Senin, 31 Oktober 2022

Katalog Mesin Ketik Remington

Mesin ketik Remington diproduksi di USA dalam rentang tahun 1877-1973. Berikut ini adalah daftar tipe dan tahun pembuatan. Beberapa nama berada di dalam satu model, kemungkinan berbeda wilayah pemasaran atau penyegaran nama di tahun yang berbeda. Penulisan dikelompokkan menjadi dua, mesin ketik standard dan mesin ketik portable.

A. MESIN KETIK STANDARD
1. Remington Standard No. 1
Diproduksi tahun 1877-1886

2. Remington Standard No 2
Diproduksi tahun 1880-1894

3. Remington Standard No 3
Diproduksi tahun 1880-1886

4. Remington Standard No 4
Diproduksi tahun 1879-1902

5. Remington Standard No 5
Diproduksi tahun 1886-1898

6. Remington Standard No 6
Diproduksi tahun 1894-1914

7. Remington Standard No 7
Diproduksi tahun 1986-1914

8. Remington Standard No 8
Diproduksi 1987-1914

9. Remington Standard No 9
Diproduksi tahun 1903-1914

10. Remington Standard No 10
Diproduksi tahun 1908-1944

11. Remington Standard No 11
Diproduksi tahun 1908-1944

12. Remington Standard No 12
Diproduksi tahun 1908-1944

13. Remington Standard No 30
Diproduksi tahun 1908-1944

14. Remington Standard No 16
Diproduksi tahun 1931-1944

15. Remington Standard No 17
Diproduksi tahun 1939-1950

16. Remington Super Riter
Diproduksi tahun 1950-1965

17. Remington Master Riter
Diproduksi tahun 1951-1954

18. Remington No 21
Diproduksi dari dasar Remington No 16 dengan tambahan tombol vertikal

19. Remington Standard Model 24
Diproduksi tahun 1965-1972

20. Remington Model 50 Standard
Diproduksi tahun 1901-1942

21. Remington International
Diproduksi tahun 1961-1969

22. Remington Noiseless No 6
Diproduksi tahun 1924-1934

23. Remington Noiseless No 10
Diproduksi tahun 1933-1960

24. Remington Model 11 "Speed Stroke"
Diproduksi tahun 1935-1942

25. Remington Electric
Diproduksi tahun 1925

26. Remington Electric Deluxe
Diproduksi tahun 1948

27. Remington Electric 25
Diproduksi tahun 1964-1970

28. Remington electric 26
Diproduksi 1970-1972

29. Remington 711 dan 713
Diproduksi tahun 1970-1975

30. Remington 100 E
Diproduksi tahun 1974-1978

31. Remington SR 101
Diproduksi tahun 1975-180



B. MESIN KETIK PORTABLE
1. Remington Junior
Diproduksi tahun 1914-1918

2. Remington Portable 1, 2, 3, 4, dan 5
Diproduksi tahun 1920-1938
Model awal disebut model 1 oleh para kolektor

Model keluaran terakhir disebut model 2

Dengan tambahan kunci paragraf disebut model 3

3. Remington Rem-Blick, Baby Rem
Diproduksi tahun 1927-1928

4.  Remington Noiseless Portable
Diproduksi tahun 1931-1942

5. Remington Bantam Model 4 dan Remington Rand Cadet
Diproduksi tahun 1938-1942

6. Remington Pioneer dan Remie Scout
Diproduksi tahun 1938-1942

7. Remington Deluxe Model 5
Diproduksi tahun 1940-1953

8. Remington Model 5 Streamline (perbedaan dengan Deluxe Model 5, tidak ada tutup gulungan pita)
Diproduksi tahun 1935-1942

9. Remington Junior Riter
Diproduksi tahun 1933-1940

10. Remington Rand Model 1
Diproduksi tahun 1933-1942

11. Remington Rand Deluxe
Diproduksi tahun 1948

12. Remington Quiet Riter
Diproduksi tahun 1950-1960
Tahun 1950-1952

Tahun 1953-1960

13. Remington Travel Riter
Diproduksi tahun 1953-1959

14. Remington Mark II
Diproduksi tahun 1968-1970

15. Remington Monarc
Diproduksi tahun 1962-1973

16. Remington Ten Forty dan Remington Holiday
Diproduksi tahun 1968-1973

17. Remington Envoy 1
Diproduksi tahun 1939-1942

18. Remington Envoy 2
Diproduksi tahun 1965-1969

19. Remington Envoy 3
Diproduksi tahun 1969-1973

Senin, 17 Oktober 2022

Anak dalam Al-Qur'an

Setiap manusia yang sudah tiba waktunya akan menginginkan memiliki pasangan hidup abadi yang diikat dengan tali pernikahan. Setelah seorang pria menjadi suami dan seorang wanita menjadi istri melalui pernikahan yang sah, salah satu harapan mereka adalah memiliki keturunan atau anak. Sebagaimana salah satu tujuan dari pernikahan adalah memperoleh keturunan. Keturunan tersebut nantinya akan menjadi generasi-generasi keluarga yang akan mewarisi tradisi.

Anak merupakan buah hati kedua orang tuanya. Anak adalah cahaya dan bukti kasih antara suami dan istri. Tanpa hadirnya seorang anak dalam keluarga, maka keluarga tersebut akan terasa janggal dan kurang sempurna. Kebahagiaan suami istri juga tidak akan lengkap jika belum dianugerahi seorang anak.

Besarnya harapan suami istri untuk mendapatkan seorang anak tak lain supaya anak tersebut kelak menjadi orang yang berbudi luhur, sika menolong, sehingga dapat mengangkat harkat dan martabat keluarga, membela agama, nusa, dan bangsa. Anak juga sebagai penopang keluarga di saat orang tua lanjut usia. Pada usia anak, anak adalah tanggung jawab orang tua, dan setelah ia dewasa berkewajiban menjaga dan merawat orang tua.

Namun harapan orang tua terhadap anak bisa saja tumbang di tengah jalan. Di dalam al-Qur'an dijelaskan bahwa seorang anak dapat menjadi beban orang tuanya. Anak juga dapat menjadi rintangan bagi orang tua dalam perjalannya menuju surga. Tulisan ini akan menyampaikan pandangan tentang anak yang disampaikan Allah SWT dalam al-Qur'an.

1. Anak sebagai kabar gembira

Allah SWT berfirman: "Siapa istrinya berdiri (di balik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari Ishaq (akan lahir putranya (Ya'kub)". (QS. Al-Hud: 71)

Menurut ayat di atas, anak adalah kabar gembira yang diberikan Allah SWT kepada orang tuanya. Meskipun ayat tersebut berkenaan dengan kisah Nabi Ibrahim dengan Sarah, akan tetapi bukan berarti kabar gembira tersebut hanya bagi nai Ibrahim dan Sarah. Kita harus menempatkan nabi Ibrahim dan Sarah sebagai orang tua, dan Ishaq sebagai seorang anak. Jadi meskipun bercerita tentang nabi Ibrahim, ayat tersebut berlaku juga untuk manusia pada umumnya. Dengan demikian setiap orang harus meyakini bahwa lahirnya seorang anak merupakan kabar gembira yang datang dari Allah SWT.

2. Anak sebagai perhiasan

Allah SWT berfirman, "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal dan sholih adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhan untuk menjadi harapan" (QS. Al-Kahfi: 46).

Ayat di atas menyebutkan bahwa anak adalah perhiasan. Al-Qur'an mengungkapkan anak dengan kata perhiasan untuk menggambarkan keindahan bahasa yang terkandung di dalamnya. Perhiasan di sini tidak serta merta perhiasan berupa barang, akan tetapi untuk mengungkapkan betapa berharganya seorang anak.

Telah banyak kita ketahui orang tua yang menelantarkan anak mereka. Orang tua yang berkarir dengan entengnya menyewa penbantu rumah tangga untuk merawat anaknya. Mereka adalah orang tua yang baru mengerti betapa berharganya seorang anak, sehingga harus dijaga dari hal-hal yang dapat merusak kepribadiannya.Selayaknya sebuah perhiasan, pasti akan disimpan di dalam tempat yang aman serta jauh dari kotoran-kotoran yang dapat menodai.

3. Anak sebagai musuh

Allah SWT berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka, dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang". (QS. At-Taghabun: 14)

Selain sebagai kabar gembira dan sesuatu yang berharga, anak juga dapat menjadi musuh bagi orang tuanya. Anak-anak seperti itu pastilah anak-anak yang kurang mendapatkan pendidikan yang tepat. Anak yang tidak mendapatkan pendidikan yang baik akan bersikap keras kepala, egois, rakus, dan berbuat kejahatan.

Anak seperti ini nantinya tidak hanya menjadi musuh bagi orang tuanya tapi juga akan menjadi musuh masyarakat. Sebagaimana musuh negara seperti koruptor, pembalak hutan, dan penjahat lainnya pada mulanya adalah seorang anak mungil yang hadir sebagai kabar gembira, namun dengan asupan pendidikan yang salah mereka menjadi buas beringas buta akan nilai-nilai kemanusiaan.

Perlu kita mengambil hikmah dari kisah Kan'an, putra Nabi Nuh AS. Meski Kan'an adalah putra dari seorang nabi, dia menjadi musuh bagi ayahnya sendiri. Ketika Kan'an diajak ayahnya untuk ikut bersama naik bahtera, dia menolak dan tetap dalam kekafiran yang akhirnya menenggelamkannya ke dalam banjir bandang meski ia naik di puncak gunung tertinggi. Jika anak nabi tidak dapat menjamin kepatuhannya terhadap orang tua, apalagi anak manusia biasa seperti kita.

4. Anak sebagai cobaan

Anak juga dapat menjadi cobaan bagi orang tuanya. Hal ini sudha terbukti sejak berada dalam kandungan, rasa letih, penat, dan capek selalu dirasakan oleh seorang ibu. Demi menjaga sang bayi, seorang ibu bersabar dengan kehamilan yang melelahkan. Di saat proses persalinan nyawa ibu menjadi taruhan. Setelah anak lahir, orang tua lalu disibukkan dengan merawat dan membesarkan anak hingga remaja. Setelah remaja kebutuhan anak semakin meningkat. Dalam proses pengasuhan tersebut, juga terdapat gangguan dan rintangan, seperti ketika anak jatuh sakit, maka orang tua dengan sekuat tenaga pasti berudaha untuk menyembuhkannya. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar" (QS. At-Taghabun: 15)

Siapapun yang tabah dalam mengahadapi cobaan, Allah SWT akan memberikan berkah baginya, Begitu juga dengan cobaan berupa anak, apabila orang tua bersikap ikhlas dan tabah dalam merawat dan mendidik anak, maka anak tersebut akan mejadi berkah bagi orang tuanya. Di dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang mendapat ujian karena mengurus anak-anaknya, kemudian ia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anaknya menjadi penghalang baginya dari siksa api neraka".

Dari sini kita mengetahui keistimewaan seorang anak. Di satu sisi anak dapat menjadi sebab masuknya orang ke neraka, dan di sisi lain anak dapat menjadi penghalang orang tua dari api neraka. Anak dapat menentukan baik tidaknya kehidupan orang tuanya di akhirat kelak.

5. Anak sebagai keindahan pandangan mata

Anak yang dididik dengan ilmu agama dan ilmu pengetahuan secara simbang akan menjadi ilmuwan yang berakhlak mulia. Anak seperti ini dapat mengayomi dan membahagiakan orang tua, membawa kebermanfaatan bagi masyarakat, sehingga menjadi keindahan bagi pandangan mata. Allah SWT berfirman, "Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)". (QS. Ali Imran: 14)

Untuk menjadikan seorang anak dapat memberikan manfaat bagi orang tua, masyarakat, agama, dan negara tentu tidak mudah. Orang tua harus menjaga, mengawasi, mengarahkan, dan mengontrol segala aktifitas anak untuk memastikan selalu berada dalam jalan kebaikan. Terlebih di jaman yang dengan mudah anak mengakses informasi dari luar rumah, pengawasan orang tua harus lebih cermat. 

Demikianlah beberapa pandangan al-Qur'an mengenai anak. Dari sini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa anak dapat menjadi kenikmatan ataupun musibah bagi kehidupan hal ini akan dipengaruhi oleh pendidikan dari orang tua sekolah dan lingkungan.

Kita sebagai bagian dari masyarakat dalam sebuah lingkungan turut serta dalam mendidik anak-anak, serta mampu  menjadi suri tauladan yang baik bagi mereka.  Dengan harapan anak-anak tersebut mampu menjadi generasi penerus bangsa yang memiliki keagungan akhlak keluasan ilmu pengetahuan. Karena lingkungan berpotensi besar dalam mencetak kepribadian anak-anak menjadi baik atau sebaliknya.

Realita yang terjadi di Indonesia sungguh mengkhawatirkan. Perhatian terhadap anak semakin tersisihkan dan terpinggirkan. Dari tahun ke tahun angka pekerja anak semakin meningkat. Masa-masa bermain tergadai dengan pekerjaan yang dibebankan kepada anak. Padahal masa anak-anak adalah masa paling menentukan baik buruknya kepribadian dalam kehidupan mereka.

Berita-berita mengenai kekerasan anak juga selalu hadir menghiasi media masa. Anak-anak dipukul Ada pula yang disiram dengan air mendidih. Orang tua yang memperlakukan anaknya seperti ini adalah orang tua yang merugi. Kekejaman pada anak tidak akan menguntungkan sama sekali bahkan akan merugikan,  karena  kekejaman yang diterima anak akan terekam dalam alam bawah sadar yang akan terus membekas, dan suatu saat anak akan membalaskannya di saat tumbuh dewasa.

Sudah saatnya kita memberikan perhatian yang lebih pada anak. Dengan perhatian yang baik anak akan lebih dekat dengan kita dan dengan kedekatan tersebut kita mudah menanamkan nilai-nilai kearifan kehidupan dalam diri mereka.

Anak adalah amanah bagi orang tua dan bagi kita sebagai masyarakat yang turut serta sebagai pendidik mereka. Sebuah amanah akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Jangan sampai kita termasuk orang yang merugi di akhirat karena kurang dapat mengemban amanah dari anak-anak kita. Semoga anak-anak kita menjadi keindahan pandangan bagi mata. Amin.

Minggu, 16 Oktober 2022

Kehebatan Bahasa Al-Qur'an

Al-Qur’an merupakan salah satu mukjizat Nabi Muhammad SAW yang bisa kita saksikan sampai saat ini. Ia diturunkan sebagai petunjuk manusia menuju jalan kebenaran. Di dalamnya terdapat tiga aspek pokok yaitu, (1) aqidah atau kepercayaan yang mencakup kepercayaan kepada Allah SWT dengan segala sifat-sifatNya, wahyu dan segala kaitannya, seperti kitab-kitab suci, malaikat, para nabi, serta hari setelah kematian, (2) budi pekerti yang bertujuan memujudkan keserasian hidup masyarakat seperti gotong royong, kejujuran, kebenaran, kasih sayang, tanggungjawab dan lain-lain, (3) hukum-hukum yang mengatur hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan, dan manusia dengan alam.

Ketiga aspek tersebut seluruhnya berhubungan dengan manusia, dan Allah menyampaikan petunjuk-petunjuk tersebut dengan menggunakan bahasa yang dapat dipahami oleh manusia. Sebagaimana terdapat dalam al-Quran, “Tidak ada sesuatupun kecuali hasanah-hasanah pemahamannya ada pada Kami. Tidaklah kami menurunkan kitab ini kecuali dengan ukuran yang diketahui”. (QS Al-Hijr: 21).

Berbicara tentang al-Quran dari sudut bahasa tidak bisa dilepaskan dari konsep i’jaz al-Quran itu sendiri. Tokoh-tokoh semisal Al-Jahiz (w.835 H), Al-Rummani (w.964 H) dan Abu Bakar Baqilani (w.983 H) mencoba untuk menjelaskan beberapa aspek kemukjizatan al-Quran; pertama, tantangan untuk menciptakan kata ataupun kalimat yang sama dan senada dengan al-Quran. Kedua, kesesuaian mu’jizat dengan kemampuan lawan bicara. Ketiga, sasaran mu’jizat yang tidak dibatasi dimensi ruang dan waktu.

Al-Qur’an diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab, hal tersebut secara langsung disampaikan dalam ayat, “Sesungguhnya Kami menurunkan al-Quran dengan berbahasa Arab supaya kamu memahaminya” (QS. Yusuf:2). Dengan digunakannya bahasa Arab sebagai bahasa al-Qur’an bukan semata-mata karena al-Qur’an diturunkan di negeri Arab, melainkan hal ini bersifat I’jazi (dari Allah). Dalam hal ini terdapat dua pendapat; pertama Allah menciptakan al-Qur’an di lauhil mahfudz dengan bahasa Tuhan, baru ketika malaikat Jibril menyampaikan al-Qur’an kepada nabi Muhammad dengan bahasa Arab. Kedua, Allah menciptakan al-Quran di lauhil mahfudz sudah dengan bahasa Arab. Pendapat kedua inilah yang paling kuat.

Al-Qur’an bernilai sastra

Al-Qur’an yang merupakan bukti kebenaran Nabi Muhammad sekaligus petunjuk bagi umat manusia memiliki berbagai macam keistimewaan, salah satunya adalah susunan bahasanya yang indah serta mengandung nilai sastra yang sempurna. Al-Qur’an mempunyai pengaruh kuat bagi pembaca maupun pendengarnya. Bahkan orang-orang kafir dan musyrik mengatakan bahwa al-Qur’an memiliki kekuatan untuk menyihir manusia, sebagaimana yang terdapat dalam surat al-Mudatsir ayat 24, “Orang-orang musyrik itu berkata ini al-Qur’an tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari”. Orang-orang kafir menyebut al-Qur’an sebagai sihir karena kehebatan bahasanya yang dapat menggerakkan hati sehingga memberikan pengaruh yang kuat terhadap manusia.

Al-Qur’an berbeda dengan syair Arab. Meskipun syair Arab dikenal sangat indah dan memiliki masa lalu yang cemerlang, Allah mengecam keras orang-orang yang menyebut al-Qur’an sebagai syair dan menyebut Nabi Muhammad sebagai penyair. Dalam surat Yasin ayat 69 Allah berfirman, “Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad). Bersyair itu tidaklah layak baginya”. Meskipun bukan syair atau puisi, al-Qur’an menggunakan kalimat-kalimat yang sangat halus dengan berbagai gaya bahasa sastra, seperti majas, metafora, perumpamaan, dan penyerupaan. Selain itu poin yang menarik untuk dicermati bahwa al-Qur’an juga mempunyai berbedaan dengan kalimat kutbah para Nabi sehingga al-Qur’an merupakan karya yang tidak ada duanya.

Susunan kata-kata al-Qur’an demikian indah dan sempurna sehingga sastrawan Arab sejak zaman ketika al-Qur’an diwahyukan hingga hari ini mengakui bahwa bahasa al-Qur’an di luar kemampuan manusia dan hanya Allah yang mampu menyusun kalimat-kalimat sedemikian indah. Sebagian besar ayat al-Qur’an memiliki kesamaan pada akhirnya. Pola ini dalam puisi atau syair disebut sebagai wazan dan sajak. Al-Qur’an menggunakan jalinan rima dan ritme yang menarik hati dan menyentuh jiwa.

Selain bentuk bahasa yang indah, al-Qur’an memiliki keselarasan antara lafadz dan makna. Bila kita cermati ayat-ayat al-Qur’an akan mendapati bahwa ketika sebuah ayat menceritakan tentang sesuatu yang baik, keindahan surga, kedamaian orang-orang beriman, kata-kata yang digunakan bernada lembut dan ringan. Oleh karenanya ketika seseorang membaca ayat-ayat tersebut akan merasa sifat lembut dan rahmat Allah di dalamnya. Sebaliknya jika ayat-ayat al-Qur’an berbicara tentang adzab, kecaman, kesempitan, kesulitan yang menimbulkan rasa takut serta mendorong kita untuk menjauhinya, bentuk bahasa yang dipakaipun terasa sulit dibaca dan banyak huruf bertasdid yang saling berdekatan satu sama lain. Tak heran jika di antara pembaca al-Qur’an ketika sampai pada surat al- Waqi’ah lebih-lebih ketika menceritakan tentang ashabus syimal mereka meneteskan air mata dan menangis tersedu-sedu. Hal ini disebabkan melainkan jiwa dan hari mereka telah menyatu dengan ayat al-Qur’an dengan perantara redaksi bahasa yang bersifat i’jazi.

Bahasa al-Qur’an juga membentuk irama tertentu yang khas yang bisa ditangkap ketika menghayati struktur bahasanya. Al-Qur’an memiliki struktur bahasa yang unik dengan kata-kata yang tepat sehingga memunculkan nada dan irama tertentu. Orang-orang yang mampu memahami rahasia irama atau musik al-Qur’an menyakini bawah al-Qur’an bukan musik namun ketika membaca al-Qur’an akan muncul irama yang menakjubkan. Irama maknawi yang disenandungkan al-Qur’an akan menjadi makanan terbaik bagi jiwa manusia. Berbeda dengan pengaruh music-musik pada umumnya yang memprovokasi jiwa manusia, alunan musik dalam al-Qur’an akan membangunkan nurani, menenangkan jiwa, memperkuat akal dan menenangkan emosi. Rasulullah bersabda: “Setiap benda memiliki keindahannya dan keindahan yang dimiliki al-Qur’an pada suara kebenaran disenandungkannya”.

Bahasa al-Qur’an yang tak tertandingi

Dengan keindahan bahasa dan nilai sastra al-Qur’an tersebut pantaslah jika al-Qur’an menyombongkan diri dengan menantang orang-orang Arab untuk membuat semisal dengannya. Akan tetapi mereka tidak sanggup menghadapinya meski mereka sangat tinggi tingkat kefasihan dan balaghahnya dalam bahasa Arab

Rasulullah SAW telah meminta orang Arab untuk menandingi al-Qur’an dengan tiga tahapan. Pertama, menantang mereka untuk membuat semisal al-Qur’an dalam uslub (gaya bahasa) umum yang meliputi orang Arab sendiri dan orang lain yaitu manusia dan jin secara bekerja sama. Melalui firman-Nya, “Katakanlah sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan al-Qur’an ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu sebagian yang lain” (QS. Al-Isra’: 88). 

Kedua, menantang mereka untuk membuat 10 surat saja yang serupa dengan al-Qur’an. Dalam firman-Nya: “Ataukah mereka mengatakan Muhammad telah membuat-buat al-Qur'an itu. Katakanlah (jika demikian) maka datangkan 10 surat yang dibuat-buat yang menyamainya dan panggilah orang-orang yang kamu sanggup memanggilnya selain Allah jika kamu memang orang-orang yang benar. Jika mereka (yang kamu seru) tidak menerima seruanmu itu ketahuilah sesungguhnya al-Qur’an itu diturunkan dengan ilmu Allah”, (QS. Al-Hud: 13-14).

Ketiga, menentang mereka membuat satu surat saja semisal al-Qur’an, dalam firman-Nya: “Atau (patutkah) mereka mengatakan Muhammad yang telah mengada-adakannya al-Qur’an. Katakanlah, kalau benar yang kamu katakan itu maka datangkanlah sebuah surat sepertinya”. (QS. Yunus: 38). Tantangan ini diulang lagi dalam firman-Nya: “Jika kamu tetap dalam keadaan ragu tentang al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada Kami (Muhammad) maka buatlah satu surat saja yang semisal dengan al-Qur’an itu”. (QS. al-Baqarah: 23).

Selain bahasa al-Qur’an mengandung nilai sastra yang indah, susunan kalimat-kalimat al-Qur’an juga sebagai petunjuk. Tidak ada sesuatu dalam al-Qur’an yang tidak memberi manfaat dan terbuang sia-sia. “Kami tidak mengabaikan dalam kitab ini sesuatu pun” (QS. al-An'am: 38). Dari ayat tersebut kita dapat mengetahui bahwa seluruh apa yang ada dalam al-Qur’an terdapat manfaat , termasuk bentuk bahasa.

Al-Qur’an juga memberikan kontribusi yang besar terhadap perkembangan bahasa Arab. Dengan adanya al-Qur’an munculah ilmu tata bahasa Arab yaitu ilmu nahwu dan sorof. Al-Qur’an juga turut serta dalam perkembangan kosakata bahasa arab. Sebagai contoh lafadz al-qori’ah yang sebelum al-Qur’an turun hanya mempunyai arti suara ketapel kuda, akan tetapi setelah al-Qur’an turun bertambah arti, yaitu hari kiamat. Demikian di antara sebagian sumbangan al-Qur’an dalam perkembangan bahasa Arab.

Upaya memahami al-Qur’an

Saat ini yang perlu kita renungi kembali adalah sudahkah kita dapat merasakan sedih, senang, takut, dan perasaan lainnya saat membaca ayat-ayat Allah? Jika kita belum dapat merasakannya, artinya kita belum dapat memahami isi ayat ayat al-Qur’an yang kita baca Untuk memahaminya tentu kita harus dapat memahami bahasa Arab.

Al-Qur’an adalah penuntun hidup kita. al-Qur’an menjadi cahaya yang menerangi gelapnya kehidupan. Meskipun dengan membaca al-Qur’an hati kita menjadi tentram meski tidak dapat memahaminya, tetap menjadi kurang sempurna jika kita tidak mengerti akan makna-makna yang terkandung dalamnya. Sangat bijak sekali ketika Imam Syafi’i bertutur, “Belajarlah bahasa Arab sesungguhnya bahasa arab adalah bagian dari agamamu”, karena al-Qur’an, hadist, kitab-kitab tafsir, dan sebagainya yang merupakan sumber pemahaman bagi agama Islam menggunakan bahasa Arab.

Di sisi lain, memahami al-Qur’an tidak cukup hanya dengan mengerti bahasa Arab, namun terdapat berbagai ilmu untuk menopang pemahaman tersebut, seperti tafsir. Forum-forum kajian al-Qur’an dengan para ulama juga dapat sebagai sarana untuk memahami kandungan ayat ayat al-Qur’an.

Sudah saatnya kita untuk meraba-raba makna isi al-Qur’an guna mengetahui maksud yang tersimpan di dalamnya, serta untuk mengamalkan ajarannya. “Al-Qur’an adalah jamuan Tuhan”, demikianlah bunyi sebuah hadist. Rugilah orang yang tidak menghadiri jamuanya dan merugi lagi bagi orang yang hadir tetapi tidak menyantapnya. Semoga kita mendapat petunjuk hidayahnya melalui al-Qur’an serta mendapat keberkahan berupa kebahagiaan baik di kehidupan dunia maupun di kehidupan akhirat. Amin