Wednesday, May 17, 2017

Boomerang dan Kegilaan Masa Lalu

Setiap seseorang pastilah mempunyai kecenderungan nada. Nada, sebagai ruh dari musik memiliki ikatan yang sangat erat dengan kehidupan. Bisa dikatakan tanpa nada tidak akan pernah ada kehidupan. Hembusan angin adalah salah satu bentuk dari nada. Suara langkah kaki adalah nada. Nafas manusia juga nada. Semua yang bergerak di alam ini merupakan nada. Dengan demikian sebenarnya antara manusia dengan nada, -sebagai unsur utama pembentuk musik- memiliki ikatan erat.

Pernah saya mendengar kisah dari seorang teman. Di sebuah daerah ada seorang ustadz yang sangat menolak musik. Menurutnya, musik adalah hal yang dilarang oleh agama. Saat seorang mendengarkan musik, ia akan lalai pada Tuhannya. Namun pada sebuah kesempatan, ia mendatangi sebuah resepsi pernikahan di kampungnya. Di resepsi tersebut diputar musik dangdut untuk dedengaran bagi para tamu yang sedang menunggu pengantin laki-laki datang. Tanpa disadari kaki sang ustadz bergerak-gerak mengikuti alunan musik. Sehingga ia tampak menikmati juga musik itu. Hal ini disebabkan karena respon alam bawah sadar terhadap musik yang didengar.

Musik dalam diri saya pribadi mengalir seperti pada orang lain. Pada masa anak-anak, lagu-lagu yang saya senangi adalah lagu yang dinyanyikan oleh penyayi cilik seperti Kak Ria dan Susan, Dhea Ananda, Maissy, Joshua, Sherin, dan lain sebagainya. Pada saat itu industri lagu anak sedang dalam masa suburnya. Sangat mudah sekali mendapatkan lagu-lagu anak yang berkualitas. Berbeda dengan masa kini, posisi lagu-lagu anak dalam dunia mereka digantikan dengan musik-musik dewasa.

Saat menempuh pendidikan tingkat sekolah menengah pertama di Madrasah Tsanawiah Pondok Modern Al-Islam Nganjuk, saya mengenal aliran musik baru yang berbeda dari sebelumnya. Pada saat itu aliran musik Rock Alternatif yang dibawakan oleh grup band menjadi musik favorit bagi masyarakat. Saya dan teman-teman sebaya juga turut menggemari musik yang sedang popular tersebut.

Dengan populernya grup band, maka diikuti dengan menjamurnya penyewaan studio-studio musik di berbagai tempat, di kota maupun desa. Saya dan kawan-kawan juga ikut mencoba memainkan alat musik tersebut dengan sebisanya. Tak jarang untuk dapat bermain di studio musik, kami harus antri beberapa jam terlebih dahulu. Bahkan kami rela keluar malam tanpa seizin pengurus asrama karena mendapatkan jadwal main musik malam hari. Padahal jika ketahuan, pasti potong botak sebagai taruhan. Nyanyian yang kami mainkan tentulah dari grup band yang kami gemari.

Grup musik yang paling saya sukai itu adalah Boomerang. Grup band yang saya kenal pada tahun 2000 tersebut beraliran Hard Rock. Menurut sejarahnya Boomerang sudah terbentuk sejak 1991 dengan nama Los Angel’s. Kemudian pada tahun 1994 mengeluarkan album pertamanya dibarengi dengan perubahan nama menjadi Boomerang yang sekaligus digunakan sebagai judul album.

Yang membuat saya tertarik dengannya adalah ciri khas suara sang vokalis, Roy Jeconiyah. Suaranya serak namun dapat melengking pada nada-nada tinggi. Di sisi lain petikan gitar John Paul Ivan yang ngeballad berpadu dengan rock dapat memanjakan telinga pendengarnya. Kemudian betotan bass Hubert Henry yang sangat variatif dan berpilin mampu membelit melodi gitar di setiap pergantian chord. Dan yang tak kalah menarik gebukan drum Farid Martin yang dapat mencari celah di antara suara gitar dan bass menjadi lebih bebal. Keempatnya sebagai peramu musik yang -menurut saya- memiliki karakter unik dibanding dengan musisi lainnya.

Poster Boomerang menempel di pintu lemari saat di Pondok.
Selain kualitas musik yang baik, kesukaan saya dengan Boomerang terutama juga disebabkan oleh lirik lagu-lagunya yang banyak mengangkat tema kecintaan pada alam, perjuangan hidup, perdamaian, dan kepemudaan. Misalnya saja pada lagu Satu, menyerukan perdamaian dan kesatuan serta membeci peperangan. Serta lagu Generasiku, yang mencoba mengayuh eksistensi pemuda dalam kehidupan. Lagu Versus, yang mengangkat tema pertentangan seorang pemuda dengan ayahnya, dan masih banyak lagi.

Boomerang membuat saya mengirim surat untuk pertama kalinya. Pada tanggal 28 Januari 2002 saya mengirimkannya kepada Boomerang Funs Club (BFC) yang beralamatkan di Surabaya. Surat tersebut berisikan permohonan saya menjadi fans Boomerang. Kemudian sekitar dua bulan kemudian mendapatkan balasan dan sayapun resmi menjadi Boomers, sebutan untuk fans Boomerang. Betapa bahagianya saat itu mendapatkan kartu keanggotaan Boomers  secara resmi yang bentuknya seperti KTP.

Surat menyurat dengan manajemen Boomers tidak berhenti di situ, saya kemudian mengirim surat lagi untuk membeli satu album foto konser Boomerang. Setelah mendapatkan puluhan satu album foto saya bahagia bukan kepalang. Pada saat itu mendapatkan foto artis merupakan kebanggaan tersendiri. Karena satu-satunya cara adalah menghubungi artis yang bersangkutan atau manajerialnya. Berbeda dengan sekarang kita dapat dengan mudah mengeklik internet, semua foto akan dapat kita peroleh dalam hitungan detik.

Selain foto, kegemaran saya juga merambah ke koleksi poster. Saya mempunyai banyak koleksi poster Boomerang yang kemudian saya tempel di dinding kamar. Bahkan hingga sekarang saya masih mempunyai dua poster meskipun kondisinya tergulung dan tersimpan dalam lemari. Yang lain saya hibahkan ke teman-teman.

Salah satu koleksi poster Boomerang yang masih tersisa.
Kesukaan saya pada Boomerang juga membawa saya mendatangi konsernya di Tulungagung pada 3 Oktober 2002. Pada tanggal itu Boomerang menghentak bumi Tulungagung bersama dengan grup musik pecahan Slank, BIP. Untuk mendekati panggung saya harus rela berjubel dengan mas-mas berambut gondrong dan berbaju compang-camping yang berjoget ala metal. Saya terhuyung ke kanan dan ke kiri, hingga akhirnya sampai di pagar besi depan panggung. Tampaklah raut wajah Roy saat meneriakkan lagu-lagunya.
Koleksi foto dari BFC: Roy Jeconiyah dalam sebuah konser.

Saya mengenal Boomerang lima tahun dari rilis album pertamanya pada 1994. Pada saat itu saya tertinggal 4 album dari Boomerang yang belum pernah saya dengarkan. Sayapun mulai berburu kaset 4 album sebelumnya. Yaitu album yang berjudul Boomerang dirilis pada tahun 1994, K.O (Kontaminasi Otak) dirilis pada tahun 1995, Disharmoni dirilis pada 1996, dan Segitiga dirilis pada 1998.

Di setiap kota saya berkunjung saya selalu menyempatkan diri mampir ke toko kaset, namun semuanya kosong. Saya sudah menelefon Loggis Reccord untuk menanyakan keberadaan kaset album namun tidak ada jawaban. Bahkan secara frontal saya mengirim uang langsung ke Loggis Record untuk pembelian empat kaset Boomerang, namun tiada kabar apapun setelahnya. Saya juga sudah menanyakan kaset tersebut ke markas Boomers di Surabaya, namun juga tidak ada. Album-album Boomerang yang saya cari tersebut di kemudian hari saya dapatkan dari download di internet saat kuliah di Malang.

Koleksi foto dari BFC: John Paul Ivan dalam sebuah konser.
Setelah saya lulus Madrasah Aliyah (MA) pada tahun 2005, bertepatan dengan dirilisnya album ketujuh Boomerang yang berjudul Urbanoustic, sang gitaris John Paul Ivan hengkang dari Boomerang dengan alasan berbeda prinsip. Maka saya juga sedikit jauh dengan Boomerang. Boomerang dengan keempat personel yang memiliki keistimewaan masing-masing seperti tak punya taring ketika sang gitaris keluar darinya. Meskipun tetap suka, namun rasa berbeda dengan sebelumnya. Mungkin juga pada saat itu saya sendiri disibukkan dengan peralihan jenjang pendidikan ke perguruan tinggi.

 Koleksi foto dari BFC: Hubert Henry dalam sebuah konser.
Meski masih suka mendengarkan musik-musik dari Boomerang di sela-sela aktifitas, namun rasa fanatik saya tidak segencar pada saat di tingkat sekolah. Terlebih lagi saat tahun 2010, sang vokalis Roy Jeconiyah memutuskan untuk hengkang, Boomerang seperti kehilangan ruh. Dengan berjalannya waktu, saya semakin tidak mengikuti perkembangan grup band tersebut. Hanya sesekali saja saya mendengarkan lagu-lagu yang tetap terasa nikmat dari ramuan gebukan drumm Farid, betotan Bass Henry, petikan gitar Ivan, dan teriakan Roy yang sangat khas. Bagi saya Boomerang tetaplah empat orang tersebut.

No comments: