Sunday, June 9, 2013

Penelitian Stilistika Sastra

Penelitian Stilistika 
Puisi “Ada Tilgram Tiba Senja” karya Ws. Rendra


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Pendahuluan
Sebelum memiliki stilistika, bahasa dan sastra telah memiliki gaya (style). Gaya adalah segala sesuatu yang menyimpang dari pemakaian biasa. Penyimpangan tersebut bertujuan untuk keindahan. Keindahan ini banyak muncul dalam karya sastra, karena sastra memang sarat dengan unsur estetik. Segala unsur estetik ini menimbulkan manipulasi bahasa, plastik bahasa, dan kado bahasa, sehingga mampu membungkus rapi gagasan penulis. Manipulasi tersebut dinamakan gaya bahasa. (Endaswara; 2008:71).
Gaya bahasa sastra memiliki kekhasan, karena berbeda dengan bahasa yang digunakan sehari-hari. Disamping itu, wewenang sastrawan untuk keluar dari kaedah bahasa (licentia poetika) membuat gaya bahasa sastra semakin bebas membentuk karakter dirinya. Dengan adanya penggunaan bahasa pengarang yang khas dan kadang keluar dari kaeidah konfensional, maka penelitian tentang gaya bahasa sangat dibutuhkan guna mengetahui makna yang ingin disampaikan oleh pengarang.
Dari segi struktur, karya sastra dapat diteliti dengan beberapa metode, seperti semiotik yang meneliti simbol-simbol, semantik yang meneliti tentang makna, dan stilistika yang meneliti tentang gaya bahasa. Pada dasarnya semua penelitian karya sastra tersebut bertujuan untuk mengetahui makna karya secara total atau mendekati total.
Menurut Muhammad (1988:17-33) penelitian stilistika hendaknya sampai pada tingkat makna gaya bahasa sastra. Makna tersebut ada dua hal, yaitu makna denotasi (makna lugas) dan makna konotasi (kias). Kedua makna itu akan saling berhubungan satu sama lain. Pemaknaan keduanya perlu memperhatikan deskripsi mental dan deskripsi fisikal gaya bahasa. Deskripsi ini akan tampak melalui pilihan kata, yaitu ketepatan dan kesesuaian kosa kata. Pemakaian kosa kata yang tepat tentu akan mendukung keindahan karya sastra (Via Suwardi Endaswara; 2008:73).
Di sini penulis akan meneliti gaya bahasa puisi “Ada Tilgram Tiba Senja” karya Ws. Rendra dengan menggunakan teori metode puisi yang dikemukakan oleh Henry Guntur Tarigan. Puisi tersebut akan dikaji dari segi metodenya menggunakan analisis stilistika untuk mengungkap gaya bahasa puisi. Setelah gaya bahasa puisi diungkap, penulis akan meneliti fungsi dari gaya bahasa tersebut sebagai pembentuk makna.

B. Rumusan masalah
1.   Bagaimana gaya bahasa metode puisi Ada Tilgram Tiba Senja karya WS. Rendra?

C. Tujuan penelitian
1.   Mengetahui gaya bahasa metode puisi Ada Tilgram Tiba Senja karya WS. Rendra.

D. Manfaat Penelitian
1. Untuk mengetahui gaya pembangun metode puisi Ada Tilgram Tiba Senja karya WS. Rendra.

E. Metodologi penelitian
1.   Obyek penelitian
Obyek yang digunakan pada penelitian sastra ini adalah puisi yang berjudul Ada Tilgram Tiba Senja karya WS. Rendra.

2.   Batasan penelitian
Dalam penelitian sastra terdapat dua wilayah yang dapat diteliti. Wilayah tersebut adalah segi ekstrinsik dan intrinsik sastra. Dalam penelitian ini peneliti akan meneliti wilayah intrinsik sastra, yaitu meneliti ciri teks sastra dengan pisau analisis Metode Puisi menurut Henry Guntur Tarigan.

3.   Metode pengumpulan data.
Untuk pengumpulan data peneliti menggunakan data-data dalam puisi Ada Tilgram Tiba Senja yang berhubungan dan diperlukan sebagai data-data penelitian. Data-data tersebut dapat berupa kata, frasa, kalimat, bait, atau keseluruhan puisi.

4.   Metode penelitian
Penelitian puisi Ada Tilgram Tiba Senja ini menggunakan penelitian perpustakaan (library research) yaitu penelitian yang dilakukan di kamar kerja peneliti atau di ruang perepustakaan dimana peneliti memperoleh data dan inforamasi tentang obyek penelitiannya lewat buku-buku atau alat-alat audio visual lainya (Semi; 1990:8).

Adapun metode kerja pada penelitian ini menggunakan  metode kualitatif yaitu mengutamakan kedalaman penghayatan terhadap interaksi antar konsep yang dikaji secara empiris.




BAB II
LANDASAN TEORI

A. Stilistika
Stilistika adalah ilmu tentang gaya, sedangkan Stil (style) secara umum adalah cara-cara yang khas, bagaimana segala sesuatu diungkapkan dengan cara tertentu, sehingga tujuan yang dimaksudkan dapat dicapai secara maksimal (Nyoman; 2009:3). Secara bahasa stilistika berasal dari kata style yang berarti gaya. Penelitian stilistika sastra maksudnya meneliti tentang gaya bahasa sastra.
Menurut Suwardi Endraswara (2008:73) penelitian gaya bahasa dapat dilihat dari tiga aspek. Pertama, dari sudut penulis, dengan mempelajari kedalaman penulis dalam menampilkan gaya bahasa. Kedua, dilihat dari ciri teks sastra. Ketiga, gaya bahasa yang dihubungkan dengan kesan yang diperoleh pembaca, dan merupakan asumsi pembaca yang mengarah ke faktor resepsi.
Sedangkan Wellek dan Warren menyebutkan adanya dua kemungkinan pendekatan dalam penelitian stilistika. Pertama, dimulai dengan analisa sistematis tentang sistem linguistik karya sastra dilanjutkan dengan interpretasi tentang ciri-cirinya dilihat dari segi estitis untuk mengungkapkan makna secara total. Kedua, mempelajari tentang ciri-ciri yang membedakan sistem satu dengan lainnya dengan membandingkan keduanya. Bisa dimulai dengan mengamati deviasi-deviasi seperti pengulangan bunyi, inversi susunan kata, susunan hirerarki klausa yang semuanya mempunyai fungsi estetis seperti membuat penekanan dan membuat lebih jelas dan tajam atau kebalikannya yaitu fungsi mengaburkan dan membuat makna menjadi tidak jelas (Wellek dan Warren; 1995:226).
Adapun langkah-langkah nanalisis yang perlu dilakukan dalam kajian stilistika adalah sebagai berikut (Endraswara; 2008:75):
1. Pertama bisa menetapkan unit analisis, misalkan beberapa bunyi, kata, frase, kalimat, bait, dan sebagainya.
2.  Dalam puisi memang analisis dapat berhubungan dengan pemakaian aliterasi, asonansi, rima, dan variasi bunyi yang digunakan untuk mencapai efek estetika.
3.  Analisis diksi memang sangat penting karena ini tergolong wilayah kesastraan yang sangat mendukung makna dan keindahan bahasa. Kata dalam pandangan simbolis tentu akan memuat lapis-lapis makna. Kata akan memberikan efek tertentu dan menggerakkan pembaca.
4.     Analisis kalimat ditekankan pada variasi pemakaian kalimat dalam setiap kondisi.
5. Kajian makna bahasa juga perlu mendapat tekanan tersendiri. Kajian makna hendaknya sampai pada tingkat majas, yaitu sebuah figuratif language yang memiliki makna bermacam-macam.
Dari paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa kajian stilistika hendaknya sampai pada dua hal, yaitu makna dan fungsi. Makna dicari dengan penafsiran untuk mengetahui totalitas makna karya sastra, sedangkan fungsi dicari dengan meneliti fungsi stilistika dalam membangun karya. Penggunaan kata-kata dirancang oleh pengarang secara sengaja maupun tanpa sengaja untuk menimbulkan efek komunikasi sastra.

B. Metode Puisi Henry Guntur Tarigan
      Henry Guntur Tarigan (1991:28) mengutip Morris membagi metode puisi menjadi lima. Yaitu (1) Diksi, (2) imaji, (3) kata nyata, (4) majas, (5) ritme dan ritma.

1.  Diksi.
Diksi berarti pilihan kata. Daya pikir untuk membayangkan atau menciptakan gambar kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang. Pilihan kata dalam puisi sangat penting sekali, karena hal ini dapat mencerminkan ruang, waktu, falsafah, amanah, efek, dan nada puisi dengan tepat. Pemilihan kata tersebut dapat berupa kata-kata denotatif dan dapat berupa kata-kata konotatif. Kata denotatif adalah kata yang memiliki makna sebenarnya, sedangkan kata konotatif adalah kata kiasan.

2. Imaji
Imaji adalah daya bayang. Imaji dalam puisi bertujuan untuk membawa pembaca supaya membaca merasakan apa yang dirasaikan penyair yang dituangkan dalam sebuah puisi. Untuk membawa daya bayang pembaca kepada apa yang dirasakan penyair, penyair harus pandai memilih kata-kata yang tepat untuk memperkuat daya bayang pikiran pembaca.

3. Kata nyata
Kata nyata adalah kata yang kongkrit dan khusus, bukan kata yang abstrak dan bersifat umum. Pemilihan kata nyata sangat membantu penyair menyampaikan tujuan puisinya. Puisi tentang amarah akan lebih kongkret dan bisa membawa pembaca merasakan apa yang diinginkan oleh penyair jika pemilihan kata nyatanya kuat. Seperti kata membuncah, amarah, bedebah, benci, dan lain sebagainya.

4. Majas
Majas adalah kata kiasan. Dengan kata kiasan atau majas, penyair akan lebih mudah menjelaskan sesuatu kepada pembaca. Yaitu dengan persamaan, perbandingan, maupun kata-kaya kias lainnya. Kiasan juga menjelaskan hal-hal yang bersifat abstrak menjadi kongkrit.

5. Ritme dan rima
Ritme adalah irama. Dalam kepustakaan Indonesia ritme atau irama adalah turun naiknya suara secara teratur. Sedangkan rima atau sanjak adalah pengulangan bunyi yang berselang, baik di dalam lirik sajak, maupun pada akhir larik sajak yang berdekatan. Ritme dan rima sebuah puisi erat sekali hubungannya dengan rasa, suara, dan makna.

Ada beberapa jenis rima antara lain menurut posisinya yaitu rima awal dan rima akhir. Menurut susunannya rima juga dibagi menjadi rima berangkai, rima berselang, rima berpeluk.




BAB III
PEMBAHASAN

Penelitian puisi Ada Tilgram Tiba Senja karya WS Rendra ini akan dianalisis dengan analisis stilistika dikaji secara beruntut bait perbait dengan pisau analisis metode puisi yang dikemukakan oleh Henry Guntur Tarigan.

Seperti yang sudah dikemukakan di depan, bahwa penelitian stilistika mempunyai dua tujuan, yaitu meneliti gaya bahasa kemudian dari gaya bahasa itu dilanjutkan dengan meneliti fungsinya sebagai pembangun makna dalam karya sastra. Demikian dengan penelitian ini, akan diteliti terlebih dahulu gaya bahasa puisi yang kemudian diteliti fungsi gaya tersebut dalam pembentukan makna.

(1)
(Ada tilgram tiba senja
Dari pusar kota yang gila
Disemat di dada bunda)

Pada bait pertama, kata senja bisa menjadi denotasi dan konotasi. Sebagai denotasi ketika tilgram atau kabar yang datang benar-benar di waktu senja. Sedang sebagai konotasi, jika kata senja tersebut menjadi makna hari tua bagi sang ibu. Pemilihan kata senja membawa imaji pembaca bahwa kabar tersebut tiba setelah penantian lama.

Pusar kota, sebagai tempat berasalnya tilgram merupakan metafor. Pusar cekungan di tengah dinding perut bekas tali pusar dimanfaatkan oleh penyair untuk mengungkapkan tengah-tengat kota atau pusat kota. Kata gila untuk menyifati pusat kota juga merupakan metafor. Gila mencerminkan keruwetan dan carut marutnya kehidupan kota. Setelah kabar tersebut datang lalu disemat di dada bunda. Disemat berarti ditempel. Pemilihan kata semat menggambarkan betapa kabar tersebut benar-benar dirindukan ibu dan membuatnya bahagia.

Dari bait pertama kita dapati kata-kata nyata yaitu senja, pusar dan semat. Kata-kata tersebut sekaligus menjadi majas yang mengukuhkan kedalaman makna. Rima akhir yang berupa huruf vokal “a” menjadikan ringan diucapkan dan membawa kesan yang riang. Seperti pada yang bertulis miring di bawah.
(Ada tilgram tiba senja
Dari pusar kota yang gila
Disemat di dada bunda)

(2)
(Bunda, letihku tandas ke tulang
Anakda kembali pulang)

Pada bait kedua, Point of view (sudut pandang) beralih ke anak. Pada bait pertama pencerita adalah “dia”, sedangkan pada bait kedua pencerita berganti menjadi si Anak, yaitu sebagai isi telegram yang tiba. Kata letih, tandas dan tulang merupakan kata nyata. Tandas ke tulang merupakan metafor yang berarti lelah sekali sekali. Letih tandas ke tulang membawa imajinasi pembaca pada kehidupan yang melelahkan, dan alasan tersebutlah yang membuat si anak akan pulang. Pada baris pertama bait ke dua kita dapati rima awal, yaitu pada yang tertulis miring “Bunda, letihku tandas ke tulang”.

(3)
Kapuk randu! Kapuk randu!
Selembut tudung jenawan
Kuncup-kuncup di hatiku
Pada mengembang bermekaran.

Konstruksi pantun dipakai penyair pada bait ketiga. Dua baris pertama sebagai sampiran, dan dua baris terakhir sebagai isi. Dan seperti bentuk pantun yang konvensional yaitu berima abab. Kuncup dihati yang bermekaran merupakan kalimat metafor, sebagai makna sesungguhnya yaitu kebahagiaan yang besar. Kata kuncup sebenarnya identik dengan bakal bunga. Di sini penyair memanfaatkan kuncup bunga yang mulai mekar karena berkembang sebagai sebuah hati yang kedatangan kebahagiaan. Dari segi subjek, pada bait ketiga beralih kepada yang berbahagia, yaitu ibu. Dengan pulangnya anak yang sedang mengembara, maka ibu menjadi bahagia. Adanya tanda kurung pada bait satu dan dua, saya mengindikasikan dua bait tersebut menjadi latar belakang dari puisi ini, karena pada bait-bait selanjutnya yang menjadi subjek puisi secara konsisten adalah ibu.

(4)
Dulu ketika pamit mengembara
Kuberi ia kuda bapanya
Berwarna sawo muda
Cepat larinya
Jauh perginya.

Pemilihan kata mengembara dan kuda merupakan kata nyata. Mengembara berkuda akan mencitrakan makna pengembaraan ke daerah yang sangat jauh dan bisa menempuh daerah-daerah yang sulit pun. Pada bait keempat terdapat pengulangan susunan hireraki klausa sebab akibat yang diagramatik. “Cepat larinya/ Jauh perginya”, klausa ke dua sebagai akibat dari klausa pertama, jika cepat perginya, maka besar kemungkinan jauh perginya juga. Setelah ibu berbahagia pada bait ketiga, pada bait keempat tema pembicaraan beralih ke nostalgia masa lalu. Hal tersebut wajar, karena seseorang ketika kedatangan kebahagiaan dengan sebuah perjumaan, maka ia akan teringat saat-saat perpisahan yang mengharukan.

(5)
Dulu masanya rontok asam jawa
Untuk apa kurontokkan airmata
Cepat larinya
Jauh perginya.

Pada bait kelima, ada inversi atau pembalikan letak kata pada “Dulu masanya rontok asam jawa” yang seharusnya dulu masanya asam jawa rontok”. Hal itu mencerminkan tekanan pada kata rontok yang diletakkan di muka kalimat yang diterangkannya sebagai kiasan rontoknya air mata yang berarti jatuhnya air mata pada baris setelahnya. Pengulangan susunan hirerarki klausa sebab akibat yang diagramatik juga terjadi pada dua baris terakhir. Setelah ibu berpisah dengan anak, yang memeakai kuda bapanya, maka tak terelakkan kesedihan merundungnya.

(6)
Lelaki yang kuat biarlah menuruti darahnya
Menghujam ke rimba dan pusar kota

Lelaki, kuat, darah, hujam, rimba, dan pusar merupakan kata nyata. Pemilihan kata-kata tersebut mendukung makna yang mengarah pada seorang lelaki. Menuruti darah adalah kalimat metonimi. Darah berarti hati, tempat dimana keinginan timbul dan muncul. Begitu juga menghujam, berarti menancap. Hal itu membawa imaji pembaca akan kekuatan si lelaki saat berkelana di rimba maupun di kota. Setelah kesedihan melanda ibu, ia mencoba melipur hatinya dengan mengembalikan pada sifat tabiat lelaki, yaitu mengembara. Dengan mengembalikan setiap sesuatu pada sifat asalnya, maka kerelaan akan lebih mudah dibangun.

(7)
Tinggal bunda di rumah menepuki dada
Melepas hari tua, melepas do’a-do’a
Cepat larinya
Jauh perginya.

Pada bait ke tujuh, kata nyata kita dapati pada menepuk dan melepas. Menepuki dada merupakan majas. Dimaksudkan makna sesungguhnya yaitu berusaha mengikhaskan kepergian putranya. Pada baris kedua terdapat pengulangan pola susunan kalimat, “melepas hari tua/melepas do’a-doa” itu membawa imaji pembaca bahwa benar-benar dihabiskannya usia di rumah dan selama itu bunda selalu berdo’a untuk anaknya yang sedang mengembara. Rima akhir “a” masih mewarnai pada bait ke tujuh begitu juga pengulangan klausa sebab akibat yang diagramatik pada dua baris terakhir seperti bait-bait sebelumnya.

(8)
Elang yang gugur tergeletak
Elang yang gugur terebah
Satu harapku pada anak
Ingat ‘kan pulang ‘pabila lelah.

Konstruksi pantun digunakan lagi oleh penyair pada bait kedelapan. Namun demikian dua sampiran di atas masih mempunyai korelasi dengan dua baris isi. Elang yang gugur tergeletak dan terebah mempunyai korelasi dengan kelelahan si anak. Setelah anak tersebut lelah yang bagai elang yang gugur tergeletak dan terebah, ibu berharap ia ingat akan pulang. Kata tergeletak dan terebah menggiring imaji pembaca untuk merasakan kelemahan dan ketidakberdayaan, dan hal itu untuk mendukung kata lelah yang disandarkan pada anak yang mengembara. Setelah lama berpisah, kerinduan akan perjumpaan dengan kepulangan anak ke rumah tak terelakkan lagi.

(9)
Kecilnya dulu meremasi susuku
Kini letih pulang ke ibu
Hatiku tersedu
Hatiku tersedu.

Rima akhir “u” membawa kesan mengharukan. Dan sebagaimana pada bait-bait sebelumnya, pengulangan kalimat membentuk irama dan membentuk kekuatan makna. Di saat anak akan pulang ibu pun teringat dengan masa lalu, masa saat anaknya kecil dulu.

(10)
Bunga randu! Bunga randu!
Anakku lanang kembali kupangku.

Pada bait ke sepuluh pola pantun juga digunakan oleh penyair. Satu baris pertama sebagai sampiran dan satu baris berikutnya menjadi isi. Pengulangan klausa “bunga randu!” pada sampiran dimaksudkan untuk membangun irama bahagia saat anak bunda kembali pulang. Selain itu penggunaan kata jawa “lanang” pada kalimat “Anakku lanang” memberikan kesan kasih sayang kepada anak lelakinya. Anakku lanang lebih mengandung unsur kasih sayang dari pada kata anakku lelaki.

(11)
Darah, oh, darah
Ia pun lelah
Dan mengerti artinya rumah

Kata darah untuk menyebut anaknya yang diucapkan oleh seorang ibu membawa makna kedekatan dan keeratan, sebagaimana sebutan untuk anak kandung dengan kata darah daging. kalau kita baca pengulangan kata darah pada baris pertama bagai menimang nimang seorang bayi. Di sinilah si penyair memanfaatkan nada sebagai penguat makna, betapa ibu mempunyai kasih sayang kepada anaknya.

(12)
Rumah mungil berjendela dua
Serta bunga di bendulnya
Bukankah itu mesra?

Bait ke dua belas merupakan deskripsi dari rumah pada bait sebelumnya. Rima akhir “a” membawa suasanya ceria dan bahagia. Rumah mungil berjendela dua menjadi mesra tatkala anak lelaki datang dari petualangan. Tanda tanya pada baris terakhir, mengajak pembaca untuk memikirkan sejenak hakikah kebahagiaan. Meski rumah kecil berjendela dua, kalau diisi dengan keluarga yang saling menyayangi tentu akan berarti.

(13)
Ada podang pulang ke sarang
Tembangnya panjang berulang-ulang
-pulang ya pulang, hai petualang!

Tekanan bunyi paduan antara suara vokal “a” dengan bunyi-bunyi suara sengau “ng” menjadi rima akhir “ang” pada bait ke tiga belas membentuk nada riang dan bahagia saat diucapkan. Kalimat podang pulang ke sarang sebagai majas seorang laki-laki yang pulang ke rumah. Dengan pulangnya anak ke rumah, maka diliputi kebahagiaan yang oleh pengarang diungkapkan dengan tembang panjang yang berulang-ulang.

(14)
Ketapang. Ketapang yang kembang
Berumpun di dekat perigi tua
Anakku datang, anakku pulang
Kembali kucium, kembali kuriba.

Pada bait terakhir, pola pantun digunakan lagi oleh penyair. Dua baris atas merupakan sampiran dan dua baris ke dua merupakan isi. Terdapat pula pengulangan-pengulangan yang dimaksudkan memberi tekanan pada arti, selain sebagai pembentuk irama pada puisi. Seperti “Ketapang. Ketapang yang kembang” juga “Anakku datang/anakku pulang” serta “kembali kucium/kembali kuriba”. Pengulangan-pengulangan struktur kalimat membawa nada dan irama berdendang. Terjadi susunan kalimat yang diagramatik pada “Anakku datang/anakku pulang” dan “Kembali kucium/kembali kurima”, dan di sini terdapat paralelisme semantik.

Dari bait ke bait, secara semantik memiliki logika beruntut, yang menurut Kris Budiman mengikuti logika metodologis ilmu sosial. Yaitu bait pertama yang berisi latar puisi, bait ke dua berisi telegram yang tiba, yang mana sebagai titik pokok terjadinya keseluruhan puisi. Kemudian bait kedua menjadi alasan bait ketiga, yaitu datangnya bahagia. Dilanjutkan ke bait ke empat setelah bahagia karena perjumpaan, ibu teringat masa lalu saat-saat perpisahan. Pada bait ke lima pendeskripsian tentang kesedihan ibu. Kemudian bait ke enam, pelipuran lara atas kesediahn ibu. Akhirnya pada bait ketujuh ibu hanya bisa pasrah dengan tetap tinggal di rumah dan selalu berdoa untuk anaknya. Setelah ditinggal lama, muncul bait ke sembilan sebagai harapan kepulangan anak. Dan pada bait ke sepuluh, akhirnya harapan itu terwujud dengan pulangnya anak kepada ibu. Maka ibu pun mengembalikan sifat tabiat seseorang ketika lelah pasti akan pulang, pada bait ke sebelas. Pada bait ke dua belas ungkapan kebahagiaan yang berimbas pada pentingnya sebuah rumah yang akan ditinggali bersama anaknya lagi. Pada bait ke tiga belas, kebahagiaan ibu muncul lagi sebagai reaksi kepulangan anak. Dan ditutup oleh bait ke empat belas, yang merupakan kesimpulan dari puisi yaitu kepulangan anak yang membawa kebahagiaan pada ibu.

Dari alur logika makna puisi tersebut, bisa kita ketahui bahwa puisi “Ada Tilgram Tiba senja” adalah sebuah cerita panjang. Dan hal tersebut senada dengan para kritikus sastra yang mengatakan bahwa rendra adalah seorang penyair kalimat, sebagai bandingan penyair kata yang didominasi oleh karya-karya Chairil Anwar, Sutardji Chalzoum Bachri, dan lainnya.




BAB IV
KESIMPULAN

Dari kajian gaya bahasa di atas, dapat disimpulkan:

1. Diksi
Pemilihan kata pada puisi “Ada Tilgram Tiba Senja” sangat erat dengan makna yang ingin diusungnya. Misalnya kata-kata yang disandarkan pada lelaki, yaitu darah, menghujam, elang, mengemabara, kuda, dari segi makna dan nada menyuguhkan kesah gagah dan kuat. Sedangkan kata-kata yang disandarkan pada sebuah kebahagiaan, kuncup, mekar, kembang, ketapang, berumpun, dari segi nada mudah dan ringan diucapkan, dan dari segi makna riang gembira. Pemilihan kata metafor juga banyak dijumpai pada puisi tersebut.

2. Kata Nyata
Kata nyata adalah kata yang khusus dan kongkret. Kata nyata pada puisi “Ada Tilgram Tiba Senja” diantaranya,  semat, senja, darah, lelah, tergeletak, rebah, rontok, dan sebagainya. Pemilihan kata nyata pada puisi tersebut memang dapat menggiring imaji pembaca ke pemaknaan yang khusus dan tidak abstrak.

3. Majas
Penyair banyak menggunakan majas metafor. Darah untuk menyebut lelaki, kuncup yang kembang sebagai ungkapan kebahagiaan, dan banyak lainnya.

4. Imaji
Puisi tersebut membawa imaji pembaca pada suatu keadaan bahagia, disertai ingatan-ingatan masa lalu pemilihan kata yang tepat, majas maupun kata nyata sangat efektif untuk membawa imaji pembaca pada apa yang ingin disampaikan penyair.

5. Ritme dan Rima
Penyair memanfaatkan beberapa sajak untuk menciptakan ritme dan rima. Seperti perpaduan suara vokal “a” dengan suara sengau “ng” untuk mencitrakan keriangan dan keceriaan. Kemudian konsonan h, k, t, m, mencitrakan berat dan gundah. Seperti pada Lelaki yang kuat/biarlah menuruti darahnya/Menghujam ke rimba dan pusar kota. Pola pantun yang digunakan penyair dalam puisinya juga membentuk nada dendang yang erta sekali dengan rasa bahagia. Puisi tersebut juga banyak menggunakan pengulangan kata untuk memberikan tekanan pada ide atau ungkapan yang ingin ditonjolkan penyair. Selain sebagai penguat kalimat-kalimat tertentu, pengulangan kata juga difungsikan sebagai penyelaras irama puisi sehingga jika dibaca akan memercikkan irama yang teratur.

Demikianlah gaya bahasa puisi Ada Tilgram Tiba Senja yang ditangkap penulis. Dan tentu masih banyak kekurangan dan pengkajiannya, maka perlu diperbaiki dengan penelitian selanjutnya yang lebih mendalam.



DAFTAR PUSTAKA

Atar Semi, Metode penelitian Sastra, cet. 10 (Bandung: ANGKASA, 1990)
Nyoman Kutha Ratna, Stilistika, (Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2009)
Rene Wellek & Austin Warren (terjemahan), Teori Kesusastraan, (PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1995)
Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Sastra, (cet IV. Media Pressindo, Jogjakarta, 2008)

No comments: