Friday, December 30, 2011

Hantu

Semua warga desa diributkan dengan seringnya hantu yang muncul dengan tiba-tiba. Hal demikian tentu akan membahayakan para penderita lemah jantung. Selain itu, hantu juga sering mengusili warga. Mulai dari mencolek, membuat suara gaduh, atau mengganggu ternak sehingga kambing dan sapi gaduh di malam hari.

“Kesabaran kita seharusnya habis sejak dulu. Gimana tidak, tiap hari kita diributkan ternak yang mengamuk seperti kesetanan”

”Ya, hantu-hantu kacangan itu semakin hari semakin menjadi. Sering memunculkan suara benturan di tengah malam, sampai para peronda mengira itu maling. Tapi setelah dilihat tidak ada apa-apa, kecuali seglintir pocongan yang sedang usil. Para hantu sudah sangat mengganggu aktivitas warga. Harus segera kita basmi”

”Ya, saya sepakat kita harus membakar Danyang Soho itu”

”Aku juga pernah, waktu lewat Danyang Soho, seperti di kasih seorang tua beberapa ribu uang. Tak berpikir panjang, aku pun menerimanya, tapi, setelah uang itu saya belikan berubah menjadi kembang tujuh warna. Si penjual jadi menuduh saya melakukan penipuan dengan pesugihan. Ini kan sudah keterlaluan!”

”Ya, harus kita ganyang”

”Harus, harus, sebelum para lelembut lebih kreatip dalam mengganggu warga”

Maka, malam harinya, seluruh warga desa berbondong-bondong akan membakar sebuah pohon besar -Danyang Soho- yang terkenal sebagai markas besar para lelembut.

Meski malam mencekam, dingin menusuki tulang, tak menyurutkan langkah warga untuk membakar pohon itu. Para warga yakin, setelah membakar Danyang Soho, para lelembut akan pergi dari desa ini, minimal tidak lagi usil pada manusia. Dengan obor di tangan kanan dan cirigen berisi bensin di tangan kiri, hampir semua warga ikut menggrebek Danyang Soho. Hanya ibu-ibu yang punya anak kecil, yang tinggal di rumah.

Jarak 200 meter sebelum Danyang Soho, tiba-tiba angin ribut datang. Mengombang-ambingkan barisan warga. Mematikan sebagia obor yang ada.

”Semua berkumpul, melingkar!” instruksi dari pak lurah.

Maka semua berkumpul, melingkar, dan merapat. Obor-obor yang mati dinyalakan lagi. Bau busuk tiba-tiba menyengat hidung, lalu beberapa pocong dengan wajah penuh ulat bergelantung di reranting pohon. Tak berpikir lama, semua warga melemparinya dengan batu yang sudah disiapkan di saku. Pocongpocong itu lalu menghilang.

Kini suara lolongan serigala memekikkan telinga. Disusul dengan hujan kepala dari atas pohon. Setelah di tanah, kepalakepala itu tersenyum dengan taring yang tajam. Para warga menginjaknya hingga kepalakepala itu lebam, lalu menghilang.

Pada hitungan ketiga, para warga berlari menyerang Danyang Soho. Surder Bolong muncul, Suster Ngesot, Thong-thong Shot, Mbilung, Pocong, Wedon, tak ketinggalan. Semua bermuka seram. Namun, semua dilibas dengan lemparan batu-batu warga.

Tibalah semua warga di depan Pohon Soho besar yang dianggap sebagai sarang lelembut. Saat semua akan menyiramkan bensin ke pohon, tiba-tiba muncul sesosok makhluk besar, hitam, dan bertaring panjang.

“Hhhaaaaaaaa!” gendruwo itu berteriak hingga warga menyumpat telinga.

“Manusia goblok, bodoh, dungu, tolol, asu, kalian!”

”Lelembut bodoh, dungu, suka usil, ngganggu manusia, setan, kalian!”

”Diaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaam!” gendruwo berteriak. Warga menyumpat tenlinga.

”kami diciptakan memang untuk mengganggu manusia!. Dan kalian seharusnya takut pada kami. Tapi sekarang tidak. Sekarang beda. Kalian sudah tidak lagi lakut pada kami. Malahan, kalian melempari batu kami, mengolok kami, dan malam ini kalian akan membakar rumah kami.”

”Kalian hantu sudah membuat kami kesal. Membuat warga tidak bisa tidur nyenyak. Kenapa sih, kalian enggak bisa diam!” pak Lurah mengutarakan isi hati warga.

”Kalian manusia dungu! Kami, yang sebagai pengganggu kecil seperti ini kalian lawan. Kalian musuhi. Kalian musnahkan. Lihat! Buka mata kalian! Para manusia yang menyakiti kalian, para pemimpin kalian, yang korup, yang memebuat rakyat miskin, para mafia hukum, para maling negara yang melumat kebahagiaan kalian, tidak pernah kalian musuhi, bahkan membencipun kalian tidak pernah!

Apa karena kalian takut! Cih, pengecut! Penghianat! Kalian, para manusia takut pada keculasan, kecurangan. Manusia asu!. Buka mata kalian, dana centuri yang lenyap, lumpur Sidoarjo, korupsi, itu sudah benar-benar membuat kalian mati kelaparan. Tapi kalian tidak melawannya! Dan kami, yang memang digariskan sebagai penggaggu kacangan, sudah hancur eksistensi kami. Kalian gusur rumahrumah kami. Rawa-rawa kalian tebang, hutang kalian tebang, sungai-sungai kalian jadikan bangunan, kalian soroti rumah-rumah kami dengan lampu gemerlapan. Bukankah itu penggusuran hak hidup kami! Kami adalah makhluk kegelapan. Hutan, rawa, sungai, kalian jamah semua, kalian rusak semua!

Dan yang paling memiriskan hati, kalian sudah tidak takut pada kami. Eksistensi kami sebagai pengganggu kini hancur. Hancur. Hancuuuuuurrr... kalian gembar-gembor kesetaraan hak, kesetaraan jenis kelamin, hak pendidikan, hak hidup, tapi kalian tetap semena-mena pada yang lemah dan takut pada yang kuat. Bahkan, pada yang harus dilawan kalian malah takut. Seharusnya kalian juga mempertimbangkan hak-hak kami. Bukankah kita juga hidup semagai satu makhluk, makhluk Tuhan semesta! Kalian manusia goblok.

”Faiz! Mana Faiz!”

Gila, gendruwo memanggilku.

”Faiz, kamu itu manusia Manja, alias Manismanis Jancuki! Kami tau sebenarnya kamu masih takut kami. Tapi itu tidak penting. Lihatlah, korupsi di kabupatenmu sudah mencapai stadium empat. Dan kamu, apa yang kamu lakukan! Malah buat cerpen kacangan yang nggak laku diterbitkan. Seharusnya kamu menghunus parang dan membabat siapa saja yang merampas hak-hak rakyat. Lawan dengan otakmu, tenagamu, dan hartamu! Kamu takut! Manusia yang takut pada yang salah itu manusia pengecut!”

Aku malu bukan kepalang. Kok tau, aku sebenarnya masih takut pada hantu.

”Nurani, bukumu yang ke 17 sudah terbit. Tapi itu hanya akan mencerdaskan para borjuis untuk menyiasati semua perlawananmu. Bukankah buku-bukumu itu Cuma dibaca oleh orang-orang borjuis! Karena hanya mereka yang mempu membeli buku. Kamu harus bikin gerakan bawah untuk penyadaran akan penindasan kekuasaan pada rakyat. Tapi, sekolah menulis yang efektif sebagai media malah kau lupakan, padahal sudah beberapa siswa mau mendaftar. Perubahan tidak akan terjadi melainkan dari gerakan bawah”

Pak nurani Cuma cengingas-cengingis. Barangkali ada hal-hal lain yang tidak diketahui gendruwo tentang dirinya.

”Sukarto, sebagai lurah kamu tidak pernah memihak rakyat. Lihat, selama kamu pimpin tidak ada kemajuan sama sekali. Aspal pada bolong-bolong kamu biarkan, sampai banyak orang terperosok di dalamnya. Itu tanggung jawab kamu. Progarm-progammu tak lebih Cuma gambar saja formalitas. Hasilnya nonsen. Perangkatmu yang bodohbodoh itu, bisa apa mereka! Aku kok heran, tahun ini kok kamu jadi calon lagi! Apa kamu pikir jadi lurah itu enak! Tidak. Sama sekali tidak. Jadi lurah itu harus pandai, jujur, cerdas dan bertanggung jawab, pekerja keras. Tapi nggak tau, kalo bagimu jadi lurah diambil duitnya doang.”

Wajah pak Sukarto merah padam. Semoga orang-orang yang membaca terbuka hatinya.

”Mulkadi, dulu kamu jadi lurah, dan sekarang magang lagi. Apa jabatan itu tidak membuatmu takut! Apa kamu tidak takut pada tanggungjawab itu! Toh, waktu kamu jadi lurah juga nggak ada kemajuan. Waktu kepemimpinanmu memang belum terbuka seperti sekarang. Jadi, kalaupun kamu korupsi”

”Maskuni, kamu juga magang lurah. Rupanya jabatan wakil lurah menggiyurkanmu untuk menduduki jabatan lurah. Seharusnya kamu bercermin dulu, beberapa oraganisasi kamu ketuai, tapi kegiatannya Cuma ituitu saja. Kamu memang jujur. Tapi yang diperlukan pemimpin tidak hanya jujr saja, melainkan keprofesionalitasan dan kekreatipan.”
(KALAU MAU BOLEH MENAMBAHKAN TULISAN APA AJA DI PARAGRAF INI........ Ingat, mencantumkan nama terang bisa memejahijaukan Anda!)

”Kalian memang bodoh, kalian pengecut! Kami diciptakan untuk mengganggu kalian! Dan kalian harus takut pada kami. Tapi nyatanya...” gendruwo menghentikan kata-katanya. Dari kedua matanya keluar air mata. Lelembut lainnya menyusul, mengerubunginya, ikut meneteskan air mata.

”Kalian sudah menyalahi kodrat Tuhan” dengan bersimbah air mata Gedruwo melanjutkan. ”kalian para manusia menakuti sesuatu yang tidak seharusnya ditakuti, dan menidaktakuti yang seharusnya ditakuti. Asu!.

Suasanya menjadi hening, seperti ada duka di celahnya. Di tengah keheningan malam itu, seorang berteriak ”Bakaaaar!”. Kebodohan dan keculasan merasuki otak para warga. Semua bensin disiramkan ke pohon, lalu oborobor dilemparkannya.

Api pun tak terbendung lagi menjilati seluruh pohon. Para hantu menangis sedang para manusia tertawa dengan kebodohannya.

Thursday, December 29, 2011

Penelitian Poskolonial Sastra

Suara Subaltern dalam Cerpen Perjalanan Seekor Semut Karya Abdullah bin Ali Said

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.
    Pada tahun 1985, Gayatri Chakravorty Spivak mengancam kebutaan ras dan klas yang terjadi di dunia akademia Barat, dengan mengajukan pertanyaan “Dapatkah subaltern berbicara?” (Spivak 1985). Yang dimaksud dengan subaltern adalah subyek yang tertekan, para anggota “klas-klas subaltern”-nya Antonio Gramsci (lihat Gramsci 1978), atau secara lebih umum mereka yang berada di tingkat “inferior”, dan pertanyaan Spivak ini mengikuti karya yang dimulai pada awal 1980-an oleh sekelompok intelektual yang sekarang dikenal sebagai kelompok Subaltern studies.

    Cerpen Abdullah bin Ali Said yang berjudul Rihalatun Namlah, dalam Bahasa Indonesia “Perjalanan Seekor Semut”, selanjutnya disingkat PSS ini juga berusaha mengkritik klas-klas dalam dunia semut sebagaimana Gayatri Spivak. Dalam dunia persemutan kita kenal dengan dua macam warna semut yaitu semut merah dan semut hitam. Abdullah dalam cerpennya mengungkapkan startifikasi ras yang ada pada dua macam semut tersebut.

    Cerpen tersebut bercerita tentang perjalanan seekor semut hitam yang bernama Rabi', Ketika dalam perjalanan mencari makanan, tanpa ia sadari ia telah mendekati jalan raya, dimana kendaraan manusia berlalu lalang dengan cepat. Rabi' sering mendengar, siapapun yang mendekati jalan tersebut akan hilang tak kembali. Namun semut tidaklah mempersoalkan hal itu, sudah menjadi biasa mereka pergi secara bergerombol kemudian saat pulang jumlah mereka berkurang. Semut-semut baru akan menggantikan mereka.

    Tiba-tiba ia mencium aroma makanan yang cukup jauh darinya. Baginya tidak ada yang mustahil (tudak mungkin) di dunia ini. Ia akan pergi dengan cepat dan akan sampai pada tempat itu sebelum kendaraan datang. Kemudian ia akan kembali dengan cepat pula. Ia mulai berlari dan memotong jalan, tiba-tiba tanah berguncang menandakan kendaraan semakin dekat dengannya. Di sisi lain, jarak makanan tersebut cukup jauh. Ia pun seperti terbang berputar-putar tatkala sebuah roda kendaraan melindasnya. Hingga kendaraan itu berbelok dan ia terpelanting ke tanah yang jauh yang belum dikenalnya.

    Rabi'pun pingsan, dan tersadar tatkala sebuah tamparan dari semut merah jatuh di wajahnya. Rabi' diinterogasi dan disangka menjadi mata-mata bagi semut merah. Dibawalah Rabi; oleh para prajurit tersebut pada pimpinan mereka. Sampailah ia di sebuah tempat, dimana Rabi’ menyaksikan sebuah pemandangan yang sangat aneh, dan baru dijumpainya saat itu. Semut-semut merah layaknya para tentara, yang memperbudak semut-semut hitam. Di tempat itu, semut-semut hitam dicambuk dan dianiaya untuk bekerja mencari makanan diperuntukkan semut-semut merah. Ia juga menjumpai Samiir, seekor semut hitam sahabatnya yang hilang beberaa waktu lalu. Raut Samiir begitu pucat dan lusuh. Tubuhnya penuh luka cambukan, begitu juga semut hitam lainnya.

    Suara cambuk berkilatan di telinga. Gumam derita dan sengsara seperti angin yang berlalu begitu saja. Melihat pemandangan seperti itu Rabi’ protes kepada semut merah yang membawanya, ia mengatakan bahwa semut itu seharusnya saling menghormati dan bergotong royong. Sesama semut harus menjalani pahit getirnya dunia dengan  kebersamaan, tidak ada berbedaan diantara mereka. Semua sama, bekerja bersama untuk kepentingan bersama. Namun, si panglima semut menolaknya. Menurutnya semut hitam itu kecil dan lemah. Semut hitam harus bekerja untuk semut merah, karena semut merah lebih kuat dan berkuasa. Menurutnya Semut hitam memang ditakdirkan untuk menjadi budak semut merah.

     Kemudian panglima semut tersebut menyuruh Rabi’ untuk lekas bekerja sebagaimana semut hitam lainnya. Rabi’ menolak. Terjadi berdebatan sengit antara keduanya. Kalimat-kalimat perlawanan yang keluar dari mulut Rabi' tak ada artinya. Sang panglimapun geram, ia cambuk Rabi’ beberapa kali. Rabi’ tetap menolak bekerja dan mempertahankan pendapatnya. Rabi’ dicambuk hingga maut menjemputnya. Sebelum ia meninggalkan dunia, ia masih berharap setelah ia mati nanti tubuhnya di gotong oleh semut-semut lainnya untuk persediaan makanan di kemudian hari.

    Penelitian cerpen ini akan mencari kebenaran apakah hipotesa yang diajukan oleh tokoh subaltern studies Gayatri Spivak atas penelitian yang dilakukannya dalam kehidupan, bahwa “Subaltern tidak dapat bicara” dapat diferivikasi pada fakta dalam cerpen PSS. Hal tersebut berpijak atas anggapan bahwa struktur dalam sebuah karya sastra tercipta dari sebuah realita sosial yang ada (sosiologi sastra), maka sebuah karya cukup relevan untuk menilik kembali sebuah hipotesa.

Dengan penelitian ini diharapkan dapat mengetahui relevansi sebuah hipotesa dari fakta nyata dengan fakta di dalam sebuah karya sastra, selain itu juga diharapkan mampu memperkaya pengetahuan tentang teori dan aplikasi sosiologi sastra.

B. Rumusan masalah
1.    Apakah hipotesa Gayatri Spivak “subaltern tak dapat bicara” dapat diferivikasi dengan fakta yang ada di dalam cerpen PSS karya Abdullah bin Ali said?

C. Tujuan penelitian
1.    Mengetahui sejauh mana kebenaran hipotesa “subaltern tidak dapat bicara” Gayatri Spivak dalam cerpen PSS karya Abdullah bin Ali Said

D. Manfaat Penelitian
1.  Untuk mengetahui relasi antara hipotesa Gayatri Spivak dengan cerpen PSS karya Abdullah bin Ali Said

E. Metodologi penelitian
1.    Obyek penelitian
Obyek yang digunakan pada penelitian sastra ini adalah cerpen yang berjudul Perjalanan Seekor Semut karya Abdullah bin Ali Said.
2.    Batasan penelitian
Dalam penelitian sastra terdapat dua wilayah yang dapat diteliti. Wilayah tersebut adalah segi ekstrinsik dan intrinsik sastra. Pada dasarnya sosiologi sastra dapat dilakukan dari segi ekstrinsik, yaitu wilayah sosiologi pengarang dan pembaca serta wilayah intrinsik sastra yang meneliti tentang sosiologi dalam cerita. Penelitan kali ini akan bergulir sekitar sosiologi dalam karya sastra yang merupakan segi intrinsik sastra.
3.    Metode pengumpulan data.
Untuk pengumpulan data peneliti menggunakan data-data dalam cerpen PSS yang berhubungan dan diperlukan sebagai data-data penelitian.
4.    Metode penelitian
Penelitian cerpen PSS ini menggunakan penelitian perpustakaan (library research) yaitu penelitian yang dilakukan di kamar kerja peneliti atau di ruang perepustakaan dimana peneliti memperoleh data dan inforamasi tentang obyek penelitiannya lewat buku-buku atau alat-alat audio visual lainya. Adapun metode kerja pada penelitian ini menggunakan  metode kualitatif yaitu mengutamakan kedalaman penghayatan terhadap interaksi antar konsep yang dikaji secara empiris.



BAB II
LANDASAN TEORI

Sosiologi sastra oleh Wellek & Warren (1990) diklasifikasikan menjadi tiga macam yaitu, sosiologi pengarang, sosiologi karya sastra dan sosiologi pembaca dan dampak sosial karya sastra. Dalam sosiologi pengarang ditelaah latar belakang sosial, status pengarang, dan ideologi pengarang yang terlihat dari berbagai kegiatan pengarang di luar karya sastra. Dalam sosiologi karya ditelaah isi karya sastra, tujuan, serta hal-hal yang tersirat dalam karya sastra itu sendiri yang berkaitan dengan masalah sosial. Dalam sosiologi pembaca dan dampak sosial karya sastra ditelaah sejauh mana sastra ditentukan atau tergantung dari latar sosial, perubahan dan perkembangan sosial.

Dalam penelitian ini peneliti akan menganalisa fakta sosial dalam karya sastra khususnya tentang hubungan subaltern atau pihak yang ada pada tingkat inferior dengan pihak superior, yaitu meliputi hubungan komunikasi, sikap, perbuatan, dan pemikiran. Selanjutnya hasil dari penelitian tersebut nantinya sebagai peferivikasi hipotesa Gayatri Spivak yang mengatakan “Subaltern tidak dapat bicara” atas penjajahan yang dilakukan pihak superior, dalam hal ini diasumsikan sebagai praktik kolonial.

Istilah "Subaltern" merupakan istilah dari pemikir Italia, Antonio Gramsci. Istilah tersebut digunakan untuk menyebut kelompok sosial subordinat, yaitu kelompok yang dalam masyarakat menjadi subjek hegemoni kelas-kelas yang berkuasa. Kelompok tersebut ditindas dan dieksploitasi oleh kelas-kelas elit. Menurut Gayatri, kelompok subaltern cenderung mendapatkan pendiskriminasian dan mereka tidak mampu menyuarakan aspirasinya pada kaum superior. Sehingga mereka perlu wakil intelektual untuk menyuarakan suara mereka.

Subaltern studies, penganut teori ini menggambarkan proyek mereka sebagai upaya untuk mengakaji atribut umum penyelewengan dalam masyarakat Asia Selatan yang diekspresikan dalam bentuk kelas, kasta, umur, gender. Subaltern studies merupakan sebuah upaya yang memungkinkan masyarakat untuk berbicara tentang kaum elite dan penguasa atau penjajah untuk menyuarakan suara-suara bungkam dari mereka yang benar-benar tertindas. Hal tersebut merupakan reaksi dari pengalaman sejarah bahwa setiap 

Gagasan yang kompleks mengenai subalternitas sangat erat hubungannya dengan banyak upaya akademik yang secara historis mengonsenkan dirinya pada hubungan antara dominasi dan subordinasi yang telah ditentukan. Bahkan ia merupakan kajian poskolonial sebagai respon terhadap antusiasme Spivak mengenai “dapatkah subaltern berbicara?”….. Sementara beberapa kritikus mengunakannya untuk membatasi bidang penelitian mereka, yang lain menggunakannya untuk member lisensi terhadap berbagai invesgasi mereka. Dan lebih dari semuanya ranah pembicaraan subaltern yang ambivalen telah memunculkan banyak persaingan dan bertentangan antisubalternitas dan subalternitas poskolonial. Dalam kajian poskolonial terdapat kesepakatan kecil tentang korban-korban terburuk penindasan kolonial atau tentang pemberontakan anti kolonial yang signifikan. Kaum pascastrukturalis metropolitan Asia Selatan, Afrika dan India Barat menentang kaum marxis di tanah air mereka sendiri, kaum intelektual mainstream di koloni-koloni tetap berjuang melawan klaim-klaim para intelektual pribumu dan dewan perwakilan, kritikus feminis menentang penolakan maskulinis terhadap histografi kaum nasionalis. Oleh karena itu sementara Spivak menyimpulkan esai provokatifnya dengan secara kategoris menegaskan bahwa “Subaltern tidak dapat berbicara” (Spivak 1988 (1985), hlm. 308).



BAB III
PEMBAHASAN

Proses kembali ke masa kolonial menyingkapkan suatu hubungan antagonisme dan hasrat resiprokal antara penjajah dan yang dijajah. Dan ia ada dalam rangka membuka hubungan bermasalah sehingga mungkin kita akan mulai melihat prasejarah ambivalen dari kondisi poskolonial. Jika poskolonialitas harus diingatkan asal-usulnya dalam penindasan kolonial, secara teoritis ia juga harus didorong untuk mengingat kembali godaan-godaan yang memaksa kuasa kolonial.

Cerpen PSS tersebut merupakan cerpen jenis fabel. Pada cerpen PSS diceritakan sebuah penjajahan semut hitam oleh semut merah. Pada pertemuan antara Rabi’ dengan sang panglima semut merah, nuansa kontra antara penjajah dan yang terjajah langsung tampak, sebagaimana kata panglima kepada Rabi’:

“Hai tawanan, dengarkan! Siapa namamu?”
“Namaku Rabi’".
Kemudian kecurigaan penjajah langsung muncul ketika Rabi’ menceritakan semua kejadian hingga ia sampai pada para penjajah tersebut.
“Ya aku percaya padamu. Tapi, aku tau, kau datang ke sini untuk memata-matai kami”
“Tidak. Tidak. Peristiwa itu membawaku jauh aku dari kaumku”
“Aku tidak menolak dengan keberatanmu. Kau tawanan kami sekarang”
Rabi’ akan menolaknya, tapi tidak diberi kesempatan oleh panglima itu.

Percakapan tersebut menampakkan bahwa Rabi' sebagai pihal inferior, pihak yang termarjinalkan, meskipun sudah menyampaikan suaranya, pendapatnya, namun sang semut merah yang dalam kelompok superior tidak mempedulikan dan tidak menganggap ada suara Rabi' tersebut.

Begitu juga saat Panglima semut menjelaskan apa yang harus dikerjakan Rabi’, ia hanya bisa menutup mulut dan menggeleng-geleng kepala. Para koloni seakan selalu menekan mereka untuk meminimalisir pembangkangan-pembangkangan yang terjadi. Para koloni secara tidak langsung juga berusaha melemahkan daya kritis kaum terjajah. Hal ini dialami Rabi’ setelah ia keluar dari tempat panglima menuju para semut-semut hitam yang sedang bekerja. Kita dapat mengetahui itu dari deskripsi:

Rabi’ keluar dengan pengawal dan letih menimpanya. Ia tak berkata sepatah pun. Karena ia merasa, berbicara dengan semut-semut merah itu sama saja. Tidak akan membuahkan hasil.

Terlebih lagi setelah ia menjumpai seorang temannya Samiir yang banyak berubah. Ia lebih lusuh. Dengan algojo bercambuk di belakangnya, samiir sempoyongan mengangkat makanan-makanan untuk dipersembahkan para koloni. Melihat hal itu Rabi’ merasa lebih ditekan oleh koloni-koloni tersebut. Tapi ia hanya diam, bergumam dalam ketakutan. Dengan cepat Rabi’ berubah. Rabi’ hanya diam dalam kebingungan. Kesedihan yang menjalar padanya mengubah raut wajahnya seperti seekor semut tua. Tekanan-tekanan mulai dilimpahkan dengan tujuan ketertundukan para terjajah oleh penjajah.

    Setelah Rabi’ tak tahan dengan kondisi yang ada, ia memberontak dengan tidak mau bekerja. Ia tetap merasa bahwa seharusnya tata kehidupan itu serasi dan harmoni. Tak ada pengklasifikasian tingkatan-tingkatan kelas sosial hingga ada yang tertindas dan ditindas. Karena baginya seluruh semut akan bekerja bersama dan menikmati hasilnya berama-sama pula. Berikut kutipan perdebatan Rabi’ dengan pengawal tersebut:

“Aku ini semut seperti kamu. Kenapa kamu menyiksaku?” Rabi’ menjawabnya dengan tenang.
“Kamu tidak seperti aku. Kamu lemah, tak berdaya. Sedangkan aku kuat dan besar”
“Kita ini sama-sama semut pekerja keras, tuan. Apa bedanya aku dengan kamu?”
“Bedanya adalah kamu tawanan.”
“Siapa yang menawanku! Saudaraku sendiri! Dari kulitku sendiri!”
“Kamu bukan saudaraku! Kamu musuhku! Kau datang ke sini sebagai mata-mata.”
“Tidak, cobalah tingalkan pikiran itu. Aku sampai sini karena peristiwa yang panjang. Dan aku ingin hidup tenang.”
“Tidak ada tempat untukmu kecuali sebagai budak.”
“Semut tidak pernah mengenal istilah itu. Kita diajari untuk hidup bersama, saling memiliki. Tidak ada perbedaan.”
“Itu hanya falsafah saja!” pengawal itu mulai marah. Matanya memerah.
“Bukan. Ini kebenaran. Mungkin sekali kita hidup bersama dengan bahagia. Saling melengkapi antar sesama kita.”
“Kamu tak sama sekali melengkapiku. Dengarkanlah, aku peringatkan kamu! Kalau kamu banyak membangkang, akan kubunuh kamu!”
“Kamu saudaraku.”
“Bukan! Bukan saudaramu!”

Dalam percakapan di atas Rabi’ mencoba “berbicara” mengenai hak-haknya juga kehidupan yang lebih arif bijaksana. Rabi’ berusaha menyuarakan jeritan semut-semut hitam lainnya yang benar-benar tertidas. Namun, sikapnya yang kontra tersebut tambah menyulut tindakan represi serampangan oleh pihak koloni. Panglima tersebut akhirnya mengintruksikan kepada para pengawal untuk memkuli Rabi’ hingga mati.

Hal tersebut sesuai dengan dua karakteristik Subaltern yang disampaikan Gayarti Spivak, yaitu penekanan, dimana pihak superior dengan kekuatan dan kekuasaannya menekan pihak inferior, dan kemudian  dengan mudah pihak superior mendeskriminasikan pihak inferior. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh beragam faktor, yang dalam cerpen PPS ini lebih condong pada persoalan rasisme antara semut merah dan semut hitam.

Demikian kondisi kolonial, yang oleh Albert Memmi, katanya “Membelenggu penjajah yang dijajah dalam suatu ketergantungan yang tak bisa dihilangkan, membentuk karakter mereka masing-masing dan menentukan perilaku mereka (Memmi 1986, hal. 45). Prediksi Memmi tentang mutualitas pertentangan antara penindas dan yang ditindas sebenarnya merupakan upaya untuk memahami sirkulasi hasrat membingungkan di sekitar peristiwa penindasan yang traumatik. Hasrat dari penjajah atas suatu koloni memang cukup jelas tetapi yang jauh lebih sulit adalah mempertimbangkan kerinduan yang sebaliknya dari yang dijajah.

Penjajah memang sengaja mengadakan tekanan-tekanan kepada pihak terjajah unutuk menimbulkan rasa cemas dan takut. Dari kecemasan dan ketakutan itu diharapkan akan timbul ketertundukan yang kemudian dengan mudah mereka perlakukan sehingga tercipta ketergantungan yang tinggi dari para terjajah pada para penjajah. Dan ketika pihak yang dijajah mencoba memberontak dengan keadaan yang ada, meskipun mereka dapat “berbicara”, namun “bicara” tersebut hanya sebagai cubitan-cubitan kecil bagi para kolonial dan dengan mudah ia musnahkan.



BAB IV
KESIMPULAN

Dari analisis cerpen Perjalanan Seekor Semut karya Abdullah bin Ali Saud yang peneliti lakukan dapat diambil kesimpulan sementara sebagai berikut:

1. Fakta dalam cerpen Perjalanan Seekor Semut membenarkan hipotesa sementara tokoh subaltern studies, Gayatri Spivak yaitu, “subaltern tidak dapat bicara” dalam konteks kolonial. Hal ini kami simpulkan dari usaha-usaha Rabi’ untuk menyuarakan semut-semut yang tertindas, namun suara-suara tersebut tidak mendapatkan tempat selayaknya.



Daftar Pustaka

Abdullah bin Ali Said, Rihlatu Namlah, Majalah al-Usroh, edisi Jumadil Awal, 1425 Hijriyah
Atar Semi, Metode penelitian Sastra, cet. 10, (Bandung: ANGKASA, 1990)
Leela Gandhi, Teori poskolonial, cet 3, (Jakarta; PENERBIT QALAM, 2007)
Wijayatmi, Pengantar Kajian Sastra, (Pustaka, Yogyakarta, 2006)

Ibnu Bajjah dan WS. Rendra dalam Etika

Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai petunjuk manusia. Setiap manusia mempunyai kekuatan dari Allah untuk menentukan perjalanan hidupnya. Dalam kehidupan manusia banyak pilihan hidup yang secara etika dibedakan antara yang baik dan yang jelek, yang benar dan yang salah. Disini Al-Qur’an mempunyai peranan penting untuk mengetahui dan selanjutnya membedakan antara pilihan baik dan buruk atau benar dan salah.

Pada perbuatan manusia terdapat perbuatan terpuji dan perbuatan tercela. Kedua perbuatan manusia yang saling bertolak belakang ini, sebagian menjadi perdebatan di antara manusia sendiri mengenai suatu hal itu terpuji atau tercela. Perbedaan pendapat tersebut dilatarbelakangi oleh perbedaan budaya dan moral pada setiap pribadi manusia dan masyarakat.

Perbedaan antara keduanya akan lebih terbaur ketika kedua perbuatan itu disetujui dan dilakukan dalam suatu masyarakat. Dalam situasi seperti ini, sebagaimana yang terjadi sekarang, sangat sulit membedakan antara perbuatan yang baik dan yang buruk, yang membangun dan yang merusak dalam konteks budaya, karena seakan-akan perbuatan tersebut menjadi sebuah kebiasaan dalam suatu masyarakat dan telah disepakati bersama.

Ibnu Bajjah membedakan kedua perbuatan atau tindakan manusia itu dari segi "dari mana" manusia melakukan sesuatu. Menurutnya pada diri manusia setiap akan melakukan sesuatu tak lepas dari dua motif, yaitu motif naluri atau hal-hal yang berhubungan dengannya. Naluri manusia disini bukanlah hati melainkan nafsu. Nafsu sangat berkaitan dengan hasrat manusia. Apa yang dilakukan oleh manusia selama itu mengandung unsur-unsur hasrat adalah nafsu.

Tindakan yang berdasarkan hasrat oleh Ibnu Bajjah diistilahkan dengan tindakan hewani. Seperti halnya seekor binatang dalam berlaku tidak menggunakan otak dan akal. Tindakan hewani pada manusia juga seperti itu. Bahkan ketika hasrat manusia dituruti, ia bisa lebih buas dari binatang. Hasrat manusia apabila sebagai dasar pikirannya, manusia akan lebih ganas dan lebih ganas dari binatang. Karena sebuas binatang ada titik kepuasan, sedangkan manusia tidak.

Selain tindakan yang didorong hasrat pada tindakan manusia, Ibnu Bajjah juga membagi tindakan manusia yang ditimbulkan dari pemikiran yang lurus dan keamanan yang bersih. Tindakan yang berdasarkan akal yang lurus, oleh Ibnu Bajah diistilahkan dengan tindakan manusiawi.

Tindakan manusiawi seseorang akan terlepas dari nafsu. Tindakan manusiawi bermotif dari hati, kemudian dikonsep dalam pikiran dan diterapkan dalam suatu tindakan. Tindakan ini tidak membahayakan, bahkan bermanfaat bagi manusia lain, karena tindakan manusia yang manusiawi selalu terkontrol oleh hatinya yang bersih dan lurus.

Berbeda dengan Ibnu Bajjah, WS. Rendra seorang penyair dan dramawan tersohor di Indonesia ini mengklasifikasikan tindakan dan pikiran manusia menjadi daya hidup dan daya mati. Perbedaan antara antara Ibnu Bajjah dan WS. Rendra sebenarnya hanya terletak pada titik tekan antara motif atau pendorong dan akibat dari tindakan manusia.

Daya hidup, menurut Rendra adalah daya atau kekuatan manusia untuk maju dan mengembangkan kemampuannya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Daya hidup manusia akan menjadi perenan penting dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitras hidupnya.

Perbedaan antara daya hidup Rendra dan tindakan manusiawi Ibnu Bajjah terletak pada starting dan stresing akhir tindakan tersebut. Tindakan manusiawi di dasarkan pada hati nurani, kemudian menghasilkan kebaikan bagi dirinya dan manusia lain, yang akibat pada titik hasil ini oleh Rendra diistilahkan dengan daya hidup manusia.

Selain daya hidup, Rendra juga membagi tindakan manusia dengan daya mati. Menurut Rendra daya mati adalah kekuatan manusia yang merusak dirinya maupun orang lain. Terlepas dari hasrat at6upun tidak, selama itu merusak dan menghancurkan adalah daya mati. Daya mati pada manusia pada dirinya sendiri dapat kita contohksn seperti malas, putus asa, hidup tidak teratur dan sebagainya. Sedangkan daya mati yang merugikan orang lain adalah mencuri, merampok, membuat onara, korupsi dan sebagainya.

Apabila kita telisik, sebenarnya daya mati Rendra erat kaitannya dengan tindakan hewani manusia Ibnu Bajjah. Keduanya sama-sama merusak dan merugikan. Karena pada dasarnya hasrat sebagai pendorong daya mati manusia. Dengan hasreat, tindakan manusia akan merusak segala-galanya. Demi keinginan hasratnya ia akan berbuat apa saja tanpa mempedulikan sesama.

Dalam upaya mencari klarifikasi apakah suatu tindakan bersifat hewani atau manusiawi, dapat kita tinjau dari sisi motif dan akibat dari tindakan tersebut. Kita tidak bisa mengklaim sesuatu hal ini baik dan ini jelek hanya dari satu sisi saja, yaitu hanya dari sisi motif ataupun hanya dari sisi akibat tindakan itu. Akan tetapi kita harus melihat dari dua sisi tindakan itu, yaitu dari segi motif dan akibat sebuah tindakan.

Suatu tindakan manusia yang merusak tidak bisa serta merta kita menyebutnya kejelekan. Kita harus meneliti dulu apakah motif dari tindakan tersebut. Apabila motif tindakan itu dari hati yang lurus, meskipun nantinya dapat merusak, hal ini tentu bukanlah daya mati ataupun tindakan hewani manusia. Karena bagaimanapun manusia adalah makhluk yang tak pernah luput dari kesalahan dan kelupaan. Bisa juga kesalahan terletak pada konsep otak sehingga tindakan itu dapat merusak.

Begitu juga dengan tindakan manusia yang berdasarkan hasrat atau nafsu, namun tindakan tersebut cenderung untuk menungkatkan dan melejitkan hidup manusia dan keindahan lingkungannya. Apakah tindakan tersebut dapat kita sebut dengan tindakan hewani atau daya mati manusia? Atau tindakan manusiami dan daya hidup manuasia? Hasratpun dapat dijadikan sebagai semangat dan pendorong seseorang untuk menuju lebih baik. Seperti halnya sesorang yang berhasrat dengan harta, ia akan bekerja keras. Dan seseorang yang berhasrat untuk mendapatkan ilmu, ia akan belajar dengan tekun. Disinilah kita dituntut untuk mensinergikan antara hasrat, hati dan pikiran.

Hasrat dan pikiran tanpa hati ia akan menjadi tindakan hewani manusia yang kemudian menjadi daya mati manusia. Dan hati tanpa hasrat ia hanya akan diam terbungkam. Hati dan hasrat tanpa pikiran juga akan mudah ditipu dan dilemahkan. Yang terbaik adalah hasrat dan pikiran yang digerakkan oleh hati. Inilah tindakan manusiawi sebagai daya hidup pada diri manusia.

Mengetahui suatu hal ini baik atau buruk sangat penting bagi manusia. Dengan mengetahui keduanya tersebut kita bisa membedakan dan memilih untuk melangkahkan kaki kita dalam kehidupan di dunia ini. Dan juga dalam menghakimi suatu hal, tak terlepas dari pemahamn keduanya. Ketika kita salah mengartikan kebaikan dan keburukan, kita akan terjebak dalam pengertian salah tersebut sehingga berakibat kelirunya tindakan yang kita ambil.

Dalam teori kognisi pada ilmu psikologi yang membahas hubungan pengamatan, pemahaman dari pengamatan serta tindakan dari persepsi hasil olah pemahaman tersebut, menjadikan penting sebuah informasi dari pengamatan seseorang yang nantinya akan diolah dalam otak sehingga menjadi konsep sebagai dasar dalam melakukan dan memutuskan sesuatu. Oleh sebab itu filsafat mencoba mendalami hasil pengamatan tersebut untuk menghasilkan konsep yang benar.

Penelitian Sastra Bandingan

Persamaan dan Perbedaan Unsur-Unsur Syi’ir Madh kepada Nabi Muhammad SAW karya al Busyairi dengan Syi’ir Madh kepada Raja Sholih karya Sofiudin al Hilli.


BAB I
PENDAHULUAN

I.    Latar Belakang Masalah
     Al Busyiri dengan nama asli Muhammad bin Said bin Hammad As Sanhaji dilahirkan di Desa Dallas dekat kota Bani Suwaif di Mesir pada tahun 608 H dan Shofiyudin al-Hilli dengan nama asli Abdullah Aziz bin Ali dilahirkan di kota Hallah (tepi Furat) pada tahun 677H, merupakan dua penyair besar pada zaman keruntuhan Abasiyah. Hal ini dibuktikan dengan karya besarnya qasidah Burdah karya al-Busyiri tentang pujiannya kepada Nabi besar Muhammad SAW yang hingga kini masih sering dilantunkan. Dan Shofiyidin al-Hilli dengan puisi-puisinya yang dianggap karangan terbaik sesudah al-Busyairi dan bahasa dalam syairnya sangat mudah sehingga banyak orang yang menjadikannya pantun. Dan juga karena kelihaiannya dalam menciptakan sya’ir madh kepada Raja Ibnu Kholawwun, beliau diangkat menjadi juru tulisnya. Shofiyudin al-Hilli juga dikenal sebagai orang pertama yang menciptakan syi’ir madh kepada Nabi Muhammad yang paling lengkap dari segi ilmu badi’ sehingga beliau dimasukkan sebagai imam ilmu badi’.

    Penelitian disini mencoba membandingkan unsur-unsur dua syi’ir madh karya dua penyair besar zaman keruntuhan. Meskipun dua syi’ir yang kami teliti berbeda tujuan  syi’ir tersebut diciptakan –karya al-Busyairi ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW dan karya Shofiudin al-hilli ditujukan kepada raja Sholeh ketika menghadapi serangan Mongol- tapi pada dasarnya tema kedua syi’ir tersebut sama, yaitu sebagai pujian kepada orang-orang mulia.

    Sastra bandingan adalah pendekatan dalam ilmu sastra yang tidak menghasilkan teori sendiri. Menurut Remak (1990 : 1), sastra bandingan adalah kajian sastra di luar sebuah negara dan kajian hubungan diantara sastra dengan bidang ilmu serta kepercayaan yang lain seperti seni (misalnya, seni lukis, seni ukir, seni bina dan seni musik), filsafat, sejarah dan sains sosial (misalnya politik ekonomi, sosiologi) sains, agama dan lain-lain. Sedangkan menurut Nada (1999:9), sastra bandingan adalah suatu studi atau kajian sastra suatu bangsa yang mempunyai kaitan kesejarahan dengan sastra bangsa lain, bagaimana terjalin proses saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya, apa yang telah diambil suatu sastra dan apa pula yang telah disumbangkannya.


    Kedua syi’ir tersebut akan kami teliti dengan metode sastra bandingan yaitu membandingkan unsur-unsur syi’ir (Burdah) madh kepada Nabi Muhammad SAW karya al Busyairi dengan syi’ir madh kepada raja Sholih karya Sofiudin al Hilli, sehingga akan tampak bagaimana perbedaan serta persamaan rasa, gagasan, imajinasi, dan bentuk bahasa kedua pengarang dalam penggambaran orang-orang yang dikaguminya.

    Penelitian di sini diharapkan mampu memberikan pengetahuan kita tentang bagaimana seorang penyair mengemas rasa, pikiran gagasan, dan bahasa sehingga menjadi sebuah karya yang ditujukan orang-orang yang dikaguminya, selain untuk menambah lebih banyak pengetahuan kita tentang syi’ir-syi’ir masa keruntuhan Daulah Abasiyah. Karena bagaimanapun, pada masa itu berlangsung carut marut peperangan antara daulah Abasyiah mengahadapi orang-orang mongol yang dipimpin oleh Jengis Khan, yang akhirnya kemenangan diraih bangsa Mongol.

II.    Rumusan Masalah
1. Bagaimana unsur-unsur syi’ir (Burdah) madh kepada Nabi Muhammad SAW karya al Busyairi?
2. Bagaimana unsur-unsur syi’ir madh kepada raja Sholih karya Sofiudin al Hilli?
3. Apa persamaan dan berbedaan unsur-unsur syi’ir madh kepada Nabi Muhammad SAW karya al Busyairi dengan syi’ir madh kepada raja Sholih karya Sofiudin al Hilli?

III.    Tujuan Masalah Penelitian
1. Mengetahui unsur-unsur syi’ir madh kepada Nabi Muhammad SAW karya al Busyairi.
2. Mengetahui unsur-unsur pada syi’ir madh kepada raja Sholih karya Sofiudin al Hilli.
3. Mengetahui persamaan dan berbedaan unsur-unsur syi’ir madh kepada Nabi Muhammad SAW karya al Busyairi dengan syi’ir madh kepada raja Sholih karya Sofiudin al Hilli.

IV.    Manfaat Penelitian
Dengan penelitian ini diharapkan mampu mengetahui kedalaman dalam memahami karya sastra. Begitu juga sebagai pelatihan penelitian yang dapat memperluas wawasan penulis maupun pembaca dalam hal kesusastraan.

V.    Metodologi Penelitian
1.    Obyek penelitian
Obyek yang digunakan pada penelitian sastra ini adalah syi’ir madh kepada Nabi Muhammad SAW karya al Busyairi dengan syi’ir madh kepada raja Sholih karya Sofiudin al Hilli.

2.    Metode pengumpulan data.
Untuk pengumpulan data peneliti menggunakan data-data dalam kedua syi’ir tersebut yang berhubungan dan diperlukan sebagai data-data penelitian.

3.    Metode penelitian
Penelitian perbandingan ini menggunakan penelitian perpustakaan (library research) yaitu penelitian yang dilakukan di kamar kerja peneliti atau di ruang perepustakaan dimana peneliti memperoleh data dan inforamasi tentang obyek penelitiannya lewat buku-buku atau alat-alat audio visual lainya. Adapun metode kerja pada penelitian ini menggunakan  metode komparatif deskriptif yaitu membandingkan dengan menjabarkan unsur-unsurnya.


Langkah-langkah yang kami tempuh dalam penelitian ini adalah menganalisa unsur-unsur per-syi’ir meliputi 1.) Rasa (athifah), 2) imajinasi (al-Khoyal), 3) gagasan (al-fikroh), 4) Bentuk (Shurah)., setelah unsur-unsur keduanya diketahui, kita akan membandingkan dan mencari perbedaan serta kesamaan unsur-unsur kedua syi’ir tersebut.




BAB II
LANDASAN TEORI

A.    Unsur-Unsur Karya Sastra
Dalam kajian sastra Arab disebutkan bahwa sebuah ungkapan dapat dikategorikan sebagai karya sastra, baik genre syair maupun genre prosa, apabila memenuhi empat unsur, yaitu 1.) Rasa (athifah), 2) imajinasi (al-Khoyal), 3) gagasan (al-fikroh), 4) Bentuk (Shurah). Ada yang menyebut al-fikrah dengan istilah tema (al-ma’na) dan surah dengan gaya bahasa (al-uslub).

1.    Rasa (athifah)
Ada dua istilah yang oleh para satrawan sering kali disamakan dengan rasa, yaitu feeling ad emosi. Feeling adalah sikap sang penyair terhadap pokok permasalahan atau objeknya (Henry Guntur Tarigan;1993:11). Sedangkan emosi adalah keadaan bathin yang kuat, yang memperlihatkan kegembiraan, kesedihan, keharuan, atau keberanian yang bersifat subyektif (Syamsir Arifin: 1991; 40). Menurut A.Syayib pengertian emosi inilah yang memiliki kesamaan dengan pengertian rasa sastra.

2.    imajinasi (al-Khoyal)
Imajinasi adalah kemampuan menciptakan citra dalam angan-angan atau pikran tentang sesuatu yang tidak diserap oleh panca indra atau yang belum pernah dialami dalam kenyataan (Panuti Sudjiman; 1990: 36). Dalam karya satra imajinasi merupakan unsur yang sangat penting. Ia dapatr membantu sastrawan merekam peristiwa yang telah berlalu dan yang akan datang. Andaikata tidak ada imajinasi, niscaya kehidupan manusia menjadi miskin (M. Abd Al-Mun’im Khafaji: 1995; 52). Imajinasi tidaklah sama dengan realitas sesungguhnya, walaupun ia tetap berpangkal pada kenyataan dan pengalaman. Oleh karena itu, sastra tidak terikat oleh kenyataan, kebenaran dan kedustaan. Maksudnya, bukan berarti sastra tidak dapat merealisasikan kenyataan, karena hal itu memang bukan tujuan sastra. Jadi, sastra merupakan perasaan yang tidak mengungkapkan kenyataan, kebatilan, kebenaran, dan kedustaan. Inilah yang membedakan karya sastra dengan ilmu pengetahuan lainnya (Syauqi Dhaif: t.t:11).

3.    Gagasan (Fikrah)
Pada umumnya, gagasan dalam karya sastra banyak dipengaruhi faktor-faktor yang ada di luar, misalnya keadaan sosial, perkembangan politik, budaya, dan juga diwarnai oleh faktor Psikologi pengarang. Dengan demikian, terdapat hubungan timbal balik antara peristiwa sejarah dengan gagasan yang dituangkan. Yang dimaksud dengan hubiungan timbal balik di sini adalah sastrawan yang mengangkat kehidupan sosial masyarakat sebagai bahan penciptaan, dan karya sastra yang diciptakan mampu menggambarkan kembali kehidupan sosial masyarakat kepada masyarakat pembaca, serta memberikan sikap atau penilaian terhadapnya (Aminudin; 2000: 197).

4.    Bentuk (shurah)
Ahmad As-Syayib mendefinisikan bentuk merupakan sarana utama bagi seorang sastrawan untuk mengungkapkan pikiran dan imajinasinya kepada pembaca dan pendengar sastra. Yang dimaksud sarana dalam definisi ini adalah struktur fisik sastra yang tergambar dalam bentuk bahasa. Sedangkan pkiran dan makna merupakan struktur batin. Pikiran, makna, dan pesan yang terkandung dalam karya sastra merupakan tujuan, sedangkan perasaan yang tergambar dalam imajinasi merupakan sarana untuk membangkitkan keindahan dan kekuatan pikiran.

Dalam bentuk karya khususnya Syi’ir Arab, yang perlu diteliti adalah perumpamaan (Tasybih) pemilihan kata (Diksi), Bahr atau nada syi’ir yang digunakan, dan juga huruf qawafi pada akhir bait.



BAB III
ANALISA

وقال البشيري في البردة يمدحه النبي محمد صلى الله عليه وسلم:

محمد سيد الكونين والثقلين           والفريقين من عرب ومن عجم
فهو الذي تم معناه وصورته          ثم اصطفاه حبيبا بارئ النسـم
منزه عن شريك في محاسنه         وجوهر الحسن فيه غير منقسم
اعيا الورى فهم معنا فليس يرى     للقرب والبعد منه غير منفحم
كالشمس نظهر للعينين من بعد      صغيرة وتكل الطرف من امـم
وكيف يدرك في الدنيا حقيقته        قوم نيام تسلوا عنه بالحلـم
فمبلغ العلم فيه انه بشــر              وانه خير خلـق الله كلهـم

Artinya:
Nabi Muhammad adalah pengguhulu dua alam (Dunia dan akhirat)
Penghulu jin dan manusia, penghulu dua jenis bangsa (arab dan ajam)

Nabi Muhammad telah sempurna makna serta rupanya
Kemudian Tuhan pencipta makhuk  memilihnya menjadi kekasihNya

Tidak seorangpun dapat menyamainya dalam keindahan dan kebaikannya
Permata indah itu hanya pada dirinya dan tidak terbagi pada yang lainnya

Tidak suatu makhlukpun yang mengerti akan hakikat Nabi Muhammad
Namun, (karena besarnya kecintaan beliau kepada kami) sehingga setiap orang yang jauh maupun dekat mengagumi beliau.

Seperti matahari yang kelihatannya kecil dari jauh oleh dua mata
Tapi tidak ada mata yang tidak silau memandanginya

Bagaimana akan mengerti hakikat beliau di dunia ini
Bagi orang-orang yang menikmati tidur tenggelam dalam mimpi

Memang dari sudut pandang lahir, beliau adalah seorang manusia
Tapi dari sudut makna, beliau adalah makhluk pilihan.



قال صفي الدين الحلي من قصيدة نحرض فيها السلطان الصالح على الإحتراز من 
المغول ، ويمدحه :

    لا يمتطي المجد من لم يركب الخطرا        ولا ينال العلا مـن قـدم الحـذرا
ومن أراد العلا عفوا بـلا تعـب               قضى ولم يقض من إدراكها وطـرا
لا بد للشهد مـن نحـل يمنعـه                 لا يجـني النفع من لم يحمل الضررا
وأحزم الناس من لو مات من ظمأ           لا يقرب الورد حتى يعرف الصدرا
وأعزر الناس عقـلا من إذا نظرت          عيناه أمرا، غـدا بالغير معتبـرا
فقد يقال عثار الرجل ان عـثرت             ولا يقال عثــار الرأي إن عثرا
ولا ينال  العلا إلا فني شرفـت               خلاله فأطاع الدهـر ماأمـرا
كالصالح  الملك  المرهوب  سطوته          فلو توعد قلب الدرلا نفـطـرا
كالبحر والدهر في يومي ندى وردى         والليث والغيث في يومي وغى وقرى
لاموه في بذله الأموال قلت لهــم             هل تقدر السحب ألا ترسل المطرا

Artinya:
Seseorang tidak akan mendapat keagungan tanpa mengarungi mara bahaya
Dan seseorang tak akan mendapatkan kemuliaan jika mengedepankan ketakutan

Orang yang mengharapkan kemuliaan tidak akan pernah mendapatinya tanpa kelelahan
Dan tidak akan pernah memperoleh harapannya tanpa berusaha

Orang-orang akan selalu mengikat dirinya dengan rindu meskipun mati memisahkannya
Mereka tidak akan bisa mendekati para pasukan tanpa mengetahui pemimpinnya

Orang-orang akan memuliakan akal jika mereka melihat persoalan
Dan esok akan menjadi ternama dari sesamanya

Seseorang akan dikatakan hina apabila ia berbuat hina
Namun tidak akan dikatakan hina apabila hina dalam berpendapat

Seseorang tidak mendapatkan kehormatan tanpa memperoleh kebaikan
Maka tunduk dengan masa apa yang dipimpinnya

Sebagaimana raja Sholeh yang ditakuti kebesarannya
Jika hati beliau sudah berjanji, maka tak akan mengingkarinya

Laksana sungai besar dan waktu yang menyapa dan pergi dalam hariku
Dan tumbuhan yang rimbun serta hujan yang gaduh dan menggenang

Besarnya dalam mendermakan hartanya hingga dikatakan oleh mereka
Tidakkah ditakdirkan awan kecuali untuk mengirimkan hujan

Dari segi athifah atau rasa, secara ringkas kedua syi’ir tersebut kami uraikan sebagai berikut:

Syi’ir Madh Al-Busyairi:     
Rasa ditekankan pada kekaguman sang penyair pada jiwa dan raga Nabi Muhammad SAW, bahwa beliau adalah makhluk pilihan Allah SWT. Karena ini merupakan syi’ir madh, maka rasa sastra yang terungkap adalah kekaguman yang dituliskan lewat pujian-pujian.   

Syi’ir Madh Sofiudin Al-Hilli:
Rasa ditekankan pada kekaguman sang penyair pada ketegaran Raja Sholeh dalam segala urusan. Terutama penyair terkagum-kagum dengan ketepatan beliau dalam mendermakan hartanya. Rasa sastra kekaguman, akan menjadi modal untuk pengarang sebagai bahan syi’ir-syi’ir madh.    

Dari segi khayal atau imajinasi, secara ringkas kedua syi’ir tersebut kami uraikan sebagai berikut:

Syi’ir Madh Al-Busyairi:         
Unsur imajinasi syi’ir tersebut dapat kita ketahui melalui perumpamaan-perumpamaan yang digunakan yaitu berkisar tentang fenomena alam. Lebih jelasnya akan dijelaskan dalam penguraian tentang tata bahasa.
 
Syi’ir Madh Sofiudin Al-Hilli:
Unsur imajinasi syi’ir tersebut dapat kita ketahui melalui perumpamaan-perumpamaan yang digunakan yaitu berkisar tentang fenomena alam. Lebih jelasnya akan dijelaskan dalam penguraian tentang tata bahasa.    

Dari segi fikrah  atau gagasan, secara ringkas kedua syi’ir tersebut kita uraikan sebagai berikut:

Syi’ir Madh Al-Busyairi:       
Syair bertemakan tentang pujian kepada Nabi Besar Muhammad SAW, gagasan pada syair tersebut mengungkapkan keagungan akhlak Nabi Muhammad SAW dan kebesaran beliau sebagai seorang pemimpin dua jenis makhluk, manusia dan jin. Seperti tercermin bada bait:
Nabi Muhammad adalah pengguhulu dua alam (Dunia dan akhirat)
Penghulu jin dan manusia, penghulu dua jenis bangsa (Arab dan non Arab)
Sebagaimana kita ketahui bahwa Nabi Muhammad SAW memang ada untuk seluruh umat, tidak hanya orang Islam dan Arab saja, tapi seluruh manusia, dan juga jin.   

Syi’ir Madh Sofiudin Al-Hilli: 
Syair bertemakan tentang pujian kepada Raja Sholih, gagasan pada syair tersebut mengungkapkan tentang ketegaran beliau dalam memimpin dan kedermawanannya dalam mendermakan hartanya. Seperti tercermin pada bait:
Sebagaimana raja Sholeh yang ditakuti kebesarannya
Seorang raja, pastilah memiliki kharisma dan kekuatan yang besar, karena ia memimpin rakyatnya dan bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada rakyatnya.
    

Dari segi shurah atau bentuk, secara ringkas kedua syi’ir tersebut kami uraikan sebagai berikut:

Syi’ir Madh Al-Busyairi: 
1. tasybih (perumpamaan) beserta pemilihan kata:
Dalam syi’ir al-Busyairi di atas terdapat satu tasybih yang memuji keagungan Nabi besar Muhammad SAW. Adapun rincian tasybih sebagai berikut:

اعيا الورى فهم معنا فليس يرى   للقرب والبعد منه غير منفحم
       كالشمس نظهر للعينين من بعد    صغيرة وتكل الطرف من امـم


اعيا الورى فهم معنا فليس يرى للقرب والبعد منه غير منفحم = مشبه
الشمس نظهر للعينين من بعد صغيرة وتكل الطرف من امـم = مشبه به
كـ = أدة التشبه

Tasybih di atas disebut juga tasbih tamtsil yaitu tasybih dengan musyabah bih-nya terdiri dari jumlah. Dalam mengibaratkan keagungan baginda Nabi Muhammad SAW, al-Busyiri menggunakan matahari sebagai bandingannya. Matahari, selalu terang benerang. Kalau kita lihat tampak kecil, namun sinarnya membuat mata kita tak mampu menatap lama-lama. Dan dimanapun manusia berada pasti dapat melihat sinar matahari yang terang tersebut. Matahari juga sebagai sumber kehidupan di dunia. Tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia akan mati tanpa matahari.

Kurang lebih begitulah yang diinginkan al-Busyairi dalam tasybih madh-nya. Nabi Muhammad sebagai manusia termulia dan semua orang mengaguminya, di dekat maupun di jauh dari beliau. Nabi Muhammad rasul, penutup para Nabi tidak hanya mempunyai tanggung jawab terhadap umat Islam saja, tapi kepada seluruh umat manusia.

2. Arud dan qowafi
Menggunakan Bahr Basyith, yaitu mengikuti wazan
مستفعلن فاعلن مستفعلن فاعلن
Sedangkan huruf qafiahnya menggunakan Arrawi yaitu haruf yang diciptakan pada akhir syi’ir dan dinisbatkan kepadanya. Karena menggunakan huruf mim, disebut juga dengan Arrawi mimiyah.   

Syi’ir Madh Sofiudin Al-Hilli:

    1. tasybih (perumpamaan) beserta pemilihan kata:
Pada syi’ir di atas terdapat dua tasybih yang digunakan Shofiudin al-Hilli untuk memuji raja Sholeh. Ketiga tasybih tersebut akan kami uraikan sebagai berikut:
   
كالصالح  الملك  المرهوب  سطوته     فلو توعد قلب الدرلا نفـطـرا
كالبحر والدهر في يومي ندى وردى    والليث والغيث في يومي وغى وقرى

الصالح الملك المرهوب سطوته = مشبه
البحر والدهر في يومي ندى وردى والليث والغيث في يومي وغى وقرى = مشبه به
كـ = أدة التشبيه
فلو توعد قلب الدرلا نفـطـرا = وجه الشبه
Tasybih di atas disebut juga dengan tasybih tamtsil yaitu apabila musyabbah bih terdiri dari jumlah. Adapun karakter tasybih di sini menggunakan fenomena alam dalam mengumpamakan keagungan raja Sholeh. Kata-kata sungai, waktu, rimbunan pohon-pohon, dan hujan menjadikan seolah-olah raja Sholeh memberi kesejahteraan bagi rakyatnya, sebagaimana sungai, rimbunan pohon, serta hujan yang menumbuhkan biji-bijian kemudian berbuah dan dinikmati manusia.

هل تقدر السحب ألا ترسل المطرا     لاموه في بذله الأموال قلت لهــم


ضمر "ه" في لاموه تقدره الصالح = مشبه
تقدر السحب ألا ترسل المطرا = مشبه به
في بذل الأموال = وجه الشبه

Tasybih di atas juga disebut tasybih tamtsil­ karena musyabbah bih terdiri dari jumlah. Karakter tasybih di atas juga menggunakan fenomena alam untuk mengibaratkan besarnya harta raja Sholeh yang didermakan untuk kesejahterakan rakyatnya. Kata awan yang mengirimkan hujan telah mewakili kedermawanan raja Sholeh yang selalu mendermakan hartanya      

2. Arud dan qowafi
Menggunakan Bahr Basyith, yaitu mengikuti wazan
مستفعلن فاعلن مستفعلن فاعلن
Sedangkan dari segi huruf qafiahnya menggunakan ­al-Washlu, yaitu mad atau ha’ kasroh yang memanjangkan arrawi.    



BAB IV
KESIMPULAN

1.    Unsur-Unsur syi’ir madh dalam qosidah burdah karya al-Busyairi, sebagai berikut:
dari segi 1.) Rasa (athifah) ditekankan pada kekaguman sang penyair pada jiwa dan raga Nabi Muhammad SAW.  2) imajinasi (al-Khoyal), syi’ir tersebut dapat kita ketahui melalui perumpamaan-perumpamaan yang digunakan yaitu berkisar tentang fenomena alam. 3) gagasan (al-fikroh), gagasan pada syair tersebut mengungkapkan keagungan akhlak Nabi Muhammad SAW dan kebesaran beliau sebagai seorang pemimpin dua jenis makhluk, manusia dan jin. 4) Bentuk (Shurah), terdapat satu tasbih, yaitu tasybih tamsil. Huruf qowafinya arrawi mimiyah, menggunakan bahr basith.

2.    Unsur-unsur syi’ir madh kepada Raja Sholeh karya Shofiudin al-Hilli, sebagai berikut:
dari segi 1.) Rasa (athifah), Rasa ditekankan pada kekaguman sang penyair pada ketegaran Raja Sholeh dalam segala urusan. Terutama penyair terkagum-kagum dengan ketepatan beliau dalam mendermakan hartanya. 2) imajinasi (al-Khoyal), Unsur imajinasi syi’ir tersebut dapat kita ketahui melalui perumpamaan-perumpamaan yang digunakan yaitu berkisar tentang fenomena alam. 3) gagasan (al-fikroh), gagasan pada syair tersebut mengungkapkan tentang ketegaran beliau dalam memimpin dan kedermawanannya dalam mendermakan hartanya 4) Bentuk (Shurah), terdapat dua tasybih yang keduanya merupakan tasbih tamsil, huruf qawafinya Al-waslu, menggunakan bahr basith.

3.    Persamaan dan berbedaan unsur-unsur kedua syi’ir sebagai berikut:

F    Persamaan Unsur-unsur keduanya adalah sama-sama menggunakan fenomena alam dalam hal berimajinasi, yaitu untuk mengungkapkan keagungan. Menggunakan alam yang berperan sebagai sumber kehidupan di dunia. Bahr yang digunakan juga sama, menggunakan bahr basith.

F    Adapun perbedaannya adalah pada fikrah atau gagasan al-Busyiri kepada Nabi Muhammad dengan rasa lebih kuat yaitu dengan menggunakan ibarat matahari sebagai ibarat kebesaran Nabi Muhammad, yang mana matahari lingkup jangkauan sinarnya lebih luas dan lebih banyak orang yang menerimanya. Sedangkan Shofiudin al-Hilli gagasan tertumpu pada pujian pada Raja Sholih dengan megibaratkan ketegaran Raja Sholih saat berjanji dengan rasa menggunakan sungai dan waktu yang selalu mengalir tanpa ragu sebagai pengibaratan ketegaran beliau, juga dalam kedermawanannya diibaratkan dengan awan yang selalu mengucurkan hujan. Sederas aliran sungai, sederas hujan namun yang merasakan hanya sekitar itu saja, dalam artian lingkup sekitar aliran sungai maupun hujan itu. Lain dengan matahari yang sinarnya menembus segala celah selama ia tidak terhalangi sesuatu, dalam hal ini sara syi’ir (burdah) madh pada Nabi Muhammad SAW karya al-Busyairi lebih kuat dari pada sara syi’ir madh pada raja Sholih karya Shofiudin al-Hilli. Perbedaan juga tampak pada penggunaan huruf qawafi antara keduanya.



Daftar Pustaka

Akhmad Kholasi, Taysir Balaghah (Madinah; Thob’ah tsaniyah mazidah wamunhaqomah; 1995)

Akhmad Muzzaki, Kesusastraan arab, pengantar teori dan terapan (Jogjakarta; Ar-Ruzz Media jogjakarta, 2006)

Sapardi Djoko Darmono, Pegangan Penelitian Sastra Bandingan. (Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Pusat Bahasa, 2005)



Ponpes Ploso Kediri, al-arudh wal Qowafi (Kediri; Penerbin Ponpes Ploso, tanpa tahun)


Yunus ali al Mudar dan Bey Arifin, Sejarah Kesusastraan Arab (Surabaya: pt. Bina Ilmu, 1983)

Penelitian Psikologi Sastra

Teori  Kognisi Oswald Kroh Dalam Tokoh Cerpen Surga Anak-Anak Karya Najib Mahfudz


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Oswald kroh, dalam bukunya “die psycologie des grindschulkindes” mengatakan bahwa pada usia 7 sampai 8 tahun anak mengalami periode sintese-fantastis. Artinya segala hasil pengamatan merupakan kesan total atau global, sedangkan sifatnya masih samar-samar. Selanjutnya kesan-kesan tersebut dilengkapi dengan fantasi anak. Dengan keglobalan pandangan anak tentu kita akan kesulitan menjelaskan permasalahan yang bersifat abstrak, misalkan, agama. Anak sudah dapat memahami bahwa ini sebuah pena, namun ia belum bisa membedakan mana yang mata pena, tinta pena karena pandangannya yang masih bersifat global. Sedangkan agama merupakan suatu yang global dan membutuhkan pemahaman unsur-unsur agama untuk memahaminya.

Di dalam cerpen Surga Anak-anak karya Najib Mahfudz, salah seorang sastrawan besar dalam sastra modern mesir ini menceritakan tentang pertanyaan-pertanyaan seorang anak kecil kepada kedua orang tuanya. Pertanyaan-pertanyaan itu mengalir begitu peliknya tentang agama, Tuhan dan kematian. Anak-anak yang masih ceria dengan nyanyian dan permainan, yang masih sering menangis manja, kini melontarkan beberapa pertanyaan tentang agama. Hal ini tentu menjadi ambiguitas antara celoteh dan pemahaman kata-kata saat anak mengucapkan perkataan tertentu. Terlebih lagi ketika pembicaraan itu mengenai agama, tuhan dan kematian yang mana orang dewasa masih perlu lebih memutar otak untuk  memahaminya.

Tokoh anak kecil dalam cerpen ini mulai bergaul dengan guru dan teman dalam lingkungan sosial yang lebih luas di sekolahannya. Interaksi tersebut akan lebih memperkaya pengetahuan dalam pemikirannya. Namun, pada fase ini fantasi anak juga turut mendominasi pemikirannya. Pada saat seperti ini sulit bagi kita untuk membedakan mana perkataan anak yang memang benar sudah dimengertinya atau hanya celoteh semata yang timbul dari fantasi anak yang mempengaruhi pikirannya.

Pikiran anak yang masih didominasi fantasi, meskipun sudah dapat berpikir secara kongkret, penjelasan tentang agama kepada anak menjadi rentan menyesatkan. Karena pengamatan anak terhadap penjelasan akan diolah dengan konsep-konsep dalam pikirannya yang sarat dengan fantasi, sehingga hasil konsep tersebut akan menghasilkan persepsi yang tidak objektif, karena terjadi penambahan ataupun pengurangan.

Ingatan anak-anak pada usia 8 sampai 18 tahun mencapai intensitas paling besar dan paling kuat. Maka dari itu orang tua harus lebih hati-hati saat menjawab setiap pertanyaan anak, terutama pada permasalahan ketauhidan. Masalah ini menjadi rumit karena fantasi anak-anak akan bisa menyesatkan pemahaman mereka yang nantinya akan membahayakan bagi diri mereka.

Penelitian cerpen kali ini akan menerapkan teori kognisi Oswald kroh dalam  cerpen surga anak-anak karya najib mahfud. Seperti yang dikemukakan oleh wellek dan warren (1990) psykologi sastra mempunyai empat kemungkinan pengertian. Pertama adalah psikologi pengarang   sebagai tipe atau pribadi. Kedua, studi proses kreatif. Ketiga, studi tipe dan hukum-hukum  psikologi yang diterapkan pada karya sastra, dan yang keempat mempelajari dampak sastra terhadap pembaca.

Anak-anak bukanlah barang mainan yang dapat dengan mudah memperlakukanya. Apapun yang kita berikan pada anak-anak akan tersimpan pada otak bawah sadar hingga ia tumbuh dewasa kelak. Menurut teori tabula rasa John Lock bahwa anak bagai kertas putih bersih. Apabila kita coretkan tinta hitam, maka akan hitam pula warna kertas itu dan jika kita coretkan tinta merah, akan merah pula kertas itu. Harapan kami, penelitian ini dapat membantu orang tua dan pendidik anak dalam menanggapi berbagai pertanyaan yang diajukan anak, terutama mengenai masalah keagamaan. Dan bagi kesusastraan, dengan penelitian ini semoga cerpen surga anak-anak karya najib mahfud akan lebih terintepretasi sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat pembaca

B. Rumusan masalah
1. Apakah teori kognitif Oswald Kroh dapat diterapkan pada tokoh anak kecil dalam cerpen Surga Anak-anak karya  Najib Mahfudz?

C. Tujuan penelitian
1. Untuk mengetahui sejauh mana kesesuaian teori kognitif Oswald Kroh pada tokoh anak kecil pada cerpen Surga Anak-anak karya Najib Mahfudz.

D. Manfaat Penelitian
1. Untuk mengetahui pola berpikir anak sehingga para orang tua dan pendidik anak dapat menanggapi pertanyaan dan tindakan anak sesuai dengan kemampuan berpikirnya

E. Metodologi penelitian
1. Obyek penelitian
Obyek yang digunakan pada penelitian sastra ini adalah cerpen yang berjudul Surga Anak-anak karya Najib Mahfudz.

2. Batasan penelitian
Dalam penelitian sastra terdapat dua wilayah yang dapat diteliti. Wilayah tersebut adalah segi ekstrinsik dan intrinsik sastra. Pada dasarnya psikologi sastra juga dapat dilakukan dari segi ekstrinsik, yaitu wilayah sosiologi pengarang dan pembaca serta wilayah intrinsik sastra yang meneliti tentang psikologi tokoh dalam cerita. Penelitan kali ini akan bergulir sekitar pemikiran dan pengamatan pada tokoh dalam karya sastra yang merupakan segi intrinsik sastra.

3. Metode pengumpulan data.
Untuk pengumpulan data peneliti menggunakan data-data dalam cerpen tersebut yang berhubungan dan diperlukan sebagai data-data penelitian.

4. Metode penelitian
Penelitian cerpen surga anak-anak ini menggunakan penelitian perpustakaan (library research) yaitu penelitian yang dilakukan di kamar kerja peneliti atau di ruang perepustakaan dimana peneliti memperoleh data dan inforamasi tentang obyek penelitiannya lewat buku-buku atau alat-alat audio visual lainya. Adapun metode kerja pada penelitian ini menggunakan  metode kualitatif yaitu mengutamakan kedalaman penghayatan terhadap interaksi antar konsep yang dikaji secara empiris.



BAB II
LANDASAN TEORI

Abrams, dalam bukunya “The mirror and the lamp; romantice theory and the critical tradition” mengklasifikasikan 4 pendekatan dalam penelitian sastra yaitu, pendekatan obyektif  yang memperhatikan aspek karya, pendekatan ekspresif yang menitikberatkan pada pengarang, pendekatan mimetik yang menitikberatkan pada aspek semesta dan pendekatan pragmatik yang menitikberatkan pada hubungan karya sastra dengan pembaca.

Dalam penelitian ini peneliti akan menganalisa sisi intrinsik yaitu analisa unsur-unsur dalam karya sastra, dengan pisau analisis teori kognitif Oswald Kroh. Istilah kognitif berasal dari kata cognition artinya adalah  pengertian, mengerti. Pengertian yang luasnya cognition (kognisi) adalah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan ( Neisser, 1976). Dalam pekembangan selanjutnya, kemudian istilah kognitif ini menjadi populer sebagai salah satu wilayah psikologi manusia / satu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan masalah pemahaman, memperhatikan, memberikan, menyangka, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, pertimbangan, membayangkan, memperkirakan, berpikir dan keyakinan. Kognisi adalah pengertian yang luas mengenai berpikir dan mengamati.

Teori Oswald Kroh dalam bukunya “Die Psychology logie des grindschilkindes” (Psikologi anak sekolah dasar) menyatakan adanya 4 periode dalam perkembangan fungsi pengamatan pada anak.

a. Periode sintese-fantastis, 7-8 tahun. Artinya, segala hasil pengamatan merupakan kesan totalitas atau global, sedang sifatnya masih samar-samar. Selanjutnya, kesan-kesan tersebut dilengkapi dengan fantasi anak. Asosiasi dengan ini anak suka sekali pada dongeng, sage, mitos, legenda, kisah-kisah dan cerita khayalan.

b. Periode relisme naïf, 8-10 tahun. Anak sudah bisa membedakan bagian atau onderdil, tetapi belum mampu menghubungkannya satu dengan lain dalam hubungan totalitas. Unsur fantasi sudah banyak berganti dengan pengamatan kongkrit.

c. Periode realisme kritis, 10-12 tahun. Pengamatannya bersifat realistis dan kritis. Anak sudah mengadakan sintese logis, karena munculnya pengertian, wawasan dan akal yang sudah mencapai taraf kematangan. Anak kini bisa menghubungkan bagian-bagian menjadi satu kesatuan atau menjadi satu struktur.

d. Periode subyektif, 12-14 tahun. Unsur emosi atau perasaan muncul kembali dan kuat sekali mempengaruhi penilaian anak terhadap semua pengamatannya. Masa ini ditandai dengan gejala puberitas muda.

Pada sintesis-fantasis pengamatan anak bersifat global. Artinya anak memahami sesuatu secara keseluruhan. Ia tidak bisa membedakan unsur-unsur yang membangun keseluruhan tersebut. Apabila kita tunjukkan ini mobil, anak sudah faham. Tapi ketika kita bertanya mana yang setir, kaca sepion, gardan, dan sebagainya anak tidak dapat menyebut itu semua, kecuali kita beri tahu terlebih dahulu. Pada periode ini unsur fantasi anak masih tinggi. Kesan-kesan global dari pengamatannya akan dokombinasikan dengan fantasinya. Maka dari itu anak suka sekali dengan dongeng-dongeng karena cerita-cerita tersebut penuh dengan fantasi.

Pada periode refisme naif anak sudah mampu membeda-bedakan antar bagian tapi ia belummampu menghubungkannya dalam sebuah totalitas. Misalnya anak sudah mengerti ini apel, ini pohon, ini daun, tapi ia tidak bisa menjelaskan hubungan antar bagian tersebut. Selanjutnya ketidakmampuan menghubungkan bagian-bagian tersebut diluapkan dengan keingintahuan yang tinggi. Pada umumnya keingintahuan yang tinggi pada anak diungkapkan dengan pertanyaan.

Pada realisme kritis anak sudah mampu menghubungkan bagian-bagian dalam sebuah satu struktur. Pada periode ini anak sudah mampu menyimpulkan sesuatu secara logis karena wawasan dan akal sudah mencapai taraf kematangan. Pada periode ini pelajaran agama mendapatkan porsi lebih dalam pendidikan anak.

Pada periode subyektif anak mampu merasakan sesuatu dengan perasaannya. Perasaan atau emosi anak mempengaruhi pengamatan dan perilakunya. Anak mulai menyukai lawan jenis. Masa ini adalah masa awal puberitas muda.



BAB III
PEMBAHASAN

Psikologi kognitif memfokuskan studi-studinya pada bagaimana pikiran manusia memproses informasi sehingga menjadi pengetahuan yang disimpan dalam ingatan, kemudian menggunakan pengetahuan itu di dala melakukan tugas-tugas atau akitifitasnya. Oleh karena itu pengetahuan ini diperoleh melalui iformasi yang diproses lebih lanjut, maka psikologi kognitif juga sering disebut pemrosesan informasi (Information procesing psychology, Glass dan Holoyak, 1986)

Dalam cerpen berjudul “Surga Anak-anak” karya Najib Mahfudz ini menceritakan seorang anak kecil yang bertanya tentang ketuhanan dan kematian. Dilihat dari ungkapan sang bapak pada akhir cerita, “tak bisa kubayangkan, pertanyaan-pertanyaan ini bisa didiskusikan pada taraf umur segitu” kita ketahui bahwa umur anak dalam cerpen ini relatif kecil. Dengan asumsi tersebut kita tentukan anak itu berumur 7-8 tahun untuk memudahkan menganalisisnya. Pada taraf umur itu di dalam diskusi panjang tentang ketauhidan dan kematian menjadi sebuah pertanyaan besar, apakah anak benar-benar mengerti kata-kata  yang ia ucapkan maupun informasi dari jawaban yang ia terima. Kita akan mencoba mengupasnya dengan teori Oswald Kroh untuk mengetahui hat tersebut.

Pada dasarnya perkembangan sosial dan kepribadian usia pra sekolah sampai akhir masa sekolah ditandai oleh meluasnya lingkungan sosial. Anak-anak melepaskan diri dari keluarga, ia semakin mendekatkan diri pada orang lain di samping anggota keluarganya. Meluasnya lingkungan sosial bagi anak menyebabkan anak menjumpai pengaruh-pengaruh yang ada di luar pengaruh orang tua. Ia bergaul dengan teman-teman, ia mempunyai guru-guru yang mempunyai pengaruh sangat besar dalam proses emansipasi. Dalam proses emansipasi dan individu maka teman-teman sebaya mempunyai pengaruh yang sangat besar.

Pada tahap masa sekolah anak mulai mengenal guru dan teman-teman sebayanya. Pada saat ini persahabatan menjadi suatu hal yang menyenangkan bagi anak-anak. Anak kecil (selanjutnya AK) memang sedang dalam interaksi sosial luar dan menjalin persahabatan dengan Nadia dalam kutipan "Saya dan teman saya Nadia selalu bersama-sama" dan "Di kelas, pada waktu istirahat dan waktu makan siang". Pada saat hati anak tertumpu pada seorang teman dan terdapat perbedaan dalam suatu hal, hati anak tidak merasa nyaman.

Dalam tokoh AK, tuntutan emansipasi tersebut diluapkan dengan protes berupa pengaduan kepada orang tuanya tentang pemisahannya dengan sahabatnya pada pelajaran agama, "tapi waktu pelajaran agama, saya di satu kelas dan ia di kelas lain". Selain ungkapan tersebut merupakan luapan dari kekecewaan AK atas pemisahannya dengan Nadia, ungkapan itu mencerminkan pemikiran kritis pada AK. Menurut Oswald Kroh pemikiran kritis akan terjadi pada anak usia 10-12 tahun. Namun demikian tidak menutup kemungkinan AK yang berumur lebih kecil menampakkan tahap itu. Pemikiran-pemikiran kritis juga tampak pada pembicaraan sebagai berikut:

“Tiap agama baik. Orang Islam menyembah Allah, dan orang Kristen menyembah Allah juga.”
“kenapa ia menyembah Allah di satu kelas dan saya di kelas lain?”

Pada pemikiran kritis oleh AK di sini merupakan suatu hal yang istimewa. Karena perkembangan kognitif AK lebih tinggi dari umur layaknya. Biasanya hal seperti ini dialami anak yang cerdas. Meskipun AK mencapai pemikiran kritis, namun pada beberapa percakapan ia memunculkan fantasi-fantasinya. Pada percakapan:

“Bapak dan ibu orang Islam. Sebab itu kau juga orang Islam.”
“Dan Nadia?”
“Bapak dan ibunya Kristen. Sebab ia juga Kristen.”
“Apa karena bapaknya berkacamata?”

Pada ungkapan tersebut AK melakukan penyimpulan silogisme dengan asumsi bapak AK Islam, ia tidak berkacamata dan bapak Nadia Kristen, ia berkacamata. Dengan kesalahan generalisasi yaitu menyatakan bahwa sesuatu itu umum padahal tidak umum, kesalahan pengambilan kesimpulanpun akan salah. Hal ini juga membuktikan bahwa pengamatan AK merupakan kesan totalitas dan sifatnya masih samar-samar, karena ia melihat ayah Nadia dari segi keseluruhan bentuknya yaitu berkacamata.

Kesalahan pengambilan silogisme akibat pengamatan AK yang bersifat totalitas juga tercermin pada tanggapan atas jawaban ibunya bahwa orang Islam dan orang Kristen juga baik dengan ungkapan AK, “Apa boleh saya berlaku seperti Kristen, agar kami bisa selalu bersama-sama.”. Pemikiran AK sudah dapat mengadakan sintese logis namun karena ia tidak dapat membedakan unsur-unsur atau bagian-bagian sesuatu kesimpulan yang di ambil AK tidak benar. Pada ungkapan di atas AK memproses pengamatan totalitasnya dengan pengetahuannya bahwa setiap sesuatu yang baik boleh dilakukan. Dan juga pada pembandingannya tentang meninggalnya Yesus dengan kakeknya:

“Kakekmu sudah meninggal.”
“Apa orang-orang juga membunuhnya.”
“Tidak, ia meninggal sendiri.”
“Bagaimana?”
“Ia sakit, kemudian meninggal.”
“Dan adikku juga akan meningal karena ia sakit?”

Begitu juga pada:

“Dan kenapa kakek meninggal?”
“Sakit dalam ketuaannya.”
“Bapak pernah sakit dan bapak juga sudah tua. Kenapa idak meninggal?”

Pengamatan pada AK di atas bersifat bagian-bagian atau, dan ia berusaha menerapkannya pada sesuatu yang umum, sehingga terjadi kesalahan pada kesimpulannya.

Kita akan mengalami kesulitan menghadapi pertanyaan anak yang membutuhkan jawaban dimana jawaban tersebut terlalu tinggi untuk dapat dicapai pemahaman seorang anak. Apabila dijawab dengan jawaban sebenarnya, anak akan lebih banyak bertanya karena jawaban tersebut menambah ketidaktahuan anak, tetapi ketika kita jawab menggunakan simbol-simbol anak hanya akan melihat totalitas dari simbol-simbol itu dan tidak dapat menghubungkannya dengan jawaban sebenarnya. Ketika ibu menyimbulkan antara Islam dan Kristen dengan dua buah mode, AK hanya mampu memahami mode tersebut secara totalitas. Pada ungkapannya, “Apakah dapat saya katakan pada Nadia, bahwa ia mode lama dan saya mode baru?” AK hanya mampu menangkap “Mode” sebagai mode pakaian atau sejenisnya.

Fantasi anak akan mengembangkan pengamatan kongkretnya. Hal ini menyebabkan keingintahuan anak melejit tinggi karena pengamatan konkrit tersebut akan dimanipulasi oleh fantasi yang bebas tak terbatas. Pada cuplikan pertanyaan AK yang mengalir begitu derasnya penciptaan Makhluk oleh Tuhan:

“Ia yang menciptakan dunia seluruhnya.”
“Seluruhnya?”
“Ya, seluruhnya.”
“Apa artinya mencipta?”
“Yang membuat segala sesuatu.”
“Bagaimana caranya?”
“Dengan kekuasaan yang agung sekali.”
“Di mana ia tinggal?”

Percakapan tersebut merupakan hasil keingintahuan secara bagian-bagian dimaksudkan AK untuk membangun satu struktur pemahaman yang untuh. Atau saat pengamatan kongkret tidak mampu memberikan pemahaman, unsur fantasi anak yang masih memegang peranan penting sebagai solusinya. Seperti pada keinginan AK untuk meliah Tuhan:

“Saya ingin melihatNya.”
“Tidak bisa.”
“Meskipun melalui televisi?”

Karena keterbatasan pengetahuan dalam mengolah informasi, ia akan mencoba mencari pemahaman dengan pengetahuan yang tersedia dalam otaknya. Begitu pula pada keingintahuan AK tentang turunnya wahyu kepada nabi dalam percakapan:

“Siapa yang kasih tau Ia di atas?”
“Para Nabi.”
“Para Nabi?”
“Ya, seperti Nabi Muhammad.”
“Bagaimana caranya?”
“Dengan kesanggupan yang khas padanya.”
“Kedua matanya tajam sekali?”

Pada percakapan di atas pemikiran AK dalam mengolah pengamatannya tidak mampu memberikan pemahaman, sehingga ia menyamakan dengan pengetahuan yang dimilikinya, bahwa mata yang tajam dapat melihat lebih cermat. Hal ini membuktikan bahwa unsur fantasi masih sangat dominan pada pemikiran anak.

Berpikir kritis AK tampak lagi pada pengamatannya terhadap perbedaan antara pernyatan satu dengan yang lainnya. Seperti pada informasi kematian Tuhan dari Nadia dan tidak matinya Tuhan oleh ibu AK. Begitu juga pada ketidakkonsekuen bapak dalam menjelaskan tentang menyenagkan atau tidaknya kematian pada:

”Apa mati itu menyenangkan?”
“Tidak, sayang.”
“Kenapa Tuhan menghendaki sesuatu yang tidak menyenangkan?
“Selama Tuhan yang menghendaki begitu, itu artinya baik dan menyenangkan.”

AK dapat menemukan kejanggalan jawaban bapak dengan sintese logisnya meskipun pengetahuannya masih terbatas.

Ketidakmampuan Ak dalam menghubungkan sebuah bagian dengan yang bagian lainnya tampak pada saat ibu menghardiknya karena ucapan AK menyinggung kematian bapaknya pada: “Tiba-tiba ibunya menghardiknya. Anak itu menjadi jadi heran tak mengerti, sebentar matanya ditujukan pada ibunya, sebentar lagi pada ayahnya.”

Saat bapak mencoba menutup pembicaraan dengan ungkapan “Nanti tahun depan kau akan mengetahuinya, atau tahun berikutnya lagi. sekarang cukup tahu saja, bahwa orang islam itu menyembah Allah dan orang kristen juga menyembah Allah”, seakan-akan bapak tahu dan menerapkan teori kognitif Oswald Kroh yang mengatakan setelah anak mampu melakukan pengamatan kongkret pada awal sekolah atau usia 7-8 tahun, selanjutnya pengertian dan akal mencapai taraf kematangan yaitu pada dua tahun setelah masa sintese-fantasi yaitu pada umur 10-12 tahun, dimana pada usia ini anak sudah mampu mengadakan sintese secara logis dan mencapai kematangan pikirannya.

Dengan kekongkritan pengamatan AK lebih menggebu-gebu untuk Tahu, Siapa sih Allah itu? kenapa Dia disembah? dimana Dia? AK ingin tahu, ingin melihatnya. Perbendaharaan AK sebagai batu loncatan untuk memenuhi keingintahuannya. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah pertanyaan-pertanyaan AK menunjukkan minatnya pada agama? Karena menurut Hurlock, cara paling awal anak menunjukkan minat pada agama dengan bertanya. Misalnya, siapakah Tuhan? Dimana surga itu? Apa arti kematian? Apakah malaikat itu? dan sebagainya.

Pada cepen karya Najib Mafudz ini banyak pertanyaan AK mengenai agama. Mulai siapa Tuhan, Dimana Tuhan, Nabi dan kematian. Akan tetapi saat AK mulai jenuh dengan pertanyan-pertanyaan itu AK berseru “Saya ingin selalu bersama Nadi, Meski dalam pelajaran agama sekalipun”. Dari ungkapan tersebut AK menampakkan maksud dari semua pertanyaan yang ia ajukan demi persahabatan dan kebersamaannya dengan Nadia. Karena menurut Lagaipa (1970) tiga sifat inti persahabatan. Pertama, loyalitas (Jujur dan setia). Kedua, rasa simpati (tidak ada distansi). Ketiga, tulus (tidak ada rasa aman). Sifat inti persahabatan tersebut ditemukan pada masa remaja, namun sudak tampak pada anak-anak. Sifat-sifat ini akan mengesampingkan perbedaan agama pula, seperti yang diinginkan AK.

Pengungkapan AK atas diskriminasinya dengan Nadia pada pelajaran agama menjadi pertanyaan-pertanyaan yang melebar hingga soal Tuhan dan kematian. Seorang anak selama periode antara TK dan SMA perbendaharaan kata meningakat dengan pesat. pembicaraan maju, sintaksis lebih lengkap, penggunaan variasi yang luas dan struktur tata bahasa dan arti lebih menyerupai orang dewasa. Pada saat bersamaan, kesadaran metalinguistik seorang anak meluas dan bahasa sendiri merupakan sebuah bahan baginya untuk direfleksikan, dimengerti, dibicarakan dan dimainkan. Pada usia 8 tahun anak-anak mengerti bahwa beberapa kata mempunyai arti dan fungsi. Dengan perkembangan kebahasaan anak tersebut perkembangan pengamatan kongkret dan unsur fantasi yang masih berpengaruh dalam pengamatannya membangun sebuah bahasa yang kadang-kadang sesuai dengan persepsi bahasa itu sendiri dan kadang pula merupakan pemahaman secara totalitas maupun bagian sesuai dengan pengetahuan yang ada pada diri anak.




BAB IV
KESIMPULAN

Dari analisis cerpen Surga Anak-anak karya Najib Mahfudz yang peneliti lakukan dapat diambil kesimpulan sementara sebagai berikut:

1. Dari beberapa pengamatan dan ungkapan anak kecil dalam cerpen Surga Anak-anak ada yang sesuai dengan persepsi dari konsep pengamatan dan ungkapannya dan ada juga yang menyesuaikan dengan pengetahuan anak melelui fantasinya. Dari sini kita ketahui bahwa pengamatan Anak kecil dalam cerpen sesuai dengan teori kognitif Oswald kroh yang mengatakan bahwa anak-anak tahap awal sekolah sudah mampu melakukan pengamatan kongkret, sedangkan unsur fantasi masih menjadi peranan penting dalam pemikirannya.



Daftar pustaka

Atar Semi, Metode Penelitian Sastra, Angkasa, Bandung, 1990.

Elizabeth B Hurlock, Perkembangan Anak jilid II, Erlangga, Jakarta, Tanpa tahun.

Kartini Kartono, Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan), CV Mandar Maju, Bandung, 2007.

Paul Herry Mussen. John Janeway Chonger. Jerome Kagan. Aletha Carol Huston, Perkembangan dan Kepribadian Anak, Erlangga, Tanpa tahun.

Siti Rahayu Haditono. Monks, FJ. Knoers, AMP, Psikologi Perkembangan,  pengantar dalam berbagai bagiannya, Gajah mada University Press, Yogyakarta, 2004.

Suharnan, Prof. Dr. MS, Psikologi Kognitif, Srikandi, Surabaya, 2005.

Wendoko (editor), Antologi Cerpen Nobel, PT Bentang Pustaka, Yogyakarta, 2004.

Wijayatmi, Pengantar Kajian Sastra, Pustaka, Yogyakarta, 2006.

Yoseph Yapi Taum, Pengantar Teori Sastra, Nusa Indah, Bogor, 1997.

http// teori_kognitif_perkembangan_files, 04 Juli 2008.