Tuesday, April 10, 2012

Penari Kosong


1:125 f/8 asa 100
Seagull 205
Seagull 50mm



Salah satu gerakan Budapa Pop (Pop Culture) adalah mengaduk, memutar dan menjungkirbalikkan simbol-simbol kebudayaan. Hal ini berangkat dari premis bahwa setiap perilaku budaya adalah simbol dan tanda yang membentuk pemaknaan. Dari situ timbullah pembedaan dan konvensi. Pembedaan antara simbol sebagai makna kebaikan dan kejelekan, serta konvensi atau persetujuan masyarakat atas pemaknaan tersebut.

Contoh yang nyata adalah tatkala saya menjumpai parade pentas kesenian dan kebudayaan di salah satu Sekolah Dasar Negeri kota Malang. Yaitu sekelompok penari seksi yang menampilkan koreografi tarian semi hot dengan background musik cherybell. Penari penari juga menempeli dirimereka dengan simbol yang selama ini kita sumpah serapahi, yaitu sepasang telinga kelinci yang menjadi icon majalah bokep terkenal, PLAYBOY. Kepala kelinci lengkap dengan telinganya adalah tanda atau simbol. Simbol tersebut menurut pemilik dan kreator majalah PLAYBOY Hugh Hefner "membawa konotasi humor seksual yang tinggi, periang dan suka bermain-main". Dan makna itu sudah menjadi persetujuan umum.

Sekolahan sebagai pembentuk karakter manusia berbudi luhur seharusnya mampu menyaring, memilih dan memilah setiap in put yang masuk dalam lembaga itu. Kenyataannya, dengan leluasa simbol-simbol yang seharusnya menjadi antitesis gerakan pendidikan justru melenggang di tengah-tengah mereka, bahkan disambut dengan gegap gempita tepuk tangan.

Kapitalisme dengan berbagai cara berusaha menerobos ke dalam diri kita. Simbol-simbol yang ditawarkannya melalui iklan, fashion, serta stily life lainnya, yang tanpa kita sadari mengendap dalam memori kita dapat saja merubah hal-hal yang tidak baik menjadi baik menurut kesadaran kita. Sebaik-baik tindakan yang kita lakukan adalah melindungi anak, keluarga, saudara dan teman, dari belitan simbol-simbol budaya dangkal dengan berwaspada dan menelusuri setiap perilaku budaya dengan segala citraannya.

No comments: