Friday, January 2, 2015

Rute perjalanan Malang - Jakarta (Repertoar perjalanan).

Catatan ini adalah catatan perjalanan kami; saya dan Amrullah, dari Malang Menuju Jakarta dengan menunggangi Vespa PX Eksklusive 1994. Dari setiap meter jalan ada kekhasan rasa tersendiri dengan keragaman budaya dan manusia pada daerah-daerah yang kami lewati. Untuk mengenang itu, saya tuliskan catatan kecil ini, semoga bermanfaat.

Minggu dini hari. Malang, 13 Pebruari 2011
Dingin pagi menyulam tulang-belulangku. Di Sanggar Kalimasada anak-anak sudah ribut. “Kak, tadi ada suara anak menangis”, kata salah satu mereka ketika melihat aku menggeliat hendak bangun. Aku tengok jam dinding pukul 03.30 WIB. “Kak, tadi juga ada suara orang menggedor pintu”, anak-anak melanjutkan. “Ah, sudah.. sudah.. aneh-aneh saja, tidak ada apa-apa”, ucap Amrulloh yang mungkin terganggu dengan gumam anak-anak itu. Aku berdiri, menggeliat, menguap, menggeliat lagi. Hmmm benar-benar pagi yang segar. Begitu pula Amrullah, ia langsung menuju kamar mandi.

Kata anak-anak mengingatkanku pada beberapa hari lalu, saat seorang anak bermalam di Sanggar Kalimasada Aliansi Masyarakat Miskin Malang tiba-tiba menjerit-jerit di tengah malam, katanya melihat dua orang anak kecil menangis di dapur. Ah, apa untungnya dibahas, kami mencoba menganggapnya sebagai suatu hal yang biasa. Sebuah kebiasaan di Bumi Jawa.

Usai berkemas, vespa dihidupkan, suaranya pasti menendang-nendang mimpi para tetangga, menjadi keributan kecil di jalan terusan Putrayudha II Sukun Malang. Beberapa menit mesin mulai hangat, tangan Amru menarik-narik penali gas, suara vespa semakin meraung-raung di kegelapan pagi. Maklumlah, knalpot yang dipasang adalah knalpot bobokan, sehingga suaranya aduhai.

Kami bersalaman dengan anak-anak sebagai tanda perpisahan, mereka kemudian langsung buyar juga pulang ke rumah masing-masing, lantaran rasa takut yang masih bermukim dalam diri mereka. kemudian roda mulai menggelinding di meter satu ke meter berikutnya. Aku intip jam tanganku, menunjuk pukul 04.00 WIB.

Minggu, 07.30 Nganjuk.
Awal perjalanan terasa menyenangkan. Pemandangan pegunungan yang selalu menemani perjalan kami antara Batu – Pujon – Ngantang - Kediri seperti menghapus setiap kepenatan yang akan berumah di sendisendi pertulangan kami. Badan Amru yang gempil tidak bisa lincah meliuk-liuk di setiap tikungan pegunungan Ngantang tersebut. Sehingga sebagian besar tikungan, kendali vespa saya ambil alih.

Kali ini kami mampir ke Pondok Modern Al-Islam Nganjuk. Di mana saya menghabiskan masa puber pertama, sekaligus masa remaja yang indah, yang penuh dengan canda tawa bersama teman-teman dari lain daerah. Di situ pula cinta saya tumbuh dan kandas.

Ada yang istimewa di tempat tinggalku selama 6 tahun sebelum hijrah ke Malang, yaitu satu bangunan bertingkat yang menjadi benteng barat asrama putra. Pada saat ini bisa aku bayangkan sulitnya akses Keluar Malam bagi santri-santri mbeling. Semasaku enam tahun yang lalu, bangunan tingkat itu sebagai akses utama untuk keluar masuk pondok dengan tanpa ijin. Pada waktu itu masih berupa sawah. Tak segan kami merangkak di antara pepadian demi mendapat perlindungan padi-padi itu dari pandangan keamanan dan ustadz.

Kami singgah di rumah Bu Nyai, sekaligus Budheku, kami disambut dengan hangat. Teh panas segera dihidangkan dengan cemilan krupuk Mlinjo. Di sana aku mendapati kembali masa remajaku dulu. Mandi, sikat gigi, dan sarapan pagi. Persis seperti enam tahun yang lalu. Hanya saja, sekarang lebih tinggi dan berat usia ini. Namun itu semua aku anggap sebagai sebuah kewajaran. Saat ini mulai menggerayangi kerasnya kehidupan.

Sedikit aku presentasikan sistem yang ada di pondok kepada Amru. Dia punya adik kecil, aku presentasikan dengan runtut dan menarik dengan niatan promosi, siapa tahu dia tertarik lalu menyekolahkan adiknya di sini. Aku tunjukkan masjid putri, kantor, asrama putri (meski tidak boleh masuk), begitu juga fasilitas-fasilitas lainnya.

Jarum jam sudah bertengger di angka 09.00 WIB. Aku segera berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Waktu melepas jagrak vespa, terasa lebih berat. Maklum lah, isi tas kini bertambah buah apel satu kantong kresek besar, telur asin 10 biji, dan krupuk Mlinjo satu kaleng. Perjalanan dilanjutkan, masih Amru yang nyetir.

Sragen, 11.30 WIB.
Matahari bertengger di ubun-ubun kepala. Kami rehat 30 menit di Kab Sragen. Di bawah pohon duri (karena pohonnya berduri) yang rindang tepi aspal jalan, kami gelar matras 1x2 meter dan mulai membuka perbekalan. Kami gigit buah apel, manisnya menggurui tenggorokan kami. Teguk demi teguk air mineral juga turut melancarkan perjalanan remah-remah apel tersebut ke lambung untuk segera diolah menjadi energi baru.

Tepat pukul 12.00 WIB kami bangkit, menggulung tikar kemudian menalikannya di rear rack vespa. Kami lihat fatamorgana saling berdesakan di atas aspal, kami bayangkan kesejukan pada fatamorgana itu. Vespa dinyalakan, raungannya hendak menerkam siapa saja yang berani menyenggolnya. Kali ini aku yang nyetir.

Gemolong, Sragen. 15.30 WIB.
Vespa meneguk premium seharga 25 ribu di POM Bensin di daerah Gemolong. Selain itu aku melaksanakan eksistensi sebagai seorang hamba, sholat Dzuhur dan Ashar via Jamak Qashar. Gemolong adalah jalur alternative Sragen – Salatiga. Di sepanjang jalur potong kompas ini terdapat budaya griya yang unik, yaitu setiap rumah joglo, di ujung atapnya terdapat replika wayang dengan rumah-rumahan kecil di sampingnya. Sayangnya tidak kelihatan wayang apa yang dipasang di bagian paling atas rumah itu, karena keterbatasan pandangan kami.

Model jalan sepanjang gemolong adalah jalan tanggung, lebar sekitar 4-5 meter. Kondisi jalan banyak berlubang, namun demikian tidak berbahaya, karena itu merupakan jalan alternativ yang tidak seramai jalan utama.

Salatiga, 16.00 WIB
Hujan deras mengguyur bumi Salatiga. Dengan berat hati, kami menepi di warung kakilima tepi jalan. Tak kusangka, menu yang ditawarkan antara lain nasi kucing. Ya, nasi kucing khas Jogja. Dan dua macam tentunya, berlauk sambal goreng, atau sambal teri. Empat bungkus nasi seribuan itu kami lahap di tengah guyuran hujan.

Dari penuturan pemilik warung angkringan, kota Semarang akan sampai dalam satu jam perjalanan. Karena daerah ini merupakan daerah perbatasan antara Salatiga dengan kabupaten Semarang. Sesaat kemudian hujan berhenti dan kami lanjutkan perjalanan. Tak lupa kami membungkus enam bungkus nasi kucing untuk makan malam nanti. “Meooong.. meooong.. pusss, puss, diamlah” (puisi Sutardji).

Kendal, 17.30 WIB
Kota Semarang sangat mengesankan bagi kami. Senja yang hampir terbenam di langit barat, membuat kota Semarang semakin mempesona. Tatakotanya yang saya pikir cukup bagus, membuat ingin berhenti untuk menikmati sore hari. Namun, apa boleh buat, waktu terus berlaju dan kami jadwalkan hari Senin sore sampai Jakarta. Kami harus mengejar waktu.

Lagi-lagi di POM bensin kami berhenti. Kali ini di POM bensin Kendal, sebelum masuk alas Roban. Di sini kami mandi dan beristirahat, dilanjutkan dengan aktifitas musholla. Mulai masuk Semarang, saat itu juga kami mulai memijak jalur Pantau Utara (Pantura), di jalur ini kami merasa kecil di antara truk-truk gandeng dan container. Si kecil pun meliuk-liuk di celah-celah truk Tronton yang sama-sama melaju menuju Jakarta.

Tegal, 21.30 WIB.
Berat badan seperti bertambah. Langkah kami sempoyongan, mata setengah buram saat kami sampai di POM bensin Tegal. Ingatanku masih terbayang dengan kota-kota yang kami lewati; Batang, Pekalongan, dan Pemalang. Pekalongan sebagai kota Batik, kami jumpai dengan beberapa konter batik yang gemerlapan. Lagi-lagi dihadapkan pada delima, makan batik atau makan nasi. Itu yang memaksa kami berlalu saja meneruskan perjalanan. Di daerah entah mana ketika hari sudah gelap, knalpot Vespa sempat terlepas. Sehingga suara meledak-ledak. Hal itu bisa kami atasi dengan menalinya menggunakan kawat.

Dengan gerak gontai dan mata setengah buram, kami buka menu special malam ini. NASI KUCING. Tak lupa kami keluarkan telur asin sebagai penyempurna rasa. Wal hasil, nyam.. nyam.. nyam… sangat nikmat sekali. Kenikmatan itu hanya beberapa saat, karena tak lama kemudian mata ini terpejam. Bye… good night!

Gemiricik air menguping telinga ini. Aku terseret dari dunia mimpi, ah, kaki kananku terjembab genangan air hujan. Segera kuseret kakiku ke atas matras yang kami bawa dari rumah. Kulihat air menetes-netes dari atap, namun mata terlalu penat menatapnya kemudian terpejam lagi.

04.30 WIB. Pertama mata terbuka, satu hal terbayang; penat. Kucoba mengangkat tubuh ternyata penat itu hanya sisa-sisa mimpi. Dan tubuhku terasa ringan. Kuhirup udara dalam-dalam, ada kesejukan yang mengendap di setiap hembusannya. Kulihat Amru masih seperti terakhir aku melihatnya malam tadi. Hanya berbelut jaket parasut dan sekalung sarung. Ah, aku tak dapat berpikir bagaimana ia menjalani malam yang menggigil ini dengan nikmatnya.

Aku bangkit, tampak olehku seoggok manusia dengan setia duduk di kursi menjaga sebuah kotak kecil di atas meja dengan sejarit lubang. Di lubang itulah uang masuk tanpa bisa keluar. Masih tergambar jelas peristiwa yang hampir memakan korban, ketika vespa yang kami tunggangi itu salah jalan melalui jalur truck di sebelah kota Subang. Saat kami yang sekecil itu meliuk-liuk di antara lubang-lubang jalan BANGSAT! sebuah truk dari arah berlawanan mendahului truk yang sama besarnya hingga jalan yang penuh borok itu melempar kami ke tepi semak-semak. Saat laju hendak kembali ke aspal, vespa kami oleng dan memutar 90 derajat, karena perut vespa tersangkut ketinggian aspal atas tanah. Saat  itu pula klakson dari truck-truck di sekitar kami saling memecah malam.

Ah, sepatuku basah, rupanya guyuran hujan menguyupkannya. Sesekali aku menguap dan menggeliat, sungguh terasa nikmatnya. Aku ambil perlengkapan kamar mandi, lalu menyapa seoggok orang dengan senyuman sebelum masuk untuk mengguyur badan. Guyuran air di pagi itu benar membuat raga ini seperti kembali pada ruh.

Setelah mandi, sambil menggosok-gosok rambutku yang basah, kumasukkan juga selembar uang ke dalam kotak itu. "Bapak asli sini?" aku basabasi bertanya pada penunggu kotak. "Ia. Abang dari mana?" ia ganti menanya. Percakapan itu terus seperti jentik-jentik gerimis pagi yang masih saja turun. Hingga akhirnya aku coba mengorek tentang daerah sekitar. "Pak, apa di belakang pom bensin ini juga kampung?" Aku hendak mengawali tema itu. "Belakang ini laut, bang". ia menjawab. "Laut", aku terperanjat seperti tak percaya. "Iya, laut. 50 meter sudah laut". Pertanyaan aku urungkan kulihat jam tangan menunjuk angka lima. Aku lanjutkan menghadap sang pencipta.

Aku kembali ke pembaringan, dan Amru sudah terlihat segar bugar dengan bau wangi semerbak. Kami berbincang-bincang dengan penjaga kotak tentang kerusuhan antar umat beragama di Indonesia. Dia mengeluh, bercerita ke sana-ke mari dengan kapabilitasnya sebagai seorang cinta damai. Baru kemudian setelah packing, kami lanjutkan perjalanan.

Benar, setelah keluar dari kawasan POM Bensin, sebelah kanan jalan terhampar laut biru yang tak bertepi. Hmmm sungguh terasa nikmat. Bau tanah basah masih menyeringai hidung kami. Terlihat beberapa anak berseragam sekolah di tepian jalan menunggu transportasi, ingatanku kembali pada sepuluh tahun lalu. Dengan kostum merah putih, aku lalui tepian jalan terjal selama 6 tahun. Hingga aku hafal setiap lekuk bengkuk jalan itu. "Brak", sebuah lubang sialan menyeretku lagi pada jalan.

Indramayu 12.00 WIB
Hujan deras memaksa kami berhenti di sebuah masjid. Penat seperti bertengger lagi di antara sendi-sendi pundak. Kami baringkan tubuh -belum sempat meniti berapa jarak sudah ditempuh-, mata ini terpejam. Sebelum benar terpejam, mulut ini mencecap sisa-sisa rasa sarapan pagi Warteg (warung Tegal) dengan menu Ikan Tongkol dan kulupan daun Pepaya sekitar jam 10.00 WIB tadi. Pahitnya masih menggigit. Sungguh nikmat di tengah kecapekan ini. Mata kami terbuka, hujan sudah reda (13.00 WIB). Segera kami kumpulkan delapan raka'at menjadi empat. Lalu bergegas menunggang vespa menuju IBUKOTA.

UIN SYARIF HIDAYATULLAH CIPUTAT JAKARTA 17.00 WIB
Tak ingat sudah sebesit pun raut wajah-wajah orang yang kami tanya sepanjang BEKASI-CIPUTAT. Puluhan kali kami berhenti, bertanya, berhenti, bertanya karena penunjuk arah sudah tidak jelas dan jalan tertalu bercabang. Kami runtut sepanjang Kali Malang yang beberapa sisinya terdapat Bivak Alam (tidak bisa dikatakan rumah meski pada dasarnya itu rumah). Aku jadi teringat saat di daerah Karawang kami terjebak hujan di bawah jembatan tol, yang mana di sudutnya beberapa tuna ekonomi membuat gubuk-gubuk sebagai tempat tinggal. Ini yang sering saya sebut jarak antara Surga Neraka Dunia. Di bawah neraka dengan orang-orang berselimut baliho-baliho bekas, beralas bumi, sedang di atasnya surga dengan fasilitas musik, AC, Snack Impor, dan beralas roda-roda yang empuk. Cih!

Saat memasuki Karawang, saya teringat dengan Chairil Anwar. Ya, Karawang Bekasi, judul puisi yang menceritakan para pahlawan yang gugur, “Kami yang kini terbaring antara Krawang Bekasi, Tidak bisa berteriak dan angkat senjata lagi”. Seakan mengingatkanku pada masa-masa awal kemerdekaan dulu.

"Aku masih ngajar, tunggu di masjid UIN saja, timur jalan". Pesan itu dari Eva Salma yang mengantar kami ke kamar mandi masjid UIN Syarif Hidayatulloh guna membersihkan tubuh dari debu-debu jalanan.

Lalu tak lama kemudian neng Eva datang dengan tunggangan Satrianya, bersama perginya matahari ke ujung barat sana. Kemudian kami digiring ke kosnya, menikmati santapan makan malam, seperti Kari ayam tapi manis rasanya. Khas Betawi, ungkapnya. Di Jakarta kami menghabiskan waktu hanya dua hari tiga malam saja. Itu pun kami lakukan dengan mengunjungi beberapa tempat. Kementrian Pendidikan, masjid kubah mas, monas, dan kota tua.

***

Pada perjalanan pulang, rasa tubuh seakan lepas dari seluruh persendian. Rencana awal kami ingin perjalanan pulang melewati jalur Bandung, karena kami akan singgah ke kota budaya Jogjakarta. Namun, ketidaktahuan arah dan kondisi tubuh yang semakin ringkih memaksa kami kembali mengikuti rute keberangkatan. Hanya saja, pada perjalanan pulang ketika sampai di pertigaan Wereli kami arahkan laju Vespa ke kanan, menuju Magelang.

Dari Weleri kami meneruskan perjalanan menuju Magelang melalui Temanggung. Hal itu dikarenakan kami akan berkunjung ke candi Borobudur. Kelelahan yang berlebih sedikit terobati tatkala perjalanan yang kami lalui berupa jajaran gunung yang berjajar rapi sepanjang Sukoharjo. Pada saat itu saya habiskan sebagian besar waktu untuk tidur. Dengan mendekap tubuh Amru yang gempil dan bersandar kotak peti barang-barang di bagian belakang saya tertidur hampir satu jam. Pada siang hari kami hentikan perjalanan untuk melaksanakan sholat Jum’at. Siang yang menyengat membuat kami melaksanakan sholat Jum’at dengan terkantuk kantuk. Seusai sholat kami lanjutkan perjalanan menuju candi Borobudur.

Pukul 14.00 WIB kami sudah berada di pelataran parkir candi Borobudur. Dengan berbekal alasan touring pulau Jawa dengan Vespa, kami memohon kepada petugas karcis untuk menggratiskan masuk ke candi, mengingat dana perjalanan kami sudah menipis. Pada saat itu harga tiket yang tertera 30.000 untuk pengunjung domestik. Namun sayang sekali, permohonan itu ditolak oleh petugas karcis. Meskipun begitu petugas karcis yang baik hati itu mengarahkan kami agar menemui pak Dalang selaku ketua yang mengurusi tiket masuk. Menurut paparan singkatnya, beliau merupakan salah satu tetua Vespa mania di sekitaran Borobudur. Maka kamipun menuju kantor beliau yang tak jauh dari loket.

Setelah menemui pak Dalang, kami berbicara seputaran Vespa. Dan ternyata banyak tetua Vespa mania di Malang yang dikenali oleh pak Dalang. Hal itu tentu semakin meyakinkan bahwa kami benar-benar penggemar Vespa sebagaimana beliau. Karena saya sedikit banyak pernah mendengar penggemar-penggemar Vespa lawasan di kota Malang, meski belum pernah bertemu. Dan akhirnya kamipun bisa melewati petugas karcis tanpa membayar sepeser pun.

Di dalam area candi Borobudur kami rasakan kelegaan yang luar biasa. Kami baca paparannya, kami raba relief-relief candi serta menghayati betapa hebat nenek moyang kita terdahulu. Berkeliling di kawasan candi dan memanjakan mata dengan melihat turis-turis yan juga terkagum-kagum dengan keindahan candi. Setelah dirasa cukup, kami lanjutkan perjalanan menuju kota budaya, kota Jogjakarta.

Di tengah perjalanan antara Borobudur dan Jogjakarta, kami mendapati kawasan yang terlenda banjir lahar dingin Merapi. Banyak sekali rumah dan pertokoan yang tenggelam oleh pasir lahar dingin Merapi. Kami sempatkan berhenti dan mengamati sungai yang mengalirkan lahar tersebut. Pasir yang bernilai super sungguh dimuntahkan oleh sungai tersebut hingga beberapa eksavator mengeruk dan memindahkannya dari kawasan tersebut. Saya teringat bahwa pasir seperti itulah yang ditambang oleh orang-orang di kali Brantas Jawa Timur.

Perjalanan kami lanjutkan ke selatan. Sesampai di kota Jogjakarta, pikiran kami hanya tertuju pada satu hal, sholat. Matahari sudah hampir jatuh di barat, sedangkan kondisi kami masih gembel dan berdebu. Saya mengingat-ingat tempat yang nyaman untuk mandi dan melaksanakan sholat. Akhirnya kami putuskan untuk memasuki kampus UGM dan menuju masjidnya. Setelah sampai masjid UGM kami masih direpotkan dengan tidakadanya kamar mandi, dengan demikian kami terpaksa mandi di Toilet. Setelah mandi kami berasa segar kembali dengan sisa-sisa tenaga yang masih membenam dalam raga.

Setelah sholat Ashar saya mencoba menghubungi kawan dan sahabat di Joga, yaitu Farih mahasiswa Sastra Arab UGM. Saya sendiri bertemu farih di kampus UGM karena dia tergabung dalam Arabic Poetry Club begitu juga saya meskipun dalam dunia Maya. Malam itu kami sangat mujur, karena kami mendapat tumpangan menginap di kontrakan Farih yang tak jauh dari kampus UGM. Malam harinya saya ingin berbincang-bincang banyak mengenai beberapa hal. Namun di tengah itu, saya kehilangan kesadaran karena tertimpa rasa kantuk yang tak terelakkan.

Saya terbangun dan kokok ayam sudah tak terdengar. Saya intip jam tangan, ternyata sudah pukul 05.30 WIB. Kami segera mandi dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Sebelum berpisah dengan Farih kami menikmati pagi Jogjakarta dengan mengunyah nasi pecel dan meneguk teh hangat. Dan seusai itu kamipun berpamitan dengan Farih dengan rasa terimakasih yang tak terhingga.

Sebelum meninggalkan Jogja, kami sempatkan dulu mengunjungi Keraton, naik becak menuju pengrajin batik, melihat pembuatan batik –tulis maupun cap-, dan berjalan sebentar di titik nol Jogja, Malioboro. Kami juga sempat ke Taman Sari, tapi hanya berfoto-foto di depan gapuranya. Setelah dirasa cukup, kami melanjutkan perjalanan menuju Trenggalek.

Dalam rute menuju ke Trenggalek, kami mengambil jalur selatan. Yaitu melewati Bayat, waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, Sumoroto, Ponorogo, dan selanjutnya Trenggalek. Dalam rute potong kompas tersebut kami dari Klaten belok kanan ketika sampai di Stasiun Srowot. Setelah itu jalanan kecil kami lalui hingga waduk Gajah Mungkur. Pemandangan pengunungan nan indah kami temui lagi sepanjang waduk. Kami berhenti sejenak dan mendekat waduk untuk melihat orang-orang mancing ikan.

Perjalanan kami teruskan hingga Wonogiri. Sesampai di Wonogiri hapeku berdering tanda panggilan masuk. Ternyata itu adalah telpon dari bapak memintaku untuk melihat dan menanyakan harga genting di Wonogiri. Saya pun mengikuti intruksi jalan yang ditunjukkan, dan benar saja ternayata di Wonogiri terdapat industri Genteng yang cukup banyak, sebagaimana di daerahku Baruharo Durenan Trenggalek. Hanya saja genteng Wonogiri bentuknya lebih pipih dan ringan. Hal itu tentu dikarenakan kualitas tanah yang sangat bagus.

Berbeda dengan tanah di Trenggalek, jika dibentuk genteng setipis genteng Wonogiri, akan banyak retak. Genteng Trenggalek berasal dari adonan beberapa jenis tanah. Diantaranya, tanah kaulin, tanah biasa dan tanah lebo (Tanah halus pengendapan sungai). Adapun genteng Wonogiri hanya berbahan baku satu jenis tanah saja cukup.
Ketika melewati jalan makadam di jalan dalam Wonogiri, tutup mesin vespa berbunyi kletek-kletek. Setelah saya cek, ternyata per kuncian yang menahan tutup mesin patah. Dengan demikian kami harus melepasnya sekalian, dan menalikan tutup mesin itu di bawah back rack vespa dengan karet besar.

Dari Wonogiri perjalanan kami lanjutkan menuju Purwantoro, kemudian Ponorogo, dengan mesin terbuka. Ketika sampai di Ponorogo, setelah keluar kota, ban Vespa kempes dan kami terpaksa menyingkir sejenak dari jalan. Lalu ban segera kami dengan ban serep yang sudah halus. 15 menit selesai mengganti ban, dan kami meneruskan perjalanan.

Sesampai Trenggalek, empat kilometer dari rumah saya, tiba-tiba Amru mengerem Vespa secara mendadak, dan “Brak” kami menyrempet mobil Honda Jazz yang mengerem mendadak sehingga kami berguling-guling di tanah. Vespa pun mengalami slereng setir dan penyok di dada kanan. Perdebatan mengenai ganti rugi atas penyoknya bemper Honda Jazz sempat terjadi. Namun hal itu berakhir ketika Amru, selaku pelaku mengeluarkan KTP beralamatkan Banyuwangi.

Dengan perlahan Vespa kami giring ke desa Baruharjo, desa dimana saya dilahirkan. Di sana Vespa saya perbaiki. Dan ban halus penyebab kecelakaan kami ganti dengan ban yang masih gondrong, untuk digunakan perjalanan ke Malang esok hari.

Pagi harinya, setelah sarapan kami mulai perjalanan menuju ke Malang. Perjalanan ke Malang terasa lancar, karena jalan ini yang sering saya lewati dengan Vespa maupun bis. Siang hari, setelah pukul 12.00 WIB kami sampai di Malang dengan selamat. Dengan demikian selama tujuh hari tujuh malam, hidup kami di atas Vespa. Dan hal ini merupakan waktu terlama dalam hidup saya menaiki sepeda motor.


Dokumentasi foto:
Berebut jalan dengan monster jalanan.

Kota Jakarta.

 Masjid Kubah Mas.

Monas.


Di depan masjid Istiqlal,

Bersama neng Eva dan Amel.

Dua pengembara.

Rehat sejenak di Pantura.

Bersamadi.

Bersamadi.

Memantau banjir lahar dingin.

Di depan Taman Sari.

Mengamati batik cap.

Bersanding algojo.

Di depan Keraton Jogjakarta.

Di tepian waduk Gajah Mungkur.

Menggosok gigi di kawasan industri genteng Wonogiri.

Ban bocor.

Reparasi di Baruharjo Trenggalek.