ayah ibu pergi”.

Setelah itu ayah dan ibu elang mengepakkan sayapnya, dan menuncur ke udara berburu ke daerah yang jauh. Sedangkan kedua anak elang itu tetap berada di sarangnya.

Beberapa saat kemudian, elang jantan kecil mulai bosan tinggal di sarang. Ranting-ranting dan dahan-dahan pohon yang indah membuatnya ingin segera berlatih terbang lagi. Ia melebarkan kedua sayapnya, merasakan hempasan udara. Ia pun keluar dari sarang dan berdiri di salah satu dahan.

“Apa yang kamu lakukan? Ayo cepat kembali ke sarang!” Ucap elang betina kecil. Mengingatkan pesan ayah ibu mereka.

“Kemarilah, rasakan hembusan udara yang lembut ini!” Elang jantan kecil bukannya kembali ke sarang, ia malah mengajak adiknya untuk mengikutinya.

“Tidak. Kita sudah berjanji kepada ayah ibu untuk tidak meninggalkan sarang ini”. Elang betina kecil menolak.

“Ayah ibu sudah pergi jauh. Mereka pasti tidak akan tahu apa yang kita lakukan”. Sembari berkata elang jantan kecil terbang pendek ke dahan lainnya. “Ayolah, lihat aku, aku sudah mampu terbang. Begitu juga kamu, adikku”.

“Tidak kak. Marilah kembali ke sarang. Bukankah ayah melarang kita untuk terbang sendiri. Sayap kita masih lemah. Kita harus bersabar menunggu otot-otot sayap kita tumbuh menjdi lebih kuat lagi.”

“Ayah dan ibu terlalu mengkhawatirkan kita. Lihatlah, aku sudah mampu terbang. Kalau kamu tidak mau mengikutiku, baiklah, kamu tunggu di situ. Aku akan pergi sebentar saja”.

Tanpa menunggu jawaban adiknya, elang jantan kecil itu melompat dari dahan ke dahan, seperti saat ia berlatih dengan orangtuanya. Ia gembira sekali. Dan ketika ia melihat dahan di lain pohon, ia pun tak sabar untuk terbang menuju ke dahan dan hinggap di atasnya. Ia pun mengambil nafas dalam-dalam, mengangkat kedua sayapnya dan langsung meluncur ke dahan yang dituju. Namun, sebelum mencapai dahan itu, tiba-tiba sayapnya tidak kuat lagi menahan beban tubuhnya. Ia terjun ke bawah dan jatuh di atas bebatuan.

Elang betina kecil hanya bisa memandangi kakaknya itu dari sarangnya. Ia tidak mau melawan nasihat orang tuanya. Apa pun yang terjadi ia tetap tinggal di sarang. Yang bisa dilakukannya hanyalah memanggil-manggil kakaknya dan meneteskan air mata.

Sore hari sebelum matahari tenggelam, ayah dan ibu elang datang membawa makanan hasil buruannya. Merekapun kaget ketika hanya elang betina kecil yang ada di sarang.

“Pergi kemana kakakmu, wahai anakku?”. Ibu elang bertanya.

Elang betina kecil menceritakan semua kejadian itu dengan berlinang air mata. Lalu  ayah dan ibu elang langsung melihat tempat jatuh putranya. Dari dahan ia melihat putranya mati terkapar di atas bebatuan. Ia pun meneteskan air mata, sembari berkata dalam hati, “Sungguh malang kau anakku. Seandainya kau menuruti nasihat kedua orangtuamu, engkau akan bersabar dan tidak tergesa-gesa untuk terbang. Engkau pasti selamat”.

Hari sudah petang tatkala ayah dan ibu elang kembali lagi ke sarang. Kesedihan masih menyelimuti diri mereka. Elang jantan kecil ditinggal sendiri di atas bebatuan.