Monday, June 5, 2017

Pertemuan Terakhir

Pak Kadirun berjalan tergopoh-gopoh dari gedung lama yang sudah berusia belasan tahun. Kerap ia memandangi jam tangan yang sudah melilit di tangannya sejak lima tahun lalu. Bola matanya berpindah-pindah dari jam tangan menuju jalan berkerikil kemudian kembali ke jam tangan lagi begitu seterusnya sampai ia menaiki tangga ke lantai dua.

Selang tiga menit, ia sudah berdiri di depan kelas. Siswa yang dihadapi baru separuh yang sudah duduk di kursi. Sedang sisanya masih dalam perjalanan, itu menurut mereka yang sudah hadir. Barangkali kenyataannya ada yang masih mandi atau bahkan masih ngorok di atas kasur. Bagi pak Kadirun itu hal yang lumrah. Bangsanya terbelakang jauh dari negara-negara lain salah satu faktornya adalah kemalasan dan ketidakdisiplinan.

“Sastra Arab klasik belum mengenal aliran-aliran sastra yang lengkap dan koprehensip sebagaimana yang ada di jaman modern. Hal itu disebabkan karena aliran-aliran sastra baru muncul akibat dari perkembangan pemikiran dan kebudayaan modern ini”. Pak Kadirun memulai kuliahnya setelah beberapa detik ia mengucapkan salam.

“Aliran atau madzhab sastra baru masuk ke dalam sastra Arab sekitar abad dua puluh, hal itu terjadi karena di dunia Arab tidak ada kritikus sastra yang secara serius meneliti karya sastra. Faktor lainnya adalah orang-orang Arab cenderung memegang teguh kebudayaan klasik nenek moyangnya yang membenci khayalan dan filsafat.

Barangkali dalam kajian sastra Arab klasik terdapat perhatian pada sastra yang dapat kita sandingkan dengan pembagian aliran antara Klasik dan Romantisme. Klasik di sini harus kita bedakan antara klasik bermakna masa lalu, dan klasik sebagai salah satu aliran sastra. Supaya tidak ambigu dan rancu, istilah klasik yang bermakna masa lalu akan saya gantikan dengan kata “lama”. Lama di sini mengacu pada karya-karya sastra Arab sebelum modern atau sebelum abad 20.

Barangkali dalam kajian sastra Arab lama terdapat perhatian pada sastra yang dapat kita sandingkan dengan pembagian aliran sastra antara Klasik dan Romantisme. Misalnya saja Ibnu Qutaybah yang membagi penyair menjadi penyair natural (al-syair al-mathbu’i) dan penyair yang dibuat-buat (al-syair al-mutakallif). Kemudian term “dibuat-buat” tersebut berkembang mengarah pada bentuk baru berupa pilar-pilar puisi yang dianggap sebagai bentuk puisi arab ideal, dan selanjutnya bentuk tersebut merupakan karakterisitik aliran Klasik. Begitu juga terdapat istilah puisi permohonan maaf (al-syi’ru al-‘udzr) dan puisi sufi (al-syi’ru al-mutashowifah) sebagai karya sastra yang dapat kita lihat dari segi isinya sebagai aliran Romantisme.

Meskipun demikian, puisi Arab tidak dapat kita bagi menjadi Klasik dan Romantik, karena aliran tersebut merupakan kriteria modern. Puisi Arab bersifat liris emosional di sebagian besar bentuknya. Di sisi lain ia cenderung mengikuti bentuk dan tema yang terbatas. Dalam sejarahnya sangat sedikit sekali berkembang. Aliran Klasik dan Romantisme adalah dua aliran yang berbeda yang tidak dapat mengidentifikasi sastra arab lama.

Bentuk sastra beraliran Klasik pada jaman modern ini (disebut Neo Klasik) hanya sebagai gerakan upaya menghidupkan dan membangkitkan model sastra Arab lama dan upaya memperhatikan masa lalu. Munculnya gerakan ini sebagai reaksi dari fase perkembangan peradaban dalam sejarah Arab modern, sebagaimana yang terjadi pada aliran Neo Klasik dalam sejarah eropa modern. Tidak ada hubungan antara menghidupkan sastra Arab modern dengan aliran Klasik barat. Orang-orang yang intens bergerak dalam bidang ini diantaranya al-Barudi, Ahmad Syauqi, al-Jawahiri, dan al-Marshofi.

Pada aliran Romantisme, ada beberapa faktor yang menyebabkan sastra Arab terpengaruh oleh sastra barat. Pertama, Orang-orang Arab khususnya Syuriah dan Lebanon bermigrasi ke dunia barat dan mereka memunculkan keindahan sastra Romantik. Kedua, adanya penerjemahan sastra Romantik ke dalam bahasa Arab. Ketiga, perlunya pembaruan dalam sastra yang sesuai dengan peradaban.

Sebenarnya apa yang disebut sebagai esensi pribadi dalam aliran romantisme merupakan karakter sastra Arab secara umum, bahkan itu adalah karakter masyarakat Arab. Misalnya saja pada puisi-puisi Arab yang bertemakan berbangga-bangga (fakhr), duka cita (ritsa), keberanian dan kekuatan (hammasah), dan cinta (ghazal), tema-tema ini berasal dari esensi penyair yang sangat pribadi. Tema-tema tersebut juga sama dengan tema-tema Romantisme barat yang banyak berbicara mengenai pemberontakan, kegelapan, alam, kesedihan, duka cita, dan kematian.

Penerapan romantisme dalam kesusastraan Arab (Disebut sebagai madzhab Neo Romanik) adalah hasil perkembangan dinamika sosial dan pemikiran, bukan semata-mata mengikut begitu saja pada sastra barat. Secara umum aliran Neo Romantik dalam sastra Arab adalah hasil dari pergolakan para sastrawan Arab ketika mereka berinteraksi dengan budaya barat. Para sastrawan Arab pada saat itu menatap modernitas barat melaju dengan pesat termasuk dalam kesusastraan, sedangkan bangsa timur masih terpuruk dalam ketertinggalan. Dengan beberapa pertimbangkan mereka meniru struktur sastra dengan konskekuensi keluar dari bentuk puisi lama. Munculnya aliran Romantisme di barat dengan lahirnya Neo Romantik di sastra Arab itu sendiri terpaut sekitar seratus tahun.

Pada bidang romantisme, Jibran Khalil Jibran dianggap sebagai pelopor utama dalam sastra Arab. Kemudian kelompok Diwan (Aliran pembaruan sastra Arab yang lahir dan berkembang pada tahun 1909-1918) yaitu Abbas Mahmud al-Uqad, Ibrahim Mazani, dan Abdurrahman al-Syukri. Kemudian para kelompok Apollo (lahir pada tahun 1932 di Kairo) yang dinahkodai oleh Abu Syadi, Ibrahim Naji, Ali Mahfudz Thoha, dan Abu Qasim Al-Syabi.

Pada aliran Realisme, sastra Arab memiliki fenomena tersendiri sebagaimana yang telah kita ketahui pada puisi-puisi klasik. Hal itu dapat kita jumpai pada puisi-puisi masa jahiliyah yang menggambarkan kenyataan. Seperti deskripsi mengenai peperangan, mengenai kuda yang gagah, pedang yang tajam, dan para panglima mereka yang berwibawa. Kesemuanya itu merupakan cerminan dari kenyataan.

Pada masa Abasiyah ada perubahan besar dalam peradaban. Jahidz, seorang kritikus yang memperhatikan dan menganalisa perubahan tersebut, menerbitkan buku berjudul al-Bukhola yang berisi potret sosial serta kritikan atas kebiasan yang merusak pada saat itu.

Pada jaman modern ini realisme muncul dengan baju baru yang menolak kehidupan metropolitan modern. Karya sastra prosa banyak menganut aliran ini. Di dunia Arab, aliran ini juga condong dengan berkembangnya ideologi sosialis. Buku yang berhaluan realisme adalah karya Abdurrahman Al-Syarqawi dengan judul al-Ardh (bumi). Begitu juga banyak kita jumpai pada novel-novel karya Taufiq Hakim, Thoha Husain, Najib Mahfudz.

Keadaan yang demikian hampir sama dengan aliran-aliran sastra barat yang bergema di kesusastraan Arab modern. Akan tetapi setiap aliran memiliki perbedaan dengan sepak terjang klasik, romantisme, dan realisme”.

“Lantas, kalau memang aliran sastra barat tidak dapat digunakan untuk mengkategorikan sastra Arab, mengapa kita harus mempelajarinya?”. Tanya seorang siswa setelah ia mengacungkan tangan.

Pak Kadirun diam, mendalamkan analisa. Siswa lainnya meraba-raba analisa mereka atas jawaban dari pertanyaan tersebut.

Nah, ini sebenarnya inti dari materi kita pada pertemuan ini”. Ucap pak Kadirun memecah keheningan sejenak.

“Sebenarnya kurang pas jika kita katakan tidak dapat mengkategorikan secara keseluruhan karya sastra Arab. Yang dimaksud tidak dapat mengkategorikan di sini adalah jika dihadapkan pada karya sastra Arab lama” ucap pak Kadirun.

“Mengapa kita mempelajari aliran sastra barat, sedang kajian utama kita adalah sastra Arab?”. Pak Kadirun melanjutkan. “Jika kita berbicara mengenai epistemologi, maka besar kemungkinan kita tidak dapat keluar dari teori-teori yang dilahirkan oleh dunia barat. Begitu juga dalam dunia kesusatraan. Meskipun teori-teori tersebut tidak dapat diaplikasikan pada keseluruhan karya sastra di berbagai belahan dunia, namun tetap menjadi referensi kritis dan dijadikan rujukan oleh sebagian besar pemerhati dan pengkaji karya sastra.

Hal tersebut terjadi karena; Pertama, aliran sastra di barat sudah ada sejak abad 16. Pada saat itu para kritikus sastra merumuskan karakteristik sastra dengan berdasarkan karya satra masa Yunani. Sedangkan dalam dunia timur tengah, aliran sastra baru muncul pada awal abad 20. Tentu sesuatu yang ada lebih dulu sedikit banyak memberikan pengaruh pada masa setelahnya.

Kedua, dinamika pemikiran di dunia barat tumbuh subur dari pada di dunia timur. Hal tersebut menjadikan pemikir-pemikir barat melahirkan teori-teori kesusastraan yang kritis terlebih setelah munculnya filsafat Materialisme yang dipelopori oleh Karl Mark. Materialisme sendiri banyak berkontribusi dalam pembentukan aliran sastra pasca Romantisme.

Hasil perumusan para peneliti tersebut dapat kita jadikan pijakan pada sudut tertentu dalam memandang karya-karya sastra Arab. Di sini kita tidak lagi bicara tentang pengaruh terbentuknya aliran sastra barat terhadap sastra Arab pada saat itu, namun lebih pada bagaimana aliran sastra barat tersebut dapat kita jadikan sebagai alat untuk membaca karya-karya sastra Arab.

Ketiga, meskipun awal terbentuknya aliran sastra itu hasil dari pembacaan karakteristik karya sastra pada masa dan wilayah tertentu, namun dalam perkembangannya aliran sastra justru menjadi pedoman bagi sastrawan dalam menciptakan karya sastra, termasuk sastrawan-sastrawan Arab modern. Dengan demikian aliran sastra tersebut menemukan relevansinya jika dihadapkan dengan karya sastra modern, di dunia barat maupun timur”.

Para siswa mulai mengangguk-anggukkan kepala, mengungkapkan pemahaman dari paparan pak Kadirun. Namun bagi pak Kadirun, itu hanya sebagai reaksi komunikatif saja, toh paham atau tidak dengan apa yang ia katakan hanya yang mereka sendiri yang mengetahui.

“Yang perlu kita perhatikan, bolehlah perkembangan aliran sastra terhenti pada berhentinya perkembangan filsafat. Namun karya sastra terus terlahir bersama kelahiran manusia-manusia baru di lintas generasi. Hal itu menjadikan bentuk-bentuk karya sastra modern cenderung mengekor pada bentuk-bentuk karya sastra sebelumnya. Sehingga aliran-aliran sastra yang ada akan selalu eksis membaca karya-karya sastra yang lahir jauh dari kelahirannya”.

“Apakah sudah tidak dimungkinkan terbentuknya aliran sastra yang baru, pak?” Salah satu siswa lansung menembakkan pertanyaanya, tanpa aba-aba lebih dulu. Barangkali karena terlalu bersemangat.

“Coba, adakah yang bisa menjawab?” Oleh pak Kadirun pertanyaan itu di lempar ke siswa-siswa yang sebenarnya juga sedang berpikir perihal itu.

“Mungkin”. Jawab sebagian siswa. “Tidak”. Jawab sebagian lainnya.

“Mungkin saja”. Ucap pak Kadirun, menghabisi perselisihan mereka. “Pemikiran manusia itu dinamis mengikuti perkembangan peradaban. Selama ini dapat kita katakan bahwa aliran-aliran sastra yang sudah kita pelajari di kuliah ini melihat karya sastra dari segi dua sisi; intrinsik karya satra (unsur strktur bahasa), adakalanya dari segi eksintrik karya sastra (unsur yang ada di luar sastra itu sendiri, meliputi keadaan penyair, proses penciptaan, kondisi sosial masyarakat, filsafat yang melatarbelakangi, dan lain sebagainya). Dua sisi tersebut tidak dapat terbatasi oleh tempat dan waktu. Selama masih ada sastrawan dan kritikus sastra, masih sangat dimungkinkan terbentuknya aliran-aliran baru dalam sastra”.

Lalu pak Kadirun maju beberapa langkah. “Sebagaimana kalian di sini, dicetak untuk menjadi kritikus sastra yang dapat merumuskan tipologi dan karekter karya-karya sastra sesuai dengan nafas jamannya”. Pak Kadirun mengucapkannya dengan serius.

“Mungkin ini yang bisa kita pelajari pada pertemuan terakhir ini. Apa yang kita pelajari selama ini hanyalah cuplikan permulaan dari kelahiran dan perkembangan aliran-aliran sastra. Kita belum sama sekali membahas aliran-aliran sastra masa modern, yang boleh dikatakan hasil perkembangan dan modifikasi dari aliran-aliran sastra sebelumnya. Apabila ada kekurangan semoga dimaafkan. Wassalam”. Pak Kadirun melangkah cepat meninggalkan ruang kelas, tak satupun sesi pertanyaan dibuka. Tampak raut cemberut di muka siswa-siswa. Namun semuanya melebur ketika selang beberapa detik terdengar suara keras pintu dibanting, tepatnya di tolitet bawah tangga sebelah ruang kelas.

No comments: