Thursday, August 25, 2011

Catatan dari Launcing IndrumNesia

“Dug, tratak.. Drug trak.. dug, dug, dug, trak.. dung, dung jezzz..”

Gebukan drummer Inned Christopher membuat saya serasa pindah dari satu ruangan ke ruang lain, karena sebelumnya tampilan dari Instrumen tradisional sanggar seni Gunung Ukir mengingatkan saya bahwa saya adalah jawa aseli lho….

Selang beberapa detik drum digebuk, keluar Jaran Kepang dari sela-sela penonton. Dan ternyata, gerakan langkah dan ayunan kepala pemain Jaran Kepang tersebut mengikuti irama gebukan drum. Baru saya bisa menangkap judul solo drum penampilan pertama IndrumNesia yaitu Jaran Jumping adalah perpaduan antara Seni tradisi dengan seni Modern. Begitu hits yang dibawakan IndrumNesia selalu dibarengi tari tradisi yang dimodifikasi koreografinya, seperti Funky Dolanan dan Rembugan.

Coba Anda bayangkan, gimana tarian tradisional diiringi bukan dengan gamelan dan pakemannya, seperti kenong, kempul, bonang, gong, dan lainnya, melainkan dengan solo drum. Hmmmm pasti sulit membayangkannya. Maka itu, saya akan menceritakannya sesuai dengan kepekaan saya pada tontonan di gedung Taman Krida Budaya Malang 12 Juni 2011 lalu.

Ada beberapa hal yang menurut saya timpang dalam perpaduan kedua budaya yang berbeda itu.

Pertama, menurut saya selama ini dalam seni tari tradisional, musik yang mengikuti gerakan tari bukan tarian yang mengikuti musik. Sebagaimana kita mengenal istilah musik pengiring yaitu musik yang mengiringi. Dalam penampilan indrumnesia tampak sekali kalau tarian setengah dipaksa mengikuti musik, sehinggga koreografi yang seharusnya halus menjadi tampak kaku dan tegang.

Kedua, dalam tari tradisi jawa timur, gendang menjadi penentu titik irama alat musik yang lainnya, seperti kenong, kempul, bonang, dan trompet, juga juga sebagai penguat titik-titik tekanan gerakan pada tari. Hal ini mengharuskan gendang mengalir mengikuti tekanan dan pengendoran gerakan tari tersebut. Hal ini bisa dilakukan gendang karena gendang merupakan alat musik yang dimainkan langsung dengan tangan, sehingga bisa merubah tempo kecepatan dan kekuatan tekanan dengan cepat sesuai dengan gerakan tari.

Sedangkan gebukan drum indrumnesia sangat teknis sekali, tidak bisa melekuk-lekuk mengikuti gerakan tangan dan kaki penari. Saya menduga, hal ini karena pukulan menggunakan stik serta letak tambur satu dengan lainnya pada drum yang berbeda tempat, menjadikan perubahan tempo dan tekanan menjadi kurang maksimal. Padahal, musik sangat penting sekali sebagai penguat emosi yang dibawa gerakan tari sebagai mana pentingnya musik untuk menguatkan adegan dalam lakon teater.

Ketiga, kurangnya perbedaan karakter musik yang mencolok ketika perpindahan satu macam gerak tari ke gerakan lainnya, menjadikan kesan si Jaran Kepang, Barongan, dan Pucang Ganong hanya berjingkrak-jingkrak dalam dentum-dentum musik disko.

Semua kekurangan itu sangat bisa dimaklumi, mengingat musik pengiring tari yang biasanya terdiri dari satu pakem gamelan, hanya digantikan dengan satu set drum. Meskipun begitu karya anak bangsa ini perlu diapresiasi sebagai kreatifitas untuk mengampanyekan seni-seni tradisi kepada para muda sekarang yang cenderung menggandrungi budaya hedon dan cemen, seperti yang tercermin pada lagu-lagu ST 12, peterpan, kangen band, De Masip, dan banyak lainnya.