Senin, 14 Mei 2012

Apakah Langit Masih Biru


Apakah langit masih biru? Kita duduk saja di tepi lautan. Memandangi langit biru dengan bintil-bintil awan yang terlihat tenang. Tapi wajahmu tetap hujan lantaran air mata deras membasahi pipimu yang merah merona. Sekarang bulan April, seharusnya musim hujan sudah berlalu.

Belum lama kita mengenal, tapi aku sudah tau ketegaranmu. Caramu berbicara, caramu mengolah kata, aku tahu sekali itu hanya bisa diselesaikan oleh orang-orang yang berjiwa kekar. Sebelum kata terucap pun aku sudah tahu, dari jarak antara kedua matamu, bahwa kamu adalah orang yang tegas dan berpegang teguh pada prinsip-prinsip hidup, untuk mengatakan kurang bisa bertoleransi.

“Aku semakin ragu dan tak yakin.” Kalimat itulah yang membawa kita ke sisi dunia yang amat luas ini. Yang mungkin bagimu hanya seluas harapan-harapan yang jauh untuk tercapai. Bagiku kalimat itu adalah kesimpulan yang terburu-buru. Kesimpulan yang bisa saja muncul karena terlalu menggebu untuk sebuah harapan. Keraguan akan mengacaukan segalanya, mengakukan gerak dan mempersendat langkah.

“Apakah dia mencintaiku?” Lagi-lagi pertanyaan yang menodong dan mencoba memotong perjalanan alam yang wajar. Masih satu minggu, sahabatku, bukankan itu terlalu buru-buru. Cinta bisa datang kapan saja, tentu, cinta secara wajar akan datang setelah sekian lama. Terlebih kamu belum pernah bertemu. Belum pernah bertemu tapi kamu sudah mencintai, menyembul sebuah pertanyaan dalam hati kecilku; apa itu benar cinta.

“Aku yakin, itu datang dari hatiku yang terdalam.” Kata-katamu memang yakin. Namun, aku meragukan hatimu seyakin itu. Membedakan hati dan nafsu sepeti kamu memisahkan air dan kopi dari secangkir kopi yang tersaji. Bukankah terkadang nafsu juga ikut campur dalam kebaikan. Seperti keikutsertaannya dalam asmara.

“Ya, aku tahu dari pembicaraan itu, entah apa yang membuat ia berbeda sekali dengan laki-laki lain yang aku kenal selama ini. Juga dari ceritamu, siapa ia, bagaimana ia.” Aku berusaha memahami jalan perasaanmu. Kata-kata memang bisa menjadi jerat bagi siapa saja. Dalam pembicaraan apapun, satu kelemahan jika kamu tidak mengetahui bagaimana raut mukanya. Karena ucapan yang sempurna hanya bisa terjadi dengan gerak tubuh dan raut muka. Ya, bolehlah kamu mencintainya, tentu tidak sedemikian dalam untuk waktu yang singkat.

“Tapi lihatlah diriku saat ini. Aku merasa bukan diriku seperti dulu lagi. Aku menjadi cengeng. Bahkan untuk urusan remeh seperti ini. Lihatlah, lihatlah aku menangis untuk macam rasa nggak jelas ini. Lihatlah.” Kamu berkata manja sekali. Jelas bukan dirimu yang selama ini aku kenali. Kamu menjadi seperti itik yang kehilangan induknya. Namun itu manusiawi. Di negeri china ada seorang panglima perang yang tidak pernah menitikkan air mata, melainkan karena seorang wanita yang dicintainya. Ya, itu manusiawi. Kucurkan air matamu, sampai ditelan udara.

Lantas, apa yang harus aku lakukan?” Pertanyaan ini memaksaku menjadi dirimu. Akupun berusaha menjadi dirimu dengan batas sifat dan keinginanmu yang aku ketahui. Namun perasaan cinta, kujumputkan saat aku baru mengenal gadis berpuluh tahun lalu. Lalu aku bayangkan sebagaimana kisahmu saat ini. Maka tersimpul satu keputusan. Aku harus tetap menghubunginya, meski dengan perasaan sedikit kecewa.

Kenapa harus aku yang memulainya. Aku ini wanita. Aku ini wanita, bukan laki-laki. Tidak pantas untuk berlaku seperti itu. Dialah yang seharusnya memulai. Aku ini wanita, tidak pantas untuk memulainya.” Kamu berkata tidak terima. Ah, masih saja ada pembeda laik-laki dan perempuan dalam kondisi saat ini. Buanglah jauh-jauh egoismemu itu. Kedepankan keberhasilan harapanmu, keberhasilan cintamu.

Tidak. Aku tidak akan melakukan hal itu. Aku tidak boleh merubah diriku untuk menjadi itu. Di sisi lain, keberadaanku ini mustahil sekali untuk melakukan hal itu. Atau aku akan terjungkal di lembah kehinaan.” Tidak, sama sekali tidak merubah kamu sedikit pun. Ini hanyalah teknis berkomunikasi. Seperti halnya saat kamu berbicara dengan anak-anak, tentu tidak sama dengan saat kamu berbicara dengan orang tua. Dan kalau kamu bilang tidak ingin berubah, tetap pada jiwamu yang dulu, aku katakan bahwa sebenarnya kamu berubah jauh dari yang dulu. Ya, saat ini kamu telah berubah. Air matamu yang mengucur, keluhanmu, dan kekecewaan yang dalam sudah mencabutmu dari sifat dan karakter aslimu. Kau sudah berubah sekarang.

“Aku benci sekali dengan sikapnya. Kenapa ia tidak menganggap keberadaanku, mengapa ia tidak menghubungiku, menanyakan keadaanku, menanyakan kabarku.” Mencintai. Ya, mencintai. Kau harus belajar mencintai. Cinta itu penyatuan, sahabatku. Dan untuk menyatukan itu dirimu harus pandai-pandai memberi. Berikanlah jiwamu padanya, dengan setulusnya. Tentu kau sudah tahu akan ketulusan itu. Ia tidak akan mengharap balasan.

“Apa barangkali ia tidak mencintaiku?” Untuk mengetahui apakah ia mencintai atau tidak diperlukan pengetahuan-pengetahuan lainnya. Meski ia tidak memperhatikanmu saat ini, ia bukan berarti tidak menaruh hati padamu. Kadang, wujud cinta sesorang tidak harus menyentuh cinta sertamerta. Terlalu singkat untuk sebuah keputusan. Cinta bisa datang kapan saja, dimana saja. Namun, kematangan cinta akan akan bisa tercapai dalam jangka lama.

Tegarkan jiwamu, ingatlah para laki-laki yang meminangmu tapi kau tolak dengan tegas, dengan kata lugas. Ingatlah bahwa masih banyak laki-laki dengan kualitas, yang tidak sembarangan yang siap menerimamu. Kamu tidak perlu menangis sesenggukan seperti ini. Kembalilah pada dirimu yang dulu, yang selalu tegar dengan tantangan, yang tak pernah kenal dengan keputusasaan. Maka saat itu langit tak biru lagi, lantaran dipanggang senja. Dan tanpa kusadari, air matamu telah mengering.

Selasa, 10 April 2012

Penari Kosong


1:125 f/8 asa 100
Seagull 205
Seagull 50mm



Salah satu gerakan Budapa Pop (Pop Culture) adalah mengaduk, memutar dan menjungkirbalikkan simbol-simbol kebudayaan. Hal ini berangkat dari premis bahwa setiap perilaku budaya adalah simbol dan tanda yang membentuk pemaknaan. Dari situ timbullah pembedaan dan konvensi. Pembedaan antara simbol sebagai makna kebaikan dan kejelekan, serta konvensi atau persetujuan masyarakat atas pemaknaan tersebut.

Contoh yang nyata adalah tatkala saya menjumpai parade pentas kesenian dan kebudayaan di salah satu Sekolah Dasar Negeri kota Malang. Yaitu sekelompok penari seksi yang menampilkan koreografi tarian semi hot dengan background musik cherybell. Penari penari juga menempeli dirimereka dengan simbol yang selama ini kita sumpah serapahi, yaitu sepasang telinga kelinci yang menjadi icon majalah bokep terkenal, PLAYBOY. Kepala kelinci lengkap dengan telinganya adalah tanda atau simbol. Simbol tersebut menurut pemilik dan kreator majalah PLAYBOY Hugh Hefner "membawa konotasi humor seksual yang tinggi, periang dan suka bermain-main". Dan makna itu sudah menjadi persetujuan umum.

Sekolahan sebagai pembentuk karakter manusia berbudi luhur seharusnya mampu menyaring, memilih dan memilah setiap in put yang masuk dalam lembaga itu. Kenyataannya, dengan leluasa simbol-simbol yang seharusnya menjadi antitesis gerakan pendidikan justru melenggang di tengah-tengah mereka, bahkan disambut dengan gegap gempita tepuk tangan.

Kapitalisme dengan berbagai cara berusaha menerobos ke dalam diri kita. Simbol-simbol yang ditawarkannya melalui iklan, fashion, serta stily life lainnya, yang tanpa kita sadari mengendap dalam memori kita dapat saja merubah hal-hal yang tidak baik menjadi baik menurut kesadaran kita. Sebaik-baik tindakan yang kita lakukan adalah melindungi anak, keluarga, saudara dan teman, dari belitan simbol-simbol budaya dangkal dengan berwaspada dan menelusuri setiap perilaku budaya dengan segala citraannya.

Minggu, 01 April 2012

Soeharto, seorang sahabatku.


Soeharto, entah angin apa yang mempertemukan kita di bangku kayu.
Lalu kita bernyanyi bersama. Merasai kelakar remaja. Tanpa cinta.
Tak satu pun waktu menggelak kata cinta dari bibirmu, 
selain lagu-lagu yang kita nyanyikan. Atau barangkali lagu-lagu itulah
suara cintamu. Pada siapa? engkau juga tak pernah mengatakannya.
Dan saat kita bernyanyi, kutumpahkan amarahku pada Tuhan.
Karena satu ciptaanNya yang selalu di mataku, 
berlalu seperti parit di sisi pondok kita.
Mengalir pelan, menyereti butiran-butiran rinduku. Dan kau tau saja,
saat kemarau tiba, butiran itu menjadi debu berterbangan di angkasa.
Saat itulah aku berusaha menjadi awan, dengan segala ketegaran.
Namun hujan mengirimku kembali. dan kau tahu, parit itu telah tiada.
Tak tahu lagi harus kepada siapa aku merindu.
Aku pun rebah di tepi daun dengan segala sepi.
Itu Sepuluh tahun lalu.
Kini kita bertemu. Senyummu tetap sama. Membawa rasa iba.
"Apa kau masih sering bernyanyi?" kubertanya padamu.
Dan tetap ku tak tahu, apakah kata cinta dengan seutuh ruhnya
pernah benar-benar mengalir dari bibirmu.

Kamis, 23 Februari 2012

Optimis


Ribuan kali diantarnya ibu-ibu ke pasar. Membawa kehidupan dari gang ke gang, dari toko ke toko. Merambati waktu, dan kini jaman terus melaju, ia semakin ditinggalkan. 
"Biarlah mereka meninggalkanku. Aku tetap akan menatap ke depan", katanya. Barangkali suatu saat nanti aorang-orang yang pernah diantarkannya dulu, padanya diam-diam menaruh rindu.

Senin, 06 Februari 2012

Alih Kode dan Campur Kode, Gap Komunikasi, dan Kesantunan Berbahasa dalam Pementasan Semar Gugat oleh Teater Komedi Kontemporer UIN Malang

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Dalam kehidupan di masyarakat, manusia selalu melakukan interaksi atau hubungan dengan sesamanya melalui bahasa. Bahasa dan manusia merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, dalam arti keduanya berhubungan erat. Bahasa merupakan alat komunikasi yang paling penting bagi manusia karena dengan bahasa manusia dapat mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran atau gagasannya. Agar komunikasi dapat berlangsung dengan baik, manusia harus menguasai keterampilan berbahasa. Tarigan (1986 : 2) menyatakan bahwa keterampilan berbahasa meliputi empat macam, yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Setiap keterampilan bahasa mempunyai hubungan yang erat dan konsep berpikir yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikiran, semakin terampil seseorang berbahasa semakin cerah dan jelas pula pikirannya.

Kridalaksana (1984 : 28) berpendapat bahwa bahasa adalah sistem lambang arbiter yang digunakan untuk bekerja sama, berinteraksi, atau mengidentifikasikan diri. Meningkatkan bahasa sebagai lambang makna dalam bahasa lisan lambang itu diwujudkan dalam bentuk tindak ujar dan dalam bahasa tulis wujud simbol tulisan dan keduanya memiliki tempat masing–masing. Baik bahasa lisan maupun tulisan digunakan manusia untuk berkomunikasi.

Dalam penelitian ini penulis akan meneliti perbincangan antara Semar, Bagong, Gareng, dan Petruk (Punokawan) pada  Pementasan Teater Semar Gugat oleh Teater Komedi Kontemporer UIN Malang yang diselenggarakan di Teater Arena Taman Budaya, Solo Jawa Tengah pada 3 Maret 2008 dengan menggunakan tiga macam analisis, yaitu Alih kode dan campur kode (Codeswiching and codemixing), Gap Komunikasi (Gap communication), dan kesantunan berbahasa (Pollitenes).

Adapun Tujuan penelitian ini adalah mengetahui Bagaimana alih kode, gap komunikasi, dan kesantunan bahasa yang terdapat pada  Pementasan Teater Semar Gugat oleh Teater Komedi Kontemporer UIN Malang.

Dalam penelitian ini, peneliti hanya akan meneliti percakapan pada babak pertama pada Pementasan Teater Semar Gugat oleh Teater Komedi Kontemporer UIN Malang. Untuk pengumpulan data peneliti menggunakan data-data dalam percakapan pada Pementasan Teater Semar Gugat oleh Teater Komedi Kontemporer UIN Malang.

Penelitian ini menggunakan penelitian perpustakaan (library research) yaitu penelitian yang dilakukan di kamar kerja peneliti atau di ruang perepustakaan dimana peneliti memperoleh data dan inforamasi tentang obyek penelitiannya lewat buku-buku atau alat-alat audio visual lainya.[1]

Adapun metode kerja pada penelitian ini menggunakan  metode kualitatif yaitu mengutamakan kedalaman penghayatan terhadap interaksi antar konsep yang dikaji secara empiris.




BAB II
LANDASAN TEORI

Alih Kode dan Campur Kode.
Appel (1976:79) mendifinisikan Alih kode itu sebagai, “Gejala peralihan bahasa karena berubahnya situasi. Adapun alih kode dan campur kode hampir sama. Perbedaan keduanya jika alih kode peralihan bahasa tersebut terjadi antar kalimat, sedangkan campur kode peralihan tersebut terjadi dalam satu kalimat.

Menurut Poedjosoedarmo via Kuncara Rahardi (2001; 36) ada tiga belas komponen yang berpengaruh dalam tuturan. (1) Pribadi si penutur, (2) anggapan penutur terhadap kedudukan social dan relasi orang yang diajak bicara, (3) kehadiran orang ketiga, (4) maksud dan kehendak si penutur, (5) warna emosi si penutur, (6) nada suasana bicara, (7) pokok pembicaraan, (8) urutan bicara, (9) bentuk wacana, (10) sarana tutur, (11) adegan tutur, (12) lingkungan tutur, (13) norma kebahasaan lainnya. Tiga belas komponen ini menjadi faktor alih kode.

Gap komunikasi
Gap komunikasi adalah kesenjangan antara lokusi dan ilokusi. Tindak lokusi untuk menyatakan sesuatu adalah tindak lokusi (Wijana 1996: 17). Pernyataan tersebut sama dengan Rustono (1999: 35) bahwa lokusi atau lengkapnya tindak lokusi merupakan tindak tutur yang dimaksudkan untuk menyatakan sesuatu. Tindak tutur ilokusi  adalah tindak tutur yang mengandung maksud dan fungsi atau daya ujar. Tindak tutur ilokusi dapat diidentifikasi sebagai tindak  tutur yang berfungsi untuk menginformasikan sesuatu dan melakukan sesuatu (Wijana 1996: 18). Atau bisa disederhanakan bahwa lokusi adalah ucapan sesuai dengan apa yahng dimaksud oleh penutur, sedangkan ilokusi adalah ucapan sebagaimana yang dipahami pendengar.

Faktor yang menyebabkan gap komunikasi (1) menggunakan pemaknaan ekspresi, (2) pendengar tidak faham pesan yang disampaiakan penutur karena perbedaan latar belakang, meliputi pendidikan, pengalaman, gaya hidup, dan status sosial, (3) cacat kejiwaan, (4) perbedaan psikologi.
 
Kesantunan Berbahasa
Kesantunan (politiness), kesopansantunan, atau etiket adalah tatacara, adat, atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Kesantunan merupakan aturan perilaku yang ditetapkan dan disepakati bersama oleh suatu masyarakat tertentu sehingga kesantunan sekaligus menjadi prasyarat yang disepakati oleh perilaku sosial. Oleh karena itu, kesantunan ini biasa disebut "tatakrama".

Menurut Brown dan Levinson kesantunan berbahasa dibagi menjadi 4 macam, (1) cuek dengan pendengar, (2) menyenangkan pendengar, (3) untuk menjaga jarak/formalitas, (4) menyembunyikan sesuatu karena takut dengan seseorang.



BAB III
PEMBAHASAN

Teknis kajian ini akan meneliti satu percakapan dengan ketiga pisau analaisis yang sudah dijelaskan pada landasan teori di depan. Yaitu tentang alih kode, gap komunikasi, dan kesantunan berbahasa yang ada dalam percakapan pada babak pertama pementasan teater Semar Gugat olek TK2 UIN Malang.

Sebelum kajian dilakukan, Latar belakang atau background percakapan yang akan ditelili, Bagong, Semar, Gareng, Petruk adalah punokawan bagi para ksatria. Punokawan artinya sebagai sahabat atau teman yang selalu menemani para ksatria. Semar adalah yang paling disegani dan bijaksana diantara punokawan lainnya.

Perbincangan pada babak pertama lakon Semar Gugat ini terjadi pada pagi hari, dimana punokawan akan menghadiri pesta pernikahan Arjuna dengan Dewi Woro Srikandi.

Pada tuturan pertama oleh Semar dapat dianalisa sebagai berikut:
Semar:
Bagong.. Gareng.. Petruk… ayo bangun! Hari sudah siang, jangan sampai didahului burung-burung. Jangan sampai ditinggal matahari. Jangan sampai dijauhi rejeki. Hari ini adalah hari bahagia junjungan kita raden Arjuna. Ayo bangun, dan kita ke istana sekarang.

Pada tindak tutur di atas terdapat unsur kesantunan berbahasa, yaitu menyenangkan pendengar. Dengan memberikan gambaran keindahan pagi yang tercermin pada kata “burung-burung, matahari, dan rezeki, hal itu sebagai motivasi dan penyemangat untuk segera bangun.

Pada ujaran kedua, yaitu oleh Bagong, dapat dianalisa sebagai berikut:
Bagong:
Ooo.. yang bahagia itu kan deden kita. Lawong beliau yang akan kawin, bangun pagi atau bangun siang, Bagong sih akan tetap begini saja, rejeki sama.

Pada ujaran di atas terdapat campur kode (codemixing) yaitu kata “Lawong”. Kata “lawong” berasal dari bahasa Jawa. Lawong adalah kata ekspresi. Meskipun kata “lawong” tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia, namun hal itu tetap menjadi campur kode.

Jika ditinjau dari kesantunan berbahasa, kalimat ujaran tersebut mengandung unsur kecuekan dengan apa yang dikatakan oleh Semar. Padahal, dalam konteks ini semar sebagai orang yang disegani diantara lainnya.

Pada ujaran berikutnya:
Semar:
Ee..ee..e.. kamu jangan berpikir begitu, bagong.. Kalau junjungan bahagia, kita semua harus ikut bahagia. Dan bangun pagi itu wajib hukumnya. Ayo bangun.. bangun he.. ayo bangun. Gareng, ayo bangun.. bangun bagi itu bukan hanya karena ingin ikut bahagia lantaran junjungan kita bahagia, tapi juga karena syukur kita pada alam raya yang selama ini telah memelihara kita dengan sangat baiknya. Jadi ayo bangun.. ayo bangun.. jangan tidur terus…

Pada ujaran di atas, terdapat unsur kesopanan bertutur, yaitu tercermin pada penggunaan kalimat pujian pada alam dan pujian pada junjungan dimaksudkan bahwa Semar sedang dalam keadaan bahagia, begitu pula seharusnya dialami oleh punokawan lainnya. Mengajak bangun tidur dengan suasana seperti itu menjadikan ajakan bangun tidur tidak hanya sebagai egoisme Semar, tapi sebagai kewajiban semua manusia.

Pada ujaran berikutnya:
Bagong:
Aahhh bapakne, lagi enak-enak ketiduran kok dibangunan.

Terdapat unsur kesantunan bahasa, yaitu cuek dengan pendengar. Hal itu terjadi karena Bagong merasa ajakan Semar hanya akan menyusahkan dia. Karena Bagong merasa terganggu.

Pada ujaran berikutnya oleh Gareng yang baru saja bangun, dan rupanya sudah menyimak pembicaraan Semar dan Bagong mengatakan:
Gareng:
Ooalah mo.. mo.. lawong kita di sini saja cari makan sudah ngos-ngosan. E, lha kok disuruh mikir ngasih hadiah sama junjungan yang sudah sangat kecukupan.

Pada ujaran di atas terdapat campur kode, yatiu kata “lawong” dan “ngos-ngosan” kedua kata tersebut berasal dari bahasa Jawa. Sebab dari campur kode adalah emosi penutur. Emosi kekecewaan memunculkan kata-kata tersebut.

Juga pada ujaran tersebut terdapat gap komunikasi tentang hadiah. Menurut Gareng hadiah itu harus mengeluarkan biaya, padahal dirinya untuk makan saja masih ngos-ngosan atau kesulitan. Pemahaman akan wajud hadian yang ditangkap Gareng tidak seperti makna apa yang diinginkan oleh Semar, hal itu tercermin dalam kalimat berikut:
Semar:
Kamu juga jangan berpikir begitu. Hadiah itu banyak macemnya. Mendoakan supaya mereka berdua bahagia itu juga sudah merupakan hadiah,  jadi tidak usah menunggu pakai uang.

Bahwa sebenarnya hadiah tidak hanya berupa materi, namun senyuman juga bisa menjadi sebuah hadiah. Dari kalimat tersebut kita ketahui bahwa Gap komunikasi tentang Hadiah berbeda makna antara penutur dan pemahaman pendengar.

Kemudian pada percakapan berikutnya, ketika Petruk bangun:
Petruk: So.. we must to follow the leader  baby…
Semar: Hahaha… ngaten, sampean leres Petruk.
Petruk: Where ever he go, we go. He happy, we happy, dady yes?
Semar: Ngaten nggeh leres Petruk, yes.
Petruk: Where ever yang dia bikin, we juga harus ikut dunk. Yes dady?
Semar: Sebagai abdi yang baik, kita seharusnya memang berbuat yang demikian.
Petruk: Nah, kalau begitu kita juga harus ikut kawin dong.
Petruk, Gareng, Bagong: Kawin.. kawin.. kawin.. kawin…
Semar: Dengarkan dulu! Kawin.. kawin! Tak kawinkan sama kuda kamu! Kita ini punakawan abdi kekasih ksatriawan.

Sebagaimana kita ketahui bahwa alih kode adalah gejala perubahan atau peralihan bahasa karena berubahnya situasi. Apa yang dikatakan Petruk dengan menggunakan bahasa Inggris menurut peneliti disebabkan karena luapan kegembiraan. Karena menurut dia apa yang dilakukan pemimpin juga harus dilakukan abdinya.

Kemudian Semar menjawab dengan alih kode juga, yaitu peralihan dari bahasa indonesia pada percakapan sebelumnya menuju pada bahasa jawa Krama, yaitu pada kalimat “ngaten, sampean leres Petruk” alih kode tersebut disebabkan karena kesetujuan dan gembiraanya Semar dengan apa yang dikatakan Petruk.

Hal itu berlanjut pada percakapan berikutnya, hingga terjadi gap komunikasi pada ujaran Petruk, “Nah, kalau begitu kita juga harus ikut kawin dong.Bagi Petruk ungkapan“so we must to follow the liader” dipahami seorang abdi harus mengikuti apa pun yang dilakukan junjungannya. Hal ini berbeda dengan pemahaman Semar, yang dimaksud dengan mengikuti pemimpin bukanlah seluruhnya, namun ada hal-hal yang bersifat privasi yang tidak boleh diikuti seperti kawin.

Pemahaman Semar bisa kita simak pada kalimat berikut:Dengarkan dulu! Kawin.. kawin! Tak kawinkan sama kuda kamu! Kita ini punakawan abdi kekasih ksatriawan.” Menurut Semar mengikuti pemimpin tidak untuk bersenang-senang saja, melainkan karena mereka sebagai punokawan abdi kekasih ksatriawan.

Jika diteliti dengan teori kesantunan  berbahasa, jawaban-jawaban yang diucapkan Semar pada Bagong mengandung nilai kesopanan. Hal itu terjadi karena Semar berusaha menyenangkan Petruk yang sepakat dengan pendapat Semar. Dalam bahasa jawa, terdapat beberapa tingkatan bahasa, meliputi Bahasa Ngoko, Krama andap, dan krama inggil. Adapun penggunaan bahasa krama andap, seperti yang digunakan pada ujaran Semar pada Petruk, yaitu untuk menghormati pendengar yang tingkat statusnya berada di bawah penutur.

Kemudian pada percakapan berikutnya:
Semar: Sekarang katakan, siapa yang sanggup membuat semangat di saat para ksatria dihajar putus asa.
Petruk, Gareng, Bagong: Punokawan!
Semar: Kalau begitu, sekarang juga kita berangkat ke istana menghadiri pernikahan Raden Arjuna dan Dewi Woro Srikandi.
Gareng: Waduh, tunggu sebentar mo, saya ijin mau mandi.
Semar: E.. ee..
Petruk: Its me, my dady. I want to pipis.
Semar: Petruk, Gareng, kalau urusan mandi, pipis, kita bisa mampir ke sungai. Di jalan juga banyak rumput, banyak embunnya. Kita bisa memanfaatkan itu. Sekarang juga pokoknya kita berangkat.
Petruk: Yes.
Gareng: Ya mo.
Bagong: Pak…!
Semar: Apa Gong?
Bagong: Saya masih ngantuk pak.
Semar: Apa Gong?
Bagong: Saya masih ngantuk
Semar: Pokonya aku nggak mau tau. Sekarang juga kita harus berangkat.
Semar, Bagong, Petruk, Gareng: Punokawan.. yo ayo Punaokawan. Punokawan.. yo ayo Punaokawan.

Ujaran Petruk diatas mengandung unsur campur kode, yaitu pada ujaran, “Its me, my dady. I want to pipis” Pipis adalah bahasa Indonesia, sedangkan kalimat tersebut menggunakan bahasa Inggris. Alih kode tersebut peralihan dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris.

Ketika semua sudah siap berangkat, dan Bagong berkata:
Bagong: Pak…!
Semar: Apa Gong?
Bagong: Saya masih ngantuk pak.
Semar: Apa Gong?
Bagong: Saya masih ngantuk
Semar: Pokonya aku nggak mau tau. Sekarang juga kita harus berangkat

Dalam ujaran Semar dalam menanggapi kengantukan Bagong mengandung kesan memaksa dengan pendengar yaitu tercermin pada kaliamat “Pokonya aku nggak mau tau. Sekarang juga kita harus berangkat”. Kalimat memaksa tersebut ada kemungkinan dikarenakan Semar sebagai orang yang paling disegani, sehingga ia lebih leluasa untuk memaksa pada punokawan lainnya.


KESIMPULAN

Dari analisis Alih kode dan campur kode (Codeswiching and codemixing), Gap Komunikasi (Gap communication), dan kesantunan berbahasa (Pollitenes) pada babak pertama pada Pementasan Teater Semar Gugat oleh Teater Komedi Kontemporer UIN Malang di Teater Arena Taman Budaya, Solo Jawa Tengah pada 3 Maret 2008 dapat diambil kesimpulan sementara sebagai berikut:

Alih kode dan campur kode yang terdapat di percakapan tersebut disebabkan karena emosi penutur. Kegembiraan dan kekecewaan menjadi faktor utama alih kode dan campur kode.

Gap komunikasi yang terdapat pada percakapan tersaebut disebabkan karena perbedaan pengalaman antara si penutur dan si pendengar. Semar sebagai orang tertua dapat memaknai beberapa unjaran dengan bijaksana. Seperti Hadiah dan makna mengabdi pada sang junjungan.

Kesantunan berbahasa yang terdapat dalam percakapan tersebut disebabkan karena cuek dengan pendengar, menyenangkan pendengar, dan untuk menjaga jarak/formalitas.

Daftar pustaka

 Chaer, Abdul. Leonie Agustina, Sosiolinguistik perkenalan awal, edisi revisi, cet. 2 (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004)
http://re-searchengines.com/1006masnur2.html diakses pada 10 Januari 2011.
Rahardi, Kuncara. Sosiolingustik, Kode dan Alih Kode, (Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR, 2001)
Semi, Atar. Metode penelitian Sastra, cet. 10 (Bandung: ANGKASA, 1990)
Video Dokumentasi Pementasan Teater Komedi Kontemporer UIN Malang, dengan judul "Semar Gugat". Naskah oleh Nano Riantiarno, sutradara Afif Makmun, dipentaskan di Teater Arena Taman Budaya Solo Jawa Tengah, pada hari Senin, 3 Maret 2008.



[1] Atar Semi, Metode penelitian Sastra, cet. 10 (Bandung: ANGKASA, 1990), hal. 8