Saturday, December 15, 2012

Penggalan Kisah


Seharusnya aku sudah meninggalkannya. Meninggalkannya memang karena segala yang terjalin kini sudah terurai. Lalu aku menyembuhkan lukaku sendiri, dan dia menyembuhkan lukanya. Karena kami tidak lagi di jalan yang sama.

Setiap perjumpaan diakhiri dengan perpisahan. Sekitar sebulan lalu kami berjumpa dan kini waktunya berpisah. Masa selama di dalam kebersamaan mulai saya kemasi, untuk disimpan di dalam kotak kenangan. Suka duka di masa singkat itu tak berarti lagi, melainkan sebagai pelajaran di kelak hari.

Seharusnya kami sudah mulai jauh-menjauhi. Aku mencari jalan hidupku sendiri, dan ia mencari jalan hidupnya. Ibarat sebatang pohon, kami adalah pohon yang ditumbangkan oleh tukang kayu menjadi dua bagian. Lalu aku bisa saja menjadi almari dan ia menjadi meja atau kursi. Dan tentu kami tidak bisa bersama lagi, kalau pun suatu saat nanti bertemu mungkin hanya mampu bertegur sapa.

Mendung yang menjadi saksi kebersamaan kami pun sudah mencair dan turun ke selokan dan sungai menuju ke lautan. Rumput-rumput kuning yang menjadi saksi kebersamaan kami sudah musnah, tergeser oleh rerumputan hijau yang tumbuh dengan angkuh. Debu-debu yang menjadi saksi kebersamaan kami, sudah terseret arus hujan dan hanya menyisakan genangan. Seharusnya lengkap sudah untuk sebuah akhiran.

Di saat seperti ini, dia menghubungiku lagi. Ia mengatakan bahwa apa yang menjadi keputusan minggu lalu adalah hasil dari keputusan sebelah pihak. Dia di posisi sangat tertekan. Di satu sisi ia sebagai anak yang harus patuh pada orang tua, dan di sisi lain ia sebagai seorang remaja mempunyai keinginan dan cita-cita, serta harapan-harapan yang disukainya menurut kecenderungan hatinya sendiri.

Ia mengeluh dan mengaduh kepadaku. Air matanya mengucur, senyumnya terkubur. Bagaimana mungkin bisa hidup dalam keluarga sebagai suami istri dengan orang yang tidak dicintainya. Ia ingin mengungkapkan isi hatinya kepada orang tua. Dia meminta pertimbangan-pertimbangan dariku, dan aku mulai berpikir.

Semenjak ia mengatakan bahwa ibunya pernah bilang, “Kamu bertemu dia (aku) sudah dewasa, dia tidak tau bagaimana kamu saat kecil. Sedang aku, aku tau bagaimana saat kamu kecil, maka ikutilah nasehatku”. Sejak ia menyampaikan kata itu, harapanku untuk bersama dia sudah pupus. Ibunya menyetujui laki-laki lain yang sudah sukses dari segi ekonomi. Bagiku itu adalah ungkapan paling puncak sebagai permohonan orang tua kepada anaknya.

Ridho Tuhan terdapat di dalam ridho orang tua, dan kemurkaan Tuhan ada di dalam kemurkaan orang tua. Sebagai pengasuh utama setiap anak, orang tua mempunyai posisi penting dalam kehidupan anak. Menentang orang tua hampir sama dengan menentang Tuhan. Hal inilah yang membuat setiap kata yang diucapkan orang tua kepada anaknya menjadi kata-kata yang mujarab. Kutukan maupun do’anya seakan selalu membayangi anak dalam kehidupannya. Maka mengungkapkan isi hati yang bertentangan dengan kehendak orang tua haruslah berhati-hati. Karena jika orang tua marah, marahlah Tuhan.

Pertama-tama yang saya lakukan adalah mendinginkan dan melipurnya. Dari pernyataan-pernyataan sebelumnya saya bisa tau kalau dia adalah seorang yang keras dengan pendiriannya, keras dengan keinginan-keinginannya. Maka jika tidak diredakan terlebih dahulu, pertentangannya dengan ibu bisa meledak menjadi sebuah pertempuran, dan hal ini bisa membahayakan bagi kehidupannya kelak.

Saya memberikannya terlebih dahulu pengertian bahwa hidup bersama siapa saja sama. Sama saya baik, sama laki-laki pilihan ibu juga baik. Semua kebaikan itu sama. Sama-sama membahagiakan. Hanya saja perlu kebiasaan dan pembiasaan. Cinta itu adalah anak kebudayaan, kata Pramoedya Ananta Toer, ia bukan batu yang jatuh dari langit. Artinya bahwa cinta itu bisa tumbuh karena kebiasaan dan interaksi budaya yang intens. Jika ia pun nantinya harus hidup dengan pilihan ibu, maka mungkin sekali akan tumbuh cinta meski untuk sekarang ini tidak ada rasa cinta sama sekali.

Di samping memberikan pengertian itu aku merintih teriris-iris oleh kata-kataku sendiri. Bukannya aku juga dalam gelora cinta padanya. Siapa yang tidak menginginkan memiliki apa yang dicintainya dan yang disayanginya. Aku berpura-pura tegar dihadapannya. Aku tersenyum bahkan tak jarang tertawa terbahak, namun itu semua sebagai tangisan yang aku paksakan menjadi tawa. Aku menertawakan kengerian akan keterpisahan dengan kekasihku, di depan kekasihku sendiri.

Setelah memberikan pengertian itu aku berusaha mendorong dia untuk mengungkapkan isi hatinya kepada ibunya. Dan dengan samar menolak keinginan ibunya. Melawan dengan sehalus-halusnya perlawanan. Menolak dengan halus pewujudannya adalah dia mengungkapkan isi hatinya dengan  menolak apa yang dikehendaki ibunya. Di saat-saat seperti itu pasti akan terjadi perdebatan hebat. Maka tatkala ibunya mulai marah dan mengomel, saya anjurkan untuk segera meninggalkannya tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Dari ceritanya aku bisa menangkap bahwa ibunya memilih lelaki itu tidak hanya karena kemapanannya secara ekonomi, akan tetapi ada hal lain yang lebih besar. Apakah hal itu. Hal itu membuat saya berpikir seribu kali. Mencermati setiap yang terjadi mulai aku mengenalnya hingga saat ini.

Saya jadi merasa bersalah ketika pertama kali kami bertemu di taman kota hingga larut malam. Jalan bareng yang kami rencanakan berakhir sampai jam setengah sembilan, kenyataannya kami pulang hingga jam setengah sepuluh malam. Sudah saya ingatkan sebenarnya saat jarum jam menujukkan pukul setengah sembilan. Namun ia masih ingin menikmati malam denganku, jam Sembilan juga aku ingatkan, namun lagi-lagi ia menolak untuk segera kembali. Jam setengah sepuluh kami baru bisa sampai ke rumah dia.

Karena saya merasa bertanggungjawab mengajaknya keluar, maka saya pun malam itu memperkenalkan diri dengan ibunya untuk pertama kalinya. Sebuah perkenalan di waktu yang tidak tepat. Jam setengah sepuluh malam, dan dengan kondisi baru pulang dari taman kota. Saya benar-benar tidak berpikir sampai di situ. Saya terlalu terlena oleh gelora cinta yang bersinar terang hingga menyilaukan segalanya.

Kesalahan kedua adalah ketika saya mengajaknya keluar untuk berbelanja buku. Meski dengan izin ibunya, saya tetap merasa bersalah. Saya terlalu berani dan sembrono. Membawa pergi dia begitu saja, lalu mengembalikannya ke rumah, bukankah itu hal yang tidak etis. Terlebih saat orang tuanya berada di rumah.

Adalah dua kesalahan itu yang menurutku membuat ibunya mungkin tidak suka denganku dan memilih laki-laki lain untuk dia. Saya sudah meminta maaf, tapi sepertinya sudah terlambat. Saya sudah tidak mungkin silaturrahmi ke rumahnya, lantaran saat-saat ini sedang masa rundingan antara keluarga dia dengan keluarga lelaki pilihan ibunya. Saya hanya bisa meminta maaf dengan perantara dia, untuk menyampaikannya kepada ibunya. Namun tetap tidak efisien karena suasana antara mereka sedang memanas. Bahkan saya belum yakin dia benar-benar sudah menyampaikan permintamaafan saya itu.

Semua sudah terjadi, dan kecerobohan saya membawa segalanya berantakan. Saya terlalu tersilaukan oleh gelora cinta, maka saya tidak lagi mengikuti hukum adat yang masih berlaku dalam masyarakat yaitu papan empan. Saya seharusnya sadar diri bahwa dengan posisi saya. Saya berada di keluarga yang baru saya kenal. Seharusnya saya tidak berbuat melampaui batas. Seharusnya saya tahu dulu bagaimana karakter keluarganya, untuk bisa bersikap dan berbuat sesuai yang berlaku di dalam keluarga itu. Lagi-lagi etika dan norma.

Sebenarnya aku dilahirkan di iklim keluarga yang normatif. Lalu aku disekolahkan juga di kawasan normatif yang kental dengan etika dan norma. Hingga saat meneruskan ke perguruan tinggipun saya tinggal di kawasan kental dengan norma. Tapi interaksiku dan norma dengan waktu yang berpuluh tahun itu tidak memberikan pengaruh yang besar tentang norma dalam diri saya. Norma membuat saya selalu tidak nyaman. Norma selalu membuat saya menjadi pembohong. Tidak alami dan terkesan dibuat-buat.

Karena saya terlalu mengacuhkan norma, dan mengikuti kata hati saja, saya pun menjadi mengerti bahwa norma dan etika sangat mempengaruhi hidup kita, terutama citra kita dalam keluarga, terlebih dalam kehidupan masyarakat. Saya menyesal sekali berbuat yang demikian. Menjadikan apa yang saya impikan dan hampir mendapatkannya, tapi kini menuai kendala yang tidak bisa diremehkan. Ini adalah pengalaman yang berharga, dan yang bisa kulakukan hanyalah berdo’a agar segala keputusan menjadi yang terbaik bagi semua pihak.

Wednesday, December 5, 2012

Ketika Orang Tua Memaksakan Kehendak Anaknya


Berani mencintai berarti juga berani menanggung segala resiko yang diakibatkan darinya, termasuk patah hati. Itu adalah hukum alam. Kita tidak bisa terhindar darinya. Kita mengambil sesuatu dengan segala resikonya, atau tidak mengambil sama sekali. Dan hanya orang-orang yang berani menerima akibat dari yang ia lakukan, ialah orang-orang yang kuat.

Setiap manusia pasti pernah merasakan cinta. Merasakan geloranya. Bagaimana setiap sesuatu menjadi indah, bahkan hal-hal yang sebelumnya dibenci, tatkala di masa gelora cinta yang dibenci pun tiba-tiba disukainya tanpa suatu alasan yang jelas. Itulah gelora cinta, dimana keindahan menjadi pangkal dari segala sudut pandang.

Gelora cinta adalah gelombang yang memberi kekuatan jiwa. Yang menumbuhkan gairah kehidupan, dan yang memberikan kekuatan raga untuk melakukan hal-hal besar sekalipun. Cinta membangkitkan harapan-harapan dan cita-cita, melenyapkan semua bentuk dendam, dan kesemuanya itu membangkitkan kualitas hidup seseorang.

Ketika seorang berada di puncak gelora cinta lalu rintangan mulai menghadang, semangat untuk menyingkirkan segala rintangan menyala-nyala seperti api yang bangkit untuk membakar kayu. Namun semua itu hanyalah akan menjadi kebohongan ketika dihadapkan dengan kekuatan budaya balas budi. Dimana orang tua sebagai orang yang paling berjasa dalam hidup setiap orang, menjadi kuasa atas segala pilihan seorang tersebut, dan celakanya mencampuri urusan cinta, sedangkan urusan cinta adalah urusan rasa. Rasa yang murni dari kedalaman hati yang dimulai dari ketertarikan antara dua individu yang berbeda yang ingin bersatu.

Budaya balas budi adalah monster yang siap menerkam siapa saja, sebuah jurang api yang siap meleburkan apa saja, hujan belati yang siap mencincang siapa saja yang terperangkap di dalamnya. Balas budi menjadi jebakan paling sukses sepanjang sejarah manusia. Ia melemahkan dengan menyenangkan, menjerumuskan dengan mengangkat martabat, dan menusuk tanpa menghunus. Sebuah cara paling kejam untuk mematikan apa saja yang dijadikan sasarannya.

Orang tua sebagai orang paling berjasa dalam tumbuh kembangnya anak adalah salah satu orang yang memiliki senjata paling mematikan ini. Orang tua mendidik setiap anak, merawat, menimang, memberikan kasih sayangnya, secara langsung ia mengasah senjata balas budi yang bisa digunakan untuk menikam anaknya kelak dewasa nanti.

Adalah anak yang paling malang, yang orang tuanya tega mengeluarkan senjata terampuh untuk melemahkannya. Demi keinginan dan ambisi orang tua kepada anaknya, ia menggunakan senjata itu. Senjata balas budi. Senjata terlaknat di dunia, mengungkit-ungkit jasanya untuk mengendalikan anaknya yang sebatang kara tanpa dukungannya. Maka orang tua yang dulu dianggap sebagai penyayang utama dalam kehidupan anak, anak mulai berpikir, bahwa orang tuanya kini menjadi kanibal paling kejam di dunia.

Orang tua yang egois, mementingkan dirinya sendiri, mementingkan kehormatannya di atas apa pun, akan memasung anak, mencarikan jalur hidupnya, meski anak tidak suka dan tidak menemukan kecenderungan-kecenderungan dengan jalur itu. Maka yang terjadi adalah pertentangan harapan dan cita-cita. Anak mencoba mengutarakan keinginannya, mencoba menyuarakan pilihannya, dan orang tua akan mengeluarkan gaman paling tajam yaitu balas budi. Orang tua mulai mengungkit-ungkit jasanya pada anak, ia mengungkapkan bagaimana susahnya mendidik anak waktu kecil, mengganti popok, memandikan, menyuapi, dan dengan seperti itu orang tua menjadi pembunuh karakter paling kejam, sedangkan anak menjadi tak berdaya, menjadi mati rasa.

Hal itu akan lebih menyengsarakan tatkala berada di kawasan cinta. Dimana cinta bermula dari kecenderungan rasa. Pekerjaan dan profesi bisa saja disiasati jika orang yang melakukan tidak ada kecocokan dengannya. Tapi dalam ranah cinta, siapa yang bisa menyiasatinya. Dalam urusan pekerjaan ketidakcocokan akan reda begitu kita keluar kantor atau keluar dari jam kerja. Namun cinta, cinta adalah jalinan rasa yang membelit antara dua manusia. Dimana pun berada, kapan pun waktunya, cinta selalu mengiringi hidup manusia. Cinta bermukim dalam jiwa hingga akhir hayat manusia. Siapa yang bisa menyiasati cinta.

Maka orang tua yang mengeluarkan aji-aji paling bangsat itu untuk maksakan kehendak cinta seorang anak, ia telah merubah kepercayaan, keteladanan, dan kebersamaan anak menjadi kebencian yang dalam saat itu juga. Saat itu juga. Kepercayaan, keteladanan, dan kebersamaan anak dengan orang tua akan musnah seketika berganti dengan rasa benci yang tiada duanya. Sedangkan anak hanya akan menerima begitu saja, atau jika melawan dia akan menjadi seorang anak yang terkutuk karena menentang kehendak orang tua. Merupakan sebuah mitos yang sempurna untuk membodohkan dan melemahkan.

Maka mari kita ucapkan bela sungkawa atas yang terjadi pada setiap manusia yang dipaksakan cintanya oleh orang tua. Semoga mereka bisa menyesuaikan diri, bisa membangun cinta meski dengan susah payah. Semoga mereka diberi kekuatan untuk menerima segala kekejaman orang tua yang menggunakan sejata balas budi yang mengerikkan. Dan semoga kekalahan anak dalam bersuara buka semata karena ketertundukannya pada orang tua, namun ia sudah benar-benar berusaha berjuang untuk mendapatkan apa yang mereka harapkan, dengan sekeras-keras usaha.

Dan sebagai calon orang tua, mari kira renungkan hakikat dari kebebasan, kebebasan memilih jalan hidup, kebebasan untuk mencintai, dengan batasan-batasan kebaikan. Anak-anak kita nanti mempunyai kecenderungan sendiri-sendiri, dan beruntung sekali mereka jika kita mempunyai orang tua dengan pengetahuan yang mumpuni dalam mengarahkan jalan hidup mereka. Mengarahkan, dan bukan memaksakan. Sekali lagi, hanya mengarahkan.

Monday, December 3, 2012

Cinta di Awal Musim Hujan


Tubuhnya masih ceking seperti saat kami kuliah dulu. Rambutnya yang berlingkar-lingkar sekarang tak tampak lagi karena sekarang potongan rambutnya cepak. Gaya bicara, berjalan, dan menyeletuk, masih sama. Hanya rautnya lebih dewasa sekarang.

Jarak dua jam dari tempat dari tempatnya bukanlah suatu hal yang berat. Namun hujan deras barangkali cukup menguras tenaganya. Aku sendiri juga heran, di tahun ini hari ini adalah hari pertama turun hujan. Tepat saat sahabatku datang mengunjungiku.

Ia duduk di kursi ruang tamu. Menyruput teh hangat yang disediakan ibu. Basah rambutnya sesekali mengalir ke dahinya. Sedang aku duduk di kursi depannya, menunggu kabar apa yang dibawanya.

“Bagaimana kabarmu? Kabar Yuni? Kapan kalian menikah?”

Tiba-tiba ia memberondong pertanyaan dengan satu runtutan tema, yaitu hubunganku dengan Yuni, gadis terdekatku yang aku kenal setahun yang lalu.

“Kabar kita baik saja. Menikah! Haha.. Hal itu belum terpikirkan”. Aku menjawabnya ringan. Aku tahu sekali karakter Ubik, kadang-kadang dia memancing pertanyaan dengan pertanyaan. Artinya dia bertanya itu supaya aku ganti bertanya dengan hal yang sama kepadanya.

“Oh ya, bagaimana dengan kabar asmaramu?” Aku pun ganti bertanya kepadanya.

“Asmara apa?”

Nah, ia selalu mengelak untuk menjawab langsung. Tepat sekali seperti biasanya.

“Dengan Utha yang pernah kamu ceritakan dulu?”

“Kami hanya sepasang sahabat. Tak lebih dari itu.” Lalu ia menghela nafas panjang. Mengambil gelas teh, lalu meminum sedikit dan diletakkannya kembali ke atas meja.

“Sebenarnya ada lagi setelah itu. Aku mengenal seorang gadis baru, dan ternyata ia adalah satu sekolahan denganku.”

“Oh ya, dimana kalian saling kenal?”

“Di sebuah jalan. Ya, semuanya berawal dari sebuah jalan.”

Saya membetulkan posisi duduk saya. Bersiap mendengarkan cerita panjangnya.

“Semenjak dikenalkan seorang teman tentang bagaimana cara bermain badminton dengan baik, aku pun mulai menyukainya. Bermain badminton selain olah raga juga menuntut konsentrasi tinggi. Di tengah bergeraknya seluruh organ tubuh, konsentrasi dihadirkan untuk melemahkan musuh dengan memberi umpan bola yang sulit ditimpa lawan.

Dengan gemarnya bermain badminton, aku hampir setiap pagi berlatih di sebuah lapangan khusus. Dan suatu pagi, tanpa kusangka aku melihat seorang gadis dengan anak kecil yang menggenggam jari telunjuknya. Seketika aku hentikan permainan, dan kupandangi ia. Aku mengaguminya. Bagaimana ia berjalan, dan bagaimana ia memperlakukan anak itu. Dengan kasih sayangnya.

Di tengah kekaguman, lawan mainku mengatakan bahwa dia kenal dengan gadis itu. Aku pun bertanya tentangnya dan mencari tahu lebih banyak lagi di kemudian hari. Tanpa kusadari benih rasa suka saat itu tumbuh kembang dengan baik dalam hatiku. Dan aku semakin sadar bahwa perasaan suka itu tidak semata karena fisiknya saja, namun hati dan karakternya juga. Bukankah pernyataan orang lain terhadap seseorang itu lebih jujur?” Ia menoleh kepadaku.

“Iya. Benar. Tepat sekali”

Lalu ia mengambil gelas teh, dan meminumnya lagi sedikit.

“Benar, Rid. Aku benar menyukainya. Dan menurutku rasa sukaku itu tidak main-main. Tidak seperti dulu-dulu, kita sering menyuit-nyuiti cewek berbodi padat dan membicarakannya dengan gurauan. Kali itu aku benar-benar merasakan rasa suka yang sesungguhnya.”

Aku mengangguk-angguk mengiyakan. Sambil mengenang masa-masa kuliah dulu.

“Dia beberapa kali melewati lapangan itu, dan tentu permainanku terhenti untuk menikmati keindahan ciptaan Tuhan itu. Hingga suatu saat aku mendapatkan nomor telfonnya, Rid. Dan betapa gembiranya ketika aku menghubunginya, ternyata ia sudah tahu aku sebelumnya. Aku masih ingat pada saat itu tepat tanggal 18 Oktober 2012. Bukankah itu awal yang baik sekali. Bukankah pengenalan itu menjadi setiap awal mula keintiman?” Ia menoleh kepadaku. Aku hanya mengangguk-angguk mengiyakan.

“Kami pun berbincang-bincang dan dengan jarak dua minggu setelah itu aku mengajaknya keluar ke sebuah taman. Bukankah itu perkembangan yang baik sekali, Rid. Malam itu kami habiskan layaknya sepasang kekasih. Dengan gelora cinta baru kami menyelami diri kami masing-masing dan menukarkannya satu sama lain. Dia mengatakan banyak hal, dan itu sesuai dengan cerita-cerita orang dekatnya yang sempat aku tanyai sebelumnya. Dia mengatakan banyak hal yang menurutku seharusnya menjadi rahasianya. Dia mengatakannya dengan nyaman, Rid. Bukankah itu tanda kepercayaannya kepadaku. Malam itu juga aku menjadi orang yang ia percayai. Bukankah itu baik sekali, Rid?” Ia menoleh kepadaku. Dan itu memang benar.

“Kami jalani hari-hari berikutnya dengan mesra sekali. Ungkapan rindu, sayang, cinta, tidak lagi bisa aku tahan, Rid. Semua kata itu begitu saja saling masuk antara handphone kami. Itu merupakan perkembangan yang cepat. Dan kamu tahu saja, Rid, gerimis yang sempat turun membuat suasana hati kami semakin berbunga-bunga.

Secepat itu pula keluarganya mengenal diriku. Sepulang dari taman malam itu aku berkenalan dengan ibunya, dan hari-hari berikutnya aku juga sempat bersilaturrahmi ke rumahnya. Aku mengenal ayahnya, kakanya, adiknya, keponakannya, semua baik kepadaku. Aku semakin yakin dengan keadaan ini, Rid. Bukankah menikah itu selain mempersatukan dua manusia, juga mempersatukan dua keluarga, Rid.

Dan bulan itu, Rid, bulan dimana ia dilahirkan di bumi kita ini. Hal itu adalah moment terpenting setiap manusia, selain hari dimana manusia disahkan bersama pendamping hidupnya, dan hari dimana manusia dipanggil yang Kuasa. Aku pun mencari buku yang baik buat kado ulangtahunnya. Karena bagiku memberi buku itu adalah sebaik-baik pemberian. Meski wujud bukunya sudah hancur lemur, namun pengetahuan yang di dalamnya senantiasa kekal bermukim di dalam jiwanya.

Kedua kalinya aku mengajak ia keluar ialah di taman kota Kediri. Sebenarnya setiap aku melihat mall yang berdiri megah di tepinya, aku selalu mengutuk, karena mall itu berdiri di atas kawasan ruang hijau. Tapi kali itu benar-benar tidak menanggapi seonggok bangunan terkutuk itu. Apakah cinta sudah membutakan kepekaanku pada kepedulian sosial. Aku memaklumi saja, sebagai gelora cinta baru yang menggebu.

Ketika itu, ia menceritakan seluruh kehidupan keluarganya. Seluruh masalah yang dihadapi keluarganya. Tanpa tedeng apa pun. ia menceritakannya dengan jiwa yang tulus. Aku pun semakin mantap dengan kepercayaannya padaku. Aku sudah dipercaya, Rid. Dia sudah merasa nyaman di sisiku. Bukankah itu pertanda bahwa ia juga menyukaiku, Rid?” Ia menoleh kepadaku. Kali ini aku tidak mengangguk, tapi mencoba membayangkannya. Bisa jadi itu hanya perasaannya yang berlebihan.

Sebulan sudah berlalu, dan kami baik-baik saja. Akan tetapi, Rid. Setelah sebulan itu seseorang datang ke rumahnya dan menanyakan ia. Ia tidak suka pada dasarnya. Namun karena kemapanan hidupnya dari segi ekonomi, ibunya lebih condong ke seseorang itu. Dan kamu tentu sudah tahu, meski jaman kini sudah modern dengan keterbukaan, namun masih banyak pemaksaan kehendak. Sistem patriarkat masih banyak membunuh kemerdekaan seseorang.”

Ia berhenti sejenah, meneguk habis isi teh di dalam gelas. Aku bisa membaca kesedihan di wajahnya. Dan aku pun tak luput dari kesedihan itu.

“Meski dia tidak pernah mengtakan cinta padaku, tapi aku sudah tahu, kalau dia mencintaiku.” Ia melanjutkan ceritanya. “Aku tidak menyerah, Rid, karena menyerah itu tanda-tanda orang pengecut. Dengan lantang aku memberikan pengertian-pengertian cinta kepadanya. Aku jelaskan dimana kedudukan harta benda dalam kehidupan. Aku utarakan seluruh rencanaku bersamanya ke depan. Hanya itu, Rid, yang aku mampu. Karena dari segi ekonomi aku memang masih sebatang kara.

Kalau saja aku mau, aku bisa menampakkan kekayaan bapakku. Tapi itu sangat pengecut sekali, Rid. Sampai kapan pun aku tidak akan mengatakan itu hakku, kalau sesuatu itu memang bukan hakku, meski aku bisa saja memakainya kapan dan berapa saja. Aku tidak ingin menjadi pengecut, Rid.

Dan hari ini juga hubunganku dan dia berakhir. Dia tidak bisa mempertahankan cintanya dalam musyawarah keluarga. Dia tidak bisa mempertahankan cintanya, Rid. Uang memang tidak bisa membeli cinta, tapi ia mampu menginjak-injak cinta. Terakhir ia menghubungiku, ia mengatakan menangis semalam lantaran perbedaan ini. Saat itu juga, aku berpura-pura tegar. Aku berpura-pura hal itu wajar, karena ia harus bangkit lagi dan mulai membangun cinta dengan laki-laki itu. Aku tidak ingin menampakkan kesedihan di depannya. Dan kamu tentu lebih tahu, bagaimana berpisah dengan orang yang disayanginya, di saat cinta di puncak gelora.”

Tanpa kami sadari hujan deras yang turun kini menjadi kilauan senja yang menawan. Kilau senja memantul melalui pintu rumahku yang terbuka. Dari ruang tamu kami duduk tampak bintil-bintil air hujan yang menempel di daun-daun bagai emas gemerlapan. Jalan masih basah dengan genangan-genangan air di beberapa sisinya. Semoga saja kegundahan Ubik layaknya genangan itu, karena sebentar lagi juga akan mengering menjadi debu yang mudah terbang diterpa angin.

Ia pun segera bangkit, mengambil jaketnya yang masih memal. Aku mengikutinya dan mempersiapkan diriku juga. Kami akan menuju ke Blora, rumah sahabat kami satunya. Barangkali semua gundah Ubik tertumpah di sana.

Sunday, November 11, 2012

Pertemuan Tiga Sahabat (Sebuah esai foto)

Entah bagaimana awal kami bertemu, yang paling saya ingat adalah pertemuan pertama dengan Habib Hidayat. Dulu, tujuh tahun yang lalu ketika kami tinggal di Asrama UIN Malang, di sore hari sewaktu pulang dari kampus, tiba-tiba seseorang nyelonong menyalami aku, lalu memohon dengan melas sekali meminjam uang sebesar 15 ribu. Ya itulah awal pertemuanku dengan Habib Hidayat. Kemudian adalah Riza Multazam Luthfi, awal mula bertemu saya tidak begitu ingat. Yang jelas, di semester tiga kami mencintai seorang gadis yang sama.

Dan yang menggelikan kami pernah menraktir gadis itu di waktu yang sama pula. Kami bersaing dengan sehat dan sportif, namun ending cerita, kami berdua ditolak juga. Hanya saja aku yang lebih lama bertahan mendekati gadis itu. Dua orang tersebut adalah orang-orang yang menurutku memiliki karakter kuat, dan perjalanan hidup yang khas. Habib misalnya, dalam perjalanan hidupnya ia selalu mengalir, dilahirkan dari keluarga buruh tani membuat hidupnya selalu tidak terduga.

Dari sekolah hingga lulus kuliah, dia tidak dibiayai oleh orang tuanya tapi ada saja rejeki yang membuatnya bertahan hingga selesai kuliah. Pada titik nol rejeki dia pernah empat hari tidak makan nasi, tapi hanya minum air putih. Itu pun air kran dari tandon asrama UIN Malang. Dia juga banyak mengalami peristiwa-peristiwa ajaib dalam hidupnya yang unik. Ia selalu pasrah dan tawakkal kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Sedang Riza adalah pekerja keras. Sifat kerja kerasnya membuat saya geleng-geleng kepala. Di awal-awal kuliah dia menjadi pedagang kaki lima di kampusnya sendiri, UIN Malang. Barang-barang yang dijualnya adalah pin, gelang, jepit rambut, dan assesoris lainnya. Setiap jam kosong, ia menggelar tikar di depan kampus dan menunggu dagangannya. Yang tak lupa ketinggalan ialah ia sambil menunggu dagangan, ia selalu membaca buku. Ia tidak peduli dengan penampilannya. Kuliah dengan sepeda balap di sana-sini karatan, gearnya kering tidak pernah diolesi pelumas. Dan mode bajunya jadul banget, seperti tahun 70an.

Saya, Habib, dan Reza adalah orang-orang yang suka menulis. Keduanya menyukai menulis berawal ketika aku pameri puisiku yang terbit di Malang Post sekitar tahun 2008. Namun ajaibnya keduanya sudah memiliki karya yang bagus dari pada saya. Habib sudah menerbitkan dua Novel, dan tulisan Reza berupa puisi, cerpen, resensi, dan esai sudah dimuat di beberapa koran lokal maupun nasional. Hanya aku yang masih terbata-bata berusaha menulis dengan baik. Kampus UIN Malang yang mempertemukan kami bertiga. Tujuh tahun yang lalu kami awal bertemu, menjalani hari-hari suka duka bersama-sama. Hal itulah yang menyebabkan hingga saat ini kami masih mempunyai ikatan emosional yang kuat, meskipun tempat kami berjauhan antara satu dengan lainnya.

Pada tanggal 4 November kemarin saya berkesempatan untuk mengunjungi rumahnya Riza di bojonegoro, lalu kami berdua mengunjungi rumahnya Habib di Blora Jawa Tengah. Saya berangkat dari Nganjuk sendiri berbekal satu kamera poket digital dan banyak berharap mendapatkan gambar yang bagus selama perjalanan. Karena perjalanan ke Bojonegoro dan ke Blora melewati hutan jati yang tak terkira luasnya. Bepergian sendirian berbekal kamera cukup sulit mengoperasikan kamera. Dan saat itulah saya merasakan pentingnya tripot sebagai pelengkap kamera. Sejak keberangkatan saya selalu memikirkan bagaimana saya mencari angle yang baik dengan tanpa tripot. AKhirnya ketika saya mulai memasuki hutan Rejoso dan melewati sebuah sungai kecil dengan pagar jembatan saya berhenti, lalu meletakkan kamera di atas beton pagar jembatan dan mencoba membidik satu gambar. Hasilnya cukup bagus.
Foto1. Memasuki hutan Rejoso mencoba eksyen dengan bantuan tripot beton pagar jembatan.

Perjalanan saya lanjutkan, menikmati perjanan dengan kanan-kiri pohon jati, semak belukar, sungguh nikmat rasanya. Berkali-kali saya hirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan merasakan alam menyatu dengan diri saya. Namun tak selang beberapa menit saya melewati hutan gundul, saya pun berhenti dan mengucapkan duka kepada batang-batang sisa penebangan liar. Saya tak melihat seorang pun di situ, akhirnya saya mencari tempat berteduh, yaitu sebuah guduk yang berada di tengah gundulnya hutan. Di gubuk itu saya duduk sebentar dan mendapatkan batang pohon untuk  kujadikan tripot alam.
Foto 2. Berteduh dari hutan gundul.

Seusai menyaksikan kekejaman manusia pada alam, saya melanjutkan perlanan memasuki pepohonan lebat saya pelankan laju vespa, saya pandangi daun-daun hijau yang membayangiku. Kutatap landai antara bukit satu dan lainnya, jalan yang naik turun dan berbelok-belok membuat perjalanan semakin tak terasa.

Tanpa sengaja sebuah ketika menoleh ke kiri aku melihat gubuk di atas gundukan yang menarit untuk berfoto. Saya pun mengerem dan mengunjungi gubuk itu. Saya melihat posisi gubuk di atas bukit yang tak memungkinkan mendapatkan tripot dari alam. Maka aku panggil beberapa anak di seberang jalan untuk memotretkan. Ketiga anak itu datang dan secara singkat aku ajari bagaimana berfoto. Dan dengan itu aku bisa mendapatkan beberapa foto yang bagus di gubuk itu.
Foto3. Anak-anak pun bisa memotret dengan baik.

foto4. Dengan salah satu anak.

foto5. Dua ribuan untuk jasa memotret. hehehe

Setelah sampai pada tepi jalan yang datar, saya menjumpai sekuteris lain yang mengendarai vespa otopet, yang tak lama kemuadian ia berhenti dan aku pun berhenti juga untuk melepas sedikit lelah. Kami berkenalan dan berbincang seputar acara-acara reuni para skuteris. Ia dari Kediri menuju ke rembang dengan vespa itu. Satu vespa sejuta saudara, dan saya baru saja mendapatkan saudara baru saat itu. Setelah dirasa cukup, kami lanjutkan perjalanan.
foto 6. Ngobrol sesama penyuka Vespa.

foto 7. melanjutkan perjalanan.

Di percabangan antara arah ke Dander dan Sugihwaras kami berpisah aku meneruskan perjalanan ke Kebalen tempatnya Riza. Sedangkan kenalan baru belok ke kiri ke arah Rembang. Sampai di sebuah desa kecil Tiba-tiba hujan lebat turun, saya terpaksa berteduh di warung kecil dan memesan teh hangat.
Foto 8. Berteduh di kedai kecil

Setelah hujan reda, saya melanjutkan perjalanan hingga sampailah di rumah Reza, di Kebalen Bojonegoro. Waktu yang ideal jarak antara Nganjuk ke Bojonegoro 2 jam, saya habiskan selama 4,5 jam. Ya, tak lain karena saya begitu menikmati perjalanan itu.
Foto 9. Di depan rumah Riza

Setelah istirahat satu jam, pada jam 5 sore saya dan reza meluncur ke Blora dengan motor bebek Revo. Sayang sekali vespa tidak diajak, karena sok belakang bengkok dan jika dikendarai berdua maka menggoser roda belakang. Selama ke Blora hujan, dan kondisi tidak memungkinkan mengeluarkan kamera. Dan yang lebih menyebalkan lampu motor riza mati diketahui saat hari sudah gelap. Akhirnya kami hanya bisa membuntuti truk yang menuju ke Blora hingga kami sampai ke rumah habib pukul 21.30.
foto 10. Jalan terjal menuju rumah Habib.

foto11. Di depan rumah Habib.

foto12. Kondisi jalan di depan rumah Habib.

Pagi-pagi di rumah Habib, kami bercengkerama, berbincang ke sana-kemari mengenang masa lalu, menceritakan kondisi masa kini, dan mengungkapkan apa yang ingin kami capai di kelak hari. Kami menuju ke tengah hutan yang menjadi sawah, bersama embun pagi kami menikmati kehangatan persahabatan.
Foto13. Aku, Habib, dan Riza.

Di siang hari, kami mengunjungi padepokan Sikep Samin, yaitu pusat orang-orang yang melakukan “Laku samin” di desa Kelopo Duwur Blora. Di sana kami bergabung dengan tamu dari Purwokerto. Diskusi dipimpin oleh tures (Garis keturunan) samin yang posisinya sebagai buyut yaitu pak Lasio. Diskusi di pendopo yang semilir anginnya itu berbicara mengenai sejarah, tokoh, dan laku samin.

Banyak sekali pelajaran yang kami ambil dari diskusi itu. Samin bukanlah ajaran atau agama, bukan juga kepercayaan. Samin adalah laku, yang menjunjung tinggi kebersamaan dan kasih sayang. Prinsip yang diterapkan oleh orang-orang samin adalah mereka tidak akan melihat kejelekan orang lain sebelum ia mampu melihat pribadinya sendiri.
foto 14. Diskusi di Padepokan samin, dengan tures garis keturunan kyai Pangkrek, pak Lasio.

Foto15. Di padepokan Sikep Samin di kelopo duwur Blora.

Foto16. Pak Lasio tures buyut keturunan Kyai Pangkrek.

Pada pukul satu siang kami meluncur kembali ke Bojonegoro, dan saya langsung kembali ke Nganjuk. Karena mamburu waktu kami tak sempat mengeluarkan kamera, di lain karena hujan turun di beberapa tempat.
Foto 17. Aku dan Nizam, putra Habib.

Foto 18. Anak-anak desa beringin Blora.

Tuesday, October 23, 2012

Sebingkai Puisi Cinta


Sajak Cinta

Sajak cinta
Tak pernah indah
Kugubah
Hingga darah
Memerah
Ahh…

Malang 2008


Tertawan

saat matamu berkilauan
memantulkan secercah cayaha
saat kedua bibirmu
berusaha berucap
saat senyummu
mengoyak kebosanan
saat kata-kata
tak mampu manyanjung
sungguh hatiku tertawan

Malang, 25 Februari 2008



Bunga yang Kembang

Kau bunga yang kembang
Jagalah wangimu
Hingga petang
Sebelum senja
Hendak menjelang

Malang, 25 Februari 2008


Seperti Pagi

kau adalah pagi
gantikan malam yang gelap
terang benerang saat ini
tetesan embunmu
hidupkan semangat kalbu
udara sejukmu
mengikis letih ragaku
mentari yang meninggi
layaknya wajahmu berseri

Malang, 25 Februari 2008


Awal Terjaga

Sebelum tampak mentari
Sebelum hari dimulai
Mataku awal terjaga
Menatap kau jauh di sana
Selayak mega pagi
Menyentuh kulit-kulit bumi
Dan embun itu
Sebening air
kelopak matamu

Malang 2008


Mata dan Makna

Sejengkal kata
Tak sempat terucap
Saat kau buka mata

Cukup.

Sejuta kesanggupan
Sudah kau isyaratkan.

Malang Januari 2009



Dengan Cintamu, Kekasihku

Kekasihku,
Sajak ini mengalir begitu saja
Di bawah terik matahari
Di sela debu-debu tengah hari

Kekasihku,
Sengatan matahari seperti tak terasa
Pekat udara yang kadang
Menyesakkan dada
Mengalir dalam rongga begitu mesra

Kekasihku,
Cintaku padamu
Menjadikanku buta akan kebencian
Aku menikmati ketimpangan
Di persimpang jalan

Kekasihku,
Mengapa hatiku selalu bergetar
Mencecap manisnya bumi
Meski kegetiran
Di mana-mana

Kekasihku,
Aku tersenyum dengan cintamu
Di tengah amuk tangis
Menyusup lorong-lorong
Perkotaan

Kekasihku,
Dengan cintamu
Aku saksikan para koruptor
Diadili dalam persidangan
Seperti boneka-boneka cantik
Dimainkan para jaksa

Kekasihku,
Dengan cintamu
Aku hanya bisa
Menyimak merdunya
Tangis bocah-bocah putus sekolah

Menatap dinginnya tetesan
Embun dari patahan
Batang yang jadi arang

Malang, 5 Sept 2008


Sunday, September 30, 2012

Kehendak untuk Bebas


Kamu tahu, betapa lama aku kucel sendiri. Kecil hati adalah penyakit yang kejam menikam-nikam. Terlebih menjangkiti orang seperti aku ini, orang yang punya keinginan-keinginan besar dan yang selalu berambisi untuk menjadi yang terbaik. Tapi apalah daya, banyak keinginan dan harapan begitu saja hangus lantaran hati yang kecil, tak mampu menghadapi rintangan yang kecil sekali pun. Ibarat jembut jagung aku adalah jembut yang kering lantaran jagung terlalu tua. Helai-perhelai berontokan di tanah terkulai.

Aku sebagai orang yang tidak menerima apa adanya selalu berusaha untuk mengobati penyakit kronis itu. Buku-buku biografi tokoh-tokoh besar, buku tentang peperangan, pembunuhan, bahkan cerita-cerita paling sadis, sudah aku baca hingga tak tersisa selembar pun. Namun semua itu tak menyisakan sedikit pun kecuali hafalan tentang teori-teori dan tambahan pengetahuan belaka. Buat apa berpengetahuan kalau hati tetap kucel begini!

Kekecilan hati, kata orang, disebabkan karena minimnya pengetahuan dan pendidikan. Aku banyak tahu, bahkan lebih banyak dari pada orang-orang yang berhati besar yang ada di sekitarku. Menurutku pengetahuan saja tidak cukup, bahkan di beberapa kesempatan pengetahuan menjadi pemicu ketakutan dan kecil hati. Seorang yang tau tentang penyakitnya, misalnya, akan lebih takut untuk memakan makanan tertentu yang dianggapnya sebagai pemicu kekambuhan. Apakah masih kita percayai bahwa ketidaktahuan menyebabkan ketakutan. Mungkin ada benarnya dalam beberapa kasus, tapi tidak selalu seperti itu.

Aku bahkan sempat berpikiran, jangan-jangan ketahuanku akan penyakit kecil hati itu yang membuatku semakin terpuruk di pojok keterasingan. Sebagai orang yang dikarunia akal, aku menggunakannya dengan sebaik-baiknya, untuk mencari obat atas penyakit itu. Minimal, ketika pengetahuan akan penyakit itu membuatku semakin kecil, pengetahuan jugalah yang akan mengobatinya.

Konsultasi dengan pakar-pakar psikologis juga sudah saya lakukan. Saran merka selalu sama, yaitu supaya aku tidak membenci diri sendiri dan berpikiran positif atas semua hal, semua yang terjadi.

“Saya sudah menyayangi diri saya, dok”. Ucapku saat berkonsultasi. “Saya membelikan pakaian sesuai dengan apa yang saya sukai. Saya memandikannya dua kali sehari. Saya melindunginya dengan jaket saat dingin, dan dengan deodoran saat kepanasan.”

“Ya, itu baik. Tapi tidak hanya secara fisik, melainkan secara kualitas dan kemampuan yang ada di dalam diri Anda.” Dokter itu berucap dengan nada rendah.

“Saya pun mencintai kemampuan-kemampuan yang ada di dalam diri saya, dok. Saya juga mencitai kualitas saya. Bahkan saking cintanya saya selalu berusaha untuk keluar dari penyakit pelik ini. Saya selalu berusaha untuk menjadi yang lebih baik, dok.”

“Karena kamu selalu menginginkan yang lebih baik, dan belum tercapi, maka kamu membenci dirimu sendiri.” Dokter mengatakan itu.

Saya menjadi bingung. Bukankah orang yang benci dengan dirinya adalah orang-orang yang berputus asa. Aku tidak pernah berputus asa. Bahkan sesalu mencari jalan terbaik untuk menyelesaikan segala persoalan yang menimpaku.

“Berpositif thinking juga membantu memperbesar hati”. Kata dokter itu.

“Berprasangka baik maksudnya?”

“Ya.” Kata dokter meyakinkan.

“Tapi, dok. Saya hidup di lingkungan yang hancur dari semua segi, dok. Para pedagang di lingkungan saya suka mengibuli pembelinya. Para pemerintah suka mengutil uang rakyatnya. Para pendidik menjadikan sekolah sebagai ajang perampasan. Militer yang seharusnya memberikan rasa aman, sekarang banyak menghasut dan menciptakan permusuhan antar warga, bahkan para pemuka dan tokoh agama tidak segan untuk berbuat serong dari Tuhannya.” Dalam hati aku mengucapkan para dokter suka menarik tarif tinggi pada pasiennya. Dalam hati. “Apa saya juga harus berbaik sangka dengan mereka?”

“Ya, itu baik untuk memperbesar hati kamu.”

“Tapi dok, dimana letak benang merah antara berprasangka baik dengan besar hati?”

“Kalau Anda berprasangka baik itu artinya Anda berpikiran positif. Memandang setiap sesuatu dengan kebahagiaan dan keceriaan. Setelah hati Anda terbiasa bahagia, hati Anda akan membesar.”

Aku seperti menjadi gila saat mendengar kalimat itu. Bagaimana mungkin kita berbaik sangka dengan para bajing dan para rampok. Bagaimana bisa kita berbahagia dan berceria dengan kondisi lingkungan seperti itu. Ditaruh mana logikanya, ditaruh mana otaknya. Mulai saat itu aku tidak datang lagi ke psikiater. Menurutku dia tidak bisa memahami persoalanku. Kalaupun bisa memahami, dia tidak tahu bagaimana pemecahannya.
Aku lalu mencari obat kecil hatiku dengan caraku sendiri. Membaca, mencermati orang-orang yang berhati besar, bertukar pikiran, diskusi dan banyak lainnya. Hati besar akan tercapai saat kamu terbebas dari belenggu, ada seorang yang bilang begitu. Ketika jiwamu bebas kamu akan menjadi pemberani dan dengan keberanian hatimu akan besar. Kebebasan, apa itu kebebasan, apa kaitannya dengan berhati besar.

Aku amati perilaku para pemilik rumah-rumah mewah di perumahan elit. Saat jogging pagi-pagi diam-diam aku perhatikan tingkah laku mereka. Barangkali kebebasan himpitan ekonomi akan bisa menjadikan hati besar. Namun jarang sekali aku melihat aktifitas mereka. Yang ada hanyalah para pembantu yang menyirami tanaman, memotong rumput, dan belanja di penjual sayur keliling. Sesekali pemilik rumah tampak menghidupkan mobil, lalu pergi dengannya. Seperti itu setiap dua minggu sekali saat aku jogging aku mengamatinya. Artinya aku tidak bisa mengambil pelajaran dari pengamatan itu.

Maka aku harus mengamati orang-orang yang masih dalam perjuangan, dan mereka adalah para pedagang kaki lima di pasar. Apakah orang yang terhimpit ekonomi benar-benar tidak berjiwa besar. Aku pun pergi ke pasar, berjalan kaki mengamati perilaku mereka. Mereka hanya duduk-duduk menunggu pembeli, ada yang berjuang dengan kata-kata untuk menarik pembeli. Aku pun jadi bertanya-tanya, apakah hati mereka kucel dan kecil. Apa tantangan terbesar yang mereka hadapi. Ingatanku kembali pada para pemilik rumah mewah. Apakah hati mereka besar. Apa tantangan-tantangan yang sudah mereka hadapi. Aku teringat juga saat perjalanan ke pasar yang melewati sebuah jembatan yang di bawahnya ada tenda-tenda dengan penghuni manusia. Apakah mereka juga berhati besar. Tantangan apa yang sedang mereka hadapi. Aku hampir menemukan titik persamaan. Berhati besar. Siapa sebenarnya orang yang berhati besar itu. Seberapa besar tantangan yang mereka hadapi sehingga bisa dikatakan berhati besar.

Pikiranku terus bergelayut. Sampai aku hampir terperosok lubang selokan yang menganga di sepanjang tepi jalan pasar. Aku kembali pada ingatan-ingatan dari buku biografi para tokoh-tokoh yang berhati besar. Apa yang mereka hadapi sehingga orang-orang menyebutnya berhati besar. Apa karena mereka berani melawan yang lebih besar. Atau mereka berani melakukan hal-hal yang diluar kemampuan orang pada umumnya. Apakah kebebasan benar-benar menjadikan orang berhati besar.

Hingga aku melihat orang gila di tengah-tengah pasar. Dia seorang laki-laki yang bertubuh kekar. Dengan bertelanjang dada menari-nari dan menyanyi-nyanyi lantang tanpa menghiraukan sekitar. Sesekali kaki kanannya diangkat dan kaki kirinya meloncat kecil. Diikuti kedua tanggnya meliuk-liuk di menyamping kanan dan kiri sehingga menjadikan badannya kadang mendoyong ke kanan dan kiri mengimbangi liukan tangannya.

Tentu itu sebuah kebebasan sebebas bebasnya, pikirku. Aku lihat wajahnya tak ada tekanan sedikit pun. Kebebasannya dalam melakukan apa saja yang menjadi keinginannya. Apakah kebebasan yang seperti itu bisa memicu kebesaran hati, ketakutan yang membelengguku selama ini. Apakah kebebasan akan tercapai dengan melepas segala kemaluan. Karena rasa malu sungguh membuat kita tidak leluasa berbuat sesuatu, sesuatu yang kecil dan remeh pun. Ya, pikirku.

Aku pun segera mencari pusat keramaian di pasar itu, hingga aku menemukan titik temu antara dua jalan pintu keluar pasar. Di situ ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang atau pun berbelanja. Dengan keyakinan dan kebebasan yang baru aku dapatkan, aku melepas satu persatu kancing di bajuku. Setelah telanjang dada, aku masih belum terima, maka aku lepas celana hingga hanya celana dalam yang melekat di tubuhku. Aku mulai mengangkat tangan dan kaki untuk menari. Lalu berteriak dan meracau apa pun yang ingin kukatakan. Tak terima hanya dengan itu, aku meloncat bergerak abstrak meliuk, membungkuk melemparkan tubuhku ke tiang listrik, ke gundukan sampah di depan kios. Aku pun merasakan kebebasan yang sepenuhnya. Kurasakan hatiku menjadi besar dan kian membesar.

Aku pun semakin hilang kendali. Aku melonjak-lonjak, berteriak mengomel dengan keras. Tanganku bergerak tak beraturan sekuat aku menjangkaunya. Aku memegang udara, melemparkannya dan menendangnya. Aku semakin merasakan kebebasan tak terhingga.

Orang-orang yang berlalu lalang semakin banyak yang berhenti dan melihat kebebasanku. Semakin lama semakin banyak, membentuk setengah lingkaran mengitariku. Aku tak peduli, aku menikmati kebebasanku. Hingga akhirnya aku kelelahan, kebebasanku seperti menguap. Tubuhku terasa berat. Kakiku tak mampu menyangga beban, aku pun roboh tersimpuh. Lalu aku bangkit, mencoba merasakan kebebasan yang tersisa. Tanganku kulentangkan, kuambil nafas dalam-dalam lalu kuhembuskan. Kupandangi orang-orang yang melihatku. Mereka bertepuk tangan dan tersenyum. Lalu satu persatu melemparkan uang di kardus bekas di sampingku yang kebetulan tergeletak terbuka. Lalu mereka membubarkan diri meninggalkanku sendiri. Dan aku masih merasakan kebebasan itu, meski hatiku belum tentu masih besar.