Wednesday, December 5, 2012

Ketika Orang Tua Memaksakan Kehendak Anaknya


Berani mencintai berarti juga berani menanggung segala resiko yang diakibatkan darinya, termasuk patah hati. Itu adalah hukum alam. Kita tidak bisa terhindar darinya. Kita mengambil sesuatu dengan segala resikonya, atau tidak mengambil sama sekali. Dan hanya orang-orang yang berani menerima akibat dari yang ia lakukan, ialah orang-orang yang kuat.

Setiap manusia pasti pernah merasakan cinta. Merasakan geloranya. Bagaimana setiap sesuatu menjadi indah, bahkan hal-hal yang sebelumnya dibenci, tatkala di masa gelora cinta yang dibenci pun tiba-tiba disukainya tanpa suatu alasan yang jelas. Itulah gelora cinta, dimana keindahan menjadi pangkal dari segala sudut pandang.

Gelora cinta adalah gelombang yang memberi kekuatan jiwa. Yang menumbuhkan gairah kehidupan, dan yang memberikan kekuatan raga untuk melakukan hal-hal besar sekalipun. Cinta membangkitkan harapan-harapan dan cita-cita, melenyapkan semua bentuk dendam, dan kesemuanya itu membangkitkan kualitas hidup seseorang.

Ketika seorang berada di puncak gelora cinta lalu rintangan mulai menghadang, semangat untuk menyingkirkan segala rintangan menyala-nyala seperti api yang bangkit untuk membakar kayu. Namun semua itu hanyalah akan menjadi kebohongan ketika dihadapkan dengan kekuatan budaya balas budi. Dimana orang tua sebagai orang yang paling berjasa dalam hidup setiap orang, menjadi kuasa atas segala pilihan seorang tersebut, dan celakanya mencampuri urusan cinta, sedangkan urusan cinta adalah urusan rasa. Rasa yang murni dari kedalaman hati yang dimulai dari ketertarikan antara dua individu yang berbeda yang ingin bersatu.

Budaya balas budi adalah monster yang siap menerkam siapa saja, sebuah jurang api yang siap meleburkan apa saja, hujan belati yang siap mencincang siapa saja yang terperangkap di dalamnya. Balas budi menjadi jebakan paling sukses sepanjang sejarah manusia. Ia melemahkan dengan menyenangkan, menjerumuskan dengan mengangkat martabat, dan menusuk tanpa menghunus. Sebuah cara paling kejam untuk mematikan apa saja yang dijadikan sasarannya.

Orang tua sebagai orang paling berjasa dalam tumbuh kembangnya anak adalah salah satu orang yang memiliki senjata paling mematikan ini. Orang tua mendidik setiap anak, merawat, menimang, memberikan kasih sayangnya, secara langsung ia mengasah senjata balas budi yang bisa digunakan untuk menikam anaknya kelak dewasa nanti.

Adalah anak yang paling malang, yang orang tuanya tega mengeluarkan senjata terampuh untuk melemahkannya. Demi keinginan dan ambisi orang tua kepada anaknya, ia menggunakan senjata itu. Senjata balas budi. Senjata terlaknat di dunia, mengungkit-ungkit jasanya untuk mengendalikan anaknya yang sebatang kara tanpa dukungannya. Maka orang tua yang dulu dianggap sebagai penyayang utama dalam kehidupan anak, anak mulai berpikir, bahwa orang tuanya kini menjadi kanibal paling kejam di dunia.

Orang tua yang egois, mementingkan dirinya sendiri, mementingkan kehormatannya di atas apa pun, akan memasung anak, mencarikan jalur hidupnya, meski anak tidak suka dan tidak menemukan kecenderungan-kecenderungan dengan jalur itu. Maka yang terjadi adalah pertentangan harapan dan cita-cita. Anak mencoba mengutarakan keinginannya, mencoba menyuarakan pilihannya, dan orang tua akan mengeluarkan gaman paling tajam yaitu balas budi. Orang tua mulai mengungkit-ungkit jasanya pada anak, ia mengungkapkan bagaimana susahnya mendidik anak waktu kecil, mengganti popok, memandikan, menyuapi, dan dengan seperti itu orang tua menjadi pembunuh karakter paling kejam, sedangkan anak menjadi tak berdaya, menjadi mati rasa.

Hal itu akan lebih menyengsarakan tatkala berada di kawasan cinta. Dimana cinta bermula dari kecenderungan rasa. Pekerjaan dan profesi bisa saja disiasati jika orang yang melakukan tidak ada kecocokan dengannya. Tapi dalam ranah cinta, siapa yang bisa menyiasatinya. Dalam urusan pekerjaan ketidakcocokan akan reda begitu kita keluar kantor atau keluar dari jam kerja. Namun cinta, cinta adalah jalinan rasa yang membelit antara dua manusia. Dimana pun berada, kapan pun waktunya, cinta selalu mengiringi hidup manusia. Cinta bermukim dalam jiwa hingga akhir hayat manusia. Siapa yang bisa menyiasati cinta.

Maka orang tua yang mengeluarkan aji-aji paling bangsat itu untuk maksakan kehendak cinta seorang anak, ia telah merubah kepercayaan, keteladanan, dan kebersamaan anak menjadi kebencian yang dalam saat itu juga. Saat itu juga. Kepercayaan, keteladanan, dan kebersamaan anak dengan orang tua akan musnah seketika berganti dengan rasa benci yang tiada duanya. Sedangkan anak hanya akan menerima begitu saja, atau jika melawan dia akan menjadi seorang anak yang terkutuk karena menentang kehendak orang tua. Merupakan sebuah mitos yang sempurna untuk membodohkan dan melemahkan.

Maka mari kita ucapkan bela sungkawa atas yang terjadi pada setiap manusia yang dipaksakan cintanya oleh orang tua. Semoga mereka bisa menyesuaikan diri, bisa membangun cinta meski dengan susah payah. Semoga mereka diberi kekuatan untuk menerima segala kekejaman orang tua yang menggunakan sejata balas budi yang mengerikkan. Dan semoga kekalahan anak dalam bersuara buka semata karena ketertundukannya pada orang tua, namun ia sudah benar-benar berusaha berjuang untuk mendapatkan apa yang mereka harapkan, dengan sekeras-keras usaha.

Dan sebagai calon orang tua, mari kira renungkan hakikat dari kebebasan, kebebasan memilih jalan hidup, kebebasan untuk mencintai, dengan batasan-batasan kebaikan. Anak-anak kita nanti mempunyai kecenderungan sendiri-sendiri, dan beruntung sekali mereka jika kita mempunyai orang tua dengan pengetahuan yang mumpuni dalam mengarahkan jalan hidup mereka. Mengarahkan, dan bukan memaksakan. Sekali lagi, hanya mengarahkan.

3 comments:

Dafik said...

hehe,,, pengalaman pribadi yak??
menyentuh sob,, :D

Anonymous said...

assalamualaikum,,,
mas faiz.. mau ada kompalind,, duulu teather al-islam pertma berdiri dgn nama auf klarung,, mohon di perjelas, n jgn gnti nama qta,, klu bisa, di perjuangkan,,
insy allah, ada bukti klu qt prnah brdiri adanya teater,, suwuuun :)

wa'alaikumslam,,

Mochammad Faizun said...

Oh pernah ada teaternya? Saya tanya ke anak-anak belum pernah ada. Ya, kalau memang sudah ada berarti saya tinggal membangunkan lagi dari tidur panjang. Soalnya selama ini tidak ada kegiatan pelatihan teater. Nama Auf Klarung juga bagus. Nanti semester dua kami mulai bermain, insyaallah dengan nama Auf Klarung. :-)