Thursday, December 29, 2011

Tanggung Jawab Sosial

Bagi sebagian orang, beribadah dapat diwujudkan sibuk di masjid berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, bahkan ada juga orang yang pergi ke gua-gua, ke gunung, dan hutan untuk berkonsentrasi dalam beribadah, bahkan tidak jarang mereka meninggalkan keluarga dan kehidupan bermasyarakat.

Mereka seakan terlena oleh ibadah mahdhah semata dan tidak mempedulikan keadaan sekitarnya. Termasuk bagi seorang muslim yang dikaruniai harta lebih, tidak jarang mereka memilih menunaikan ibadah haji berulang kali yang membutuhkan biaya yang cukup besar. Padahal, di dalam Islam ada dua macam bentuk ibadah, yaitu ibadah mahdhoh yang ditentukan secara terperinci oleh syari’at meliputi shalat, puasa, berdzikir, zakat, haji dan sebagainya. Dan  ibadah ghairu mahdhoh yang tidak ditentukan secara terperinci oleh syari’at meliputi berbuat baik kepada orang lain, saling menolong, saling memberi, bekerja dan lain sebagainya.

Dari sini sudah tampak jelas bahwa agama Islam juga mementingkan nilai-nilai kemanusiaan. Islam bukanlah suatu agama yang hanya mementingkan hubungan manusia dengan Allah, namun juga memperhatikan hubungan manusia dengan sesamanya. Dengan kata lain Islam sangat peduli keadaan dan permasalahan sosial yang ada. Hal ini dibuktikan dengan adanya dalil yang mewajibkan umat muslim untuk menolong anak yatim, orang miskin, musafir, dan orang-orang susah lainnya di lain mayoritas isi al-Qur’an adalah mengatur tata kehidupan manusia.

Di antara dalil tersebut adalah: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, Malaikat-malaikat, kitab-kitab, Nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Al-Baqarah [2]; 177)

Ayat di atas merupakan penjelas tentang orang-orang yang bertaqwa sejati, yaitu mereka yang tidak hanya berkutat pada hubungan ibadah dengan Allah, tapi juga mempedulikan nasib manusia lain yang mengalami kesulitan dalam kehidupan.

Pada ayat lain, Allah memberikan penjelasan tentang orang-orang yang akan masuk surga di akhirat kelak karena mereka peduli dengan dengan orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan: “dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan”. (QS. Al-Insan [76]; 8).

Orang-orang yang berada dalam kesusahan dan penderitaan tersebut tidak cukup hanya diberi materi agama dan siraman rohani akan tetapi mereka membutuhkan bantuan kemanusiaan berupa uang, materi, obat-obatan, perumahan, pekerjaan, dan lainnya. Karena bagi mereka kebutuhan seperti itu lebih mendesak dari pada kebutuhan spiritual yang sebenarnya juga tak kalah pentingnya.

Orang-orang miskin , anak-anak yatim tidak cukup hanya diajak bersabar atas penderitaannya. Para peminta-minta tidak cukup dilarang untuk meminta-minta. Para wanita yang menggadaikan tubuhnya karena himpitan ekonomi tidak cukup dilarang menghentikan pekerjaannya, namun mereka perlu uluran tangan dan pemecahan sosial. Artinya, selain kita memberikan arahan kepada mereka untuk bersabar, berhenti meminta-minta, berhenti melakukan pekerjaannya, hidup sederhana, kita juga harus memberikan bantuan materi, memberi fasilitas hidup yang layak, dan mencarikan pekerjaan sesuai dengan potensi yang mereka miliki.

Yang perlu digarisbawahi, mengapa misi kristenisasi di Indonesia berkembang dengan pesat? Jawabannya adalah sikap kemanusiaan mereka yang tinggi terhadap umat muslim yang sedang berada dalam kekurangan. Mereka memberikan sembako dan bantuan materi lainnya secara rutin dengan mengajarkan Injil sehingga umat muslimin yang lemah akan iman akan mudah mengikuti ajaran mereka. Sedangkan umat elite muslim lainnya hanya sibuk membahas permasalahan itu dalam ruang-ruang seminar, tanpa memberikan empati dan perhatian yang nyata kepada umat muslim yang terancam pemurtadan.

Hal tersebut berarti bahwa kepedulian sosial juga dapat mempererat hubungan emosi antar manusia. Dengan saling memperhatikan sesama umat, akan melahirkan rasa kekeluargaan yang kuat dan tak terceraiberaikan.

Allah juga mengecam orang-orang yang tidak mempunyai kepedulian terhadap nasib manusia, membiarkan mereka dalam kondisi kesusahan, keterlantaran, dan kebinasaan. Sebaliknya, Allah memeberikan jaminan surga kepada orang-orang yang mempunyai kepedulian terhadap kesejahteraan manusia.

Di dalam al-Qur’an, Allah berfirman bahwa orang yang tidak mempedulikan nasib anak yatim dan orang miskin pada dasarnya ialah orang-orang yang mendustakan agamanya. Allah berfirman: “Taukah kamu orang yang mendustakan agama? (1) itulah orang yang menghardik anak yatim (2) dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin (3)” (QS. Al-Ma’un; 1-3).

Di kota Malang dan kota-kota lain pada umumnya masih banyak orang miskin, anak-anak terlantar, dan peminta-minta di jalan raya. Kalau kita tengok, hampir di setiap titik perempatan jalan pasti ada beberapa orang tua yang meminta-minta. Bahkan, anak-anak yang seharusnya masa usia mereka hanya untuk belajar, namun sudah merasakan kerasnya sisi kehidupan dengan bekerja di jalanan.

Begitu juga ketika kita menuruni sepanjang DAS (Daerah Aliran Sungai) di sungai-sungai besar di kota, ribuan rumah berjejal berhimpitan dan selalu terancam longsor saat musim hujan sehingga mereka pantang tidur di dalam rumah ketika turun hujan. Pekerjaan mereka tidak terlepas dari tiga hal, yaitu pemulung, pengamen, dan pengemis. Dengan kehidupan seperti itu perut mereka tak tentu di setiap harinya akan terisi. Anak-anak mereka terancam putus sekolah karena bekerja di usia dini membantu oreang tuanya, yang nantinya akan memperpanjang kemiskinan di negeri ini.

Di sisi lain, hingar bingar kehidupan glamour kota berlalu saja di tengah-tengah kemiskinan yang merajalela. Hampir setiap detik di jalan-jalan kota disesaki dengan mobil-mobil mewah dan mal-mal besar tak pernah sepi dari pengunjung berdompet tebal. Sangat timpang sekali, dua buah kondisi sosial yang kontras antara senang dan susah, kenyang dan lapar, sengsara dan bahagia saling bersanding dalam kehidupan tanpa ada kepedulian.

Masjid-masjid berdiri megah dengan lampu-lampu berpendar setiap malamnya, dengan alunan-alunan bacaan al-Qur’an yang merdu sedang di depannya para pengemis berjejer antri menunggu jama’ah datang dengan berharap uluran tangan, di sampingnya ribuan keluarga miskin berdesakan di rumah reot dengan dinding dan atap papan bekas.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwasannya Rasulullah SAW bersabda: “Pernah ada seorang laki-laki berjalan kemudian kehausan, maka ia turun ke dalam sumur untuk meminum airnya. Saat ia keluar, ada seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya menjilati embun karena kehausan. Maka laki-laki itu berkata: “anjing ini telah merasakan kehausan sedemikian rupa seperti yang aku alami”. Kemudian laki-laki itu mengisi sepatunya dengan air dan memberikan minum kepada anjing, dan bersyukur kepada Allah. Maka Allah kemudian memberi ampunan kepada laki-laki tersebut”. Para Sahabat berkata: ”Ya Rasuluulah, apakah kita juga akan mendapatkan pahala karena binatang?” Nabi SAW menjawab: ”Setiap daging yang tumbuh terdapat pahala”.

Dan Imam Bukhori meriwayatkan dari Abu Hurairah RA dari Nabi Muhammad SAW bersabda: “Pernah seorang wanita disiksa karena kucing yang dikurungnya hingga mati, lalu wanita itu masuk neraka. Allah akan mengatakan kepada wanita itu di hari kiamat; “Mengapa engkau tidak memberinya makanan dan minuman saat engkau mengurungnya? Tidak pula engkau melepaskannya sehingga kucing itu memakan serangga-serangga bumi”.

Dari ayat diatas, bahwa sikap kepedulian terhadap hewan dapat menjadikan seseorang masuk surga, begitu sebaliknya orang yang menyiksa hewan akan masuk ke dalam neraka. Terlebih lagi jika mempunyai kepedulian terhadap sesama manusia, karena manusia adalah makhluk yang paling mulia diantara makhluk Allah.

Allah berfirman: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang Kami ciptakan ” (QS. Al-Isra’ [17]; 70)

Dalam UUD 1945, kesejahteraan warga negara adalah tanggung jawab pemerintah. Tapi, ketika pemerintahan disibukkan dengan permasalahan-permasalahan dirinya dan tidak berdaya untuk melakukan perbaikan-perbaikan sosial, maka keikutsertaan kita dalam membangun kesejahteraan warga negara adalah sangat diperlukan. Terlebih ketika agama Islam mewajibkan setiap umatnya untuk saling peduli dengan sesama, bahkan antar umat beragama.

Meningkatkan Kepedulian Sosial

Mari kita buang jauh-jauh citra buruk orang-orang miskin, bahwa mereka kotor, kumal, suka membuat kerusakan, dan prasangka buruk lainnya karena pada dasarnya semua itu adalah bentuk dhohiriyah (fisik) semata. Dengan hilangnya citra buruk tersebut, kita akan mudah mendekati mereka sehingga akan terjalin komunikasi yang baik. Dengan seperti itu, kita akan tahu permasalahan-permasalahan apa saja yang mereka hadapi, kemudian kita dapat menolongnya dengan dan tepat. Apakah BLT dan bantuan lainnya yang tanpa dikontrol dengan tepat akan memecahkan masalah kemiskinan? Belum tentu. Karena setiap individu orang mempunyai permasalahan berbeda-beda dengan kemiskinannya. Dan sebaik-baik bantuan adalah bimbingan dan kepedulian orang-orang terdekat mereka yaitu saya, Anda, kalian, dan kita semua, khususnya kita sebagai seorang muslim. Semoga Allah menjadikan kita sebagai golongan hamba-Nya yang peduli dengan sesama terlebih kepada golongan masyarakat yang membutuhkan pertolongan dan bantuan. Amien.
Diterbitkan di Buletin al-Huda 17 Juli 2009

No comments: