Thursday, December 29, 2011

Ibnu Bajjah dan WS. Rendra dalam Etika

Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai petunjuk manusia. Setiap manusia mempunyai kekuatan dari Allah untuk menentukan perjalanan hidupnya. Dalam kehidupan manusia banyak pilihan hidup yang secara etika dibedakan antara yang baik dan yang jelek, yang benar dan yang salah. Disini Al-Qur’an mempunyai peranan penting untuk mengetahui dan selanjutnya membedakan antara pilihan baik dan buruk atau benar dan salah.

Pada perbuatan manusia terdapat perbuatan terpuji dan perbuatan tercela. Kedua perbuatan manusia yang saling bertolak belakang ini, sebagian menjadi perdebatan di antara manusia sendiri mengenai suatu hal itu terpuji atau tercela. Perbedaan pendapat tersebut dilatarbelakangi oleh perbedaan budaya dan moral pada setiap pribadi manusia dan masyarakat.

Perbedaan antara keduanya akan lebih terbaur ketika kedua perbuatan itu disetujui dan dilakukan dalam suatu masyarakat. Dalam situasi seperti ini, sebagaimana yang terjadi sekarang, sangat sulit membedakan antara perbuatan yang baik dan yang buruk, yang membangun dan yang merusak dalam konteks budaya, karena seakan-akan perbuatan tersebut menjadi sebuah kebiasaan dalam suatu masyarakat dan telah disepakati bersama.

Ibnu Bajjah membedakan kedua perbuatan atau tindakan manusia itu dari segi "dari mana" manusia melakukan sesuatu. Menurutnya pada diri manusia setiap akan melakukan sesuatu tak lepas dari dua motif, yaitu motif naluri atau hal-hal yang berhubungan dengannya. Naluri manusia disini bukanlah hati melainkan nafsu. Nafsu sangat berkaitan dengan hasrat manusia. Apa yang dilakukan oleh manusia selama itu mengandung unsur-unsur hasrat adalah nafsu.

Tindakan yang berdasarkan hasrat oleh Ibnu Bajjah diistilahkan dengan tindakan hewani. Seperti halnya seekor binatang dalam berlaku tidak menggunakan otak dan akal. Tindakan hewani pada manusia juga seperti itu. Bahkan ketika hasrat manusia dituruti, ia bisa lebih buas dari binatang. Hasrat manusia apabila sebagai dasar pikirannya, manusia akan lebih ganas dan lebih ganas dari binatang. Karena sebuas binatang ada titik kepuasan, sedangkan manusia tidak.

Selain tindakan yang didorong hasrat pada tindakan manusia, Ibnu Bajjah juga membagi tindakan manusia yang ditimbulkan dari pemikiran yang lurus dan keamanan yang bersih. Tindakan yang berdasarkan akal yang lurus, oleh Ibnu Bajah diistilahkan dengan tindakan manusiawi.

Tindakan manusiawi seseorang akan terlepas dari nafsu. Tindakan manusiawi bermotif dari hati, kemudian dikonsep dalam pikiran dan diterapkan dalam suatu tindakan. Tindakan ini tidak membahayakan, bahkan bermanfaat bagi manusia lain, karena tindakan manusia yang manusiawi selalu terkontrol oleh hatinya yang bersih dan lurus.

Berbeda dengan Ibnu Bajjah, WS. Rendra seorang penyair dan dramawan tersohor di Indonesia ini mengklasifikasikan tindakan dan pikiran manusia menjadi daya hidup dan daya mati. Perbedaan antara antara Ibnu Bajjah dan WS. Rendra sebenarnya hanya terletak pada titik tekan antara motif atau pendorong dan akibat dari tindakan manusia.

Daya hidup, menurut Rendra adalah daya atau kekuatan manusia untuk maju dan mengembangkan kemampuannya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Daya hidup manusia akan menjadi perenan penting dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitras hidupnya.

Perbedaan antara daya hidup Rendra dan tindakan manusiawi Ibnu Bajjah terletak pada starting dan stresing akhir tindakan tersebut. Tindakan manusiawi di dasarkan pada hati nurani, kemudian menghasilkan kebaikan bagi dirinya dan manusia lain, yang akibat pada titik hasil ini oleh Rendra diistilahkan dengan daya hidup manusia.

Selain daya hidup, Rendra juga membagi tindakan manusia dengan daya mati. Menurut Rendra daya mati adalah kekuatan manusia yang merusak dirinya maupun orang lain. Terlepas dari hasrat at6upun tidak, selama itu merusak dan menghancurkan adalah daya mati. Daya mati pada manusia pada dirinya sendiri dapat kita contohksn seperti malas, putus asa, hidup tidak teratur dan sebagainya. Sedangkan daya mati yang merugikan orang lain adalah mencuri, merampok, membuat onara, korupsi dan sebagainya.

Apabila kita telisik, sebenarnya daya mati Rendra erat kaitannya dengan tindakan hewani manusia Ibnu Bajjah. Keduanya sama-sama merusak dan merugikan. Karena pada dasarnya hasrat sebagai pendorong daya mati manusia. Dengan hasreat, tindakan manusia akan merusak segala-galanya. Demi keinginan hasratnya ia akan berbuat apa saja tanpa mempedulikan sesama.

Dalam upaya mencari klarifikasi apakah suatu tindakan bersifat hewani atau manusiawi, dapat kita tinjau dari sisi motif dan akibat dari tindakan tersebut. Kita tidak bisa mengklaim sesuatu hal ini baik dan ini jelek hanya dari satu sisi saja, yaitu hanya dari sisi motif ataupun hanya dari sisi akibat tindakan itu. Akan tetapi kita harus melihat dari dua sisi tindakan itu, yaitu dari segi motif dan akibat sebuah tindakan.

Suatu tindakan manusia yang merusak tidak bisa serta merta kita menyebutnya kejelekan. Kita harus meneliti dulu apakah motif dari tindakan tersebut. Apabila motif tindakan itu dari hati yang lurus, meskipun nantinya dapat merusak, hal ini tentu bukanlah daya mati ataupun tindakan hewani manusia. Karena bagaimanapun manusia adalah makhluk yang tak pernah luput dari kesalahan dan kelupaan. Bisa juga kesalahan terletak pada konsep otak sehingga tindakan itu dapat merusak.

Begitu juga dengan tindakan manusia yang berdasarkan hasrat atau nafsu, namun tindakan tersebut cenderung untuk menungkatkan dan melejitkan hidup manusia dan keindahan lingkungannya. Apakah tindakan tersebut dapat kita sebut dengan tindakan hewani atau daya mati manusia? Atau tindakan manusiami dan daya hidup manuasia? Hasratpun dapat dijadikan sebagai semangat dan pendorong seseorang untuk menuju lebih baik. Seperti halnya sesorang yang berhasrat dengan harta, ia akan bekerja keras. Dan seseorang yang berhasrat untuk mendapatkan ilmu, ia akan belajar dengan tekun. Disinilah kita dituntut untuk mensinergikan antara hasrat, hati dan pikiran.

Hasrat dan pikiran tanpa hati ia akan menjadi tindakan hewani manusia yang kemudian menjadi daya mati manusia. Dan hati tanpa hasrat ia hanya akan diam terbungkam. Hati dan hasrat tanpa pikiran juga akan mudah ditipu dan dilemahkan. Yang terbaik adalah hasrat dan pikiran yang digerakkan oleh hati. Inilah tindakan manusiawi sebagai daya hidup pada diri manusia.

Mengetahui suatu hal ini baik atau buruk sangat penting bagi manusia. Dengan mengetahui keduanya tersebut kita bisa membedakan dan memilih untuk melangkahkan kaki kita dalam kehidupan di dunia ini. Dan juga dalam menghakimi suatu hal, tak terlepas dari pemahamn keduanya. Ketika kita salah mengartikan kebaikan dan keburukan, kita akan terjebak dalam pengertian salah tersebut sehingga berakibat kelirunya tindakan yang kita ambil.

Dalam teori kognisi pada ilmu psikologi yang membahas hubungan pengamatan, pemahaman dari pengamatan serta tindakan dari persepsi hasil olah pemahaman tersebut, menjadikan penting sebuah informasi dari pengamatan seseorang yang nantinya akan diolah dalam otak sehingga menjadi konsep sebagai dasar dalam melakukan dan memutuskan sesuatu. Oleh sebab itu filsafat mencoba mendalami hasil pengamatan tersebut untuk menghasilkan konsep yang benar.

No comments: