Saturday, December 15, 2012

Penggalan Kisah


Seharusnya aku sudah meninggalkannya. Meninggalkannya memang karena segala yang terjalin kini sudah terurai. Lalu aku menyembuhkan lukaku sendiri, dan dia menyembuhkan lukanya. Karena kami tidak lagi di jalan yang sama.

Setiap perjumpaan diakhiri dengan perpisahan. Sekitar sebulan lalu kami berjumpa dan kini waktunya berpisah. Masa selama di dalam kebersamaan mulai saya kemasi, untuk disimpan di dalam kotak kenangan. Suka duka di masa singkat itu tak berarti lagi, melainkan sebagai pelajaran di kelak hari.

Seharusnya kami sudah mulai jauh-menjauhi. Aku mencari jalan hidupku sendiri, dan ia mencari jalan hidupnya. Ibarat sebatang pohon, kami adalah pohon yang ditumbangkan oleh tukang kayu menjadi dua bagian. Lalu aku bisa saja menjadi almari dan ia menjadi meja atau kursi. Dan tentu kami tidak bisa bersama lagi, kalau pun suatu saat nanti bertemu mungkin hanya mampu bertegur sapa.

Mendung yang menjadi saksi kebersamaan kami pun sudah mencair dan turun ke selokan dan sungai menuju ke lautan. Rumput-rumput kuning yang menjadi saksi kebersamaan kami sudah musnah, tergeser oleh rerumputan hijau yang tumbuh dengan angkuh. Debu-debu yang menjadi saksi kebersamaan kami, sudah terseret arus hujan dan hanya menyisakan genangan. Seharusnya lengkap sudah untuk sebuah akhiran.

Di saat seperti ini, dia menghubungiku lagi. Ia mengatakan bahwa apa yang menjadi keputusan minggu lalu adalah hasil dari keputusan sebelah pihak. Dia di posisi sangat tertekan. Di satu sisi ia sebagai anak yang harus patuh pada orang tua, dan di sisi lain ia sebagai seorang remaja mempunyai keinginan dan cita-cita, serta harapan-harapan yang disukainya menurut kecenderungan hatinya sendiri.

Ia mengeluh dan mengaduh kepadaku. Air matanya mengucur, senyumnya terkubur. Bagaimana mungkin bisa hidup dalam keluarga sebagai suami istri dengan orang yang tidak dicintainya. Ia ingin mengungkapkan isi hatinya kepada orang tua. Dia meminta pertimbangan-pertimbangan dariku, dan aku mulai berpikir.

Semenjak ia mengatakan bahwa ibunya pernah bilang, “Kamu bertemu dia (aku) sudah dewasa, dia tidak tau bagaimana kamu saat kecil. Sedang aku, aku tau bagaimana saat kamu kecil, maka ikutilah nasehatku”. Sejak ia menyampaikan kata itu, harapanku untuk bersama dia sudah pupus. Ibunya menyetujui laki-laki lain yang sudah sukses dari segi ekonomi. Bagiku itu adalah ungkapan paling puncak sebagai permohonan orang tua kepada anaknya.

Ridho Tuhan terdapat di dalam ridho orang tua, dan kemurkaan Tuhan ada di dalam kemurkaan orang tua. Sebagai pengasuh utama setiap anak, orang tua mempunyai posisi penting dalam kehidupan anak. Menentang orang tua hampir sama dengan menentang Tuhan. Hal inilah yang membuat setiap kata yang diucapkan orang tua kepada anaknya menjadi kata-kata yang mujarab. Kutukan maupun do’anya seakan selalu membayangi anak dalam kehidupannya. Maka mengungkapkan isi hati yang bertentangan dengan kehendak orang tua haruslah berhati-hati. Karena jika orang tua marah, marahlah Tuhan.

Pertama-tama yang saya lakukan adalah mendinginkan dan melipurnya. Dari pernyataan-pernyataan sebelumnya saya bisa tau kalau dia adalah seorang yang keras dengan pendiriannya, keras dengan keinginan-keinginannya. Maka jika tidak diredakan terlebih dahulu, pertentangannya dengan ibu bisa meledak menjadi sebuah pertempuran, dan hal ini bisa membahayakan bagi kehidupannya kelak.

Saya memberikannya terlebih dahulu pengertian bahwa hidup bersama siapa saja sama. Sama saya baik, sama laki-laki pilihan ibu juga baik. Semua kebaikan itu sama. Sama-sama membahagiakan. Hanya saja perlu kebiasaan dan pembiasaan. Cinta itu adalah anak kebudayaan, kata Pramoedya Ananta Toer, ia bukan batu yang jatuh dari langit. Artinya bahwa cinta itu bisa tumbuh karena kebiasaan dan interaksi budaya yang intens. Jika ia pun nantinya harus hidup dengan pilihan ibu, maka mungkin sekali akan tumbuh cinta meski untuk sekarang ini tidak ada rasa cinta sama sekali.

Di samping memberikan pengertian itu aku merintih teriris-iris oleh kata-kataku sendiri. Bukannya aku juga dalam gelora cinta padanya. Siapa yang tidak menginginkan memiliki apa yang dicintainya dan yang disayanginya. Aku berpura-pura tegar dihadapannya. Aku tersenyum bahkan tak jarang tertawa terbahak, namun itu semua sebagai tangisan yang aku paksakan menjadi tawa. Aku menertawakan kengerian akan keterpisahan dengan kekasihku, di depan kekasihku sendiri.

Setelah memberikan pengertian itu aku berusaha mendorong dia untuk mengungkapkan isi hatinya kepada ibunya. Dan dengan samar menolak keinginan ibunya. Melawan dengan sehalus-halusnya perlawanan. Menolak dengan halus pewujudannya adalah dia mengungkapkan isi hatinya dengan  menolak apa yang dikehendaki ibunya. Di saat-saat seperti itu pasti akan terjadi perdebatan hebat. Maka tatkala ibunya mulai marah dan mengomel, saya anjurkan untuk segera meninggalkannya tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Dari ceritanya aku bisa menangkap bahwa ibunya memilih lelaki itu tidak hanya karena kemapanannya secara ekonomi, akan tetapi ada hal lain yang lebih besar. Apakah hal itu. Hal itu membuat saya berpikir seribu kali. Mencermati setiap yang terjadi mulai aku mengenalnya hingga saat ini.

Saya jadi merasa bersalah ketika pertama kali kami bertemu di taman kota hingga larut malam. Jalan bareng yang kami rencanakan berakhir sampai jam setengah sembilan, kenyataannya kami pulang hingga jam setengah sepuluh malam. Sudah saya ingatkan sebenarnya saat jarum jam menujukkan pukul setengah sembilan. Namun ia masih ingin menikmati malam denganku, jam Sembilan juga aku ingatkan, namun lagi-lagi ia menolak untuk segera kembali. Jam setengah sepuluh kami baru bisa sampai ke rumah dia.

Karena saya merasa bertanggungjawab mengajaknya keluar, maka saya pun malam itu memperkenalkan diri dengan ibunya untuk pertama kalinya. Sebuah perkenalan di waktu yang tidak tepat. Jam setengah sepuluh malam, dan dengan kondisi baru pulang dari taman kota. Saya benar-benar tidak berpikir sampai di situ. Saya terlalu terlena oleh gelora cinta yang bersinar terang hingga menyilaukan segalanya.

Kesalahan kedua adalah ketika saya mengajaknya keluar untuk berbelanja buku. Meski dengan izin ibunya, saya tetap merasa bersalah. Saya terlalu berani dan sembrono. Membawa pergi dia begitu saja, lalu mengembalikannya ke rumah, bukankah itu hal yang tidak etis. Terlebih saat orang tuanya berada di rumah.

Adalah dua kesalahan itu yang menurutku membuat ibunya mungkin tidak suka denganku dan memilih laki-laki lain untuk dia. Saya sudah meminta maaf, tapi sepertinya sudah terlambat. Saya sudah tidak mungkin silaturrahmi ke rumahnya, lantaran saat-saat ini sedang masa rundingan antara keluarga dia dengan keluarga lelaki pilihan ibunya. Saya hanya bisa meminta maaf dengan perantara dia, untuk menyampaikannya kepada ibunya. Namun tetap tidak efisien karena suasana antara mereka sedang memanas. Bahkan saya belum yakin dia benar-benar sudah menyampaikan permintamaafan saya itu.

Semua sudah terjadi, dan kecerobohan saya membawa segalanya berantakan. Saya terlalu tersilaukan oleh gelora cinta, maka saya tidak lagi mengikuti hukum adat yang masih berlaku dalam masyarakat yaitu papan empan. Saya seharusnya sadar diri bahwa dengan posisi saya. Saya berada di keluarga yang baru saya kenal. Seharusnya saya tidak berbuat melampaui batas. Seharusnya saya tahu dulu bagaimana karakter keluarganya, untuk bisa bersikap dan berbuat sesuai yang berlaku di dalam keluarga itu. Lagi-lagi etika dan norma.

Sebenarnya aku dilahirkan di iklim keluarga yang normatif. Lalu aku disekolahkan juga di kawasan normatif yang kental dengan etika dan norma. Hingga saat meneruskan ke perguruan tinggipun saya tinggal di kawasan kental dengan norma. Tapi interaksiku dan norma dengan waktu yang berpuluh tahun itu tidak memberikan pengaruh yang besar tentang norma dalam diri saya. Norma membuat saya selalu tidak nyaman. Norma selalu membuat saya menjadi pembohong. Tidak alami dan terkesan dibuat-buat.

Karena saya terlalu mengacuhkan norma, dan mengikuti kata hati saja, saya pun menjadi mengerti bahwa norma dan etika sangat mempengaruhi hidup kita, terutama citra kita dalam keluarga, terlebih dalam kehidupan masyarakat. Saya menyesal sekali berbuat yang demikian. Menjadikan apa yang saya impikan dan hampir mendapatkannya, tapi kini menuai kendala yang tidak bisa diremehkan. Ini adalah pengalaman yang berharga, dan yang bisa kulakukan hanyalah berdo’a agar segala keputusan menjadi yang terbaik bagi semua pihak.