Friday, December 30, 2011

Hantu

Semua warga desa diributkan dengan seringnya hantu yang muncul dengan tiba-tiba. Hal demikian tentu akan membahayakan para penderita lemah jantung. Selain itu, hantu juga sering mengusili warga. Mulai dari mencolek, membuat suara gaduh, atau mengganggu ternak sehingga kambing dan sapi gaduh di malam hari.

“Kesabaran kita seharusnya habis sejak dulu. Gimana tidak, tiap hari kita diributkan ternak yang mengamuk seperti kesetanan”

”Ya, hantu-hantu kacangan itu semakin hari semakin menjadi. Sering memunculkan suara benturan di tengah malam, sampai para peronda mengira itu maling. Tapi setelah dilihat tidak ada apa-apa, kecuali seglintir pocongan yang sedang usil. Para hantu sudah sangat mengganggu aktivitas warga. Harus segera kita basmi”

”Ya, saya sepakat kita harus membakar Danyang Soho itu”

”Aku juga pernah, waktu lewat Danyang Soho, seperti di kasih seorang tua beberapa ribu uang. Tak berpikir panjang, aku pun menerimanya, tapi, setelah uang itu saya belikan berubah menjadi kembang tujuh warna. Si penjual jadi menuduh saya melakukan penipuan dengan pesugihan. Ini kan sudah keterlaluan!”

”Ya, harus kita ganyang”

”Harus, harus, sebelum para lelembut lebih kreatip dalam mengganggu warga”

Maka, malam harinya, seluruh warga desa berbondong-bondong akan membakar sebuah pohon besar -Danyang Soho- yang terkenal sebagai markas besar para lelembut.

Meski malam mencekam, dingin menusuki tulang, tak menyurutkan langkah warga untuk membakar pohon itu. Para warga yakin, setelah membakar Danyang Soho, para lelembut akan pergi dari desa ini, minimal tidak lagi usil pada manusia. Dengan obor di tangan kanan dan cirigen berisi bensin di tangan kiri, hampir semua warga ikut menggrebek Danyang Soho. Hanya ibu-ibu yang punya anak kecil, yang tinggal di rumah.

Jarak 200 meter sebelum Danyang Soho, tiba-tiba angin ribut datang. Mengombang-ambingkan barisan warga. Mematikan sebagia obor yang ada.

”Semua berkumpul, melingkar!” instruksi dari pak lurah.

Maka semua berkumpul, melingkar, dan merapat. Obor-obor yang mati dinyalakan lagi. Bau busuk tiba-tiba menyengat hidung, lalu beberapa pocong dengan wajah penuh ulat bergelantung di reranting pohon. Tak berpikir lama, semua warga melemparinya dengan batu yang sudah disiapkan di saku. Pocongpocong itu lalu menghilang.

Kini suara lolongan serigala memekikkan telinga. Disusul dengan hujan kepala dari atas pohon. Setelah di tanah, kepalakepala itu tersenyum dengan taring yang tajam. Para warga menginjaknya hingga kepalakepala itu lebam, lalu menghilang.

Pada hitungan ketiga, para warga berlari menyerang Danyang Soho. Surder Bolong muncul, Suster Ngesot, Thong-thong Shot, Mbilung, Pocong, Wedon, tak ketinggalan. Semua bermuka seram. Namun, semua dilibas dengan lemparan batu-batu warga.

Tibalah semua warga di depan Pohon Soho besar yang dianggap sebagai sarang lelembut. Saat semua akan menyiramkan bensin ke pohon, tiba-tiba muncul sesosok makhluk besar, hitam, dan bertaring panjang.

“Hhhaaaaaaaa!” gendruwo itu berteriak hingga warga menyumpat telinga.

“Manusia goblok, bodoh, dungu, tolol, asu, kalian!”

”Lelembut bodoh, dungu, suka usil, ngganggu manusia, setan, kalian!”

”Diaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaam!” gendruwo berteriak. Warga menyumpat tenlinga.

”kami diciptakan memang untuk mengganggu manusia!. Dan kalian seharusnya takut pada kami. Tapi sekarang tidak. Sekarang beda. Kalian sudah tidak lagi lakut pada kami. Malahan, kalian melempari batu kami, mengolok kami, dan malam ini kalian akan membakar rumah kami.”

”Kalian hantu sudah membuat kami kesal. Membuat warga tidak bisa tidur nyenyak. Kenapa sih, kalian enggak bisa diam!” pak Lurah mengutarakan isi hati warga.

”Kalian manusia dungu! Kami, yang sebagai pengganggu kecil seperti ini kalian lawan. Kalian musuhi. Kalian musnahkan. Lihat! Buka mata kalian! Para manusia yang menyakiti kalian, para pemimpin kalian, yang korup, yang memebuat rakyat miskin, para mafia hukum, para maling negara yang melumat kebahagiaan kalian, tidak pernah kalian musuhi, bahkan membencipun kalian tidak pernah!

Apa karena kalian takut! Cih, pengecut! Penghianat! Kalian, para manusia takut pada keculasan, kecurangan. Manusia asu!. Buka mata kalian, dana centuri yang lenyap, lumpur Sidoarjo, korupsi, itu sudah benar-benar membuat kalian mati kelaparan. Tapi kalian tidak melawannya! Dan kami, yang memang digariskan sebagai penggaggu kacangan, sudah hancur eksistensi kami. Kalian gusur rumahrumah kami. Rawa-rawa kalian tebang, hutang kalian tebang, sungai-sungai kalian jadikan bangunan, kalian soroti rumah-rumah kami dengan lampu gemerlapan. Bukankah itu penggusuran hak hidup kami! Kami adalah makhluk kegelapan. Hutan, rawa, sungai, kalian jamah semua, kalian rusak semua!

Dan yang paling memiriskan hati, kalian sudah tidak takut pada kami. Eksistensi kami sebagai pengganggu kini hancur. Hancur. Hancuuuuuurrr... kalian gembar-gembor kesetaraan hak, kesetaraan jenis kelamin, hak pendidikan, hak hidup, tapi kalian tetap semena-mena pada yang lemah dan takut pada yang kuat. Bahkan, pada yang harus dilawan kalian malah takut. Seharusnya kalian juga mempertimbangkan hak-hak kami. Bukankah kita juga hidup semagai satu makhluk, makhluk Tuhan semesta! Kalian manusia goblok.

”Faiz! Mana Faiz!”

Gila, gendruwo memanggilku.

”Faiz, kamu itu manusia Manja, alias Manismanis Jancuki! Kami tau sebenarnya kamu masih takut kami. Tapi itu tidak penting. Lihatlah, korupsi di kabupatenmu sudah mencapai stadium empat. Dan kamu, apa yang kamu lakukan! Malah buat cerpen kacangan yang nggak laku diterbitkan. Seharusnya kamu menghunus parang dan membabat siapa saja yang merampas hak-hak rakyat. Lawan dengan otakmu, tenagamu, dan hartamu! Kamu takut! Manusia yang takut pada yang salah itu manusia pengecut!”

Aku malu bukan kepalang. Kok tau, aku sebenarnya masih takut pada hantu.

”Nurani, bukumu yang ke 17 sudah terbit. Tapi itu hanya akan mencerdaskan para borjuis untuk menyiasati semua perlawananmu. Bukankah buku-bukumu itu Cuma dibaca oleh orang-orang borjuis! Karena hanya mereka yang mempu membeli buku. Kamu harus bikin gerakan bawah untuk penyadaran akan penindasan kekuasaan pada rakyat. Tapi, sekolah menulis yang efektif sebagai media malah kau lupakan, padahal sudah beberapa siswa mau mendaftar. Perubahan tidak akan terjadi melainkan dari gerakan bawah”

Pak nurani Cuma cengingas-cengingis. Barangkali ada hal-hal lain yang tidak diketahui gendruwo tentang dirinya.

”Sukarto, sebagai lurah kamu tidak pernah memihak rakyat. Lihat, selama kamu pimpin tidak ada kemajuan sama sekali. Aspal pada bolong-bolong kamu biarkan, sampai banyak orang terperosok di dalamnya. Itu tanggung jawab kamu. Progarm-progammu tak lebih Cuma gambar saja formalitas. Hasilnya nonsen. Perangkatmu yang bodohbodoh itu, bisa apa mereka! Aku kok heran, tahun ini kok kamu jadi calon lagi! Apa kamu pikir jadi lurah itu enak! Tidak. Sama sekali tidak. Jadi lurah itu harus pandai, jujur, cerdas dan bertanggung jawab, pekerja keras. Tapi nggak tau, kalo bagimu jadi lurah diambil duitnya doang.”

Wajah pak Sukarto merah padam. Semoga orang-orang yang membaca terbuka hatinya.

”Mulkadi, dulu kamu jadi lurah, dan sekarang magang lagi. Apa jabatan itu tidak membuatmu takut! Apa kamu tidak takut pada tanggungjawab itu! Toh, waktu kamu jadi lurah juga nggak ada kemajuan. Waktu kepemimpinanmu memang belum terbuka seperti sekarang. Jadi, kalaupun kamu korupsi”

”Maskuni, kamu juga magang lurah. Rupanya jabatan wakil lurah menggiyurkanmu untuk menduduki jabatan lurah. Seharusnya kamu bercermin dulu, beberapa oraganisasi kamu ketuai, tapi kegiatannya Cuma ituitu saja. Kamu memang jujur. Tapi yang diperlukan pemimpin tidak hanya jujr saja, melainkan keprofesionalitasan dan kekreatipan.”
(KALAU MAU BOLEH MENAMBAHKAN TULISAN APA AJA DI PARAGRAF INI........ Ingat, mencantumkan nama terang bisa memejahijaukan Anda!)

”Kalian memang bodoh, kalian pengecut! Kami diciptakan untuk mengganggu kalian! Dan kalian harus takut pada kami. Tapi nyatanya...” gendruwo menghentikan kata-katanya. Dari kedua matanya keluar air mata. Lelembut lainnya menyusul, mengerubunginya, ikut meneteskan air mata.

”Kalian sudah menyalahi kodrat Tuhan” dengan bersimbah air mata Gedruwo melanjutkan. ”kalian para manusia menakuti sesuatu yang tidak seharusnya ditakuti, dan menidaktakuti yang seharusnya ditakuti. Asu!.

Suasanya menjadi hening, seperti ada duka di celahnya. Di tengah keheningan malam itu, seorang berteriak ”Bakaaaar!”. Kebodohan dan keculasan merasuki otak para warga. Semua bensin disiramkan ke pohon, lalu oborobor dilemparkannya.

Api pun tak terbendung lagi menjilati seluruh pohon. Para hantu menangis sedang para manusia tertawa dengan kebodohannya.

Thursday, December 29, 2011

Ibnu Bajjah dan WS. Rendra dalam Etika

Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai petunjuk manusia. Setiap manusia mempunyai kekuatan dari Allah untuk menentukan perjalanan hidupnya. Dalam kehidupan manusia banyak pilihan hidup yang secara etika dibedakan antara yang baik dan yang jelek, yang benar dan yang salah. Disini Al-Qur’an mempunyai peranan penting untuk mengetahui dan selanjutnya membedakan antara pilihan baik dan buruk atau benar dan salah.

Pada perbuatan manusia terdapat perbuatan terpuji dan perbuatan tercela. Kedua perbuatan manusia yang saling bertolak belakang ini, sebagian menjadi perdebatan di antara manusia sendiri mengenai suatu hal itu terpuji atau tercela. Perbedaan pendapat tersebut dilatarbelakangi oleh perbedaan budaya dan moral pada setiap pribadi manusia dan masyarakat.

Perbedaan antara keduanya akan lebih terbaur ketika kedua perbuatan itu disetujui dan dilakukan dalam suatu masyarakat. Dalam situasi seperti ini, sebagaimana yang terjadi sekarang, sangat sulit membedakan antara perbuatan yang baik dan yang buruk, yang membangun dan yang merusak dalam konteks budaya, karena seakan-akan perbuatan tersebut menjadi sebuah kebiasaan dalam suatu masyarakat dan telah disepakati bersama.

Ibnu Bajjah membedakan kedua perbuatan atau tindakan manusia itu dari segi "dari mana" manusia melakukan sesuatu. Menurutnya pada diri manusia setiap akan melakukan sesuatu tak lepas dari dua motif, yaitu motif naluri atau hal-hal yang berhubungan dengannya. Naluri manusia disini bukanlah hati melainkan nafsu. Nafsu sangat berkaitan dengan hasrat manusia. Apa yang dilakukan oleh manusia selama itu mengandung unsur-unsur hasrat adalah nafsu.

Tindakan yang berdasarkan hasrat oleh Ibnu Bajjah diistilahkan dengan tindakan hewani. Seperti halnya seekor binatang dalam berlaku tidak menggunakan otak dan akal. Tindakan hewani pada manusia juga seperti itu. Bahkan ketika hasrat manusia dituruti, ia bisa lebih buas dari binatang. Hasrat manusia apabila sebagai dasar pikirannya, manusia akan lebih ganas dan lebih ganas dari binatang. Karena sebuas binatang ada titik kepuasan, sedangkan manusia tidak.

Selain tindakan yang didorong hasrat pada tindakan manusia, Ibnu Bajjah juga membagi tindakan manusia yang ditimbulkan dari pemikiran yang lurus dan keamanan yang bersih. Tindakan yang berdasarkan akal yang lurus, oleh Ibnu Bajah diistilahkan dengan tindakan manusiawi.

Tindakan manusiawi seseorang akan terlepas dari nafsu. Tindakan manusiawi bermotif dari hati, kemudian dikonsep dalam pikiran dan diterapkan dalam suatu tindakan. Tindakan ini tidak membahayakan, bahkan bermanfaat bagi manusia lain, karena tindakan manusia yang manusiawi selalu terkontrol oleh hatinya yang bersih dan lurus.

Berbeda dengan Ibnu Bajjah, WS. Rendra seorang penyair dan dramawan tersohor di Indonesia ini mengklasifikasikan tindakan dan pikiran manusia menjadi daya hidup dan daya mati. Perbedaan antara antara Ibnu Bajjah dan WS. Rendra sebenarnya hanya terletak pada titik tekan antara motif atau pendorong dan akibat dari tindakan manusia.

Daya hidup, menurut Rendra adalah daya atau kekuatan manusia untuk maju dan mengembangkan kemampuannya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Daya hidup manusia akan menjadi perenan penting dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitras hidupnya.

Perbedaan antara daya hidup Rendra dan tindakan manusiawi Ibnu Bajjah terletak pada starting dan stresing akhir tindakan tersebut. Tindakan manusiawi di dasarkan pada hati nurani, kemudian menghasilkan kebaikan bagi dirinya dan manusia lain, yang akibat pada titik hasil ini oleh Rendra diistilahkan dengan daya hidup manusia.

Selain daya hidup, Rendra juga membagi tindakan manusia dengan daya mati. Menurut Rendra daya mati adalah kekuatan manusia yang merusak dirinya maupun orang lain. Terlepas dari hasrat at6upun tidak, selama itu merusak dan menghancurkan adalah daya mati. Daya mati pada manusia pada dirinya sendiri dapat kita contohksn seperti malas, putus asa, hidup tidak teratur dan sebagainya. Sedangkan daya mati yang merugikan orang lain adalah mencuri, merampok, membuat onara, korupsi dan sebagainya.

Apabila kita telisik, sebenarnya daya mati Rendra erat kaitannya dengan tindakan hewani manusia Ibnu Bajjah. Keduanya sama-sama merusak dan merugikan. Karena pada dasarnya hasrat sebagai pendorong daya mati manusia. Dengan hasreat, tindakan manusia akan merusak segala-galanya. Demi keinginan hasratnya ia akan berbuat apa saja tanpa mempedulikan sesama.

Dalam upaya mencari klarifikasi apakah suatu tindakan bersifat hewani atau manusiawi, dapat kita tinjau dari sisi motif dan akibat dari tindakan tersebut. Kita tidak bisa mengklaim sesuatu hal ini baik dan ini jelek hanya dari satu sisi saja, yaitu hanya dari sisi motif ataupun hanya dari sisi akibat tindakan itu. Akan tetapi kita harus melihat dari dua sisi tindakan itu, yaitu dari segi motif dan akibat sebuah tindakan.

Suatu tindakan manusia yang merusak tidak bisa serta merta kita menyebutnya kejelekan. Kita harus meneliti dulu apakah motif dari tindakan tersebut. Apabila motif tindakan itu dari hati yang lurus, meskipun nantinya dapat merusak, hal ini tentu bukanlah daya mati ataupun tindakan hewani manusia. Karena bagaimanapun manusia adalah makhluk yang tak pernah luput dari kesalahan dan kelupaan. Bisa juga kesalahan terletak pada konsep otak sehingga tindakan itu dapat merusak.

Begitu juga dengan tindakan manusia yang berdasarkan hasrat atau nafsu, namun tindakan tersebut cenderung untuk menungkatkan dan melejitkan hidup manusia dan keindahan lingkungannya. Apakah tindakan tersebut dapat kita sebut dengan tindakan hewani atau daya mati manusia? Atau tindakan manusiami dan daya hidup manuasia? Hasratpun dapat dijadikan sebagai semangat dan pendorong seseorang untuk menuju lebih baik. Seperti halnya sesorang yang berhasrat dengan harta, ia akan bekerja keras. Dan seseorang yang berhasrat untuk mendapatkan ilmu, ia akan belajar dengan tekun. Disinilah kita dituntut untuk mensinergikan antara hasrat, hati dan pikiran.

Hasrat dan pikiran tanpa hati ia akan menjadi tindakan hewani manusia yang kemudian menjadi daya mati manusia. Dan hati tanpa hasrat ia hanya akan diam terbungkam. Hati dan hasrat tanpa pikiran juga akan mudah ditipu dan dilemahkan. Yang terbaik adalah hasrat dan pikiran yang digerakkan oleh hati. Inilah tindakan manusiawi sebagai daya hidup pada diri manusia.

Mengetahui suatu hal ini baik atau buruk sangat penting bagi manusia. Dengan mengetahui keduanya tersebut kita bisa membedakan dan memilih untuk melangkahkan kaki kita dalam kehidupan di dunia ini. Dan juga dalam menghakimi suatu hal, tak terlepas dari pemahamn keduanya. Ketika kita salah mengartikan kebaikan dan keburukan, kita akan terjebak dalam pengertian salah tersebut sehingga berakibat kelirunya tindakan yang kita ambil.

Dalam teori kognisi pada ilmu psikologi yang membahas hubungan pengamatan, pemahaman dari pengamatan serta tindakan dari persepsi hasil olah pemahaman tersebut, menjadikan penting sebuah informasi dari pengamatan seseorang yang nantinya akan diolah dalam otak sehingga menjadi konsep sebagai dasar dalam melakukan dan memutuskan sesuatu. Oleh sebab itu filsafat mencoba mendalami hasil pengamatan tersebut untuk menghasilkan konsep yang benar.

Penelitian Sastra Bandingan

Persamaan dan Perbedaan Unsur-Unsur Syi’ir Madh kepada Nabi Muhammad SAW karya al Busyairi dengan Syi’ir Madh kepada Raja Sholih karya Sofiudin al Hilli.


BAB I
PENDAHULUAN

I.    Latar Belakang Masalah
     Al Busyiri dengan nama asli Muhammad bin Said bin Hammad As Sanhaji dilahirkan di Desa Dallas dekat kota Bani Suwaif di Mesir pada tahun 608 H dan Shofiyudin al-Hilli dengan nama asli Abdullah Aziz bin Ali dilahirkan di kota Hallah (tepi Furat) pada tahun 677H, merupakan dua penyair besar pada zaman keruntuhan Abasiyah. Hal ini dibuktikan dengan karya besarnya qasidah Burdah karya al-Busyiri tentang pujiannya kepada Nabi besar Muhammad SAW yang hingga kini masih sering dilantunkan. Dan Shofiyidin al-Hilli dengan puisi-puisinya yang dianggap karangan terbaik sesudah al-Busyairi dan bahasa dalam syairnya sangat mudah sehingga banyak orang yang menjadikannya pantun. Dan juga karena kelihaiannya dalam menciptakan sya’ir madh kepada Raja Ibnu Kholawwun, beliau diangkat menjadi juru tulisnya. Shofiyudin al-Hilli juga dikenal sebagai orang pertama yang menciptakan syi’ir madh kepada Nabi Muhammad yang paling lengkap dari segi ilmu badi’ sehingga beliau dimasukkan sebagai imam ilmu badi’.

    Penelitian disini mencoba membandingkan unsur-unsur dua syi’ir madh karya dua penyair besar zaman keruntuhan. Meskipun dua syi’ir yang kami teliti berbeda tujuan  syi’ir tersebut diciptakan –karya al-Busyairi ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW dan karya Shofiudin al-hilli ditujukan kepada raja Sholeh ketika menghadapi serangan Mongol- tapi pada dasarnya tema kedua syi’ir tersebut sama, yaitu sebagai pujian kepada orang-orang mulia.

    Sastra bandingan adalah pendekatan dalam ilmu sastra yang tidak menghasilkan teori sendiri. Menurut Remak (1990 : 1), sastra bandingan adalah kajian sastra di luar sebuah negara dan kajian hubungan diantara sastra dengan bidang ilmu serta kepercayaan yang lain seperti seni (misalnya, seni lukis, seni ukir, seni bina dan seni musik), filsafat, sejarah dan sains sosial (misalnya politik ekonomi, sosiologi) sains, agama dan lain-lain. Sedangkan menurut Nada (1999:9), sastra bandingan adalah suatu studi atau kajian sastra suatu bangsa yang mempunyai kaitan kesejarahan dengan sastra bangsa lain, bagaimana terjalin proses saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya, apa yang telah diambil suatu sastra dan apa pula yang telah disumbangkannya.


    Kedua syi’ir tersebut akan kami teliti dengan metode sastra bandingan yaitu membandingkan unsur-unsur syi’ir (Burdah) madh kepada Nabi Muhammad SAW karya al Busyairi dengan syi’ir madh kepada raja Sholih karya Sofiudin al Hilli, sehingga akan tampak bagaimana perbedaan serta persamaan rasa, gagasan, imajinasi, dan bentuk bahasa kedua pengarang dalam penggambaran orang-orang yang dikaguminya.

    Penelitian di sini diharapkan mampu memberikan pengetahuan kita tentang bagaimana seorang penyair mengemas rasa, pikiran gagasan, dan bahasa sehingga menjadi sebuah karya yang ditujukan orang-orang yang dikaguminya, selain untuk menambah lebih banyak pengetahuan kita tentang syi’ir-syi’ir masa keruntuhan Daulah Abasiyah. Karena bagaimanapun, pada masa itu berlangsung carut marut peperangan antara daulah Abasyiah mengahadapi orang-orang mongol yang dipimpin oleh Jengis Khan, yang akhirnya kemenangan diraih bangsa Mongol.

II.    Rumusan Masalah
1. Bagaimana unsur-unsur syi’ir (Burdah) madh kepada Nabi Muhammad SAW karya al Busyairi?
2. Bagaimana unsur-unsur syi’ir madh kepada raja Sholih karya Sofiudin al Hilli?
3. Apa persamaan dan berbedaan unsur-unsur syi’ir madh kepada Nabi Muhammad SAW karya al Busyairi dengan syi’ir madh kepada raja Sholih karya Sofiudin al Hilli?

III.    Tujuan Masalah Penelitian
1. Mengetahui unsur-unsur syi’ir madh kepada Nabi Muhammad SAW karya al Busyairi.
2. Mengetahui unsur-unsur pada syi’ir madh kepada raja Sholih karya Sofiudin al Hilli.
3. Mengetahui persamaan dan berbedaan unsur-unsur syi’ir madh kepada Nabi Muhammad SAW karya al Busyairi dengan syi’ir madh kepada raja Sholih karya Sofiudin al Hilli.

IV.    Manfaat Penelitian
Dengan penelitian ini diharapkan mampu mengetahui kedalaman dalam memahami karya sastra. Begitu juga sebagai pelatihan penelitian yang dapat memperluas wawasan penulis maupun pembaca dalam hal kesusastraan.

V.    Metodologi Penelitian
1.    Obyek penelitian
Obyek yang digunakan pada penelitian sastra ini adalah syi’ir madh kepada Nabi Muhammad SAW karya al Busyairi dengan syi’ir madh kepada raja Sholih karya Sofiudin al Hilli.

2.    Metode pengumpulan data.
Untuk pengumpulan data peneliti menggunakan data-data dalam kedua syi’ir tersebut yang berhubungan dan diperlukan sebagai data-data penelitian.

3.    Metode penelitian
Penelitian perbandingan ini menggunakan penelitian perpustakaan (library research) yaitu penelitian yang dilakukan di kamar kerja peneliti atau di ruang perepustakaan dimana peneliti memperoleh data dan inforamasi tentang obyek penelitiannya lewat buku-buku atau alat-alat audio visual lainya. Adapun metode kerja pada penelitian ini menggunakan  metode komparatif deskriptif yaitu membandingkan dengan menjabarkan unsur-unsurnya.


Langkah-langkah yang kami tempuh dalam penelitian ini adalah menganalisa unsur-unsur per-syi’ir meliputi 1.) Rasa (athifah), 2) imajinasi (al-Khoyal), 3) gagasan (al-fikroh), 4) Bentuk (Shurah)., setelah unsur-unsur keduanya diketahui, kita akan membandingkan dan mencari perbedaan serta kesamaan unsur-unsur kedua syi’ir tersebut.




BAB II
LANDASAN TEORI

A.    Unsur-Unsur Karya Sastra
Dalam kajian sastra Arab disebutkan bahwa sebuah ungkapan dapat dikategorikan sebagai karya sastra, baik genre syair maupun genre prosa, apabila memenuhi empat unsur, yaitu 1.) Rasa (athifah), 2) imajinasi (al-Khoyal), 3) gagasan (al-fikroh), 4) Bentuk (Shurah). Ada yang menyebut al-fikrah dengan istilah tema (al-ma’na) dan surah dengan gaya bahasa (al-uslub).

1.    Rasa (athifah)
Ada dua istilah yang oleh para satrawan sering kali disamakan dengan rasa, yaitu feeling ad emosi. Feeling adalah sikap sang penyair terhadap pokok permasalahan atau objeknya (Henry Guntur Tarigan;1993:11). Sedangkan emosi adalah keadaan bathin yang kuat, yang memperlihatkan kegembiraan, kesedihan, keharuan, atau keberanian yang bersifat subyektif (Syamsir Arifin: 1991; 40). Menurut A.Syayib pengertian emosi inilah yang memiliki kesamaan dengan pengertian rasa sastra.

2.    imajinasi (al-Khoyal)
Imajinasi adalah kemampuan menciptakan citra dalam angan-angan atau pikran tentang sesuatu yang tidak diserap oleh panca indra atau yang belum pernah dialami dalam kenyataan (Panuti Sudjiman; 1990: 36). Dalam karya satra imajinasi merupakan unsur yang sangat penting. Ia dapatr membantu sastrawan merekam peristiwa yang telah berlalu dan yang akan datang. Andaikata tidak ada imajinasi, niscaya kehidupan manusia menjadi miskin (M. Abd Al-Mun’im Khafaji: 1995; 52). Imajinasi tidaklah sama dengan realitas sesungguhnya, walaupun ia tetap berpangkal pada kenyataan dan pengalaman. Oleh karena itu, sastra tidak terikat oleh kenyataan, kebenaran dan kedustaan. Maksudnya, bukan berarti sastra tidak dapat merealisasikan kenyataan, karena hal itu memang bukan tujuan sastra. Jadi, sastra merupakan perasaan yang tidak mengungkapkan kenyataan, kebatilan, kebenaran, dan kedustaan. Inilah yang membedakan karya sastra dengan ilmu pengetahuan lainnya (Syauqi Dhaif: t.t:11).

3.    Gagasan (Fikrah)
Pada umumnya, gagasan dalam karya sastra banyak dipengaruhi faktor-faktor yang ada di luar, misalnya keadaan sosial, perkembangan politik, budaya, dan juga diwarnai oleh faktor Psikologi pengarang. Dengan demikian, terdapat hubungan timbal balik antara peristiwa sejarah dengan gagasan yang dituangkan. Yang dimaksud dengan hubiungan timbal balik di sini adalah sastrawan yang mengangkat kehidupan sosial masyarakat sebagai bahan penciptaan, dan karya sastra yang diciptakan mampu menggambarkan kembali kehidupan sosial masyarakat kepada masyarakat pembaca, serta memberikan sikap atau penilaian terhadapnya (Aminudin; 2000: 197).

4.    Bentuk (shurah)
Ahmad As-Syayib mendefinisikan bentuk merupakan sarana utama bagi seorang sastrawan untuk mengungkapkan pikiran dan imajinasinya kepada pembaca dan pendengar sastra. Yang dimaksud sarana dalam definisi ini adalah struktur fisik sastra yang tergambar dalam bentuk bahasa. Sedangkan pkiran dan makna merupakan struktur batin. Pikiran, makna, dan pesan yang terkandung dalam karya sastra merupakan tujuan, sedangkan perasaan yang tergambar dalam imajinasi merupakan sarana untuk membangkitkan keindahan dan kekuatan pikiran.

Dalam bentuk karya khususnya Syi’ir Arab, yang perlu diteliti adalah perumpamaan (Tasybih) pemilihan kata (Diksi), Bahr atau nada syi’ir yang digunakan, dan juga huruf qawafi pada akhir bait.



BAB III
ANALISA

وقال البشيري في البردة يمدحه النبي محمد صلى الله عليه وسلم:

محمد سيد الكونين والثقلين           والفريقين من عرب ومن عجم
فهو الذي تم معناه وصورته          ثم اصطفاه حبيبا بارئ النسـم
منزه عن شريك في محاسنه         وجوهر الحسن فيه غير منقسم
اعيا الورى فهم معنا فليس يرى     للقرب والبعد منه غير منفحم
كالشمس نظهر للعينين من بعد      صغيرة وتكل الطرف من امـم
وكيف يدرك في الدنيا حقيقته        قوم نيام تسلوا عنه بالحلـم
فمبلغ العلم فيه انه بشــر              وانه خير خلـق الله كلهـم

Artinya:
Nabi Muhammad adalah pengguhulu dua alam (Dunia dan akhirat)
Penghulu jin dan manusia, penghulu dua jenis bangsa (arab dan ajam)

Nabi Muhammad telah sempurna makna serta rupanya
Kemudian Tuhan pencipta makhuk  memilihnya menjadi kekasihNya

Tidak seorangpun dapat menyamainya dalam keindahan dan kebaikannya
Permata indah itu hanya pada dirinya dan tidak terbagi pada yang lainnya

Tidak suatu makhlukpun yang mengerti akan hakikat Nabi Muhammad
Namun, (karena besarnya kecintaan beliau kepada kami) sehingga setiap orang yang jauh maupun dekat mengagumi beliau.

Seperti matahari yang kelihatannya kecil dari jauh oleh dua mata
Tapi tidak ada mata yang tidak silau memandanginya

Bagaimana akan mengerti hakikat beliau di dunia ini
Bagi orang-orang yang menikmati tidur tenggelam dalam mimpi

Memang dari sudut pandang lahir, beliau adalah seorang manusia
Tapi dari sudut makna, beliau adalah makhluk pilihan.



قال صفي الدين الحلي من قصيدة نحرض فيها السلطان الصالح على الإحتراز من 
المغول ، ويمدحه :

    لا يمتطي المجد من لم يركب الخطرا        ولا ينال العلا مـن قـدم الحـذرا
ومن أراد العلا عفوا بـلا تعـب               قضى ولم يقض من إدراكها وطـرا
لا بد للشهد مـن نحـل يمنعـه                 لا يجـني النفع من لم يحمل الضررا
وأحزم الناس من لو مات من ظمأ           لا يقرب الورد حتى يعرف الصدرا
وأعزر الناس عقـلا من إذا نظرت          عيناه أمرا، غـدا بالغير معتبـرا
فقد يقال عثار الرجل ان عـثرت             ولا يقال عثــار الرأي إن عثرا
ولا ينال  العلا إلا فني شرفـت               خلاله فأطاع الدهـر ماأمـرا
كالصالح  الملك  المرهوب  سطوته          فلو توعد قلب الدرلا نفـطـرا
كالبحر والدهر في يومي ندى وردى         والليث والغيث في يومي وغى وقرى
لاموه في بذله الأموال قلت لهــم             هل تقدر السحب ألا ترسل المطرا

Artinya:
Seseorang tidak akan mendapat keagungan tanpa mengarungi mara bahaya
Dan seseorang tak akan mendapatkan kemuliaan jika mengedepankan ketakutan

Orang yang mengharapkan kemuliaan tidak akan pernah mendapatinya tanpa kelelahan
Dan tidak akan pernah memperoleh harapannya tanpa berusaha

Orang-orang akan selalu mengikat dirinya dengan rindu meskipun mati memisahkannya
Mereka tidak akan bisa mendekati para pasukan tanpa mengetahui pemimpinnya

Orang-orang akan memuliakan akal jika mereka melihat persoalan
Dan esok akan menjadi ternama dari sesamanya

Seseorang akan dikatakan hina apabila ia berbuat hina
Namun tidak akan dikatakan hina apabila hina dalam berpendapat

Seseorang tidak mendapatkan kehormatan tanpa memperoleh kebaikan
Maka tunduk dengan masa apa yang dipimpinnya

Sebagaimana raja Sholeh yang ditakuti kebesarannya
Jika hati beliau sudah berjanji, maka tak akan mengingkarinya

Laksana sungai besar dan waktu yang menyapa dan pergi dalam hariku
Dan tumbuhan yang rimbun serta hujan yang gaduh dan menggenang

Besarnya dalam mendermakan hartanya hingga dikatakan oleh mereka
Tidakkah ditakdirkan awan kecuali untuk mengirimkan hujan

Dari segi athifah atau rasa, secara ringkas kedua syi’ir tersebut kami uraikan sebagai berikut:

Syi’ir Madh Al-Busyairi:     
Rasa ditekankan pada kekaguman sang penyair pada jiwa dan raga Nabi Muhammad SAW, bahwa beliau adalah makhluk pilihan Allah SWT. Karena ini merupakan syi’ir madh, maka rasa sastra yang terungkap adalah kekaguman yang dituliskan lewat pujian-pujian.   

Syi’ir Madh Sofiudin Al-Hilli:
Rasa ditekankan pada kekaguman sang penyair pada ketegaran Raja Sholeh dalam segala urusan. Terutama penyair terkagum-kagum dengan ketepatan beliau dalam mendermakan hartanya. Rasa sastra kekaguman, akan menjadi modal untuk pengarang sebagai bahan syi’ir-syi’ir madh.    

Dari segi khayal atau imajinasi, secara ringkas kedua syi’ir tersebut kami uraikan sebagai berikut:

Syi’ir Madh Al-Busyairi:         
Unsur imajinasi syi’ir tersebut dapat kita ketahui melalui perumpamaan-perumpamaan yang digunakan yaitu berkisar tentang fenomena alam. Lebih jelasnya akan dijelaskan dalam penguraian tentang tata bahasa.
 
Syi’ir Madh Sofiudin Al-Hilli:
Unsur imajinasi syi’ir tersebut dapat kita ketahui melalui perumpamaan-perumpamaan yang digunakan yaitu berkisar tentang fenomena alam. Lebih jelasnya akan dijelaskan dalam penguraian tentang tata bahasa.    

Dari segi fikrah  atau gagasan, secara ringkas kedua syi’ir tersebut kita uraikan sebagai berikut:

Syi’ir Madh Al-Busyairi:       
Syair bertemakan tentang pujian kepada Nabi Besar Muhammad SAW, gagasan pada syair tersebut mengungkapkan keagungan akhlak Nabi Muhammad SAW dan kebesaran beliau sebagai seorang pemimpin dua jenis makhluk, manusia dan jin. Seperti tercermin bada bait:
Nabi Muhammad adalah pengguhulu dua alam (Dunia dan akhirat)
Penghulu jin dan manusia, penghulu dua jenis bangsa (Arab dan non Arab)
Sebagaimana kita ketahui bahwa Nabi Muhammad SAW memang ada untuk seluruh umat, tidak hanya orang Islam dan Arab saja, tapi seluruh manusia, dan juga jin.   

Syi’ir Madh Sofiudin Al-Hilli: 
Syair bertemakan tentang pujian kepada Raja Sholih, gagasan pada syair tersebut mengungkapkan tentang ketegaran beliau dalam memimpin dan kedermawanannya dalam mendermakan hartanya. Seperti tercermin pada bait:
Sebagaimana raja Sholeh yang ditakuti kebesarannya
Seorang raja, pastilah memiliki kharisma dan kekuatan yang besar, karena ia memimpin rakyatnya dan bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada rakyatnya.
    

Dari segi shurah atau bentuk, secara ringkas kedua syi’ir tersebut kami uraikan sebagai berikut:

Syi’ir Madh Al-Busyairi: 
1. tasybih (perumpamaan) beserta pemilihan kata:
Dalam syi’ir al-Busyairi di atas terdapat satu tasybih yang memuji keagungan Nabi besar Muhammad SAW. Adapun rincian tasybih sebagai berikut:

اعيا الورى فهم معنا فليس يرى   للقرب والبعد منه غير منفحم
       كالشمس نظهر للعينين من بعد    صغيرة وتكل الطرف من امـم


اعيا الورى فهم معنا فليس يرى للقرب والبعد منه غير منفحم = مشبه
الشمس نظهر للعينين من بعد صغيرة وتكل الطرف من امـم = مشبه به
كـ = أدة التشبه

Tasybih di atas disebut juga tasbih tamtsil yaitu tasybih dengan musyabah bih-nya terdiri dari jumlah. Dalam mengibaratkan keagungan baginda Nabi Muhammad SAW, al-Busyiri menggunakan matahari sebagai bandingannya. Matahari, selalu terang benerang. Kalau kita lihat tampak kecil, namun sinarnya membuat mata kita tak mampu menatap lama-lama. Dan dimanapun manusia berada pasti dapat melihat sinar matahari yang terang tersebut. Matahari juga sebagai sumber kehidupan di dunia. Tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia akan mati tanpa matahari.

Kurang lebih begitulah yang diinginkan al-Busyairi dalam tasybih madh-nya. Nabi Muhammad sebagai manusia termulia dan semua orang mengaguminya, di dekat maupun di jauh dari beliau. Nabi Muhammad rasul, penutup para Nabi tidak hanya mempunyai tanggung jawab terhadap umat Islam saja, tapi kepada seluruh umat manusia.

2. Arud dan qowafi
Menggunakan Bahr Basyith, yaitu mengikuti wazan
مستفعلن فاعلن مستفعلن فاعلن
Sedangkan huruf qafiahnya menggunakan Arrawi yaitu haruf yang diciptakan pada akhir syi’ir dan dinisbatkan kepadanya. Karena menggunakan huruf mim, disebut juga dengan Arrawi mimiyah.   

Syi’ir Madh Sofiudin Al-Hilli:

    1. tasybih (perumpamaan) beserta pemilihan kata:
Pada syi’ir di atas terdapat dua tasybih yang digunakan Shofiudin al-Hilli untuk memuji raja Sholeh. Ketiga tasybih tersebut akan kami uraikan sebagai berikut:
   
كالصالح  الملك  المرهوب  سطوته     فلو توعد قلب الدرلا نفـطـرا
كالبحر والدهر في يومي ندى وردى    والليث والغيث في يومي وغى وقرى

الصالح الملك المرهوب سطوته = مشبه
البحر والدهر في يومي ندى وردى والليث والغيث في يومي وغى وقرى = مشبه به
كـ = أدة التشبيه
فلو توعد قلب الدرلا نفـطـرا = وجه الشبه
Tasybih di atas disebut juga dengan tasybih tamtsil yaitu apabila musyabbah bih terdiri dari jumlah. Adapun karakter tasybih di sini menggunakan fenomena alam dalam mengumpamakan keagungan raja Sholeh. Kata-kata sungai, waktu, rimbunan pohon-pohon, dan hujan menjadikan seolah-olah raja Sholeh memberi kesejahteraan bagi rakyatnya, sebagaimana sungai, rimbunan pohon, serta hujan yang menumbuhkan biji-bijian kemudian berbuah dan dinikmati manusia.

هل تقدر السحب ألا ترسل المطرا     لاموه في بذله الأموال قلت لهــم


ضمر "ه" في لاموه تقدره الصالح = مشبه
تقدر السحب ألا ترسل المطرا = مشبه به
في بذل الأموال = وجه الشبه

Tasybih di atas juga disebut tasybih tamtsil­ karena musyabbah bih terdiri dari jumlah. Karakter tasybih di atas juga menggunakan fenomena alam untuk mengibaratkan besarnya harta raja Sholeh yang didermakan untuk kesejahterakan rakyatnya. Kata awan yang mengirimkan hujan telah mewakili kedermawanan raja Sholeh yang selalu mendermakan hartanya      

2. Arud dan qowafi
Menggunakan Bahr Basyith, yaitu mengikuti wazan
مستفعلن فاعلن مستفعلن فاعلن
Sedangkan dari segi huruf qafiahnya menggunakan ­al-Washlu, yaitu mad atau ha’ kasroh yang memanjangkan arrawi.    



BAB IV
KESIMPULAN

1.    Unsur-Unsur syi’ir madh dalam qosidah burdah karya al-Busyairi, sebagai berikut:
dari segi 1.) Rasa (athifah) ditekankan pada kekaguman sang penyair pada jiwa dan raga Nabi Muhammad SAW.  2) imajinasi (al-Khoyal), syi’ir tersebut dapat kita ketahui melalui perumpamaan-perumpamaan yang digunakan yaitu berkisar tentang fenomena alam. 3) gagasan (al-fikroh), gagasan pada syair tersebut mengungkapkan keagungan akhlak Nabi Muhammad SAW dan kebesaran beliau sebagai seorang pemimpin dua jenis makhluk, manusia dan jin. 4) Bentuk (Shurah), terdapat satu tasbih, yaitu tasybih tamsil. Huruf qowafinya arrawi mimiyah, menggunakan bahr basith.

2.    Unsur-unsur syi’ir madh kepada Raja Sholeh karya Shofiudin al-Hilli, sebagai berikut:
dari segi 1.) Rasa (athifah), Rasa ditekankan pada kekaguman sang penyair pada ketegaran Raja Sholeh dalam segala urusan. Terutama penyair terkagum-kagum dengan ketepatan beliau dalam mendermakan hartanya. 2) imajinasi (al-Khoyal), Unsur imajinasi syi’ir tersebut dapat kita ketahui melalui perumpamaan-perumpamaan yang digunakan yaitu berkisar tentang fenomena alam. 3) gagasan (al-fikroh), gagasan pada syair tersebut mengungkapkan tentang ketegaran beliau dalam memimpin dan kedermawanannya dalam mendermakan hartanya 4) Bentuk (Shurah), terdapat dua tasybih yang keduanya merupakan tasbih tamsil, huruf qawafinya Al-waslu, menggunakan bahr basith.

3.    Persamaan dan berbedaan unsur-unsur kedua syi’ir sebagai berikut:

F    Persamaan Unsur-unsur keduanya adalah sama-sama menggunakan fenomena alam dalam hal berimajinasi, yaitu untuk mengungkapkan keagungan. Menggunakan alam yang berperan sebagai sumber kehidupan di dunia. Bahr yang digunakan juga sama, menggunakan bahr basith.

F    Adapun perbedaannya adalah pada fikrah atau gagasan al-Busyiri kepada Nabi Muhammad dengan rasa lebih kuat yaitu dengan menggunakan ibarat matahari sebagai ibarat kebesaran Nabi Muhammad, yang mana matahari lingkup jangkauan sinarnya lebih luas dan lebih banyak orang yang menerimanya. Sedangkan Shofiudin al-Hilli gagasan tertumpu pada pujian pada Raja Sholih dengan megibaratkan ketegaran Raja Sholih saat berjanji dengan rasa menggunakan sungai dan waktu yang selalu mengalir tanpa ragu sebagai pengibaratan ketegaran beliau, juga dalam kedermawanannya diibaratkan dengan awan yang selalu mengucurkan hujan. Sederas aliran sungai, sederas hujan namun yang merasakan hanya sekitar itu saja, dalam artian lingkup sekitar aliran sungai maupun hujan itu. Lain dengan matahari yang sinarnya menembus segala celah selama ia tidak terhalangi sesuatu, dalam hal ini sara syi’ir (burdah) madh pada Nabi Muhammad SAW karya al-Busyairi lebih kuat dari pada sara syi’ir madh pada raja Sholih karya Shofiudin al-Hilli. Perbedaan juga tampak pada penggunaan huruf qawafi antara keduanya.



Daftar Pustaka

Akhmad Kholasi, Taysir Balaghah (Madinah; Thob’ah tsaniyah mazidah wamunhaqomah; 1995)

Akhmad Muzzaki, Kesusastraan arab, pengantar teori dan terapan (Jogjakarta; Ar-Ruzz Media jogjakarta, 2006)

Sapardi Djoko Darmono, Pegangan Penelitian Sastra Bandingan. (Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Pusat Bahasa, 2005)



Ponpes Ploso Kediri, al-arudh wal Qowafi (Kediri; Penerbin Ponpes Ploso, tanpa tahun)


Yunus ali al Mudar dan Bey Arifin, Sejarah Kesusastraan Arab (Surabaya: pt. Bina Ilmu, 1983)

Mencari Teman

Toga-toga kami lempar ke atas. Berputar-putar melayang di angkasa. Kami teriakkan bersama, ”Horeee...”. Usai sudah empat tahun kami jejaki sudut-sudut kampus ini. Mulai terbit pagi hingga petang datang. Mulai diskusi, kencan, dan demo berhari-hari. Semua bahagia.

”Bit, kapan mudik?”. seorang teman menggepak pundakku. Aku tersentak.

”Oh, aku, mungkin beberapa hari lagi”.

”Mengapa tergesa pulang? Mau ngapain di rumah?“.

”Yah, sambil menunggu rencana, aku pulang saja“. Aku berpura-pura. Sebenarnya rencana besar sudah mendarah daging di tubuhku.

”Trus, bagaimana denganmu?“.

”Aku mau bergabung di restoran bulekku. Kebetulan di sini bulek punya tiga restoran. Nah, salah satunya aku pegang nanti. Sarjana sastra kan bisa ngapain aja. Jadi sastrawan, kritikusnya, konglomerat, sampai tukang parkir, sah-sah saja. Hahaha....”. kita tertawa riang.

Percakapan siang itu masih terbayang dalam benakku. Bagaimana seorang itu setelah dewasa mencari jalan hidupnya. Seperti ada kanal-kanal lajur kehidupan yang memang tak dapat kita memilih lagi. Dan Ririn, kemarin ia sudah didampingi calon suaminya, habis kuliah langsung nikah. Mungkin itulah yang sering digunjing orang-orang tua, ”Buat apa anak putri kuliah, paling-paling setelah kuliah juga nikah, ngurus keluarga! Habis sudah.”, sehingga sepanjang sejarah tak pernah ada gadis desaku yang kuliah.

Aku sendiri memahami, kampungku membutuhkan sarjana seperti aku ini. Kampungku memang kampungan. Kualitas dan kuantitasnya sungguh terbelakang. Coba bayangkan, sepanjang sejarah, hanya aku yang sampai di ruang perkuliahan. Itupun karena beasiswa orang tidak mampu, bukan biaya sendiri. Anak-anak gadis paling tinggi lulus SMP, setelah itu dikawinkan.  Dan juga anak laki-laki sampai SMA, itupun setelah tamat kembali ke sawah atau mengembangbiakkan ternak. Hanya di situlah ujung-ujung mimpi mereka.

Aku sekarang ini bisa, bagaimana mengelola pemuda dengan potensi besar mereka. Pemuda. Ya, pemuda. Teman-teman seusiaku dan pemuda-pemuda kampungku akan kugerakkan mereka. Akan aku bakar semangat mereka. Akan aku tularkan semua yang kudapat selama kuliah. Beberapa buku yang mudah dibaca sudah aku siapkan dengan menyisihkan sebagian uang saku. Tentang tata desa, motifasi, pengembangan diri, dan ketrampilan home indurstri lainnya. Aku tinggal mengumpulkan teman-temanku dengan membentuk kelompok kreatif.

Aku tak habis membayangkan, betapa gembiranya mereka nanti. Aku akan membawa angin sejuk dunia intelektual untuk perubahan mereka, perubahan kampung kami. Terlebih lagi Hadi, Rukani, Romadhon dan Robi'an yang dulu semangatnya terpangkas kemelaratannya, pasti akan bisa tumbuh kembali. Selain itu ada juga bapak Bimo, guru sejarah yang dulu selalu membangkitkan semangat kami untuk belajar dan terus belajar. Bisa saja nanti pak Bimo sebagai pembimbing kita.

Rem kereta berderit-derit. Kereta berhenti. Peluit petugas stasiun melengking ke setiap celah cendela kereta. Hanya lima orang terhuyung-huyung menuruni kereta itu. Salah satunya aku.

Suasana begitu sepi, tidak seperti hingar bingar kota. Di sana ada dua petugas kereta dan satu tukang ojek yang sedang mangkal dengan joki yang terkantuk-kantuk. Akupun segera tawar menawar harga dengannya.

Perkampungan sudah terlihat. Tak banyak berubah. Rumah-rumah sama seperti empat tahun yang lalu. Tetap bergedong anyaman bambu. Dinding-dinding reyot tetap berdiri condong. Hanya beberapa rumah yang terlihat ditembok. Saat melewati jalan satu-satunya kampung ini, semua orang melihatku. Melambaikan tangan. Anak-anak yang dulu masih menetek, hanya bengong terheran-heran mengapa bapak ibunya melambaikan tangannnya kepada orang asing, pikirnya.

“Sabit! Sabit pulang!” beberapa orang berteriak dan beberapa lagi melambaikan tangannya sebagai sambutan sederhana.

Aku tengok kanan kiri, tak satupun kulihat batang hidung teman-teman. Yang kujumpai hanya anak-anak kecil bermain di halaman rumah dan orang-orang lanjut usia memamah daun suruh di lincak teras rumah. Aku heran.

Sampai di rumah, aku disambut tangis kedua orang tuaku dan kedua adikku yang terlalu dini mengerti tangisan mereka. Aku keluarkan dua mainan untuk adik tersayangku itu. Senang sekali.

Setelah beberapa menit, setelah haru biru pertemuanku dengan keluarga, aku bergegas keluar untuk menemui teman-teman dan segera menjelaskan rencana-rencana yang akan kami lakukan. Rumah teman-teman tidak jauh, karena kampungku hanya sepanjang 600M jalan membentang menghubungakan antara petak sawah dengan petak sawah lainnya.

“Pak, Robi’an dimana?”

“Oh, nak Sabit sudah pulang! Robi’an setahun yang lalu ke Malaysia”.

“Ke Malaysia? Kerja apa pak? Dengan siapa?”.

“Saya juga kurang tau pasti. Kata orang-orang bekerja di proyek bangunan” Bapak Robi’an berkata dengan ragu. “Ia bersama Nak Romadhon”.

“Bersama Romadhon?”

“Ya”

Aku cemas. Aku langsung berlari menuju rumah Hadi. Tak ada orang sama sekali. Hanya kedua adiknya bermain Dakon di pelataran rumah.

“Adik, mas Hadinya lagi ke sawah?”

Kedua bocah itu bengong sebentar. Bertanya-tanya siapa yang dihadapinya.

“Saya Sabit, teman mas Hadi”

“Mas Hadi bekerja di Surabaya” Salah satu dari mereka menjawab dengan sorot kejujuran.

Aku segera berlari ke rumah Rukani. Namun, sebelum sampai di rumahnya, aku bertemu dengan Rurun, teman sekelasku juga. Ia menggendong seorang bayi, dan menenteng anak kecil di tangan kanannya.

“Sabit! Baru datang?”

“Ya. Ini semua anakkmu, Run? Oh ya, temen-temen kita pada kemana?”. Aku menjawab sekaligus bertanya penuh penasaran.

“Iya Bit, ini anakku. Teman-teman kita banyak yang melancong ke kota. Bahkan ke luar negeri seperti si Robi’an dan Romadhon. Juga adik-adik kelas kita sudah banyak yang meninggalkan kampung ini”.

Aku semakin cemas. Hatiku berdetak-detak.

“Trus, siapa yang masih di sini?”

“Hanya aku, Ulfa dan Rukmini. Kita sudah punya momongan semua. Endang dan Safitri bekerja menjadi pembantu rumah tangga di Surabaya”

“Terimakasih ya, aku ke rumah pak Bimo dulu” Aku cepat berlari. Kakiku bergetar. Hatiku tertumbuk-tumbuk.

Aku lihat rumah pak Bimo masih seperti dulu. Cuma agak kusam. Pintunya setengah terbuka. Lincak panjang yang sering kita pakai bermain masih berdiri tegak di teras sebelah kanan. Kusam. Pasti sudah tidak digunakan duduk-duduk lagi.

“Assalamu’alaikum!” Tak ada yang menjawab. Aku langsung masuk saja. Karena saat sekolah dulu rumah ini seperti rumahku dan juga rumah teman-teman.

Sepi sekali. Sarang laba-laba tumbuh dimana-mana. Sempat mengira rumah ini tak berpenghuni lagi. Ketika aku akan berbalik, aku lihat pak Bimo berbaring di atas ranjang bambu sebelah ruang tamu. Beliau hanya menggerak-gerakkan tangannya. Aku mendekat. Pak Bimo terlihat pucat. Tatapan matanya lurus ke depan, sayu. Aku jabat tangannya. Lemah tak bertenaga. Hangat tangannya masih seperti dulu-dulu. Air mata mengucur di kedua pipi beliau. Sepertinya beliau akan bangun dan berucap sesuatu kepadaku. Perut yang berbelit kaus tipis itu memompa udara begitu berat. Air mataku pun meleleh menyaksikan sisa-sisa semangat pak Bimo. Aku tak tahan. Aku segera berlari keluar. Menghirup pekak udara panas berlari menuju gubuk di tengah sawah yang biasa kita jadikan tempat mangkal bolos sekolah beberapa tahun lalu. Air mataku tetap mengucur, dan semakin deras. Aku percepat lariku, seperti mengejar teman-teman waktu sekolah dulu. Aku terantuk batu, berguling-guling di tanah kering. Aku berteriak panjang, “Teman-temaaaaaaaan…..”.

Suamiku, Suami Guruku

Aku bahagia sekali. Dua bulan yang lalu aku menikah. Bukan dengan teman atau kakak kelasku, tapi dengan suami guruku. Hebat bukan.

Sore itu, saat aku menyapu daun-daun kering yang rutuh dari pohon Mahoni di depan rumahku, sebuah mobil Mercy masuk ke halaman rumahku. Aku sedikit terheran. Baru kali ini batik roda mobil mewah mengukir halaman rumaku yang masih berupa tanah ini. Siapa gerangan! Aku bertanya dalam hati.

“Assalamu’alaikum!” seorang tua berkopyah, tinggi besar keluar dari mobil itu.

“Wa’alaikum salam”. Ayahku menyahutnya dari dalam rumah dengan berjalan menuju ke teras rumah.

Mereka bersalaman. Sepertinya sudah lama akrab. Kemudian seorang ibu-ibu keluar dari mobil. Oh, aku seperti sudah kenal. Ya, itu bu Isti’adah guru agama di sekolah. Aku meninggalkan sapu lidi itu dan bergegas menyalami bu Isti’adah dan mencium tangannya seperti di sekolah. Dan yang salaman dengan bapakku, Kyai Abdul, istri bu Isti’adah. Mereka pun masuk, dan aku melanjutkan pekerjaanku.
***

Malam harinya, aku dipanggil bapak. Bapak duduk di kursi ruang tamu dengan kopinya dan ibu di kursi depannya. Sedangkan aku sendiri duduk di kursi samping bapak dan ibu, di batasi dengan sebuah meja yang membujur di tengah-tengah kami.

“Ulfa!”.

“Ya, pak”.

 “Tadi, kamu sudah tau sendiri Kyai Abdul datang kemari”.

“Ya, pak”.

“Beliau menginginkan kamu”.

“Maksudnya, apa pak?”

“Beliau ingin kamu menjadi istrinya”. Aku kaget. Bingung.

“Tapi itupun juga terserah kamu, nduk”. Ibuku menyambungnya.

Aku kaget. Binggung. Harus bagaimana menjawabnya. Aku hanya diam. Suasana pun hening beberapa detik.

“Menikah itu enak, nduk. Apalagi dengan kyai Abdul. Ia seorang Kyai besar di kampung ini. Juga terhormat”.

Aku masih diam. Aku pandangi langit-langit rumah yang penuh sarang laba-laba. Apa maksudnya kata-kata ibuku tadi.

“Apalagi dengan Kyai Abdul, kalau kamu kesulitan tentang pelajaran sekolah atau mengerjakan tugas rumah dari sekolah tingal tanya sama beliau. Beliau kan pintar”.

Memang benar, kyai Abdul itu orang yang pintar. Dan selama ini kalau aku kesulitan mengerjakan tugas sekolah pasti bapak ibuku tidak bisa membantu Dan aku harus ke rumah temanku yang cukup jauh dari rumah untuk bertanya.

“Dan juga, kalau kamu pengen beli-beli buku tinggal minta tinggal ke suami. Kan suami yang menanggung semua kebutuhan istri”. Ibu meneruskan.

Memang, kalau aku ingin membeli buku-buku sekolah aku harus menunggu sampai bapak punya cukup uang. Tak jarang, satu sampai dua minggu. Apalagi saat awal tahun ajaran sekolah sekarang ini, pasti lebih banyak harus beli buku.

“Menjadi istri itu bagaimana sih, bu?”.

“Menjadi istri itu ya seperti ibumu itu. Menyapu, memasak, dan belanja ke pasar. Bukankah kamu senang sekali kalau disuruh memasak! Apalagi belanja ke pasar!”.

Aku mengangguk-angguk. Aku lihat ibu, ia tersenyum mendengar jawaban ayahku tadi.

“Tapi aku kan masih sekolah. Bagaimana memasak untuk sarapan pagi? Aku tidak mau berhenti sekolah”.

“Haha… Ulfa, Ulfa. Ya jelas enggak. Kamu jelas tetep sekolah. Sarapan kan bisa dibeli!”. Ayah melegakan kecemasanku.

“Tadi lho, nduk, Kyai Abdul bilang kalau kamu sudah mampu nanti akan dijadikan direkrut perusahaannya itu”.

“Direktur!” ayah memotong kata-kata ibu.

“Ya, pokoknya pemimpin perusahaannya itu. Itu kan membuktikan kalau Kyai Abdul akan menyekolahkanmu sampai tinggi, biar pinter dan nantinya memimpin pabriknya”.

Memang, Kyai Abdul punya pabrik olah tembaga untuk kaligrafi hiasan dinding. Pabrik itu besar sekali. Memimpin pabrik! Bagaimana, ya! Ah, yang penting aku akan sekolah sampai tinggi.

“Oh ya, bu. Kyai Abdul kan sudah punya istri. Bu Isti’adah, guruku di sekolah?”.

“Hahaha…” Bapak dan ibu tertawa bersama. Aku jadi heran.

“Itu malah akan meringankanmu to, nduk. Satu pekerjaan kalau dikerjakan dengan dua orang kan lebih ringan. Umpamanya kalau waktu memasak kamu dan bu Isti’adah yang memasak. Kan lebih ringan”. Ibuku berkata dengan sisa-sisa tertawanya.

“Itu bukan masalah, Ulfa. Pokoknya bu Isti’adah membolehkan suaminya menikah lagi itu sudah bukan masalah. Agama Islam membolehkan umatnya beristri paling banyak empat”.

“Kalau dengan bu Isti’adah, bagaimana?”.

“Ya enggak bagaimana-bagaimana. Kamu dan bu Isti’adah akan semakin akrab”.

"Bagaimana ini sih, bu?"

"Ya tetep terserah kamu to nduk. Yang melakukan juga kamu. Tapi yang pasti kamu nanti ada yang membimbing, Ada yang melindungi dan kamu menjadi tanggung jawab suamimu".

“Nanti kalau aku malu bagaimana?”

“Kenapa to nduk, kok malu. Wong gak nyuri saja kok malu. Kalau menikah itu kan sah. Sesuai adat juga agama. Jadi gak perlu malu”. Ibuku menyahut.

“Tapi, Kyai Abdul kan juga kyaiku. Dan juga putri beliau adik kelasku di sekolah?”.

Dulu, waktu masih Sekolah Dasar, Silvi, putri bu Isti’adah adik kelasku pas. Sedangkan sekarang aku baru saja masuk di kelas satu Sekolah Menengah Pertama.

“Umur itu bukan masalah, nduk. Lebih baik itu orang kalau menikah suaminya lebih tua, karena suami dalam keluarga itu pembimbing istri. Lebih tua lebih baik”. Ibuku menjawab.

Aku mengangguk-angguk.

“Lagian, menikah sekarang atau besok juga sama saja. Hanya berbeda waktu. Kamu besok pasti ingin menikah juga, kan! Besok menikah, atau sekarang, itu sama saja. Nantinya kamu juga pasti menikah seperti orang-orang pada umumnya”.

“Tapi, bapak. Apakah kalau aku jadi istri masih bisa bermain dengan teman-teman?”.

“Ya jelas bisa. Bisa. Asalkan pekerjaan di rumah sudah beres semua”.

Aku jadi teringat, pada hari minggu seperti biasanya sekolahku libur dan aku di rumah atau kadang bermain di rumah teman-teman. Saat aku di rumah diam-diam aku mengamati kegiatan ibu di rumah. Setelah menyiapkan sarapan pagi dan mencuci pakaian, apabila ada cucian, ibu hanya duduk-duduk di kursi ruang tamu sambil menyulam kristik untuk hiasan dinding atau kalau tidak begitu ibu hanya duduk-duduk menonton telenovela di TV. Nah, sangat mungkin pada saat itu aku bermain ke rumah teman-teman, atau juga baca-baca novel dan cerpen kesukaanku. Hmmm… aku tersenyum kecil.

“Ya, pak, bu. Aku mau”.

Bapak dan ibu saling memandang. Mereka tersenyum.
***
           
Pesta pernikahanku dilaksanakan dengan meriah sekali. Mukaku dimake-up cantik sekali. Kedua bibirku memakai lipstik merah muda. Rambutku yang biasa tergerai panjang, kini disanggul dan ditambahi dengan rambut palsu hingga terasa sedikit aneh. Tapi tambah indah. Di atas kepalaku diletakkannya sebuah mahkota berwarna keemas-emasan dengan hiasan mutiara-mutiara yang gemerlap indah sekali. Ketika aku bercermin, aku hampir tak merasa bahwa itu aku. Aku cantik sekali. Seperti para putri ratu yang sering kujumpai dalam komik-komik yang pernah aku baca. Apalagi dengan gaun pengantin yang bermotif batik, aku semakin imut saja. Seperti aku berdandan waktu karnaval memperingati 17 Agustus tahun lalu. Indah.

Rumahku ramai sekali. Tembok-tembok dicat putih bersih dan pita-pita berwarna-warni saling menyambung di atap, tembok, dan beberapa helai membentuk bunga di atas gawang pintu. Rumahku ramai sekali. Baru kali ini rumahku seramai ini. Saudara-saudaraku berkumpul, teman-teman juga datang, dan guru-guru tak ketinggalan. Seluruh tenda yang menjulur sepanjang halaman rumahku penuh dengan para tamu. Meriah sekali. Semuanya tersenyum melihat aku dan Kyai Abdul duduk di atas singgasana pengantin yang penuh ukiran itu. Semuanya tersenyum. Merestui.
***
           
Pertama-tama aku agak kikuk dan kaku dengan Kyai Abdul, eh, suamiku itu. Apalagi dengan bu Isti’adah. Tapi, mereka sangat baik dan sayang kepadaku. Lama-lama aku biasa bergaul dengan mereka. Kita tinggal di satu rumah. Rumah Kyai Abdul besar sekali. Lantainya porselin mengkilap. Selalu bersih. Aku punya kamar sendiri, bercat putih bersih dan cukup lebar. Begitu juga dengan bu Isti’adah, kamarnya tepat di depan kamarku, meski dipisahkan dengan ruang kosong yang cukup luas. Cukup untuk bermain gobaksodor. Hanya ada sebuah pot besar dengan bunga gelombang cinta di tengah-tengahnya. Kamarku dengan kamar bu Isti’adah persis sekali. Hiasan kaligrafi yang tergantung di dinding, bentuk tolet, ranjang, juga warna dan motif selimutnya. Persis sekali. Kyai Abdul punya kamar sendiri, begitu juga dengan Silvi.

Dan benar, apa yang dikatakan bapak ibuku. Aku tetap sekolah, bahkan buku-buku pelajaran sudah aku punyai semua. Aku juga beli buku-buku cerpen dan novel yang sudah aku idam-idamkan dari dulu. Untuk belanja, ternyata tidak sepayah dulu, aku harus mengayuh sepeda lumayan jauh. Kita belanja naik mobil Mercy, atau juga bisa yang lain. Mobil Kyai Abdul ada lima. Kyai Abdul menyetir di depan, aku dan bu Isti’adah duduk di jok belakang. Dan juga tidak belanja di pasar lagi. Sekarang kita belanjanya di mal besar, tidak perlu berjubel dan tawar menawar harga. Untuk urusan masak, ternyata aku tidak perlu masak. Sudah ada beberapa abdi dalem yang membereskannya. Tidak hanya pagi dan sore saja makanan tersedia, tapi selalu ada. Dua puluh empat jam. Begitu juga dengan urusan cuci-mencuci, semua dibereskan abdi dalem.

Pekerjaanku hanya sekolah, mengaji, membaca dan membaca. Membaca terus, aku ingin pintar. Satu novel bisa aku habiskan dalam waktu dua hari. Aku juga jadi jarang keluar rumah. Segala keperluan dibelikan abdi dalem. Aku juga jarang bermain ke rumah teman-teman. Di rumah ini sudah ada segalanya.

Yang masih aku bingungkan adalah memanggil Kyai Adbul ini bagaimana. Juga memanggil bu Isti’adah serta Silvi. Mereka sangat menyayangiku seperti bapak dan ibuku sendiri. Untuk masalah ini aku sungguh tidak bisa memutuskan. Selama ini aku memanggil Kyai Abdul dengan Pak Kyai, begitu juga dengan bu Isti’adah dengan Ibu seperti biasanya di sekolah. Untuk Silvi aku memanggilnya adek, karena aku masih bingung. Ah, nanti saja kalau aku pulang ke rumah, akan ku tanyakan masalah ini kepada bapak ibu di rumah. Yang pasti, saat ini aku senang sekali.