Thursday, December 29, 2011

Dua Cinta


Saat itu, ya, dimana bunga-bunga mulai mekar, biji-bijian memulai menancapkan akarnya pada tanah basah, aku tidak mencatat hari istimewa itu melainkan beberapa hari setelah terjadi karena rasa gembira yang mampu melupakan salah satu kebiasaanku; mencatat sebuah realita sebagai suatu sejarah.
Ketika aku kirimkan sebuah Short Message Service kepada Linda berisi ajakan untuk mengikuti sebuah seminar tentang kritik pemikiran Islam kontemporer, hati-hati aku merangkai kata seperti para tukang merangkai batu sebagai pondasi bangunan. Harus kuat dan tepat, karena pondasi sebagai penentu bangunan berikutnya. Tak lama kemudian handphoneku berdering. Inginku meremasnya hingga retak, setelah satu pesan diterima aku buka dan terketikkan “Ok” sebuah balasan manis darinya. Itupun setelah aku tahu bahwa ia senang sekali dengan sesuatu yang beraroma keilmuan, dan setelah aku mengajaknya beberapa kali hanya untuk dinner bareng tapi ia menolaknya.
Jam tujuh malam. Kami berdua -aku dan Linda- setelah mengikuti seminar meluangkan sedikit waktu untuk melepas rasa lelah dengan sekedar jalan-jalan di taman kota. Itulah saat yang kunantikan selama beberapa bulan terakhir untuk mengungkapkan rasaku kepadanya. Malam yang cukup pekat. Selain malam Senin dimana semua orang sibuk mempersiapkan diri untuk aktivitas esok hari, beberapa pedagang asongan bermuka kecut mengutuki hujan yang baru mengucur.
Kulihat Linda mendekapkan kedua tangannya di dada. Sesekali ia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya untuk mendapatkan sedikit kehangatan. Malam itu hening sekali. Kami duduk di kursi dekat kolam dengan gemericik air mancur di tengahnya. Ia seorang pendiam. Kami saling membisu.
“Linda, kamu kedinginan?”. Kucoba mencairkan suasana.
“Tidak. Aku sudah terbiasa dengan cuaca seperti ini”. Ia menjawab dengan sedikit mengusik jaket tebalnya.
Kucoba menyuarakan isi hatiku, tapi mulut ini terasa terkunci oleh detak jantungku yang tak karuan. Ah, Masa bodoh! Aku harus mengatakannya. Ini adalah malam yang tepat. Aku harus mampu. Aku harus bisa.
“Mm… Linda, ada yang ingin kukatakan kepadamu”, Aku terhenti. “Hal ini sudah ada sejak aku mengenalmu. Meskipun saat ini adalah saat dimana kau akan mengatahuinya”. Kumeliriknya, Linda tetap membisu.
“Sebenarnya, aku sangat mencintaimu. Ini benar dari hatiku”, aku terhenti lagi. Linda hanya mendengar. Tiba-tiba udara terasa ampak, panas, dengan jantung berdegap-degap. Aku tak pandai menggombal. Tak pandai bertutur kata panjang lebar. Bagiku berututur panjang merupakan cermin lemahnya tekad.
“Aku ingin, kau menganggap aku lebih dari seorang teman. Dimana kita saling suka duka bersama. Lebih lagi kita bisa saling mengingatkan jika melakukan khilaf.” Aku terhenti. ”Dan yang terpenting, kita bisa memanfaatkan hubungan ini sebagai pendorong dan penyemangat untuk lebih giat dalam mencari ilmu”. Ah, kata-kataku terputus-putus. Padahal sudah hampir dua bulan aku melatih kalimat itu.
Ia tetap membisu. Ia membetulkan jilbabnya yang sedikit tersibak. Ia mengangkat sebentar lembaran putih bersih yang menutupi dadanya itu.
“Akan tetapi aku minta, apapun tanggapanmu terhadap isi hatiku ini, jangan sampai merenggangkan silaturahmi kita”. Kutirukan kata-kata temanku dari sebuah nostalgia denganku waktu ia menembak seorang cewek. Menurutnya kalimat itu sebagai tameng rasa malu jika ditolak. Tapi bagiku tidak seperti itu. Aku tidak akan membiarkan persahabatanku dengannya rusak hanya karena beberapa kata.
Kami hening sejenak, kulihat Linda sedang memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian ia mencoba mengatakan sesuatu. Ya, kuharap itu adalah sebuah jawaban, meskipun tak kuajukan sebuah pertanyaan.
“Apakah kamu yakin dengan itu kita bisa lebih giat?”. tanya Linda meragukan.
“Pasti bisa.” Aku jawab penuh keyakinan. ”Kita menjalaninya dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Seperti diskusi, baca-baca buku di perpus dan sebagainya”. Aku berkata dengan semangat menyala-nyala. Sebentar aku menyesal. Mengapa aku harus jadi tukang jamu yang berapi-api menarik pembeli! Biarlah dia sendiri yang memikirkan.
Kami terdiam beberapa saat. Sepertinya ia berusaha merangkai kata-kata. Hatiku berdebar cemas.
“Kalau memang dapat menjadi pendorong kita untuk lebih giat belajar, ya… oke-lah. Tapi kalau tidak bisa, kita harus ada konsekuensi yang sesuai”. Ini adalah jawaban yang kuharap.
Ingin kuberteriak. Ingin kuceritakan malam itu kepada seluruh isi jagad raya. Tapi pada siapa! Bumi ini terasa lain. Semuanya seperti lenyap seketika dan hanya aku dan Linda duduk di taman penuh bunga. Bunga-bunga bersorak padaku. Lalu air mancur menari-nari ikut merasakan apa yang kurasa. Seluruh nadiku seperti ada yang mengelitik. Hem…lucu, geli, aku tak kuat!. Ingin kutertawa tapi aku tak bisa. Bagaimana semua ini kuungkapkan!. Senang, sedih, genit, geli, marah, tertawa, asam, asin, manis, pahit, nyengir, menjadi satu rasanya. Badanku terasa panas dingin. Terasa darah ini mengalir lebih deras, sederas cinta mengguyur tubuhku.
******

Itu dua tahun yang lalu. Hubungan itu kami jalani dengan penuh kasih sayang, kemesraan, belas kasih, hingga menyebabkan harmonis, romantis, serta sedikit pertengkaran, ya… hanya sebagai privasi. Hubungan itu kami lalui sesuai dengan komitmen awal yang telah kami buat, hanya sebagai penyemangat hidup, khususnya dalam pencarian kepingan-kepingan ilmu. Tak lebih dari itu. Bahkan, memegang tangannya pun aku tak pernah. Adapun keharmonisan dan kemesraan, hanya kami selami dalam alam intuisi, bukan fisik. Cemberut dan ceria, hanya sebagai refleksi otot-otot wajah semata.
******

Sekarang, saat ini kami -aku dan Linda- di tempat yang sama, di taman ini. Pada jam yang hampir sama pula. Hanya berselang beberapa menit. Tak ada perubahan kontruksi di taman ini. Seperti dua tahun yang lalu, pancaran air mancur tetap gemercik seperti bunga dengan selang kecil sebagai tangkainya. Angin tetap lamban. Hanya saja beberapa tumbuhan terlihat lebih rindang dan perkasa, dan itu merupakan tuntutan usia. Kami masih membisu, seperti saling memikirkan sesuatu.
"Kenapa tiba-tiba kau ajak aku ke tempat ini?" Linda yang duduk di sampingku bertanya keheranan. Maklum, aku tidak pernah mengajaknya bertemu selain dalam rangka kegiatan keilmuan.
 "Sebelumnya aku ingin bertanya kepadamu". Aku terhenti, "Bagaimana menurut kamu tentang hubungan kita selama ini?".
"Lho, ada apa kok tumben nanya seperti ini?". Ia semakin penasaran. Aku terdiam. "menurutku hubungan kita baik-baik saja. Bahkan lebih baik daripada sebelum kita bersepakat di tempat ini”. Ia menjawab tanpa ragu.
"Trus, bagaimana dengan kedepan?".
"Kenapa kamu bertanya seperti ini?" Linda balik bertanya dan menoleh kepadaku.
"Ada yang perlu kusampaikan kepadamu. Tapi, jawablah dulu pertanyaanku tadi". Aku berkata dengan pandangan lurus ke depan.
"Hubungan kita sangat memberi manfaat. Dan sudah kita ketahui semenjak kita saling berdiskusi bersama, mengikuti beberapa seminar, pergi ke perpustakaan bareng, prestasi kita meningkat. IP kamu cumlaude semester ini. Begitu juga dengan aku. Aku kira hubungan kita sangat mendukung. Apa yang ingin kamu sampaikan?", tanya Linda tak sabar.
"Sebelumnya aku ingin, setelah kamu ngerti apa yang aku sampaikan hubungan silaturrahmi kita jangan sampai putus".
Aku diam sebentar, mengambil nafas dalam-dalam. Kulirik Linda. Diam, tenang, seakan-akan tak mau terlewatkan satu huruf pun tentang apa yang akan aku sampaikan kepadanya.
"Kebersamaan kita dalam menggali ilmu, kita cukupi sampai sini saja". Kulanjutkan dan kucoba tenang. Aku mengatakan tanpa ini itu. Karena terlalu panjang untuk sebuah ketetapan.
"Lho, kamu bilangnya kok gitu! Ada masalah apa?! Kalau memang ada masalah mari kita selesaikan dengan…..".
"Satu minggu yang lalu aku dipanggil Romo Kyai". Aku memotong pembicaraannya.
"Beliau meminta supaya aku bersedia menjadi menantunya".
Kutengok Linda. Ia terdiam dengan pandangan kosong. Entah apa yang dipikirkan aku tidak tahu.
"Aku sama sekali tidak menyangka hal ini terjadi". Aku berhenti. Lalu melanjutkan, "sebenarnya aku masih terlalu muda untuk itu. Dan juga, aku masih ingin berkelana bebas, sebebas elang terbang. Tapi…..".
Aku terdiam, Suasana menjadi sepi. Linda sudah paham bagaimana seorang santri menyikapi ajakan Kyainya. Lebih-lebih dijodohkan dengan seorang "Neng". Aku tahu benar Linda alumni pesantren, meski sekarang tidak lagi tinggal di pesantren".
"Tapi, apakah hanya dengan itu…..". Linda memotong perkataannya.
Air matanya mengguyur pipinya yang lembut, berkilau seperti butiran-butiran mutiara yang tumpah ruah.
"Kalo boleh jujur, selama ini aku berangan-angan untuk mengakhiri hubungan kita ini hingga usia senja nanti. Hingga semampu kita untuk saling bersapa. Dimana aku menjadi nenek, dan kamu seorang kakek. Dengan beberapa anak yang menyayangi kita, dengan cucu-cucu sebagai pelipur lara". Linda berucap terbata-bata dan air matanya terus mengalir.
Hatiku tercabik-cabik. Hatiku bergetar, memar dengan hantaman dari kanan, kiri, depan, belakang, atas, bawah, rasanya perih sekali. Ah, mataku berkaca-kaca. Aku tak boleh menangis. Aku adalah laki-laki yang harus mengedepankan akal daripada perasaan.
"Selama ini pula, aku selalu menunggu kata-kata darimu, bahwa kamu akan menyeriusi hubungan kita". Ia menambahkan.
Kata-kata Linda menjadi pisau, lalu mengiris-iris sukmaku. Ingin kuberlari dan berteriak sekeras mungkin, mengadu kepada sutradara kisah ini. Kucoba untuk tenang dan kuberusaha menganggap kata-kata itu tak pernah terucap olehnya.
"Apakah kamu yakin ini baik bagimu?".
"Ya, lebih baik." Kujawab dengan singkat.
Meski aku belum memberi keputusan bersedia atau tidak menjadi menantu Romo Kyai, aku selalu berusaha untuk yakin ini lebih baik bagiku. Meski esok hari tak ada yang tahu apa yang akan terjadi, selain sang Maha Tahu.
Kami terdiam beberapa menit. Diam tak bergerak, bagai dua patung berkakuan di dekat kolam. Air mata Linda masih meleleh. Nafasnya tidak beraturan. Seperti ada sesuatu yang mengecewakannya. Aku kehabisan kata-kata. Mengapa malam ini terasa sangat lama sekali. Tidak seperti hari-hariku yang berlalu, terasa sangat cepat.
”Perlu kita ketahui Linda, bahwa kita hidup di dunia ini hanya sesaat. Sebagai perumpamaan singgah dalam perjalanan, hanya untuk meminum air. Perjalanan kita masih panjang. Tidak ada yang perlu disesali, tidak ada yang perlu ditangisi. Meskipun kita tidak berpisah sekarang, pasti kelak akan berpisah juga. Ada perjumpaan, pasti ada perpisahan”. Kucoba menguatkan hatinya, meski hatiku lebih menangis deras dari pada air mata Linda.
Ia tetap diam, membisu, seperti ketika aku dipanggil Romo Kyai satu minggu yang lalu. Ya, persis sekali. Tapi aku diam sebagai rasa patuh dan tawadhu’ku kepada beliau. Untuk Linda, aku tidak tahu. Semoga saja kebisuannya sebagai isyarat sebuah keikhlasan. Ah, tapi aku tetap tak tau.
Kuintip jam tanganku.
"Linda, malam semakin larut, lebih baik kita sekarang pulang". Kucoba menutup sebuah keputusan. Keputusan yang sedikit arogan.
Ia tak berkata apa-apa. Ia mengambil sapu tangan dari dalam tas kecilnya, dan diusapkan pada kedua pipinya yang basah.
"Sekarang sudah jam sembilan. aku harus kembali ke pondok. Sebentar lagi pintu gerbang ditutup".
"Kamu balik dulu saja, sebentar lagi aku juga pulang". Ia berkata dengan lemas. Pipinya tetap basah dengan air mata. Ia menunduk tak juga menoleh padaku sedikitpun.
Aku tahu sekali sifat Linda. Linda ialah seorang yang tidak suka dipaksa. Aku harus meninggalkannya sendiri, di sini. Meski dingin malam makin menumbuki tulang.
"Aku harap kamu bisa menerima semua ini. Aku juga berusaha. Kita tetap saudara. Semoga kamu mendapat teman belajar yang lebih baik dariku. Maafkan jika semua ini menyakiti hatimu". Kuberkata dengan hati-hati.
Kuayunkan langkah kakiku perlahan meninggalkan dia. Meninggalkannya sendiri, di taman ini. Semakin kujauh dengannya, semakin ia seperti seorang bidadari di taman surga. Parasnya yang cantik dengan air mata di pipinya. Malam ini hatiku merintih, terbelah menjadi dua, persis di tengahnya. Tak lebih lebar daripada kiri, juga tak lebih lebar dari kanan. Kuteruskan langkahku dengan sedikit ragu. Kulihat Linda masih duduk di kursi itu, sendiri.
Menjadi menantu seorang Kyai adalah dambaan semua orang. Ia akan menjadi orang yang paling disegani setelah Kyai. Ia akan selalu dihormati tidak hanya dalam pesantren, namun juga dalam kehidupan masyarakat. Di-iya-kan seluruh pendapat dan sikapnya. Tapi hal itu bukan harapanku, sama sekali bukan.. Bagiku menjadi menantu Kyai merupakan wujud penghormatanku pada ilmu dan agama. Bukankah menghormati ilmu juga harus menghormati guru. Begitu pula dengan menghormati agama salah satunya dengan menghormati orang-orang yang taat padanya. Sebagai pecinta ilmu dan agama aku tentu harus mencintai Kyai yang juga sebagai guruku. Dan sebaik-baik cinta adalah pengabdian.
Tapi aku teringat pada Linda, yang mungkin saat ini masih meneteskan air matanya di taman itu. Aku juga teringat pada sikap dinginnya ketika pertama aku mengenalnya. Waktu itu aku sangat penasaran sekali. Berbagai upaya aku lakukan untuk mendekatinya. Setelah aku dekati dengan rendah hati, senyumnya mulai bertebaran untukku. Begitu manis dan mempesona. Tak bisa dilukiskan hanya dengan kata-kata. Hingga pernah beberapa malam tak kuasa kupejamkan mata, merasakan sebuah senyum kecilnya.
Ia perempuan yang tegas dan berkomitmen tinggi. Namun, tawa dan canda selalu ada di celah-celah ketegasannya. Benar-benar bisa papan empan. Malam ini terlihat terang sekali olehku saat aku dan dia saling bertukar pikiran, bercanda dan tertawa bersama. Seandainya aku bisa akan kuputar roda waktu ini kembali ke-dua tahun yang lalu dimana aku mulai jatuh hati dengannya, dan aku tidak akan pernah memintanya menjadi pacarku. Linda tetap menjadi bagian hatiku. Bagiku, untuk melupakannya tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun perlu waktu sebanyak sisa hidupku untuk melupakannya.
        Hatiku masih di taman itu, menyatu dengan seorang gadis. Sementara langkahku makin menjauh darinya. Ah, Jiwaku ini seakan terpisah dengan ragaku. Keduanya saling jauh menjauhi. Dan tak pernah bertemu.

No comments: