Wednesday, December 23, 2015

Pujian Setelah Sholat Tarawih

Pujian Sholla Lahu, dilantunkan setiap setelah Sholat Tarawih, di daerah Jawa Timur:


Shalallahu ala nabi...
Shalallahu ala nabi Muhammad syafi’il kholqi
Fil Yaumi yauma
Ya rabbana, ya rabbana, waghfir lana dzunu bana
Taqobbal dunga’ana, ya rahman, ya rahim

Sira kiblat kang sampurna
sampurnane wong alam kabeh

Allah wujud, qidam, baqa, mukholafatul lilhawaditsi
Wal qiyamu binafsihi. Wahdaniyan, qodrat, irodat,
Ilmu, hayan, sama’, bashor, kalam
Qodiran, muridan, aliman, hayyan, sami’an
Wa basirun, mutakaliman

Ingsun ngimanaken malaikat iku
utusane Allah, kawulane Allah
kang werna-werna rupane
kang werna-werna gawene
werna-werna ngibadahe
tanpa sahwat, tanpa nafsu
ora rama ora ibu
ora lanang ora wadon
ora mangan ora nginum
jinsime jinsim alus, bangsa luhur

Asyhadu alla ilahaillallah
Wa asyhadu anna muhammadarrasulullah

Anekseni ingsung setuhune ora ana ing pengeran kang sinembah
kelawan sak temene, kang wajib wujude
kang muhal ngadame, kang mesti anane

Amin Allah anekseni ingsung
setuhune Kanjeng Nabi Muhammad iku
utusane Allah, kawulane Allah, kang rama Raden 'Abdullah
kang ibu Dewi Aminah ingkang dzahir ana Mekkah
ngalih Ing Madinah, jumeneng ing Madinah
gerah ing Madinah, seda ing Madinah
sinareaken ing Madinah.
Bangsane bangsa Arab bangsa rasul, bangsa Qorays
Utawi yuswane Kanjeng Nabi Muhammad iku
suwidak tahun punjul tigang tahun

Utawi maknane lafadz Lailahaillallah iku
makna nafi lan itsbat
Utawi kang den nafi’aken iku
sekehing pangeran, pangeran kang liya
saking pangeran kita kang agung kang maha mulya
Lan kang den itsbat aken iku
pengeran kang shah. Kang setunggal
kang ora dideaken. Ndadeaken wong alam kabeh
iya iku aran Allah. Tegese aran Allah iku
aran ing dalem dzat, kang wajibul wujud
kang muhal ngadame, kang wajib anane
ora werna ora rupa, ora arah ora enggon
lan sing sapa wonge ngucapaken setuhune Allah iku
werna rupa arah enggon, mongko wong iku dadi kufur

Utawi kanjeng nabi Muhammad iku
menusa kang lanang, kang merdeka
kang wus ngakel baligh, kang bagus rupane
kang mencorong cahyane kadi purnama rembulan
utawa kaya srengenge keturunan wahyu.
Ingkang wajib anduweni sifat siddiq amanah tabligh
siddiq bener, amanah den percoyo, tabligh aneka'aken
muhal ponya, muhal cidera, muhal angumpataken
ingkang wenang anduweni sifat ngarab basyariya
lan ora nyudaken, ing dalem derajate
ingkang moho luhur.

Allahumasholi'alamuhammad
Allahumasholi'alamuhammad
wa'ala alihi, wa'ala alihi
washohbihi wasallim
Allah rabbij ja'al hadza baladan aminan
Allah rabbij ja'al hadza baladan aminan
Warzuq ahlahu, warzuq ahlahu
Warzuq ahlahu, warzuq ahlahu
Wasi’an thoyibatan hasanan
Taqabballahu minkum wa taqobbal ya karim.

Tuesday, December 8, 2015

Belajar Mencari Pasangan Melalui Tembang Ande-ande Lumut

Dalam menentukan pasangan hidup, setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda. Ada yang berfikir, bahwa pasangan hidup fisiknya harus sempurna. Bentuk tubuhnya, raut muka, bentuk rambut, tinggi badan, dan lain sebagainya. Sedangkan karakter dan kepribadian boleh saja sembarangan, karena hal itu akan bisa dirubah atau dibentuk ulang di kemudian hari.

Ada juga yang berfikir, bahwa pasangan hidup yang terpenting adalah innerbeauty-nya, cantik di kedalaman. Perilakunya harus baik, sopan-santun terhadap orang lain, dan ada juga yang menyaratkan kecerdasan. Segala yang berkaitan dengan fisik, itu menjadi nomor belakangan. Orang-orang yang berfikir seperti ini, adalah orang yang menganggap kecantikan dan ketampanan  hanyalah sementara, sedang yang abadi sampai mati adalah karakter dan kepribadian. Dua hal tersebut adalah yang berkaitan langsung dengan diri pribadi seseorang.

Ada orang yang menjadikan sesuatu di luar diri seseorang menjadi tolak ukur atas kriteria-kriteria yang ia tentukan. Sesuatu tersebut dapat berupa harta dan nasab atau keturunan. Dengan bergelimang harta, ia berharap hidupnya akan sejahtera. Atau bisa juga dengan nasab baik pasangan, ia akan menjadi terhormat dan terpandang dalam kehidupan bermasyarakat. Terdapat juga pikiran yang mengatakan bahwa nasab yang baik, akan menurunkan kebaikan juga bagi keturunannya kelak.

Kesemua ketentuan tersebut boleh saja, karena merupakan hak bagi setiap orang dalam menentukan calon pendamping hidupnya. Hanya saja dalam menentukan kriteria, kita harus ektra hati-hati dan penuh ketelitian. Karena suami dan istri akan terus hidup berdampingan hingga ujung usia. Bahkan melebihi pola kehidupan antara anak dan orang tua, yang mana orang tua harus rela berpisah dengan anak setelah pernikahannya dengan menantu. Anak juga harus memisahkan diri dengan orang tua untuk membangun keluarga baru dengan pasangannya.

Pada sebuah tembang jawa, kita bisa belajar bagaimana memilih kriteria pasangan. Lagu tersebut berjudul Ande-ande Lumut. Ande-ande Lumut merupakan sebuah nama tokoh dalam dongeng. Lagu ini terdiri dari tiga bait, yang dinyanyikan oleh dua orang, antara ibu dan anak. Berikut liriknya:

Ande-ande lumut
Ibu: 
Putraku si ande-ande lumut
Tumuruno ana putri kang unggah-unggahi
Putrine sing ayu rupane
Klenting abang iku kang dadi asmane
Anak:
 Bu si bu kulo mboten purun
Duh si bu kulo mboten medhun
Najan ayu sisane si yuyu kangkang

Ibu:
 Putraku si ande-ande lumut
Tumuruno ana putri kang unggah-unggahi
Putrine sing ayu rupane
Klenting ijo iku kang dadi asmane
Anak:
Bu si bu aduh-aduh romo
Kang putra taksih dereng kerso
Mergo kang putra taksih nandang asmoro

Ibu:
 Putraku si ande-ande lumut
Tumuruno ana putri kang unggah-unggahi
Putrine sing ala rupane
Klenting Kuning iku kang dadi asmane
Anak:
Bu si bu kulo inggih purun
Kang putra inggih badhe medhun
Senajan ala puniko kang putra suwun

Lirik lagu tersebut terdiri dari tiga bagian, yang secara kontruksi kalimatnya sama. Pada bagian pertama, “Putraku si ande-ande lumut/Tumuruno ana putri kang unggah-unggahi”. Artinya, wahai putraku Ande-ande Lumut, turunlah, ada putri yang akan ikut naik. Kemudian dilanjutkan dengan kalimat, “Putrine sing ayu rupane/Klenting abang iku kang dadi asmane”. Artinya, Putrinya rupawan/Klenting Merah namanya. Di situ ibu Ande-ande Lumut memberitahu bahwa ada seorang gadis cantik yang siap untuk dipersunting. Kata “Naik” di sini sesuai dengan konteks cerita, naik dalam artian ke pelaminan.

Lalu pada lirik berikutnya, berisi jawaban dari Ande-ande Lumut, “Bu si bu kulo mboten purun/Duh si bu kulo mboten medhun/Najan ayu sisane si Yuyu Kangkang”. Bu, ibu, saya tidak mau/Duh ibu, saya tidak turun/meski cantik ia bekasnya Yuyu Kangkang. Di sini Ande-ande Lumut menolak gadis tersebut lantaran sudah dicium Yuyu Kangkang. Dalam bingkai normatif, “cium” di sini memiliki spektrum yang lebih luas. Sehingga Ande-ande Lumut menyebutnya sebagai “bekas”.

Dalam ceritanya Klenting Merah memiliki dua saudara, yaitu Klenting Hijau dan Klenting Kuning. Ketika mendengar sayembara bahwa Ande-ande Lumut ingin mencari pasangan, maka Klenting Merah dan Klenting Hijau pergi menuju tempat Ande-ande Lumut tanpa mengajak Klenting Kuning. Untuk sampai pada tempat tersebut mereka harus melewati sungai besar. Dan di sana ada kepiting raksasa bernama Yuyu Kangkang yang mau menyeberangkan putri-putri tersebut dengan syarat imbalan diperbolehkan mencium mereka.

Karena itu pada bait kedua, ibu juga menyampaikan bahwa di sana ada putri bernama Klenting Hijau yang akan ikut naik. Namun Ande-ande Lumut tetap tidak mau turun, karena ia tahu bahwa Klenting Hijau juga sudah terkena ciuman Yuyu Kangkang. Namun demikian redaksi yang disampaikan Ande-ande Lumut berbeda dengan lirik pertama. Yaitu, “Bu si bu aduh-aduh romo/Kang putra taksih dereng kerso/Mergo kang putra taksih nandang asmoro”. Wahai ibu, aduh wahai bapak/Si anak masih belum berkenan/Karena si anak masih punya asmara. Di sini Ande-ande lumut menyebut dirinya dengan si anak, menjadi orang ketiga. Hal tersebut dikarenakan rasa tidak nyaman ketika menolak tawaran ibunya untuk kedua kali.

Sedangkan pada bait ketiga, sebagaimana bait sebelumnya ibu menawarkan gadis yaitu Klenting Kuning. Namun gadis itu tidak secantik Klenting merah maupun Hijau. Meski demikian Ande-ande Lumut turun dan mau menjadi pasangan gadis itu. Hal itu tercermin pada lirik terakhir, “Bu si bu kulo inggih purun/Kang putra inggih badhe medhun/Senajan ala puniko kang putra suwun”. Artinya, Iya bu, saya mau/Si anak akan turun/Meski jelek, inilah yang anak inginkan. Ande-ande Lumut mau menjadi pasangan Klenting kuning karena ia tahu kalau Klenting Kuning tidak menerima tawaran Yuyu Kangkang ketika menyeberangkannya di sungai dengan imbalan ciuman. Akan tetapi Klenting Kuning menggunakan sebuah senjata yang bisa mengancam Yuyu Kangkang, sehingga ia bisa menyeberang sungai dengan cuma-cuma. Pada kalimat tersebut Ande-ande Lumut juga menggunakan subjek orang ketiga “anak” mewakili dirinya. Hal tersebut dilakukan karena rasa rendah hati atas kebahagiaan yang diterimanya, yaitu Klenting Kuning.

Dengan demikian kita tahu, lagu tersebut mengajarkan bahwa keindahan dalam diri seorang lebih utama ketimbang keindahan luarnya. Keindahan diri pada tembang ini adalah kesucian diri dari tindak laku yang dikerjakannya, terutama berinteraksi dengan orang lain. Ibarat batu, laki-laki adalah batu kali, sedangkang perempuan adalah intan permata. Yang mana ketika keduanya tergores, nilai intan permata akan jauh lebih merosot turun dari pada batu kali. Maka dari itu perempuan harus lebih berhati-hati, dan lebih menjaga diri.


Rasulullah SAW pernah menyampaikan, ada empat hal yang perlu dipertimbangkan dalam mencari pasangan hidup. Yaitu, kecantikan/ketampanan, harta, nasab/keturunan, dan agama. Namun menurut beliau, jika kita memilihnya karena agama, maka akan dapat memelihara dan menjaga diri kita dari kerusakan dan kesulitan. Sedangkan agama Islam sangat menjaga kesucian diri seorang wanita. Sudah lengkaplah penjelasan bahwa kecantikan dalam diri, menjadi hal paling utama dalam kriteria memilih pasangan, sebagaimana yang terkandung dalam lagu Ande-ande Lumut. Semoga bermanfaat.

Sunday, November 29, 2015

Perjalanan Seekor Semut

Diterjemahkan dari cerpen "Rihlatun Namlati"
karya Abdullah bin Ali Sa'd.
"هذه القصة مترجمة من قصة "رحلة النملة
التأليف عبد الله بن علي السعد

Rabi’ sering mendengar siapa pun yang lalai dan mendekati jalan itu, lantas ia hilang. Namun kehidupan tidaklah berhenti dengan hilangnya satu nyawa bahkan hingga banyak. Dan semut tidak memikirkan dirinya sendiri. Setiap hari kelompok semut kembali dan berkurang sebagian anggotanya. Namun tidaklah menjadi persoalan, karena  selalu ada semut-semut lain yang dilahirkan untuk menggantikan semut-semut yang hilang. Yang terpenting pada akhirnya setiap semut menjalankan peranannya dalam kelompoknya.

Rabi’ berhenti untuk mengeringkan keringat dalam keceriaan, dan ia melihat kawanan semut bergerak dengan giat. Cuacanya panas, namun angin dingin yang semilir menepis rasa itu. Sebagaimana kebahagiaan dalam pekerjaan memberikan dorongan pada kelompok semut untuk terus meningkat, dan mengatasi rintangan. Rabi’ kembali pada lamunannya. Berapa banyak yang menyukai pekerjaan dan bergembira dengannya, dan kehidupan yang teratur dalam kelompok terasa nilainya. Rabi’ berhenti kedua kalinya. Ia mengangkat secuil gula dari atas bumi dan dengan semangat ia bergerak ke tempat tinggalnya. Para semut saling berlomba untuk memberikan lebih banyak dalam pengumpulan makanan untuk musim dingin yang ektrim. Rabi’ mendengar seruan pimpinannya, memperingatkan kedekatan jarak mereka dari jalan manusia. Ia hanya tersenyum tanpa menoleh. Ya, manusia memang berbahaya tapi semut merupakan sesuatu yang berbeda. Betapa besar kecintaan pada kaumnya dan ia membantu dengan pengorbanan untuk mereka. Rabi’ sampai pada tempat khusus untuk menyimpan makanan dan ia meletakkan secuil gula lalu kembali dengan cepat. Hari mulai siang dan bersama itu dengan cepat ia membawa lebih besar dari ukuran yang ia mampu. Dalam dunia semut tak ada satu pun yang menyeru pada kemalasan. Oleh karena itu dengan semangat mereka bebas bergerak ke sana kemari mencari secuil gula atau daun-daun pohon, sayap belalang, atau apa pun yang bisa dimakan.

Tanpa disadari Rabi semakin dekat dengan jalan raya, dimana kendaraan manusia berlalu-lalang. Keheningan dipatahkan oleh suara kendaraan yang berlalu-lalang dengan cepat. Di antara satu saat dan saat lainnya, tanah bergetar karena pantulan kendaraan yang memotong jalan semut dan pengangkat debu-debu di atas mereka. Rabi’ sering mendengar, siapapun yang lalai dan mendekati jalan itu akan hilang. Namun hidup tak akan berhenti dengan hilangnya satu bahkan banyak semut. Semut tidaklah memikirkan dirinya sendiri, tiap harinya kelompok semut kembali dan berkurang sebagian anggotanya. Namun hal itu tidaklah menjadi persoalan. Selalu ada semut-semut lain yang dilahirkan untuk menggantikan semut yang hilang. Pada akhirnya setiap semut melaksanakan peranannya dalam kelompoknya.

Rabi’ mencium bau makanan. Bau itu samar menandakan ia tidaklah dekat dengannya. Namun tidak ada yang mustahil dalam kamusnya. Ia akan pergi dengan cepat dan mengambil potongan makanan yang jauh itu. Itu merupakan rejeki yang harus membahagiakan semuanya. Tanah bergetar pelan menandakan di sana ada kendaraan yang akan datang. Tapi mungkin ia akan pergi dengan cepat dan sampai pada tujuannya sebelum sampainya kendaraan itu, kemudian ia akan kembali. Akhirnya Rabi’ mempercepat langkahnya dan menyeberang jalan dengan cepat. Waktu berjalan sangat lamban. Dan tanah semakin bergetar menandakan sebuah kendaraan telah dekat dengannya. Di sisi lain ia merasa jarak itu lebih jauh dari yang ia kira. Ia merasakan ketakutan untuk pertama kali dalam hidupnya dan ia teringat pada teman masa kecilnya, Samiir yang hilang dalam perjalanan kerja dan tiada kembali ke rumahnya. Ketika itu semua mengatakan, hilangnya Samiir saat berusaha melewati jalan itu.

Ia terus mendekat ke tepi jalan dan kendaraan itu mendekat dengan cepat. Ia merasakan waktu bertambah berat. Dan langkahnya semakin melambat. Tiba-tiba ia tidak merasakan pijakan tanah di bawahnya. Dengan tekanan angin yang dihasilkan cepatnya laju kendaran, ia merasa terbang karena kerasnya benturan Rabi’ dengan karet di kendaraan. Ia tetap tergantung di karet itu dengan keterbatasan tenaganya. Lalu angin menggeleparkan Rabi’ tatkala kendaraan itu berbelok. Ia merasakan capek, dan diam dalam ketidaksadaran.

Rabi’ tidak tahu sudah berapa lama waktu berjalan, dan ia masih belum sadar. Namun tatkala ia mulai sadar fajar hampir terbit. Ia merasakan tulang belulangnya telah remuk. Dan kepalanya terasa sakit. Bersama dengan itu ia mulai bergerak. Ia berhenti dan mulai bergerak lagi berusaha mengetahui tempat ia berada. Ia berharap bisa sampai pada tempat tinggalnya dan kaumnya. Udara membawakan bau semut yang tidak biasa kepadanya. Namun pada akhirnya aroma semut juga. Itu artinya ada kehidupan semut tak jauh darinya. Rabi’ terus mengikuti aroma itu hingga sangat dekat dengannya, lalu ia merasakan detak jantungnya lebih cepat. Apakah mereka akan mengetahuinya? Dan apa yang akan terjadi jika mereka menolak pertemuannya dengan mereka. Pikirannya terhenti oleh suara yang datang dari sisi yang dekat. Sebelum ia menoleh untuk menyatakan suara itu ia merasakan gerakan yang cepat di sekitarnya lalu ia menoleh dengan cepat tapi sebuah pukulan kuat mendarat di kepalanya, menghilangkan kesadarannya kedua kalinya. Maka ia terkapar dalam pingsan yang lama.

Rabi’ bangun, ia kesakitan dan merasakan seretan yang sangat kuat. Ia terikat dengan kuat. Dan di sekitarnya beberapa tentara semut berdiri menjaganya. Ia berusaha bergerak namun tidak bisa. Seorang tentara mendekatinya dan tersenyum penuh kebencian kemudian dia menampar wajah Rabi’ dengan kuat. Rasa letih tiba-tiba hilang namun ia merasakan kegetiran dan hampir menangis, tapi ia menahannya dan dalam diam ia melihat penjaganya. Ia mendengar suara yang menyuruh mereka melepaskan ikatannya, maka dengan cepat tentara itu melepaskannya lalu berhentilah seekor semut yang nampaknya ia adalah pemimpin pasukan tentara itu.

“Dengar wahai tawanan, siapa namamu?”

“Namaku Rabi’”

“Dari mana kau datang?”

“Dari lembah kuning”

“Jarak yang jauh dari sini. Kenapa kau datang ke sini dan bagaimana kau sampai di sini?”

“Aku sampai di sini sewaktu melewati jalan, dan kendaraan manusia membawaku jauh dari kaumku”

“Aku harap aku bisa mempercayaimu. Tapi aku tahu, bahwa kau datang ke sini untuk memata-matai kami”

“Tidak benar. Semua ini karena sebuah kendaraan yang membawaku jauh dari kaumku”. Rabi’ menolak dengan cepat.

“Jangan mengingkari kekurangajaran ini. Kau tawanan kami”

Rabi’ ingin menolaknya tapi ia tetap diam. Maka pemimpin semut itu berbicara lagi.

“Kamu akan menjadi tawanan kami. Dan kamu akan bekerja mengumpulkan makanan” Kemudian ia mengingatkannya dengan isyarat tangan, “Tentu dengan pengawasan. Dan usaha apapun untuk melarikan diri, kami akan membunuh dan memakanmu”. Lalu ia tertawa terbahak-bahak. “Paham?”

“Rabi’ menganggukkan kepalanya dalam kebisuan”

“Baik. Sekarang pergilah ke halaman. Kau muda dan kuat. Banyak yang akan menantimu”.

Rabi’ keluar dengan penjagaan dan letih meliputinya. Ia tidak berkata apa-apa, karena ia merasa, berbicara dengan mereka tak akan membuahkan hasil. Mulailah kehidupan Rabi’ yang baru. Ia merasakan kebiadaban di sekitarnya. Ia sangat terkejut. Masuk akalkah terjadi kebiadaban di kerajaan semut tanpa ia ketahui? Namun ia bukanlah satu-satunya tawanan mereka. Tapi tiba-tiba ia terkejut setelah bertemu dengan teman seusianya Samiir yang juga menjadi tawanan di sana. Samiir telah banyak berubah, ia menjadi semut yang kurus. Rabi’ merasakan bahwa temannya itu berjalan meski tubuhnya kurus. Ia juga tidak lupa hari itu Samiir terlalu lelah. Maka Rabi’ berkata pada pasukan semut untuk membebaskannya. Namun mereka membalasnya dengan olok-olok dan hinaan. Ungkapan-ungkapan itu; “Yang lemah tidak berhak hidup”, “Tak ada gunanya kami mengobatinya karena ia lemah” dan ungkapan-ungkapan sejenisnya. Setiap Rabi’ berusaha untuk membebaskan temannya, dengan cepat mereka membedakan perbedaan kehidupan tanpa belas kasihan, ketika meninggalkannya. Dan dengan cepat Rabi’ mulai berubah tanpa ia menyadarinya.  Rabi’ diam dalam lamunan. Kesedihan yang menyelimuti wajahnya menjadikannya tampak lebih tua, menjadi raut wajah Rabi’.

“Wahai tawanan!”

“Rabi’ menoleh tanpa menjawabnya”.

“Kenapa kau tidak menjawab?”

“Apa yang aku katakan?”

Pembesar semut menampar telinganya hingga ia merasakan sakit. Dan suara dengung dirasakannya berputar-putar. Kemudian semut itu berkata.

“Sepertinya kau mulai mengingkari perintah”

“Perintah apa? Aku belum bicara apa pun. Kenapa. Kenapa semua ini?”

Pembesar semut marah dan mendekati Rabi’, lalu menjinjingkan dadanya. “Dengar wahai tawanan, kau membuat aku mengendalikanmu”

Rabi’ memberanikan diri dan mejawabnya dengan tenang. “Aku adalah semut sepertimu. Kenapa kau mengendalikanku?”

“Kamu bukanlah sepertiku. Kau lemah, tak bernilai. Tapi aku kuat dan besar”

“Setiap kita adalah semut pekerja wahai kawan. Apa beda antara kau dan aku?”

“Perbedaannya adalah kau tawanan”

“Siapa yang menawanku? Saudaraku? Dari kulitku sendiri?”

“Aku bukanlah saudaramu. Kau musuhku. Kau datang keduniaku sebagai mata-mata”

“Tidak. Cobalah keluar dari pemikiran ini. Aku datang ke sini karena sebuah peristiwa, tak lebih dari itu. Dan aku menyukai hidup dalam ketenangan”.

“Tak ada tempat bagimu, kecuali sebagai pembantu”

“Semut tidak mengenal istilah ini. Kita telah belajar untuk hidup di tempat kita, karena tempat kita. Tidak ada beda. Setiap kita pada akhirnya membantu umat kita”

Tawa pembesar semut itu meninggi. Matanya mulai memerah. “Ini hanyalah falsafah”.

“Ini adalah kenyataan. Kita bisa hidup dalam kedamaian dan kasih sayang. Dan saling melengkapi antara satu dan lainnya”

“Kamu tidak melengkapiku dalam apa pun. Dengar, aku peringatkan. Kalau kau lanjutkan, kau akan kubunuh”.

“Pada akhirnya kau saudaraku”

“Tidak. Aku bukan saudaramu”

“Lalu apa”


Pembesar semut itu marah dan berteriak pada semut-semut lain. “Pukul dia!”. Ribuan tangan mulai memukuli Rabi’. Ia tidak berusaha melawannya karena ia tak akan mampu. Ia disibukkan dengan pikiran dunianya dan Samiir. Kemudian ruhnya mengalir dengan tenang untuk bertemu dengan ruh-ruh temannya. Bersama dengan perjalanan itu, diperintahkan kepada tentara semut-semut untuk membawanya pada penyimpanan makan, sebagai persiapan musim dingin.

Tuesday, September 22, 2015

Dongeng Pangeran dan Elang

Dahulu kala hiduplah seorang pangeran di sebuah kerajaan. Pangeran itu sangat tegas dan disiplin. Ia tidak takut untuk menghukum penjahat yang merugikan orang lain. Namun meskipun ia tegas dan disiplin, ia juga senang untuk memberi pujian dan hadiah kepada orang yang berbuat kebaikan. Sikapnya itulah yang membuat pangeran itu disegani seluruh keluarga istana dan rakyatnya.

Dikisahkan, sang pangeran mempunyai sahabat yang selalu mengikutinya kemanapun ia pergi. Sahabat pangeran itu adalah seekor elang. Elang itu selalu setia menemaninya. Saat dalam peperangan, elang itu membantu pangeran memandu perjalanan pasukan dan mengintai musuh-musuhnya. Hingga setiap peperangan, pangeran itu selalu mendapatkan kemenangan. Salah satu sebab kemenangannya tak lain karena jasa elang sahabatnya itu.

Pada suatu hari, pangeran tersebut melakukan sebuah perjalanan yang jauh. Jalan yang dilalui pangeran begitu sulit, sehingga ia harus berjalan kaki. Ia harus melewati gunung yang tinggi, hutan yang lebat, dan tebing-tebing yang curam. Dan seperti biasanya, elang pangeran ikut serta bersamanya.

Sepanjang perjalanan, elang pangeran terbang berputar-putar di angkasa, memandu perjalanan pangeran dan mengawasi jika akan terjadi bahaya. Sesekali elang itu turun dan bertengger di pundak kanan sang pangeran.

Dalam perjalanannya, setelah berjalan lama, pangeran pun merasa lelah. Ia berhenti sejenak untuk beristirahat. Lalu ia mengeluarkan tempat air minumnya. Namun sayang sekali air minumnya telah habis, bahkan tidak tersisa setetespun. Meskipun dalam keadaan telih dan haus, pangeran tetap menampakkan kegagahannya. Ia tidak mengaduh dan mengeluh. Lalu ia segera melanjutkan perjalanannya sambil mencari sumber air untuk diminum.

Berbukit-bukit dilewati, namun pangeran belum juga menemukan air. Ia terus berjalan menyusuri hutan hingga ketika ia tiba di bawah tebing, ia mendapati tetesan air dari resapan tanah dan bebatuan tebing itu. Maka ia segera mengelurakan sebuah cawan kecil dari sakunya, yang biasa digunakannya untuk minum. Lalu cawan tersebut ditadahkan pada tetesan air tersebut supaya air tertampung di dalamnya.

“Tik, tik, tik..”. Tetesan air itu sangat lamban, sehingga pangeran membutuhkan waktu lama untuk memenuhi cawannya. Dengan sabar dan tekun pangeran menunggu cawannya hingga penuh. Setelah cawan tersebut penuh dengan air, maka diangkatnya cawan tersebut, hendak diminum airnya.

Elang yang sebelumnya terbang berputar diangkasa tiba-tiba terbang menukik dan cakarnya yang kuat menampik cawan sang pangeran hingga terjatuh dan seluruh air dalam cawan itu tumpah ke tanah. Pangeran pun marah dan geram pada elang. Matanya memerah.

“Wahai elang, aku kumpulkan tetes-tetes air ini dengan susah payah. Namun, ketika aku ingin menikmatinya, kenapa engkau menampiknya hingga tumpah di atas tanah?” Ucap pangeran dengan suara garang kepada elang itu. Elang yang sudah terbang lagi ke angkasa hanya mencuit. Ia terbang perputar-putar lagi di udara.

Pangeran pun mengambil cawan yang terjatuh di atas tanah tersebut, dan mulai menadahkan kembali di bawah tetes-tetes air itu. Dengan sabar dan tekun, pangeran menunggu tetes-tetes air hingga memenuhi cawan. Dan setelah cawan itu penuh ia pun mengangkat cawan didekatkan ke mulutnya untuk meminum air di dalamnya. Pada saat itu juga elang terbang menukik dan menampik cawan itu hingga terjatuh ke tanah. Suluruh air dalam cawan itu pun tumpah di atas tanah.

“Wahai elang, dengan suyah payah aku mengumpulkan air ini, dan kau masih menampiknya. Kenapa kau menghalangi orang lain menikmati apa yang diperolehnya dengan usahanya sendiri? Kau sudah membuat kesalahan besar. Ini adalah peringatan terakhir bagimu. Jika kau masih menampiknya, aku penggal kepalamu saat itu juga”. Pangeran berkata dengan keras. Mata pangeran memerah. Ia sangat marah dengan apa yang dilakukan elang. Sedangkan elang hanya mencuit panjang di udara.

 Pangeran mengambil lagi cawannya di atas tanah. Ia mulai dari awal lagi mengumpulkan air tetes demi tetes. Dengan sabar dan tekun akhirnya cawannya terisi penuh dengan air. Maka diangkatnya cawan itu untuk didekatkan dengan mulutnya. Bersama dengan itu tangan kiri pangeran mencabut pedang di pinggangnya dan diacungkan ke udara bersiap mencabik elang jika ia tetap menampik cawan itu.

Dan benar, elang itu menukik lagi dari angkasa menuju sang pangeran. Dan dengan cakarnya yang kuat ia menampik cawan pangeran. Bahkan tampikannya kini lebih keras hingga cawan itu terlempar jauh dari pangeran. Maka pedang di tangan kiri pangeran pun langsung mengayun menyambar leher elang. Saat itu juga kepala elang terpisah dari tubuhnya. Ia mati terkapar di atas tanah.

Pangeran itu benar-benar membunuh elang sahabatnya. Ia marah dan geram dengan apa yang dilakukan elang kepadanya. Rasa hausnya semakin bertambah. Ia hendak mengambil cawan itu namun tidak menemukannya. Kuatnya cakar elang, membuat cawan itu terlempar jauh darinya.

Karena pangeran tidak menemukan cawannya, akhirnya ia memutuskan untuk menaiki tebing itu mencari sumber mata air yang meresap di bawahnya. “Jika di bawah tebing ini terdapat resapan air, pasti di atas sana ada sumber mata airnya”. Ucap pangeran dalam hati.

Maka dengan rasa letih dan haus bercampur dengan kemarahan, pangeran itu menaiki tebing dengan melewati jalan yang sulit sekali. diruntutnya resapan air itu untuk sampai pada sumber mata airnya. Setelah berusaha dengan keras akhirnya sang pangeran sampai di atas tebing, dan benar, ia menemukan sebuah danau kecil di sana. Ia pun tak sabar untuk mendekat dan meminum airnya yang segar.

Setelah sampai di danau itu, pengeran sangat terkejut ketika ia mendapati bangkai luar yang besar sekali di danau itu. Baunya busuknya sangat menyengat hidung. Hal itu menandakan bahwa ular tersebut belum lama mati. Dan yang lebih mengejutkan yaitu bahwa ular itu adalah ular yang sangat berbisa. Racun dalam bisanya dapat membunuh manusia dengan cepat.

“Air di danau ini tentu tercemari dengan racun ular ini”. Sang pangeran berkata dalam hati. Air matanya meleleh membasahi kedua pipinya. Ia teringat sahabatnya yang telah menyelamatkan nyawanya. Yaitu seekor elang yang selalu menemaninya dalam setiap perjalanannya. Yang selalu bersamanya di kala suka dan duka.

“Wahai elang sahabatku yang malang, karena kemarahanku, aku berbuat tanpa berpikir dengan teliti. Seharusnya aku mencari tahu terlebih dahulu kenapa engkau selalu menampik air dalam cawan ketika aku akan meminumnya. Ternyata air itu mengandung racun yang bisa membunuhku. Maafkanlah aku. Maafkan aku sahabatku...”. Pangeran itu menyesali perbuatannya. Air matanya terus mengalir bercucuran. Dan air mata itu adalah satu-satunya air mata yang mengalir selama ia menjadi seorang pangeran. Karena selama menjadi pangeran, ia belum pernah menangis. Sekali pun.


TAMAT

Tuesday, September 1, 2015

Dongeng Anak Elang

Di sebuah hutan yang lebat hidup sepasang elang. Kedua elang itu bebas hidup di alam. Mereka terbang mengitari hutan, mengepakkan sayapnya di atas tebing, dan jika sudah lelah mereka bertengger di pucuk-pucuk pohon yang tinggi.

Di pagi hari mereka terbang tinggi. Lalu berputar-putar di udara. Di atas udara yang tinggi itu matanya selalu mengawasi daratan. Mereka mencari ular, tikus, dan ayam untuk dijadikan makanan. Cakarnya yang kekar siap mencengkram, dan paruhnya yang runcing siap mengoyak daging hewan-hewan kecil tersebut. Ketika melihat mangsanya di daratan, sayap elang itu menekuk dan terbang menukik menghampirinya.

Kedua elang itu sejatinya adalah suami istri. Mereka saling berbagi dan saling menyayangi. Mereka hidup berpindah-pindah dari satu pohon ke pohon lain. Hingga pada saat elang betina akan bertelur, maka mereka mencari pohon yang paling tinggi di antara pohon-pohon di hutan itu. Di pucuk pohon itu mereka membuat sarang untuk bertelur elang betina. Mereka berdua mencari serpihan-serpihan batang dedaunan dan merajutnya menjadi sebuah sarang yang bagus.

Setelah sarang yang dibuat sudah sempurna, elang betina bertelur di atasnya dua butir. Semenjak itu mereka berdua bergantian menjaga telurnya. Ketika elang jantan berburu, maka elang betina mengerami telurnya. Begitu juga ketika elang betina berburu, elang jantan berganti mengerami dan menjaga telur elang betina. Mereka berdua begitu menyayangi telurnya. Kelak telur-telur itu akan menjadi generasi penerusnya.

Waktu terus berjalan. Hari berganti hari. Hingga setelah sampai pada 40 hari tiba waktunya yang ditunggu-tunggu. Pada saat itu telur-telur elang akan menetas menjadi anak elang. Dan benar sekali, setelah 40 hari menetaslah kedua telur itu. Dua bayi elang lahir di dunia. Satu elang jantan dan satu elang betina. Mereka membuka matanya melihat ayah ibunya. Mereka bahagia sekali.

Semenjak adanya dua bayi elang itu, ayah ibu elang selalu menyisihkan hasil pencarian makanan untuk mereka. Pada mulanya induk elang menyuapi bayi elang itu dengan makanan yang ada di paruhnya. Kemudian setelah beberapa lama, induk elang mulai membawakan buruan untuk dimakan anak elang dengan paruhnya sendiri.

Dengan berjalannya waktu, anak elang tumbuh besar. Sayapnya mulai dikepakkan bulu-bulunya sudah lebat. Pada saat itu ia mulai berlatih untuk terbang. Dari dahan ke dahan ia terbang, lalu kembali ke sarang. Terbang jarak pendek itu dilakukan dengan pengawasan orang tuanya.

Di pagi hari yang cerah, ibu elang berkata pada kedua anaknya: “Anak-anaku, ayah dan ibu hari ini akan pergi berburu. Kalian kami tinggalkan sementara waktu”.

“Iya, bu”. Mereka menjawabnya.

“Meskipun kalian sudah mulai bisa terbang, tapi selama ayah ibu pergi, jangan mencoba terbang sendiri, karena sayap-sayap kalian masih lemah. Belum mampu terbang terlalu lama. Kalian harus sabar dulu menunggu otot-otot sayap kalian kuat”. Ucap ayah elang berpesan, sebelum meninggalkan mereka.

“Iya ayah. Kami akan tetap di sarang ini selama ayah ibu pergi”.

Setelah itu ayah dan ibu elang mengepakkan sayapnya, dan menuncur ke udara berburu ke daerah yang jauh. Sedangkan kedua anak elang itu tetap berada di sarangnya.

Beberapa saat kemudian, elang jantan kecil mulai bosan tinggal di sarang. Ranting-ranting dan dahan-dahan pohon yang indah membuatnya ingin segera berlatih terbang lagi. Ia melebarkan kedua sayapnya, merasakan hempasan udara. Ia pun keluar dari sarang dan berdiri di salah satu dahan.

“Apa yang kamu lakukan? Ayo cepat kembali ke sarang!” Ucap elang betina kecil. Mengingatkan pesan ayah ibu mereka.

“Kemarilah, rasakan hembusan udara yang lembut ini!” Elang jantan kecil bukannya kembali ke sarang, ia malah mengajak adiknya untuk mengikutinya.

“Tidak. Kita sudah berjanji kepada ayah ibu untuk tidak meninggalkan sarang ini”. Elang betina kecil menolak.

“Ayah ibu sudah pergi jauh. Mereka pasti tidak akan tahu apa yang kita lakukan”. Sembari berkata elang jantan kecil terbang pendek ke dahan lainnya. “Ayolah, lihat aku, aku sudah mampu terbang. Begitu juga kamu, adikku”.

“Tidak kak. Marilah kembali ke sarang. Bukankah ayah melarang kita untuk terbang sendiri. Sayap kita masih lemah. Kita harus bersabar menunggu otot-otot sayap kita tumbuh menjdi lebih kuat lagi.”

“Ayah dan ibu terlalu mengkhawatirkan kita. Lihatlah, aku sudah mampu terbang. Kalau kamu tidak mau mengikutiku, baiklah, kamu tunggu di situ. Aku akan pergi sebentar saja”.

Tanpa menunggu jawaban adiknya, elang jantan kecil itu melompat dari dahan ke dahan, seperti saat ia berlatih dengan orangtuanya. Ia gembira sekali. Dan ketika ia melihat dahan di lain pohon, ia pun tak sabar untuk terbang menuju ke dahan dan hinggap di atasnya. Ia pun mengambil nafas dalam-dalam, mengangkat kedua sayapnya dan langsung meluncur ke dahan yang dituju. Namun, sebelum mencapai dahan itu, tiba-tiba sayapnya tidak kuat lagi menahan beban tubuhnya. Ia terjun ke bawah dan jatuh di atas bebatuan.

Elang betina kecil hanya bisa memandangi kakaknya itu dari sarangnya. Ia tidak mau melawan nasihat orang tuanya. Apa pun yang terjadi ia tetap tinggal di sarang. Yang bisa dilakukannya hanyalah memanggil-manggil kakaknya dan meneteskan air mata.

Sore hari sebelum matahari tenggelam, ayah dan ibu elang datang membawa makanan hasil buruannya. Merekapun kaget ketika hanya elang betina kecil yang ada di sarang.

“Pergi kemana kakakmu, wahai anakku?”. Ibu elang bertanya.

Elang betina kecil menceritakan semua kejadian itu dengan berlinang air mata. Lalu  ayah dan ibu elang langsung melihat tempat jatuh putranya. Dari dahan ia melihat putranya mati terkapar di atas bebatuan. Ia pun meneteskan air mata, sembari berkata dalam hati, “Sungguh malang kau anakku. Seandainya kau menuruti nasihat kedua orangtuamu, engkau akan bersabar dan tidak tergesa-gesa untuk terbang. Engkau pasti selamat”.

Hari sudah petang tatkala ayah dan ibu elang kembali lagi ke sarang. Kesedihan masih menyelimuti diri mereka. Elang jantan kecil ditinggal sendiri di atas bebatuan.

Saturday, May 23, 2015

Dongeng Raja Angin

“Lihat kebunku, penuh dengan bunga. Ada yang putih dan ada yang merah. Setiap hari kusiram semua. Mawar, Melati, semuanya indah”. Pagi itu Maharani bernyanyi riang gembira sambil menyirami bunga-bunga di depan rumahnya.
Maharani adalah gadis kecil yang duduk di Sekolah Dasar kelas lima. Ia tinggal berdua bersama neneknya di tepi hutan yang lebat. Rumahnya beratapkan ijuk dan didingnya dari anyaman bambu. Di depan rumahnya terdapat pot-pot kecil yang berisi bermacam-macam bunga.
Saat liburan sekolah tiba, teman-teman Maharani berlibur ke tempat-tempat wisata. Ada juga yang pergi ke rumah saudaranya di kota. Temannya yang masih di rumah hanya Anita. Tapi sungguh menyebalkan, Anita tidak bisa diajak bermain karena ia membantu ibunya mengasuh adiknya yang masih kecil.
Maharanipun berpikir sejenak, apa yang akan dilakukannya untuk mengisi liburan ini. Saat dia berpikir, tiba-tiba Sinyo dan teman-teman laki-lakinya lewat dengan membawa layang-layang di kedua tangan mereka. Mereka saling bernyanyi dan bersiul bahagia. “Kuambil buluh sebatang, kupotong sama panjang, kuraut dan kutimbang dengan benang, kujadikan layang-layang. Bermain... bermain.. bermain layang-layang. Bermain kubawa ke tanah lapang. Hati gembira dan riang”.
“Hai Sinyo, Adi, dan Ridwan, kalian mau kemana?” tanya Maharani.
“Kami mau bermain layang-layang. Ada apa Maharani?”
“Aku boleh ikut?”
“Ha.. ikut. Hahaha... kamu kan perempuan. Perempuan itu tidak boleh bermain layang-layang”. Ucap Adi.
“Siapa yang bilang perempuan tidak boleh bermain layang-layang?” Tanya Maharani
“Nanti kulitmu jadi hitam terkena sinar matahari, Maharani”. Jawab Sinyo
“Kenapa harus takut kulit hitam? Aku juga jago bermain layang-layang”.
Sinyo dan teman-temannya tidak bisa menolak keinginan Maharani. Maharani itu perempuan yang tangkas dan tegas. Ia selalu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai apa yang diinginkannya.
“Oh iya, apa kamu sudah mempunyai layang-layang, Maharani?” tanya Ridwan.
Maharanipun hanya terdiam, karena ia tidak mempunyai layang-layang apalagi benang untuk menerbangkannya.
“Kalau begitu kamu beli layang-layang dulu, Maharani. Besok baru bermain bersama kami”. Ucap Sinyo .
Dengan terpaksa Maharani mengurungkan niatnya. Lalu ia menemui nenek dan meminta uang untuk membeli layang-layang. Namun sayang sekali neneknya saat itu tidak mempunyai cukup uang untuk membeli layang-layang.
“Namun, untuk membeli kertas cukup kan nek?” tanya Maharani.
“Iya. Cukup, sayang”. Jawab nenek.
Lalu Maharani teringat ia pernah melihat temannya membuat layang-layang. Sekarang ia hanya perlu benang dan bambu, dan tentu ia akan menggunakan benang neneknya yang biasa digunakan untuk menambal baju.
Setelah Maharani mendapat izin neneknya menggunakan benang tersebut, dengan semangat ia pergi ke hutan dekat rumahnya untuk mencari bambu. Kemudian bambu itu dipotong sama panjang, diraut, dan diikat ujung-ujungnya sehingga menjadi kerangka layang-layang. Kemudian diberi kertas, dan jadilah sebuah layang-layang yang indah.
Hari berikutnya Maharani sangat bahagia sekali karena ia dapat menerbangkan layang-layang bersama teman-temannya. Lebih hebat lagi, layang-layang Maharani terbang paling tinggi di antara layang-layang lainnya.
Di tengah-tengah kegembiraannya, tiba-tiba angin bertiup kencang. Layang-layang Maharani yang terlalu tinggi tidak kuat menahan tiupan angin itu. Layang-layang itu putus dan terbang. Teman-teman Maharani tidak bisa berbuat apa-apa. Layang-layang itu tidak mungkin diburu dan ditangkap lagi. Maharani marah sekali. Layang-layang kesayangannya kini hilang dibawa angin. Ia pulang dengan hati sedih.
“Nek, maafkan Maharani. Benang nenek terbawa angin bersama layang-layang Maharani”, Maharani meminta maaf kepada neneknya.
“Tidak apa-apa, sayang. Besok bisa beli layang-layang lagi”, lalu Maharani mencium pipi nenek.
“Oh ya, nenek masih punya satu kilo biji jagung. Besok kita jual ke pasar untuk membeli benang”. Mendengar hal itu Maharani sangat senang. Ia mencium pipi nenek lagi.
“Tapi harus menunggu kering dahulu, karena sekarang masih dijemur di atas atap rumah”.
“Baik, Nek. Saya akan menunggu biji-biji jagung itu kering untuk dijual ke pasar” Maharani  berkata dengan wajah ceria.
Tak lama kemudian tiba-tiba angin berhembus kencang. Jagung di dalam talam itu jatuh dari atap rumah. Biji-biji jagung tercecer di tanah dan langsung dimakan ayam hingga tak tersisa. Ketika mengetahui itu, Maharani sangat marah.
“Awas, kau angin! Aku akan meminta ganti atas perbuatanmu ini!” Maharani berkata dengan geram.
Nenek juga ikut bersedih melihat Cucu yang disayanginya tidak bisa membeli benang lagi, karena biji-biji jagungnya ditumpahkan angin. Tak lama kemudian, ia teringat pohon pisang di kebun. Pohon itu sudah berbuah dan hampir matang.
Buah pisang itu dua hari lagi pasti matang dan bisa dijual ke pasar untuk membeli benang dan layang-layang, nak”. Nenek berkata kepada Maharani.
“Nenek baik sekali. Aku sayang nenek”, Maharani senang sekali, ia akan segera mempunyai layang-layang.
Waktu terus berjalan. Hingga pada malam harinya, hujan rintik-rintik turun dari langit. Tiba-tiba angin kencang datang lagi. Maharani segera berlindung dalam selimutnya yang hangat. Ia akan tidur terlelap malam ini, karena dua hari lagi ia akan mengetam buah pisang di kebun. Lalu buah itu dijual ke pasar untuk membeli benang serta layang-layang. Ia ingin cepat-cepat bermain layang-layang lagi dengan teman-temannya.
Pagi harinya saat Maharani berkunjung ke kebun, ia melihat banyak ranting pepohonan yang patah. Dan kaget sekali setelah melihat pohon pisangnya roboh ke tanah. Buahnya pun tidak bisa matang dan tidak bisa dijual ke pasar.
“Ini pasti karena angin tadi malam”, pikirnya.
“Awas angin! Aku akan meminta ganti rugi atas semua yang kau lakukan! Tunggulah besok! Aku akan mencarimu sampai ketemu”. Maharani berkata jengkel sekali.
Benar. Keesokan paginya Maharani berpamitan kepada neneknya untuk mencari kayu di hutan. Sebenarnya ia tidak hanya mencari kayu, tapi juga akan mencari Raja Angin untuk meminta ganti rugi atas layang-layang yang telah diputuskannya, biji-biji jagung yang ditumpahkannya, dan pohon pisang yang dirobohkannya. Dengan berbekal tongkat, ia memulai perjalanannya dengan berdo’a.
Langkah demi langkah ia berjalan ke tengah hutan. Hari pun semakin terang. Di hutan tetap terasa sejuk karena banyak pohon-pohon besar. Burung-burung saling bernyanyi di atas ranting pepohonan. Tekad Maharani sudah kuat. Ia menyusuri sungai, mendaki gunung, melewati kebun, melewati semak-semak. Bunga-bunga bermekaran di tepi jalan seakan saling mengucapkan salam kepadanya.
Setelah Maharani bekerja keras, berusaha dengan sungguh-sungguh, dan berjalan jauh ke dalam hutan, ia pun menemukan apa yang dicarinya. Dia adalah Raja Angin. Seekor ular raksasa. Ia sebesar pasawat, dan sepanjang kereta api. Si Raja Angin melingkar di sebuah pohon yang besar dan rindang. Matanya bulat bercahaya. Mulutnya besar sekali, sampai seekor gajah pun bisa ditelan.
“Raja Angin! Ayo bangun!” Maharani membangunkan Raja Angin yang sedang tidur nyenyak.
Raja Angin menggeliat. Tanah di sekitarnya bergetar hebat. Rupanya ada yang mengganggu tidur nyenyaknya. Maharani tetap berdiri tegap di depan Raja Angin. Ia bukan seorang penakut.
“Huaaaaah. Siapa yang mengganggu tidur siangku?”. Raja Angin berkata sambil menguap.
“Aku Maharani”. Maharani berkata dengan lantang.
“Hmmmmm” Raja Angin mendengus ketika tahu yang membangungkannya adalah seorang anak kecil dengan tongkat di tangannya.
Hai anak kecil. Ada apa kau ke sini?” Raja Angin berkata dengan serak dan berat.
Karena tiupanmu terlalu kencang kencang. Layang-layangku putus dan hilang. Kau juga menumpahkan biji-biji jagung nenek. Kau juga merobohkan pohon pisang di kebun. Aku minta ganti rugi padamu!”. Maharani berkata lantang di depan Raja Angin. Ia sama selaki tidak takut.
“Haa… haa.. haa…” Raja Angin tertawa terbahak-bahak. “Anak kecil, kau berani sekali meminta ganti rugi kepadaku. Apa kau tidak takut aku makan? Semua orang di desa takut kepadaku. Haa.. haa.. haa…” Raja Angin menakuti Maharani.
Raja Angin membuka mulutnya lebar-lebar. Tampak giginya sebesar sepatu. Lidahnya menjulur, bagaikan cambuk. Erangannya menggetarkan daun-daun di sekitar. Maharani tetap berdiri dengan gagah berani.
Tak lama kemudian Raja Angin mengangkat kepalanya lalu menerkam tubuh Maharani yang kecil. Dengan cepat Maharani menghindarinya. Diangkatnya lagi kepalanya dan menerkam tubuh Maharani, namun gagal lagi.
Di saat itu Maharani mengangkat tongkat ke perut Raja Angin. Tongkat itu ditusuk-tusukkan ke perutnya. Raja Angin menggeram kegelian. Maharani terus menusuk-nusukkan tongkatnya.
“Hua.. hua.. hua.. ampun. Ampun Maharani. Lepaskan tongkatmu. Aku akan mengganti semua barangmu yang hilang karena perbuatanku. Ampun Maharani, hentikan tongkatmu”. Raja Angin tak kuat menahan kegelian di perutnya. Maharani yang baik hati segera melepaskan tongkatnya dari perut Raja Angin. Raja Angin meminta maaf atas semua yang dilakukannya.
Di ekor Raja Angin ada sebuah bungkusan kain. Bungkusan itu diberikan kepada Maharani sebagai ganti barang-barang yang telah hilang dan rusak karena ulah Raja Angin. Lalu Maharani pulang dan tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Raja Angin.
Seletah sampai rumah, bungkusan itu dibuka bersama nenek. Isinya emas dan berlian. Emas dan berlian itu sebagian dibagikan kepada fakir miskin. Dan tak lupa, ia membeli layang-layang dan bermain lagi bersama teman-temannya.