Tuesday, December 8, 2015

Belajar Mencari Pasangan Melalui Tembang Ande-ande Lumut

Dalam menentukan pasangan hidup, setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda. Ada yang berfikir, bahwa pasangan hidup fisiknya harus sempurna. Bentuk tubuhnya, raut muka, bentuk rambut, tinggi badan, dan lain sebagainya. Sedangkan karakter dan kepribadian boleh saja sembarangan, karena hal itu akan bisa dirubah atau dibentuk ulang di kemudian hari.

Ada juga yang berfikir, bahwa pasangan hidup yang terpenting adalah innerbeauty-nya, cantik di kedalaman. Perilakunya harus baik, sopan-santun terhadap orang lain, dan ada juga yang menyaratkan kecerdasan. Segala yang berkaitan dengan fisik, itu menjadi nomor belakangan. Orang-orang yang berfikir seperti ini, adalah orang yang menganggap kecantikan dan ketampanan  hanyalah sementara, sedang yang abadi sampai mati adalah karakter dan kepribadian. Dua hal tersebut adalah yang berkaitan langsung dengan diri pribadi seseorang.

Ada orang yang menjadikan sesuatu di luar diri seseorang menjadi tolak ukur atas kriteria-kriteria yang ia tentukan. Sesuatu tersebut dapat berupa harta dan nasab atau keturunan. Dengan bergelimang harta, ia berharap hidupnya akan sejahtera. Atau bisa juga dengan nasab baik pasangan, ia akan menjadi terhormat dan terpandang dalam kehidupan bermasyarakat. Terdapat juga pikiran yang mengatakan bahwa nasab yang baik, akan menurunkan kebaikan juga bagi keturunannya kelak.

Kesemua ketentuan tersebut boleh saja, karena merupakan hak bagi setiap orang dalam menentukan calon pendamping hidupnya. Hanya saja dalam menentukan kriteria, kita harus ektra hati-hati dan penuh ketelitian. Karena suami dan istri akan terus hidup berdampingan hingga ujung usia. Bahkan melebihi pola kehidupan antara anak dan orang tua, yang mana orang tua harus rela berpisah dengan anak setelah pernikahannya dengan menantu. Anak juga harus memisahkan diri dengan orang tua untuk membangun keluarga baru dengan pasangannya.

Pada sebuah tembang jawa, kita bisa belajar bagaimana memilih kriteria pasangan. Lagu tersebut berjudul Ande-ande Lumut. Ande-ande Lumut merupakan sebuah nama tokoh dalam dongeng. Lagu ini terdiri dari tiga bait, yang dinyanyikan oleh dua orang, antara ibu dan anak. Berikut liriknya:

Ande-ande lumut
Ibu: 
Putraku si ande-ande lumut
Tumuruno ana putri kang unggah-unggahi
Putrine sing ayu rupane
Klenting abang iku kang dadi asmane
Anak:
 Bu si bu kulo mboten purun
Duh si bu kulo mboten medhun
Najan ayu sisane si yuyu kangkang

Ibu:
 Putraku si ande-ande lumut
Tumuruno ana putri kang unggah-unggahi
Putrine sing ayu rupane
Klenting ijo iku kang dadi asmane
Anak:
Bu si bu aduh-aduh romo
Kang putra taksih dereng kerso
Mergo kang putra taksih nandang asmoro

Ibu:
 Putraku si ande-ande lumut
Tumuruno ana putri kang unggah-unggahi
Putrine sing ala rupane
Klenting Kuning iku kang dadi asmane
Anak:
Bu si bu kulo inggih purun
Kang putra inggih badhe medhun
Senajan ala puniko kang putra suwun

Lirik lagu tersebut terdiri dari tiga bagian, yang secara kontruksi kalimatnya sama. Pada bagian pertama, “Putraku si ande-ande lumut/Tumuruno ana putri kang unggah-unggahi”. Artinya, wahai putraku Ande-ande Lumut, turunlah, ada putri yang akan ikut naik. Kemudian dilanjutkan dengan kalimat, “Putrine sing ayu rupane/Klenting abang iku kang dadi asmane”. Artinya, Putrinya rupawan/Klenting Merah namanya. Di situ ibu Ande-ande Lumut memberitahu bahwa ada seorang gadis cantik yang siap untuk dipersunting. Kata “Naik” di sini sesuai dengan konteks cerita, naik dalam artian ke pelaminan.

Lalu pada lirik berikutnya, berisi jawaban dari Ande-ande Lumut, “Bu si bu kulo mboten purun/Duh si bu kulo mboten medhun/Najan ayu sisane si Yuyu Kangkang”. Bu, ibu, saya tidak mau/Duh ibu, saya tidak turun/meski cantik ia bekasnya Yuyu Kangkang. Di sini Ande-ande Lumut menolak gadis tersebut lantaran sudah dicium Yuyu Kangkang. Dalam bingkai normatif, “cium” di sini memiliki spektrum yang lebih luas. Sehingga Ande-ande Lumut menyebutnya sebagai “bekas”.

Dalam ceritanya Klenting Merah memiliki dua saudara, yaitu Klenting Hijau dan Klenting Kuning. Ketika mendengar sayembara bahwa Ande-ande Lumut ingin mencari pasangan, maka Klenting Merah dan Klenting Hijau pergi menuju tempat Ande-ande Lumut tanpa mengajak Klenting Kuning. Untuk sampai pada tempat tersebut mereka harus melewati sungai besar. Dan di sana ada kepiting raksasa bernama Yuyu Kangkang yang mau menyeberangkan putri-putri tersebut dengan syarat imbalan diperbolehkan mencium mereka.

Karena itu pada bait kedua, ibu juga menyampaikan bahwa di sana ada putri bernama Klenting Hijau yang akan ikut naik. Namun Ande-ande Lumut tetap tidak mau turun, karena ia tahu bahwa Klenting Hijau juga sudah terkena ciuman Yuyu Kangkang. Namun demikian redaksi yang disampaikan Ande-ande Lumut berbeda dengan lirik pertama. Yaitu, “Bu si bu aduh-aduh romo/Kang putra taksih dereng kerso/Mergo kang putra taksih nandang asmoro”. Wahai ibu, aduh wahai bapak/Si anak masih belum berkenan/Karena si anak masih punya asmara. Di sini Ande-ande lumut menyebut dirinya dengan si anak, menjadi orang ketiga. Hal tersebut dikarenakan rasa tidak nyaman ketika menolak tawaran ibunya untuk kedua kali.

Sedangkan pada bait ketiga, sebagaimana bait sebelumnya ibu menawarkan gadis yaitu Klenting Kuning. Namun gadis itu tidak secantik Klenting merah maupun Hijau. Meski demikian Ande-ande Lumut turun dan mau menjadi pasangan gadis itu. Hal itu tercermin pada lirik terakhir, “Bu si bu kulo inggih purun/Kang putra inggih badhe medhun/Senajan ala puniko kang putra suwun”. Artinya, Iya bu, saya mau/Si anak akan turun/Meski jelek, inilah yang anak inginkan. Ande-ande Lumut mau menjadi pasangan Klenting kuning karena ia tahu kalau Klenting Kuning tidak menerima tawaran Yuyu Kangkang ketika menyeberangkannya di sungai dengan imbalan ciuman. Akan tetapi Klenting Kuning menggunakan sebuah senjata yang bisa mengancam Yuyu Kangkang, sehingga ia bisa menyeberang sungai dengan cuma-cuma. Pada kalimat tersebut Ande-ande Lumut juga menggunakan subjek orang ketiga “anak” mewakili dirinya. Hal tersebut dilakukan karena rasa rendah hati atas kebahagiaan yang diterimanya, yaitu Klenting Kuning.

Dengan demikian kita tahu, lagu tersebut mengajarkan bahwa keindahan dalam diri seorang lebih utama ketimbang keindahan luarnya. Keindahan diri pada tembang ini adalah kesucian diri dari tindak laku yang dikerjakannya, terutama berinteraksi dengan orang lain. Ibarat batu, laki-laki adalah batu kali, sedangkang perempuan adalah intan permata. Yang mana ketika keduanya tergores, nilai intan permata akan jauh lebih merosot turun dari pada batu kali. Maka dari itu perempuan harus lebih berhati-hati, dan lebih menjaga diri.


Rasulullah SAW pernah menyampaikan, ada empat hal yang perlu dipertimbangkan dalam mencari pasangan hidup. Yaitu, kecantikan/ketampanan, harta, nasab/keturunan, dan agama. Namun menurut beliau, jika kita memilihnya karena agama, maka akan dapat memelihara dan menjaga diri kita dari kerusakan dan kesulitan. Sedangkan agama Islam sangat menjaga kesucian diri seorang wanita. Sudah lengkaplah penjelasan bahwa kecantikan dalam diri, menjadi hal paling utama dalam kriteria memilih pasangan, sebagaimana yang terkandung dalam lagu Ande-ande Lumut. Semoga bermanfaat.

No comments: