Sunday, November 29, 2015

Perjalanan Seekor Semut

Diterjemahkan dari cerpen "Rihlatun Namlati"
karya Abdullah bin Ali Sa'd.
"هذه القصة مترجمة من قصة "رحلة النملة
التأليف عبد الله بن علي السعد

Rabi’ sering mendengar siapa pun yang lalai dan mendekati jalan itu, lantas ia hilang. Namun kehidupan tidaklah berhenti dengan hilangnya satu nyawa bahkan hingga banyak. Dan semut tidak memikirkan dirinya sendiri. Setiap hari kelompok semut kembali dan berkurang sebagian anggotanya. Namun tidaklah menjadi persoalan, karena  selalu ada semut-semut lain yang dilahirkan untuk menggantikan semut-semut yang hilang. Yang terpenting pada akhirnya setiap semut menjalankan peranannya dalam kelompoknya.

Rabi’ berhenti untuk mengeringkan keringat dalam keceriaan, dan ia melihat kawanan semut bergerak dengan giat. Cuacanya panas, namun angin dingin yang semilir menepis rasa itu. Sebagaimana kebahagiaan dalam pekerjaan memberikan dorongan pada kelompok semut untuk terus meningkat, dan mengatasi rintangan. Rabi’ kembali pada lamunannya. Berapa banyak yang menyukai pekerjaan dan bergembira dengannya, dan kehidupan yang teratur dalam kelompok terasa nilainya. Rabi’ berhenti kedua kalinya. Ia mengangkat secuil gula dari atas bumi dan dengan semangat ia bergerak ke tempat tinggalnya. Para semut saling berlomba untuk memberikan lebih banyak dalam pengumpulan makanan untuk musim dingin yang ektrim. Rabi’ mendengar seruan pimpinannya, memperingatkan kedekatan jarak mereka dari jalan manusia. Ia hanya tersenyum tanpa menoleh. Ya, manusia memang berbahaya tapi semut merupakan sesuatu yang berbeda. Betapa besar kecintaan pada kaumnya dan ia membantu dengan pengorbanan untuk mereka. Rabi’ sampai pada tempat khusus untuk menyimpan makanan dan ia meletakkan secuil gula lalu kembali dengan cepat. Hari mulai siang dan bersama itu dengan cepat ia membawa lebih besar dari ukuran yang ia mampu. Dalam dunia semut tak ada satu pun yang menyeru pada kemalasan. Oleh karena itu dengan semangat mereka bebas bergerak ke sana kemari mencari secuil gula atau daun-daun pohon, sayap belalang, atau apa pun yang bisa dimakan.

Tanpa disadari Rabi semakin dekat dengan jalan raya, dimana kendaraan manusia berlalu-lalang. Keheningan dipatahkan oleh suara kendaraan yang berlalu-lalang dengan cepat. Di antara satu saat dan saat lainnya, tanah bergetar karena pantulan kendaraan yang memotong jalan semut dan pengangkat debu-debu di atas mereka. Rabi’ sering mendengar, siapapun yang lalai dan mendekati jalan itu akan hilang. Namun hidup tak akan berhenti dengan hilangnya satu bahkan banyak semut. Semut tidaklah memikirkan dirinya sendiri, tiap harinya kelompok semut kembali dan berkurang sebagian anggotanya. Namun hal itu tidaklah menjadi persoalan. Selalu ada semut-semut lain yang dilahirkan untuk menggantikan semut yang hilang. Pada akhirnya setiap semut melaksanakan peranannya dalam kelompoknya.

Rabi’ mencium bau makanan. Bau itu samar menandakan ia tidaklah dekat dengannya. Namun tidak ada yang mustahil dalam kamusnya. Ia akan pergi dengan cepat dan mengambil potongan makanan yang jauh itu. Itu merupakan rejeki yang harus membahagiakan semuanya. Tanah bergetar pelan menandakan di sana ada kendaraan yang akan datang. Tapi mungkin ia akan pergi dengan cepat dan sampai pada tujuannya sebelum sampainya kendaraan itu, kemudian ia akan kembali. Akhirnya Rabi’ mempercepat langkahnya dan menyeberang jalan dengan cepat. Waktu berjalan sangat lamban. Dan tanah semakin bergetar menandakan sebuah kendaraan telah dekat dengannya. Di sisi lain ia merasa jarak itu lebih jauh dari yang ia kira. Ia merasakan ketakutan untuk pertama kali dalam hidupnya dan ia teringat pada teman masa kecilnya, Samiir yang hilang dalam perjalanan kerja dan tiada kembali ke rumahnya. Ketika itu semua mengatakan, hilangnya Samiir saat berusaha melewati jalan itu.

Ia terus mendekat ke tepi jalan dan kendaraan itu mendekat dengan cepat. Ia merasakan waktu bertambah berat. Dan langkahnya semakin melambat. Tiba-tiba ia tidak merasakan pijakan tanah di bawahnya. Dengan tekanan angin yang dihasilkan cepatnya laju kendaran, ia merasa terbang karena kerasnya benturan Rabi’ dengan karet di kendaraan. Ia tetap tergantung di karet itu dengan keterbatasan tenaganya. Lalu angin menggeleparkan Rabi’ tatkala kendaraan itu berbelok. Ia merasakan capek, dan diam dalam ketidaksadaran.

Rabi’ tidak tahu sudah berapa lama waktu berjalan, dan ia masih belum sadar. Namun tatkala ia mulai sadar fajar hampir terbit. Ia merasakan tulang belulangnya telah remuk. Dan kepalanya terasa sakit. Bersama dengan itu ia mulai bergerak. Ia berhenti dan mulai bergerak lagi berusaha mengetahui tempat ia berada. Ia berharap bisa sampai pada tempat tinggalnya dan kaumnya. Udara membawakan bau semut yang tidak biasa kepadanya. Namun pada akhirnya aroma semut juga. Itu artinya ada kehidupan semut tak jauh darinya. Rabi’ terus mengikuti aroma itu hingga sangat dekat dengannya, lalu ia merasakan detak jantungnya lebih cepat. Apakah mereka akan mengetahuinya? Dan apa yang akan terjadi jika mereka menolak pertemuannya dengan mereka. Pikirannya terhenti oleh suara yang datang dari sisi yang dekat. Sebelum ia menoleh untuk menyatakan suara itu ia merasakan gerakan yang cepat di sekitarnya lalu ia menoleh dengan cepat tapi sebuah pukulan kuat mendarat di kepalanya, menghilangkan kesadarannya kedua kalinya. Maka ia terkapar dalam pingsan yang lama.

Rabi’ bangun, ia kesakitan dan merasakan seretan yang sangat kuat. Ia terikat dengan kuat. Dan di sekitarnya beberapa tentara semut berdiri menjaganya. Ia berusaha bergerak namun tidak bisa. Seorang tentara mendekatinya dan tersenyum penuh kebencian kemudian dia menampar wajah Rabi’ dengan kuat. Rasa letih tiba-tiba hilang namun ia merasakan kegetiran dan hampir menangis, tapi ia menahannya dan dalam diam ia melihat penjaganya. Ia mendengar suara yang menyuruh mereka melepaskan ikatannya, maka dengan cepat tentara itu melepaskannya lalu berhentilah seekor semut yang nampaknya ia adalah pemimpin pasukan tentara itu.

“Dengar wahai tawanan, siapa namamu?”

“Namaku Rabi’”

“Dari mana kau datang?”

“Dari lembah kuning”

“Jarak yang jauh dari sini. Kenapa kau datang ke sini dan bagaimana kau sampai di sini?”

“Aku sampai di sini sewaktu melewati jalan, dan kendaraan manusia membawaku jauh dari kaumku”

“Aku harap aku bisa mempercayaimu. Tapi aku tahu, bahwa kau datang ke sini untuk memata-matai kami”

“Tidak benar. Semua ini karena sebuah kendaraan yang membawaku jauh dari kaumku”. Rabi’ menolak dengan cepat.

“Jangan mengingkari kekurangajaran ini. Kau tawanan kami”

Rabi’ ingin menolaknya tapi ia tetap diam. Maka pemimpin semut itu berbicara lagi.

“Kamu akan menjadi tawanan kami. Dan kamu akan bekerja mengumpulkan makanan” Kemudian ia mengingatkannya dengan isyarat tangan, “Tentu dengan pengawasan. Dan usaha apapun untuk melarikan diri, kami akan membunuh dan memakanmu”. Lalu ia tertawa terbahak-bahak. “Paham?”

“Rabi’ menganggukkan kepalanya dalam kebisuan”

“Baik. Sekarang pergilah ke halaman. Kau muda dan kuat. Banyak yang akan menantimu”.

Rabi’ keluar dengan penjagaan dan letih meliputinya. Ia tidak berkata apa-apa, karena ia merasa, berbicara dengan mereka tak akan membuahkan hasil. Mulailah kehidupan Rabi’ yang baru. Ia merasakan kebiadaban di sekitarnya. Ia sangat terkejut. Masuk akalkah terjadi kebiadaban di kerajaan semut tanpa ia ketahui? Namun ia bukanlah satu-satunya tawanan mereka. Tapi tiba-tiba ia terkejut setelah bertemu dengan teman seusianya Samiir yang juga menjadi tawanan di sana. Samiir telah banyak berubah, ia menjadi semut yang kurus. Rabi’ merasakan bahwa temannya itu berjalan meski tubuhnya kurus. Ia juga tidak lupa hari itu Samiir terlalu lelah. Maka Rabi’ berkata pada pasukan semut untuk membebaskannya. Namun mereka membalasnya dengan olok-olok dan hinaan. Ungkapan-ungkapan itu; “Yang lemah tidak berhak hidup”, “Tak ada gunanya kami mengobatinya karena ia lemah” dan ungkapan-ungkapan sejenisnya. Setiap Rabi’ berusaha untuk membebaskan temannya, dengan cepat mereka membedakan perbedaan kehidupan tanpa belas kasihan, ketika meninggalkannya. Dan dengan cepat Rabi’ mulai berubah tanpa ia menyadarinya.  Rabi’ diam dalam lamunan. Kesedihan yang menyelimuti wajahnya menjadikannya tampak lebih tua, menjadi raut wajah Rabi’.

“Wahai tawanan!”

“Rabi’ menoleh tanpa menjawabnya”.

“Kenapa kau tidak menjawab?”

“Apa yang aku katakan?”

Pembesar semut menampar telinganya hingga ia merasakan sakit. Dan suara dengung dirasakannya berputar-putar. Kemudian semut itu berkata.

“Sepertinya kau mulai mengingkari perintah”

“Perintah apa? Aku belum bicara apa pun. Kenapa. Kenapa semua ini?”

Pembesar semut marah dan mendekati Rabi’, lalu menjinjingkan dadanya. “Dengar wahai tawanan, kau membuat aku mengendalikanmu”

Rabi’ memberanikan diri dan mejawabnya dengan tenang. “Aku adalah semut sepertimu. Kenapa kau mengendalikanku?”

“Kamu bukanlah sepertiku. Kau lemah, tak bernilai. Tapi aku kuat dan besar”

“Setiap kita adalah semut pekerja wahai kawan. Apa beda antara kau dan aku?”

“Perbedaannya adalah kau tawanan”

“Siapa yang menawanku? Saudaraku? Dari kulitku sendiri?”

“Aku bukanlah saudaramu. Kau musuhku. Kau datang keduniaku sebagai mata-mata”

“Tidak. Cobalah keluar dari pemikiran ini. Aku datang ke sini karena sebuah peristiwa, tak lebih dari itu. Dan aku menyukai hidup dalam ketenangan”.

“Tak ada tempat bagimu, kecuali sebagai pembantu”

“Semut tidak mengenal istilah ini. Kita telah belajar untuk hidup di tempat kita, karena tempat kita. Tidak ada beda. Setiap kita pada akhirnya membantu umat kita”

Tawa pembesar semut itu meninggi. Matanya mulai memerah. “Ini hanyalah falsafah”.

“Ini adalah kenyataan. Kita bisa hidup dalam kedamaian dan kasih sayang. Dan saling melengkapi antara satu dan lainnya”

“Kamu tidak melengkapiku dalam apa pun. Dengar, aku peringatkan. Kalau kau lanjutkan, kau akan kubunuh”.

“Pada akhirnya kau saudaraku”

“Tidak. Aku bukan saudaramu”

“Lalu apa”


Pembesar semut itu marah dan berteriak pada semut-semut lain. “Pukul dia!”. Ribuan tangan mulai memukuli Rabi’. Ia tidak berusaha melawannya karena ia tak akan mampu. Ia disibukkan dengan pikiran dunianya dan Samiir. Kemudian ruhnya mengalir dengan tenang untuk bertemu dengan ruh-ruh temannya. Bersama dengan perjalanan itu, diperintahkan kepada tentara semut-semut untuk membawanya pada penyimpanan makan, sebagai persiapan musim dingin.