Friday, April 26, 2013

Lirik dan Makna Lagu Anyam-anyaman Karya Sujiwo Tedjo

Dulu, jauh-jauh hari saya merencanakan akan menyematkan lirik lagu Anyam-anyaman karya Sujiwo Tedjo di undangan pernikahan. Sebab lagu itu bagi saya indah sekali dalam mendeskripsikan indahnya pernikahan, terutama liriknya yang berkelindan saling sahut menyahut antara satu kata dengan lainnya membentuk sebuah irama yang harmonis dan meriah penuh kebahagiaan.

Pada umumnya, sebagai muslim biasanya menyematkan hadist maupun ayat Al-Qur'an yang berisi tentang pernikahan. Bagi saya, hadist maupun ayat al-Qur'an yang menjelaskan pernikahan masih bersifat umum. Atau barangkali secara tekstual sangat legal formal. Misalnya hadis yang diriwayatkan oleh Abu Said, yaitu: “Sesungguhnya, apabila seorang suami memandang isterinya (dengan kasih & sayang) dan isterinya juga memandang suaminya (dengan kasih & sayang), maka Allah akan memandang keduanya dengan pandangan kasih & sayang. Dan apabila seorang suami memegangi jemari isterinya (dengan kasih & sayang) maka berjatuhanlah dosa-dosa dari segala jemari keduanya” (HR. Abu Sa’id)

Atau semisal dari ayat al-Qur'an, “Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (Ar-Ruum 21)

Hadist dan Ayat al-Qur'an tersebut perlu ditafsirkan lagi lebih dalam untuk sampai pada inti kebersamaan antara suami dan istri. Misalnya dalam memahami kata "kasih sayang" antar keduanya, kita tentu memerlukan kajian lebih jauh, sehingga akan tampak dan perwujudan perilaku maupun sikap. Nah, bagi saya lagu Anyam-anyaman tersebut secara tersirat bisa menjadi penjelas yang lebih mengerucut dari ayat-ayat al-Qur'an maupun hadist Nabi yang biasa dikutip untuk disematkan pada kertas undangan pernikahan.

Secara umum lagu tersebut berisi tentang riuh ramainya pesta pernikahan sekaligus filosofi pernikahan dari simbol rangkaian bunga melati putih yang pasti ada di dalam acara Walimatul Ursy. Untuk lebih jelasnya mari kita kupas, kita preteli kalimat, frasa, dan kata demi kata dari lirik lagu Anyam-anyaman tersebut. Pertama kita simak dulu liriknya secara total:

Anyam-anyaman
(Oleh Sujiwo Tedjo)

Anut runtut tansah reruntungan
Munggah mudhun gunung anjog samudra
Gandheng rendhengan jejering rendheng
Reroncening kembang
Kembang temanten

Mantene wus dandan dadi dewa dewi
Dewaning asmara gya mudhun bumi

Ela mendhung, bubar mawur, mlipir-mlipir, gya sumingkir
Mahargya dalan temanten
Dalanipun dewa dewi

Swara trompet, ting celeret, arak-arak, sigra-sigrak,
Datan kendat, anut runtut, gya mudhun bumi...

Kata kunci dari setiap hubungan suami dan istri yang harmonis adalah "anut runtut tansah reruntungan". Kalimat itu berarti selalu ikut-mengikuti dan selalu bersama-sama. Kata reruntungan bisa diartikan selalu bersama. Dalam bahasa jawa; Ngglibet. Kemana pun dan bagaimana pun selalu berdua. Kebersamaan itu tercermin pada bait berikutnya, "munggah mudhun gunung anjog samodra", yaitu naik turun gunung hingga ke samodra. Naik gunung berarti pada saat-saat dimana kesulitan datang menerpa, dan turun gunung bisa dimaknai ketika sepasang suami istri tersebut dimanjakan oleh rasa bahagia, hingga ke samudra. Samudra berarti keluasan dunia. Artinya suami dan istri harus bersama-sama di saat duka maupun suka selama hidupnya.

Untuk dapat mewujudkan kebersamaan dalam menjalin hubungan, Erich Fromm merumuskan empat elemen cinta. keempat elemen tersebut adalah mengetahui, memahami, menghormati, dan bertanggung jawab. Mengetahui pasangan merupakan awal dari sebuah kebersamaan. Mengetahui di sini dalam artian mengetahui secara detail mengenai pasangan, semisal mengenai kesukaannya, maupun hal yang tidak disukainya, mengenai karakternya, dan sebagainya. Dengan pengetahuan mengenai pasangan, seseorang bisa melangkah ke tahap berikutnya, yaitu memahami. Misalkan pasangan kita tidak suka dengan hal tertentu, kita bisa menghindarkannya dari hal tersebut. Begitu pula sebaliknya dengan hal yang disukainya.

Setelah kita bisa memahami lantaran kita mengetahui pasangan kita, maka selanjutnya adalah kita akan lebih mudah untuk menghormatinya. Kita bisa menghormati pasangan sebagai manusia yang memiliki karakter yang unik yang tentu berbeda dengan lainnya. Manusia dengan kecenderungan-kecenderungan yang tentu tidak sama dengan lainnya. Dengan demikian toleransi antara pasangan akan terbangun dengan baik. Setelah kita bisa menghormati pasangan, kita akan memiliki tanggung jawab terhadapnya. Bertanggung jawab mengemban tugas sebagai suami bagi laki-laki, dan sebagai istri bagi perempuan. Ketika empat elemen itu diterapkan dalam keluarga, sepasang suami istri dapat reruntungan, selalu bersama-sama dalam keadaan sedih maupun suka.

Kebersamaan itu oleh Sujiwo Tedjo diumpamakan sebagai mana karangan bunga pengantin. "Gandeng rendengan jejering rendeng", itu artinya bergandeng-gandeng saling berjajar bergandengan, "Reroncening kembang, kembang temanten", bagai jalinan bunga pengantin, yaitu jalinan atau rangkaian melati putih yang digunangan untuk seuntai kalung pada mempelai laki-laki maupun perempuan. Di situlah sebenarnya makna dari jalinan bunga yang dipakai setiap mempelai pengantin. Melati melambangkan kebahagiaan, dan kebahagiaan itu harus dijalin dan digandengkan  menjadi kalung yang menghiasi mempelai berdua, menghiasi kehidupan keduanya.

"Mantene wis dandan dadi dewa-dewi/dewane asmara gya mudhun bumi", pengantinnya sudah berias menjadi dewa-dewi. Dewa-dewi merupakan simbol keagungan, kemuliaan, dan kehormatan. Dengan seperti itu "Dewane asmara gya mudhun bumi", dewa asmara telah turun kebumi. Asmara dua mempelai yang sudah terjalin pada saat itu turun ke bumi. Keagungan asmara menghampiri dua mempelai dan orang-orang yang datang padanya, seakan-akan dewa asmara sedang turun ke bumi.

"Ela mendhung, bubar mawur, mlipir-mlipir, gya sumingkir/mahargya dalan temanten/dalanipun dewa-dewi", ini adalah deskripsi dari keagungan sebuah pernikahan. Mendung saling bertebaran, saling menyingkir karena terbentangnya jalan pengantin, yaitu jalannya dewa-dewi. Semua kesulitan dan rintangan yang menghadang akan tersingkirkan dengan kebersamaan sepasang suami istri. Semuanya akan diselesaikan berdua, saling gotong royong, dan saling melengkapi setiap kekurangan masing-masing.

Gegap gempitanya kebahagiaan pernikahan juga terdeskripsikan dengan lirik, "Swara trompet, ting celeret, arak-arak, sigra-sigrak/Datan kendat, anut runtut, gya mudhun bumi...", Suara terompet saling sahut menyahut di udara, pawai pengikut pengantin saling berbahagia. Terompet merupakan simbol kemeriahan dari kebahagiaan. Semuanya bahagia, saling ikut mengikuti turun ke bumi. Pada hari itu curahan rahmat Allah Subhanahu wataala digelontorkan kepada setiap yang hadir dalam acara agung Walimatul Ursy. Karena keagungan resepsi pernikahan, Islam mewajibkan mendatangi undangan Walimatul Ursy bagi yang tidak berhalangan hadir, sebagaimana disunnahkannya memakan hidangan makanan dan minuman dalam Walimatul Ursy.

Begitulah keindahan pernikahan dalam lirik lagu Anayam-anyaman. Sesuai dengan judul lagu, "Anyam-anyaman" berarti jalinan atau pilinan. Sepasang suami istri harus saling memilin antara keduanya. Dalam kondisi bagainamapun mereka harus bersatu merasakan beban kehidupan dan kebahagiaan kehidupan dengan bersama-sama. Namun sayang sekali, lirik tersebut gagal saya sematkan di kertas undangan, lantaran bentuk undangan yang sesuai dengan lirik itu habis, dan saya harus menggantinya dengan yang lain.