Wednesday, July 16, 2014

Polisi Mati Kutu

Sarpan tiba-tiba menari-nari di tengah jalan. Tubuhnya meliuk-liuk dilanjutkan ke tangan, leher, dan kepalanya. Bersama dengan tarian itu, mulutnya juga tak henti-henti bernyayi dengan nada yang aneh. Sebuah nada kebebasan, digetarkan dengan pita suaranya yang serak lantaran usangnya usia.

“Pooooolisi guoblok. Poooolisi kampret. Poooolisi anjing. Aku punya bukti. Aku punya bukti.. Pooolisi asu. Pooooolisi bajing. Lawan aku kalau kau ingin mati”. Kata-kata itu mengalun dari mulut Sarpan dengan bebas lepas.

Orang-orang yang bergerumbul mengerubungi polisi melihat keheranan. Semua seperti ingin menari dan menyanyi layaknya Sarpan itu. Polisi-polisi yang menyita STNK motor terus mencecar pengendara dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan. Dan terus mencecar mereka seakan-akan polisi itu berusaha mengalihkan perhatian para pengendara dari Sarpan.

Namun apalah daya. Gerakan-gerakan dan alunan kata-kata Sarpan lebih menarik untuk mereka dengar dan lihat.

“Lampu tidak nyala, helm tidak standar”. Polisi sudah berkata, tapi pengendara tidak menyimaknya malah pandangannya menoleh ke Sarpan. “Maaf, pak. Anda kena tilang. Denda semua lima puluh ribu”.

“Oh iya. Oh, maaf. Kesalahan saya apa pak?” Pengendara bertanya lagi karena tidak menyimak.

“Makanya dengarkan saya. Dia itu orang sinting, jangan diperhatikan. Kamu tidak menyalakan lampu, dan helmmu ini bukan helm SNI. Kamu kena tilang dua pelanggaran. Total seratus ribu. Mau titip apa sidang?”

“Oh, anu mas, pak. Titip saja”. Begitu mendengar kata sidang, pengendara itu langsung ketakutan. Dalam bayangannya muncul dirinya sebagai pesakitan duduk di kursi tersangka. Dan di hadapannya hakim-hakim dengan palu di tangan mereka. “Tapi ya jangan seratus pak. Lima puiluh ribu ya pak?”.

“Kamu itu sudah melanggar, minta diskon lagi. Sini, mana uangnya!”.

Pengendara itu mengambil satu lembar lima puluh ribuan dari sakunya. Namun sebelum dikasihkan polisi uang tersebut diam-diam disobek jadi dua. lalu satu sisi dilipat dan dikasihkan ke polisi. Oleh polisi uang tersebut langsung dilemparkan ke dalam saku besar di belakang jok mobil patroli. Di sana tampak berjubel uang tidak tertata dengan teratur.

Sarpan masih saja bernyanyi dan menari. Ia memaki polisi dan juga pengendara yang ditahan STNKnya. Kata-kata bodoh, goblok, dungu, badui, tidak henti-henti tumpah dari mulutnya yang renta.

Salah seorang polisi dari kawanan polisi-polisi yang sedang beroperasi itu mendekati Sarpan dan hendak menghardiknya. Namun usaha itu digagalkan oleh polisi lainnya yang manariknya ke salah satu sisi jalan.

“Dia jangan diganggu. Hape di tangannya itu ada rekaman pembicaraan dia dengan polisi tentang titipan sidang. Kalau sampai kita ganggu, dia nanti malah membuncah dan persoalan ini akan muncul ke permukaan. Biarkan saja dia ngoceh sendiri. Toh orang-orang menganggapnya orang gila”. Mendengar penjelasan itu polisi mengangguk-angguk mengerti, lalu ia melanjutkan eksekusi para pengendara yang melanggar aturan.

Begitulah kelakuan Sarpan setiap kali ada operasi polisi kepada para pelanggar aturan. Dulu Sarpan dikenal sebagai seorang yang disiplin. Disiplin dalam semua hal. Mulai tepat waktu, menepati janji hingga makan sampai memotong kuku. Dia sampai seperti sebuah robot yang dikendalikan waktu. Pada urusan mengendara juga sama. Dia selalu menyalakan lampu, memakai helm, dan motornya juga lengkap dengan tanda rambu-rambu.

Namun semua itu berakhir. Ceritanya berawal dari sebuah peristiwa. Begini kronologinya.

Suatu pagi, dia bersiap menuju ke pasar. Sebelum berangkat dilihatnya sebuah catatan di papan yang menempel di tembok kamarnya. Catatan itu tentang apa yang akan dilakukannya pada hari itu, beserta kelengkapan yang harus dibawanya. Sangat detail sekali. Misalnya dengan sub bab Mengendara Sepeda Motor, list yang tertera dibawahnya; dompet, sim, helm, pelindung dada, dan masker.

Setelah kesemuanya perlengkapan di bawa, lantas ia hendak menaiki motornya yang meskipun Vespa tahun tua, namun masih mengkilap. Dan sial, ketika bokongnya menyentuh jok Vespa, terasalah sesuatu yang lembek dan berair. Setelah diraba dan dibau, ternyata dia menduduki taik Lincung yang keluar dari dubur ayam.

Tanpa berpikir panjang ia langsung ganti celana dan mengelap jok Vespanya. Lalu segera meluncur ke pasar. Bersama hangatnya mentari, Sarpan menuju ke pasar dan menikmati udara yang cukup segar. Setiba di tikungan, tiba-tiba dua orang polisi menghentikannya. Begitu juga dengan motor lainnya ada beberapa yang dihentikan. Pertama yang ditanyakan polisi itu adalah SIM dan STNK. Seketika itu tangan Sarpan merogoh sakunya. Dan ia terkejut karena dompet, dimana SIM dan STNK tinggal di dalamnya, tidak ada dalam saku.

Ia baru teringat kalau waktu ganti celana, dompetnya tidak dipindah ke celananya yang baru dipakai. Sarpan pun meminta maaf kepada polisi dan meminta izin untuk mengambil dompetnya yang ketinggalan. Namun usaha itu tidak mendapatkan izin dari polisi yang mencegatnya. Sanksi tilang langsung dijatuhkan dengan membayar denda seratus ribu rupiah.

Lagi-lagi solusi titip sidang menjadi jalan utama sebagai efisiensi pengurusan pelanggaran. Dengan titip sidang, pelanggar tidak perlu bolak-balik menyelesaikan kasusnya. Saat itu juga menjadi pilihan utama bagi Sarpan yang terjebak dengan keadaan. Untung saja ada tetangga Sarpan yang lewat, sehingga dia bisa hutang uang untuk membayar denda itu. setelah membayar denda, Sarpan pun bersama Vespanya bisa melenggang bebas.

Peristiwa itu menumbuhkan bibit dendam pada polisi. Ketaatan dan rasa hormat pada penegak hukum yang selama ini dipegang teguh, kini hancur lebur. Dan rasa dendam itu tidak cukup hilang dari hari kehari, namun semakin bertambah tumbuh subur. Maka ia mulai mencari-cari keburukan polisi. Mata dan telinganya dibuka lebar-lebar. Begitu juga dengan otaknya. Analisisnya mulai saat itu dipertajam dengan membaca undang-undang dan perangkat hukum lainnya.

Hasilnya sungguh luar biasa. Dia menjadi tahu betapa kesalahan yang begitu banyak menjadi sebuah kebenaran universal. Begitu sebaliknya, banyak kebenaran yang justru menjadi kesalahan. Dia tahu, hampir semua truk yang ada di negaranya, semuanya melanggar batas tonasi muatan. Dia juga tahu bahwa timbangan truk yang ada di beberapa jalan itu tak lain hanyalah tukang palak yang dilegalkan. Dia juga menjadi tahu bahwa tarikan-tarikan uang yang ada di kantor-kantor kepemerintahan, sebenarnya adalah pungutan liar karena tidak memiliki kekuatan hukum.

Pengaspalan jalan, pembangunan gorong-gorong, pembangunan fasilitas umum, pengadaan barang, semuanya jika dikalkulasi secara perinci, maka semuanya penuh kebohongan belaka. Karena semuanya tidak sesuai dengan anggaran yang disediakan. Proyek-proyek semacam itu menjadi ajang mencari keuntungan pribadi oleh para penyamun berseragam. Bahkan dalam wilayah religi yang seharusnya terbebas dari hal-hal seperti itu malah menjadi makanan empuk bagi koloni-koloni pemerintah. Seperti pengadaan al-Qur’an, pembangunan masjid, semuanya dipangkas habis.

Saat Sarpan sudah terbuka lebar, jiwanya longgar, dan daya pikirnya hidup, dia mulai membuat onar di beberapa kesempatan. Pertama kalinya saat dia membuat onar di operasi polisi terhadap para pengendara motor.

Dia dengan sengaja mencopot plat nomor motornya. Dia begitu saja melenggang di gerumbulan pemeriksaan kendaraan oleh polisi. “Priiiit” suara semprit polisi menghentikannya dari laju motor.

Setelah Sarpan berhenti, polisi itu memeriksa surat-surat motor beserta SIM pengendara. Setelah semua beres, maka dilihatnya secara benar-benar motor Sarpan, dan mulai mencari kesalahan sekecil apapun. Bahkan dalam banyak kasus, polisi sering menyalahkan sesuatu yang benar. Dan ketika mata polisi melihat ketidakadaan plat nomor Sarpan, ia langsung saja menjatuhi tilang dengan denda seratus ribu. Sarpan ketika itu berusaha tenang dan menahan emosinya. Ditunggunya saat yang tepat untuk menumpahkan kejengkelannya pada polisi.

“Ini, bapak pilih sidang atau titip saja?”, ucap polisi sembari menulis di surat tilang.

“Apa pak?” Sarpan bergaya tidak mendengar.

“Bapak pilih sidang, atau titip di sini saja?” Polisi mengeraskan suaranya.

“Apa kamu bilang? Titip? Siapa yang membuat aturan seperti ini? Mana undang-undangnya titip sidang? Hah mana? Nama kamu siapa? Besok kita bertemu bersama provos?”

“Sebentar.. tenang. Tenang dulu bapak. Maksud saya tadi ya ini, jika keluarga bapak ada yang polisi atau militer, maka persoalannya selesai di sini saja. Santai aja pak, masak gitu aja bekengkengan.”

“Santai, santai, aturan dari mana itu?”.

“Keluarga bapak ada yang militer?”

“Iya. Kenapa?”

“Tenang dong pak. Tenang. Bapak seharusnya bilang sedari tadi. Kalau cara bapak seperti ini itu mengadu domba namanya. Kalau saya masuk sel, nanti anak istri saya makan apa?” Polisi itu memelas. Namun Sarpan tersenyum lebar dalam hatinya. Tipu muslihatnya berhasil melumpuhkan polisi.

Sarpan tidak selugu yang dulu. Peristiwa itu tidak cukup sampaai di situ. Semua perbincangan dengan polisi tersebut direkam secara lengkap dengan hape yang dikantongi di sakunya. Setiap kali dia melanggar, dia mengeluarkan hapenya dan memperdengarkan rekamannya kepada polisi. Dengan cara itu dia bisa bebas melenggang dengan seabrek pelanggaran.

Dia juga pernah berteriak-teriak protes, karena saat dikenai tilang, saat itu juga melaju di sisinya sebuat truk gandeng dengan muatan melebihi batas, namun dibiarkan saja oleh polisi yang ada. Semakin hari Sarpan semakin liar tak terkendali. Polisi, pejabat, selalu dicaci maki secara frontal jika dia mempunyai bukti pelanggaran.


Suatu hari presiden akan berkunjung ke daerahnya. Sarpan sudah bersiap dengan kebebasannya untuk mengomel sepuasnya di hadapan presiden. Semua sudah dipersiapkan, termasuk daftar kesalahan presiden yang begitu panjang. Ditumpangkannya bokongnya di jok Vespa. Dan terasalah sesuatu yang lembek dan berair. Ia segera ganti celana, karena taik Lincung yang keluar dari dubur ayamnya mengenai celana. Ia lupa, bahwa ayamnya selalu membuat kesalahan, dengan bertengger dan berak di atas motornya.

No comments: