Thursday, December 29, 2011

Raja Angin (Naskah drama anak-anak)


Ditulis oleh Mohammad Faizun
dengan harapan memberikan pesan pentingnya gotong royong, digarap untuk pementasan anak-anak dengan penonton dari berbagai kalangan

Seorang anak perempuan duduk sendiri. Ia memikirkan sesuatu, kemudian berkata dengan dirinya sendiri.

Maharani:
Merapikan tempat tidur sudah. Bantu ibu memasak sudah. Menyapu halaman sudah. Mmm, enaknya ngapain ya!
(Tampak memikirkan betul tentang apa yang hendak ia kerjakan)

Maharani:
Enaknya bermain apa ya! Liburan dua minggu lagi! Duuuh, panjang banget liburannya. Tapi, mau ngapain ya! Si Ratih ke rumah neneknya. Si Rukmini, ke rumah pamannya yang di kota. Dan Siska, selalu momong adeknya yang kecil itu. Pasti ia dimarahi ibunya kalau aku ajak main. Enaknya, bermain apa ya!

(Segerombolan anak laki-laki datang bernyanyi dengan membawa layang-layang. Maharani langsung mengumpat di balik semak.. Mereka tampak riang sekali)

Kuambil buluh sebatang
Ku potong sama panjang
Kuraut dan ku timbang dengan benang
Kujadikan layang-layang

Bermain…..
Berlari…….
Bermain layang-layang
Bermain kubawa ke tanah lapang
Hati gembira dan riang

Anak 1:
Waaah, sore ini cerah sekali.

Anak 2:
Benar. Lihat langit itu! Huuu, biru sekali. Betapa indah layang-layang kita nanti di atas sana.

Anak 3:
Ya, layang-layang baruku nanti pasti yang paling indah.

Anak 1:
Memang, layang-layangmu baru?

Anak 3:
Ya iyalah, masak ya iya dong!

Anak 2:
Benar! Coba, aku lihat!

Anak 3:
Ini! (menyodorkan layang-layangnya)

Anak 2:
Hebat. Bagus banget. Warna-warni. Yang membuat kamu sendiri?

Anak 3:
Tau nggak! Ini layang-layang dari Jakarta. hadiah ulang tahunku dari paman.

Anak 2:
Hebat banget dari Jakarta.

Anak 1:
Heh, meskipun layang-layangmu warna-warni, kita lihat saja nanti, layang-layang siapa yang terbang paling tinggi.


Anak 2:
Ah, nggak usah ribut. Sama saja layang-layang itu, yang warna-warni maupun yang tidak. Yang penting kita bisa bermain bersama. Tak ada yang lebih indah dari itu. Kebersamaan.

Anak 3:
Ya, betul. Apa artinya punya layang-layang bagus tapi tidak bisa bermain bersama. Kan nggak bisa rame-rame!

Anak 1:
Setuju! Ayok, kita ke tanah lapang. Langit sudah menunggu layang-layang kita.

Anak-anak:
Tarrrik layang-layaaaang! Bermain…. Berlariii…. (nyanyi)
(mereka hendak pergi bersama. tapi dihentikan oleh maharani yang sejak tadi mengetahui pembicaraan mereka)

Maharani:
Tunggu… tunggu…!

Anak-anak:
(menghentikan langkahnya dan melengok)
Oooo Maharani!

Maharani:
Tunggu teman-teman… aku ikut.

Anak-anak:
Ikut kemana?

Maharani:
Ya menerbangkan layang-layang dong!

Anak-anak:
Hahahaha….


Anak 3:
ya enggak boleh lah… ini kan cowok gitu lhoh! (menirukan gayanya banci)

Maharani:
Uuuh... (sambil cemberut)

Anak 1:
Eh Maharani, kalau anak cewek itu ya main dapur-dapuran sana. Gedrik, apa gobak sodor, engklek, atau yang lainnya gitu. Masak maen layang-layang!

Anak 3:
Hahaha… bisa-bisa tersandung batu, menangis ntar! Owekkk… owekkk…. (mengejek dengan suara tangis bayi)

Anak 2:
Iya Maharani, lebih baik kamu bermain-main sama temanmu yang cewek. Terlalu payah bermain layang-layang itu.

Maharani:
Enggak! Aku mau bermain layang-layang. Bersama kalian!

Anak 1:
Maharani, kamu terlalu lemah untuk bermain layang-layang.

Maharani:
Enggak! Aku mau bermain layang-layang bersama kalian. Aku kuat. Titik!

Anak 1:
Aduuuh… Maharani....

Anak 2:
Sebenarnya kita ini mau bermain sama kamu, tapi permainan yang lain saja ya! Besok pagi kita bermain gobaksodor bersama. Gimana?

Maharani:
Ya, besok pagi kita bermain bersama.

(anak-anak laki-laki tersenyum gembira)

Maharani:
Tapi, sekarang aku tetap mau bermain layang-layang bersama kalian.

(senyumnya langsung terhenti)

Anak 1:
Aduuuuh…

Anak 3:
ya.. ya.. ya.. main layang-layang. Terus kalau kamu nanti kepanasan, gimana dong! Jadi iteeeem wajahmu, hiiiii…. Apa tidak takuut!

Maharani:
Enggak, Enggak, Enggaaaak. Aku tidak takut hitam. Pokoknya aku mau bermain layang-layang bersama kalian.

Anak 1:
Maharaniiii, jangan merepotkan kita dong. Nanti kalau kamu kena marah sama nenekmu, bisa-bisa kita juga kena marah.

Anak 2:
Benar Maharani, lagian apa kamu sudah minta izin nenekmu untuk bermain layang-layang?

(maharani berpikir sejenak)

Anak 3:
Oh ya! eh, tau nggak, Maharani, kalau bermain layang-layang itu harus punya layang-layang dan benangnya juga. Emangnya kamu sekarang punya! (sambil menunjukkan layang-layangnya)

Maharani:
Belum. Benang dan layang-layang kalian cuma satu? (cemas, berjalan mondar-mandir)

Anak-anak:
ya iya dong, maunya berapa?

Maharani:
Aduuuh, gimana ya... (lebih cemas, ia berjalan modar-mandir lagi)

anak 2:
Ya sudah, gini aja, setiap sore kita selalu bemain layang-layang bersama. Kamu minta izin nenekmu dulu, nanti baru bermain layang-layang bersama kita.

Anak 1:
Benar. Lagian liburan kan masih panjaaaang…

Anak 3:
Dan, jangan lupa bawa layang-layang!

(maharani hanya mengangguk-angguk)

Anak 2:
Hari semakin sore. Kita tunggu layang-layangmu. Sampai jumpa besok!

Anak 3:
Ayo teman-temaaaan… tarrrik layang-layaaang…

Anal-anak:
yoooook…..

Bermain…
Berlari…
Bermain layang-layang…
(sambil keluar panggung meninggalkan maharani sendiri)
Maharani:
Ah, sekarang aku bilang nenek saja, kalau aku mau main layang-layang bersama teman-teman. (keluar dengan bernyanyi juga)


Bag 2

Di sebuah dapur setengah reyot ada seorang nenek sedang memasak dengan tungku dan kayu bakar

Apinya sudah menyala...
Apinya sudah menyala...
Ambil tungkunya...
Sekarang juga...
Sekarang juga...

Maharani:
Assalamu’alaikum, nek! (langsung menuju nenek dan bersalaman dengan mencium tangannya)

Nenek:
Wa’alaikum salam. weleh weleh…. Darimana saja nduk?

Maharani:
Dari bermain dengan teman-teman, nek.

Nenek:
He.. he.. he.. jadi teringat waktu nenek muda dulu. Paling suka main cublek suweng.

Cublek cublek suweng
Suwenge teng gelender
Aku kedundung gudel
Tak jengkluk lera-lero
Sopo wonge deleake
Sir-sir pong dele kopong
Sir-sir pong dele kopong

(maharani tidak begitu memperhatikan neneknya yang sedang melucu. tampak murung. pikirannya tetap pada layang-layang)

Nenek:
Uhugh.. uhugh… ada apa to nduk, kok kelihatan sedih?

Maharani:
Aku mau bermin layang-layang, nek.

Nenek:
Weleh.. weleh.. cucuku ini aneh-aneh saja.

Maharani:
Apanya yang aneh, nek?

Nenek:
Ya aneh. Perempun kok main layang-layang!

Maharani:
Memang tidak boleh, nek!

Nenek:
(Ragu-ragu) Ya… boleh-boleh saja. Tapi…

Maharani:
Asyiiiiiiiik….

Nenek:
Tapi.. tapi… (belum sempat berkata maharani terlajur memeluk neneknya itu dengan hati gembira. maharani menari-nari ceria. akhirnya neneknya hanya senyum-senyum saja dengan geleng-geleng kepala melihat cucunya)

Maharani:
Mmmm… layang-layang dan benangnya belum punya, nek. (berkata manja)


Nenek:
Aduuh, kebetulan nenek juga tidak punya uang untuk beli layang-layang. (wajah nenek mendadak bersedih)


Maharani:
(maharani berpikir sejenak)
Ya sudah, nek. Untuk layang-layang Maharani akan membuatnya sendiri. Hanya perlu beli kertas dan benangnya saja. Dan itu akan aku ambilkan sebagian uang tabunganku.

Nenek:
Memang, kamu bisa, nduk?

Maharani:
Mmm…. Kecil.
Kuambil buluh sebatang
kupotong sama panjang
kuraut dan kutimbang dengan benang
kujadikan layang-layang...

Nenek:
Cucu nenek memang pinter sekali.

Maharani:
Horeeee… (langsung pergi ke kamar dan segera kembali dengan membawa sebuah celengan. celengan itu dibuka dan diambil sebagian uangnya)

Maharani:
Maharani langsung beli kertas dan benangnya ya nek, sebelum petang.(ia berlari keluar dengan bernyanyi riang… kuraut dan kutimbang dengan benang)

Nenek:
Hmmmm.. anak perempuan jaman sekarang semakin tangkas saja. Ada yang jadi dokter, hakim, sopir, guru, dan lainnya. (memebetulkan letak tunggku kemudian keluar)
Bag 3


(anak-anak bernyanyi bersama dangan menenteng layang-layang masing-masing)
Anak 3:
Wuiiih…. Udaranya mendesir-desir.

Anak 1:
Tak sabar lagi tanganku. Tarik ulur- tarik ulur (memeragakan memainkan benang layang-layang). Ayo, berangkat sekarang!

Anak 2:
Jangan! Kita tunggu Maharani dulu.

Anak 1:
Alaaah, gak mungkin datang dia. Paling-paling tidak boleh sama neneknya.

Anak 3:
Iya.. iya.. ayuk kita berangkat saja!

Anak2:
Kita unggu dulu, 2 atau 5 menit lagi. Siapa tau Maharani sebentar lagi datang.

(tak lama kemudian maharani muncul dengan layang-layang dan segulung benang di tangannya)

Maharani:
Berlari… Bermain… (bernyanyi)
Hay teman-teman….! Bagaimana dengan layang-layangku?

(anak-anak pada bengong melihat maharani yang super tomboy. dia pakai celana. tampak lain sekali)

Maharani:
Kok pada bengong! Ini layang-layangku, bagaimana menurut kalian?

Anak 2:
Wah, bagus banget. Dimana membelinya? (mengambil layang-layang itu dan yang lain ikut mengamatinya)

Maharani:
Sorri lah yau, buat sendiri dong!

(anak-anak terkejut)

Anak 1:
Kamu membuatnya sendiri?

Anak 3:
Hebat banget!

Maharani:
Ya iyalah! Mau apa lagi!

Anak 2:
Maharani, sebelum kita berangkat, apakah kamu sudah bisa caranya menerbangkan layang-layang?

(maharani menggelengkan kepala)

Anak 1 dan 3:
Itu penting.

Maharani:
Ajarin dooong! (manja)

Anak 2:
Siap temen-temaaaan!


Anak 1 dan 3:
Oke! (anak 1, 2, 3 membentuk barisan)

Anak 2:
Ngin, angin ayo datang!

Anak 1 dan 3:
Tariiik… uluuuur… (ketiganya berekspresi menarik dan mengulur benang. bisa juga dengan pantomin)

Anak 2:
Yang, layang cepat terbang!

Anak 1 dan 3:
Tariiik… uluuur…
(diulangi beberapa kali)

Anak 2:
Nah, gitu!

Maharani:
Oke, aku sudah bisa.

Anak 3:
Yok, kita berangkat!

Semua:
Tarrrik layang-layang….

Berlari…
Bermain… (nyanyi dan keluar panggung)


Bag 4

Suasana sunyi. Mereka bertiga masuk dengan menenteng layang-layang masing-masing kecuali Maharani

Anak 2:
Kita turut bersedih Maharani!

Anak 3:
Iya.

Anak 1:
Tapi, bagaimana lagi, semua sudah terjadi.

(maharani hanya diam. cemberut)

Anak 3:
Padahal, layang-layang kamu paling tinggi terbangnya di antara layang-layang kita. Aduuh, sayang sekali ya.

Anak 2:
Rupanya angin sedang iri. Ya, iri Maharani. Karena layang-layangmu terbang tinggi sekali hampir menyentuh langit.

Anak 1:
Maka dari itu angin tiba-tiba berhembus kencang hingga memutuskan layang-layangmu.

Anak 3:
Uh, jahat banget.

Anak 2:
Tapi, bagaimanapun angin, ia sudah banyak menerbangkan layang-layang kita. Kita harus tetap mengahargainya. Mungkin juga angin tidak sengaja berhembus terlalu kencang hingga memutuskan layang-layang mu, Maharani.

Anak 1:
Kita pulang aja dulu. Hari sudah petang.
Anak 3:
Benar.

Anak 2:
Kita tetap menantimu Maharani. Ternyata kamu perempuan yang hebat. Kami menyesal dulu telah meremehkanmu. Ternyata kamu lebih hebat dari kami.

(Maharani mengangguk tanpa berkata apa-apa. kemudian semuanya berpisah, pulang kerumah masing-masing)


BAGIAN 5
(Di dapur, nenek sedang memarut kelapa. Lalu Maharani masuk dengan wajah bersedih)
Maharani:
Nek, maafkan Maharani, nek!

Nenek:
Ada apa, cucuku Maharani?

Maharani:
Maafkan Maharani, nek. Layang-layang maharani diputuskan angin.

Nenek:
(Meletakkan parut dan berjalan menuju Maharani lalu memeluknya)
Sudahlah, nduk. Ikhlaskan saja layang-layangmu. Ikhlas itu akan menentramkan hati. Besok kita bisa beli layang-layang yang baru.

Maharani:
Aku sayang nenek. (Maharani memeluk neneknya)

Nenek:
Oh ya, cucuku. Nenek baru ingat kalau kita punya biji-biji jagung yang bisa dijual ke pasar untuk membeli layang-layang.

Maharani:
Oh, benar, nek!

Nenek:
Benar, sayangku. Tapi kita harus menunggu biji jagung itu kering. Mari kita tengok, siapa tau bioji-biji jagung itu sudah kering, biar besok bisa kita jual ke pasar.

Maharani:
Nenek baik. Aku sayang nenek. (Maharani mencium nenek)

 (Maharani dan nenek keluar. Tak lama kemudian dari dalam panggung terdengar jeritan)

Maharani:
Angin benar-benar jahat. Ia menumpahkan biji-biji Jagung yang dijemur di atas atap rumah. Lalu ayam-ayam datang dan memakannya.

Nenek:
Sabarlah, nak. Ikhlaskan saja. Karena ikhlas akan melapangkan dada.

Maharani:
Tapi, nek. Maharani ingin bermain layang-layang bersama teman-teman. (Maharani masih cemberut)

Nenek:
Oh iya, di kebun nenek masih punya satu pohon pisang yang hampir matang. Kalau sudah matang, dan nanti kita jual ke pasar untuk membeli layang-layang.

Maharani:
Benar, nek. Aku sayang nenek. (Maharani memeluk nenek, meski wajahnya masih cemberut)

BAGIAN 7
(Suara hujan disertai angin kencang lalu berhenti)

Maharani:
(Maharani keluan membawa sebuah tongkat. Kepalanya diikat dengan kain)

Angiiiiin... kau telah merobohkan pohon pisang nenek. Kau telah menumpahkan biji-biji Jagung. Kau telah memutuskan layang-layangku. Kau nakal. Kau tidak bisa dibiarkan. Aku akan mencarimu ke hutan. Aku tidak akan menyerah.

(Maharani berjalan mondar-mandir di panggung seakan ia menelusuri hutan lebat, menyebrang sungai, dan bernyanyi bersama burung-burung) panggung gelap.

BAGIAN 8
(Raja Angin tampak. Ia seekor ular besar. Kalau memadai, ular bisa berupa rentetan anak-anak)

Raja Angin:
Sssss.. Sssss.. Sssss.. (Raja Angin sedang tidur)

Maharani:
Ngin angin cepat bangun. Aku datang menyapamu...
Ngin angin lekas bangun.. Aku datang menantangmu...
(Bernyanyi dengan nada Unyil Usrok)

Raja Angin:
Huuuaaaah.. (menguap)

Hutanku rindang hatiku riang
Burung bernyanyi di pagi hari
Wahai anak tanpa diundang
Perlu apa datang kemari?

Maharani:
Pagi hari tampak mentari
Sinari bunga berseri-seri
Raja Angin yang baik hati
Aku datang menuntut rugi

Raja Angin:
Hahaha... siapa namamu, anak kecil?

Maharani:
Namaku Maharani. Aku datang kemari mau minta ganti rugi.

Raja Angin:
Hahaha.. Ganti rugi! Hahaha..

Maharani:
Raja Angin, kau telah memutuskan layang-layangku. Menumpahkan biji Jagung, dan merobohkan pohon pisangku.

Raja Angin:
Hahaha....

Aku angin hanya berhembus
Meniup awan di atas sana
Kalo soal layangan putus
Bukan aku penyebabnya

Maharani:
Pergi ke ladang menanam kacang
Kacang tanah membuat kenyang
Kau berhembus terlalu kencang
Robohlah juga pohonku pisang

Raja Angin:
Tidak.. aku tidak mau menggantinya..
Hahaha...

Maharani:
Kalau kau tak menggantinya, aku akan memaksamu.

Raja Angin:
Hahaha... seorang anak kecil.. memaksa Raja Angin..
Hahaha... Akan kumakan kamu..

(Lalu Raja Angin bergerak berputar mengitari Maharani sehingga ia terkepung oleh tubuh Raja Angin)

Maharani:
Tolooong.. tolooong...

(Teman-teman Maharani datang. Membentuk formasi mengeluarkan Maharani dari cengkraman Raja Angin lalu berkelahi bersama Maharani melawan Raja Angin. Akhirnya Raja Angin kualahan tak kuat menahan geli ujung tongkat yang menggelitik di perutnya)

Raja Angin:
Huahuahua.... Ampuuun.. ampuuuun...

Maharani:
Hentikan teman-temaaaaan!
(Mereka langsung berhenti menggelitik Raja Angin)

Raja Angin:
Ampuuun... Kalian memang anak-anak hebat. Baiklah, akan aku ganti semua barang yang aku rusak. Ambillah bungkusan di ekorku ini. Bawalah pulang dan gunakan dengan baik.

Maharani dan teman-teman:
Horeeeee....

Raja Angin:
Sudah. Sudah selesai persoalan kita. Aku akan meneruskan tidurku.

Maharani dan teman-teman:
Terimakasih Raja Angin..

(Raja Angin meliuk-liuk keluar)

Maharani:
Wah, terimakasih banyak ya, teman-teman. Kalau tidak ada kalian aku bisa termakan Raja Angin.

Anak 1:
Ya, inilah persahabat sejati. Kita saling menyayangi, saling membantu, dan saling bersama-sama dalam kebaikan.

Anak 2:
Ya, aku setuju. Kalau sendiri saja akan lemah, tapi kalau kita bersatu akan kuat.

Anak 3:
Ya, itulah indahnya kebersamaan. Indahnya persahabatan.

Maharani:
Ayo, teman-teman, kita bermain layang-layang lagi!

Anak 1, 2, dan 3:
Tarrrik layang-layang...

(Bermaiiin.. Bermaiiiin.. bermain layang-layang... dst. Keluar. Panggung gelap)


SELESAI

No comments: