Sunday, November 11, 2012

Pertemuan Tiga Sahabat (Sebuah esai foto)

Entah bagaimana awal kami bertemu, yang paling saya ingat adalah pertemuan pertama dengan Habib Hidayat. Dulu, tujuh tahun yang lalu ketika kami tinggal di Asrama UIN Malang, di sore hari sewaktu pulang dari kampus, tiba-tiba seseorang nyelonong menyalami aku, lalu memohon dengan melas sekali meminjam uang sebesar 15 ribu. Ya itulah awal pertemuanku dengan Habib Hidayat. Kemudian adalah Riza Multazam Luthfi, awal mula bertemu saya tidak begitu ingat. Yang jelas, di semester tiga kami mencintai seorang gadis yang sama.

Dan yang menggelikan kami pernah menraktir gadis itu di waktu yang sama pula. Kami bersaing dengan sehat dan sportif, namun ending cerita, kami berdua ditolak juga. Hanya saja aku yang lebih lama bertahan mendekati gadis itu. Dua orang tersebut adalah orang-orang yang menurutku memiliki karakter kuat, dan perjalanan hidup yang khas. Habib misalnya, dalam perjalanan hidupnya ia selalu mengalir, dilahirkan dari keluarga buruh tani membuat hidupnya selalu tidak terduga.

Dari sekolah hingga lulus kuliah, dia tidak dibiayai oleh orang tuanya tapi ada saja rejeki yang membuatnya bertahan hingga selesai kuliah. Pada titik nol rejeki dia pernah empat hari tidak makan nasi, tapi hanya minum air putih. Itu pun air kran dari tandon asrama UIN Malang. Dia juga banyak mengalami peristiwa-peristiwa ajaib dalam hidupnya yang unik. Ia selalu pasrah dan tawakkal kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Sedang Riza adalah pekerja keras. Sifat kerja kerasnya membuat saya geleng-geleng kepala. Di awal-awal kuliah dia menjadi pedagang kaki lima di kampusnya sendiri, UIN Malang. Barang-barang yang dijualnya adalah pin, gelang, jepit rambut, dan assesoris lainnya. Setiap jam kosong, ia menggelar tikar di depan kampus dan menunggu dagangannya. Yang tak lupa ketinggalan ialah ia sambil menunggu dagangan, ia selalu membaca buku. Ia tidak peduli dengan penampilannya. Kuliah dengan sepeda balap di sana-sini karatan, gearnya kering tidak pernah diolesi pelumas. Dan mode bajunya jadul banget, seperti tahun 70an.

Saya, Habib, dan Reza adalah orang-orang yang suka menulis. Keduanya menyukai menulis berawal ketika aku pameri puisiku yang terbit di Malang Post sekitar tahun 2008. Namun ajaibnya keduanya sudah memiliki karya yang bagus dari pada saya. Habib sudah menerbitkan dua Novel, dan tulisan Reza berupa puisi, cerpen, resensi, dan esai sudah dimuat di beberapa koran lokal maupun nasional. Hanya aku yang masih terbata-bata berusaha menulis dengan baik. Kampus UIN Malang yang mempertemukan kami bertiga. Tujuh tahun yang lalu kami awal bertemu, menjalani hari-hari suka duka bersama-sama. Hal itulah yang menyebabkan hingga saat ini kami masih mempunyai ikatan emosional yang kuat, meskipun tempat kami berjauhan antara satu dengan lainnya.

Pada tanggal 4 November kemarin saya berkesempatan untuk mengunjungi rumahnya Riza di bojonegoro, lalu kami berdua mengunjungi rumahnya Habib di Blora Jawa Tengah. Saya berangkat dari Nganjuk sendiri berbekal satu kamera poket digital dan banyak berharap mendapatkan gambar yang bagus selama perjalanan. Karena perjalanan ke Bojonegoro dan ke Blora melewati hutan jati yang tak terkira luasnya. Bepergian sendirian berbekal kamera cukup sulit mengoperasikan kamera. Dan saat itulah saya merasakan pentingnya tripot sebagai pelengkap kamera. Sejak keberangkatan saya selalu memikirkan bagaimana saya mencari angle yang baik dengan tanpa tripot. AKhirnya ketika saya mulai memasuki hutan Rejoso dan melewati sebuah sungai kecil dengan pagar jembatan saya berhenti, lalu meletakkan kamera di atas beton pagar jembatan dan mencoba membidik satu gambar. Hasilnya cukup bagus.
Foto1. Memasuki hutan Rejoso mencoba eksyen dengan bantuan tripot beton pagar jembatan.

Perjalanan saya lanjutkan, menikmati perjanan dengan kanan-kiri pohon jati, semak belukar, sungguh nikmat rasanya. Berkali-kali saya hirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan merasakan alam menyatu dengan diri saya. Namun tak selang beberapa menit saya melewati hutan gundul, saya pun berhenti dan mengucapkan duka kepada batang-batang sisa penebangan liar. Saya tak melihat seorang pun di situ, akhirnya saya mencari tempat berteduh, yaitu sebuah guduk yang berada di tengah gundulnya hutan. Di gubuk itu saya duduk sebentar dan mendapatkan batang pohon untuk  kujadikan tripot alam.
Foto 2. Berteduh dari hutan gundul.

Seusai menyaksikan kekejaman manusia pada alam, saya melanjutkan perlanan memasuki pepohonan lebat saya pelankan laju vespa, saya pandangi daun-daun hijau yang membayangiku. Kutatap landai antara bukit satu dan lainnya, jalan yang naik turun dan berbelok-belok membuat perjalanan semakin tak terasa.

Tanpa sengaja sebuah ketika menoleh ke kiri aku melihat gubuk di atas gundukan yang menarit untuk berfoto. Saya pun mengerem dan mengunjungi gubuk itu. Saya melihat posisi gubuk di atas bukit yang tak memungkinkan mendapatkan tripot dari alam. Maka aku panggil beberapa anak di seberang jalan untuk memotretkan. Ketiga anak itu datang dan secara singkat aku ajari bagaimana berfoto. Dan dengan itu aku bisa mendapatkan beberapa foto yang bagus di gubuk itu.
Foto3. Anak-anak pun bisa memotret dengan baik.

foto4. Dengan salah satu anak.

foto5. Dua ribuan untuk jasa memotret. hehehe

Setelah sampai pada tepi jalan yang datar, saya menjumpai sekuteris lain yang mengendarai vespa otopet, yang tak lama kemuadian ia berhenti dan aku pun berhenti juga untuk melepas sedikit lelah. Kami berkenalan dan berbincang seputar acara-acara reuni para skuteris. Ia dari Kediri menuju ke rembang dengan vespa itu. Satu vespa sejuta saudara, dan saya baru saja mendapatkan saudara baru saat itu. Setelah dirasa cukup, kami lanjutkan perjalanan.
foto 6. Ngobrol sesama penyuka Vespa.

foto 7. melanjutkan perjalanan.

Di percabangan antara arah ke Dander dan Sugihwaras kami berpisah aku meneruskan perjalanan ke Kebalen tempatnya Riza. Sedangkan kenalan baru belok ke kiri ke arah Rembang. Sampai di sebuah desa kecil Tiba-tiba hujan lebat turun, saya terpaksa berteduh di warung kecil dan memesan teh hangat.
Foto 8. Berteduh di kedai kecil

Setelah hujan reda, saya melanjutkan perjalanan hingga sampailah di rumah Reza, di Kebalen Bojonegoro. Waktu yang ideal jarak antara Nganjuk ke Bojonegoro 2 jam, saya habiskan selama 4,5 jam. Ya, tak lain karena saya begitu menikmati perjalanan itu.
Foto 9. Di depan rumah Riza

Setelah istirahat satu jam, pada jam 5 sore saya dan reza meluncur ke Blora dengan motor bebek Revo. Sayang sekali vespa tidak diajak, karena sok belakang bengkok dan jika dikendarai berdua maka menggoser roda belakang. Selama ke Blora hujan, dan kondisi tidak memungkinkan mengeluarkan kamera. Dan yang lebih menyebalkan lampu motor riza mati diketahui saat hari sudah gelap. Akhirnya kami hanya bisa membuntuti truk yang menuju ke Blora hingga kami sampai ke rumah habib pukul 21.30.
foto 10. Jalan terjal menuju rumah Habib.

foto11. Di depan rumah Habib.

foto12. Kondisi jalan di depan rumah Habib.

Pagi-pagi di rumah Habib, kami bercengkerama, berbincang ke sana-kemari mengenang masa lalu, menceritakan kondisi masa kini, dan mengungkapkan apa yang ingin kami capai di kelak hari. Kami menuju ke tengah hutan yang menjadi sawah, bersama embun pagi kami menikmati kehangatan persahabatan.
Foto13. Aku, Habib, dan Riza.

Di siang hari, kami mengunjungi padepokan Sikep Samin, yaitu pusat orang-orang yang melakukan “Laku samin” di desa Kelopo Duwur Blora. Di sana kami bergabung dengan tamu dari Purwokerto. Diskusi dipimpin oleh tures (Garis keturunan) samin yang posisinya sebagai buyut yaitu pak Lasio. Diskusi di pendopo yang semilir anginnya itu berbicara mengenai sejarah, tokoh, dan laku samin.

Banyak sekali pelajaran yang kami ambil dari diskusi itu. Samin bukanlah ajaran atau agama, bukan juga kepercayaan. Samin adalah laku, yang menjunjung tinggi kebersamaan dan kasih sayang. Prinsip yang diterapkan oleh orang-orang samin adalah mereka tidak akan melihat kejelekan orang lain sebelum ia mampu melihat pribadinya sendiri.
foto 14. Diskusi di Padepokan samin, dengan tures garis keturunan kyai Pangkrek, pak Lasio.

Foto15. Di padepokan Sikep Samin di kelopo duwur Blora.

Foto16. Pak Lasio tures buyut keturunan Kyai Pangkrek.

Pada pukul satu siang kami meluncur kembali ke Bojonegoro, dan saya langsung kembali ke Nganjuk. Karena mamburu waktu kami tak sempat mengeluarkan kamera, di lain karena hujan turun di beberapa tempat.
Foto 17. Aku dan Nizam, putra Habib.

Foto 18. Anak-anak desa beringin Blora.